4 research outputs found
Efektivitas Vacuum Preloading dalam Menghilangkan Pemampatan Sekunder pada Proyek Pembangunan Kawasan Kota Summarecon Bandung
Pemampatan sekunder pada Proyek Pembangunan Kawasan Kota Summarecon Bandung perlu dihilangkan bersamaan dengan pemampatan primer menggunakan metode preloading; embankment dan vacuum preloading. Dengan metode embankment preloading, perlu diketahui tinggi tambahan timbunan (HΔq) yang harus ditambahkan untuk menghilangkan pemampatan sekunder. Berbeda dengan metode vacuum preloading yang menggunakan tekanan atmosfer sebagai beban tambahan (surcharge load) yang bisa menyebabkan pemampatan tanah lebih besar lagi yang diharapkan juga mencakup pemampatan sekunder. Hal ini yang mendasari bahwa metode vacuum preloading diperkirakan lebih efektif daripada metode embankment preloading dalam menghilangkan pemampatan sekunder. Selain itu, metode vacuum preloading umumnya hanya membutuhkan material timbunan untuk mencapai elevasi akhir yang sudah direncanakan (levelling), sehingga kebutuhan material timbunan pada vacuum preloading tidak sebanyak kebutuhan material timbunan pada embankment preloading.
Studi dalam tesis ini meliputi perhitungan tinggi tambahan timbunan (HΔq) yang dibutuhkan untuk menghilangkan pemampatan sekunder dengan waktu tinjau 20 tahun menggunakan metode embankment preloading yang nantinya akan dibandingkan dengan metode vacuum preloading beserta dengan estimasi biaya masing-masing metode. Sebelumnya, dilakukan pula studi mengenai korelasi parameter-parameter tanah yang dibutuhkan untuk menghitung pemampatan sekunder, yaitu korelasi antara indeks pemampatan sekunder (C’α) dengan angka pori (e) dan tegangan konsolidasi efektif (P’) dalam rangka membuat perumusan indeks pemampatan sekunder. Parameter-parameter tanah tersebut diperoleh dari uji laboratorium menggunakan sampel tanah tidak terganggu (undisturbed) yang diambil dari area sekitar proyek.
Berdasarkan hasil analisis, korelasi antara indeks pemampatan sekunder (C’α) dengan angka pori (e) dan tegangan konsolidasi efektif (P’) tanah pada proyek ini belum cukup kuat. Hal ini dibuktikkan dengan nilai rata-rata koefisien determinasi (R2) sebesar 0,3319 dan koefisien korelasi (R) sebesar 0,576. Pemampatan tanah total (primer dan sekunder) yang terjadi pada proyek ini cukup besar, yaitu 2,9 m. Pada metode embankment preloading, beban tambahan timbunan (Δq) yang dibutuhkan untuk menghilangkan pemampatan sekunder sebesar 1,508 t/m2 yang ekuivalen dengan tinggi timbunan (HΔq) setinggi 0,9 m. Dengan adanya beban tambahan timbunan (Δq) tersebut, tinggi awal timbunan (Hi) yang harus ditimbun adalah setinggi 7,2 m. Sementara itu, akibat pemampatan tanah total yang besar, metode vacuum preloading membutuhkan material timbunan yang banyak untuk mencapai elevasi akhir yang sudah direncanakan (levelling). Metode tersebut membutuhkan timbunan tanah total setinggi 5,8 m, di mana hanya berbeda 1,4 m dengan kebutuhan material timbunan tanah pada embankment preloading, namun metode vacuum preloading menjadi satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghilangkan pemampatan sekunder bersamaan dengan pemampatan primer. Apabila dilihat dari estimasi biaya, vacuum preloading memiliki estimasi biaya yang lebih rendah, yaitu mencapai 10,5 miliar rupiah dibandingkan dengan metode embankment preloading yang mencapai 11,5 miliar rupiah.
================================================================================================
Secondary settlement in Summarecon City Bandung Area’s Development Project needs to be eliminated along with primary settlement using the preloading method; embankment and vacuum preloading. With embankment preloading method, it is necessary to know the height of the additional embankment (HΔq) which must be added to eliminate secondary settlement. Unlike vacuum preloading method that uses atmospheric pressure as a surcharge load which can cause more soil settlement which is expected to include of secondary settlement. This underlies that vacuum preloading method is estimated to be more effective than embankment preloading method on eliminate secondary settlement. In addition, vacuum preloading method generally only requires embankment materials to reach the planned final elevation (levelling), so that the needs of embankment materials in vacuum preloading is not as much as embankment materials requirement in embankment preloading.
The study in this thesis includes the calculation of the height of the additional embankment (HΔq) that needed to eliminate secondary settlement with a review time of 20 years using embankment preloading method which will be compared with vacuum preloading method along with the estimated cost of each method. This thesis also includes the study about the correlation of soil parameters that needed to calculate secondary settlement, which is the correlation between secondary settlement index (C'α) with pore number (e) and effective consolidation pressure (P') in order to formulate a secondary settlement index. These soil parameters were obtained from laboratory tests using undisturbed samples that taken from the area around the project.
Based on the results of the analysis, the correlation between secondary settlement index (C'α) with pore number (e) and effective consolidation pressure (P') of the soil in this project is not yet strong enough. This is evidenced by the average value of the coefficient of determination (R2) of 0,3319 and the coefficient of correlation (R) of 0,576. The total settlement (primary and secondary) that occurs in this project is quite large, which is 2,9 m. In embankment preloading method, the additional load of embankment (Δq) that needed to eliminate secondary settlement is 1,508 t/m2 which is equivalent to the height of the embankment (HΔq) as high as 0,9 m. With the additional load (Δq), the initial height of the embankment (Hi) that must be placed is 7,2 m. Meanwhile, due to the large settlement of the soil, vacuum preloading method requires a lot of embankment materials to reach the planned final elevation (levelling). This method requires total embankment materials of 5,8 m, which only differs about 1,4 m with the needs of embankment materials in embankment preloading, but the vacuum preloading method is the single most effective way to eliminate secondary settlement along with primary settlement. If viewed from the estimated cost, vacuum preloading has lower estimated cost, which reaches 10,5 billion rupiahs, while embankment preloading method reaches 11,5 billion rupiahs
Analisa Trial Embankment Dan Prediksi Pemampatan Sekunder Pada Proyek Pembangunan Kawasan Kota Summarecon Bandung
Proyek Pembangunan Kawasan Kota Summarecon Bandung yang berada di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, akan dibangun di atas lapisan tanah dasar yang dominan tanah lempung lunak dan bercampur dengan tanah organik. Perbaikan tanah dasar yang dipilih adalah metode preloading dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD). Metode preloading dengan PVD ditujukan untuk mempercepat pemampatan primer; sedangkan pemampatan sekunder masih tetap ada. Hanya saja para kontraktor kurang memperhatikan pemampatan sekunder karena dianggap sangat kecil dibandingkan dengan pemampatan primer; padahal sering terjadi jalan bergelombang karena adanya pemampatan sekunder ini. Selain itu, perencanaan metode preloading dengan PVD biasanya dilakukan dengan menggunakan koefisien konsolidasi arah horisontal, Ch , yang diasumsikan sebesar dua sampai lima kali koefisien konsolidasi arah vertikal, Cv, yang belum tentu sama dengan harga Ch di lapangan. Untuk itu, perlu adanya pengujian dengan trial embankment pada area di sekitar lokasi proyek. Dalam Tugas Akhir ini, dilakukan penyelidikan tentang pemampatan sekunder serta merencanakan besar pemampatan sekunder yang perlu dihilangkan agar tidak terjadi differential settlement dan menentukan harga Ch dari hasil trial embankment.
iii
iv
Untuk menentukan harga Ch di lapangan yang sesungguhnya, dilakukan back analysis hasil trial embankment berupa data monitoring Settlement Plate. Harga Ch yang didapat akan digunakan untuk melakukan perencanaan perbaikan tanah dasar jalan akses pada Proyek Pembangunan Kawasan Kota Summarecon Bandung. Dari data monitoring Settlement Plate, pemampatan akhir tanah dapat diprediksi menggunakan metode ASAOKA. Prediksi pemampatan tanah tersebut kemudian dibandingkan dengan perencanaan awal trial embankment yang dibuat oleh PT Teknindo Geosistem Unggul.
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, harga Ch di lapangan adalah 2,1xCv. Prediksi pemampatan primer tanah yang terjadi sebesar 2,042 m; untuk menghilangkannya, dibutuhkan beban preloading setinggi 5 m. Untuk mempercepat waktu konsolidasi, direncanakan PVD pola segitiga dengan jarak 0,9 m dan PHD sepanjang 116 m per 128 titik PVD. Untuk stabilitas lereng timbunan, dibutuhkan Geotextile Woven sebanyak 3 lembar. Karena pengaruh dari tanah organik yang memiliki angka pori besar, tanah akan mengalami pemampatan sekunder yang cukup besar pada 20 tahun yang akan datang, yaitu 0,419 m dan masih memampat sebesar 2,879 cm/tahun. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan overlay setiap 2 tahun setinggi 5 cm.
============================================================
Summarecon City Bandung Area’s Development Project located in Gedebage, Bandung, West Java will be built on the ground which dominant of clay and mixed with organic soil. The selected ground improvement is preloading with Prefabricated Vertical Drain (PVD). Preloading with PVD intended for accelerate primary settlement; while secondary settlement still happens. The contractors pay less attention to secondary settlement because they consider it produces settlement smaller than primary settlement; whereas bumpy road often happened because of secondary settlement. Furthermore, design of preloading with PVD usually calculated by using the coefficient of consolidation due to horizontal flow, Ch, which assumed to be two until five times the coefficient of consolidation due to vertical flow, Cv, that is not same as Ch value in the field. Therefore, a test with trial embankment in areas around the project site is needed. In this final project, an investigation on secondary settlement is needed and need to design the removal of secondary settlement in order to avoid differential settlement, and also determine Ch value from trial embankment results.
To determine the actual Ch value in the field, back analysis of trial embankment results using Settlement Plate monitoring data is done. Ch value will be used for plan ground improvement of the access road in Summarecon City Bandung Area’s Development Project. Settlement Plate monitoring data is also
v
vi
used for predict final settlement using ASAOKA method. Then, prediction of settlement is compared with the initial planning of trial embankment made by PT Teknindo Geosistem Unggul.
Based on the analysis that has been done, the actual Ch value is 2,1 times Cv value. Prediction of primary settlement is 2,042 m; to eliminate it, preloading as high as 5 m is needed. To accelerate time of consolidation, planned triangle pattern of PVD with distance of 0,9 m and 116 m of PHD for 128 PVD. For stability of the embankment slope, 3 sheets of Geotextile Woven are needed. Because the influence of organic soil which has large void ratio, the soil will sustain the secondary settlement fairly large at 20 years later, which is 0.419 m and still settles 2,879 cm / year. The solution is taking overlay every two years as high as 5 cm
ANALISIS PARAMETER PERHITUNGAN PENURUNAN TANAH LUNAK HASIL UJI LABORATORIUM DENGAN LAPANGAN
Pembangunan gedung, jalan raya, bendungan dan lainnya diatas tanah lunak, dapat mengakibatkan kerusakan pada akibat pemampatan dan penurunan tanah pada tanah. Hal ini tidak diinginkan karena akan merugikan baik dari segi fungsi yaitu mengalami gangguan maupun biaya pembangunan dengan jumlah yang besar, sehingga perlu penyelesaian permasalahan sebelum dilaksanakan pembangunan tersebut agar keamanan dan kenyamanan konstruksi dapat dicapai sesuai umur rencana. Besarnya penurunan tanah selain ditentukan akibat beban yang bekerja, juga parameter tanah hasil uji konsolidasi di laboratorium. Namun besar penurunan yang terjadi di lapangan pada umumnya lebih kecil dibanding perhitungan menggunakan parameter hasil uji laboratorium. Untuk mengetahui perbedaan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan parameter pemampatan akibat konsolidasi di lapangan, sehingga dapat diketahui besar perbedaan yang terjadi. Penelitian dilakukan pada beberapa lokasi pekerjaan di lapangan yang sudah dilaksanakan maupun yang sedang dilaksanakan. Perbedaan yang terjadi ditinjau dari nilai N tanah dasar, apakah nilai N merupakan faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut. Hasil yang didapatkan pada 3(tiga) lokasi penelitian didapatkan bahwa rata-rata rasio koefiesien konsolidasi arah horisontal (Ch) lapangan dengan Cv dari laboratorium adalah 0,47 ; 0,63 dan 6,5. Sedangkan tinjauan terhadap nilai N pada lokasi 1 dan 2, menunjukkan semakin besar nilai N, rasio semakin besar. Tetapi pada lokasi 3 belum dapat memberikan adanya koralasi yang tepat, untuk nilai N yang sama memebrikan rasio yang berbeda
Penerapan Soil Preloading, PVD, dan PHD untuk Analisis Penurunan Konsolidasi Tanah
Soft clay has a low bearing capacity, high compressibility and low permeability. This condition causes soft clay soil to have a long settlement time. To overcome this soft soil condition, soil improvement methods are needed. One of the efforts is to use a combination of soil preloading methods, Prefabricated Vertical Drain (PVD), and Prefabricated Horizontal Drain (PHD) methods. Calculating soil settlement with soil improvement is carried out using the Asaoka method, which is a field observation method, and the theoretical method using the Terzaghi method. Based on the calculation results of field observations using the Asaoka method, the average degree of soil settlement is 93.5%. The calculation results of the Asaoka method are recalculated using a back calculation to produce a new parameter value, namely the horizontal consolidation (Ch) value, which is then compared with the Ch value in the previous plan. In the Terzaghi method, the average soil settlement value is 1.205 meters. The results of soil settlement value are used to analyze the height of the embankment based on the load ratio requirement in SNI 8460: 2017, where the load ratio on the ground is ≥ 1.3 times the planned load under service conditions. Based on the monitoring results, a load ratio value of 0.875 was obtained so that the SNI requirements carried out a re-planning of the landfill. Then, proceed with the design of PVD and PHD. The results obtained in planning use triangular PVD patterns with a distance between PVDs of 1 meter
