1,721,066 research outputs found
Strategi Penyediaan Bahan Baku Industri Jok Serat Sabut Kelapa
Serat sabut kelapa adalah limbah yang belum dimanfaatkan secara efisien. Pemanfaatan serat sabut kelapa di Indonesia biasanya masih digunakan sebagai alat pembersih, dan arang. Serat sabut kelapa dari Indonesia umumnya masih dijual di pasar ekspor dalam bentuk mentah. Serat sabut kelapa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk-produk yang bernilai, contohnya adalah jok mobil. Permintaan akan jok dari serat sabut kelapa tinggi karena jok ini memiliki mutu dan karakteristik yang lebih baik dibandingkan dengan busa. Industri jok serat sabut kelapa dapat dikembangkan dan berpeluang untuk menutupi permintaan yang ada di pasar dalam dan luar negeri. Ketersediaan serat sabut kelapa yang berkesinambungan sebagai bahan baku pembuatan jok sangat penting dan vital. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strategi penyediaan bahan baku serat sabut kelapa untuk industri jok agar produksi dapat berkelanjutan dan optimal. Strategi penyediaan bahan baku industri jok serat sabut kelapa diformulasikan dengan penentuan kriteria dan sub kriteria penyediaan bahan baku dihitung dengan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP). Industri jok serat sabut kelapa layak untuk dijalankan dengan nilai NPV bernilai positif, dan IRR sebesar 34%. Dengan menerapkan metode FAHP diperoleh bobot tertinggi untuk alternatif strategi penyediaan bahan baku yaitu alternatif C5 (Memberikan bantuan modal untuk pembelian mesin kepada petani atau industri pengurai serat sabut kelapa) dengan nilai 0.3104
Rancang Bangun Sistem Rantai Pasok Agroindustri Kakao Berdaya Saing Tinggi Menggunakan Sistem Dinamik
Kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan penyumbang devisa negara
mengalami penurunan produksi yang mengganggu pemenuhan pasokan industri
pengolahan. Penurunan produksi disebabkan umur tanaman tua, pola budidaya
belum sesuai, serangan OPT, dan perubahan iklim. Penanganan pascapanen
khususnya fermentasi belum menjadi prioritas, pemasaran belum kolektif,
kemitraan petani dan industri belum terjalin baik, harga fluktuatif dan rantai pasok
yang cukup panjang menyebabkan petani tidak mengutamakan mutu biji kakao
yang dihasilkan. Luas area tanaman kakao petani yang rata-rata 0.25-1 ha dan
desakan kebutuhan ekonomi mendorong petani menjual hasil panen kakao dalam
bentuk biji basah dan biji kering asalan kepada pengumpul lokal. Kondisi ini
mengakibatkan mutu kakao rendah dan tidak mampu bersaing dengan kakao dari
Afrika.
Rendahnya produksi kakao mendorong pengumpul lokal dan pedagang
sebagai agen perantara membeli biji kakao sebelum panen melalui pinjaman uang
kepada petani. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh bahan baku yang
diperlukan industri pengolahan kakao. Disisi perdagangan, biji kakao Indonesia
diekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk diolah menjadi produk antara
dan produk jadi. Ketimpangan pasokan dan kebutuhan dalam negeri mengharuskan
industri mengimpor biji kakao dari negara produsen lainnya.
Penelitian ini mengkaji sistem rantai pasok agroindustri kakao di kabupaten
Gunung Kidul provinsi DIY, sebagai salah satu penghasil kakao dan menjadi
kawasan pengembangan kakao nasional. Tujuan yang ingin dicapai adalah
kontinuitas pasokan industri pengolahan kakao, peningkatan mutu biji kakao dan
harga yang layak. Model yang dikembangkan terdiri dari sub sistem ketersediaan
kakao di petani yang dihasilkan dari kebun eksisting, pembukaan kebun baru, dan
pengendalian OPT. Sub sistem distribusi biji kakao melibatkan petani, pengumpul
UFPBK, TTP Nglanggeran dan Cokelat nDalem berdasarkan permintaan
konsumen. Dinamika permintaan dan ketersediaan (stok) di setiap pelaku
mempengaruhi keuntungan masing-masing pelaku. Sub subsistem peningkatan
mutu biji kakao melalui program penerapan SOP. Mutu yang dihasilkan petani
menentukan harga yang secara langsung mempengaruhi pendapatan petani. Mutu
biji kakao menurut SNI 2323:2008 terdiri dari Mutu I, II, dan III. Biji kakao yang
dihasilkan kelompok tani Sidodadi terdiri dari tiga level mutu dan harga yaitu mutu
I harga Rp40 000 per kg, mutu II harga Rp35 000 per kg dan mutu III harga Rp28
000 per kg. Harga menjadi stimulan petani untuk menghasilkan biji kakao bermutu
baik. Terpenuhinya mutu yang baik dan harga yang baik akan meningkatkan
peluang daya saing kakao Indonesia.
Metode yang digunakan untuk melihat pengaruh dan saling keterkaitan antara
variabel-variabel sistem rantai pasok agroindustri kakao ini adalah sistem dinamik.
Perubahan perilaku model sistem rantai pasok kakao dibangun melalui skenario
yaitu (1) upaya peningkatan produksi kakao dengan variabel dinamik pupuk,
perawatan, fraksi pengendalian, target losses, dan kebun baru; (2) upaya perbaikan
mutu dengan variabel dinamik manajemen, saprodi dan teknologi; (3) upaya
peningkatan produksi kakao dan perbaikan mutu dengan variabel dinamik pupuk,
perawatan, fraksi pengendalian, target losses, kebun baru, manajemen, saprodi dan
teknologi.
Hasil skenario pertama terjadi peningkatan pasokan biji kakao di Kel Tani
sebesar 2.61% dari eksisting, penurunan defisit neraca pasokan dan permintaan biji
kakao sebesar 0.7%, dan belum terjadi peningkatan mutu. Skenario kedua
menghasilkan percepatan pencapaian mutu I pada tahun 2022, sedangkan pasokan
biji kakao di Kel Tani sama dengan eksisting. Skenario ketiga menghasilkan
peningkatan pasokan biji kakao di Kel Tani 2.61%, penurunan defisit neraca
pasokan dan permintaan biji kakao sebesar 0.7%, pencapaian mutu I tahun 2022,
dan meningkatkan akumulasi keuntungan Kel Tani 29.31%, maka skenario ketiga
menjadi skenario terpilih.
Rekomendasi implementasi kebijakan operasional sebagai tindak lanjut
skenario terpilih disesuaikan dengan program pengembangan kawasan kakao dan
kondisi lapang. Kebijakan operasional menitikberatkan pada variabel pengungkit
peningkatan produksi kakao dan perbaikan mutu biji kakao. Dukungan seluruh
pelaku rantai pasok agroindustri kakao seperti Dinas yang membidangi perkebunan,
Ditjen Perkebunan, lembaga riset, lembaga penyuluhan, penyedia saprodi, dan
lembaga keuangan sangat diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan teknis. Pola
kemitraan Kel Tani dengan industri pengolahan kakao memudahkan penjualan biji
kakao berkualitas terbaik dan harga terbaik untuk peningkatan pendapatan petani.
Industri pengolahan akan menghasilkan produk hilir berkualitas dan mampu
bersaing di pasar domestik dan global
Strategi Peningkatan Mutu Keamanan Produk Roti Industri Kecil Menengah Melalui Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP)
The role of processing industry sector is great enough, its contribution is reached 26.8% of national GDP. Among processing industry sectors, the food industry gives the second largest contribution at least 27%. The same situation occurred in Bogor. Processing industry contributed the second largest, reached 19.72% of the Gross Regional Domestic Product in 2010, where the sub sectors of the food industry play a part. The structure of the food industry in Bogor is dominated by small enterprise (96%). One of the problems on small medium enterprise is the emergency of food safety issues due to low sanitation and hygiene practices. Based on the data from outbreaks (epidemics) of Indonesia in 2001-2006 is known that the major cause of poisoning is due to microbes and are common in food products produced by small-medium enterprise and catering. The objective of this research is to formulate strategy of improving food safety base on implementation Good Manufacturing Practices (GMP’s). This research presents I’SWOT analysis regarding the implementation GMP’s on bakery at small-medium enterprises in Bogor. I’SWOT is an expert choice justification model which is used for structural analysis model by taking several elements for the strategic environmental factors. SWOT analysis for the strategic environmental factors has identified the significant aspect of the supporting elements, constraints and, the groups of the alternative strategy. Interpretive Structural Modelling (ISM) is used to find out the principal sub-elements of each strategy and stakeholders elements have been analysed to enrich the formulate strategy. Complete analysis of this research has built five alternative formulation strategy for improving food safety base on implementation GMP’s, with considering respective limitation
Land-Use Optimization Using Genetic Algorithm for Supporting The Improvement of Agricultural Productivity
Penggunaan Lahan adalah cara untuk menggunakan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Cara ini memungkinkan tanaman yang akan disusun dalam satu area untuk menghasilkan keuntungan maksimal. Metode yang digunakan untuk optimasi penggunaan lahan adalah algoritma genetika yang didasarkan pada mekanisme seleksi alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem berbasis web yang dapat menemukan solusi optimal atau mendekati optimal dalam penyusunan tanaman. Sistem ini dikembangkan dengan menggunakan model Waterfall. Sistem ini diberi nama De Loga. Sistem ini telah diuji dan menghasilkan penyusunan tanaman sesuai yang diharapkan dalam penggunaan lahan. Kata kunci: algortime genetika, penggunaan lahan, sistem optimasiLand-use is the way to use land to meet human needs. This way allows plants to be arranged in one area to produce maximum benefits. The method used for the land-use optimization is genetic algorithm that is based on the mechanism of natural selection. The purpose of this research is to develop a web-based system that can find the optimal or near-optimal solutions for planting arrangement. The system was developed using Waterfall model. The system is named De Loga. The system has been tested that it produces correct plants arrangement for the expected land-use. Keywords: genetic algorithm, land-use, optimization syste
Designing Cocoa Supply Chain System based on Blockchain Technology
Kakao masuk ke Indonesia pada zaman penjajahan. Dalam peredaran kakao tentunya tidak terlepas dari adanya rantai pasok. Rantai pasok merupakan kegiatan perencanaan, pewujudan, dan pengendalian efisiensi dan aktivitas aliran dan penyimpanan barang dan jasa serta informasi terkait produsen hingga konsumen.
Pada penelitian ini diambil studi kasus di salah satu usaha pengolahan coklat di Mojokerto. CV. XYZ memiliki permasalahan yaitu harga tawar petani yang rendah, petani hanya dapat menjual biji kakao kepada CV. XYZ, CV. XYZ masih menggunakan teknologi 3.0 yaitu whatsapp untuk berkomunikasi dengan petani dan ketua tani sehingga jumlah biji kakao beserta kualitas yang dihasilkan setiap petani belum dapat termonitor dengan baik, retail masih kesulitan untuk memasarkan produk di luar Mojokerto. Dalam memasuki era industri 4.0 ini permasalahan harus diselesaikan. Salah satu teknologi 4.0 yaitu blockchain dimanfaarkan untuk menyelesaikan permasalahan.
Metode penelitian yang digunakan yaitu system development life cycle yang terdiri dari lima tahap yaitu perencanaan sistem, analisis sistem, desain sistem, implementasi sistem, dan pengujian sistem. Desain sistem menggunakan dua diagram UML yaitu use case diagram dan activity diagram. Dalam implementasi dimanfaatkan ethereum, metamask, dan xampp. Pengujian sistem digunakan pengujian kotak hitam.
Hasil pada penelitian ini yaitu aktor rantai pasok kakao sebelum penerapan blockchain terdiri dari petani, ketua tani, pabrik (CV. XYZ), retailer, dan konsumen. Pada saat telah diterapkan blockchain terdiri dari petani, pabrik (CV. XYZ), retailer, konsumen, dan ditambahkan logistik. Sistem dibangun dalam bentuk e-commerce yang digunakan untuk pengadaan barang dari stakeholder yang berada dalam rantai pasok kakao. Transaksi pada e-commerce telah berjalan di dalam ethereum yang merupakan platform blockchain yang digunakan dan ditandai oleh adanya transaction hash.Cacao entered Indonesia during the colonial era. The circulation of cocoa, cannot be separated from the supply chain. The supply chain is an activity of planning, manifesting, and controlling efficiency and the activity of the flow and storage of goods and services as well as information related to producers to consumers.
In this research, a case study was taken at one of the chocolate processing businesses in Mojokerto. CV. XYZ has a problem that is the low bargaining price of farmers, farmers can only sell cocoa beans to CV. XYZ, CV. XYZ still uses 3.0 technology which is Whatsapp to communicate with farmers and farmer leaders so that the number of cocoa beans along with the quality produced by each farmer cannot be monitored properly, retailers are still having trouble marketing products outside of Mojokerto. In entering the 4.0 industrial era, the problem must be resolved. One of the 4.0 technologies is the blockchain used to solve problems.
The research method used is the system development life cycle which consists of five stages, namely system planning, system analysis, system design, system implementation, and system testing. The system design uses two UML diagrams namely use case diagram and activity diagram. In the implementation, ethereum, metamask, and xampp are utilized. System testing used black-box testing.
The results of this study are the cocoa supply chain actors before the implementation of the blockchain consisting of farmers, head of farmers, factories (CV. XYZ), retailers, and consumers. When the blockchain was implemented, it consisted of farmers, factories (CV. XYZ), retailers, consumers, and logistics added. The system was built in the form of e-commerce which is used to procure goods from stakeholders who are in the cocoa supply chain. Transactions on e-commerce have been running in ethereum which is a blockchain platform that is used and is marked by a transaction hash
Rancang Bangun Sistem Bisnis Berbasis Internet (E-Business) Untuk Agroindustri Kulit Samak (Leather)
Trading business based on information technology in the recent years is expected to dominate the world. In Indonesia, information technology-based business has not been used optimally. Opportunities in the utilization of online transaction is actually widely open. One of the potential commodity to develop and to commerce is the leather. This research aims to design a web based business systems (e-business) for leather commodity, through developing an online transaction system (e-commerce) and customer services. Scope of this research was a system designed internet business system for leather commodities that include to informing products, sale and purchase transactions, customer service and cooperation with business partners in the form of exchange data and information. The data of product specifications and prices were obtained from five companies. There were 124 kinds of products to sale. This website was built by using Macromedia Dreamweaver, Adobe Photoshop CS3, Photoscape and mySQL database, such as seven main menus on the homepage of the website, which can be accessed by the customer, i.e : Home, Product (Finished Leather, Finished Product), Customer Account (Registration new customer, Login customer, and Logout customer), Contact, Supplier and Other Industries (Chemical and Machinery Suppliers and Other Leather Industries), Payment and Delivery (Leather Product Purchase Guide and Payment Method and Delivery Cost) and Customer Services (Discussion Forum and Order Status). Meanwhile, the duty of administrators was updating the menu of products, shipping and order status, check transactions, and calculating the profit/loss per month per product item and also drawing graphic information in sales per year. The mechanism of E-CLT payment was interbank transfer facility. The payment was validated by sending the proof of payment slip to the customer by email
Sistem Pakar Prediksi Produktivitas Padi Pandan Wangi Menggunakan Logika Fuzzy
The increase of superior commodity production value is Indonesian government's efforts to survive in competitive trade competition. Superior commodity that has become the hallmark of Indonesia is beras pandan wangi. This commodity has a distinctive taste and fragrance, well-known in regional, national and international markets. Expert system can help the effort in order to run effectively and efficiently by predict pandan wangi paddy productivity. This system has three inference systems, the first is to determine the condition of the land with the input level of nitrogen, phosphorus, potassium and acidity level of the soil, the second is to determine the environmental conditions with rainfall input, land elevation and irrigation (water discharge). The second output of the inference will become an input for the third inference system which has pandan wangi paddy productivity as the final output. This expert system using mamdani fuzzy logic model and mean of maximum (MOM) for defuzzification. This expert system has an accuracy of 61.72%, 62.96% and 88.88% for the first, second, third inference system respectively
Rancang Bangun Sistem Total Productive Maintenance dengan Fuzzy Analytical Hierarchy Process
Total Productive Maintenance (TPM) adalah suatu sistem perawatan mesin
yang melibatkan semua departemen termasuk produksi, pengembangan produk dan
administrasi. Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan metode alat ukur
dalam penerapan sistem TPM guna menjaga mesin pada kondisi ideal dengan
menghapuskan six big losses. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai OEE
mesin 5 in 1 sebagai dasar ukuran efektifitas mesin dan memperoleh strategi
peningkatan OEE menggunakan fuzzy AHP. Rata-rata hasil evaluasi menggunakan
Overall Equipment Effectiveness periode Oktober 2016-Desember 2016
menunjukkan nilai 49%. Berdasarkan hasil penilaian pakar menunjukan bahwa
strategi terbaik peningkatan OEE adalah memperbaiki perencanaan produksi
(0.4082), sehingga tujuan mesin bekerja efektif (0.3701). Aktor yang paling
berperan adalah Departemen Produksi (0.3546) dan faktor yang paling berpengaruh
yaitu keamanan (0.3225). Penelitian ini menyarankan strategi terbaik meningkatkan
nilai OEE dengan memperbaiki perencanaan produksi yaitu menerapkan metode
heijunka (tingkatan produksi) pada proses produksi serta single minutes exchange
dies (SMED) pada proses setting up
Pengembangan Aplikasi Survei Ketersediaan Limbah Minyak Goreng untuk Produksi Biodiesel Berbasis Android dan BlackBerry
Tata cara penggunaan minyak goreng dan pembuangan limbahnya secara benar masih belum banyak diketahui masyarakat. Selain itu, limbah minyak goreng tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku penyusun bahan bakar kendaraan bermotor alternatif. Namun ketersediaannya perlu dipertimbangkan untuk menentukan kesiapannya menggeser peran bahan bakar konvensional. Oleh karena itu dikembangkan aplikasi survei dan sistem informasi berbasis Android dan BlackBerry. Sistem dikembangkan menggunakan framework PhoneGap dan jQuery Mobile yang ditujukan kepada rumah tangga. Pengembangan sistem menggunakan metode incremental. Sistem ini diharapkan mampu menjadi pusat informasi cara penggunaan dan pembuangan minyak goreng serta dapat menyediakan data survei yang valid. Selain itu, sistem mempunyai fitur kalkulasi GHG output yang dapat ditekan sesuai kuantitas limbah minyak goreng yang dialihkan menjadi biodiesel
Analisis Vektor Autoregresi (VAR) Terhadap Hubungan Antara Produksi Biodiesel dan Harga Minyak Sawit di Indonesia
Indonesian palm oil industry continues to grow and develop rapidly. Indonesia, which was originally a manufacturer of the world's number two oil palm since 2006 has become the world's largest palm oil producer. According to the Indonesian Palm Oil Board (IPOB) production of Crude Palm Oil (CPO) and Crude Palm Kernel Oil (CPKO) Indonesia in 2010 reached 24.459 million tons or 47.9% of the total production of world’s CPO and CPKO, and in 2011 increased to 26.485 million tons. Bright prospects for oil industry making it one of Indonesia's main industry. For this bright prospects reason which prompted the government of Indonesia to develop oil palm plantations. For the last few years oil prices soar and affect the price of fossil fuels. This makes a lot of countries are seeking alternative sources of energy that is renewable bioenergy, including the government of Indonesia. Bioenergy feedstock for biodiesel, which is one of renewable bioenergy, could use palm oil which is produced in Indonesia. Utilization of palm oil as biodiesel feedstock will lead to increased demand for CPO. Thus the demand for palm oil will increase not only from the demand from the food sector but also from non-food sector. Production of biodiesel tend to respond positively to the CPO price shocks. Response of cooking oil for biodiesel production is positive and tends to increase steadily. Fluctuations in the price of cooking oil in the long run is more affected by the price of CPO than biodiesel production, but CPO is the main raw material of biodiesel so that when there is an increase in the demand for palm oil, biodiesel production will also increase. Increased demand for palm oil could trigger an increase in CPO prices so that the price of cooking oil will rise. It shows that the price of cooking oil will indirectly influenced by the production of biodiesel. The increase in cooking oil prices caused by the increase in crude palm oil prices due to the production of biodiesel can be reduced by increasing the supply of CPO either by reduction of exports and the increase in CPO production
- …
