32 research outputs found

    Karakterisasi Rodium-105 (105rhcl3) Sebagai Radioisotop Untuk Terapi

    No full text
    Rodium-105 (105Rh) merupakan salah satu radioisotop yang memiliki sifat fisika yang menguntungkan untuk terapi karena merupakan pemancar-b yang mempunyai t1/2 = 35,4 jam dengan Eb sebesar 247 keV (30%) dan 560 keV (70%). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-g dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung yaitu 306 keV (5%) dan 319 keV (19%). Telah dilakukan karakterisasi fisiko kimia larutan radioisotop 105Rh (105RhCl3) yang meliputi penentuan: pH, kejernihan, kemurnian radiokimia dengan cara kromatografi kertas dan elektroforesis kertas, pengukuran aktivitas dan penentuan kemurnian radionuklida dengan alat cacah spektrometer-g multi saluran, kemurnian kimia melalui pemeriksaan kadar Ru yang tidak teraktivasi dengan menggunakan metode spot test, serta pengujian kestabilan larutan 105RhCl3 secara fisika dan kimia selama penyimpanan. Larutan radioisotop 105RhCl3 yang diperoleh mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 98,61 ± 0,53% dan kemurnian radionuklida di atas 95% (99,78 ± 0,03%). Larutan tersebut mempunyai pH berkisar antara 1,5 – 2 dan terlihat jernih dengan aktivitas sebesar 35 - 60 mCi, konsentrasi radioaktif sebesar 7 – 12 mCi/mL, serta kadar Ru yang tidak teraktivasi sebesar < 50 ppm. Uji stabilitas larutan radiosiotop 105RhCl3 terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 6 hari pada temperatur kamar, larutan tersebut masih stabil dengan kemurnian radiokimia di atas 95%

    PENINGKATAN EFISIENSI PEMISAHAN RADIOISOTOP TERBIUM-161 BERBASIS KROMATOGRAFI KOLOM UNTUK APLIKASI TERAPI KANK

    No full text
    PENINGKATAN EFISIENSI PEMISAHAN RADIOISOTOP TERBIUM-161 BERBASIS KROMATOGRAFI KOLOM UNTUK APLIKASI TERAPI KANKER. Angka kematian akibat kanker terus meningkat setiap tahun. Endoradioterapi, teknik nuklir menggunakan radionuklida untuk terapi kanker, merupakan teknik yang kompetitif dalam menangani penyakit kanker. Terbium-161 (161Tb) adalah radiolantanida pemancar-β- lemah (Eβ-rata-rata  = 0,150 MeV) dan memiliki waktu paro selama 6,9 hari yang potensial untuk terapi kanker ukuran kecil. Pada penelitian sebelumnya telah diperoleh pemisahan 161Tb dari hasil iradiasi bahan sasaran Gd2O3 diperkaya isotop 160Gd dengan metode kromatografi ekstraksi. Akan tetapi yield 161Tb yang diperoleh masih rendah, yaitu ~ 93%. Pada penelitian ini telah dilakukan upaya untuk meningkatkan efisiensi pemisahan 161Tb dari hasil iradiasi bahan sasaran Gd2O3 diperkaya isotop 160Gd menggunakan berbagai ukuran dan jenis resin Ln. Bahan sasaran Gd2O3 diperkaya isotop 160Gd (98,4 %) diiradiasi di RSG-G.A.Siwabessy.  Radioisotop 161Tb dipisahkan dari matriks Gd/Tb hasil iradiasi Gd2O3 dengan metode kromatografi ekstraksi menggunakan kolom resin Ln yang memiliki ukuran partikel 20 – 50, 50 – 100 dan 100 – 150 μm serta catridge resin Ln,  Ln2 dan Ln3 dengan ukuran partikel 50 – 100 μm sebagai fase diam.  Sebagai fase gerak digunakan larutan HNO3 0,8N dan 3N masing-masing untuk memisahkan isotop gadolinium dan terbium. Pada penelitian ini diperoleh peningkatan efisiensi  pemisahan 161Tb  menggunakan catridge resin Ln dengan ukuran partikel 50 – 100 μm (ditandem 2 buah) dengan yield sebesar 100 ± 0,1% dan Gd recovery sebesar 97,65 ± 0,2%. Radioisotop 161Tb hasil pemisahan memiliki kemurnian radionuklida 99,98 ± 0,01%. Sediaan  radioisotop 161TbCl3 yang dihasilkan memiliki kemurnian radiokimia sebesar 99,92 ± 0,2%.</jats:p

    Pembuatan Radioisotop Rodium-105 (105rhcl3)

    No full text
    PEMBUATAN RADIOISOTOP RODIUM-105 (105RhCl3). Radiofarmaka untuk keperluan terapi yang ditandai dengan radioisotop pemancar-β saat ini sangat banyak digunakan di bidang kedokteran nuklir. Rodium-105 (105Rh) merupakan salah satu radioisotop yang dapat digunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β yang mempunyai t1/2= 35,4 jam dengan Eβ sebesar 247 keV (30%) dan 560 keV (70%). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-y dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung yaitu 308 keV (5%) dan 319 keV (19%). Telah dilakukan pembuatan radioisotop 105Rh dalam bentuk carrier- free dengan menggunakan target rutenium (Ru) alam yang telah diiradiasi di reaktor TRIGA 2000 Bandung. Target tersebut dioksidasi dengan menggunakan kalium metaperiodat (KlO4) dan KOH yang dilarutkan dalam akuabides steril sambil dipanaskan perlahan-lahan, kemudian diekstraksi dengan larutan karbon tetraklorida (CCl4) untuk memisahkan Rh dari pengotor radionuklida (radioisotop Ru dan 103Ru). Setelah itu larutan diekstraksi dengan larutan tributil fosfat untuk memisahkan 105Rh dari pengotor radionuklida iridium (192Ir). Setanjutnya larutan dilewatkan pada kolom penukar kation (resin Dowex 50) untuk memisahkan 105Rh dari kation K+ yang ada dalam larutan. Kondisi optimum preparasi 105Rh diperoleh dengan melakukan ekstraksi menggunakan CCl4 dan tributil fosfat masing-masing sebanyak 4 kali dan 3 kali. Larutan 105RhCl3 tersebut diuji melalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas, kromatografi lapisan tipis dan elektroforesis kertas. Aktivitas dan kemurnian radionuklida larutan 105RhCl3 ditentukan dengan alat cacah spektrometer-y multi saluran. Larutan radioisotop 105RhCl3 yang diperoleh mempunyai pH berkisar antara 1,5 - 2 dan terlihat jernih dengan aktivitas sebesar 35 - 60 mCi dan konsentrasi radioaktif sebesar 7 - 12 mCi / mL. Larutan tersebut mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 98,90 + 0,6 % dan kemurnian radionuklida di atas 99% ( 99,78 +0,03 %). Penelitian ini masih dilanjutkan untuk mendapatkan larutan 105RhCl3 dengan pH yang memadai dan kestabilan yang tinggi. Larutan 105RhCl3 yang diperoleh memungkinkan untuk dapat digunakan sebagai radionuklida alternatif dalam pembuatan berbagai radiofarmaka dengan aktivitas jenis tinggi untuk terapi seperti antara lain 105Rh-EDTMP

    RADIOISOTOP ITERBIUM-175 (175Yb) UNTUK TERAPI MELALUI REAKSI INTI (n,γ) DI REAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG

    No full text
    PEMBUATAN DAN UJI KUALITAS RADIOISOTOP ITERBIUM-175 (175Yb) UNTUK TERAPI MELALUI REAKSI INTI (n,γ) DIREAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG. Iterbium-175 (175Yb) merapakan salah satu radioisotop yang dapat digunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β (T1/2 = 4,2 hari dengan Eβ (maks) sebesar 480 keV). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-γ dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung (113 keV (1,9%), 282 keV(3,1%) dan 396 keV (6,5%)). Telah dilakukan pembuatan radioisotop 175Yb dengan menggunakan target iterbium oksida (Yb2O3) alam yang telah diiradiasi di reaktor TR1GA 2000 Bandung. Target tersebut dilarutkan dalam larutan asam klorida (HCl) encer. Kondisi optimum preparasi diperoleh dengan pelarutan target 175Yb2O3 dalam 5 mL larutan HCl 2 N sambil dikisatkan perlahan-lahan sampai agak kering, kemudian dilarutkan kembali dalam 5 mL larutan HCl 0,1N. Larutan 175YbCl3 tersebut diuji melalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Aktivitas dan kemurnian radionuklida larutan 175YbCl3 ditentukan dengan alat cacah spektrometer-γ multi saluran. Larutan radioisotop 175YbCl3 yang diperoleh mempunyai pH berkisar antara 1,5 - 2 dan terlihat jemih dengan aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif masing-masing sebesar 15 - 18 mCi/mg dan 17 - 21 mCi/mL. Larutan tersebut mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 99,5  + 0,3% dan kemurnian radionuktida di atas 95% (97,02 + 0,26%). Uji stabilitas larutan radioisotop 175YbCl3 terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 10 hari pada temperatur kamar, laratan tersebut masih stabil dengan kemurnian radiokimia di atas 95%.

    PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEDIAAN RADIOISOTOP 169ErCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN ERBIUM-168 DIPERKAYA 97,75%

    No full text
    PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEDIAAN RADIOISOTOP 169ErCl3 HASILIRADIASI BAHAN SASARAN ERBIUM-168 DIPERKAYA 97,75%. Erbium-169 (169Er)merupakan salah satu radioisotop pemancar β yang dapat digunakan untuk radiosinovektomi.Pada penelitian ini dikembangkan pembuatan radioisotop 169ErCl3 dengan cara iradiasi bahansasaran erbium oksida diperkaya dengan pengayaan 168Er sebesar 97,75%. Sebelumdigunakan dalam pembuatan radiofarmaka, larutan 169ErCl3 dikarakterisasi supaya memenuhisyarat aplikasinya. Karakterisasi fisiko-kimia radioisotop 169ErCl3 yang meliputi kejernihan; pH;muatan listrik; kemurnian radiokimia; dan kemurnian radionuklida; masing-masing ditentukandengan cara visual; kertas indikator pH; metode elektroforesis kertas; kromatografi kertas danelektroforesis kertas; serta spektrometer γ saluran ganda. Kestabilan larutan ditentukan denganmengamati kemurnian radiokimia larutan 169ErCl3 setiap hari selama satu bulan penyimpananpada temperatur kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 169ErCl3 berupa larutan jernih,memiliki pH 1,5 – 2, tidak bermuatan, kemurnian radiokimia sebesar 99,51 ± 0,41% dankemurnian radionuklida sebesar 99,84 ± 0,1%. Aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif larutan169ErCl3 masing-masing sebesar 1,26 – 3,38 mCi/mg Er dan 11,05 – 29,59 mCi/mL pada saatend of irradiation (EOI). Uji stabilitas menunjukkan bahwa larutan 169ErCl3 masih stabil sampaisatu bulan dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,65 ± 0,09%. Larutan 169ErCl3 yangdiperoleh dari bahan sasaran erbium oksida diperkaya 97,75% memiliki karakteristik fisiko-kimiayang memenuhi syarat untuk radiosinovektomi

    PENANDAAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAMETILEN FOSFONAT (EDTMP) DENGAN RADIONUKLIDA 175Yb

    No full text
    Iterbium-175 (175Yb) merupakan salah satu radioisotop yang dapatdigunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β (T1/2 = 4,2 hari dengan Eβ (maks) sebesar480 keV). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-γ dengan energi yangcukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung (113 keV (1,9%), 282keV(3,1%) dan 396 keV (6,5%)). Ligan EDTMP dapat ditandai dengan radionuklida 175Ybsebagai radiofarmaka alternatif untuk penghilang rasa sakit (paliatif) akibat metastase kankerke tulang. Telah dilakukan penandaan ligan etilendiamintetrametilen fosfonat (EDTMP) denganradionuklida 175Yb. Untuk mendapatkan radiofarmaka 175Yb-EDTMP dengan efisiensipenandaan yang tinggi, maka dilakukan variasi beberapa parameter yang berpengaruh dalamreaksi penandaan, yaitu jumlah ligan EDTMP, pH penandaan, waktu inkubasi dan jumlahlarutan 175Yb. Radiofarmaka 175Yb-EDTMP yang diperoleh ditentukan efisiensi penandaanmelalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas danelektroforesis kertas. Kondisi optimum penandaan diperoleh pada pH 7 dengan jumlah liganEDTMP sebanyak 4 mg, larutan 175Yb sebanyak 100 μL (105 μg setara dengan 0,6 μmol) danwaktu inkubasi selama 30 menit pada temperatur kamar. Kompleks yang terbentuk memberikanefisiensi penandaan maksimum sebesar 98,81 ± 0,15%. Berdasarkan hasil yang diperoleh,ligan EDTMP dapat ditandai dengan radionuklida 175Yb dengan efisiensi penandaan yang tinggi(di atas 95%)

    Karakterisasi Fisiko-kimia Radioisotop Terbium-161-klorida (161tbcl3) Hasil Iradiasi Bahan Sasaran Gadolinium Oksida Alam

    No full text
    KARAKTERISASI FISIKO-KIMIA RADIOISOTOP TERBIUM-161-KLORIDA (161TbCl3) HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN GADOLINIUM OKSIDA ALAM. Saat ini jumlah penderita kanker meningkat setiap tahun di Indonesia dan menjadi penyebab kematian ke tiga setelah penyakit jantung dan darah tinggi. Terbium-161 (161Tb) merupakan pemancar-β- lemah (Eβ- = 0,155 MeV, T1/2 = 6,9 hari) yang sangat mirip dengan 177Lu baik dari segi waktu paro, energi beta dan sifat kimianya. Akan tetapi, 161Tb juga memancarkan elektron konversi dan elektron Auger yang dapat memberikan efek terapi yang lebih besar dibanding 177Lu. Radioisotop 161Tb dapat dibuat dalam bentuk bebas pengemban (carrier-free) untuk digunakan dalam penandaan biomolekul sebagai radiofarmaka spesifik target untuk terapi sel kanker. 161Tb diperoleh melalui reaksi inti 160Gd (n,γ) 161Tb dengan penembakan neutron termal pada bahan sasaran gadolinium oksida alam sebanyak 100 mg di RSG-G.A.Siwabessy pada fluks neutron termal ~1014 n.cm-2.s-1 dan diikuti dengan pemisahan radiokimia 161Tb dari isotop Gd menggunakan metode kromatografi ekstraksi. Karakterisasi fisiko-kimia larutan radioisotop 161TbCl3 telah dilakukan meliputi penentuan kemurnian radionuklida menggunakan spektrometry-γ dengan detektor HP-Ge yang dilengkapi multichannel analyzer (MCA). Kemurnian radiokimia ditentukan menggunakan metode kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Hasil menunjukkan bahwa radioisotop 161TbCl3 memiliki pH 2, kemurnian radiokimia 99,64 ± 0,34%, kemurnian radionuklida sebesar 99,69 ± 0,20%, aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif pasca iradiasi masing-masing sebesar 2,26 – 5,31 Ci/mg dan 3,84 – 9,03 mCi/mL. Larutan 161TbCl3 stabil selama 3 minggu pada temperatur kamar dengan kemurnian radiokimia sebesar 98,41 ± 0,42%. Larutan radioisotop 161TbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran gadolinium oksida alam memiliki karakteristik fisiko-kimia yang memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai prekursor dalam pembuatan radiofarmaka

    Optimasi Pemisahan Radioisotop 161tb Hasil Iradiasi Bahan Sasaran Gadolium Oksida Diperkaya Isotop 160gd Menggunakan Metode Kromatografi Ekstraksi

    No full text
    OPTIMASI PEMISAHAN RADIOISOTOP 161Tb HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN GADOLINIUM OKSIDA DIPERKAYA ISOTOP 160Gd MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI EKSTRAKSI. Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Menurut WHO, jumlah penderita kanker terus meningkat setiap tahun dan 2/3 diantaranya berasal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Radioisotop Terbium-161 (161Tb) merupakan pemancar-β- lemah yang memiliki Eβ- rata-rata sebesar 0,150 MeV dan waktu paro (T1/2) selama 6,9 hari, sehingga potensial untuk terapi kanker ukuran kecil. Di samping itu, 161Tb juga melepaskan elektron konversi internal dan elektron Auger yang dapat meningkatkan kemampuan terapi. Telah dilakukan optimasi pemisahan radiokimia 161Tb dari hasil iradiasi bahan sasaran Gd2O3 diperkaya isotop 160Gd dengan metode kromatografi ekstraksi menggunakan resin Ln. Radioisotop 161Tb diperoleh melalui reaksi inti 160Gd (n,γ) 161Tb di RSG-G.A.Siwabessy pada fluks neutron termal ~1014 n.cm-2.s-1 selama ± 4 hari menggunakan sebanyak 5 mg bahan sasaran gadolinium oksida diperkaya isotop 160Gd (98,2%). Gadolinium oksida hasil iradiasi dilarutkan dalam larutan HCl 2N. Radioisotop 161Tb dipisahkan dari hasil iradiasi Gd2O3 diperkaya dengan metode kromatografi ekstraksi menggunakan sebanyak 1 dan 2 g resin Ln dengan ukuran partikel 50 – 100 μm sebagai fase diam, serta larutan asam nitrat dengan konsentrasi 0,8N dan 3N sebagai fase gerak masing-masing untuk memisahkan isotop gadolinium dan terbium. Pada penelitian ini diperoleh optimasi pemisahan 161Tb menggunakan 2 g resin Ln dengan yield sebesar 93,2 ± 2,1%, sedangkan Gd recovery diperoleh sebesar 98,11 ± 1,2%. Fraksi 161Tb hasil pemisahan memiliki kemurnian radionuklida 99,92 ± 0,5%. Produk akhir larutan radioisotop 161Tb yang diperoleh berada dalam bentuk senyawa 161TbCl3 dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,83 ± 0,2%

    KARAKTERISASI FISIKO-KIMIA RADIOISOTOP 149Pm HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 148Nd ALAM

    No full text
    ABSTRAK KARAKTERISASI FISIKO-KIMIA RADIOISOTOP 149Pm HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 148Nd ALAM. Penyakit kanker merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi Indonesia di bidang kesehatan. Radioisotop pemancar-β- dengan aktivitas jenis tinggi dapat digunakan untuk penandaan biomolekul sebagai radiofarmaka spesifik target untuk terapi sel kanker. Promesium-149 (149Pm) merupakan salah satu radiolantanida pemancar-β- yang me-miliki energi beta (Eβ-)maksimum sebesar 1,07 MeV (95,9 %) dan dapat dipertimbangkan untuk digunakan pada terapi kanker berdasarkan sifat nuklir yang dimilikinya. Radioisotop 149Pm dapat dibuat dengan cara tidak langsung melalui reaksi inti (n,γ) di reaktor nuklir menggunakan bahan sasaran isotop 148Nd (neodymium-148) dan radioisotop 149Pm yang dihasilkan adalah bebas pengemban (carrier free) sehingga memiliki aktivitas jenis tinggi. Pada penelitian ini digunakan bahan sasaran Nd2O3 alam yang diiradiasi selama ± 4 hari di Central Irradiation Position (CIP) RSG-G.A.Siwabessy – Serpong pada fluks neutron termal ~1014 n.cm-2.det-1. Radioisotop 149Pm dipisahkan dari bahan sasaran Nd2O3 hasil iradiasi menggunakan metode kromatografi ekstraksi. Larutan radioisotop 149PmCl3 yang dihasilkan dikarakterisasi secara fisiko-kimia meliputi penentuan kemurnian radiokimia menggunakan metode kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Kemurnian radionuklida ditentukan menggunakan spektro-meter-γ dengan detektor HP-Ge yang dilengkapi multichannel analyzer (MCA). Larutan 149PmCl3 yang diperoleh berupa larutan jernih, memiliki pH 2 dan konsentrasi radioaktif 4,2 – 7,4 mCi/mL. Larutan 149PmCl3 memiliki kemurnian radiokimia 99,70 ± 0,23% dan kemurnian radionuklida setelah pendinginan selama 9 hari sebesar 98,58 ± 0,44%. Larutan 149PmCl3 stabil selama 2 minggu pada temperatur kamar. Larutan radioisotop 149PmCl3 memiliki karakteristik fisiko-kimia yang memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam pembuatan radiofarmaka ABSTRACT  PHYSICO - CHEMICAL CHARACTERIZATION OF 149Pm RADIOISOTOPE FROM IRRADIATED NATURAL 148Nd TARGET. Cancer is one of the major problems encountered in the field of health in Indonesia. A beta-emitting radioisotope with high specific activity can be used for labeling of biomolecules as a targeted radiopharmaceutical for cancer therapy. Promethium-149 (149Pm) is one of beta-emitting radiolanthanides with beta energy (Eβ-) maximum of 1.07 MeV (95.9%) and can be considered to be used for cancer therapy based on its nuclear properties. Radioisotope of 149Pm can be produced by indirect methode through (n,γ) reaction in nuclear reactor using 148Nd (neodymium-148) target material and 149Pm was produced as a carrier free radioisotope, so that it has high specific activity. In this study, natural Nd2O3 target was irradiated for ± 4 days in central irradiation position (CIP) of RSG-G.A. Siwabessy – Serpong at a thermal neutron flux of ~ 1014 n.cm-2.sec-1. Radioisotope of 149Pm was separated from irradiated of Nd2O3 target using extraction chromatography method. The physico-chemical characterization of 149PmCl3 solution was studied involves the determination of its radiochemical purity using paper chromatography and paper electrophoresis methods. The radionuclide purity was determined using a γ-spectrometer with  HP-Ge detector and coupled with a multichannel analyzer (MCA). 149PmCl3 was obtained as a clear solution, has a pH of 2 and  radioactive concentration of 4.2 to 7.4 mCi/mL. 149PmCl3 solution has radiochemical purity of 99.70 ± 0.23% and radionuclide purity after cooling for 9 days of 98.58 ± 0.44%. 149PmCl3 solution was stable for 2 weeks at room temperature. 149PmCl3 solution has the physico-chemical characteristics that meet requirements for use in preparation of radiopharmaceuticals.</jats:p

    Pembuatan dan Karakterisasi Sediaan Radioisotop 169ercl3 Hasil Iradiasi Bahan Sasaran Erbium-168 Diperkaya 97,75%

    No full text
    PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEDIAAN RADIOISOTOP 169ErCl3 HASILIRADIASI BAHAN SASARAN ERBIUM-168 DIPERKAYA 97,75%. Erbium-169 (169Er)merupakan salah satu radioisotop pemancar β yang dapat digunakan untuk radiosinovektomi.Pada penelitian ini dikembangkan pembuatan radioisotop 169ErCl3 dengan cara iradiasi bahansasaran erbium oksida diperkaya dengan pengayaan 168Er sebesar 97,75%. Sebelumdigunakan dalam pembuatan radiofarmaka, larutan 169ErCl3 dikarakterisasi supaya memenuhisyarat aplikasinya. Karakterisasi fisiko-kimia radioisotop 169ErCl3 yang meliputi kejernihan; pH;muatan listrik; kemurnian radiokimia; dan kemurnian radionuklida; masing-masing ditentukandengan cara visual; kertas indikator pH; metode elektroforesis kertas; kromatografi kertas danelektroforesis kertas; serta spektrometer γ saluran ganda. Kestabilan larutan ditentukan denganmengamati kemurnian radiokimia larutan 169ErCl3 setiap hari selama satu bulan penyimpananpada temperatur kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 169ErCl3 berupa larutan jernih,memiliki pH 1,5 – 2, tidak bermuatan, kemurnian radiokimia sebesar 99,51 ± 0,41% dankemurnian radionuklida sebesar 99,84 ± 0,1%. Aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif larutan169ErCl3 masing-masing sebesar 1,26 – 3,38 mCi/mg Er dan 11,05 – 29,59 mCi/mL pada saatend of irradiation (EOI). Uji stabilitas menunjukkan bahwa larutan 169ErCl3 masih stabil sampaisatu bulan dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,65 ± 0,09%. Larutan 169ErCl3 yangdiperoleh dari bahan sasaran erbium oksida diperkaya 97,75% memiliki karakteristik fisiko-kimiayang memenuhi syarat untuk radiosinovektomi
    corecore