1,721,057 research outputs found
Pengaruh Pemberian Ransum Tempe Kedelai dan Tempe Kecambah Kedelai terhadap Profil Darah Tikus Diabetes Melitus
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik akibat
pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin
secara efektif. Tempe memiliki efek hipoglikemik yang dapat mengembalikan
fungsi sel pankreas sehingga meningkatkan sekresi insulin, menghambat absorbsi
glukosa di usus, serta menghambat kinerja enzim α-glukosidase. Perkecambahan
kedelai meningkatkan kadar protein dan berbagai komponen bioaktif yang
memiliki fungsi biologis untuk pencegahan berbagai penyakit. Analisis yang
dilakukan adalah analisis hematologi (hemoglobin, leukosit, eritrosit, hematokrit,
dan trombosit) dan analisis biokimia serum (glukosa, kolesterol, trigliserida, LDL,
HDL, dan albumin). Perlakuan pemberian ransum tikus diabetes dengan tempe
kedelai (DTB) dan tempe kecambah kedelai (DTK) memberikan hasil profil
hematologi dan biokimia serum yang mendekati tikus non-diabetes (NKK).
Pemberian ransum tempe kecambah kedelai mampu memberikan kadar
hemoglobin tikus diabetes 14.1 ± 0.8 g/dL yang mendekati kadar hemoglobin
tikus non-diabetes 13.4 ± 0.4 g/dL. Tikus DTK memiliki kadar hematokrit 37.32 ±
2.6% dan eritrosit 7.9 ± 0.5 juta/mm3 yang mendekati NKK yaitu 34.6 ± 0.9% dan
7.6 ± 0.3 juta/mm3. Perkecambahan kedelai secara statistik sangat nyata tidak
berpengaruh (p>0.01) dalam menurunkan kadar glukosa darah. Tikus DTK secara
nyata (p<0.05) memiliki kadar trigliserida yang lebih rendah dari tikus DTB yaitu
64.0 ± 29.8 mg/dL dan 89.4 ± 42.3 mg/dL. Kadar LDL tikus DTK tidak berbeda
secara nyata (p>0.05) dengan NKK yaitu 9.2 ± 3.8 mg/dL dan 3.4 ± 3.1 mg/dL.
Kandungan protein yang tinggi pada kasein, tempe kedelai, dan tempe kecambah
kedelai belum mampu meningkatkan kadar albumin tikus diabetes
Karakteristik Fisikokimia Tepung Kecambah Kedelai Dan Tepung Kedelai
Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia karena kedelai merupakan salah satu tanaman penting setelah beras dan jagung. Penduduk Indonesia gemar mengonsumsi produk olahan kedelai karena beberapa alasan, yaitu harganya relatif murah dan gizinya tinggi. Salah satu proses yang dapat meningkatkan mutu gizi dan kualitas kedelai adalah melalui perkecambahan. Pada penelitian ini, dipelajari perbandingan karakteristik fisikokimia tepung kecambah kedelai (TKK) dan tepung kedelai (TK), sebelumnya kedelai dan kecambah kedelai dikeringkan dengan freeze drier lalu dilakukan pengecilan ukuran menggunakan blender dan diayak menggunakan ayakan 100 mesh. Tepung kedelai dan tepung kecambah kedelai yang dihasilkan kemudian dianalisis kimia yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, kapasitas antioksidan. Kemudian dilanjutkan analisis fisik dan sifat fungsional protein seperti daya serap air, daya serap lemak, stabilitas dan kapasitas buih, stabilitas dan kapasitas emulsi, aktivitas air, warna, derajat putih, densitas kamba, sudut repose. Perkecambahan terbukti memengaruhi karakteristik kimia dari kedelai, yaitu meningkatkan kapasitas antioksidan, serta menurunkan kadar lemak kedelai. Sifat fungsional protein TKK juga diketahui memiliki kapasitas buih (18.97 %), kapasitas emulsi (12.5%) yang signifikan lebih tinggi (p<0.05) dari TK. Secara fisik, densitas kamba TKK (0.43 g/ml) juga signifikan lebih tinggi dari TK
Potensi bakteri asam laktat probiotik indigenus sebagai antidiare dan imunomodulator pada tikus percobaan
Diare akut merupakan penyebab utama kematian bayi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Beberapa bakteri patogen penyebab diare yaitu Escherichia coli, Shigella sp., Salmonella sp., dan Helicobacter pylori (Lestari, 2009). WHO menyatakan ada sekitar 4 milyar kasus diare infeksi setiap tahun dengan tingkat mortalitas 3-4 juta per tahun (Zein et. al., 2004). Arief (2008) telah berhasil mengisolasi 10 BAL indigenus dari daging sapi yang berasal dari beberapa pasar tradisional di daerah Bogor. Ke-10 BAL tersebut memiliki karakteristik sebagai bakteri probiotik dan menghasilkan senyawa antimikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri enteropatogenik seperti Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC), Staphylococcus aureus, dan Salmonella typhimurium. Secara in vitro, ke-10 BAL tersebut diuji aktivitas antimikrobanya terhadap Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa Lactobacillus plantarum 2C12 dan Lactobacillus fermentum 2B4 memiliki penghambatan terbaik terhadap EPEC (Arief, 2008). Berdasarkan beberapa fakta tersebut, dalam penelitian ini akan diteliti lebih lanjut mengenai potensi BAL, terutama L. plantarum 2C12 dan L. fermentum 2B4, sebagai antidiare dan imunomodulator. Penelitian ini dilakunan secara in vivo menggunakan tikus percobaan
Profil Serum, Hematologi, Malonaldehida dan Superoksida Dismutase Tikus Percobaan yang Diberi Ransum Tepung Kedelai Rebus dan Tepung Tempe
Soybean is one of the vegetable protein sources that important and economical. In addition to a high protein, soy is also rich in vitamin and mineral. One of the soy product is fermented with Rhizopus sp. is tempe. The fermentation process make soybean components simpler and increase nutrient content in tempe. High nutrient content in tempe and soybean make these commodities consumed by societies. This study aims to evaluate blood hematology (hemoglobin, erythrocyte, leukocyte, platelet and hematocrit), serum profiles (blood glucose, cholesterol, triglycerides, high density lipoprotein, low density lipoprotein, ureum, uric acid, SGOT, SGPT, protein total and albumin), superoxide dismutase (SOD) and malonaldehide (MDA) of liver and kidney after consuming tempe flour and boiled soybean flour during treatment. This study using three group of rats that casein 10 %, tempe flour 10 % and boiled soybean flour 10 %. Analysis of serum profile, hematology, SOD and MDA proving consumption of boiled soy and tempe are good to be consumed in the long time
Perbandingan Profil Hematologi dan Biokimia Serum Tikus Percobaan yang Diberi Pakan Kedelai Transgenik dan Non-Transgenik
Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas pertanian sumber protein nabati yang sering dikonsumsi dalam bentuk tempe, tahu, kecap dan produk lainnya. Pemerintah melakukan impor kedelai dari Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan Nasional yang 75%-nya merupakan kedelai transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil hematologi dan biokimia serum tikus percobaan yang diberi pakan kedelai lokal grobogan, kedelai impor transgenik dan impor non-transgenik selama 90 hari dengan konsentrasi protein ransum yang digunakan 10% dan 20%. Hasil menunjukkan konsumsi jenis kedelai dan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh secara nyata (p>0.05) terhadap profil hematologi kecuali trombosit, profil lemak serum, kreatinin dan total protein sedangkan jenis kedelai berpengaruh secara nyata (p<0.05) terhadap nilai trombosit, ureum, asam urat, nilai SGOT dan nilai SGPT. Konsentrasi yang berbeda hanya berpengaruh secara nyata (p<0.05) terhadap nilai trombosit, ureum dan albumin. Seluruh kelompok tikus percobaan memiliki nilai profil hematologi dan biokimia serum yang masuk ke dalam rentang nilai normal walaupun nilai SGOT dan SGPT melebihi nilai normal tikus namun kelebihan tersebut tidak signifikan untuk menimbulkan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat kelainan maupun penyakit yang ditimbulkan akibat konsumsi kedelai transgenik bahkan ketika konsentrasi proteinnya ditingkatkan. Secara keseluruhan tidak ada perbedaan dampak yang ditimbulkan antara konsumsi kedelai impor transgenik dan non-transgenik sehingga dapat disimpulkan adanya kesepadanan anatar kedelai impor transgenik dan non-transgenik dengan kedelai lokal grobogan
Pembuatan Yogurt Sinbiotik Menggunakan Bakteri Asam Laktat Indigenus sebagai Pangan Fungsional Antidiare
Yoghurt is a product of fermented milk using lactid acid bacteria (LAB) as a starter. An indigenous probiotic LAB, Lactobacillus plantarum 2C12 and Lactobacillus fermentum 2B4, were applied in the making of functional synbiotic yoghurt with fructo-oligosaccharide (FOS) 5% as a prebiotic source. The aim of this study was to determine the best formula of functional synbiotic yoghurt as an alternative to protect human gastrointestinal against diarrhea. The best formula with the highest antidiarrheal effect was then applied with the addition of stabilizer and flavor to improve the product quality and consumer acceptance. The results showed that the synbiotic yogurt made from mixed culture L. bulgaricus, S. thermophillus, and L. fermentum 2B4 has the highest antibacterial effect in preventing Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) growth. Addition of 1.75% natural corn starch as a stabilizer produced optimum improvement in yoghurt consistency and minimize whey separation. Result of sensory evaluation indicated that the yoghurt with addition of 1% strawberry flavor and 0.1% vanilla flavor were ranked at first and second. Yoghurts could still good to consume after 15 days storage period at the refrigeration temperature (10oC)
Karakteristik Fisikokimia dan Sifat Fungsional Tepung Koro Benguk (Mucuna pruriens L.) Berprotein Tinggi
One of food sources that can be potentially developed as high protein food product is mucuna bean. However, nowadays it is still under-utilized. This research aimed to determine the most appropriate process to produce ‘mucuna bean flour’ as material source of high protein flour, to find new method to increased protein content in mucuna flour using enzyme, and to studies its physicochemicals and functional properties. This research was divided into two stages: (1) preliminary research and (2) main research. At the preliminary research, the treatment design to decrease cyanide, (the natural toxin in mucuna seed) was determined using complete randomized experimental design with eight kinds of treatment to two mucuna bean varieties (white and motted). Whereas the main research was the production of high protein flour by enzymatic method with α-amylase enzyme and optimized its production process by the optimal-working-enzyme-factors-base method. After the selection of the best process, the next step was the physicochemical properties and functional quality analysis. At the preliminary research, the white mucuna bean, after going through dehulling treatment continued with 24-hour soaked water treatment, was chosen as the main research sample because it contains cyanide less than 10 ppm (CODEX standard for cyanide) and it contains the highest protein as much as 32%. Results of the main research shows that five factors (initial substrate concentration, enzyme activity, temperature, pH, and time) influenced the optimization process. Enzyme method was successfully lowered nonprotein components. So that, by calculation, protein increased by 28% from 32% to 41%. Mucuna high protein flour bulk density was 0.43 g/ml, the color was brownish white, while the water activity was 0.62. Mucuna high protein flour WAC and OAC were 1.67 ml/g and 1.83 ml/g respectively. The emulsion capacity and stability were 32% and 56%. Foam capacity and stability were 64% and 67%. The best concentration for gelling is 15% and the in vitro protein digestibility is 79%. Mucuna high protein flour has potential to be developed as ingredient for food products especially sausage, bakery and meat analog
Gambaran Imunohistokimia Superoksida Dismutase Pada Jaringan Testis Tikus Yang Diberi Tepung Tempe Dan Kedelai Gmo Dan Non-Gmo
Tempe merupakan salah satu bahan pangan hasil fermentasi kedelai
menggunakan kapang Rhizopus sp. banyak yang tersedia di Indonesia. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang mengandung
10% protein dari tepung kedelai atau tepung tempe yang berasal dari kedelai
Genetically Modified Organism (GMO) maupun kedelai Non-GMO terhadap
kandungan antioksidan Copper,Zinc-Superoxide Dismutase (Cu,Zn-SOD) pada
jaringan testis tikus. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus jantan galur
Sprague Dawley, yang dibagi menjadi lima kelompok pelakuan berdasarkan
sumber protein yang diberikan. Masing-masing kelompok diberi ransum 10%
protein, dari; (1) tepung tempe GMO, (2) tepung kedelai GMO, (3) tepung tempe
Non-GMO, (4) tepung kedelai Non-GMO, (5) kasein (kontrol). Perlakuan
diberikan selama 90 hari (EFSA 2011 uji subkronik). Jaringan testis diproses
dengan metode embedding menggunakan parafin, dan dilakukan pewarnaan
dengan teknik imunohistokimia untuk melihat kandungan antioksidan Cu,Zn-SOD.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian tepung tempe GMO maupun non-GMO
memiliki kandungan antioksidan Cu,Zn-SOD yang sama pada jaringan testis tikus.
Pemberian tepung tempe GMO maupun Non-GMO mampu lebih efektif dalam
meningkatkan kandungan Cu,Zn-SOD pada jaringan testis dibandingkan dengan
pemberian tepung kedelai GMO maupun Non-GMO. Tepung kedelai GMO
maupun Non-GMO mampu lebih baik dalam meningkatkan kandungan
antioksidan Cu,Zn-SOD dibandingkan dengan kasein
Pengaruh Pemberian Tepung Tempe Dan Kedelai Rebus Grobogan Terhadap Profil Imunohistokimia Antioksidan Sod Pada Jaringan Hati Tikus Percobaan
Kedelai sebagai sumber protein mempunyai kandungan isoflavon tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menetralkan radikal bebas. Kedelai mengandung antigizi seperti antitripsin, hemaglutinin, asam fitat, dan oligosakarida. Sehingga perlu untuk dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Salah satu produk olahan kedelai yang banyak dikonsumsi adalah tempe. Tempe dibuat dari kedelai dengan cara difermentasi menggunakan kapang Rhizopus sp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD jaringan hati tikus yang diberi perlakuan tepung tempe dan kedelai rebus grobogan. Percobaan dilakukan pada 15 ekor tikus galur Sprague Dawley yang dibagi ke dalam lima kelompok, yaitu (I) kasein sebagai kontrol, (J) tepung tempe 10%, (K) tepung tempe 20%, (L) tepung kedelai 10%, dan (M) tepung kedelai 20%. Penelitian ini dilakukan selama 90 hari (EFSA 2011). Antioksidan Cu, Zn-SOD dapat dideteksi melalui teknik pewarnaan imunohistokimia pada jaringan hati tikus. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan tepung tempe dan tepung kedelai rebus meningkatkan nilai kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD secara nyata pada jaringan hati dibandingkan dengan kasein. Kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD pada jaringan hati tikus yang diberi perlakuan tepung tempe 10% paling tinggi secara sangat nyata (p<0,01) dibandingkan dengan kelompok lainnya
Pengaruh pemberian yogurt sinbiotik berbasis probiotik indigenus terhadap profil histologi dan kandungan Imunoglobulin A (IgA) usus halus tikus percobaan
Penelitian ini dilakukan untuk melihat potensi aktivitas antidiare dan imunomodulator beberapa formula yogurt dengan penambahan bakteri asam laktat indigenus (Lactobacillus plantarum 2C12 dan Lactobacillus fermentum 2B4) dan prebiotik (fruktooligosakarida) terhadap profil histologi dan kandungan Imunoglobulin A (IgA) usus halus. Penelitian ini diawali dengan uji antibakteri penyebab diare pada empat formula yogurt, yaitu yogurt F1 (L.bulgaricus + S. thermophillus + FOS 5%), F2 (L. bulgaricus + S. thermophillus + L. plantarum 2C12 + FOS 5%), F3 (L. bulgaricus + S. thermophillus + L. fermentum 2B4 + FOS 5%), dan F4 (L. bulgaricus + S. thermophillus + L. plantarum 2C12 + L. fermentum 2B4 + FOS 5%). Pengujian antibakteri ini menggunakan metode kontak, dimana formula yogurt dikontakkan dengan Enteropatogenik E.coli K1.1 (EPEC K1.1) selama 2, 4 dan 6 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa masing-masing formula yogurt tidak memberikan pengaruh nyata terhadap rata-rata log kematian EPEC K1.1 pada setiap waktu kontak (P>0.05). Derajat keasaman (pH) pada seluruh formula yogurt menunjukkan nilai pH yang tidak berbeda nyata (P>0.05). Dari segi organoleptik, yogurt F3 memiliki tekstur paling baik dilihat dari whey yang paling sediki
- …
