1,720,954 research outputs found

    PEMANFAATAN LIMBAH GRANIT SEBAGAI SUBSITUSI AGREGAT KASAR DAN LIMBAH ABU BONGGOL JAGUNG SEBAGAI SUBSITUSI SEMEN PADA KUAT TEKAN BETON

    No full text
    Beton adalah material konstruksi utama yang banyak digunakan di seluruh dunia, dengan teknologi beton terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur seperti jalan, gedung, dan jembatan. Seiring meningkatnya harga material bangunan, terutama semen sebagai bahan utama beton, pencarian alternatif bahan yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan limbah granit sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung sebagai substitusi semen dalam campuran beton. Pengujian dilakukan untuk mengukur pengaruh substitusi limbah tersebut terhadap kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air. Lima variasi campuran beton dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%, LBG 5% ABJ 2%, LBG 8% ABJ 2%, dan LBG 10% ABJ 2%. Mutu rencana beton adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan tertinggi pada umur 28 hari ditemukan pada BN sebesar 23,51 MPa, sementara yang terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Nilai slump tertinggi terjadi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 15 cm, sedangkan yang terendah pada BN sebesar 12 cm. Daya serap air beton tertinggi ditemukan pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, sedangkan terendah pada BN sebesar 1,95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase substitusi limbah granit dan abu bonggol jagung, semakin rendah kuat tekan beton, semakin tinggi nilai slump, dan semakin tinggi daya serap air beton, yang dipengaruhi oleh substitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen.Beton merupakan material utama pada sebuah konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak peneliti yang melakukan riset terhadap teknologi beton untuk memenuhi kebutuhan dalam Pembangunan infrastruktur seperti konstruksi jalan, Gedung, jembatan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu nilai ekonomis salah satunya ditandai dengan meningkatnya harga material bangunan khususnya material semen yang merupakan salah satu bahan utama dalam campuran beton. Banyak penelitian yang dilakukan pada beton sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas beton dengan memanfaatkan bahan yang mudah didapat, ramah lingkungan dan harga yang ekonomis dengan cara mencari bahan lain yang dapat digunakan sebagai bahan aditif atau bahan pengganti semen pada campuran beton. Oleh karenanya dalam penelitian ini akan dilakukan metode eksperimental penggunaan limbah batu granit (LBg) sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung (ABJ) sebagai substitusi agregat semen pada beton yang bertujuan untuk mengetahui pengaruhnya pada kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air beton. Ada 5 (lima) macam trial mix yang dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%  (substitusi 3% LBG + 2% ABJ), LBG 5% ABJ 2% (substitusi 5% LBG + 2% ABJ), LBG 8% ABJ 2% (substitusi 8% LBG + 2% ABJ), dan LBG 10% ABJ 2% (substitusi 10% LBG + 2% ABJ). Mutu rencana adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil kuat tekan pada umur 28 hari tertinggi pada BN sebesar 23,51 MPa, dan terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Hasil nilai slump terendah pada BN sebesar 12 cm, dan tertinggi pada LBG 10% ABJ 2%  sebesar 15 cm. Hasil daya serap air beton tertinggi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, dan terendah pada BN sebesar 1,95%. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan substitusi 3% LBG 2% ABJ dan semakin tinggi persentase substitusi LG terhadap agregat kasar, maka kuat tekan beton semakin rendah, nilai slump semakin tinggi, dan daya serap air beton semakin tinggi karena depengaruhi oleh subsitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen

    PEMANFAATAN LIMBAH GRANIT SEBAGAI SUBSITUSI AGREGAT KASAR DAN LIMBAH ABU BONGGOL JAGUNG SEBAGAI SUBSITUSI SEMEN PADA KUAT TEKAN BETON

    No full text
    Beton adalah material konstruksi utama yang banyak digunakan di seluruh dunia, dengan teknologi beton terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur seperti jalan, gedung, dan jembatan. Seiring meningkatnya harga material bangunan, terutama semen sebagai bahan utama beton, pencarian alternatif bahan yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan limbah granit sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung sebagai substitusi semen dalam campuran beton. Pengujian dilakukan untuk mengukur pengaruh substitusi limbah tersebut terhadap kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air. Lima variasi campuran beton dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%, LBG 5% ABJ 2%, LBG 8% ABJ 2%, dan LBG 10% ABJ 2%. Mutu rencana beton adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan tertinggi pada umur 28 hari ditemukan pada BN sebesar 23,51 MPa, sementara yang terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Nilai slump tertinggi terjadi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 15 cm, sedangkan yang terendah pada BN sebesar 12 cm. Daya serap air beton tertinggi ditemukan pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, sedangkan terendah pada BN sebesar 1,95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase substitusi limbah granit dan abu bonggol jagung, semakin rendah kuat tekan beton, semakin tinggi nilai slump, dan semakin tinggi daya serap air beton, yang dipengaruhi oleh substitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen.Beton merupakan material utama pada sebuah konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak peneliti yang melakukan riset terhadap teknologi beton untuk memenuhi kebutuhan dalam Pembangunan infrastruktur seperti konstruksi jalan, Gedung, jembatan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu nilai ekonomis salah satunya ditandai dengan meningkatnya harga material bangunan khususnya material semen yang merupakan salah satu bahan utama dalam campuran beton. Banyak penelitian yang dilakukan pada beton sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas beton dengan memanfaatkan bahan yang mudah didapat, ramah lingkungan dan harga yang ekonomis dengan cara mencari bahan lain yang dapat digunakan sebagai bahan aditif atau bahan pengganti semen pada campuran beton. Oleh karenanya dalam penelitian ini akan dilakukan metode eksperimental penggunaan limbah batu granit (LBg) sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung (ABJ) sebagai substitusi agregat semen pada beton yang bertujuan untuk mengetahui pengaruhnya pada kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air beton. Ada 5 (lima) macam trial mix yang dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%  (substitusi 3% LBG + 2% ABJ), LBG 5% ABJ 2% (substitusi 5% LBG + 2% ABJ), LBG 8% ABJ 2% (substitusi 8% LBG + 2% ABJ), dan LBG 10% ABJ 2% (substitusi 10% LBG + 2% ABJ). Mutu rencana adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil kuat tekan pada umur 28 hari tertinggi pada BN sebesar 23,51 MPa, dan terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Hasil nilai slump terendah pada BN sebesar 12 cm, dan tertinggi pada LBG 10% ABJ 2%  sebesar 15 cm. Hasil daya serap air beton tertinggi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, dan terendah pada BN sebesar 1,95%. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan substitusi 3% LBG 2% ABJ dan semakin tinggi persentase substitusi LG terhadap agregat kasar, maka kuat tekan beton semakin rendah, nilai slump semakin tinggi, dan daya serap air beton semakin tinggi karena depengaruhi oleh subsitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore