1,720,972 research outputs found

    Pemanfaatan Kiambang (Salvinia molesta) dalam Mereduksi Bahan Pencemar pada Limbah Cair Tapioka.

    No full text
    Tapioca wastewater may cause unbalance aquatic ecosystem. It contains cyanide, high organic matter, and acid water. Free floating aquatic plants such as kiambang (Salvinia molesta) can be applied as biological treatment for tapioka wastewater. Kiambang can utilize organic matter from water and from sediment. Therefore, water height could affect utilization of organic matter by kiambang. This research aimed to study the utilization of kiambang to reduce contaminant material in tapioca wastewater with different water height. Result showed that treatment with 10 cm water height decreased cyanide concentration and organic matter more than 20 cm. Wastewater treatment of 10 cm without aquatic plants decreased cyanide and organic matter the most, i.e 70% and 50%, respectively. This was because oxygen diffusion from atmosphere into water was blocked by the plant, causing organic material reduction was blocked as well. Aquatic plants acclimatization in wastewater should be done in a particular time span, so that aquatic plants ability to reduce cyanide and organic matter could be more visible

    Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Sumber Nutrien untuk Pertumbuhan Genjer (Limnocharis flava).

    No full text
    Genjer (Limnocharis flava) merupakan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan pangan. Selama ini, para petani masih mengandalkan pupuk komersial sebagai nutrien bagi pemacu pertumbuhan genjer dan limbah tahu adalah salah satu alternatif bahan pengganti pupuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan tumbuhan genjer (Limnocharis flava) dalam memanfaatkan nutrien dalam limbah tahu untuk pertumbuhan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Mikro 1 selama 28 hari. Analisis parameter kualitas air dilakukan di Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan (Proling) MSP IPB. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pertumbuhan genjer (Limnocharis flava) yang cukup signifikan. Perlakuan terbaik untuk pertumbuhan genjer adalah ACG. Laju pertumbuhan relatif ACG sebesar 0,020 gr/hari dengan waktu penggandaan 35 hari

    Dinamika Sel Heterokis Pada Anabaena Azollae Dalam Media Dengan Konsentrasi Nitrogen Berbeda

    No full text
    Anabaena azollae merupakan Cyanophyceae berheterokis yang bersimbiosis dengan Azolla sp. Anabaena azollae memiliki sel heterokis yang membuatnya mampu mengikat nitrogen (N2) dari udara dan mengubahnya menjadi amonium (NH4 +). Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dinamika sel heterokis pada Anabaena azollae yang bersimbiosis dengan Azolla sp. dalam media dengan konsentrasi nitrogen berbeda. Penelitian dilakukan dengan mengamati heterokis dan perubahan konsentrasi nitrogen pada media selama 21 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel heterokis tertinggi terdapat pada media dengan konsentrasi nitrogen 0 mg/L. Jumlah sel heterokis berfluktuasi selama 21 hari pengamatan mengikuti konsentrasi nitrogen dalam media hidupnya. Pada awal pengamatan, peningkatan konsentrasi amonium terjadi pada perlakuan 0 mg/L dan 5 mg/L. Selanjutnya, peningkatan amonium juga terjadi pada akhir pengamatan pada semua perlakuan. Peningkatan konsentrasi amonium yang terjadi akibat dari matinya Azolla sp. dan menyebabkan terlepasnya N ke dalam media

    Tingkat Kesuburan dan Status Ekologi Danau Hias Garden House, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

    No full text
    Danau Hias Garden House merupakan salah satu perairan menggenang buatan yang terletak di Pantai Indah Kapuk dengan kedalaman kurang dari 1 meter dan mendapat banyak masukan bahan organik dari aktivitas domestik. Bahan organik yang masuk dapat mengubah kualitas air, meningkatkan kesuburan, serta mempengaruhi kondisi ekologi perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat kesuburan dan status ekologi perairan Danau Hias Garden House. Tingkat kesuburan perairan dianalisis dengan menggunakan Indeks Nygaard, sedangkan status ekologi dianalisis dengan Indeks Q dan MedPTI. Cyclotella sp. merupakan jenis fitoplankton yang memiliki kelimpahan tertinggi di Danau Hias Garden House. Konsentrasi P total di Danau Hias Garden House sangat tinggi melebihi 0,1 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan nilai Indeks Nygaard sebesar 9,5-10,5, Indeks Q 1,41-1,57, dan Indeks MedPTI 1,46-1,85. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tingkat kesuburan perairan Danau Hias Garden House adalah eutrof dengan status ekologi buruk sampai sangat buruk

    Keterkaitan antara struktur komunitas plankton dengan kualitas air di Danau Hias Gold Coast, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

    No full text
    Bahan organik yang masuk ke dalam perairan berpotensi menjadi nutrien yang kemudian dimanfaatkan oleh fitoplankton. Pemanfaatan nutrien oleh fitoplankton dapat mempengaruhi struktur komunitas plankton yang terdapat di dalam perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara struktur komunitas plankton dengan kualitas air di Danau Hias Gold Coast, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Desember 2016 pada lima stasiun pengamatan. Metode pengambilan contoh plankton dan analisis kualitas air dilakukan dengan mengacu pada metode standar APHA (2012). Uji korelasi Pearson digunakan untuk melihat hubungan antara kelimpahan plankton dengan kualitas air. Fitoplankton yang ditemukan terdiri atas kelompok Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, dan Euglephyceae. Zooplankton yang ditemukan terdiri atas kelompok Rotifera, Crustacea, dan Protozoa. Karakteristik fisika-kimia dan konsentrasi nutrien berfluktuasi. Kelimpahan fitoplankton berkorelasi dengan ortofosfat, kelimpahan zooplankton berkorelasi dengan nilai COD, DO, dan kelimpahan fitoplankton

    Produktivitas Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. dalam Media Air Karst

    No full text
    Air karst Ciseeng merupakan sumberdaya perairan yang memiliki kandungan nutrien Ca, Na, Mg, Cl yang tinggi. Komposisi nutrien pada air karst memiliki kesamaan dengan perairan air laut sehingga dapat digunakan sebagai media kultur mikroalga laut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis produktivitas Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. dalam media air karst. Kelimpahan tertinggi masih mikroalga terdapat pada perlakuan kontrol dengan media Walne. Kelimpahan tertinggi perlakuan dengan pupuk urea dan TSP pada kultur Chlorella sp. adalah perlakuan rasio 20:1, dan kelimpahan tertinggi Nannochloropsis sp. pada perlakuan rasio 10:1 namun tidak berbeda nyata dengan rasio 4:1 dan rasio 10:1. Nilai korelasi antara absorbansi yang dihasilkan dengan kelimpahan yang dihitung menggunakan Hemacytometer adalah memiliki hubungan yang sangat erat. Nilai korelasi Pearson menunjukkan pada Chlorella sp. memanfaatkan nitrat dan ortofosfat, sedangkan Nannochloropsis sp. memanfaatkan amonia dan ortofosfat. Air karst yang mendapatkan tambahan pupuk Urea dan TSP dapat digunakan sebagai media kultur mikroalga laut. Chlorella sp. dalam media air karst menunjukkan produktifitas tertinggi pada level rasio N dan P sebesar 20:1, sementara Nannochloropsis sp. memiliki produktivitas yang relatif seragam pada rasio N dan P dari 4:1 sampai 20:1

    Variasi Fitoplankton di Sungai Maralol dan Salawatlol di Pulau Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

    No full text
    Sungai dapat menampung dan mengalirkan air secara alami. Sungai Maralol dan Salawatlol dijadikan objek studi untuk melihat keterkaitan antara komunitas fitoplankton dengan kualitas air. Penelitian didasarkan pada data sekunder dari hasil pengamatan yang dilakukan pada tahun 2010 sampai 2015 dengan interval pengambilan contoh enam bulan. Komunitas fitoplankton di Sungai Maralol terdiri dari 65 genera, sedangkan di Sungai Salawatlol terdiri dari 44 genera. Nilai turnover (β-3) di Sungai Maralol lebih tinggi dibandingkan nilai nestedness (βrich), menunjukkan ada jenis fitoplankton tertentu yang ditemukan di tiap cluster. Sungai Salawatlol memiliki nilai nestedness (βrich) lebih tinggi dibandingkan turnover (β-3), menunjukkan bahwa terdapat jenis fitoplankton yang hanya ditemukan pada salah satu cluster saja. Kelimpahan fitoplankton di Sungai Maralol pada T1 berkorelasi signifikan dengan TSS dan nitrit, sedangkan pada T2 tidak terdapat parameter kualitas air yang berkorelasi signifikan

    Aplikasi Tumbuhan Air Mayaca fluviatilis dengan Sistem Kanal dalam Bioremediasi Limbah Organik dari Waduk Cirata

    No full text
    Pencemaran yang terjadi di perairan merupakan salah satu bukti bahwa kualitas lingkungan perairan sudah menurun. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan kualitas air yang berwawasan ekosistem dan berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut adalah penerapan sistem pengolahan air limbah melalui metode bioremediasi. Tumbuhan air dalam sistem bioremediasi limbah organik berperan sebagai filter biologis. Salah satu tumbuhan air yang berfungsi sebagai agen bioremediasi dan mampu beradaptasi pada perairan yang mengandung bahan organik tinggi adalah Mayaca fluviatilis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan kualitas air hasil proses bioremediasi oleh tumbuhan air M. fluviatilis yang ditumbuhkan pada media air yang telah diberi perlakuan limbah organik dari Waduk Cirata pada tingkat pencemaran yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Plankton, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, IPB, selama 21 hari, yaitu pada tanggal 9 sampai 30 September 2011. Penelitian dilaksanakan dalam skala laboratorium dengan tiga perlakuan berbeda, yaitu perlakuan A (tercemar ringan), B (tercemar sedang), dan C (tercemar berat) dengan kondisi lingkungan yang telah disesuaikan. Analisis data yang digunakan meliputi penentuan doubling time, persentase perubahan kualitas air, dan analisis statistik menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), untuk mengetahui pengaruh parameter biologi, kimia, dan fisika, serta waktu pengamatan terhadap aplikasi bioremediasi limbah organik Waduk Cirata oleh M. fluviatilis. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa secara umum perubahan setiap parameter yang dianalisis bervariasi menurut waktu dan perlakuannya. Faktor lingkungan dalam penelitian ini cenderung stabil dengan kisaran nilai suhu dan pH masih dalam kriteria yang baik untuk pertumbuhan M. fluviatilis dan untuk keberlangsungan proses dekomposisi bahan organik. Hasil pengamatan pada parameter biologi menunjukkan semakin besar kandungan bahan organik pada perlakuan, maka akan memberikan pertambahan bobot basah dengan perubahan yang lebih positif. Perubahan parameter kualitas air dari awal sampai akhir pengamatan cenderung fluktuatif, dengan persentase perubahan selama pengamatan pada masing-masing paramater adalah: COD perlakuan A 15,16%, B 38,26%, C 77,11%; TAN perlakuan A 82,17%, B 77,98%, C 94,45%; nitrit perlakuan A 49,84%, B 1,13%, C 95,30%; nitrat perlakuan A 66,65%, B 108,96%, C 167,76%; dan orthophospat perlakuan A 68,18%, B 82,94%, C 88,79%. Berdasarkan persentase perubahan kualitas air dan hasil uji statistik (P<0,05), parameter yang paling memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya adalah COD dan TAN pada perlakuan C atau tercemar berat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bioremediasi oleh M. fluviatilis terhadap limbah organik Waduk Cirata dengan sistem akuarium kanal, mampu mengatasi masalah pencemaran perairan

    Produktivitas Alga Filamen Spirogyra sp. pada Beberapa Konsentrasi Limbah Cair Budidaya Ikan Sidat (Anguilla sp.)

    No full text
    ditemukan di perairan tawar Indonesia. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan Spirogyra sp. menyebabkan keberadaan alga tersebut dianggap dapat mengganggu ekosistem perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan produktivitas alga filamen Spirogyra sp. dalam memanfaatkan nutrien yang berasal dari limbah cair budidaya ikan sidat (Anguilla sp.) dengan konsentrasi yang berbeda. Produktivitas alga ditentukan berdasarkan pendekatan laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan. Pada penelitian ini terdapat empat perlakuan, yaitu penerapan limbah dalam media penumbuhan alga sebesar 25%, 50%, 75%, dan 100%. Pada perlakuan 25% dan 50% didapatkan hasil laju pertumbuhan relatif dan waktu penggandaan masing-masing sebesar 0,0429 gram hari-1 dan 16 hari, serta 0,0155 gram hari-1 dan 45 hari. Pada perlakuan 75% dan 100% terjadi penurunan biomassa Spirogyra sp. hingga akhir pengamatan. Berdasarkan uji regresi berganda diperoleh bahwa nutrien N dan P berbeda nyata pada perlakuan media tumbuh 25% (P<0,05)
    corecore