64 research outputs found

    Identifikasi Life Form dan Persentase Tutupan Terumbu Karang untuk Mendukung Ketahanan Ekosistem Pantai Tiga Warna

    No full text
    Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan memiliki peran penting bagi lingkungan di laut. Life form terumbu karang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, salah satunya adalah kedalaman. Identifikasi life form dan pengukuran persentase tutupan karang di Pantai Tiga Warna perlu dilakukan, dengan menggunakan metode line intercept transect dan observasi lapangan. Hasil pengukuran life form di kawasan ini, baik di kedalaman 2 dan 5 meter, didominasi coral foliose. Persentase tutupan terumbu karang yaitu 43,83% yang menunjukkan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang adalah cukup baik untuk mendukung ketahanan ekosistem di Pantai Tiga Warna

    PERSEPSI DAN POLA ADAPTASI MASYARAKAT TELUK POPOH TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

    No full text
    Perubahan iklim memberikan dampak yang besar di berbagai negara. Adapun dampak dari terjadinya perubahan iklim adalah bertambahnya intensitas kejadian cuaca ekstrim di suatu wilayah, perubahan pola hujan, serta peningkatan suhu dan permukaan air laut Dampak perubahan iklim dapat memengaruhi keadaan di daratan maupun di pesisir atau laut. Salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang terkena dampak perubahan iklim yang mengkhawatirkan adalah wilayah Teluk Popoh yang terletak di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Kerusakan yang terjadi di perairan pantai Sidem berupa perubahan garis pantai yang disebabkan oleh bertambah tingginya permukaan air laut serta adanya aliran sungai Neyama yang langsung bermuara di pantai Sidem, Teluk Popoh. Hal lain yang disebabkan oleh perubahan garis pantai di Teluk Popoh adalah rusaknya sumberdaya alam di perairan Teluk Popoh, dimana nelayan dan masyarakat pesisir Teluk Popoh akan semakin sulit untuk mencari ikan di perairan sekitar. Untuk menghindari terjadinya dampak perubahan iklim yang berkelanjutan, maka PLTA Tulungagung yang beroperasi di wilayah pantai Sidem Teluk Popoh dan pemerintah Kabupaten Tulungagung memberikan inisiatif berupa penanaman pohon dan mangrove di wilayah Pantai Teluk Popoh. Dengan upaya mitigasi tersebut diharapkan mengurangi dampak yang diberikan oleh perubahan iklim di Teluk Popoh. Mitigasi tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya usaha adaptasi dari masyarakat sekitar Teluk Popoh. Masyarakat di Desa Besole merupakan masyarakat yang didominasi oleh para nelayan yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan laut. Apabila terjadi perubahan iklim di laut, maka para nelayan dari Desa Besole perlu beradaptasi terhadap perubahaan iklim tersebut.

    Dampak Degree Heating Month terhadap Terumbu Karang Menggunakan Citra Satelit Multispektral di Selat Sempu, Kabupaten Malang

    No full text
    Status Selat Sempu sebagai pelabuhan menjadikannya sangat rentan terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan sumber daya oleh manusia terhadap terumbu karang dan lingkungan yang ada di sekitarnya sering kali menimbulkan kerusakan terhadap terumbu karang (Ramadhan et al., 2017). Perubahan iklim dapat merusak ekosistem pesisir dan laut (Isdianto & Luthfi, 2020). Secara tidak langsung, perubahan iklim dapat merusak kondisi terumbu karang dan bahkan menyebabkan karang mengalami pemutihan. Kenaikan suhu permukaan air laut dapat menyebabkan bleaching pada karang (Salim, 2012). Dahulu, perairan Selat Sempu dikenal sebagai perairan yang diperkaya terumbu karang. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, terumbu karang di sekitar Pulau Sempu mengalami penurunan yang diduga karena eksploitasi sehingga mengakibatkan tingginya tingkat kerusakan karang. Data citra yang digunakan adalah data citra multi-spektral Sentinel 2 Level 1C yang sudah dikoreksi radiometrik dan geometrik dan citra Aqua-MODIS. Seri waktu untuk data Sentinel 2 dan Aqua-MODIS adalah 5 tahun. Pencarian anomali suhu dilakukan menggunakan data NOAA Optimal Interpolation SST Analysis, versi 2 (OISSTv2) dengan seri waktu 30 tahun. Data citra Sentinel 2 dikoreksi kolom perairan lalu diklasifikasi menjadi kelas karang hidup, karang mati, dan pasir. Data suhu permukaan laut perlu dicari mean warmest month, lalu menemukan thermal threshold. Rata-rata pada bulan Maret selama periode observasi dan thermal threshold digunakan untuk mendapatkan anomali suhu permukaan laut. Anomali SPL kemudian digunakan untuk mencari nilai Degree Heating Month. Degree Heating Month merupakan indikator probabilitas pemutihan, kerusakan, dan kematian karang. Hasil perubahan tutupan karang dan DHM dianalisis hubungannya. Luasan karang hidup menurun secara signifikan sebanyak 65.06%, dari 11.81 ha menjadi 4.13 ha. Sedangkan luasan karang mati meningkat hampir tiga kali lipat dari 2.66 ha menjadi 7.51 ha. Diketahui mean warmest month lokal di selat sempu terdapat pada bulan Maret di setiap tahunnya dengan nilai secara berurutan 31°C, 30.6°C, 30.7°C, 30.8°C, dan 30°C. Didapatkan thermal threshold sebesar 29.14°C. Dari hasil kalkulasi DHM didapatkan nilai yang berkisar antara 0-4.71oC-Month dan tertinggi pada tahun 2020. Peningkatan DHM akan diikuti oleh penurunan luasan terumbu karang dalam jumlah yang lebih banyak di Selat Sempu pada periode 2017-2021

    Analysis of carrying capacity and land suitability in Kenjeran Coastal Area, Bulak Sub Regency, Surabaya City, East Java

    No full text
    Beach tourism is an activity that spends time while feeling the beauty of the atmosphere around the beach. The city of Surabaya has one of the most attractive natural tourist destinations and is located on the Kenjeran beach in the eastern part of Surabaya. This beach tourism activity can cause water pollution due to waste from tourism activities and can cause damage to coastal ecosystems. The purpose of this study is to determine the value of the Land Suitability Index and the value of carrying capacity of the land as a beach tourism. The method used in this study was to measure water quality, measure grain size of sediments, observe criteria for objects and tourist attractions, and conduct interviews. The results of this study indicate that of the 4.3 hectares of the Kenjeran Beach Conformity Index value for the coastal tourism category a score of 47.8% was obtained in the S3 category. This category includes having more limiting factors to fulfill. These factors will have an impact on reducing tourist satisfaction for tourism. This Kenjeran Beach has a maximum value with regional carrying capacity that can accommodate 2,580 people per day for 9 hours. Wisata pantai adalah kegiatan yang menghabiskan waktu sambil merasakan keindahan suasana di sekitar pantai. Kota Surabaya memiliki salah satu tujuan wisata alam yang paling menarik dan terletak di pantai Kenjeran di bagian timur Surabaya. Kegiatan wisata pantai ini dapat menyebabkan pencemaran air karena limbah dari kegiatan pariwisata dan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan nilai Indeks Kesesuaian Lahan dan nilai daya dukung lahan sebagai wisata pantai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengukur kualitas air, mengukur ukuran butiran sedimen, mengamati kriteria untuk objek dan tempat wisata, dan melakukan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 4,3 hektar nilai Indeks Kesesuaian Pantai Kenjeran untuk kategori pariwisata pantai diperoleh skor 47,8% dalam kategori S3. Kategori ini termasuk memiliki faktor pembatas yang lebih banyak untuk dipenuhi. Faktor-faktor ini akan berdampak pada pengurangan kepuasan wisatawan untuk pariwisata. Pantai Kenjeran ini memiliki nilai maksimum dengan daya dukung regional yang dapat menampung 2.580 orang per hari selama 9 jam DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um017v24i12019p05

    Struktur Komunitas Ikan Terumbu di Selat Sempu, Kabupaten Malang, Jawa Timur

    No full text
    Ekosistem terumbu karang memiliki banyak manfaat antara lain melindungi pantai dari gelombang dan arus yang kuat dan sebagai habitat, tempat bertelur, tempat berlindung dan sumber makanan bagi biota laut, salah satunya yaitu ikan terumbu. Ikan-ikan terumbu ini membentuk suatu komunitas di dalam ekosistem terumbu karang. Ikan-ikan tersebut memanfaatkan terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung untuk kepentingan hidupnya. Sehingga apabila terumbu karang rusak atau hancur maka ikan terumbu juga akan kehilangan habitatnya. Selat Sempu memiliki terumbu karang yang tumbuh di sebelah timur dan barat Pulau Sempu. Kelimpahan ikan terumbu di perairan Selat Sempu mengalami penurunan, hal ini dikemukakan dari penelitian Luthfi pada tahun 2015, 2017 dan 2018. Terjadinya penurunan tutupan karang di perairan Selat Sempu ini diduga akibat eksploitasi masyarakat yang terus menerus dan adanya aktivitas manusia yang dapat menimbulkan kontaminan terhadap perairan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 hingga Februari 2022 di perairan Selat Sempu, Kabupaten Malang. Pengambilan data dilakukan pada 5 stasiun yaitu Banyu Tawar, Jetty, Rumah Apung, Waru-Waru dan Watu Meja. Pada persentase tutupan karang, setiap stasiun dilakukan penanaman transek permanen sebanyak 5 buah secara purpossive sampling dan kemudian dilakukan monitoring setiap 2 bulan sekali. Pengambilan data kelimpahan ikan terumbu diambil dengan metode Underwater Visual Census. Pada masing-masing site dilakukan pengambilan data parameter oseanografi sebagai data penunjang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi ikan terumbu di Selat Sempu, serta hubungan antara tutupan karang dengan kelimpahan ikan terumbu. Hasil pengambilan data karang diolah pada software CPCe dengan output berupa persentase tutupan, sedangkan data ikan terumbu diolah dengan Microsoft Excel dan SPSS kelimpahan dan hubungannya dengan tutupan karang hidup. Hasil kelimpahan ikan terumbu di Selat Sempu mengalami peningkatan dari penelitian sebelumnya. Kelimpahan Ikan Terumbu di bulan Oktober 2021 sebanyak 0,57 ind/m2. Pada bulan Desember 2021, rata-rata nilai kelimpahan ikan terumbu di Selat Sempu 0,62 ind/m2. di bulan Februari 2022, rata-rata kelimpahan ikan di Selat Sempu sebanyak 0,57 ind/m2. Pada uji korelasi didapat nilai korelasi sebesar 0,64, sehingga hubungan antara tutupan karang hidup dan ikan terumbu berkategori “kuat”

    Studi IndeksKerentanan Pantai Menggunakan Coastal Vulnerability Index (CVI) di Pesisr Lamongan

    No full text
    Wilayah pesisir memiliki karakteristik sangat rentan terhadap perubahan yang terjadi. Kerentanan merupakan tingkatan suatu sistem yang mudah terkena atau tidak saat terjadinya bencana. Pesisir Kabupaten Lamongan terletak di Provinsi Jawa Timur bagian utara, sehingga berbatasan dengan Laut Utara Jawa. Kekayaan alam di pesisir lamongan sangatlah melimpah. Terdapat ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang yang perlu di lestarikan. Selain akan potensi sumberdaya alam pesisir lamongan juga menjadi salah satu daerah strategis dalam bidang industri dan pariwisata. Hal ini di dukung oleh banyaknya pelabuhan kapal dan pembangunan sektor pariwista disepanjang tepi pantainya. Potensi pemanfaatan yang tinggi memerlukan adanya perencanaan yang matang oleh instansi pemerintah supaya pemanfaatannya dapat berkelanjutan, optimal dan seimbang dari segala sisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan pesisir di sepanjang garis pantai pesisir lamongan sehingga dapat dijadikan dasar bagi para pembuat kebijakan dalam penentukan pembagunan dan mitigasi kebencanaan kedepannya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis indeks kerentanan pesisir (CVI) dengan beberapa variabel fisik. Variabel fisika yang mendukung yaitu geomorfologi, elevasi, gelombang, pasang surut, perubahan garis pantai, dan kenaikan muka air laut. Hasil penelitian ini yaitu kondisi fisik pada pantai di pesisir Lamongan rata rata memiliki bentuk pantai datar serta bersubstrat pasir ataupun lumpur. Penggunaan lahan yang ada di pesisir lamongan banyak yang berbentuk tambak, pemukiman, serta pelabuhan. Nilai kelerengan di pesisirnya sebesar 0.14%. Tinggi gelombang di pesisir lamongan memiliki rata rata 0,60 m dengan periode gelombang 3,89 s. Tipe pasang surut yang berada di pesisir lamongan yaitu diurnal (Harian tunggal). Kenaikan muka air laut yang dilakukan dengan persamaan linier di dapatkan 3,72 mm/yr. Pesisir lamongan memiliki tiga macam kategori / kelas menurut nilai cvi (coastal vulnerability index) yaitu sangat rendah, rendah dan sedang. Nilai CVI sedang mencapai nilai 25,00 (Sel 26) dan sangat rendah berkisar antara 8,66 .Dalam klasifikasi cvi wilayah desa yang masuk kedalam kategori sangat rendah adalah Loh gung, Labuhan, Brengkok, Sedayu lawas, Brondong, Kondang semangkon, Paciran, Tunggul, Kranji, Banjarwati, Kemantren, Sidokelar. Wilayah desa yang masuk kedalam kategori rendah yaitu Loh gung, Labuhan, Sedayu lawas, Brengkok, Kondang semangkon, Paciran, Tunggul, Kranji, Banjarwati. Kategori ketiga yaitu menengah terdapat desa Sedayu lawas, Belimbing, Kondang semangkon, Paciran, Tunggul, Banjarwat

    Pemetaan Batimetri Menggunakan Singlebeam Echosounder Sebagai Rekomendasi Alur Pelayaran di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Kab. Lamongan, Jawa Timur

    No full text
    Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong merupakan salah satu Pelabuhan Perikanan Nusantara berlokasi di Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. PPN Brondong ditetapkan untuk aktivitas pembangunan dan pelaksanaan fasilitas pokok, fungsional dan penunjang pelabuhan perikanan. Tahun 2019, kapal di PPN Brondong sebanyak 207 kapal perikanan dengan ukuran 0-5 GT sebanyak 40 unit, 6-10 GT sebanyak 98 unit dan 11-30 GT sebanyak 69 unit dengan jumlah nelayan sebanyak 2063 nelayan. Banyaknya aktivitas perikanan dan pelayaran di PPN Brondong, sehingga diperlukan analisis profil kedalaman pada kondisi LWS dan HWS untuk memberikan rekomendasi alur pelayaran sesuai analisis peta batimetri di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong. Penelitian dilaksanakan pada 15 Maret – 12 November 2021 di PPN Brondong, Lamongan dengan menggunakan data primer dan sekunder. Pengukuran data kedalaman menggunakan singlebeam echosounder GPSMap 585 C pada 15 september 2021 dengan frekuensi 50 kHz dan 200 kHz menggunakan metode stratified systematic with parallel transect. Hasil pengukuran kedalaman kemudian dikoreksi terhadap pasang surut. Pengamatan pasang surut menggunakan tide staff bersamaan saat pemeruman berlangsung dan menggunakan pasang surut BIG sebagai data penunjang pada periode 1 – 30 September 2021 dengan interval setiap 60 menit. Kedalaman perairan kondisi LWS berkisar 0 – 8.2 m, sedangkan kedalaman kondisi HWS berkisar 0 – 10.4 m. Tipe pasang surut di PPN Brondong tergolong harian tunggal (diurnal tides), dengan tipe kelerengan datar. Berdasarkan rekomendasi alur pelayaran pada kondisi LWS terjadi pukul 04.00 - 18.00 WIB dengan surut terendah pukul 18.00 WIB, kapal dengan ukuran 10 - 30 GT tidak dapat masuk ke kolam pelabuhan karena dangkalnya kedalaman sehingga kapal harus menunggu pada area tunggu masuk pelabuhan hingga waktu air pasang. Sedangkan pada kondisi HWS terjadi pada pukul 23.00 - 11.00 WIB dengan pasang tertinggi terjadi pada pukul 04.00 WIB. Kapal dengan bobot 30 GT atau yang lebih kecil dapat memasuki kolam pelabuhan dengan aman karena kedalaman di area bongkar muat ikan dan tempat labuh kapal berkisar antara 2.5 – 2.9 mete
    corecore