1,732,729 research outputs found

    Geoefektivitas Awan Magnet

    No full text
    Awan magnet merupakan salah satu emisi energi dari matahari ke ruang antarplanet. Awan magnet ini seringkah terkait dengan adanya lontaran massa korona (CME). Tidak semua awan magnet mempunyai dampak ke bumi (geoefektif), yang dapat memicu badai geomagnet dan turunnya intensitas sinar kosmik di bumi. Awan magnet yang terjadi selama tahun 2000 dipelajari di sini, termasuk parameter antarplanet selama terjadinya awan magnet tersebut. Hal ini terkait dengan geoefektivitasnya, yaitu dampak yang diterima di bumi. Berdasarkan dampaknya, awan magnet dibedakan menjadi yang berdampak kuat dan kurang kuat. Awan magnet yang berdampak kuat ditunjukkan oleh penurunan indeks gangguan geomagnet Dst yang lebih kuat dan penurunan sinar kosmik yang lebih besar dibandingkan dengan yang berdampak kurang kuat. Disamping itu geoefektivitas awan magnet juga dipengaruhi oleh parameter antarplanet, yaitu kuat medan magnet arah selatan (Bz), kerapatan, dan kecepatan angin suryaHal. 49-6

    Pengembangan Nilai Kualitas Radiometrik untuk Citra Landsat-8 (Fase I: Identifikasi Awan dan Penghitungan Jarak Awan) = Development of Landsat-8 Image Radiometric Quality Score (Phase I: Cloud Identification and Cloud Distance Calculation)

    No full text
    Setidaknya ada 2 parameter yang dapat diperoleh dari data Landsat-8 dan digunakan untuk menilai kualitas radiometrik, yaitu adanya kabut (haze) dan adanya awan atau jarak dari awan. Sebagai langkah awal dari pengembangan kualitas radiometrik citra, penelitian ini mengembangkan teknik untuk mengidentifikasi awan dan cara menghitung jarak awan dari data Landsat-8. Data yang digunakan adalah data Landsat-8 yang sudah terkoreksi geometrik ortho dan terkoreksi radiometrik TOA (Top Of Atmosferic) dan BRDF (Biderectional Reflectance Distribution Function) . Teknik deteksi awan yang digunakan adalah menggunakan kanal visible dan kanal cirrus, kanal visible untuk mendeteksi awan tebal yang berwarna putih pada kombinasi warna sebenarnya (true color), sedangkankanal cirrus untuk mendeteksi awan tinggi. Masking air juga dilakukan untuk memisahkan obyek air dengan obyek lainnya. Kelas awan diberi nilai 100 yang menunjukkan tingkat ketelitian deteksi awan yang tinggi, selanjutnya dibuat buffer awan secara bertahap dengan ketelitian deteksi awan lebih rendah, pixel paling dekat dengan awan diberi nilai 99, sedangkan pixel paling jauh dengan jarak 100 pixel diberi nilai 1. Dengan teknik ini maka pixel pixel yang ragu dalam pengekelasan awan dan bayangan awan akan masuk dalam jangkauan jarak awan. Awan awan kecil yang bergerombol akan terkelompok dalam satu cluster awan dan jarak awan. Dengan teknik ini diharapkan semua awan akan terkelaskan dengan nilai score 100 sampai 1, sedangkan pixel yang yakin bukan awan diberi nilai nol (0).Image radiometric quality score is the score that shows how good the image from radiometric error. At least there are two parameters derived from Landsat-8 image that can be used to assess the radiometric quality, that are haze and cloud or cloud distance. This research used the ortho rectified and radiometric corrected (Top OfAtmospheric and Biderectional Reflectance Distribution Function) Landsat-8 images. As an initial work of the image radiometric quality score development, this research developed the cloud identification technique from Landsat-8 image and calculated the cloud distance. It used the visible and cirrus band, visible band was used to identify the thick cloud, but the cirrus band to detect high cloud. Water masking was applied to separate water and others. Cloud assigned to score 100 (highest confident cloud), then cloud buffer was assigned gradually using score 99 to 1 (the lest confident cloud). Using this technique, the possible cloud in surrounding cloud and cloud shadow are in the range of cloud distance. Many small clouds in surrounding will be clustered become cloud and its distance. All cloud will bescored to 100 to 1, and pixel with certain no cloud assigned with value zero (0).Hlm.133-14

    Deteksi Awan Pada Citra Satelit SPOT-6/7 Menggunakan Metode Multi-Temporal Cloud Detection (MTCD)

    No full text
    Ketersediaan data wilayah Indonesia dengan nilai tutupan awal minimal harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Pemrograman permintaan (programming request) data citra satelit area tertentu dapat dimanfaatkan untuk memperoleh data citra dengan nilai tutupan awan minimal. Persentase tutupan awan citra hasil perekaman dapat diminimalisir dengan rekomendasi waktu perekaman yang tepat. Rekomendasi waktu perekaman dihasilkan dari cloud coverassesment, dimana untuk melakukan cloud cover assesmentterlebih dahulu harus dilakukan deteksi awan pada citra satelit. Deteksi awan adalah proses memberi label pada setiap piksel dari suatu citra satelit yang menunjukkan piksel tersebut sesuai dengan awan atau tidak. Citra satelit SPOT-6/7 tidak memiliki kanal termal untuk mendeteksi awan yang memiliki suhu rendah. Metode Multi-Temporal Cloud Detection (MTCD) dapat digunakan untuk melakukan deteksi awan pada citra satelit SPOT-6/7.Hlm. 4-

    Identifikasi Awan Magnet dari Data Satelit

    No full text
    Usaha untuk memahami awan magnet dilakukan dengan menganalisis komponen toroidal din poloidal dari medan magnet yang teramati oleh satelit WIND. Data yang dianalisis adalah data medan magnet disekitar waktu terjadinya awan magnet yang terjadi pada rentang waktu tahun 2000. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa komponen toroidal memperlihatkan kesamaan pola, yaitu mempunyai nilai maksimum pada saat terjadi awan magnet, yang menunjukkan intensitas paling kuat di pusatnya. Sedangkan untuk komponen poloidal terdapat pola yang berbeda-bedaHal. 47-5

    Mosaik Bebas Awan Citra Resolusi Tinggi

    No full text
    Mosaik bebas awan citra resolusi tinggi sangatlah dibutuhkan dalam perencanaan tata ruang maupunkebutuhan yang lain. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan tutupan awan yang banyak sehingga dibutuhkancitra resolusi tinggi yang memiliki lebar perekaman yang luas dan resolusi temporal yang tinggi sehingga untukmelakukan mosaik bebas awan citra resolusi tinggi bisa dilakukan dengan cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui kemampuan SPOT6/7 dalam memenuhi kebutuhan mosaik bebas awan citra resolusi tinggi untuk wilayahIndonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SPOT6/7 mampu memenuhi kebutuhan mosaik bebas awan citraresolusi tinggi untuk wilayah IndonesiaHal. 165-16

    Di Atas Awan Peroleh Hikmah

    No full text
    Di atas awan yang membentang, Kita menghirup nafas udara, Keindahan langit,bumi dan bintang, Tanpa sempadan kota atau negara. Aku pernah terpaku pada salju di Paris, Pernah terbuai bayu lembut di Vietnam, Destinasi yang mencipta memori yang manis, Perjalanan yang jauh,aman dan tenang. Di atas awan yang tiada penjuru, Menjulang damai yang tiada sengketa, Dengan harapan manusia bersatu padu, Walaupun matlamat kita begitu berbeza

    PEMANFAATAN TRANSPORTABLE RADAR CUACA DOPPLER X-BAND UNTUK PENGAMATAN AWAN

    No full text
    RINGKASANTelah dilakukan pengamatan awan di beberapa tempat secara intensif denganmenggunakan alat Transportable Radar Cuaca Doppler X-Band, diantaranya diBandung pada 2013 dan di Garut pada 2014. Berbagai skenario dilakukan selamapengamatan. Pemindaian volume dilakukan pada kedua pengamatan tersebut, namunpada saat pengamatan di Bandung juga dilakukan pemindaian RHI. Makalah ini ditulisuntuk melihat evolusi awan hujan yang ditinjau dari beberapa hasil luaran radar.Untuk mendapatkan nilai reflektivitas dan kecepatan radial perlu dilakukanpengkonversian nilai piksel pada gambar. Pengkonversian koordinat polar menjadikartesian juga perlu dilakukan tatkala akan melakukan plot data. Hasil menunjukkanbahwa radar dengan frekuensi x-band ini dapat memperlihatkan evolusi awan dalamwilayah terbatas dengan resolusi spasial maupun temporal yang cukup baik.Hal.91-98:ilus.; 30 c

    PEMANFAATAN TRANSPORTABLE RADAR CUACA DOPPLER X-BAND UNTUK PENGAMATAN AWAN

    No full text
    RINGKASANTelah dilakukan pengamatan awan di beberapa tempat secara intensif dengan menggunakan alat Transportable Radar Cuaca Doppler X-Band, diantaranya di Bandung pada 2013 dan di Garut pada 2014. Berbagai skenario dilakukan selama pengamatan. Pemindaian volume dilakukan pada kedua pengamatan tersebut, namun pada saat pengamatan di Bandung juga dilakukan pemindaian RHI. Makalah ini ditulis untuk melihat evolusi awan hujan yang ditinjau dari beberapa hasil luaran radar. Untuk mendapatkan nilai reflektivitas dan kecepatan radial perlu dilakukan pengkonversian nilai piksel pada gambar. Pengkonversian koordinat polar menjadi kartesian juga perlu dilakukan tatkala akan melakukan plot data. Hasil menunjukkan bahwa radar dengan frekuensi x-band ini dapat memperlihatkan evolusi awan dalam wilayah terbatas dengan resolusi spasial maupun temporal yang cukup baik.Hal.91-98:ilus.; 30 c

    Mega Mengelilingi Sistem Solar_ Awan Oort: E-ESTIDOTMY

    No full text
    Awan Oort ialah lapisan sfera objek berais yang mengelilingi Matahari, bintang, dan berukuran pada jarak antara kira-kira 2,000 hingga 100,000 unit astronomi (AU) dari Matahari. Komet jangka panjang (mengambil masa lebih daripada 200 tahun untuk mengorbit Matahari) berkemungkinan sekali berasal dari Awan Oort, yang kadangkala digambarkan sebagai “takungan komet”. Jangkaan menunjukkan bahawa Awan Oort mungkin mengandungi lebih daripada satu trilion buah objek berais.</p

    Eksistensi Seni Pertunjukan di Desa Awan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli

    No full text
    Abstrak Desa Awan sebagai bagian daripada Kecamatan Kintamani di Kabupaten Bangli Provinsi Bali, tentunya memiliki berbagai ragam seni pertunjukan yang dilandasi oleh adat dan budaya Bali serta berkaitan sangat erat dengan Agama Hindu bahkan kehidupan relijius masyarkat. Seni pertunjukan yang berkembang di Bali, dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu: (1) Wali; (2) Bebali; dan (3) Balih-balihan yang masing-masing memiliki karakteristik serta fungsi berbeda. Agar diketahui seni pertunjukan yang ada di Desa Awan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, maka dilakukan penelitian melalui pengumpulan data memakai metode pustaka dan wawancara serta observasi maupun dokumentasi. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif untuk mengidentifikasi eksistensi seni pertunjukan yang ada di Desa Awan tersebut. Desa Awan terdiri atas 3 Banjar, yaitu: (1) Banjar Adat Awan; (2) Banjar Merta; dan (3) Banjar Kauripan. Seni pertunjukan di Desa Awan berjumlah 16 buah, terdiri atas: (1) Banjar Adat Awan memiliki 9 jenis seni tari, dua jenis seni karawitan dan satu jenis seni metembang berupa pesantian; (2) Banjar Merta dan Kauripan, masing-masing hanya memiliki dua jenis seni karawitan saja. Jenis seni tari di Banjar Adat Awan adalah tari Baris Bajra, Baris Gede, Baris Jojor, Baris Panah, Baris Presi, Baris Teruna, Drama Gong (tidak aktif lagi), Prembon dan Rejang Daha. Banjar Adat Awan memiliki gong kebyar dan selonding, sedangkan Banjar Merta serta Kauripan hanya memiliki angklung dan gong kebyar. Kata kunci: desa awan, tari, karawitan dan pesantian
    corecore