2 research outputs found
Sabar perspektif tafsir haqa'iq Al-Qur'an karya Al-Sulami: Studi kisah Nabi Ayub as
Kesabaran adalah salah satu ajaran penting dalam Islam. Nabi Ayub As dijadikan salah satu contoh pribadi yang memiliki perilaku sabar, karena keteguhannya dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesabaran yang divisualisasikan dalam kisah Nabi Ayub As, dengan cara menelaah penafsiran Al-Sulami dalam Tafsir Haqa’iq Al-Qur’an.
Penelitian ini berjenis kualitatif dibantu dengan metode analisis isi dalam menelaah data primer, dan pendekatan studi pustaka (library research) sebagai teknik pengumpulan data pada karya Tafsir Al-Sulami.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, kesabaran Nabi Ayub As dijelaskan secara langsung dalam QS. Al-Anbiya (21): 83-84 dan QS. Shad (38): 41-44. Selain itu, prinsip-prinsip kesabaran yang sejalan dengan keteladanan Nabi Ayub As juga tercermin dalam QS. Az-Zumar (39): 10, QS. Ali-Imran (3): 17, dan QS. An-Nahl (16): 42. Kedua, Penafsiran Al-Sulami menyoroti berbagai dimensi kesabaran Nabi Ayyub As, seperti dzikir yang menghapus pahitnya ujian, mendapatkan pujian atas kesabaran, kesabaran menjadi sasaran dari panah-panah ujian, sabar sebagai tempat persembunyian dari musibah, sabar menahan anggota tubuh dari pelanggaran, kerelaan terhadap musibah, sabar sebagai bentuk kefanaan tanpa keluhan, keteguhan dalam menerima ujian dengan lapang dada, hingga kesabaran yang sempurna melahirkan tawakal. Kesabaran Nabi Ayyub As melalui perspektif tafsir sufistik Al-Sulami dalam Tafsir Haqa’iq al-Qur’an, serta meninjau kesabaran tersebut dalam bingkai teori self-control Averill (1973) yang mencakup aspek behavioral control, cognitive control, dan decisional control. Dalam kerangka teori self-control, Nabi Ayyub As menunjukkan kontrol perilaku dengan menahan keluhan, kontrol kognitif dengan memaknai penderitaan sebagai bentuk cinta Ilahi, dan kontrol keputusan melalui keteguhan untuk tetap bertawakal kepada Allah. Al-Sulami menekankan bahwa sabar adalah keputusan spiritual yang lahir dari ma‘rifah dan cinta kepada Allah, bukan sekadar sikap pasif. Dengan demikian, kesabaran Nabi Ayyub As mencerminkan bentuk self-control yang utuh secara fisik, kognitif, dan spiritual menurut pendekatan tasawuf
KONSEP SABAR DALAM TAFSIR ḤAQĀ’IQ AL-TAFSĪR KARYA AL-SULAMĪ: ANALISIS TAFSIR SUFISTIK ATAS KISAH NABI AYYŪB A.S.
This study analyzes the meaning and dimensions of patience in the story of the Prophet Ayyūb a.s. as interpreted in Ḥaqā’iq al-Tafsīr by Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. It seeks to reveal the meaning of patience from a Sufi perspective and analyze it through the framework of self-control theory proposed by James Averill (1973). This study employs a qualitative, library-based research approach. Content analysis is the primary analytical method used to examine Al-Sulamī's interpretation of Prophet Ayyūb a.s. The data are analyzed using Averill's three-part theory of self-control (behavioral, cognitive, and decisional). According to this study, Al-Sulamī viewed Ayyūb a.s's patience as an active spiritual practice, not just passive endurance. Its key dimensions include steadfast dhikr (remembrance of God) to manage suffering, merging the self (fanā) with the divine will and grace, and a pinnacle of patience manifested as tawakkal (complete surrender). According to Averill's psychological framework, these dimensions demonstrate behavioral control (restraining the body from complaining), cognitive control (reinterpreting hardship as divine will), and decisional control (a conscious choice to surrender to God). This analysis reveals the implicit psychological messages in the story. This study found that the story contains a sophisticated psychological model for resilience. It refutes the notion of patience as passive behavior, demonstrating that it is an active spiritual and psychological process. This study's novelty stems from its interdisciplinary approach, which bridges 10th-century classical interpretation with 20th-century psychological theory while also providing new insights into the psychological depth of Islamic spiritual concepts. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan dimensi kesabaran Nabi Ayyūb a.s. dalam Ḥaqā’iq al-Tafsīr karya Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. Kesabaran tersebut dianalisis dengan teori self-control James Averill (1973). Penelitian ini berjenis kualitatif, menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data tersebut diinterpretasi oleh teori tripartit self-control (perilaku, kognitif, dan keputusan) Averill. Studi ini menemukan bahwa Al-Sulamī menafsirkan kesabaran Ayyūb a.s. bukan sebagai ketahanan pasif, melainkan sebagai praktik spiritual yang aktif dan kompleks. Dimensi-dimensi kuncinya meliputi: keteguhan hati, menjadikan zikir (mengingat Allah) untuk mengendalikan penderitaan, meleburkan diri (fanā) dengan kehendak—anugerah-- Allah, dan puncak kesabarannya diwujudkan dengan tawakal (kepasrahan mutlak). Dimensi-dimensi dalam kerangka psikologi Averill menunjukan kontrol perilaku (menahan tubuh dari keluhan), kontrol kognitif (menafsirkan ulang kesulitan sebagai kehendak Ilahi), dan kontrol keputusan (pilihan sadar untuk berserah diri kepada Tuhan), Tiga aspek ini merupakan pesan utama dari kisah Nabi Ayyūb a.s. Penelitian berhasil bentuk psikologis yang canggih untuk resiliensi. Sekaligus menentang bahwa kesabaran sebagai perilaku pasif, namun proses psikologis yang aktif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menghubungkan tafsir sufistik klasik abad ke-10 dengan teori psikologi modern, sehingga memperkaya pemahaman terhadap dimensi psikologis dalam konsep spiritual Islam.
