52 research outputs found
Ekspresi dan Purifikasi Protein Inti Virus Hepatitis B (HBcAg) pada Lactococcus lactis.
Protein Inti Virus Hepatitis B (HBcAg) mempunyai kemampuan untuk
menginduksi sel B, sel T, sitotoksik sel T, respon imun dan menimbulkan respon
antibodi setelah vaksinasi. Oleh karena itu, HBcAg dapat digunakan sebagai vaksin
terapetik pada pasien Hepatitis B Virus (HBV) kronis. Vaksin terapetik dibutuhkan
untuk menstimulasi kekebalan dalam pengobatan infeksi HBV. Produksi HBcAg
rekombinan sudah dilakukan pada beberapa inang seperti Escherihia coli dan
Pichia pastoris. Namun, E. coli memiliki beberapa kelamahan untuk memproduksi
protein yaitu antara lain protein membentuk badan inklusi, memiliki hasil samping
yang bersifat endotoksin dan terkontaminasi oleh protein lain sehingga memerlukan
purifikasi yang panjang. Sementara itu P. pastoris memiliki kekurangan yaitu
membutuhkan waktu kultur yang lama (empat hari) dan menggunakan inducer
methanol yang merupakan senyawa toksik. Ekspresi HBcAg di dalam L. lactis
belum pernah dilaporkan sebelumnya. L. lactis adalah bakteri inang yang
memenuhi kriteria aman pangan dan kesehatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan gen penyandi HBcAg di
dalam sel L. lactis NZ3900. Gen HBcAg yang digunakan pada penelitian ini adalah
gen dari HBV subgenotip B3 yang merupakan subgenotip dominan di Indonesia.
Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu analisis sekuen gen HBcAg yang
tersisip di plasmid pNZ8148, optimasi waktu induksi terhadap L. lactis yang
mengandung plasmid rekombinan pNZ8148-HBcAg, dan ekspresi gen HBcAg
pada tingkat transkripsi dan tingkat translasi. Hasil analisis sekuen gen HBcAg
yang tersisip di dalam plasmid pNZ8148 dan telah diintroduksikan ke dalam bakteri
L. lactis menunjukkan tidak terdapat mutasi dan 100% identik dengan sekuen
HBcAg dari HBV subgenotip B3 (Gene bank nomor aksesi 1839 Java). Waktu
induksi yang optimum pada fase midlog adalah pada Optical Density (OD) 0.4-0.5.
Analisis ekspresi gen HBcAg tingkat transkripsi menunjukkan bahwa induksi
dengan konsentrasi nisin 10 ng/mL menghasilkan tingkat ekspresi tertinggi
dibandingkan dengan konsentrasi nisin 0, 5 dan 50 ng/mL. Induksi nisin 10 ng/mL
menghasilkan peningkatan ekspresi 4.59 kali dibandingkan dengan perlakuan yang
tidak diinduksi. Sementara analisis ekspresi gen HBcAg pada tingkat translasi
menunjukkan bahwa induksi dengan konsentrasi nisin 10 ng/mL juga menghasilkan
tingkat ekspresi tertinggi yang dapat dilihat dari analisis bobot molekul dengan SDS
PAGE, immunoblotting dan konsentrasi protein total. Purifikasi protein dengan size
exclusion chromatography telah berhasil menghasilkan protein pada ukuran 21 kDa
sesuai dengan prediksi bobot molekul protein HBcAg berdasarkan sekuen asam
amino. Induksi dengan dosis nisin 10 ng/mL adalah yang paling efisien dalam
menginduksi ekspresi protein HBcAg
Ekspresi dan Purifikasi Protein Inti Virus Hepatitis B (HBcAg) pada Inang Escherichia coli.
Hepatitis merupakan suatu peradangan pada organ hati yang dapat
disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik, kelainan sistem kekebalan tubuh,
dan infeksi mikroorganisme termasuk virus. Terdapat beberapa jenis hepatitis, yaitu
hepatitis A, B, C, D, E, dan G. Hepatitis B merupakan salah satu jenis hepatitis yang
berbahaya karena efek jangka panjangnya dapat menyebabkan sirosis dan kanker
hati. Penyakit hepatitis B tersebar di seluruh dunia dan negara berkembang seperti
Indonesia memiliki angka kejadian yang tinggi.
Virus hepatitis B memiliki dua protein struktural, yaitu hepatitis B surface
antigen (HBsAg) dan hepatitis B core antigen (HBcAg). HBsAg, anti-HBs,
HBcAg, dan anti-HBc pada serum darah merupakan beberapa penanda serologi
pada infeksi hepatitis B dan digunakan untuk diagnosa tingkat keparahan infeksi.
Protein HBcAg memiliki imunogenisitas yang tinggi dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi vaksin terapeutik bagi penyakit hepatitis B kronis.
Keragaman genetik dari virus berperan penting dalam pengembangan terapi yang
lebih efektif. Virus hepatitis B memiliki keragaman genetik yang tersebar secara
khas di dunia. Virus hepatitis B subgenotipe B3 merupakan tipe virus hepatitis B
yang dominan di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mensintesis protein HBcAg virus hepatitis B subgenotipe B3 pada
inang Escherichia coli sebagai kontribusi terhadap pengembangan vaksin
terapeutik hepatitis B di Indonesia.
Ekspresi protein rekombinan HBcAg menghasilkan produk berupa protein
fusi (Thioredoxin–His(6)tag–HBcAg). Plasmid pET32a-HBcAg diintroduksikan ke
E. coli BL21 (DE3) pLysS. Konfirmasi keberhasilan transformasi dilakukan
menggunakan seleksi antibiotik, PCR koloni, pemotongan gen dengan enzim
restriksi, dan sekuensing nukleotida. Transforman ditumbuhkan pada media Luria-
Bertani (LB) yang mengandung antibiotik ampisilin dengan agitasi. Induksi
ekspresi protein rekombinan HBcAg dilakukan dengan penambahan isopropyl-β-
D-thiogalactopyranoside (IPTG). Lisis sel dilakukan menggunakan metode bekucair
yang dilanjutkan dengan sonikasi. Protein fusi yang dihasilkan dipurifikasi
menggunakan kromatografi afinitas logam dengan resin TALON® Clontech. Bobot
molekul protein fusi diperkirakan menggunakan perangkat lunak DNAMAN versi
9 dan dianalisis menggunakan Sodium Dodecyl Sulfate-Polyacrylamide Gel
Electrophoresis (SDS-PAGE), analisis dot-blot, dan analisis western-blot. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa protein HBcAg berhasil diekspresikan dengan
pada inang E. coli (DE3) pLysS dalam bentuk protein fusi yang soluble dengan
bobot molekul sekitar 38.5 kDa. Ekspresi protein rekombinan optimum dengan
penambahan 0.3 mM IPTG dan purifikasi optimum dilakukan menggunakan
larutan buffer pH 8
Penghambatan Enteropatogenik Escherichia Coli (Epec) K11 Oleh Plantarisin E Rekombinan Dengan Perlakuan Edta
Bakteri Enteropatogenik Eschericia coli (EPEC) tergolong dalam bakteri
gram negatif termasuk salah satu penyebab penyakit diare. Pengobatan secara
umum dilakukan menggunakan antibiotik, namun EPEC K11 mengalami resitensi
antibiotik sehingga diperlukan alternatif pengobatan lain. Salah satu alternatifnya
adalah peptida antimikroba dari golongan bakteriosin dihasilkan oleh Lactococcus
lactis pNZ 8148 Pln E, yaitu plantarisin E rekombinan. Aktivitas antimikroba
plantarisin terhadap bakteri gram negatif dapat ditingkatkan dengan penambahan
agen pengkelat seperti EDTA. Penelitian ini bertujuan menguji potensi antimikroba
plantarisin E rekombinan terhadap penghambatan EPEC K11 dengan penambahan
EDTA. Metode yang dilakukan meliputi produksi plantarisin dengan
menumbuhkan Lactococcus lactis pNZ 8148 Pln E pada media M17 glukosa. Uji
aktivitas plantarisin dilakukan secara kualitatif berdasarkan metode difusi agar.
Purifikasi plantarisin menggunakan amonium sulfat dan kolom SP Sepharose.
Plantarisin hasil purifikasi ditambahkan EDTA sebanyak 1% v/v dengan berbagai
macam konsentrasi dari 1 mM, 5 mM, 10 mM dan 20 mM. Hasil produksi
plantarisin diperoleh 200 ml supernatan bebas sel. Hasil purifikasi dengan kolom
SP Sepharose menunjukan aktivitas plantarisin sebesar 28.62 AU/mg dengan
kandungan total protein sebesar 3.93 mg. Penurunan aktivitas plantarisin akibat
pemurnian sebesar 56.25 %. Hasil SDS PAGE menunjukan bobot molekul
plantarisin E adalah 3.7 kDa. Perlakuan penambahan EDTA memperlihatkan
peningkatan aktivitas penghambatan sebesar 0.5 hingga 4 mm
Pengaruh pemberian Plantarisin sebagai alternatif penggunaan Antibiotic Growth Promoter dalam pakan terhadap status kesehatan Ayam Broiler
keberhasilan suatu peternakan. Plantaricin adalah antimikroba yang memiliki
karakter sama seperti antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui efek dari penambahan plantarisin dalam pakan terhadap status
kesehatan ayam pedaging. Parameter yang diamati adalah total leukosit,
diferensial leukosit, total eritrosit, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan
dan 4 ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah penambahan plantaricin
sebanyak 0%, 0.05%, 0.1%, dan 0.15%. Penambahan plantaricindalam pakan
tidak mempengaruhi parameter dan masih dalam keadaan normal, yang mana
membuktikan bahwa ayam berada pada kondisi kesehatan yang baik. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah penambahan plantaricin dalam pakan tidak
mempengaruhi kesehatan dan metabolisme ayam dan dapat dijadikan sebagai
alternatif penggunaan antibiotik dalam pakan
Potensi Plantarisin F Rekombinan Dengan Penambahan Edta Dalam Menghambat Salmonella Sp. 38
Salmonella sp. 38 tergolong dalam bakteri gram negatif, yang diisolasi dari feses anak-anak penderita diare. Penggunaan antibiotik untuk pengobatan diare dapat menimbulkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif pengobatan lain. Plantarisin F rekombinan yang dihasilkan Lactococcus lactis pNZ8148 Pln F dapat menjadi alternatif antibakteri alami. Aktivitas antibakteri plantarisin F terhadap bakteri gram negatif dapat ditingkatkan dengan penambahan EDTA. Penelitian ini bertujuan menguji potensi antibakteri plantarisin F rekombinan dengan penambahan EDTA terhadap Salmonella sp. 38. Metode awal adalah memproduksi plantarisin dengan menumbuhkan L. lactis pNZ8148 rekombinan F pada media M17 glukosa. Uji aktivitas antimikroba plantarisin dilakukan secara kualitatif menggunakan metode difusi agar. Purifikasi plantarisin menggunakan amonium sulfat 80% dan kolom filtrasi Sephadex G50. Sampel hasil purifikasi diukur bobot molekul proteinnya menggunakan elektroforesis SDS-PAGE. Plantarisin hasil produksi dan purifikasi diukur konsentrasi proteinnya menggunakan BCA kit. Sampel hasil purifikasi ditambahkan EDTA dengan konsentrasi 1 mM, 5 mM 10 mM dan 20 mM. Hasil produksi diperoleh 200 mL supernatan bebas sel. Hasil purifikasi dengan amonium sulfat 80% menunjukkan aktivitas plantarisin sebesar 14,78 AU/mg dengan kandungan protein sebanyak 13,54 mg. Hasil purifikasi dengan kolom filtrasi Sephadex G-50 menunjukkan aktivitas plantarisin sebesar 22,01 Au/mg dengan kandungan protein sebanyak 5,77 mg. Hasil pengukuran menggunakan elektroforesis SDS-PAGE 16% menunjukan bobot molekul plantarisin F adalah 3,85 kDa. Penambahan 20 mM EDTA pada plantarisin F rekombinan memperlihatkan peningkatan aktivitas antibakteri paling tinggi
Konstruksi dan Ekspresi Gen Penyandi Merozoite Surface Protein-1 Plasmodium yoelii pada Vektor Ekspresi pET32a.
Merozoite surface protein-1 (MSP-1) merupakan protein yang terdapat dalam fase aseksual semua spesies Plasmodium dan berperan dalam invasi eritrosit oleh parasit malaria. Protein ini berpotensi sebagai kandidat vaksin malaria, dan penelitian ini bertujuan mengkonstruksi gen msp1 sintetik Plasmodium yoelii ke dalam vektor ekspresi pET32a serta mengekspresi protein MSP-1 dengan induksi IPTG. Gen msp1 sintetik yang diperbanyak melalui teknik PCR diligasikan ke dalam vektor pET32a dan dipropagasi di dalam inang E. coli TOP10. Transforman positif yang telah diverifikasi dimasukan ke E. coli BL21(DE3). Analisis pola restriksi terhadap plasmid hasil konstruksi menunjukkan adanya dua pita yang masing-masing berada di ukuran ~300 bp untuk gen msp1 dan 5900 bp untuk plasmid pET32a. Hasil sequencing menunjukkan adanya gen msp1, namun urutan basa vektor bersifat asing. Ekspresi protein dengan menggunakan IPTG konsentrasi 0.1 mM, 0.3 mM, dan 0.5 mM menghasilkan protein target, yakni MSP-1 yang terfusi dengan tioredoksin, yang berukuran total sekitar 28 kDa. Uji dot blot dengan antibodi monoklonal MSP-1 juga menunjukkan hasil yang positif
Rekayasa Plasmid Rekombinan pNZ8148 dengan Gen Penyandi Interferon α-2b pada Lactococcus lactis.
Inang ekspresi genhuman interferon α-2b (IFN) saat ini masih memiliki
tingkat keamanan yang rendah serta proses ekspresi yang rumit. Lactococcus
lactisdan vektor pNZ8148 bersifat aman dan mutu-pangansehinggacocok sebagai
kandidat inang ekspresi gen IFN. Penelitian ini bertujuan mengintroduksi gen IFN
pada Lactococcus lactis menggunakan vektor pNZ8148 dengan metode
elektrotransfer. Gen IFN berhasil diisolasi dan dikonstruksi dengan plasmid
pNZ8148 menjadi plasmid pNZ8148-IFN. Sel transforman Escherichia coli
sebagai inang kloning dan Lactococcus lactis sebagai inang ekspresi berhasil
disisipi plasmid pNZ8148-IFN.Plasmid pNZ8148-IFN memiliki ukuran 4028 bp.
Sekuens protein dari gen IFN pada plasmid pNZ8148-IFN menunjukkan tidak
terjadinya mutasi
Produksi, Potensi, dan Karakterisasi Plantarisin dari Lactobacillus plantarum S34 secara in vivo pada mencit ddY.
Resistensi antibiotik merupakan permasalahan yang timbul akibat kesalahan
penggunaan antibiotik yang tidak tepat sehingga mikroorganisme dapat
menyesuaikan diri untuk bertahan hidup. Beberapa mikroorganisme dilaporkan
memiliki resistensi terhadap lebih dari satu jenis antibiotk/multiple drug resistence
(MDR). Di Indonesia, keberadaan bakteri yang telah memiliki resistensi terhadap
antibiotik telah ditemukan, seperti pada golongan Staphylococcus, Pseudomonas,
Proteus, Shigella, Klebsiella, Escherichia, dan Salmonella. Berbagai upaya
dilakukan untuk menangani kasus yang disebabkan oleh bakteri MDR, seperti
bakteriofag maupun ekstrak kasar plantarisinlorasi bahan berpotensi antimikrob,
salah satunya adalah peptida antimikrob seperti plantarisin.
Penelitian mengenai plantarisin yang berasal dari Lb. plantarum telah
dilakukan sebelumnya dengan mengisolasi Lb. plantarum S34 dari bekasam.
Aktivitas antimikrob plantarisin diketahui mampu menghambat pertumbuhan
mikroorganisme, seperti Escherichia coli, Listeria innocua, Micrococcus luteus,
Enterococcus casseliflavus, Lactococcus lactis lactis, dan Lactobacillus plantarum.
Aktivitas antimikrob yang lebar ini menjadikan plantarisin sebagai kandidat
senyawa antimikrob yang baru. Sebagai kandidat antimikrob baru, pengujian
terhadap keamanan dan efektivitas antimikrob plantarisin S34 baik secara in vitro
maupun in vivo harus dilakukan. Pada penelitian ini pengujian terhadap keamanan
plantarisin dilakukan secara in vivo dengan pengamatan selama 48 jam dengan
dosis 50, 100, 1000, dan 5000 mg/kgBB.
Identifikasi berat molekul menggunakan SDS-PAGE menunjukkan adanya
pita pada posisi 7.34 kDa dan 5.82 kDa. Protein dengan bobot <10 kDa ini diduga
merupakan plantarisin tipe II. Dua buah pita yang muncul diduga sebagai
plantarisin EF dan JK. Pita pada posisi 7.34 yang diduga sebagai plantarisin EF juga
mirip dengan total bobot molekul dari plantarisin E yang sebesar 3.75 kDa dan
plantarisin F sebesar 3.86 kDa. Sedangkan pita dengan ukuran 5.82 memiliki
ukuran yang hampir sama dengan berat molekul plantarisin JK jika dihitung
menggunakan rata-rata bobot molekul asam amino. Pengujian terhadap aktivitas
ekstrak kasar plantarisin menunjukkan aktivitas yang kuat terhadap EPEC K1.1 dan
S. aureus, aktivitas baik terhadap S.typhimurium dan Proteus, dan lemah terhadap
S. typhosa
Hasil pengujian terhadap toksisitas ekstrak kasar plantarisin S34 tidak
menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Penurunan maupun kenaikan
yang dialami mencit masih berada pada rentang normal mencit. Pengamatan
terhadap kadar biokimia darah ureum dan kadar SGPT. Kenaikan kadar ureum
dapat diakibatkan oleh pemecahan secara enzimatik ekstrak kasar plantarisin S34
oleh enzim proteolitik. Pemecahan protein ini menghasilkan urea maupun amoniak
pada darah yang akan dibuang melalui feses maupu urin. Kadar SGPT meningkat
dapat dikarenakan adanya aktivitas penguraian oleh enzim proteolitik yang
dihasilkan oleh hati. Namun demikian, peningkatan kadar SGPT masih dalam taraf
5
normal sehingga tidak menunjukkan adanya kelainan pada fungsi organ hati.
Pengamatan terhadap organ ginjal maupun hati tidak menunjukkan adanya
kerusakan yang diakibatkan oleh pemberian ekstak kasar plantarisin S34.
Pemberian ekstrak kasar plantarisin S34 menunjukkan tidak ada gejala toksisitas
baik secara analisis hematologi maupun hstopatologi hingga dosis 5000 mg/kgBB
Identifikasi Molekuler dan Deteksi Aktivitas Proteolitik dari Isolat Lokal Mikroalga LR50
Mikroalga merupakan salah satu keanekaragaman hayati laut dari perairan
Indonesia. Mikroalga LR50 merupakan mikroalga yang diisolasi dari daun bakau
Rhizophora sp. yang berlokasi di Lampung Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi mikroalga LR50 secara molekuler, menentukan aktivitas
proteolitik secara kualitatif dan kuantitatif, dan karakterisasi enzim proteolitik
terhadap pH dan suhu. Tahap penelitian meliputi, peremajaan isolat mikrolaga
LR50, identifikasi molekuler, dan deteksi aktivitas proteolitik. Hasil identifikasi
molekuler menunjukkan bahwa spesies mikroalga LR50 teridentifikasi sebagai
Aurantiochytrium sp. Mikroalga LR50 memiliki potensi menghasilkan aktivitas
proteolitik. Aktivitas proteolitik maksimal dari ekstrak kasar enzim sebesar
22,76±0,63 U/mL. Karakteristik enzim ini optimum pada pH 4 dan suhu 30oC
Uji Pendahuluan Sifat Probiotik dan Aktivitas Antioksidan L. plantarum S34 sebagai Kandidat Probiotik
Bakteri probiotik yang akan masuk ke dalam tubuh harus memiliki
karakteristik tertentu agar bisa bertahan dan menjalankan fungsinya di dalam saluran
pencernaan. Sampai saat ini, sebagian besar probiotik berasal dari berbagai spesies
Lactobacillus dengan sifat probiotik yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini
adalah melakukan uji pendahuluan sifat probiotik terhadap L. plantarum S34 yang
diisolasi dari fermentasi daging sapi (bekasam) serta mengidentifikasi aktivitas
antioksidan. L. plantarum S34 diuji terhadap kondisi pH saluran pencernaan, garam
empedu, serta aktivitas antibakteri. Uji antibakteri dilakukan menggunakan difusi
sumur. Hasil uji L. plantarum S34 terhadap pH 1.5, 2, 3, 5, dan 7 menunjukkan
persentase ketahanan sebesar 84.2%, 95%, 96.4%, 102.9%, dan 103.5%. Persentase
ketahanan terhadap garam empedu 0.15%, 0.3%, dan 0.45% yaitu sebesar 95.3%,
90.3%, dan 89.5%. Aktivitas antioksidan L. plantarum S34 paling tinggi yaitu
sebesar 32.21%. L. rhamnosus FNCC0052 digunakan sebagai bakteri pembanding
- …
