4 research outputs found
Analisis Budaya Patriarki dalam Partisipasi Politik Perempuan: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2005-2020 di Kota Depok
Patriarchal culture creates gender stereotypes, limited access to political networks, and a social stigma for women who want to be involved in political activities. The gender gap is also evident in political representation where women hold a smaller percentage of political positions than men. The city of Depok, as a buffer zone for the capital city, is still thick with this culture, as evidenced by the minimal participation of women in regional elections from year to year. This study will analyze the obstacles to women\u27s political participation in Indonesia caused by patriarchal culture. The case study used is the 2005-2020 Pilkada in Depok City. This research is a qualitative - explanatory research using observation and literature studies to find a deeper understanding of the problems being faced. This study uses three main theories, namely the theory of patriarchy, political participation, and gender stereotypes. From the data that has been analyzed, the main cause of the low political participation of women in the Pilkada in Depok City from 2005-2020 is the strong patriarchal culture. Several factors cause the patriarchal culture to continue to develop in Depok City, namely gender stereotypes, low political education, double burden, and weak political party support for women during elections. This study recommends policy interventions in efforts to increase the level of education for women such as increasing women\u27s representation in political parties, increasing the level of education for women, and empowering women in various sectors such as entrepreneurship, health, and so on to eliminate patriarchal culture and increase women\u27s political participation in Indonesia. Budaya patriarki menciptakan stereotip gender, akses terbatas ke jaringan politik, dan juga stigma sosial bagi perempuan yang ingin terlibat dalam aktivitas politik. Kesenjangan gender juga terlihat dalam representasi politik, di mana perempuan memegang persentase posisi politik yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Kota Depok sebagai daerah penyangga ibu kota pun masih kental dengan budaya ini dibuktikan dengan minimnya partisipasi perempuan dalam penyelenggaran pilkada dari tahun ke tahun. Penelitian ini akan menganalisis hambatan partisipasi politik perempuan di Indonesia yang disebabkan oleh budaya patriarki. Studi kasus yang digunakan adalah pilkada tahun 2005-2020 di Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif - eksplanatif dengan menggunakan observasi dan studi literatur untuk menemukan pemahaman lebih mendalam terkait permasalahan yang sedang dihadapi. Penelitian ini menggunakan tiga teori utama yaitu teori patriarki, partisipasi politik, dan stereotip gender. Dari data yang sudah dianalisis, penyebab utama rendahnya partisipasi politik perempuan pada Pilkada di Kota Depok dari tahun 2005-2020 adalah kuatnya budaya patriarki. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan budaya patriarki terus berkembang di Kota Depok yakni stereotip gender, pendidikan politik yang rendah, beban ganda, dan lemahnya dukungan partai politik kepada perempuan saat pemilu. Penelitian ini merekomendasikan adanya intervensi kebijakan dalam upaya peningkatan taraf pendidikan terhadap perempuan seperti peningkatan representasi perempuan di partai politik, peningkatan taraf pendidikan kepada perempuan, serta pemberdayaan perempuan dalam berbagai sektor seperti wirausaha, kesehatan, dan sebagainya dalam upaya menghapus budaya patriarki dan meningkatkan partisipasi politik perempuan di Indonesia. 
Hegemoni Partai Keadilan Sejahtera Pada Pilkada Kota Depok 2020
The Prosperous Justice Party (PKS) is an Islamic-based political party that has won the Depok City Regional Election (Pilkada) four times in a row since the first Pilkada was held in the city. The consistent change in leadership in Depok raises questions about PKS’s hegemonic practices to maintain and expand its influence among the people of Depok. This research aims to identify PKS Depok’s hegemonic practices according to Antonio Gramsci’s theory, which emphasizes creating ideological consensus, the role of intellectuals, and political leadership. The study uses qualitative methods, collecting data through interviews and literature review. It is conducted in Depok, focusing on the DPD PKS Depok and the 2020 Depok City regional Election as a case study. The study concludes that Idris-Imam, PKS-backed candidates for Mayor and Vice Mayor of Depok, won the election through the dissemination of the Rahmatan Lil Alamin Islamic ideology, the role of intellectuals such as ustad, and educational institutions, as well as the religious political leadership of Kiai Idris, the former Depok Mayor.The Prosperous Justice Party (PKS) is an Islamic-based political party that has won the Depok City Regional Election (Pilkada) four times in a row since the first Pilkada was held in the city. The consistent change in leadership in Depok raises questions about PKS’s hegemonic practices to maintain and expand its influence among the people of Depok. This research aims to identify PKS Depok’s hegemonic practices according to Antonio Gramsci’s theory, which emphasizes creating ideological consensus, the role of intellectuals, and political leadership. The study uses qualitative methods, collecting data through interviews and literature review. It is conducted in Depok, focusing on the DPD PKS Depok and the 2020 Depok City regional Election as a case study. The study concludes that Idris-Imam, PKS-backed candidates for Mayor and Vice Mayor of Depok, won the election through the dissemination of the Rahmatan Lil Alamin Islamic ideology, the role of intellectuals such as ustad, and educational institutions, as well as the religious political leadership of Kiai Idris, the former Depok Mayor
FAKTOR MENINGKATNYA ALOKASI ANGGARAN KEMENTERIAN PERTAHANAN PADA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN) 2022
Anggaran merupakan komponen penting untuk menunjang jalannya pemerintahan dan negara. Dalam membuat anggaran, aspek yang harus diperhatikan adalah nilai dan kebermanfaatannya sehingga dampak yang ditimbulkan akan dapat dirasakan oleh masyarakat umum. Memasuki tahun 2020, virus Covid-19 mulai masuk ke Indonesia sehingga pada saat itu ekonomi diprediksikan akan mengalami penurunan sampai beberapa tahun kedepan. Bidang kesehatan yang bersinggungan langsung dengan permasalahan ini menjadi perhatian yang serius, karena berdampak terhadap bidang-bidang lain, khususnya bidang ekonomi dan sosial. Bidang ekonomi dan sosial menjadi yang paling relevan karena dampak yang ditimbulkan oleh virus Covid-19 dapat dirasakan langsung pada masyarakat. Namun, dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022 tercatat Kementerian Pertahanan yang memiliki anggaran terbesar meskipun permasalahan kesehatan, ekonomi, dan sosial belum selesai. Jurnal ini menggunakan metode kualitatif dari literatur dan dokumentasi dari berbagai sumber, sehingga data-data yang dihimpun dapat dipertanggungjawabkan validitas dan legalitasnya. Teori utama yang digunakan dalam jurnal ini adalah teori patron-klien, teori ini menjelaskan bagaimana hubungan antara satu orang dengan yang lain yang kedudukannya lebih tinggi. Dari data - data dan sumber-sumber yang sudah dianalisis, alokasi anggaran terhadap Kementerian Pertahanan tidak relevan dinilai dari situasi dan kondisi saat ini, terlebih anggaran Kementerian Pertahanan adalah kementerian dengan anggaran yang paling besar dalam APBN tahun 2022
Dawet Strategi Pengembangan Bisnis Minuman Tradisional: Studi Kasus Tuan Dawet Indonesia: Strategi Pengembangan Bisnis Minuman Tradisional: Studi Kasus Tuan Dawet Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh desain kemasan terhadap ketertarikan anak muda dalam membeli produk Tuan Dawet Indonesia, dengan fokus pada persepsi konsumen terhadap varian rasa, kemasan, dan promosi di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap 10 responden yang merupakan anak muda berusia 18-30 tahun, yang telah mencoba produk Tuan Dawet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain kemasan yang modern, cerah, dan menarik secara visual memainkan peran penting dalam menarik perhatian konsumen muda. Sebagian besar responden mengungkapkan bahwa kemasan yang eye-catching mendorong mereka untuk mencoba produk, sementara varian rasa yang beragam seperti coklat, thaitea, greentea, milo, dan taro memberikan daya tarik tambahan. Selain itu, promosi yang dilakukan di media sosial seperti Instagram memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, di mana konsumen merasa lebih yakin untuk membeli produk yang sudah familiar melalui interaksi dengan merek di platform digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain kemasan yang inovatif, keberagaman rasa, serta promosi di media sosial merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan Tuan Dawet Indonesia dalam menarik minat pasar anak muda
