1,721,146 research outputs found

    ~HOUGA II SEBAGAI PEMARKAH MODALITAS TOUI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語の文における「~方がいい」という当為モダリティ

    Full text link
    ABSTRACT Savitri, Rizky Anggraeni Dian. 2015. ““~Houga ii Sebagai Pemarkah Modalitas Toui dalam Kalimat Bahasa Jepang”. Thesis, Departement of Japanese Studies Faculty of Humanities. Diponegoro University. The First Advisor Elizabeth IHANR, S.S, M.Hum. Second Advisor Maharani P. Ratna, S.S, M.Hum. In writing this thesis, the writer discussed about ‘~Houga ii as Modalities Toui In Japanese Sentence’. The writer took this theme to examine how the structure and meaning of houga ii. The purpose of this research is to describe the structure and meaning of houga ii in Japanese sentences. The method that used in this research is “agih” method. “Agih” method is data analysis method which is using part of the relevant language as the determination tool. Primary data that is used in this research is Haruki Murakami's novel ‘1Q84’. Besides, the data came from a song and the internet (Japanese web). Houga ii has a basic structure ~yori ~houga ii, which has functions as a comparison between two different things. Houga ii can be used together with adjective, noun, and verb. Verbs that can be used with houga ii is past tense, dictionary form and negative form. Houga ii also has a variation of a question form, those question words are ‘dochira’ and ‘izure’. There is also a variety of forms, that is houga yokatta. Houga ii has the basic meanings 'advice’ or ‘comparison'. In Indonesian, houga ii has meaning 'sebaiknya’ or ‘lebih baik'. Advice meaning can be used to suggest ourselves, interlocutors/listener, or for the general case. Houga ii can also indicate of a regret and dissatisfaction. Keywords : Modalitas, toui, houga ii

    MODEL HAZARD RATIO UNTUK ANALISIS KETAHANAN HIDUP PASIEN KANKER PARU-PARU

    No full text
    terpenuhi maka model berubah-ubah tergantung waktu dan dikatakan nonproportional hazard. Dalam penelitian kali ini dalam memodelkan nonproportional hazard dilakukan dengan menggunakan model hazard ratio, kemudian dalam mengestimasi parameter dilakukan dengan membandingkan tiga metode pendekatan yaitu metode exact, metode Efron dan metode Breslow. Dari hasil tiga pendekatan estimasi tersebut kemudian diambil model yang terbaik dengan melihat nilai AIC yang terkecil. Perbandingan yang diperoleh dari tiga metode pendekatan estimasi yaitu metode exact, metode Efron dan metode Breslow didapatkan hasil metode exact yang memberikan estimasi terbaik dengan nilai AIC terkecil. Setelah dilakukan estimasi parameter kemudian dilakukan pembetukan model. Kemudian dari kombinasi sepuluh variabel didapatkan satu model terbaik hazard ratio

    ANALISIS HUBUNGAN ANTARA FINANCIAL DISTRESS DAN KEPUTUSAN KEBIJAKAN DIVIDEN OMISI (Studi Kasus : Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI 2010-2016)

    No full text
    Financial distress merupakan kondisi dimana perusahaan mengalami kerugian atau kehilangan. Kondisi yang paling mudah dilihat apakah suatu perusahaan berada dalam kondisi financial distress adalah adanya keputusan kebijakan dividen omisi. Menurut Utami (2002) dividen omisi diartikan sebagai kebijakan perusahaan untuk menghapus pembayaran dividen untuk pertama kalinya dalam kurun 2-5 tahun pembayaran berturut-turut. Faktor yang diduga berpengaruh terhadap durasi waktu antara perusahaan mengalami financial distress dan kemunculan dividen omisi antara lain likuiditas, leverage, profitabilitas, free cash flow, dan size perusahaan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari setiap faktor dan mengetahui pengaruh dari variabel yang signifikan terhadap durasi antara perusahaan mengalami financial distress dan kemunculan dividen omisi waktu serta bentuk model hazard ratio. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak manajemen suatu perusahaan tentang seberapa besar pengaruh faktor rasio likuiditas, leverage, profitabilitas, free cash flow, dan size terhadap waktu antara perusahaan mengalami financial distress dan munculnya dividen omisi

    Analisis Ketahanan Hidup Pasien Kanker Paru Menggunakan Regresi Weibull

    No full text
    Kanker paru adalah penyakit yang menyerang organ pernapasan akibat adanya pertumbuhan sel yang tidak normal. Kanker paru merupakan salah satu penyakit yang sulit dideteksi karena gejalanya tidak mudah ditemukan. Sebagian besar penyakit kanker paru-paru yang terdeteksi telah berada dalam stadium lanjut, sehingga mempersulit peluang penyembuhan yang ada dan menyebabkan tingkat risiko kematian yang besar. Pasien penderita kanker paru memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah. Adapun dalam ilmu statistika faktor-faktor yang mempengaruhi waktu ketahanan hidup pasien kanker paru-paru dapat dikaji menggunakan analisis tahan hidup. Menurut Collet (2003), analisis tahan hidup merupakan suatu metode statistika yang digunakan untuk menguji kemampuan suatu sampel percobaan hingga muncul suatu kejadian yang ditentukan oleh peneliti. Model parametrik adalah suatu model ketahanan hidup dengan waktu tahan hidup individu mengikuti asumsi distribusi tertentu. Model regresi parametrik yang paling banyak digunakan adalah regresi Weibull karena distribusi Weibull bersifat fleksibel. Distribusi Weibull bersifat fleksibel diakibatkan oleh adanya shape parameter yang menentukan perubahan bentuk dari kurva hazard. Pada penelitian ini, dilakukan uji asumsi kesesuaian data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan diperoleh data pasien kanker paru dapat diasumsikan mengikuti distribusi Weibull. Pemodelan regresi Weibull berdasarkan nilai AIC terkecil dari seluruh kombinasi variabel yang diduga berpengaruh terhadap model. Model terbaik regresi Weibull terdiri dari variabel jenis kelamin, umur, LED, dan status terapi. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap waktu ketahanan hidup pasien kanker paru adalah LED

    Analisis Perbandingan Metode Machine Learning: Random Forest dan Support Vector Machine Untuk Deteksi Kanker Paru-Paru

    Full text link
    Kanker paru-paru merupakan penyakit dengan adanya pertumbuhan sel tidak terkontrol pada jaringan paru-paru. Kanker paru-paru dapat menyerang siapa saja dan sering tidak menimbulkan gejala awal, maka perlu adanya deteksi kanker. Penelitian ini tentang deteksi kanker menggunakan Algoritma Data Mining dengan metode machine learning Random Forest dan Support Vector Machine (SVM). Random Forest diawali dengan teknik klasifikasi dasar decision tree. Sesuai dengan namanya, konsep metode klasifikasi ini menciptakan sebuah hutan (forest) dengan sejumlah pohon (tree) secara acak (random). Sedangkan konsep metode klasifikasi SVM menjelaskan bagaimana upaya sederhana untuk menemukan fungsi pemisah terbaik (hyperplane). Dasarnya SVM bekerja dengan prinsip linier classifier, kemudian dikembangkan untuk dapat bekerja pada kasus non linear dengan menggunakan konsep kernel pada ruang kerja berdimensi tinggi. Hasil klasifikasi Random Forest menghasilkan akurasi sebesar 90,32%. Sedangkan, hasil klasifikasi SVM menghasilkan akurasi sebesar 87,10%. Supaya dapat menampilkan visualisasi dari hasil klasifikasi masing-masing metode pada ruang 2D maka penelitian ini menggunakan PCA (Principal Component Analysis). PCA juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan akurasi dalam sebuah metode klasifikasi, dapat dilihat pada metode Random Forest menggunakan PCA menghasilkan akurasi sebesar 100% dan metode SVM menggunakan PCA menghasilkan akurasi sebesar 93,47%. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan perbandingan akurasi di antara metode-metode klasifikasi yang sudah di analisis seperti metode Random Forest, SVM, PCA-Random Forest, dan PCA-SVM. Di antara empat metode tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa metode PCA-Random Forest menghasilkan tingkat akurasi tertinggi sebesar 100%. Artinya, metode tersebut sangat baik dalam mengelompokkan kelas orang normal dan kelas orang terdiagnosis kanker paruparu tanpa adanya misklasifikasi. Visualisasi hasil klasifikasi Random Forest dan SVM mampu memperlihatkan berapa jumlah orang yang normal, jumlah orang yang terdiagnosis kanker paru-paru dan jumlah data yang misklasifikasi

    Principal Component Regression dan ARIMA pada Teknik Statistical Downscaling untuk Peramalan Curah Hujan di Kabupaten Jember

    No full text
    Penggunaan teknik statistical downscaling dengan model Principal Component Regression (PCR) untuk peramalan curah hujan bulanan di wilayah Kabupaten Jember memiliki korelasi di atas 70%, serta nilai RMSE pada masing-masing 4 kluster yaitu: 80,41; 101,35; 87,41, dan 83,16. Series residual pada model PCR dimodelkan menggunakan model ARIMA dan diperoleh model terbaik yaitu ARIMA(1,0,0). Adapun manfaat penambahan model ini ke dalam model PCR yaitu dapat mengecilkan nilai RMSE. Nilai RMSE pada masing-masing 4 kluster ialah: 77,60; 97,49; 83,08; 79,65. Sementara itu tidak terdapat perubahan signifikan pada nilai korelasi

    Perbandingan Model Cox Proportional Hazard Dan Model Accelerated Failure Time Pada Penderita Stroke

    No full text
    Stroke merupakan penyakit tidak menular yang timbul semata-mata disebabkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan muncul secara mendadak tanpa ada gejala dini. Penyakit stroke dipengaruhi banyak faktor, adapun dalam ilmu statistika faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan hidup pasien stroke dapat dikaji menggunakan analisis survival. Analisis survival atau dikenal sebagai analisis ketahanan hidup merupakan prosedur statistika untuk menganalisis data berupa waktu antar kejadian. Beberapa variasi dari model survival dapat digunakan untuk menduga pengaruh dari faktor survival pada pasien stroke, salah satunya adalah model cox proportional hazard dan model accelerated failure time. Cox proportional hazard memiliki keuntungan yang lebih dari model accelerated failure time karena tidak memerlukan pengecekan asumsi-asumsi mengenai kelayakan bentuk distribusi seperti yang diharuskan pada model accelerated failure time, akan tetapi model cox proportional hazard tidak selalu lebih baik dari model accelerated failure time. Penelitian kali ini dilakukan dengan perbandingan model cox proportional hazard dan model accelerated failure time (distribusi weibull, eksponensial, log-normal, log-logistik dan gamma) untuk mengetahui apakah kondisi atau tipe data lebih baik digunakan pada model cox proportional hazard atau model accelerated failure time. Perbandingan model cox proportional hazard dan model accelerated failure time dengan mempertimbangkan nilai AIC dan cox-snell residuals diperoleh bahwa model accelerated failure time berdistribusi log-normal lebih baik dibandingkan dengan model lainnya

    ANALISIS SURVIVAL DENGAN MODEL REGRESI COX PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI RUMAH SAKIT PERKEBUNAN JEMBER KLINIK

    No full text
    Dari 100 pasien DBD yang dirawat inap di RS Perkebunan Jember Klinik, rata-rata mengalami perbaikan kondisi klinis dalam waktu 3 hari, dengan pasien dalam kelompok usia produktif (15 – 59 tahun) sebanyak 53 orang atau 12,8% lebih banyak dari pasien dalam kelompok usia muda (0 – 14 tahun) dan pasien yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 58 orang atau 38,1% lebih banyak dari pasien yang berjenis kelamin perempuan. Rata-rata kadar hemoglobin dan hematokrit pasien DBD pada saat awal masuk rawat inap masing-masing berturut-turut 13,55 gr/dL dan 41,02 %, sementara saat dilakukan rekam medis terakhir rata-rata hemoglobin dan hematokritnya masing-masing adalah 12,94 gr/dL dan 39,28 %. Pada saat awal masuk rawat inap terdapat 17 pasien yang jumlah trombositnya di normal (150.000 – 400.000/mm3), sementara saat rekam medis terakhir terdapat 36 pasien yang jumlah trombositnya di normal. Jadi, ada peningkatan 111,8 % jumlah pasien dengan kadar trombosit normal, yang artinya pada saat rekam medis terakhir terjadi perbaikan kondisi klinis pasien DBD. 2. Variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap laju perbaikan kondisi klinis pasien DBD adalah usia dan trombosit, sementara variabel jenis kelamin, hemoglobin dan hematokrit pengaruhnya tidak signifikan. 3. Berdasarkan nilai hazard ratio yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa dari 100 pasien DBD yang dirawat inap di RS Perkebunan Jember Klinik menunjukkan bahwa pasien yang usianya lebih tua atau pasien yang jumlah trombosit normal lebih cepat untuk mengalami perbaikan kondisi klinis dibandingkan dengan pasien yang usianya lebih muda atau pasien yang jumlah trombositnya di bawah normal

    PENERAPAN ALGORITMA POSSIBILISTIC FUZZY C-MEANS (PFCM) PADA PENGELOMPOKAN TINGKAT PENYAKIT ANEMIA

    No full text
    Penelitian dilakukan dalam beberapa langkah. Langkah pertama ialah studi pustaka tetang penyakit anemia beserta indikator tingkat anemia. Langkah ketiga ialah pengambilan dan pengumpulan data. Data yang digunakan pada tugas akhir ini ialah data sekunder yang diambil dari Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak Tulungagung berupa data tes uji darah pasien pada jenis kelamin laki-laki atau perempuan dengan kriteria usia atau umur, jumlah hemoglobin, jumlah eritrosit, leukosit, dan trombosit. Data yang diambil sebanyak 60 pasien laki-laki dan 86 pasien perempuan yang mewakili setiap tingkat penyakit anemia yaitu ringan, sedang, dan berat. Langkah ketiga ialah penerapan penerapan metode Fuzzy C-Means (FCM), penerapan metode Possibilistic C-Means (PCM), dan metode Possibilistic Fuzzy C-Means (PFCM) untuk mengelompokkan tingkat penyakit anemia. Langkah keempat ialah evaluasi metode dengan mencari nilai rasio dimana () simpangan baku dalam kelompok dan () simpangan baku antar kelompok. Jika rasio tersebut semakin kecil maka metode yang digunakan mempunyai kinerja yang baik. Langkah terakhir ialah mengetahui hasil kelompok tingkat anemia dengan metode Possibilistic Fuzzy C-Means (PFCM) serta membandingkan hasilnya dengan metode Fuzzy C-Means (FCM) dan metode Possibilistic C-Means (PCM). Algoritma Possibilistic Fuzzy C-Means (PFCM) pada pengelompokkan tingkat penyakit anemia merupakan algoritma yang sama baiknya dengan algoritma Fuzzy C-Means (FCM). Jika dibandingkan dengan metode PCM algoritma PFCM merupakan algoritma yang lebih baik karena nilai rasio yang dihasilkan oleh algoritma PCM lebih kecil dari pada nilai rasio yang dihasilkan oleh algoritma PFCM maupun FCM. Pada algoritma PFCM kelompok yang terbentuk sama dengan kelompok yang terbentuk pada algoritma FCM yaitu 10 % dari total jumlah pasien laki-laki terjangkit anemia tingkat ringan dengan pasien sebanyak 6 pasien, 41,6667 % terjangkit anemia tingkat sedang dengan jumlah pasien sebanyak 25 pasien sedangkan untuk tingkat anemia berat terdapat 48,3333 % dengan jumlah pasien sebanyak 29 pasien sedangkan pada pasien perempuan terdapat 27,907 % dari total jumlah pasien perempuan terjangkit anemia tingkat ringan dengan jumlah pasien sebanyak 24 pasien, 44,186 % terjangkit anemia tingkat sedang dengan jumlah pasien sebanyak 38 pasien dan terdapat 27,907 % dari total jumlah pasien perempuan terjangkit anemia tingkat berat dengan jumlah pasien sebanyak 24 pasien
    corecore