1,721,070 research outputs found
Pembelajaran kata hubung bahasa Jepun di kalangan pelajar Indonesia dan Malaysia / Rani Arfianty
Kajian ini merupakan analisis perbandingan pembelajaran kata hubung bahasa Jepun, ~tekara (selepas), ~toki (ketika) dan ~tara (jika/bila) antara pelajar bahasa Jepun Indonesia (PBJI) dan pelajar bahasa Jepun Malaysia (PBJM). Kata hubung ~tara sebagai kata hubung bersyarat juga mempunyai makna ‘selepas’ dan ‘ketika’, tetapi peraturan penggunaannya berbeza dengan ~tekara dan ~toki. Penggunaan ‘selepas’ [~tekara], ‘ketika’ [~toki] dan ‘jika/bila’ [~tara] dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu juga tiada peraturan khusus selain daripada penggunaan dalam bentuk aspek. Kajian ini bertujuan untuk mengenal pasti keupayaan pelajar dalam memahami perbezaan penggunaan ~tekara, ~toki dan ~tara dan apakah terdapat sebarang perbezaan dalam kalangan pelajar Indonesia dan Malaysia dalam memahami konteks kata hubung berikut. Data kajian adalah hasil daripada hasil soal selidik, soalan objektif dan penyelesaian ayat oleh dua kumpulan pelajar, iaitu pelajar daripada Departemen Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara dan pelajar daripada Rancangan Persediaan Khas Jepun (RPKJ), Pusat Asasi Sains, Universiti Malaya pada tahap pembelajaran bahasa Jepun N3~N5. Dapatan kajian soal selidik Bahagian I (soalan objektif) menunjukkan bahawa lebih daripada 40% pelajar Indonesia dan Malaysia menunjukkan kekeliruan mengenal pasti penggunaan ~tekara dan ~tara. Manakala hampir 30% daripada pelajar Indonesia dan Malaysia keliru mengenal pasti ~toki dan ~tara. Seterusnya, dapatan kajian Bahagian II (soalan penyelesaian ayat) menunjukkan lebih daripada 50% pelajar Indonesia gagal untuk melengkapkan ayat ~tekara, ~toki dan ~tara, manakala 51% pelajar Malaysia gagal untuk melengkapkan ayat ~toki dan lebih dari 30% gagal untuk melengkapkan ayat ~tekara dan ~tara sesuai dengan nahu dan peraturan penggunaannya. Kedua kumpulan pelajar didapati keliru mengenal pasti penggunaan ~tekara, ~toki dan ~tara dan menghasilkan ayat yang merujuk kepada penggunaan kata hubung ~kara (kerana), ~nagara (sambil) dan ~mae ni (sebelum). Antara punca berlakunya kesilapan adalah kerana pelajar; i) cenderung menterjemahkan soalan-soalan dalam ujian ini ke dalam bahasa ibunda dan mengabaikan peraturan penggunaan ~tekara, ~toki dan ~tara yang tepat, ii) kurang faham mengenai peraturan penggunaan ketiga-tiga kata hubung yang bersesuaian dengan nahunya, dan iii) kurang teliti dan cuai ketika membaca soalan ujian yang disediakan
PROSPEK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) DI ASIA TENGGARA
2014ABSTRAKSI\ud
Irma Arfianty, E 131 10 116, Prospek Pembangunan Pembangkit Listrik\ud
Tenaga Nuklir di Asia Tenggara, dibawah bimbingan Adi suryadi selaku\ud
Pembimbing I, dan Burhanuddin selaku Pembimbing II, Jurusan Ilmu Hubungan\ud
Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.\ud
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang pembangunan Pembangkit\ud
Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia, Malaysia dan Vietnam dan Tantangan yang\ud
dihadapi sesama negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk membangun\ud
Pembangkit Listrik tenaga Nuklir di Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Dalam\ud
mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif dan\ud
teknik pengumpulan data yang digunakan penulis berupa penelitian kepustakaan\ud
dan wawancara. Untuk menganalisa data, penulis menggunakan teknik kualitatifkuantitatif\ud
dan untuk pembahasan masalah penulis menggunakan teknik penulisan\ud
induktif.\ud
Hasil penulisan ini menujukkan bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga\ud
Nuklir di Indonesia, Malaysia dan Vietnam memiliki peluang yang besar, hal ini\ud
dilihat dari tiap-tiap negara tersebut telah memiliki Undang-Undang terkait\ud
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan didukung kerjasama IAEA\ud
yang mendukung penuh pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.\ud
Tantangan yang harus Indonesia, Malaysia dan Vietnam hadapi adalah\ud
menghadapi beberapa resiko, seperti kebutuhan pendanaan, Sumber Daya\ud
Manusia dan membangun kepercayaan masyarakat atas pembangunan\ud
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir tersebut.\ud
Kata Kunci: Peluang, Tantangan, PLTN, Indonesia, Malaysia, Vietna
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
