134 research outputs found
Integrated planning model of creative industry-based kampung tourism in Jayengan Surakarta, Indonesia
Khasiat Ekstrak Buah Markisa Kuning (P. Edulis Sims) Sebagai Antiinflamasi Terhadap Jumlah Monosit Pada Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus)
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan
rancangan penelitian post test control group design. Sampel yang digunakan adalah
12 ekor tikus Wistar jantan yang dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu
kelompok normal tanpa perlakuan, kelompok kontrol diinjeksi bakteri
Enterococcus faecalis dan diberi aquades steril, dan kelompok perlakuan diinjeksi
bakteri Enterococcus faecalis dan ekstrak buah markisa kuning. Pasca sondase
dilakukan pengambilan darah melalui ekor tikus untuk membuat hapusan darah dan
dilakukan pewarnaan giemsa, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel
monosit.
Data yang di peroleh menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antar
semua kelompok dengan jumlah sel monosit pada kelompok kontrol lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok yang diberi ekstrak markisa kuning dan kelompok
normal. Dari penelitian ini, dapat disimpulan bahwa pemberian ekstrak buah
markisa kuning (P. Edulis Sims) dengan konsentrasi 100% efektif dapat
menurunkan jumlah sel monosit tikus wistar jantan yang diinjeksi E. Faecalis
(B. Teknologi) Karakteristik “Community-Based Housing Development” dan Kontribusinya terhadap Pengentasan Kemiskinan (Studi Kasus Kota Surakarta Indonesia)
Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingginya angka kemiskinan di Indonesia dimana pada tahun 2003 telah mencapai 17,4 % . Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia telah menempatkan peperangan melawaan kemiskinan dan kelaparan sebagai target pencapaian pertama dan mentargetkan menurunnya angka kemiskinan menjadi 7,55%-12,1% pada tahun 2015. Sementara itu didasari oleh kenyataan bahwa sebagian penduduk miskin tinggal di permukiman kumuh di perkotaan yang pada tahun 2009 mencapai sekitar 57.800 ha yang tersebar tidak kurang dari 10.000 lokasi di seluruh Indonesia.1. Community-based Housing Development (CBHD) merupakan salah satu sistem penyediaan perumahan di Indonesia yang berbasis pada penguatan kelembagaan dan berbasis pemberdayaan masyarakat diyakini mempunyai kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan. Namun begitu masih banyak kendala-kendala yang dihadapi menyangkut komitment peran pelaku dalam pembangunan perumahan seperti pemerintah, swasta maupun kendala kurangnya kapasitas masyarakat dalam berpartisipasi dalam perencanaan perumahan.
Penelitian ini bertujuan untuk, pertama, mengindentifikasi sistem penyediaan perumahan di kota Surakarta; kedua, mengidentifikasi CBHD di Surakarta; Ketiga, menganalisis karakter CBHD di Surakarta, serta menganalisis kontribusi CBHD terhadap pengentasan kemiskinan di Kota Surakarta. Sedangkan metode yang digunakan adalah qualitatif research, dengan menggunakan beberapa analisis yaitu evaluation analysis; tipology analysis dan analysis pengaruh.
Hasil dari penelitian ini berupa evaluasi terhadap CBHD di Surakarta; karakteristik CBHD di Surakarta serta hasil analisis pengaruh CBHD terhadap pengentasan kemiskinan di Surakarta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Housing delivery system based on Community-based Housing development mengintegrasikan pembangunan perumahan dengan Pengentasan kemiskinan. Namun model CBHD masih merupakan instrumental participation belum transformational participation
Perencanaan Partisipatif pada Tingkat Kelurahan Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan pada Permukiman Kumuh Perkotaan
Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia menetapkan "Penanggulangan Kemiskinan dan Kelaparan" sebagai target pencapaian yang pertama. Kendala utama adalah kurangnya kemampuan untuk keluar dari garis kemiskinan karena biasanya kelembagaan masyarakat di lingkungan tersebut kurang memberi akses bagi penyertaan sosial, pemberdayaan, maupun keamanan. Penelitian ini bertujuan, pertama untuk mencari Konsep Model Pemberdayaan Masyarakat Permukiman Kumuh Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan Perkotaan Yang Berkelanjutan (PMPKB) dan kedua, untuk menerapkan konsep Model PMPKB. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan peneliti dan yang diteliti dalam satu kerangka proses. Model PMPKB diterapkan di 5 kelurahan di kota Surakarta. Hasil di kelurahan Joyosuran menunjukkan bahwa Model PMPKB yang dimulai dari pemetaan masalah partisipatif sampai dengan rencana tindak komunitas serta diakhiri dengan pengintegrasian dengan rolling plan perencanaan pada tingkat kota, bisa menjadi instrumen untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat melalui perencanaan dari bawah (bottom-up planning) yang bisa menjamin dan memastikan terintegrasinya proses bottom-up planning pada level kelurahan (sub kota) di dalam dokumen perencanan pada level kotaKata Kunci: Perencanaan Partisipatif; Kelurahan; Kemiskinan; Pemukiman Kumuh; Perkotaan; Model ; Pemberdayaan Masyarakat The Indonesia's Millenium Development Goals (MDGs) has designated "the Eradication of Poverty and Hunger" as the first target of achievement. The main obstacle is the lack of capability to escape from the poverty line because community institutions in the neighborhood do not sufficiently provide access for social inclusion, empowerment, and security. This research aims at, first, finding the Model of Slums Settlement Community Empowerment Concept as an effort for Sustainable Urban Poverty Alleviation (PMPKB), and second, implementing the PMPKB concept model. The method used in this research is Participatory Action Research (PAR) where the researchers and the object of research are put in one process framework. This model was implemented in 5 districts in Surakarta municipality. The implementation of the model at Joyosuran district shows that the PMPKB model which begins with the mapping of participative problems until community action plan and ends with the integration with the rolling plan at the municipality level, can become an instrument to accommodate community aspiration through bottom-up planning that can guarantee and ensure the integration of bottom-up planning at the district level in the planning document at the city level.Keywords: Participative planning, District, Poverty, Slums Settlement, Urban, Model, Community Empowermen
COMMUNITY-BASED SANITATION PROGRAM (SANIMAS) AS AN EFFORT FOR IMPROVING ENVIRONMENTAL QUALITY IN URBAN SLUM SETTLEMENTS
Magersari and How Unique It Is - A Case Study: Magersari of the Sunanate Palace Surakarta
Unsur-Unsur Intrinsik Dalam Cerita Rakyat Nusantara Karya Desy Rachmawati Serta Pemanfaatannya Sebagai Alternatif Materi Ajar Siswa Kelas IV
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan
manusia. Seorang guru memiliki tugas untuk membantu peserta didik dalam
mengembangkan etika dan sikap (ranah afektif) dalam diri peserta didik. Hal
tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran pendidikan karakter maupun
pendidikan moral. Pendidikan karakter memiliki hubungan yang erat dengan
pendidikan moral, dimana tujuannya adalah untuk membentuk kemampuan dan
kepribadian setiap individu secara terus menerus guna penyempurnaan diri kearah
yang lebih baik lagi. Pembentukan pendidikan karakter dan pendidikan moral
dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan melalui pembelajaran cerita, salah
satunya yaitu cerita rakyat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa sajakah unsur-unsur
intrinsik yang terdapat dalam Cerita Rakyat Nusantara karya Desy Rachmawati
dan bagaimanakah pemanfaatan telaah unsur-unsur intrinsik Cerita Rakyat
Nusantara karya Desy Rachmawati sebagai alternatif materi ajar untuk siswa kelas
IV Sekolah Dasar. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian
ini adalah mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam Cerita
Rakyat Nusantara karya Desy Rachmawati dan mendeskripsikan pemanfaatan
unsur-unsur intrinsik Cerita Rakyat Nusantara karya Desy Rachmawati sebagai
alternatif materi ajar untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian adalah buku Cerita
Rakyat Nusantara karya Desi Rachmawati, buku guru, serta buku siswa kurikulum
2013 edisi revisi 2017 kelas IV SD Semester 1 yang mengindikasikan
pemanfaatan hasil penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode dokumentasi. Proses analisis data yang digunakan
terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap mereduksi data, penyajian data, dan terakhir
penarikan kesimpulan/verifikasi.
Hasil dari penelitian ini yaitu tema yang terdapat dalam 5 cerita tersebut
berbeda-beda. Terdapat tema tentang perbuatan yang tidak baik akan merugikan
dan tema tentang perbuatan yang baik akan memberikan keuntungan. Watak dari
tokoh utama juga beragam. Pak Toba memiliki watak mandiri dan giat bekerja,
namun suka mengingkari janji. Bawang Merah memiliki watak jahat, serakah, dan
pemalas, sedangkan Bawang Putih memiliki watak baik hati, penyabar, dan rajin.
Malin Kundang memiliki watak rajin, pemberani, dan penyayang, namun
sombong. Timun Mas memiliki watak cerdas, pemberani, dan pantang menyerah.
Putri Kandita memiliki watak penyabar. Watak dari tokoh tambahan berbedabeda, yaitu baik hati, jahat, serakah, sombong, menolong tanpa pamrih, sabar,
ramah, setia, dan juga penyayang. Latar yang terdapat dalam 5 cerita tersebut
lengkap, meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar suasana yang ada dalam
cerita. Setiap cerita memiliki pesan-pesan moral yang ingin disampaikan melalui
perilaku positif yang dapat diteladani. Pesan-pesan moral dan perilaku positif
tersebut biasanya disampaikan dalam amanat.
Cerita rakyat yang dikaji menunjukkan bahwa setiap cerita mengandung
nilai-nilai moral yang dapat membantu membelajarakan nilai keagamaan maupun
nilai sosial kepada peserta didik. Cerita rakyat ini dapat dimanfaatkan sebagai
alternatif materi ajar di Sekolah Dasar yaitu di kelas IV pada KD 3.5 yang berisi
tentang menguraikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra (cerita, dongeng,
dan sebagainya) serta KD 4.5 yang berisi tentang mengomunikasikan pendapat
pribadi tentang isi buku sastra yang dipilih dan dibaca sendiri secara lisan dan
tulis yang didukung oleh alasan yang terdapat pada semester 1 Tema 4 Berbagai
Pekerjaan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan
adalah bagi guru, diharapkan penelitian ini dapat dipertimbangkan untuk
digunakan sebagai bahan alternatif materi ajar di sekolah dasar khususnya dalam
materi unsur intrinsik. Bagi kepala sekolah, diharapkan dapat memperbanyak buku bacaan siswa di perpustakaan sekolah, terutama buku bacaan cerita Rakyat
Nusantara. Bagi peneliti lain, diharapkan Hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai sebagai pertimbangan untuk mengadakan penelitian sejenis, yaitu meneliti
struktur unsur intrinsik dari karya yang berbeda
Typology of Empowerment Model for Slums Community as an Effort for Sustainable Urban Poverty Alleviation in terms of Settlements Character
Millenium Development Goals (MDGs) for Indonesia has the first target for alleviating hunger and poverty whicch in the year of 2003 the level was reached 17.4%. This will be targetted to dec reased by 7.5% in 2015. In fact, most of urban poor people lives in slums area, which in 2009 has reached the area of 57.800 ha in 10.000 locations in Indonesia.
Inability for community in escaping from the porverty line, is partly due to limited access of community organization for social inclusion; empowerment and security. Housing Policy approaches should be seen as a part of ”poverty alleviation strategy”and the community should not be seen as a recipient of aids, but as stakeholder, which have access for decision making process
The purposes of the research are, firstly, to implement Concept Model of Empowerment of Slums Community as an Effort for Sustainable Urban Poverty Alleviation. Secondly, to inquire Typology of Empowerment Model for Slums Community as an Effort for Sustainable Urban Poverty Alleviation in terms of Settlements Character. Research Methodology used was Participatory Action Research, by Surakarta City as a location of the research and select kelurahan Sudiroprajan ; Kelurahan Tipes dan Kelurahan Jebres as area study based on the typology character of settlements of Ring 1,2,3, which are slums settlements in the Center of City ( CBD); inner city and pheryphery area.
The research indicates that level of community empowerment is affected by level of community capacity. The research found that slums settlements located close to the center of the city with the special historical character (kel sudiroprajan) has tendency for social segregation; low level of participation but high financial contribution, more difficult to manage because there is no strick values and norms. However the community understand their settlements history. The community of slums/ informal settlements in the suburban area/ pheryphery tend to be more cooperative, high partisipatif in planning, implementation and monitoring; high consensus building and trust.
Development model of PMPKB in terms of settlements character is a strategy fo sustainable urban poverty alleviation. By conducting this model, the slums community is not only understand how to identify potency and problems, but also understand how to get opportunity and understand their own willingness and mission. Results of implementation of the model will be used for instrument for planning integration and synergy with rolling plan in the level of kelurahan (Musrenbangkel), kecamatan (District) , city level, as well as province level and national level for finding the way for problem solution.
Understanding about the character of community capacity is very important in any efforts of community empowerment as an effort for poverty alleviation, especially in the informal settlement
Community Capacity in Providing Neighborhood Unit-scale Social Infrastructure in Supporting Surakarta Child Friendly
AbstractThe top-down approach cause the programs of child friendly social infrastructure development uncertain in its sustainability. This paper used scoring technique in identifying the neighborhood characteristics and community capacity in providing child friendly social infrastructure in Surakarta. The neighborhood characteristics were viewed from the provision of social infrastructure service capacity, then the community capacity was measured from the level of participation in the stage of development process. The results showed that the community had capacity in providing child friendly social infrastructure and its supporting facility, even though it could not entirely attend the level of degree of citizen power
Contribution of Community-based Housing Development toward Environment Improvement as an Effort of Poverty Alleviation
AbstractSquatter settlements is defined as a residential area developed on a non-residential area according to the city masterplan, went through illegal procedures and had no permit from the legal authority. Resettlements (Relocation) Program is a housing policy aims to redistribute residents from squatter settlement to residential area planned in the city master plan. Community-based Housing Development (CBHD) is one of housing delivery system in Indonesia based on community empowerment, which is believed to have contributions to poverty alleviation in terms of increasing access to adequate land and housing, increasing infrastructure condition, housing affordability, and social development sustainability. Those purposes manifested in the betterment of the neighbourhood in the residential area. Kelurahan Pucangsawit Surakarta City, is a residential area located in the riverbank of Bengawan Solo River, one of twelve Kelurahan (approx. 1.571 houses) in Surakarta potentially affected by annual flood. Relocation Program was conducted in 2007 and relocated 268 families to the residential area in Kelurahan Mojosongo in northern part of Surakarta. The research aimed to analyze the contributions of Relocation Program to environment improvement as an effort for poverty alleviation. Methodology used in this research was deductive approach using quantitative data from the questionnaire to the beneficiaries of the program. The result of the study shows that relocation program has contributed to environment improvement mainly in terms of increasing water supply, better access to sanitation, better housing condition and land status clarity
- …
