1,720,964 research outputs found

    BENTENG TAWULAGI SEBAGAI PUSAT PERTAHANAN KERAJAAN MORONENE KABAENA

    No full text
    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apa yang melatarbelakangi berdirinya benteng Tawulagi, (2) Bagaimana fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena, (3) Mengapa benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena, (4) Peninggalan apa saja yang terdapat di benteng Tawulagi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yang prinsipnya memiliki empat tahapan yaitu: (1) heuristik (teknik pengumpulan data), (2) kritik (teknik analisis data), (3) interpretasi (penafsiran), dan (4) historiografi (penulisan kisah sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang berdirinya benteng Tawulagi disebabkan kondisi keamanan pulau Kabaena yang tidak menjamin   keselamatan penduduknya dengan makin gencarnya serangan bajak laut Tobelo. Oleh karena itu  dengan  segera  Da  motu’a  di Rahadopi  menghadap  Mokole  Sugilara  di  E’e Mpu’u (Ibu  Kota  Kerajaan Kabaena) untuk mengusulkan dibuat benteng pertahanan. (2) Fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena adalah sebagai   pusat pertahanan masyarakat Kabaena dan tempat tinggal Mokole (raja), hal ini dapat dilihat dari letak geografis Benteng Tawulagi yang berada di atas bukit dengan ketingian 1000 mdpl. (3) Benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena dikarenakan benteng Tawulagi adalah benteng pertama yang dibuat oleh Kerajaan Moronene Kabaena.  Benteng Tawulagi  didirikan  oleh Mokole III yaitu Mokole Sugilara pada abad XVI M. Selain itu tempatnya yang sangat starategis untuk berlindung jika masyarakat Kabaena merasa terancam dari pihak luar, dalam hal ini bajak laut Tobelo. Di benteng Tawulagi dikeluarkan perintah oleh Mokole (raja) untuk membuat sistem pertahanan dan keamanan, maka dibuatlah  benteng  penunjang  di antaranya  yaitu  benteng  Tuntuntari  di bagian timur, benteng Ventumo dan benteng Tondowatu di bagian barat, benteng Doule dan benteng Nangkaea bagian utara, dan benteng Mata Evolangka di bagian selatan. Dengan demikian maka benteng Tawulagi berada di tengah-tengah benteng penunjang tersebut yang dijadikan sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan. (4) Peninggalan yang terdapat di benteng Tawulagi adalah struktur benteng, pintu gerbang (wamba), bastion, meriam, tempat pelantikan Mokole (raja), makam, dan sampah dapur

    PERKAWINAN MASYARAKAT BAJO (STUDI PADA MASYARAKAT BAJO SAMPELA, WAKATOBI)

    No full text
    The problems in this study: 1) What is the type of marriage in the Bajo Sampela community, 2) What is the procedure for implementing marriage in the Bajo Sampela community. The objectives of this study are: 1) to find out the type of marriage in the Bajo Sampela community, 2) to find out the procedure for implementing the marriage customs of the Bajo Sampela community.    This research uses socio-cultural research methods and includes qualitative research that produces analytical procedures that do not use statistical analysis procedures and other quantifications. Data collection in this study consists of three methods, namely: 1) observation, 2) interviews, and 3) literature. The subjects in this research are traditional leaders, community leaders, and marriage actors. The results of this research show that marriage in Bajo Sampela consists of 3 types of marriage, namely: a) massuro (proposal), b) siboa (elopement), c) ngandaka (forced marriage). The procedure for implementing the traditional marriage of Bajo Sampela marriage is: a) massuro, the procedures are: lelepatilao (asking), then massuro (proposal), discussing pananga (dowry) and continued with pangarintanga allau allo (determining a good day), then the opening and the wedding ceremony. b) siboa (eloping), the procedure is: the two run away to the customary leader's house, report to the customary leader, notification to both families concerned, discussing the dowry as well as the good day, a simple marriage. c) ngandaka (forced marriage), the procedure is: If caught, the young people are arrested, taken to the village priest's house, and married off, or if they want to be arranged by the adat leader, they are reported first to his famil

    KAMOMOSE LAKUDO: PERUBAHAN TRADISI DARI SAKRAL KE PROFAN

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui proses  pelaksanaan  tradisi  kamomoose di masa lalu dan sekarang; 2) Untuk mengetahui faktor  yang  menjadi  penyebab  perubahan tradisi kamomoose. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan tradisi kamomoose di masa lalu dilakukan dengan tujuan sebagai ajang pencarian jodoh. Sebelum komomoose digelar, para gadis akan dihadirkan pada acara matano kahia'a (malam puncak pingitan). Mereka akan dikukuhkan secara adat sebagai gadis dewasa yang dirangkaikan dengan acara kamomoose. Di malam puncak acara pingitan, kamomoose digelar oleh dewan adat (saha) di depan galampa atau balai pertemuan adat. Waktu pelaksanaan kamomoose itu didasarkan atas perhitungan malam bulan di langit yaitu empat belas malam bulan atau lima belas malam bulan. Para tokoh adat akan membuka acara dengan menabur kacang (fopanga) mengelilingi gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut. Setelah itu lalu diikuti oleh para pemuda yang bersiap untuk memasuki acara kamomoose sambil menjatuhkan kacang dan terkadang pula benda berharga ke dalam baskom yang ditujukan pada perempuan yang dicintainya. Di masa kini, kamomoose dilaksanakan dengan tujuan sebagai hiburan semata, sebagai momen silaturahmi dengan keluarga, sahabat, dan para tetangga untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Penetapan pelaksanaan tradisi kamomoose sekarang dilaksanakan setiap tahun secara perorangan, setelah lebaran idul fitri, dengan harapan suasana kampung menjadi ramai karena banyak dari para perantau yang pulang ke kampung halaman. 2) Faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi kamomoose adalah hilangnya tradisi pingitan (ombo) pada masyarakat Lakudo. Tradisi kamomoose dari yang sebelumnya bersifat sakral menjadi profan, dari tradisi menjadi hiburan semata disebabkan karena sudah tak ada lagi tradisi pingitan. Hilangnya tradisi pingitan merupakan faktor utama yang mengubah pelaksanaan tradisi kamomoose mulai dari tujuan pelaksanaan, tempat pelaksanaan, waktu pelaksanaan, hingga gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut

    RITUAL POAGO KAMPO PADA MASYARAKAT DESA INULU, KECAMATAN MAWASANGKA TIMUR, KABUPATEN BUTON TENGAH

    Full text link
    The aims of this research are 1) To find out the background to the poago kampo ritual in the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency; 2) To find out the procedures for carrying out the poago kampo ritual among the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency; 3) To describe the meaning contained in the poago kampo ritual among the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency. This research uses a qualitative descriptive research method. Data sources in this research are observation, interviews, documentation and literature. The research results show that: 1) The background to the emergence of the poago kampo ritual is caused by the change of seasons from west to east, and vice versa. Usually this change of season causes the emergence of seasonal diseases, therefore this change of season is carried out by village healing (poago kampo ritual). This is also carried out taking into account the geographical factors of the village, so this ritual is carried out in the west and east seasons. This ritual is carried out to treat villages that are being hit by seasonal diseases in the hope that after the community performs the poago kampo ritual, the seasonal diseases that attack the village will go away and will not return again. 2) The procedure for carrying out the poago kampo ritual is: The first stage, the preparation stage which includes determining the time and preparing the materials. This determination of good/bad days is manifested in all activities. This process cannot be separated from the process of calculating days which are considered to have good values and are kept away from disaster. Next, the preparation of ingredients for the poago kampo ritual, consisting of: free-range chicken eggs, cigarettes, betel leaves, betel lime, areca nut, young coconut, white cloth, rice, and lapi leaves. The second stage is the implementation stage after determining a good day and preparing the offering materials, then the offerings are placed in places that are considered sacred by the people of Inulu Village, which consists of five sacred places, namely under a big tree, in the center of the village, the cemetery area , beach area, and village border area. After placing the offerings by religious and traditional leaders as well as several community leaders, the final stage was to return to the kamokula house for the reading of prayers led by the kamokula; 3) The meaning contained in the poago kampo ritual is religious meaning (reciting prayers to reject evil), social meaning (showing the spirit of mutual cooperation), cultural meaning (ancestral traditions of the Inulu Village community) which are still preserved to this day

    RITUAL SIKLUS TANAM PADA MASYARAKAT KATOBENGKE

    No full text
    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (2) Apa makna yang terkandung dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (3) Fungsi sosial apa yang terdapat dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke.          Jenis penelitian ini adalah penelitian budaya yang berkaitan dengan ritus (upacara adat) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedowan wawanacara (interview guide). Sumber tertulis terdiri dari buku-buku, artikel, dan jurnal. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, studi kepustakaan, dan observasi lapangan.          Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke dimulai dari tedai (meminta izin kepada makhluk halus), mecika’a kastela (menanam jagung), waa’o (memberi sesaji kepada makhluk halus),  fonisi’a liwu yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu fonisi’a liwu pertama (songkawi’a), dimana parabela mancuana naik ke liwu, dan fonisi’a liwu kedua (bongkaana tao) yaitu acara pada saat masa panen tiba, dan mehambisi’a (acara panen yang dikhususkan untuk sesama petani, bisa dilakukan dan tidak dilakukan). (2) Makna yang terkandung pada ritual siklus tanam terdiri atas tedai yang bermakna meminta izin kepada makhluk halus yang mendiami lahan, mecika’a kastela bermakna menanam bibit jagung untuk hasil yang memuaskan, waa’o bermakna memberi makan mahluk halus yang mendiami lahan, fonisi’a liwu pertama songkawi’a bermakna ungkapan rasa syukur karena selama menanam diberi kelancaran, fonisi’a liwu kedua bongkaana tao bermakna ungkapan rasa syukur masyarakat pada hasil panen, dan mehambisi’a bermakna ungkapan rasa syukur para petani pada hasil panen mereka. (3) Fungsi sosial yang terkandung dalam ritual siklus tanam yaitu nilai kebersamaan (berkumpulnya beberapa sanak keluarga, tetangga untuk membantu proses penanam jagung hingga proses panen jagung), nilai gotong-royong (keterlibatan berbagai pihak dalam penyelanggaraan upacara), dan nilai religi (doa atau mantra yang dilantunkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kesehatan dan terhindar dari gangguan makhluk halus selama proses ritual siklus tanam dilaksanakan

    SEJARAH PENAMBANGAN BATU KAPUR DAN PEMBUATAN BATAKO DI DESA NEPA MEKAR, BUTON TENGAH

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya studi dan kajian tentang penambangan batu kapur dan pembuatan batako dengan tujuan untuk mengetahui sejarah penambangan batu kapur dan proses pembuatan batako serta dampak ekonomi dan lingkungan pada masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yaitu pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan studi dokumen yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang mendalam tentang masalah yang diteliti. Subjek pada penelitian ini adalah para penambang batu kapur dan pembuat batako. Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) penambangan batu kapur di Desa Nepa Mekar telah dilakukan masyarakat sekitar 55 tahun silam, tepatnya tahun 1970. Penambangan batu kapur dilakukan dengan cara sederhana dengan alat-alat berupa linggis, sekop, palu, kagahu (batok kelapa), ember dan karung. Penambangan yang dilakukan oleh masyarakat mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Pada tahun 2000 jumlah penambang batu kapur mengalami peningkatan sebanyak 45 kepala keluarga. (2) Dari aktivitas menambang batu kapur, maka perlahan-lahan masyarakat Desa Nepa Mekar mulai membuat batako yang pertama kali dirintis oleh bapak La Ntahawe (H. Ramadhan) pada tahun 1990. Awalnya batako yang dibuat hanya untuk keperluan dasar pagar rumah, dinding kolong rumah, dan kamar mandi. Pada tahun 1995 pembuatan batako sudah dijadikan usaha oleh H. Ramadhan dan keluarganya, namun pembuatan batako masih manual dan tradisional. Bahan pembuatan batako hanya membutuhkan batu kapur yang telah dihaluskan, semen, dan air, sedangkan alat yang digunakan adalah gerobak (artco), sekop, cetakan batako, dan kacumbu (penumbuk). (3) Dampak terhadap penambangan batu kapur di Desa Nepa Mekar, adalah: pertama, dampak posiif yaitu dapat dilihat dari sisi ekonomi, di antaranya: sumber penghasilan yang baru bagi masyarakat, memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua, dampak negatif yaitu dapat dilihat dari sisi lingkungan, di antaranya: kegiatan penambangan batu kapur akan memberikan kerusakan pada permukaan tanah dimana permukaan tanah menjadi berlubang-lubang,  terjadi penggundulan tanah di sekitar daerah areal pertambangan sehingga tanah tidak dapat difungsikan untuk berkebun atau bertani dikarenakan tanah tersebut sudah tidak lagi subur, terjadinya longsor dapat membahayakan keselamatan pada masyarakat yang melakukan kegiatan penambangan batu kapu

    PERPINDAHAN PEMUKIMAN MASYARAKAT MAWASANGKA TIMUR DARI PERKAMPUNGAN LAMA KE WILAYAH PESISIR

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini bertolak dari belum adanya kajian atau studi secara ilmiah mengenai perpindahan pemukiman masyarakat Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, sehingga mendorong penulis melakukan penelitian dengan tujuan; 1) Untuk mengetahui latar belakang perpindahan pemukiman masyarakat di Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, 2) Untuk mengetahui proses perpindahan pemukiman masyarakat di Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, 3) Untuk mengetahui proses pemekaran perkampungan pesisir menjadi desa-desa di Mawasangka Timu

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore