1,724,798 research outputs found

    Studi Semiotika Roland Barthes Pada Film “12 Certa Glen Anggara”

    Get PDF
    Film “12 Cerita Glen Anggara” menceritakan tentang Glen Anggara yang bertemu dengan Shena, seorang gadis yang memiliki 12 daftar keinginan yang ingin dicapai sebelum penyakit yang diderita Shena semakin parah. Tujuan dari penelitian ini, untuk menganalisis pemaknaan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam film “12 Cerita Glen Anggara” karya Luluk HF. Film ini dipilih karena menyuguhkan beragam nilai kehidupan yang tersembunyi di balik narasi remaja dan kisah romansa, seperti nilai kekeluargaan, persahabatan, serta kepedulian sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif deskripti. Data diperoleh dari tuturan dan adegan dalam film “12 Cerita Glen Anggara” yang dianalisis menggunakan tiga lapisan pemaknaan Barthes: denotatif (makna literal), konotatif (makna emosional/budaya), dan mitos (makna ideologis).  Sumber data penelitian ini berasal dari film 12 Cerita Glen Anggara yang ditayangkan pada aplikasi netflix sejak tanggal 23 Januari 2023. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa simak, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan beberapa data berupa tuturan dan adegan yang masing-masing memuat pemaknaan mendalam yang mencerminkan pandangan budaya dan nilai-nilai sosial masyarakat. Melalui kajian ini, dapat disimpulkan bahwa film 12 Cerita Glen Anggara tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga sarat makna simbolik yang layak dikaji secara semiotik untuk memahami pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan kepada penonton. Abstract The movie “12 Stories of Glen Anggara” tells the story of Glen Anggara who meets Shena, a girl who has 12 wish lists to achieve before Shena's illness gets worse. The purpose of this study is to analyze the semiotic meaning of Roland Barthes which includes the meaning of denotation, connotation, and myth contained in the film “12 Stories of Glen Anggara” by Luluk HF. This movie was chosen because it presents a variety of life values hidden behind teenage narratives and romance stories, such as family values, friendship, and social care. The approach used in this research is descriptive qualitative type. Data were obtained from speech and scenes in the film “12 Stories of Glen Anggara” which were analyzed using Barthes' three layers of meaning: denotative (literal meaning), connotative (emotional/cultural meaning), and mythical (ideological meaning).  The data source of this research comes from the movie 12 Stories of Glen Anggara which was aired on the netflix application since January 23, 2023. By using data collection techniques in the form of listening, recording, and documentation techniques. Data analysis techniques are done by data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study found some data in the form of speech and scenes, each of which contains deep meaning that reflects the cultural views and social values of society. Through this research, it can be concluded that the movie 12 Stories by Glen Anggara is not only an entertainment spectacle, but also full of symbolic meanings that deserve to be studied semiotically to understand the hidden messages that want to be conveyed to the audience.Film “12 Cerita Glen Anggara” menceritakan tentang Glen Anggara yang bertemu dengan Shena, seorang gadis yang memiliki 12 daftar keinginan yang ingin dicapai sebelum penyakit yang diderita Shena semakin parah. Tujuan dari penelitian ini, untuk menganalisis pemaknaan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam film “12 Cerita Glen Anggara” karya Luluk HF. Film ini dipilih karena menyuguhkan beragam nilai kehidupan yang tersembunyi di balik narasi remaja dan kisah romansa, seperti nilai kekeluargaan, persahabatan, serta kepedulian sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif deskripti. Data diperoleh dari tuturan dan adegan dalam film “12 Cerita Glen Anggara” yang dianalisis menggunakan tiga lapisan pemaknaan Barthes: denotatif (makna literal), konotatif (makna emosional/budaya), dan mitos (makna ideologis).  Sumber data penelitian ini berasal dari film 12 Cerita Glen Anggara yang ditayangkan pada aplikasi netflix sejak tanggal 23 Januari 2023. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa simak, catat, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan beberapa data berupa tuturan dan adegan yang masing-masing memuat pemaknaan mendalam yang mencerminkan pandangan budaya dan nilai-nilai sosial masyarakat. Melalui kajian ini, dapat disimpulkan bahwa film 12 Cerita Glen Anggara tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga sarat makna simbolik yang layak dikaji secara semiotik untuk memahami pesan-pesan tersembunyi yang disampaikan kepada penonton. Abstract The movie “12 Stories of Glen Anggara” tells the story of Glen Anggara who meets Shena, a girl who has 12 wish lists to achieve before Shena's illness gets worse. The purpose of this study is to analyze the semiotic meaning of Roland Barthes which includes the meaning of denotation, connotation, and myth contained in the film “12 Stories of Glen Anggara” by Luluk HF. This movie was chosen because it presents a variety of life values hidden behind teenage narratives and romance stories, such as family values, friendship, and social care. The approach used in this research is descriptive qualitative type. Data were obtained from speech and scenes in the film “12 Stories of Glen Anggara” which were analyzed using Barthes' three layers of meaning: denotative (literal meaning), connotative (emotional/cultural meaning), and mythical (ideological meaning).  The data source of this research comes from the movie 12 Stories of Glen Anggara which was aired on the netflix application since January 23, 2023. By using data collection techniques in the form of listening, recording, and documentation techniques. Data analysis techniques are done by data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study found some data in the form of speech and scenes, each of which contains deep meaning that reflects the cultural views and social values of society. Through this research, it can be concluded that the movie 12 Stories by Glen Anggara is not only an entertainment spectacle, but also full of symbolic meanings that deserve to be studied semiotically to understand the hidden messages that want to be conveyed to the audience

    EKRANISASI NOVEL 12 CERITA GLEN ANGGARA KARYA LULUK HF TERHADAP FILM 12 CERITA GLEN ANGGARA KARYA ALIM SUDIO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

    Get PDF
    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis ekranisasi alur, ekranisasi latar, dan ekranisasi tokoh pada novel 12 Cerita Glen Anggara karya Luluk HF terhadap film 12 Cerita Glen Anggara karya Alim Sudio. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Proses ekranisasi yang mendominasi novel 12 Cerita Glen Anggara karya Luluk HF terhadap film 12 Cerita Glen Anggara karya Alim Sudio adalah penambahan alur dengan 72 temuan dari total 152 temuan atau 48% dari total 100%, perubahan bervariasi alur dengan 55 temuan dari total 152 temuan atau 37% dari total 100%, penambahan latar dengan 19 temuan dari total 152 temuan atau 13% dari total 100%, penambahan tokoh dengan 5 temuan dari total 152 temuan atau 4% dari total 100%, dan perubahan bervariasi dengan 1 temuan dari total 152 temuan atau 1% dari total 100%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa proses ekranisasi sangat berperan penting dalam peralihan suatu karya sastra ke dalam bentuk kesenian lainnya, khususnya pada ekranisasi novel 12 Cerita Glen Anggara karya Luluk HF terhadap film 12 Cerita Glen Anggara karya Alim Sudio.Kata Kunci: Ekranisasi, Novel, FilmAbstractThis study aims to identify and analyze plot, setting, and character ecranization in Luluk HF's novel 12 Cerita Glen Anggara against the film 12 Cerita Glen Anggara by Alim Sudio. The method used in this study is a qualitative descriptive method with observing and note-taking techniques. The ecranization process that dominates the novel 12 Cerita Glen Anggara by Luluk HF towards the film 12 Cerita Glen Anggara by Alim Sudio is the addition of plots with 72 findings out of a total of 152 findings or 48% of the total 100%, changes in varied plots with 55 findings out of a total of 152 findings or 37% of the total 100%, addition of background with 19 findings out of a total of 152 findings or 13% of the total 100%, addition of characters with 5 findings out of a total of 152 findings or 4% of the total 100%, and changes vary with 1 finding out of a total of 152 findings or 1% of the total 100%. From these results it can be seen that the ecranization process plays an important role in the transition of a literary work into another form of art, especially in the ecranization of the novel 12 Cerita Glen Anggara by Luluk HF to the film 12 Cerita Glen Anggara by Alim Sudio.Keywords: Ecranization, Novel, Movi

    Hukum administrasi negara/ Anggara

    No full text
    276 hal.; 24 c

    BAYU ANGGARA 185100018

    No full text
    KESIMPULAN 1. Managemen Sains adalah penerapan ilmiah yang menggunakan pendekatan ilmiah untuk memecahkan masalah managemen dalam rangka membantu untuk mengambil keputusan yang baik. 2. Tujuan utama perusahaan adalah mencapai laba atau menerima keuntungan maksimum dan dengan biaya seminimum mungkin. 3. Terdapat 3 tahap dalam teknik program linier: Pertama masalah harus dapat diidentifikasi sebagai sesuatu yang dapat diselesaikan dengan program linier. Kedua masalah yang tidak terstruktur harus dapat diselesaikan dalam model matematika sehingga menjadi tersturktur. Ketiga model harus diselesaikan dengan teknik matematika yang telah dibuat. 4. Sains Management sangat bermanfaat dalam dunia usaha dengan menggunakan teknik program linier

    BAYU ANGGARA 185100018

    No full text
    Pengambilan keputusan bukan merupakan satuan kajian sepele yang dapat diabaikan begitu saja. Masa depan organisasi dipertaruhkan, bila pengambilan keputusan mengalami kegagalan. Oleh karena itu ketepatan dalam pengambilan keputusan menjadi suatu keharusan. Namun demikian untuk mencapai hal tersebut bukan hal yang mudah. Diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam merumuskan suatu masalah dalam proses pengambilan keputusan

    Kebijakan publik/ Anggara

    No full text
    317 hal.: ilus.; 24 c

    KAJIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW TOKOH UTAMA NOVEL CERITA GLEN ANGGARA KARYA LULUK HF DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

    Get PDF
    ABSTRAK Tresya Wida Aprilya. 2022, Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow Tokoh Utama Novel Cerita Glen Anggara Karya Luluk Hf Dan Nilai Pendidikan Karakter. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Majapahit-Mojokerto. Pembimbing (1) Dr. wawan Hermawan, M.Pd. dan (2) Rani Jayanti, M.Hum. Kata Kunci: psikologi humanistik, pendidikan karakter, novel. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) Psikologi humanistik tokoh utama novel Cerita Glen Anggara karya Luluk HF 2) Nilai pendidikan karakter tokoh utama novel Cerita Glen Anggara Karya Luluk HF. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam penelitian. Sumber penelitian berasal novel Cerita Glen Anggara karya Luluk HF. Subjek penelitian ini yaitu kepribadian serta konflik batin tokoh utama Glen dalam novel Cerita Glen Anggara Karya Luluk HF dengan pendekatan psikologi sastra yang dikhususkan pada teori psikologi humanistik Abraham Maslow dan Pendidikan karakter dari Kemendiknas. Data yang dihasilkan dari penelitian dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Membaca novel dilakukan berulang-ulang dan mencatat data-data yang didapat dari hasil membaca secara cermat. Hasil penelitian ini menemukan 3 hirarki kebutuhan Abraham Maslow dalam tokoh utama novel Cerita Glen Anggara karya Luluk HF terdiri dari kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan memiliki dan dimiliki. Data-data tersebut didapat dengan melihat dari tidakan dan dialog tokoh utama novel cerita Glen Anggara, peneliti menemukan 3 data pada kebutuhan fisiologi tokoh utama novel, Cerita Glen Anggara, 1 data pada kebutuhan akana rasa aman tokoh utama novel Cerita Glen Anggara, 15 data kebutuhan memiliki dan dimiliki tokoh utama novel Cerita Glen Anggara, dan menemukan 3 nilai pendidikan karakter dari 18 nilai pendidikan karakter dalam kemendiknas (2010) antara lain yaitu: peduli sosial, rasa ingin tahu, dan jujur. Data-data tersebut didapat dengan melihat dari tindakan dan dialog-dialog tokoh utama novel Cerita Glen Anggara, peneliti menemukan 10 data nilai peduli sosial tokoh utama novel Cerita Glen Anggara, 46 data nilai jujur tokoh utama novel Cerita Glen Anggara, 41 data nilai rasa ingin tahu tokoh utama novel Cerita Glen Anggara

    Perlindungan Khusus Yang Diberikan oleh Pemerintah Bagi Korban Anak Bencana Gunung Merapi Berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak / oleh Armendio Anggara

    No full text
    abstrak (A)Nama : ARMENDIO ANGGARA (B)NIM : 205040192 (C)Judul Skripsi : Perlindungan Khusus Yang Diberikan oleh Pemerintah Bagi Korban Anak Bencana Gunung Merapi Berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (D)Halaman: vi+72+lampiran, 2011 (E)Kata Kunci: Perlindungan Andak, Perlindungan Khusus dan Bencana Gunung Merapi (F)Isi: Anak merupakan amanah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak juga memiliki hak asasi manusia yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa di dunia dan merupakan landasan bagi kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di seluruh dunia. Perlindungan terhadap anak sangatlah penting dan merupakan kewajiban bagi Pemerintah, terutama anak korban Bencana Alam di Gunung Merapi. Permasalahan yang ada antara lain mengenai efektifitas ketentuan Pasal 59 dan Pasal 60 UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak terhadap pemberian Perlindungan Khusus pada anak korban bencana gunung merapi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris/sosiologis dengan melakukan wawancara pada beberapa pihak yang terkait. Upaya Pemerintah dalam memenuhi ketentuan Pasal 59 UU Perlindungan Anak tentang Perlindungan Khusus belum sepenuhnya terlaksana, terutama bagi anak korban bencana Gunung Merapi. Tidak adanya data berapa banyak korban anak-anak ini juga menyebabkan bantuan ke anak terabaikan. Pengungsi mengeluhkan makanan yang diberikan tidak ada yang hanya ditujukan untuk orang dewasa. Anak-anak membutuhkan bantuan yang sifatnya rekreatif, seperti buku, mainan dan hiburan untuk anak-anak. Perlu dilakukan tindakan presuasi, sugesti, mengadakan diskusi tentang etika profesi serta pelatihan agar aparat pemerintah dapat bertugas secara profesional dan harmonis. Dalam penangganan korban, sebaiknya diklasifikasikan umur dan jenis kelamin agar mempermudah penyampain bantuan, terutama untuk anak-anak. Penempatan korban pada tenda-tenda darurat sebaiknya hanya digunakan oleh orang dewasa, sedangkan anak-anak ditempatkan di bangunan permanen. (G)Acuan : Buku, 20 (1986-2011); (H)Pembimbing : Yuwono Prianto, S.H., M.H. (I)Penulis : Armendio Anggar

    NILAI MORAL DALAM NOVEL 12 CERITA GLEN ANGGARA KARYA LULUK HF DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN SASTRA

    Get PDF
    Skripsi dengan judul “Nilai Moral dalam Novel 12 Cerita Glen Anggara Karya Luluk HF dan Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra” ditulis oleh Ellysa Binti Lailatul Maulidah, NIM. 126210202065, pembimbing Rahmawati Mulyaningtyas, M.Pd. Kata kunci: nilai moral, novel, relevansi Nilai moral sangat penting dalam lingkup masyarakat. Nilai dapat ditemui dalam karya sastra, khusunya pada novel 12 Cerita Glen Anggara mengandung berlimpah pernyataan tentang hidup dan kehidupan yang menginspirasi dan banyak nilai moral yang sangat berguna bagi pembaca. Sikap serta perilaku pelajar yang kurang baik menjadi keluhan orang tua maupun masyarakat. Permasalahan tersebut terjadi akibat minimnya moral pelajar serta pengetahuan mengenai nilai moral kurang ditekankan. Tugas sekolah selain mengajarkan ilmu pendidikan, mengedepankan nilai-nilai moral kepada peserta didik juga sangat penting. Pada pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia, bisa memanfaatkan novel sebagai perantara mengajarkan nilai di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan nilai moral dalam novel 12 Cerita Glen Anggara dan (2) mendeskripsikan relevansi nilai moral dalam novel 12 Cerita Glen Anggara dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa dialog, monolog serta perilaku yang menunjukkan nilai moral dalam novel 12 Cerita Glen Anggara. Sumber data berupa novel 12 Cerita Glen Anggara dan hasil wawancara kepada guru bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik dokumentasi dengan membaca dan mencatat, serta teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel 12 Cerita Glen Anggara terdapat nilai moral, wujud nilai moral terdiri dari tiga bentuk. (1) Wujud nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri meliputi percaya diri, kejujuran, keikhlasan, harapan, kesabaran, tanggung jawab, optimis, memberi yang termasuk moral positif. Kemudian wujud moral negatif, yakni ketakutan, penyesalan, putus asa, dan iri. (2) Wujud nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain meliputi nasihat orang tua kepada anaknya, kasih sayang antara teman dan kerabat, nasihat antara teman atau kerabat, terima kasih, membantu, peduli, berbakti kepada orang tua, sopan, simpati. Kemudian moral negatif meliputi sikap tidak baik, durhaka, pamrih, kecewa. (3) Wujud nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan meliputi moral positif mengucapkan syukur, beriman, mengagumi ciptaan Tuhan, berdoa dan moral negatif mendahului kehendak Tuhan, meragukan kuasa Tuhan, kurang bersyukur. Adapun hal yang mendasari novel 12 Cerita Glen Anggara relevan dimanfaatkan dalam pembelajaran yakni pada aspek bahasa yang digunakan dapat dimengerti oleh semua kalangan, pada aspek pemanfaatan novel ini layak dipilih sebagai alternatif materi ajar dalam pembelajaran sastra yaitu novel. Mengandung nilai moral yang dapat diajarkan kepada siswa, serta cerita seperti kehidupan masa kini
    corecore