1,721,373 research outputs found

    Hubungan Dukungan Informasi Keluarga Terhadap Kekambuhan Pasien Skizofrenia DI Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung

    No full text
    ABSTRACT A mental disorder is a disease caused by a confusion of thoughts, perceptions, and behavior in which the individual is unable to adjust to himself, other people, society, and the environment. In 2018 the number of schizophrenics reached 60 people, in 2019 there were 71 people and in 2020 there were 89 people. This type of quantitative research study design used an analytical survey using a cross-sectional approach. The population in this study were all families of schizophrenia patients at the Aulia Rahma Foundation, Which from November 2019-March 2020 amounted to 87 respondents with the sample in this study were the families of schizophrenic patients at the Aulia Rahma Foundation in Bandar Lampung which the researchers received from 10-27 August 2020. Which amounted to 51 respondents. In this study, the sampling technique used was accidental sampling. At the Aulia Rahma Foundation Bandar Lampung in 2020, it is known that the frequency distribution of respondents who have poor family information support is 28 respondents (54,9%) and 32 respondents (62,7%) experienced recurrence. There is a relationship between family information support and recurrence in schizophrenia patients at the Aulia Rahma Bandar Lampung Foundation in 2020 with a p-value of 0.004 (p-value <0.005). It is hoped that you can always visit health services and be more obedient in taking schizophrenia drugs.  Keywords: Family Information Support & Schizophrenia Patient Recurrence ABSTRAK Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran , persepsi dan tingkah laku dimana individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri., orang lain, masyarakat ,dan lingkungan. Tahun 2018 jumlah penderita skizofrenia mencapai 60 jiwa , tahun 2019 berjumkah 71 jiwa dan pada tahun 2020 berjumlah 89 jiwa ( profil Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung 2020. Tujuan penelitian ini adalah diketahui Hubungan Dukungan Informasi Keluarga Terhadap  Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung 2020. Jenis penelitian kuantitatif rancangan penelitian ini menggunakan survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma yang tehitung sejak November2019-Maret 2020 berjumlah 87 responden dengan saampel dalam penelitian ini adalah keluarga pasien penderita skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung yang peneliti dapatkan selama 10-27 Agustus 2020 yang berjumlah 51 esponden. Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung Tahun 2020, diketahui distribusi frekuensi responden mempunyai dukungan informasi kelurga yang tidak baik berjumlah 28 responden (54,9%) dan responden mengalami kekambuhan berjumlah 32 responden (62,7%). Terdapat hubungan dukungan informasi keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Bandar Lampung Tahun 2020 dengan p-value 0,004 (p-value <0,005) diharapkan agar selalu mengunjungi pelayanan kesehatan dan lebih patuh lagi dalam mengkonsumsi obat skizofrenia. Kata Kunci: Dukungan informasi Keluarga & Kekambuhan Pasien Skizofreni

    PERAN KONSELOR DALAM MENANGANI PENDERITA GANGGUAN JIWA OBSESIF KOMPULSIF DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING BANDAR LAMPUNG

    Full text link
    ABSTRAK Lingkungan kita terdapat banyak orang yang mengalami gangguan jiwa Obsesif Kompulsif. Gangguan Obsesif Kompulsif adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita. Sebagian besar orang-orang memiliki pikiran yang tidak dikehendaki dari waktu ke waktu, dan sebagian besar diantaranya memiliki dorongan pada saat ini atau kelak untuk melakukan perilaku tertentu yang memalukan atau bahkan berbahaya. Namun, hanya sedikit diantaranya yang menderita gangguan obsesif�kompulsif, suatu gangguan kecemasan dimana pikiran dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran konselor dalam menangani penderita gangguan jiwa obsesif kompulsif di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung dan apasaja yang menjadi faktor penghambat peran konselor untuk menangani penderita gangguan jiwa obsesif kompulsif di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. Jenis Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis dengan mengambil data di lapangan bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari sumber data primer dalam hal ini: Ketua Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung, Konselor, Perawat/Staff, Pasien Gangguan Jiwa Obsesif Kompulsif. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari sumber lain untuk memperkuat atau melengkapi data primer yang diperoleh dari buku, jurnal, wawancara dan sumber lainnya yang. Hasil dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa konseling termasuk dalam terapi rehabilitas, konseling dipandu oleh seorang konselor yang memiliki peran sebagai informan, motivator dan fasilitator dalam membantu memantau serta membimbing pasien obsesif kompulsif untuk pulih dan berhasil dalam merubah pandangan dan kebiasaan pasien. Kesimpulannya adalah peran konselor di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung mempunyai peran penting untuk membantu pasien dalam memperoleh kesembuhan. Kata Kunci: Peran Konselor, Pasien Obsesif Kompulsif

    BIMBINGAN AGAMA BAGI EKS PSIKOTIK DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING BANDAR LAMPUNG

    Full text link
    ABSTRAK Eks psikotik adalah seseorang yang pernah mengalami gangguan pada fungsi kejiwaan seperti proses berfikir, emosi, kecemasan dan psikomotorik. Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung, memberikan catatan tentang latar belakang yang menyebabkan pasiennya mengalami gangguan jiwa, diantaranya yaitu beban ekonomi, pemakaian Narkoba, perselingkuhan dalam rumah tangga, kurangnya kasih sayang dari orang tua brokenhome dan lain sebagainya. Dalam proses pelaksanaan pelayanan sosial bagi Eks Psikotik di Yayasan Aulia Rahma, disamping pemberian obat, bimbingan terapi komunikasi terapeutik, dan berbagai kegiatan�kegiatan positif, bimbingan agama juga menjadi bagian terpenting yang bisa membantu proses penyembuhan pasien. Maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bimbingan Agama bagi Eks Psikotik di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. Metode Penelitian ini adalah kualitatif, bersifat deskriptif dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Berdasarkan kriteria sumber data dalam penelitian ini berjumlah 9 orang, yang terdiri 1 Kepala yayasan, 2 Perawat, 1 Ustad Pembimbing Agama dan 5 pasien eks psikotik. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan bimbingan agama yang telah dilaksanakan melalui tiga tahap yakni: 1)Tahap perencanaan kegiatan, yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan meliputi penetapan materi layanan, sasaran kegiatan, tujuan yang akan dicapai, serta persiapan waktu dan tempat. 2) Tahap pelaksanaan kegiatan, mencakup pemberian materi dengan metode, serta proses kegiatan bimbingan agama itu sendiri. 3) Evaluasi kegiatan, yaitu kegiatan bimbingan mental keagamaan dinilai memberikan hasil yang baik dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dapat dilihat dari perubahan positif yang dialami oleh mereka, diantaranya yaitu pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab, rajin beribadah, kepercayaan diri yang lebih baik dan hal-hal positif lainnya. Perubahan tersebut menunjukkan adanya peningkatan dalam berpikir secara rasional dan bertingkah laku yang baik. Dengan Upaya memberikan bimbingan agama bagi pasien eks psikotik diharapkan bias membantu dalam proses kesembuhan bagi pasien eks psikotik dapat memberikan efek tenang dan membantu proses penyembuhan bagi pasien. Kata Kunci : Bimbingan Agama, Eks Psikotik

    METODE RUQYAH DALAM PEMULIHAN PASIEN SKIZOFRENIA ( Studi Pada Yayasan Aulia Rahma Rehabilitasi Gangguan Jiwa Di Kemiling Bandar Lampung)

    Full text link
    Abstrak Pada Era Globalisasi saat ini corak kehidupan masyarakat semakin kompleks, hal tersebut bisa mengakibatkan gangguan jiwa seperti Skizofernia. Skizofrenia Penykit Skizofernia ini sebaiknya tidak hanya disembuhkan oleh medis saja tetapi harus diberikan pengobatan secara rohaniah untuk bisa pulih secara efektif yaitu dengan pengobatan metode Ruqyah yang berlandaskan AlQura’an dan Hadist yang mampu membantu mengeluarkan energi negatif yang ada pada penderita Skizofrenia, sehingga penderita kembali dalam keadaan sehat baik secara jasmani maupun rohaninya. Dalam pra penelitian yang telah dilakukan di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung pengobatan dengan metode ruqyah mampu membantu dalam proses pemulihan pasien Skizofernia. Untuk meneliti hal tersebut dapat dirumuskan bagaimana pelaksanaan metode ruqyah dalam pemulihan pasien Skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. mengetahui hasil dari metode ruqyah terhadap pasien dengan penderita gangguan jiwa Skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan metode Ruqyah dalam pemulihan pasien Skizofrenia dan untuk mengetahui hasil ruqyah dalam pemulihan pasien Skizofrenia di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung.Penelitian ini adalah penelitian lapangan, menurut sifatnya penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metodelogi kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara ter struktur, observasi non pertisipan, dan metode dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dan disimpulkan menggunakan sumber data primer. Data primer diperoleh melalui purposive sampling dengan kriteria yang memiliki penyakit gangguan jiwa Skizofrenia halusinasi, mendengar bisikan bisikan, emosi tinggi, isolasi diri, napza, kekerasan sosial. Subjek penelitian terdiri dari 12 pasien, 2 perawat, 1 ustad selaku peruqyah dan 1 psikolog. Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa metode Ruqyah yang dilakukan di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung berdampak positif terhadap kejiwaan pasien, dalam pemulihannya, pasien gangguan jiwa Skizofrenia mengalami pemulihan yang sangat cepat dan menurut pasien yang telah dilakukan Ruqyah bahwasanya keadaan yang dialami sudah lebih baik dari sebelumnya dan merasakan perasaan yang nyaman,tenang, dan gangguan-gangguan yang di alami nya dulu sedikit demi sedikit hilang karna metode ruqyah butuh proses berulang-ulang tidak cukup hanya sekali dalam membantu proses pemulihannya.dikarnakan pasien gangguan jiwa tidak hanya diberikan pengobatan melalui medis saja tetapi butuh nya resep kerohanian keimanan dari Allah sesuai dengan syariat islam

    TERAPI AL-QUR’AN DALAM MEMBANTU PENYEMBUHAN ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING BANDAR LAMPUNG

    No full text
    ABSTRAK Kesehatan jiwa merupakan bagian intergral dari kesehatan secara keseluruhan yang sangat menentukan kualitas hidup manusia. Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang serius karena jumlah penyakit yang terus menerus meningkat, termasuk penyakit kronis seperti skizofrenia yang mempengaruhi proses berpikir bagi penderitanya. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan penyembuhan yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga menyentuk aspek psikososial dan spiritual penderita. Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) DI Yayasan Aulia Rahma membutuhkan penanganan yang tepat guna mengatasi penyakitnya dan mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT. maka dari itu Yayasan Aulia Rahma melakukan upaya melalui terapi Al-Qur’an, selain pengobatan secara medis pengobatan dengan pendekatan spiritual menjadi salah satu alternatif atau pelengkap dalam terapi kesehatan mental. Dengan menggunakan pendekatan berbasis nilai-nilai Islam, pasien tidak hanya diberikan perawatan psikologis tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran spiritualnya guna mencapai ketenangan batin dan kualitas hidup yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian deskriptif kualitatif menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dalam rangka menegaskan wawasan yang sedang dikembangkan dan menjamin kepercayaan data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian lapangan yaitu datanya diamil langsung dari lokasi penelitian. Sumber data dari penelitian ini berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 pembimbing agama 1 Psikolog 1 pekerja sosial dan 5 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) halusinasi di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan pemeriksaan keabsahan data. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1) Terapi Al-Qur’an dalam membantu penyembuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) DI Yayasan Aulia Rahma yang di terapkan pada lima orang pasien ODGJ, Terapi Al-Qur’an ini menggunakan dua metode yaitu membaca Al-Qur’an dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. 2) Tahap pertama yakni membaca Al-Qur’an serta mentadaburi-nya, yaitu membimbing pasien membaca Q.S Al-Isra ayat 82 serta menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat tersebut. Tahap kedua yakni mendengarkan audio murottal Al-Qur’an pada pasien. Adapun surat yang diperdengarkan pada proses terapi Al-Qur’an yakni Ar-Rahman, Yassin, Al-Fatihah, An-Nas, Al Falaq, Al-Ikhlas. Hasil dari Terapi Al-Qur’an dalam membantu penyembuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung bisa dilihat dari gejala atau kondisi kejiwaan saat sebelum melakukan terapi Al-Qur’an emosi pasien tidak terkontrol dan tidak stabil sampai setelah melakukan terapi Al-Qur’an adanya perubahan emosi pasien menjadi lebih tenang dan stabil, serta mulai rajin beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata Kunci : Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Terapi Al-Qur’an. ABSTRACT Mental health is an integral part of overall health that determines the quality of human life. Mental disorders are a serious health problem because the number of diseases continues to increase, including chronic diseases such as schizophrenia that affect the thinking process for sufferers. This indicates the need for a healing approach that is not only medical in nature, but also addresses the psychosocial and spiritual aspects of the sufferer. People with Mental Disorders (ODGJ) at the Aulia Rahma Foundation need appropriate treatment to overcome their illness and be able to carry out their function as servants of Allah SWT. therefore the Aulia Rahma Foundation makes efforts through Qur'anic therapy, in addition to medical treatment, treatment with a spiritual approach is an alternative or complementary in mental health therapy. By using an Islamic values-based approach, patients are not only given psychological treatment but also directed to increase their spiritual awareness in order to achieve inner peace and a better quality of life. The research method used is descriptive qualitative research using various data collection procedures in order to emphasize the insights being developed and ensure the trustworthiness of the data collected using observation, interview, and documentation data collection techniques. Field research is data collected directly from the research location. The data sources of this study amounted to 8 people consisting of 1 religious mentor 1 Psikolog 1 social worker and 5 people with mental disorders (ODGJ) hallucinations at the Aulia Rahma Foundation Kemiling Bandar Lampung. Data analysis techniques in this study were carried out by collecting data, reducing data, presenting data, drawing conclusions and checking data validity. Based on the research conducted, it can be concluded that: 1) Al-Qur'an therapy in helping heal People with Mental Disorders (ODGJ) at the Aulia Rahma Foundation which is applied to five ODGJ patients, this Al-Qur'an therapy uses three methods, namely reading the Al Qur'an, listening to the recitation of the holy verses of the Al-Qur'an and mentadabburi His verses. 2) The first stage is reading the Qur'an, which is guiding the patient to read Q.S Al-Isra verse 82. The second stage is listening to the audio murottal Al-Qur'an to the patient. The letter that is played in the Al-Qu'an therapy process is Ar-Rahman, Yassin, Al-Fatihah, An-Nas, Al Falaq, Al-Ikhlas. The results of Al-Qur'an Therapy in helping to heal People with Mental Disorders (ODGJ) at the Aulia Rahma Foundation Kemiling Bandar Lampung can be seen from the symptoms or psychological conditions when before doing Al-Qur'an therapy the patient's emotions were uncontrolled and unstable until after doing Al-Qur'an therapy there was a change in the patient's emotions to be calmer and more stable, and began to diligently worship closer to Allah SWT. Keywords: Mental Disorder (ODGJ), Qur'anic Therapy

    PENGARUH MUROTTAL AL-QUR’AN SEBAGAI TERAPI KESEHATAN UNTUK PASIEN SKIZOFRENIA DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING BANDAR LAMPUNG

    Full text link
    ABSTRAK Penyebab gangguan kejiwaan adalah ketegangan atau stres yang terjadi pada dirinya sendiri. Sehingga kesehatan fisik dan kesehatan jiwa dari orang yang mengalami bisa menurun. Seperti gangguan mental skizofrenia dengan gejala halusinasi dapat di sembuhkan dengan terapi kesehatan dengan mendengarkan murottal Al-Qur’an selama kurang lebih 160 menit dalam sehari dapat memberikan pengaruh terhadap perasaan, pikiran, dan emosi dan membuat pasien merasa aman dan nyaman, baik secara jasmani maupun rohani. Dalam penelitian yang telah dilakukan di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung yang terdiri 15 sampel yaitu; 12 pasien, 1 perawat, 1 ustad dan 1 psikolog. Untuk meneliti hal tersebut dapat dirumuskan bagaimana pelaksanaan murottal Al-Qur’an sebagai terapi kesehatan untuk pasien skizofrenia dan perkembangan setelah melakukan terapi kesehatan dengan murottal Al-Qur’an untuk pasien skizofrenia dengan gejala halusinasi pendegaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan dan perkembangan setelah melakukan terapi kesehatan dengan murottal Al-Qur’an untuk pasien skizofrenia dengan gejala halusinasi pendengaran di Yayasan Aulia Rahma. Peneliti ini adalah peneliti lapangan, sifatnya peneliti deskriptif yang menggunakan metodelogi kualitatif, tehnik pengumpulan data menggunakan metode wawancara ter struktur, observasi non partisipasi, dan metode dokumentasi.. Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa terapi kesehatan dengan murottal Al-Qur’an yang dilakukan di Yayasan Aulia Rahma bahwasanya keadaan yang dialami sudah lebih baik dari sebelumnya dan merasakan perasaan yang nyaman, tenang dan gejala-gejala yang di alami nya dulu sedikit demi sedikit hilang dengan rutin pemberian murottal Al-Qur’an, pasien gangguan jiwa tidak hanya diberikan pengobatan melalui medis saja tetapi butuh pengobatan kerohanian keimanan dari Allah sesuai dengan syariat islam. Kata kunci : Terapi Kesehatan, Skizofrenia, Murottal Al-Qur’

    KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM UPAYA PEMULIHAN KESEHATAN MENTAL ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING

    No full text
    ABSTRAK Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Yayasan Aulia Rahma Kemiling menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses pemulihan kesehatan mental mereka. Proses tersebut tidak hanya melibatkan aspek medis, tetapi juga komunikasi interpersonal yang efektif antara pembimbing dan ODGJ. Selain itu, ODGJ kerap menghadapi stigma negatif dan sikap diskriminatif dari masyarakat yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental mereka serta menghambat proses pemulihan dan reintegrasi sosial. Pembimbing bertindak sebagai komunikator yang berperan penting dalam membangun suasana aman dan nyaman bagi ODGJ melalui komunikasi yang empatik dan humanis. Dalam konteks ini, komunikasi interpersonal menjadi sarana utama untuk membangun kepercayaan dan motivasi bagi ODGJ agar dapat menjalani proses rehabilitasi dengan baik. Komunikasi yang dilakukan meliputi pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan secara tidak terjadwal, misalnya saat cek kesehatan maupun interaksi santai, sehingga menciptakan hubungan yang lebih alami dan terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal berlangsung dan peranannya dalam mendukung pemulihan kesehatan mental ODGJ di Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran mendalam mengenai proses komunikasi interpersonal di lapangan. Sumber data primer terdiri dari 1 pengurus yayasan, 4 pembimbing dan 2 ODGJ yang sudah stabil, informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode Miles and Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori komunikasi interpersonal yang digunakan sebagai landasan adalah teori komunikasi interpersonal yang menekankan komunikasi tatap muka, spontan, dan adanya umpan balik langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan pembimbing melalui aspek-aspek seperti sumber pesan, encoding, pesan, saluran, komunikan, decoding, dan umpan balik sangat berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung proses pemulihan ODGJ. Komunikasi yang dilakukan secara informal dan empatik mampu membangun rasa aman, ii kepercayaan, dan motivasi pada ODGJ. Hal ini sesuai dengan teori Suranto Aw yang menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang spontan dan adanya respons langsung sebagai kunci keberhasilan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, komunikasi interpersonal menjadi fondasi utama dalam mendukung proses rehabilitasi dan pemulihan kesehatan mental ODGJ di Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal, Pembimbing, Pemulihan Kesehatan Mental, ODGJ. ABSTRACT The presence of Persons with Mental Disorders (ODGJ) at Yayasan Aulia Rahma Kemiling presents unique challenges in their mental health recovery process. This process involves not only medical aspects but also effective interpersonal communication between the caregivers and the ODGJ. Moreover, the ODGJ often face negative stigma and discriminatory attitudes from society, which can worsen their mental health condition and hinder their recovery and social reintegration. The caregivers act as communicators who play a crucial role in creating a safe and comfortable atmosphere for the ODGJ through empathetic and humane communication. In this context, interpersonal communication becomes the primary means to build trust and motivation for the ODGJ to undergo rehabilitation successfully. The communication involves both verbal and nonverbal messages delivered informally, for example during health check-ups or casual interactions, thus fostering a more natural and open relationship. This study aims to understand how the interpersonal communication process occurs and its role in supporting the mental health recovery of ODGJ at Yayasan Aulia Rahma Kemiling. This research is a field study with a descriptive qualitative approach aimed at providing an in-depth description of the interpersonal communication process in the field. The primary data sources consist of 1 foundation administrator, 4 caregivers, and 2 stable ODGJ, selected using purposive sampling techniques. Data collection was conducted through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis used Miles and Huberman’s method, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The theoretical framework is based on interpersonal communication theory, which emphasizes face-to-face communication, spontaneity, and direct feedback. The results show that interpersonal communication conducted by the caregivers through components such as message source, encoding, message, channel, receiver, decoding, and feedback plays a significant role in creating an environment conducive to the ODGJ recovery process. Informal and empathetic communication builds a sense of safety, trust, and motivation in the ODGJ. This aligns with Suranto Aw’s theory, which highlights the importance of spontaneous two-way communication and immediate responses as keys to successful interpersonal communication. Therefore, interpersonal communication serves as the fundamental foundation supporting the iv v rehabilitation and mental health recovery of ODGJ at Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Keywords: Interpersonal Communication, Caregiver/Counselor, People With Mental Disorders (ODGJ), Mental Health Recovery

    KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM UPAYA PEMULIHAN KESEHATAN MENTAL ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING

    No full text
    ABSTRAK Keberadaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Yayasan Aulia Rahma Kemiling menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses pemulihan kesehatan mental mereka. Proses tersebut tidak hanya melibatkan aspek medis, tetapi juga komunikasi interpersonal yang efektif antara pembimbing dan ODGJ. Selain itu, ODGJ kerap menghadapi stigma negatif dan sikap diskriminatif dari masyarakat yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental mereka serta menghambat proses pemulihan dan reintegrasi sosial. Pembimbing bertindak sebagai komunikator yang berperan penting dalam membangun suasana aman dan nyaman bagi ODGJ melalui komunikasi yang empatik dan humanis. Dalam konteks ini, komunikasi interpersonal menjadi sarana utama untuk membangun kepercayaan dan motivasi bagi ODGJ agar dapat menjalani proses rehabilitasi dengan baik. Komunikasi yang dilakukan meliputi pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan secara tidak terjadwal, misalnya saat cek kesehatan maupun interaksi santai, sehingga menciptakan hubungan yang lebih alami dan terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal berlangsung dan peranannya dalam mendukung pemulihan kesehatan mental ODGJ di Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran mendalam mengenai proses komunikasi interpersonal di lapangan. Sumber data primer terdiri dari 1 pengurus yayasan, 4 pembimbing dan 2 ODGJ yang sudah stabil, informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode Miles and Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori komunikasi interpersonal yang digunakan sebagai landasan adalah teori komunikasi interpersonal yang menekankan komunikasi tatap muka, spontan, dan adanya umpan balik langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan pembimbing melalui aspek-aspek seperti sumber pesan, encoding, pesan, saluran, komunikan, decoding, dan umpan balik sangat berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung proses pemulihan ODGJ. Komunikasi yang dilakukan secara informal dan empatik mampu membangun rasa aman, kepercayaan, dan motivasi pada ODGJ. Hal ini sesuai dengan teori Suranto Aw yang menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang spontan dan adanya respons langsung sebagai kunci keberhasilan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, komunikasi interpersonal menjadi fondasi utama dalam mendukung proses rehabilitasi dan pemulihan kesehatan mental ODGJ di Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal, Pembimbing, Pemulihan Kesehatan Mental, ODGJ. ABSTRACT The presence of Persons with Mental Disorders (ODGJ) at Yayasan Aulia Rahma Kemiling presents unique challenges in their mental health recovery process. This process involves not only medical aspects but also effective interpersonal communication between the caregivers and the ODGJ. Moreover, the ODGJ often face negative stigma and discriminatory attitudes from society, which can worsen their mental health condition and hinder their recovery and social reintegration. The caregivers act as communicators who play a crucial role in creating a safe and comfortable atmosphere for the ODGJ through empathetic and humane communication. In this context, interpersonal communication becomes the primary means to build trust and motivation for the ODGJ to undergo rehabilitation successfully. The communication involves both verbal and nonverbal messages delivered informally, for example during health check-ups or casual interactions, thus fostering a more natural and open relationship. This study aims to understand how the interpersonal communication process occurs and its role in supporting the mental health recovery of ODGJ at Yayasan Aulia Rahma Kemiling. This research is a field study with a descriptive qualitative approach aimed at providing an in-depth description of the interpersonal communication process in the field. The primary data sources consist of 1 foundation administrator, 4 caregivers, and 2 stable ODGJ, selected using purposive sampling techniques. Data collection was conducted through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis used Miles and Huberman’s method, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The theoretical framework is based on interpersonal communication theory, which emphasizes face-to-face communication, spontaneity, and direct feedback. The results show that interpersonal communication conducted by the caregivers through components such as message source, encoding, message, channel, receiver, decoding, and feedback plays a significant role in creating an environment conducive to the ODGJ recovery process. Informal and empathetic communication builds a sense of safety, trust, and motivation in the ODGJ. This aligns with Suranto Aw’s theory, which highlights the importance of spontaneous two-way communication and immediate responses as keys to successful interpersonal communication. Therefore, interpersonal communication serves as the fundamental foundation supporting the rehabilitation and mental health recovery of ODGJ at Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Keywords: Interpersonal Communication, Caregiver/Counselor, People With Mental Disorders (ODGJ), Mental Health Recovery

    Asuhan Keperawatan terhadap Perubahan Perilaku Penderita Halusinasi Pendengaran pada Pasien Skizofrenia melalui Terapi Musik di Klinik Aulia Rahma Kota Bandar Lampung

    No full text
    ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang termasuk berat. Menurut World Health Organization (WHO, 2016) bahwa skizofrenia diderita lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia Menurut WHO (World Health Organization) tahun 2017 masalah gangguan jiwa di dunia ini sudah menjadi masalah yang semakin serius. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia ini ditemukan mengalami ganguan jiwa. Berdasarkan data statistik, angka pasien gangguan jiwa memang sangat menghawartikan. Berdasarkan hasil pengkajian di Klinik Aulia Rahma Kota Bandar Lampung dengan melihat data rekam medik klien yang dirawat didapat jumlah penderita dengan diagnosa halusinasi pendengaran sebanyak 29 orang. Untuk mengetahui asuhan keperawatan terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia melalui terapi musik di Klinik Aulia Rahma Kota Bandar Lampung Tahun 2022. Pendekatan pada penulisan laporan tugas akhir berfokus pada asuhan keperawatan terhadap perubahan perilaku penderita halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia melalui terapi musik di Klinik Aulia Rahma Kota Bandar Lampung Tahun 2022. Hasil pengkajian pada Tn. S, Tn. Y, Tn. A didapatkan keluhan utama pasien mengatakan mendengar bisikan-bisikan gaib. Diagnosa keperawatan yang didapat adalah gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran Intervensi dilakukan selama 3 hari dengan pemberian terapi musik klasik selama 3 hari dengan durasi 30 menit selama 1 kali perlakuan. Kajian implementasi selama 3 hari didapat hasil sebagian msalah teratasi, yang ditandai dengan perubahan perilaku dan berkurangnya tanda gejala halusinasi. Hasil evaluasi yang dilakukan selama tiga hari menunjukkan semua masalah dapat teratasi. Meningkatkan kemampuan dan kualitas dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien khususnya dengan masalah gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran. Melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ditetapkan dilanjutkan dengan SOAP pada klien khususnya dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengara. Kata Kunci: Halusinasi Pendengaran, Pasien Skizofrenia,Terapi Musik    ABSTRACT Schizophrenia is a severe mental disorder. According to the World Health Organization (WHO, 2016) that schizophrenia affects more than 21 million people worldwide. According to the WHO (World Health Organization) in 2017, the problem of mental disorders in the world has become an increasingly serious problem. WHO estimates that around 450 million people in the world are found to have mental disorders. Based on statistical data, the number of patients with mental disorders is very worrying. Based on the results of the study at the Aulia Rahma Clinic, Bandar Lampung City by looking at the medical record data of the clients who were treated, it was found that the number of patients with a diagnosis of auditory hallucinations was 29 people. To find out nursing care for behavioral changes in patients with auditory hallucinations in schizophrenic patients through music therapy at the Aulia Rahma Clinic, Bandar Lampung City in 2022. The approach to writing a final project report focuses on nursing care for behavioral changes in patients with auditory hallucinations in schizophrenia patients through music therapy at the Aulia Rahma Clinic, Bandar Lampung City in 2022. The results of the study on Mr. S, Mr. Y, Mr. A, the patient's chief complaint was that he heard magical whispers. The nursing diagnosis obtained was sensory perception disorder: auditory hallucinations. The intervention was carried out for 3 days by giving classical music therapy for 3 days with a duration of 30 minutes for 1 treatment. The implementation study for 3 days showed that some of the problems were resolved, which were marked by changes in behavior and reduced signs of hallucinations. The results of the evaluation carried out for three days showed that all problems could be resolved. Improve ability and quality in providing nursing care to clients, especially those with sensory perception disorders: auditory hallucinations. Perform nursing care in accordance with the established SOP (Standard Operating Procedure) followed by SOAP on clients, especially those with sensory perception disorders: auditory hallucinations. Keywords: Auditory Hallucinations, Schizophrenic Patients, Music Therapy 

    BIMBINGAN INDIVIDUAL UNTUK MENGURANGI PERILAKU OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER (OCD) DI YAYASAN AULIA RAHMA 2 NATAR LAMPUNG SELATAN

    No full text
    ABSTRAK Penderita gangguan obsesif kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder/OCD) sering mengalami kesulitan dalam mengendalikan pikiran obsesif dan dorongan kompulsif yang mengganggu fungsi sosial dan emosional mereka di Yayasan Aulia Rahma 2 Natar, Lampung Selatan, terdapat kebutuhan untuk memberikan layanan yang mampu membantu klien dalam mengelola kecemasan dan mengurangi perilaku kompulsif. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah layanan bimbingan individual yang dirancang secara sistematis untuk menurunkan gejala OCD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelaksanaan bimbingan individual dapat mengurangi perilaku OCD dan membantu klien dalam mengatasi tekanan psikologis yang dialami. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan bimbingan individual dalam mengurangi perilaku Obsessive Compulsive Disorder (OCD) di Yayasan Aulia Rahma 2 Natar, Lampung Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap dua klien dan satu pendamping. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari buku, jurnal, dan dokumen yang relevan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan bimbingan individual dapat memberikan pengaruh positif terhadap pengurangan perilaku kompulsif dan kecemasan pada klien OCD. Klien menunjukkan kemampuan untuk mengenali pikiran obsesif dan mulai menerapkan teknik pengelolaan diri seperti relaksasi, refleksi, dan latihan pengendalian diri secara bertahap. Pendamping juga berperan aktif dalam mendampingi proses perubahan perilaku dengan pendekatan empatik dan konsisten. Dengan adanya intervensi yang berkelanjutan, klien mengalami peningkatan dalam pengendalian emosi dan mampu menjalani aktivitas harian dengan lebih tenang dan stabil. Kata Kunci : Bimbingan Individual, Obsessive Compulsive Disorder (OCD). ABSTRACT Individuals with Obsessive Compulsive Disorder (OCD) often struggle to control obsessive thoughts and compulsive urges that interfere with their social and emotional functioning at Yayasan Aulia Rahma 2 Natar, South Lampung, there is a need for services that can assist clients in managing anxiety and reducing compulsive behaviors. One of the approaches implemented is individual counseling, systematically designed to alleviate OCD symptoms. This study aims to analyze how the implementation of individual counseling can help reduce OCD-related behaviors and assist clients in coping with psychological distress. The research question addressed in this study is: How is individual counseling implemented to reduce Obsessive Compulsive Disorder (OCD) behaviors at Yayasan Aulia Rahma 2 Natar, South Lampung? This study is a field research employing a qualitative descriptive approach. Primary data were collected through interviews and observations involving two clients and one counselor. Secondary data were obtained from books, journals, and relevant documents. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was carried out using an interactive analysis model consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the implementation of individual counseling has a positive impact on reducing compulsive behaviors and anxiety in clients with OCD. Clients demonstrated an increased ability to recognize obsessive thoughts and began applying self-management techniques such as relaxation, reflection, and gradual self-control exercises. The counselor played an active role in guiding behavioral change through an empathetic and consistent approach. With ongoing intervention, clients experienced improvements in emotional regulation and were able to carry out daily activities with greater calm and stability. Keywords : Individual Counseling, Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
    corecore