118 research outputs found
Manajemen Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Gunung Sejahtera, PT Pertiwi Agro Sejahtera (PAS), Kec. Kuala Behe, Kab. Landak, Kalimantan Barat
Kelapa sawit merupakan komoditas uggulan sektor perkebunan di Indonesia. Manajemen panen dan topografi adalah dua faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Gunung Sejahtera, PT Pertiwi Agro Sejahtera (PAS), Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada tanggal 13 Februari sampai 15 Mei 2019. Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam aspek teknis dan manajerial budidaya kelapa sawit, terutama pada manajemen panen dan pengaruh topografi lahan terhadap produkivitas kelapa sawit. Manajemen panen kelapa sawit di Divisi 1 Kebun GS, PT PAS perlu ditingkatkan pada rotasi panen, kebutuhan tenaga kerja dan kapasitas pemanen untuk memperoleh hasil yang optimal. Produktivitas kelapa sawit Divisi 1, Kebun GS masih rendah. Mutu buah dan kehilangan hasil sudah sesuai dengan standar perusahaan. Topografi lahan berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit di Divisi 1 Kebun GS, PT PAS. Produktivitas kelapa sawit pada lahan bertopografi datar lebih tinggi dibandingkan lahan bertopografi lereng dan lembah
Pengaruh Jenis Media Tanam terhadap Pertumbuhan Lampeni (Ardisia humilis) di Pembibitan
Lampeni (Ardisia humilis) merupakan tanaman obat yang telah banyak
dimanfaatkan untuk mengobati penyakit hepatitis, tuberkulosis dan bronchitis,
akan tetapi belum banyak penelitian tentang budidayanya. Penelitian ini bertujuan
untuk mempelajari pengaruh jenis media tanam terhadap pertumbuhan lampeni
(Ardisia humilis) di pembibitan. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari
sampai Juni 2017 di Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Pascapanen,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Insitut Pertanian Bogor. Rancangan
yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan
satu faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor perlakuan menggunakan 5
kombinasi jenis media tanam yang terdiri dari media tanah sebagai kontrol,
campuran media tanah+pupuk kandang sapi (1:1) v/v, campuran media
tanah+arang sekam (1:1) v/v, campuran pupuk kandang sapi+arang sekam (1:1)
v/v, dan campuran media tanah+arang sekam+pupuk kandang sapi (1:1:1) v/v.
Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan lampeni di pembibitan meningkat
dengan perlakuan pemberian media tanam tanah. Tanah atau media dengan
campuran tanah merupakan media terbaik untuk pembibitan Ardisia humilis.
Tinggi tanaman dan bobot kering menjadi penentu bibit yang baik di pembibitan.
Hasil analisis pigmen daun antosianin dan karotenoid tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap perlakuan media tanam kecuali pada klorofil a, b, dan total klorofil
tetapi memberikan hasil yang tinggi dalam pengujian pigmen daun Ardisia
humilis
Pengaruh Komposisi Media dan Fertigasi Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Tanaman Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack)
Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) dapat digunakan sebagai obat tradisional, tanaman lanskap, dan tanaman hias. Banyak penelitian mengenai fitofarmakologi M. paniculata (L.) Jack tapi tidak pada penelitian mengenai budidaya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2011 hingga Maret 2012 di Gunung Batu, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi komposisi media dan aplikasi fertigasi dengan pupuk organik terhadap pertumbuhan M. paniculata (L.) Jack. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Teracak dengan perlakuan komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi (1:1) v/v tanpa fertigasi; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media dengan tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang kotoran ayam; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1 ) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang ayam. Konsentrasi yang digunakan untuk fertigasi yaitu 1 kg pupuk organik per 5 liter air, dengan dosis 60 ml per tanaman, dan diaplikasikan setiap dua minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanah latosol Darmaga + arang sekam + kotoran ayam (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang ayam menghasilkan penampilan tanaman lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain untuk jumlah daun, jumlah anak daun jumlah cabang, dan jumlah bunga. Analisis kualitatif fitokimia menunjukkan daun M. paniculata (L.) Jack mengandung steroid yang paling menonjol, dan kemudian saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloi
Pengaruh Naungan Paranet terhadap Iklim Mikro dan Produktivitas Pucuk Tanaman Kolesom (Talinum triangulare (Jacq.)Willd.)
Water-leaf (Talinum triangulare (Jacq).Willd.) is one of medicinal plant which has many benefits. Part of the plant organ which often utilized is the shoot. This research, which was conducted using factor analysis of fixed model, aimed analyze the effect of paranet shading on micro climet and productivity of water-leaf’s shoot. The results showed that paranet shading had profound effects on radiation and temperature, and on growth and productivity of water-leaf. Shading using paranet 50% could reduced radiation transmission by 27%, reduced temperature by 0.3ᵒC, and reduced shoot productivity by 17%; while using paranet 75% could reduced radiation transmission by 36% and reduced temperature by 0.6ᵒC, and reduced shoot productivity by 59%, respectively
Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Stek Batang Tanaman Ara (Ficus carica L).
The aimed of this study was to find the best plant media for the growth of fig cuttings. The experiment was conducted in July to October 2012 at Leuwikopo Experimental Farm, Bogor Agricultural University, Indonesia. The experiment was arranged in Randomized Complete Block Design with plant media compotition as the treatment and four replications. The plant media consisted of soil, rice hull charcoal, and goat manure (2:1:1); soil, bamboo leaves compost and rice hull charcoal (2:1:1); cocopeat and bamboo leaves compost (1:1);rice hull charcoal, goat manure and bamboo leaves compost (1:1:1). The result showed that the plant consisted of soil, rice hull charcoal, and goat manure; soil, bamboo leaves compost and rice hull charcoal; and rice hull charcoal, goat manure and bamboo leaves compost gave the same performance in fig cuttings of life percentages, that were 65.5, 70.0 and 65.0%, whereas plant media consisted of cocopeat and bamboo leaves compost gave the lowest result of 37.5%
Pengaruh Bahan Organik Dan Jenis Dekomposer Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik dan dekomposer terhadap pertumbuhan dan produksi hasil kedelai (Glycine max (L.) Merrill) yang diusahakan secara organik. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor pada bulan Desember 2010 sampai April 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan dua faktor. Penelitian ini terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 ulangan sehingga terdapat 27 satuan percobaan ditambah dengan 3 petak sebagai kontrol (perlakuan bahan organik jerami padi dan tanpa dekomposer). Faktor pertama adalah 3 jenis bahan organik, yaitu : pupuk kandang ayam, jerami padi, dan Tithonia diversifolia. Faktor kedua adalah 3 jenis dekomposer, yaitu : cairan pupuk kandang ayam, cairan pupuk kandang ayam & Tithonia diversifolia, dan pupuk hayati. Seluruh data penelitian diolah dengan sidik ragam menggunakan program SAS 6.12. Pada pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 dan 1%. Khusus untuk melihat perbandingan antara kontrol dengan ketiga perlakuan lainnya, dilakukan uji lanjut t-Dunnett. Benih kedelai yang digunakan adalah benih kedelai varietas Wilis. Bahan organik, dekomposer, kapur, dan abu sekam diaplikasikan satu bulan sebelum penanaman kedelai. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 10 cm dan 1 benih/lubang. Penanaman tanaman penghambat organisme pengganggu tanaman (POPT) Tagetes erecta dan serai juga dilakukan bersamaan dengan kedelai. Ketiga dekomposer diaplikasikan lagi pada saat 3 MST. Dilakukan penyemprotan dengan pestisida nabati setiap minggu sejak 5 hingga 12 MST. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan bahan organik berpengaruh nyata terhadap jumlah benih tumbuh; jumlah cabang 3, 5, 7, 9, 11 MST, dan jumlah cabang produktif; jumlah daun tetrafoliet dan pentafoliet; indeks luas daun 7 dan 9 MST; bobot basah dan kering tajuk; bobot basah dan kering akar; bobot basah dan kering bintil akar; intensitas serangan hama dan keparahan penyakit; jumlah polong hampa; bobot kering biji petak bersih; serta produktivitas. Produktivitas kedelai nyata tertinggi didapatkan dari penambahan pupuk kandang ayam sebesar 1.00 ton/ha, sedangkan produktivitas kedelai dengan penambahan Tithonia diversifolia dan jerami padi sebesar 0.85 dan 0.73 ton/ha. Hasil uji lanjut t-Dunnett antara perbandingan tiga perlakuan bahan organik dengan kontrol pada komponen produksi nyata lebih tinggi hanya pada peubah jumlah polong hampa untuk aplikasi pupuk kandang ayam. Peubah intensitas serangan hama 8 MST dan intensitas keparahan penyakit pada aplikasi kontrol memberikan pengaruh yang nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan tiga perlakuan lainnya Penambahan cairan pupuk kandang ayam menyebabkan jumlah cabang 3 MST lebih tinggi 3.3 dan 6.9% dibandingkan dengan yang mendapat cairan pupuk kandang ayam & Tithonia diversifolia dan pupuk hayati. Selain itu, perlakuan cairan pupuk kandang ayam juga menyebabkan laju asimilasi bersih 7-9 MST rata-rata 180.00 dan 268.42% lebih tinggi daripada dua perlakuan lainnya. Pengaruh dekomposer cairan pupuk kandang ayam juga mampu meningkatkan jumlah daun tetrafoliet (2.0 dan 4.2%) dan pentafoliet (5.2 dan 10.2%) lebih tinggi dibandingkan dengan dua dekomposer lainnya. Bobot kering biji petak bersih pada dekomposer pupuk hayati lebih tinggi 1.25% dibandingkan dengan cairan pupuk kandang ayam dan 8.21% lebih tinggi daripada cairan pupuk kandang ayam & Tithonia diversifolia. Aplikasi dekomposer pupuk hayati memberikan produktivitas kedelai tertinggi jika dibandingkan dengan dekomposer cairan pupuk kandang ayam dan cairan pupuk kandang ayam & Tithonia diversifolia, dengan nilai berturut-turut 0.89, 0.88, dan 0.82 ton/ha. Perlakuan kontrol memberikan hasil yang lebih tinggi pada komponen produksi jumlah tanaman panen, bobot kering biji petak bersih (7.5 m2), dan produktivitas (0.98 ton/ha) jika dibandingkan dengan perlakuan cairan pupuk kandang ayam, cairan pupuk kandang ayam & Tithonia diversifolia, dan pupuk hayati
Aklimatisasi Tanaman Anggrek Phalaenopsis Amabilis Hasil Perlakuan Kolkisin Dengan Level Ploidi Yang Berbeda
Salah satu jenis anggrek yang telah dikenal oleh masyarakat luas akan keindahan bunganya adalah jenis Phalaenopsis amabilis atau yang lebih dikenal dengan nama lokal anggrek bulan. Anggrek Phalaenopsis hibrida asal Indonesia memiliki ketersediaan yang belum dapat bersaing dengan anggrek Phalaenopsis hibrida dari luar, sehingga hal tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya nilai import anggrek hibrida di pasar Indonesia. Umumnya anggrek hibrida dari pasokan impor memiliki bunga yang lebih diminati konsumen karena memiliki mahkota dan kelopak bunga yang tebal dan besar. Bunga anggrek dengan mahkota dan kelopak yang tebal dan besar juga dapat diperoleh dengan cara penggandaan set kromosom. Salah satu cara untuk memperoleh tanaman dengan set kromosom yang mengganda adalah dengan pemberian kolkisin. Penelitian ini dilakukan di Rumah Angle (Anggrek Lele) yang berada di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor dan Laboratorium Kultur Jaringan I, Laboratorium Mikro Teknik, serta Laboratorium Biofisik dan Respirasi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB yang berlangsung pada bulan September 2014-Juni 2015. Perlakuan kolkisin diberikan dengan cara disungkup pada bunga fertilisasi yang dikastrasi dan pada kuncup bunga. Tidak terdapat perbedaan hasil yang nyata dalam pertumbuhan pada tahap aklimatisasi. Hasil pengujian sitologi pada 33 tanaman menunjukkanbahwa terdapat 8 tanaman dari bunga kastrasi hasil selfing memiliki level ploidi diploid dan 2 tanaman tetraploid, sedangkan perlakuan kolkisin pada kuncupbunga diperoleh 15 tanaman diploid, 5 tanaman triploid dan 3 tanaman tetraploid. Kata kunci: kastrasi, kromosom, level ploidi, uji sitolog
Aplikasi Pupuk Organik Cair Urin Kelinci untuk Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Produksi Caisim (Brassica juncea L.) Organik di Yayasan Bina Sarana Bakti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat
Kegiatan magang ini dilaksanakan di Kebun Organik Yayasan Bina Sarana
Bakti (YBSB), Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Tujuan magang ini secara umum adalah
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa baik teknis maupun
manajerial dalam kegiatan produksi sayuran organik. Secara khusus kegiatan
magang ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi pupuk organik cair
urin kelinci terhadap pertumbuhan dan hasil produksi sayuran caisim secara organik.
Data primer diambil melalui percobaan menggunakan Rancangan Kelompok
Lengkap Teracak (RKLT) 1 faktor dengan 4 taraf urin kelinci (0, 5, 10, dan 15%)
dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 satuan percobaan. Tanaman caisim
dikombinasikan dengan selada merah dengan letak 3 baris tanaman caisim dan 2
baris selada merah di sisi kanan dan kirinya. Kegiatan produksi sayuran organik di
YBSB secara keseluruhan telah berjalan dengan baik. Kegiatan magang ini mampu
meningkatkan pengetahuan serta keterampilan penulis baik dari segi teknis maupun
manajerial dalam budidaya sayuran organik. Aplikasi pupuk organik cair urin
kelinci pada 1 minggu setelah tanam nyata meningkatkan pertumbuhan vegetatif
tanaman caisim diantaranya jumlah, daun, panjang daun, lebar daun dan diameter
batang. Konsentrasi urin kelinci 10% adalah konsentrasi terbaik untuk
diaplikasikan pada tanaman caisim. Konsentrasi ini nyata meningkatkan bobot
basah dan bobot rompesan caisim yang dipanen. Meskipun secara statistik ketiga
perlakuan konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun
konsentrasi POC 10% menghasilkan rataan nilai tengah bobot layak jual tertinggi
dengan persentase peningkatan sebesar 72.87%, sehingga dapat dijadikan sebagai
pilihan terbaik karena lebih menguntungkan dari segi ekonomi
Perbandingan Kualitas Jambu Biji (Psidium guajava L.) ‘Kristal’ di Dataran Rendah dan Dataran Menengah
Jambu biji ‘Kristal’ termasuk jenis buah jambu biji yang memiliki karakter
daging buah tebal, berbiji sedikit, tekstur daging buah renyah, dan rasanya manis.
Karakteristik tersebut menghasilkan jambu biji ‘Kristal’ banyak diminati oleh
konsumen. Mutu produk segar dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan teknik
budi daya selama pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui
kualitas eksternal dan internal jambu biji ‘Kristal’ yang ditanam di dua lokasi
dengan ketinggian yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Desa Cikarawang,
Kecamatan Dramaga (±192 m dpl) dan Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari
(±532 m dpl), Bogor dari bulan Januari hingga Juni 2019. Analisis kualitas
dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen Departemen Agronomi dan
Hortikultura, IPB. Sebanyak 12 tanaman jambu biji ‘Kristal’ pada fase tanaman
menghasilkan (TM) yang seragam dijadikan bahan amatan pada setiap tempat.
Setiap tanaman diambil 5 buah untuk diamati karakter eksternal dan karakter
internalnya. Jumlah keseluruhan buah yang digunakan yaitu 120 buah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa lokasi Tamansari memiliki nilai rataan yang nyata
lebih tinggi dibandingkan lokasi Dramaga, untuk karakter eksternal yaitu bobot
buah, diameter horizontal dan vertikal buah, dan kelunakan buah. Di sisi lain, lokasi
Dramaga memiliki nilai rataan nyata lebih tinggi pada variabel padatan terlarut total
(PTT) dan asam tertitrasi total (ATT)
Penentuan Fase Pertumbuhan Dan Waktu Panen Untuk Produksi Flavonoid Tempuyung (Sonchus Arvensis L.).
Tempuyung secara tradisional telah digunakan sebagai tumbuhan obat karena diketahui mengandung metabolit sekunder dengan beberapa fungsi utama yaitu sebagai antioksidan dan peluruh batu ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari produksi dan kadar flavonoid tempuyung liar pada beberapa fase pertumbuhan, kemudian menentukan waktu panen yang tepat untuk produksi biomassa dan kadar flavonoid secara organik dan konvensional serta membandingkan hasil penanaman organik dengan konvensional. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai Desember 2015, penelitian pertama menggunakan sampel tempuyung liar yang ditemukan di halaman sekitar Institut Pertanian Bogor (6o33’23.0”LS dan 106o43’54.5”BT) dan penelitian kedua dilaksanakan di kebun percobaan IPB Cikarawang, Darmaga, Bogor (6o30 - 6o45’ LS dan 106o30’-106o45’ BT).
Penelitian pertama untuk mempelajari produksi dan kadar flavonoid tempuyung liar sebagai informasi awal untuk proses budidaya tempuyung. Sampel tempuyung dikelompokkan menjadi fase vegetatif (awal pemanjangan batang), kedua yaitu fase generatif awal (terbentuk kuncup bunga) dan terakhir yaitu fase generatif maksimum (setelah bunga mekar). Terdapat lima sampel tempuyung sebagai ulangan untuk setiap fase pertumbuhan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t-Student dan uji korelasi Pearson. Penelitian kedua menentukan waktu panen untuk peningkatan produksi daun dan kadar flavonoid tempuyung. Penelitian terdiri atas dua percobaan terpisah yaitu organik dan konvensional yang masing-masing disusun menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktor tunggal yaitu waktu panen. Terdapat 4 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali yaitu: (1) Panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen saat membentuk kuncup bunga, (2) Panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen setelah bunga mekar, (3) Panen daun bawah bersamaan dengan daun atas saat membentuk kuncup bunga, (4) Panen daun bawah bersamaan dengan daun atas setelah bunga mekar. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (α=5%) dan pada pengaruh yang berbeda nyata, dilakukan uji Duncan Multiple Range Test pada taraf nyata 5%. Uji t-Student (α=5%) juga dilakukan untuk membandingkan hasil percobaan organik dan konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan (1) Pertumbuhan maksimum daun bawah tempuyung liar ditemukan pada fase vegetatif, sedangkan pertumbuhan maksimum daun atas ditemukan pada fase generatif awal. Kadar flavonoid total tempuyung liar tertinggi ditemukan pada fase generatif maksimum. (2) Panen daun bawah secara bertahap dan kemudian panen daun atas setelah bunga mekar menghasilkan biomassa daun atas tertinggi. Kadar flavonoid total tertinggi dihasilkan daun atas pada perlakuan panen daun secara bersamaan pada percobaan organik dan konvensional. (3) Tempuyung pada penanaman organik menghasilkan produksi daun yang lebih tinggi, sebaliknya produksi flavonoid total tertinggi dihasilkan penanaman konvensional dibandingkan penanaman organik
- …
