1,721,028 research outputs found

    Jumlah Polen Kelapa Sawit dan Viabilitasnya pada Tubuh Kumbang Jantan Elaeidobius kamerunicus Faust.

    No full text
    Elaeidobius kamerunicus Faust. is a weevil pollinator of oil palm. These weevil transfer pollen from male to female inflorescences of oil palm (Elaeis guineensis). The aim of the research were to study pollen load and its viability on male weevils E. kamerunicus as a pollinator of oil palm. Male weevil E. kamerunicus was submerged in etanol 70% : gliserol (4:1) solution and was rotated during 24 hours. After those, weevil was outed, the solution was sentrifugated and pollen in each individual weevil was counted with haemacytometer. Other weevils were immobilized by ethyl acetate were counted of pollen loads in each body of the weevil. To measure viability pollen, were germinated in sucrose 8% and boric acid 15 ppm solution and were counted its viability after 2 hours of treatment. Result showed that male weevil E. kamerunicus carried 3258 pollen grains. Most pollen grains were carried by weevil in the elytra (1067 pollen grains), head (495 pollen grains), and abdomen (296 pollen grains), respectively. Less pollen (27 pollen grains) attached in antenna. The pollen shape of oil palm is triangel with aperture type, that is tricolpata, 38 μm in long and 30 μm in wide. In the germination process, pollen tube’s long between was 60 μm-700 μm. Pollen viability carried by male weevils was 74,18%

    IPB (Bogor Agricultural University)

    No full text
    Lebah tak bersengat termasuk serangga eusosial yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi yaitu penghasil madu dan propolis. Musuh alami seperti predator dan parasit dapat mempengaruhi reproduksi dan produksi madu. Genus Lepidotrigona merupakan salah satu lebah tak bersengat yang terdistribusi luas di Indonesia dan memiliki potensi dalam membantu penyerbukan tanaman. Genus dan distribusi Lepidotrigona di Indonesia adalah Jawa, Borneo, Sumatera, dan Sulawesi. Identifikasi spesies dari Lepidotrigona berdasarkan karakter morfologi sangat sulit dilakukan, karena memiliki karakter morfologi yang hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakter morfologi, struktur pintu masuk sarang, dan musuh alami Lepidotrigona terminata. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengukur aktivitas terbang, menghitung dan mengidentifikasi polen yang dibawa, dan menganalisis hubungan antara aktivitas keluar-masuk sarang dengan kondisi lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Desember 2016. Sampel koloni lebah L. terminata yang diamati merupakan koleksi Laboratorium Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Identifikasi spesimen lebah dilakukan bedasarkan karakter morfologi dan morfometrik, meliputi karakteristik kepala, toraks, sayap, tungkai, dan abdomen. Metode acetolysis digunakan untuk identifikasi polen dan menghitung pollen load pada individu lebah. Analisis korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan antara aktivitas keluar-masuk sarang dengan faktor lingkungan yang meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Keragaman musuh alami dianalisis dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener (H'), indeks kemerataan (J'), dan indeks Dominansi (D). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik morfologi dari kasta pekerja L. terminata didominasi warna hitam dan kuning pada bagian toraks dan abbomen. Lebah pekerja memiliki panjang tubuh 5.13±0.254 mm, lebar kepala 2.07±0.026 mm, panjang kepala 1.63±0.025 mm. Mandibula lebah pekerja memiliki panjang 0.80±0.223 mm, lebar 0.29±0.013 mm, mesoscutum berwarna hitam dengan rambut pendek. Bagian tepi mesoscutellum dengan rambut berwarna kuning yang terlihat hanya setengah lingkaran dan tidak menonjol. Sisi lateral toraks dengan rambut berwarna kuning pucat. Panjang sayap depan dari tegula adalah 5.39±0.125 mm, panjang jarak antar venasi (M-Cu) 1.55±0.023 mm, dan memiliki hamuli sebanyak 6 buah pada sayap belakang. Tibia belakang berwarna hitam kecoklatan dengan rambut panjang tegak di bagian tepi dengan panjang tibia 1.67±0.399 mm, dan lebar tibia 0.72±0.025 mm. Bagian dorsal abdomen dengan 4-5 tergit, tergit 1 berwarna kuning dan terdapat bintik atau tonjolan hitam berjumlah 2 buah. Lebah pekerja aktif mencari pakan untuk memenuhi kebutuhan koloni seperti polen, nektar, dan resin. Aktivitas terbang lebah pekerja dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan dan kondisi lingkungan. Puncak aktivitas terbang meninggalkan dan kembali ke sarang terjadi pada pukul 10.00 sampai 13.00 (8 dan 6 individu/menit pada aktivitas meninggalkan dan kembali ke sarang). Aktivitas terbang meninggalkan dan kembali ke sarang rendah pada pukul 07.00- 08.00 (1 individu/menit) dan pukul 16.00-17.00 (2 individu/menit). Suhu dan intensitas cahaya berkorelasi positif dengan aktivitas terbang lebah membawa nektar dan resin, dan juga meninggalkan sarang tanpa membawa sampah. Dalam setiap perjalanan lebah pekerja rata-rata membawa 32.696 butir polen dari 4 tipe polen berbeda. Berdasarkan hasil selection index, spesies lebah tanpa sengat ini sebagian besar lebih menyukai tanaman famili Araceae (ⱳi=1,522) sebagai sumber polen dibandingkan tanaman dari famili Anacardiaceae, Aceraceae, dan Acanthaceae (x2 =39,32, p <0,01). Karakter pintu masuk sarang lebah L. terminata berbentuk bulat memanjang seperti corong dengan rata-rata diameter 1,62 cm dan panjang 10,20 cm. Pintu masuk sarang memiliki warna coklat kehitaman pada bagian pangkal berupa batumen dengan tekstur keras. Bagian mulut sarang berwarna coklat terang, tekstur sedikit lembek, dan lengket. Musuh alami yang ditemukan pada koloni lebah L. terminata sebanyak 14 spesies, yaitu laba-laba (7 spesies), cicak (2 spesies), rayap (1 spesies), semut (3 spesies) dan tawon (1 spesies). Sebanyak 687 individu musuh alami yang ditemukan disekitar sarang L. terminata. Jumlah individu tertinggi yaitu Paratrechina sp. (512 individu), diikuti oleh Paratrechina longicornis (138 individu), dan Nasutitermes javanicus (132 individu). Indeks keragaman Shannon (H’) musuh alami pada koloni lebah bernilai 1,129, indeks kemerataan (J’) adalah 0,427, dan indeks dominansi (D) adalah 0,633. Lebah pekerja akan menutupi celah yang terbuka pada sarangnya untuk mencegah masuknya musuh alami, seperti predator dan parasit. Selain itu, lebah tak bersengat juga menggunakan gigitan agresif sebagai mekanisme pertahanan

    Peranan Lebah Trigona Laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) Dalam Produksi Biji Kailan (Brassica Oleracea Var. Alboglabra).

    No full text
    Kailan (Brassica oleraceae var. Alboglabra) merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Budidaya kailan di Indonesia belum banyak dilakukan, karena rendahnya produksi biji yang menjadi permasalahan oleh para petani. Dalam pertanian organik, tanaman kailan sangat rentan terhadap serangan hama, sehingga menurunkan hasil panen. Pembentukan biji kailan tidak terlepas dari proses penyerbukan, yang dilakukan oleh serangga penyerbuk. Trigona laeviceps (Apidae: Hymenoptera) merupakan lebah tak bersengat yang memiliki ukuran tubuh kecil dan berperan penting dalam penyerbukan tanaman pertanian. Dalam penelitian ini diukur peranan T. laeviceps dalam pembentukan biji tanaman kailan, aktivitas kunjungan, dan pollen load. Dalam penelitian ini digunakan tiga perlakuan, yaitu pertanaman terbuka dengan satu koloni T. laeviceps, pertanaman dikurung dengan satu koloni T. laeviceps, dan pertanaman dikurung tanpa koloni T. laeviceps. Pengamatan aktivitas kunjungan T. laeviceps dilakukan dengan metode focal sampling pada pukul 08.00-16.00. Aktivitas kunjungan diukur dari jumlah bunga yang dikunjungi per lima menit (foraging rate), lama kunjungan per bunga (flower handling time), dan lama kunjungan dalam satu tanaman. Keberhasilan penyerbukan diukur dari banyaknya jumlah polong per tandan, jumlah biji per polong, dan bobot biji per tanaman. Data hasil panen dari pertanaman masingmasing perlakuan dianalisis dengan menggunakan Analisis of variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Penelitian menunjukkan bahwa lama kunjungan T. laeviceps per bunga paling tinggi terjadi pada pukul 09.00-10.00 (36.3 detik/bunga) dengan jumlah bunga yang dikunjungi 8.26 bunga/5 menit. Lama kunjungan per bunga paling rendah terjadi pada pukul 15.00-16.00 (10.6 detik/bunga) dengan jumlah bunga yang dikunjungi 28.57 bunga/5 menit. Jumlah polen yang dibawa oleh T. laeviceps pada pertanaman yang dikurung lebih banyak (8125 polen) dibandingkan pertanaman terbuka (3000 polen). Suhu dan intensitas cahaya berkorelasi positif terhadap lama kunjungan per bunga dan total kunjungan per tanaman, sedangkan kelembaban udara berkorelasi negatif. Pada pertanaman yang dikurung dengan satu koloni T. laeviceps, terjadi peningkatan 231% jumlah polong pertanaman, 48% jumlah biji perpolong, 204% bobot biji pertanaman, 24% perkecambahan biji, dan 80,8% viabilitas polen. Penyerbukan oleh T. laeviceps berpengaruh positif terhadap jumlah biji tanaman kailan

    Weevil Elaeidobius kamerunicus Faust Population in Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq) at PTPN VIII Kebun Sukamaju, Cikidang, Sukabumi

    Full text link
    High productivity of oil palm is affected bypollination. Elaeidobius kamerunicus is weevil pollinator that can increase fruit set of oil palm. Weevil population was influenced by natality, mortality, and migration. The objective of this research were to study weevil E. kamerunicus population and environmental factors on oil palm estate at Sukamaju, Cikidang, Sukabumi. Weevil population were observed by stratified random sampling method in male flowers were located at three blocks of the estate on Juny, August, and October 2010. Sex ratio of female and male weevil was counted. Relationship between environmental factors and weevil population were analyzed by Pearson correlation. The highest population of weevil occured in August.Weevil population at Sukamaju was lower than the minimum weevil population for optimum pollination. Sex ratio of female and male weevil during observation was 3:1. Rainfall has the highest effect to weevil population among parameters measured.Produktivitas kelapa sawit sangat tergantung pada proses penyerbukan. Elaeidobius kamerunicus merupakan kumbang penyerbuk yang dapat meningkatkan produksi kelapa sawit. Populasi kumbang ini dipengaruhi oleh faktor natalitas, mortalitas, dan migrasi. Penelitian ini bertujuan mempelajari populasi kumbang E. kamerunicus pada tanaman kelapa sawit dan faktorfaktor lingkungan di Kebun Sukamaju, Cikidang, Sukabumi. Pengamatan populasi dilakukan dengan metode stratified random sampling pada spikelet bunga jantan di tiga blok pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober 2010. Perhitungan rasio seks kumbang dilakukan di laboratorium dengan bantuan mikroskop stereo. Hubungan faktor lingkungan dan jumlah populasi kumbang dianalisis dengan korelasi Pearson. Populasi kumbang E. kamerunicus tertinggi ditemukan pada bulan Agustus. Populasi kumbang di Sukamaju masih di bawah jumlah minimum untuk penyerbukan optimum. Selama pengamatan, rasio seks kumbang betina dan jantan kelapa sawit adalah 3:1. Curah hujan memiliki pengaruh paling besar terhadap populasi kumbang di antara parameter lingkungan yang diukur

    Potensi Ekstrak Biji Sirsak Gunung (Annona montana) dalam Mengendalikan Serangan Rayap Tanah

    No full text
    Sirsak gunung (Annona montana) memiliki senyawa sitotoksik yang kuat dan dapat digunakan untuk insektisida, antiparasit, acarisida, fungisida, dan sebagai obat anti tumor. Senyawa aktif utama yang terdapat pada biji sirsak adalah annonasin, bullatasin, squamosin, dan acetogenin. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efektivitas ekstrak biji sirsak gunung dalam mengendalikan serangan rayap tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Percobaan terdiri dari enam perlakuan dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda (v/v) 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% ekstrak. Pengujian ekstrak biji sirsak gunung terhadap mortalitas rayap tanah dilakukan selama 28 hari dengan menggunakan kertas cakram. Biji sirsak gunung yang digunakan dalam penelitian memiliki kadar air 26.87%, kandungan ekstrak 7.21%, dan rendemen ekstrak 7.46%. Pemberian ekstrak biji sirsak gunung dengan konsentrasi 100% menyebabkan mortalitas rayap pada hari ke 7. Pada konsentrasi 80% dan 60%, mortalitas rayap terjadi pada hari ke 14, dan konsentrasi ekstrak 40% dan 20%, mortalitas rayap terjadi pada hari ke 27

    Komposisi Jenis, Biogeografi, dan Endemisitas Keong Darat Sumatra (Gastropoda: Camaenidae dan Cyclophoridae).

    No full text
    Pulau Sumatra dengan luas wilayah 475.000 km2 terdiri dari sepuluh provinsi. Wilayahnya memiliki curah hujan rata-rata 155,1-373,5 mm/bulan. Wilayah tersebut memiliki lebih dari tujuh bulan basah berurutan dan tiga bulan kering dalam setahun. Dengan iklim yang relatif basah dan lembab, Sumatra merupakan habitat yang cocok bagi keong darat. Penelitian keragaman jenis keong darat Sumatra sudah dimulai sejak 1881. Publikasi terakhir tahun 2016 menyebutkan terdapat sekitar 25 suku dan 272 jenis. Dua suku paling beragam jenisnya yaitu Cyclophoridae (41 jenis) dan Camaenidae (33 jenis) dan berkontribusi 27% dari total jumlah jenis yang diketahui. Meskipun demikian, validitas nama jenisnya masih banyak diragukan dan distribusinya belum banyak dipetakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendata ulang dan validasi keragaman jenis keong darat Sumatra dari suku Camaenidae dan Cyclophoridae, memetakan distribusinya (biogeografi) sehingga dapat diketahui wilayah dengan jenis endemik tertinggi untuk diusulkan menjadi wilayah konservasi alam. Penelitian ini dilakukan di Cibinong, Bogor. Data primer bersumber pada koleksi spesimen yang tersimpan di Laboratorium Moluska dan invertebrata lain, Museum Zoologi Bogor, LIPI. Selain itu, data sekunder diperoleh dengan kompilasi data jenis yang ada pada 29 publikasi berupa buku atau makalah. Data nama jenis yang diperoleh kemudian divalidasi dengan mencocokkannya dengan basis data pada situs www.molluscabase.org. Data distribusi jenis dari sepuluh provinsi dibuat dalam bentuk matrik biner (ada = 1, tidak ada = 0) yang kemudian digunakan dalam analisis kelompok menggunakan indeks kesamaan Jaccard. Data curah hujan bulanan sejak 1971 hingga 2010 diperoleh dari situs www.bmkg.go.id., dihitung nilai rata-ratanya dan kemudian digunakan dalam analisis kelompok menggunakan indeks jarak Euklidean. Penelitian ini berhasil menambahkan 53 jenis keong darat yang belum terdata pada publikasi 2016. Saat ini diketahui terdapat 17 marga dan 124 jenis (Camaenidae 58, Cyclophoridae 66). Selain itu juga diketahui sebanyak 36 catatan baru dan 30 perluasan distribusinya. Lampung merupakan provinsi dengan jumlah catatan baru dan perluasan distribusi terbanyak, masing-masing sepuluh dan 12. Data distribusi tiap jenis sangat bervariasi, 66 dari 124 jenis hanya dijumpai pada satu provinsi. Hal ini kemungkinan karena tingginya tingkat endemisitas atau kurang lengkapnya rekaman data distribusi. Terdapat tiga jenis yang terdistribusi luas, Amphidromus sumatranus ditemukan di tujuh provinsi, Cyclophorus perdix dan Cyclophorus tuba ditemukan di delapan provinsi. Dua marga dengan distribusi terluas yaitu Amphidromus dan Cyclophorus yang ditemukan pada sepuluh provinsi. Analisis kelompok tingkat jenis pada Camaenidae, Cyclophoridae, kedua suku, dan tingkat marga menghasilkan empat-lima provinsi biogeografi. Analisis kelompok pada curah hujan menghasilkan empat grup. Curah hujan mempengaruhi komposisi jenis pada tiap provinsi biogeografi atau grup. Sumatra Barat dengan rata-rata curah hujan bulanan tertinggi (374 mm) memiliki jumlah jenis keong darat tertinggi (50 jenis, Camaenidae 23, Cyclophoridae 27). Analisis endemisitas menunjukkan 30 jenis tergolong endemik lokal dan 45 jenis tergolong endemik provinsi. Dua provinsi dengan jumlah jenis endemik tertinggi, Aceh dan Sumatra Barat (masing-masing 31 jenis) diusulkan sebagai daerah konservasi bagi fauna keong darat di Sumatra

    Keragaman Serangga Pengunjung Bunga Jantan Kelapa Sawit .. (Elaeis guineensis Jacq.)

    No full text
    Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is one of the plantation crops that became the source of non-oil foreign exchange earner in Indonesia. Oil palm is monoecious plant, in which the same tree bears male and female flowers. Generally a male and female flowers do not bloom simultaneously. Consequently, cross-pollination with weevils help is needed. A weevil species, Elaeidobius kamerunicus is an effective pollinating insect of oil palm because it is specific and well adapted either in wet or dry seasons. The objective of this research was to study the diversity of insects that visit male flowers of oil palm besides E. kamerunicus. The observations were conducted during three days in each month, ie May, June and July 2011 for 10 minutes using fix sample method. During the observation, the name and the number of individual species of insects visiting the male flowers of oil palm were recorded. Performance of weather elements, ie temperature, humidity, and light intensity were measured. Further, insects identification were conducted in the laboratory. Results showed that, besides E. kamerunicus, in PTPN VIII, AFD IV Toge, Garden Cikasungka Bogor were found Rhynchomyia, Scaptodrosophila (Diptera), Diplatys, Forficula (Dermaptera), Camponotus, Dolichoderus, Cerapachys, Crematogaster, and Heteroponera (Hymenoptera). Scaptodrosophila was the dominant visitor insect. Dermaptera and Hymenoptera were predatory insects. The diversity and evennes of insects visiting male flowers of oil palm were low (H’ = 0,59 and E = 0,27)

    Diversity and Abundance of Insect Pollinators in Different Land Use Types in Jambi, Sumatra

    No full text
    Indonesia is one of the tropical countries with high biodiversity. Recently, the biodiversity of plants and animals is declining due to forest converting to settlements, mines, agricultures, and plantations. In Central Sumatra including Jambi, annual deforestation rate reaches 3.2%-5.9%. Converting natural landscapes to agricultural land affects insects biodiversity, including insect pollinators. The research aimed to study diversity and abundance of insect pollinators in different land use types, i.e. oil palm plantation, rubber plantation, and jungle-rubber in Jambi, Sumatra. Observation and collection of insect pollinators were conducted from November until December 2012 at Bejubang, Batanghari regency, Jambi province. Insect observations were conducted in understory plants at three land use types, i.e. oil palm plantation, rubber plantation, and jungle-rubber. Scan sampling method was employed to explore the diversity and abundance of insect pollinators at 08.00-10.00 and 14.00-16.00 in sunny days. This study consist of found 1308 individuals of insect pollinators, belonging to 54 species,7 families, and 3 orders (Hymenoptera, Diptera, and Lepidoptera). Number of species and individual of insect pollinators found in oil palm plantation (43 species, 561 individuals) and rubber plantation (40 species, 650 individuals) were higher than jungle-rubber (7 species, 97 individiuals). Giant honey bee (Apis dorsata) and stingless bee (Trigona sp. (=aff. T. planifrons)) were abundant in oil palm plantation, while stingless bee (T. laeviceps) and small carpenter bee (Ceratina lieftincki) were abundant in rubber plantation. Whereas, hoverfly (Syrphidae sp5) was abundant in the jungle-rubber. The abundance and species richness of insect pollinators in the morning were higher than in the afternoon. Diversity and evenness of insect pollinators in oil palm and rubber plantations were higher than jungle-rubber. The abundant of flower of understory plants in oil palm and rubber plantations indicated insect pollinators forage in those locations. Meanwhile, jungle-rubber and rubber plantations were prefered by insect pollinators for nest building, because there were many large trees, branches, and broken twigs. The insect pollinators community in oil palm plantation and rubber plantation were more similar than in oil palm plantation and jungle-rubber, or in rubber plantation and jungle-rubber

    Diversity and Distribution of Amblypygi (Arachnida) in Siparat and Sipahang Caves, Bogor

    No full text
    Amblypygi merupakan ordo dari kelas Arachnida yang banyak ditemukan di dalam gua di kawasan karst. Sepertiga spesies Amblypygi yang telah diketahui merupakan hypogean dari gua. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman dan sebaran Amblypygi di dalam Gua Siparat dan Sipahang, Bogor. Amblypygi dikoleksi dengan metode hand collecting di sepanjang lorong gua. Pemetaan gua dilakukan dengan teknik forward method dari bottom to top. Amblypygi yang ditemukan di kedua gua tersebut ialah Stygophrynus dammermani dan Stygophrynus sunda. Kedua spesies tersebut terdistribusi secara acak di dalam gua. Amblypygi banyak ditemukan di dinding gua.Whip spiders (Arachnida, Amblypygi) are commonly found in caves in karst region. One-thirds of whip spider species are known to live on hypogean habitat. The research is aimed to study the diversity and distribution of Amblypygi in Sipahang and Siparat Cave, Bogor. The whip spider were collected by hand collecting method along the cave passage. Cave Mapping was done by forward technique method from bottom to top. The whip spiders found in both caves were Stygophrynus dammermani and Stygophrynus sunda. The whip spiders species distributed randomly inside the caves on the caves walls. Keywords: Amblypygi, new record, diversity, Stygophrynus dammermani, Stygophrynus sund

    Perilaku Kawin dan Ukuran Tubuh Setiap Fase dalam Siklus Hidup Anggang-anggang

    No full text
    Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae) yang sering dijadikan sebagai bioindikator kualitas air memiliki perilaku kawin poliandri di alam. Perilaku poliandri pada anggang-anggang dapat mempengaruhi viabilitas dan produktivitas telur yang dihasilkan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menghitung frekuensi kawin, produktivitas telur, dan mengukur morfologi fase-fase dalam siklus hidup anggang-anggang. Pemeliharaan dilakukan dengan menempatkan anggang-anggang dalam tiga kelompok perlakuan yaitu monogami, poliandri dan poligini. Pengamatan penelitian meliputi penghitungan frekuensi kawin, jumlah telur pada masing-masing tipe kawin, perkembangan telur hingga dewasa serta morfologi anggang-anggang jantan dan betina. Frekuensi kawin dan produktivitas telur antara tiga perlakuan serta ukuran anggang-anggang dari fase telur hingga dewasa dibandingkan dengan uji statistik Krusskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kawin tertinggi ditunjukkan pada perlakuan poliandri, namun tidak ada telur yang dihasilkan dari perlakuan ini. Perkembangan telur selama 6 hari menunjukkan bahwa ukuran telur berbeda signifikan setiap harinya (P0,05), namun perbedaan utama jantan dan betina terletak pada lebar abdomen (P<0,05)
    corecore