1,721,025 research outputs found

    Pemikiran Asvi Warman Adam mengenai Gerakan 30 September tahun 2007-2018

    Full text link
    Gerakan 30 September hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar bagi sejarah. Isu kebangkitan PKI dan yang berafiliasi dengannya selalu menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat luas. Kejatuhan Orde Baru memberikan angin segar kepada sejarah karena selama pemerintahan Orde Baru sejarah direkayasa oleh penguasa. Hal ini dimanfaatkan oleh sejarawan untuk menulis sejarah sesuai dengan fakta yang ada, termasuk Asvi Warman Adam. Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut: pertama, bagaimana sejarah gerakan 30 September dan dinamikanya? Kedua, bagaimana biografi dan pemikiran gerakan 30 September Asvi Warman Adam? mengenai pemikiran Asvi Warman Adam mengenai Gerakan 30 September. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Sejarah Gerakan 30 September dan dinamika pemikirannya, mengetahui biografi Asvi Warman Adam, dan mengetahui pemikiran Asvi Warman Adam dalam Gerakan 30 September. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Sejarah yang terdiri atas empat tahapan: heuristik (pengumpulan sumber), kritik (seleksi sumber), interpretasi (penafsiran sumber yang telah diseleksi), dan historiografi (penulisan sejarah). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Asvi Warman Adam dilahirkan di Bukittinggi pada 8 Oktober 1954. Asvi melanjutkan pendidikan pascasarjana pada bidang sejarah di Ecole des Hautes en Sciences Sociales (EHESS) Paris pada tahun 1984 dan memperoleh gelar Diplome d’Estudes Approfendies pada tahun 1986. Karirnya dimulai sebagai wartawan di majalah Sportif hingga tahun 1983. Asvi memulai karirnya sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 1983. Salah satu penghargaan yang didapatkannya adalah tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya. Asvi juga telah dikukuhkan sebagai Profesor Riset bidang Sejarah Politik LIPI. Pemikirannya mengenai Gerakan 30 September tidak terlepas dari kuliah di EHESS Paris. Sejarah total membuat Asvi tidak hanya melakukan pendekatan sebatas narasi saja, melainkan juga analisis struktur. Maka dari itu, penelitiannya mengenai G30S dan Orde Baru tidak terfokus pada salah satu perspektif saja, tetapi juga melihat dari perspektif lainnya seperti sudut pandang para penyintas. Karena historiografi Orde Baru militeristik, maka ia tergugah untuk meneliti lebih dalam mengenai tema serupa khususnya pada peristiwa G30S

    Menguak Misteri Sejarah

    No full text
    Apakah sejarah itu hanya peristiwa penting masa lalu? Hari ini adalah juga sejarah tentu untuk masa yang akan datang. Meski sejarah hanya sekali terjadi, tetapi penulisan sejarah sering terdiri dari berbagai versi.Bergantung pada sudut pandang orang yang menulis sejarahnya. Walau bersumber dari saksi sejarah itu sendiri. Apalagi berdasar riset dan berbagai sumber referensi lain.Bahwasannya tidak ada yang benar-benar bisa memastikan kebenaran sejarah. Bahkan sekarang banyak orang memandang sebelah mata pada sejarah yang dianggapnya hanya sebagai pengetahuan belaka, bukan sebagai ilmu. Namun, paling tidak dapat diingat dan bahkan dicatat bahwa sejarah adalah sebuah topik ilmu pengetahuan yang sungguh sangat menarik.Kita tentu ingat pada Michael H. Hart yang menulis buku sangat kontroversial Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Penulisan sejarah yang tentu patut diacungi jempol karena sangat berani tidak hanya memilih siapa saja yang menurutnya paling berpengaruh sepanjang sejarah, tetapi juga menyusun peringkat berdasarkan seberapa pentingnya mereka.Adapun yang dilakukan Asvi Warman Adam, pakar sejarah kita, dalam bukunya berjudul Menguak Misteri Sejarah. Ia semata-mata sedang menguak sejarah lebih jeli. Dalam buku ini ia memaparkan penafsiran alternatif terhadap beberapa fakta sejarah yang berbeda, bahkan berlawanan dengan tafsir resmi rezim yang dulu sangat berkuasa pada jaman Orde Baru.Apakah benar sejarah dapat menyisakan misteri? Apakah ka­rena dimanipulasi penguasa ataukah memang datanya yang belum lengkap? Penulis buku ini menguak secara obyektif misteri-misteri sejarah yang selama ini belum diungkapkan pada buku yang lain, sehingga misteri tersebut diharapkan mendapat titik terang.Buku ini menawarkan kita di antaranya alternatif penjelasan terhadap kasus makam Tan Malaka, di mana sebenarnya makam pahlawan nasional Tan Ma­laka? Benarkah semasa hidupnya ia dijuluki “jago meng­hilang�Kemudian, apakah benar R.A. Kartini dapat dianggap sebagai pe­rintis kebangkitan nasional lebih awal dari Budi Utomo? Menyimak tahun kelahiran R.A. Kartini adalah tahun 1879, itu memang berarti jauh sebelum Budi Utomo didirikan, yaitu tahun 1908.Selama ini sejarah kita mencatat bahwa Budi Utomo yang didirikan oleh Tjipto, Wahidin Sudiro Husodo dan Sutomo, itu merupakan organisasi Indonesia pertama, juga kelahirannya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.Yang lebih membuat kita sangat penasaran tentu mengenai siapa sebenarnya pene­mu lambang negara Garuda Pancasila? Kalau memang benar-benar ingin tahu bacalah buku ini baik-baik, dan kemudian lihatlah misteri apa saja yang terungkap dalam buku ini!Apakah Moham­mad Yamin merupakan sejarawan terbesar Indonesia dalam menanamkan nasionalisme? Kita tentu tahu kalau dia yang menyebut Indonesia merdeka sebagai “Imperium Nusantara III†setelah Sriwijaya dan Majapahit.Meski kemudian banyak orang yang mengecamnya dan menyebut dirinya sedang memproduksi mitos. Dia memang adalah penggali sejarah sekaligus pelaku sejarah. Pakar sejarah Taufik Abdullah yang menempatkannya sebagai seorang sejarawan terbesar abad ini.Betulkah peristiwa G30S merupakan masalah intern Kodam Diponegoro dengan Letkol Untung? Apakah itu hanya sebuah permainan intrik-intrik politik antara Intel Kodam Diponegoro dengan Letkol Untung sebelum pecah usaha kudeta berdarah terhadap Presiden Sukarno?Membaca buku ini, kita dapat menguak kisah-kisah heboh tentang kehidupan dan perjuangan para pahlawan nasional, polisi jujur Hoegeng, Prabowo Subianto, Sukarno, Jenderal Sudirman, John Lie, Ang Yan Goan, dan lain-lain

    Membongkar Manipulasi Sejarah; Kontroversi Pelaku dan Peristiwa

    No full text
    Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian salah satu pesan Bung Karno untuk bangsa ini. Pesan untuk tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri. Benar. Bangsa ini telah melewati perjalanan panjang, bahkan sangat panjang, baik pada masa perjuangan melawan penjajahan, masa perjuangan meraih kemerdekaan, maupun pasca kemerdekaan hingga sekarang. Sejarah bangsa telah melahirkan tokoh-tokoh pahlawan hebat.Buku Membongkar Manipulasi Sejarah; Kontroversi Pelaku dan Peristiwa ini merupakan kumpulan artikel Asvi Warman Adam di Harian Kompas sejak 1998 sampai 2008 dengan tema besar mengungkap sejarah bangsa yang selama ini dimanipulasi penguasa atau yang sengaja dikubur penguasa karena dianggap “membahayakan†kekuasaan, hingga bangsa ini tidak mengetahui sejarahnya sendiri, atau tahu sejarah tapi hanya satu versi: versi pemerintah Orde Baru. Namun, seiring runtuhnya penguasa Orde Baru tahun 1998, sejarah yang lama terkubur itu pun banyak kembali, termasuk oleh Asvi Warman Adam.Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Pertama, memaparkan beberapa tokoh utama sejarah bangsa yang telah menorehkan hasil bagi perjuangan bangsa Indonesia, baik pada masa perjuangan kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, namun sebagiannya sudah terlupakan atau tidak banyak yang tahu.Kedua, mengulas drama sejarah bangsa yang masih menyisakan kontroversi hingga saat ini. Misalnya, tentang Supersemar, De-Soekarnoisasi, kasus biografi Soekarno, peristiwa Malari 1974, dan Supriyadi yang konon muncul lagi. Selama Orde Baru, upaya-upaya de-Soekarnoisasi gencar dilakukan. Sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, mengatakan pada dasarnya Soekarno “dibunuh dua kaliâ€, yakni bersatus tahanan rumah tetapi tidak dirawat kesehatannya sehingga kesehatannya memburuk lalu meninggal dan pemikirannya dilarang didiskusikan.Ketiga, tentang kontroversi istilah G30S, cerita-cerita seputar G30S, tentang Latief, narasi tragedi 1965, pembantaian 1965, malam G30S, tentang Tap XXV/MPRS/1966, dan simalakama Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober. Meski menewaskan enam jenderal sekaligus dalam satu malam bukan di medan perang, dampak dari gerakan G30S sangat besar: pembantaian terhadap orang-orang PKI yang memakan korban lebih dari 500.000 jiwa dan pembuangan orang-orang PKI ke Pulau Buru pada 1969-1979.Keempat, pelurusan sejarah di sekolah, meluruskan pendidikan sejarah, pembaruan pendidikan sejarah, pedoman sejarah nasional, diorama Monas, film sebagai agen sejarah, kekerasan dalam sejarah Indonesia, menghapus dendam sejarah, menghapus jejak sejarah, dan menyelamatkan arsip bangsa.Asvi berhasil menjelaskan bagian sejarah penting bangsa secara baik dan objektif dengan mendiagnosis sumber sejarah yang ada. Ia berhasil membuka tirai sejarah bangsa yang terkubur dan terlupakan atau dimanipulasi penguasa

    Membedah tokoh sejarah / Asvi Warman Adam

    No full text

    Pelurusan sejarah Indonesia / Asvi Warman Adam

    No full text

    Seabad kontroversi sejarah / Asvi Warman Adam

    No full text
    corecore