1,720,975 research outputs found
Fiqh al-Lughah al-'Arabiyah
Fiqh al-lughah al-Arabiyyah adalah ilmu yang membahas bahasa Arab dari sisi mufradat, kosakatanya, struktur kalimatnya dan karakteristik kebahasaannya. Ilmu ini lahir karena kepedulian umat Islam khususnya para ulama, pakar bahasa yang terdorong oleh kecintaan pada kitab suci al-Quran sebagai pedoman umat dalam menjalani kehidupan dunia untuk keselamatan hidup di akhirat. Sebagai disiplin ilmu, fiqh al-lughah adalah bagian dari ilmu pengetahuan bahasa yang muncul bersama dengan kebutuhan umat manusia untuk menyatakan jati dirinya melalui bahasa. Bahasa adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan hewan, makhluk hidup lainnya. al-insan hayawan nathiq, manusia adalah hewan yang dapat berbicara, punya rasio. Sebagai disiplin ilmu, fiqh al-lughah sudah ada cikal bakalnya, benihnya pada zaman awal Islam dan nama ilmu ini sudah mulai dipergunakan oleh ahli-ahli bahasa Arab dari generasi terdahulu. Buku yang ada di hadapan pembaca ini yang berjudul Fiqh al-Lughah al-Arabiyyah dimaksudkan sebagai buku ajar yang mengantar para mahasiswa yang mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab untuk mengenal pembahasan para ulama khususnya kaum lughawiyyin, pakar-pakar bahasa selain ahli nahwu dan sharaf tentang apa yang dimaksud fiqh al-lughah dalam pembahasan mereka. Buku ini terdiri dari duabelas bab. Pada bab pertama pembahasan difokuskan pada pengertian fiqh al-lughah, tujuan mempelajarinya, perbedaan fiqh al-lughah dengan ilm al-lughah, perkembangan atau sejarah fiqh al-lughah, dan kaitan ilmu ini dengan sosiologi, sejarah dan psikologi. Pada bab kedua pembahasan tentang asal usul bahasa dengan terlebih dahulu mengemukakan pandangan para pakar tentang hakikat bahasa, teori-teori tentang bahasa pertama dan awal manusia berkomunikasi dengan bahasa, dan fungsi bahasa. Pada bab tiga pembahasan tentang rumpun bahasa-bahasa Semit dengan mengemukakan sebagai pengantar klasifikasi bahasa di dunia ,tanah asal orang-orang Semit dengan berbagai teori tentangnya, karakteristik bahasa-bahasa Semit, perbedaan antar bahasa Semit dan tentang bahasa Arab sebagai bahasa yang paling dekat dengan bahasa Semit induk. Setelah itu, bab empat berbicara tentang bahasa Arab Fush-ha dan bahasa Ammiyah dengan membagi pembahasan pada bahasa Arab dalam masyarakat Arab, awal mula bahasa Arab Fush-ha dan bahasa Ammiyah, diglosia, kedwibahasaan dalam masyarakat Arab, sikap para pakar terhadap diglosia, upaya menggalakkan bahasa Ammiyah, pergulatan bahasa fush-ha melawan bahasa Ammiyah, dan bagaimana menanggulangi problema bahasa Ammiyah. Bab selanjutnya, bab lima membahas seputar isytiqaq derivasi dalam bahasa Arab, definisinya, syarat-syaratnya, dan bentuk-bentuknya. Bab enam tentang al-Qalb wa al-Ibdal, pembalikan huruf dari suatu kata, dan pengubahan hurup ke hurup lainnya sebagai metode membuat variasi kata dalam bahasa Arab dengan makna sama tetapi kata-kata itu mengalami perubahan dengan membalik urutan hurupnya atau mengubah hurup ke hurup yang berbeda. Bab tujuh membahas fenomena sinonim dalam bahasa Arab yang disebut taraduf, dan kata yang surah bersinonim disebut mutaradif. Pembahasan berisi pengertian taraduf dan mutaradif, pandangan ulama, faktor penyebab munculnya mutaradif, dan keberadaan kata bersinonim dalam al-Quran. Bab delapan membahas tentang tadha:d, kekosokbalian, antonim dalam bahasa Arab. Pembahasan ini tentang pengertian tadhad, pandangan para pakar, dan faktor penyebab munculnya kata-kata yang bermakna sesuatu dengan antonimnya, kosokbalinya. Bab sembilan membahas tentang an-naht sebagai suatu cara membuat singkatan dan akronim dari dua kata atau lebih, pengertiannya, pandangan para pemerhati bahasa, klasifikasi an-naht dan meatode pembentukannya, dan pembentukan istilah baru melalui metode an-naht. Bab sepuluh tentang homonim, al-musytarak allafzhi, pengertiannya, pandangan pakar bahasa di masa lalu, kontroversi tentangnya, penyebab keberadaannya, kajian modern tentang al-musytarak al-lafzhi, antara makna konotasi dan denotasi, dan ayat-ayat al-Quran yang mengandung al-musytarak al-lafzhiy. Bab sebelas adalah pembahasan tentang pengaraban, arabisasi atau al-rib, pengertiannya, dan perubahan yang terjadi pada kosakata yang terserap ke bahasa Arab dari kata non Arab, dan kata-kata yang tergolong al-muarrab dalam ayat-ayat al-Quran. Bab terakhir, bab duabelas adalah tentang terjemah dengan mengemukakan sejarah terjemah, klasifikasi terjemah, metode terjemah, syarat-syarat penerjemah, dan penerjemahan al-Quran ke bahasa non Arab yang menjadi kontroversi antara yang membela dan yang menentang. Terakhir, penulis mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada pihak pimpinan UIN Alauddin, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian masyarakat yang berkenan menerima dan menerbitkan buku ini. Akhirul Kalam, kritik membangun dan saran perbaikan kami harapkan dari pembaca terhormat untuk perbaikan buku ini untuk dapat dimanfaatkan oleh para pengkaji dan pencinta bahasa al-Quran . Wallah al-hadi ila sabil al-haq
Surveilans Kesehatan Masyarakat
Buku ini merupakan Buku Daras yang membahas tentang konsep dar surveilans, meliputi pengertian surveilanss, survilans dan kesehatan masyarakat serta konsep Islam mengenai survilans. Lebih lanjut, buku ini jugamembahasa tentang surveilans kesehatan masyarakat, data surveilans, penyeleksian 0screeninbg), surveilans sistem kesehatan, pedoman surveilans, survilans penyakit secara umum, surveilans penyakit degeneratif, Surveilans Vektor Penyakit dan keterpaparan, serta surveilans berbasis masyarakat
Tafsir Ayat-ayat Komunikasi
Buku ini merupakan Buku Daras yang ditujukan sebagai pedoman dalam pengajaran MK Tafsir pada Semeseter II bagi mahasiswa Ilmu Komuniasi. Melalui buku daras ini, mahasiswa diperkenalkan ayat-ayat yang bertalian dengan tema-tema sentral dalam IlmuKomunikasi seperti unsur-unsur komunikasi, jenis-jenis dan level-kevek komunikasi, prinsip-prinsip komunikasi, keberadaan al-Qur'an sebagai media komunikasi manusia yang melampaui peran-peran media komunikasi massa modern. Dalam menyajikan yata-ayat aygn relevan dengan ilmu komunikasi, buku daras ini memuat penjelasan tentang arti mufradat, terjemahan, munasaha ayat baik dengan ayat sebelum dan sesudahnya di surah yang sama maupun dengan ayat yang terkait di ruah yang berbeda, asbab nuzul ayat, pendapat para mufassir terkait dengan tema-tema yang disajjikan, pokok-pokok kandungan ayat yang juga memuat perspektif ilmu komunikasi. Penyajian beberapa sub pembahasan di atas dimaksudkan agar mahasiswa mendapatkan pemahaman lebih ko prehensif terkait setiap ayat yang disajikan. Adapun upaya penyajian perrspektif ilmu komunikasi dlama pembahasan setia ayat diharpak dapat membantu mahasiswa mengintegrasikan wacana-wacana ilmu komunikasi dengan wawasan al-Qur'a
HADITH ON THE EXCELLENCE OF AL-FATIHAH: THE EXAMINATION OF ITS CHAIN OF TRANSMISSION
Hadith, as commonly defined by hadith scholars (al-muhddithun), is a record of the Prophet’s sayings, deeds and tacit approval. Even it may include the description of the Prophet’s features and physical appearance. Hadith contains details of faith and doctrine, ritual issues, ethics and many others which are related with the contents of the Quran and on the Quranic verses as well. This article is aimed at assessing the validity of a hadith on the excellence of al-Fatihah, the opening chapter of the Quran. In doing so, this article presents the chain of transmission of the hadith by assessing the details of all persons involved in relating the hadith. It is found the hadith assessed is reliable and may be relevant for Muslims to use as a source for their religious activities
Apa Kata al-Qur'an dan Hadis tentang Air
Buku ini memuat landasan al-Qur'an dan Hadis yang memuat tentang seputar air yang meliputi pengertian, kandungan serta implementasi yang terkait air.
Ayat-ayat al-Qur'an menuturkan bahwa segala sesuatu yang hidup di muka bumi ini sangat tergantung kepada air.
Dalam hadis Nabi dikemukakan tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan air, tidak saja dalam konteks keperluan untuk kehidupan, tetapi juga menyangkut peribadatan dan relasi sosial kemasyarakata
KHAZANAH TAFSIR SINGKAT IBN AL-JAWZI: Zad al-Masir fi Ilm al-Tafsir
Karya tafsir dalam khazanah keilmuan Islam merupakan obyek kajian yang tak pernah terhenti. Gaya, metode dan jumlah karya tafsir yang terus bertambah menjadi poin-poin yang sering mengundang pengkaji untuk mencermati karya-karya tafsir baik klasik maupun modern. Tulisan ini berupaya untuk melihat salah satu karya tafsir abad pertengahan dalam sejarah Islam yakni buku Zad al-Masir fi Ilm al-Tafsir dengan tujuan untuk mengungkapkan keragaman gaya Ibn al-Jawzi dalam menafsirkan ayat al-Quran. Tulisan ini mencoba untuk melihat secara utuh karya tersebut dengan menelusuri lembaran-lembaran buku tafsir tersebut dari awal hingga akhir. Ditemukan bahwa buku tafsir ini menyajikan penafsiran ayat-ayat al-Quran secara singkat namun padat yang dilengkapi dengan catatan-catatan mengenai hal-hal yang banyak dibicarakan dan diperdebatkan oleh para ulama tafsir seputar ilmu-ilmu al-Quran baik hal-hal yang terkait dengan sebab nuzul maupun perdebatan seputar ayat-ayat yang pertama dan terakhir turun. Tulisan ini menyimpulkan bahwa buku Zad al-Masir adalah sebuah karya tafsir singkat namun padat dan kaya akan berbagai pandangan mufassir walau masih menyisakan beberapa pertanyaan
Ibn Hajar al-'Asqalani Jarh dan Ta'dil Periwayat Hadis
Semasa hidupnya, Ibn Hajar al-Asqalani (773-852/1372-1449) memegang beberapa keahlian. Di samping sebagai seorang hakim yang disegani, ia juga adalah seorang ahli sejarah yang mumpuni dan seorang ahli hadis yang karyanya sering menjadi rujukan. Karya karya yang dihasilkan selama hidupanya banyak berkutat pada bidang ilmu hadis, di mana dia menjadi salah satu yang tersohor pada masanya, di samping juga menjadi representatif keilmuan agama Islam. Perhatiannya pada dunia penulisan menjadikannya sebagai seorang penulis yang handal dan mewarriskan banyak karya-karya penting dalam berbagai bidang keilmuan, baik sejarah, rijal al-hadis (biografi periwayat hadis) dan usul al-hadis (prinsip-prinsip yang diperpegangi dalam bidang hadis), naqd al-hadis (kritik hadis). Di samping karya-karya di bidang disebutkan di atas, Ibn Hajar juga dikenal sebagai penulis yang handal di bidang sharh (komentar hadis) dan ikhtisar (peringkas berbagai manuskrip). Kepiawaian Ibn Hajar al-Asqalani di berbagai bidang sebagaimana disebutkan di atas, mendapat apresiasi yang sangat luas di kalangan peminat ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya karya-karya belakangan yang mengkaji, baik sosok Ibn Hajar maupun karya-karyanya. Sabri Khalid Kawash menuliskan sebuah disertasi mengenai Ibn Hajar yang berjudul, Ibn Hajar al-Asqalani (1372-1449 A.D.): A Study od the Background, Education and Career of a ‘Alim in Egypt. Shakir Mahmud ‘Abd al-Mun’im mengkaji secara mendalam karya dan metode penulisannya dengan merujuk secara khusus kepada kitab al-Isabah fi Tamyiz al-Shahabah; dan Muhammad Kamal al-Din ‘Izz al-Din menulis sebuah buku berjudul Ibn Hajar al-‘Asqalani Mu’arrikhan dengan menfokuskan pada perjalanan karir Ibn Hajar selaku seorang ahli sejarah. Beberapa penulis lain yang mengkaji pendekatan ilmu sejarah yang digunakan oleh Ibn Hajar bahkan menggelarinya sebagai amir al-mu’minin fi al-hadith (pemimpin umat beriman dalam bidang hadis). Dari berbagai karya tulis yang menjadikan Ibn Hajar sebagai obyek kajian, sepanajang pengetahuan penulis, perhatian pada sumbangsih Ibn Hajar pada bidang kajian tajrih (mengkaji kelemahan) dan ta’dil (mengkaji kelebihan) periwayat hadis, masih sangat sulit ditemukan atau bahkan tidak ditemukan sama sekali. Fokus kajian dalam buku ini ditujukan pada kontribusi Ibn Hajar di bidang jarh dan ta’dil dengan melihat secara langsung pemaparannya dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib. Sebagai gambaran, rangkaian tingkat penentuan kelemahan periwayat yang diajukan oleh Ibn Hajar al-Asqalani terdiri dari enam tingkatan. Bila dibandingkan dengan tingkatan-tingkatan yang diajukan oleh beberapa ulama hadis semisal Ibn Abi Hatim al-Razi, Ibn Salah al-Shahrazuri dan Shams al-Din al-Dhahabi, tawarain Ibn Hajar kelihatan lebih rinci dan lebih pas. Sebagai contoh, Ibn Hajar menempatkan penilaian thiqah (dipercaya) pada level tiga, sementara ulama hadis lain menempatkannya pada dua atau bahkan pada level pertama. Hal yang sama terjadi pada pemberian peringkat penilain tajrih periwayat. Sebagai misal, Ibn Hajar menempatkan gelar kadhdhab (pembohong) pada tingkat kedua, sementara ulama lain menempatkannya pada tingkat pertama. Bagi Ibn Hajar, tingkat pertama seharusnya adalah akdhab al-nas (orang yang paling kuat bohongnya) Hal ini menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan teknis yang digunakan oleh Ibn Hajar menunjukkan berbedaan yang cukup signifikan dalam menentukan tingkat kekurangan dan kelebihan periwayat hadis. Ketika para ulama hadis memberikan penilaian terhadap kelebihan dan kekurangan periwayat hadis, mereka menggunakan ungkapan-ungkapan seperti tawassut (pertengahandan tasahul (memudah-mudahkan atau longgar). Dalam Tahdhib al-Tahdhib, Ibn Hajar menggunakan berbagai macam istilah untuk membedakan para periwayat hadis. Kita ingin menyelidiki apakah Ibn Hajar al-Asqalani telah menerima hadis lemah, karena kecacatan pada para periwayat hadisnya. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menentukan tata cara yang telah dilakukan oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam menentukan tajrih dan ta’dil para periwayat hadis dan membandingkannya dengan hasil penelitian Ibn Abi Hatim al-Razi, Ibn Salah, al-Shahrazuri, Syams al-Din al-Dhahabi. Kita akan membahas pula bagaimana Ibn Hajar menerapkan pengelompokannya, yang bisa membuatnya lebih moderat atau bahkan lebih longgar dalam penerimaannya terhadap hadis dan para periwayat hadis. Pembahasan ini terdiri dari tiga bab. Bab pertama adalah biografi singkat Ibn Hajar dan pengenalan terhadap hasil penelitiannya atas periwayat hadis. Bab kedua membahas mengenai motivasi, sumber, struktur, metode, dan sistem pengklasifikasian yang digunakan Ibn Hajar dalam Tahdhib al-Tahdhib. Akan dibahas pula beberapa bagian dari Tahdhib al-Tahdhibnya dan membandingkannya dengan bagian yang sama dari penelitian lainnya. Pembahasan pada Bab ketiga lebih difokuskan pada notion Ibn Hajar dalam tajrih dan ta’dil dari periwayat hadis, membandingkannya dengan hasil penelitian Ibn Abi Hatim al Razi, Ibn Salah, al-Shahrazuri, Syams al-Din al-Dhahabi. Bagian terakhir dari bab ini mengevaluasi validitas beberapa hadis yang didasarkan pada Tahdhib al-Tahdhib Ibn Hajar. Catatan Ibn Hajar dari tajrih dan ta’dil periwayat hadis memberikan bukti bahwa cara ini telah memengaruhi penilaiannya. Sebagai kesimpulan, akan dibuktikan apakah pengelompokan Ibn Hajar dalam tawwasut dan tasahul dalam tajrih dan ta’dil periwayat hadis memengaruhi perilakunya/penilaiannya terhadap hadis-hadis lemah dan para periwayatnya
Ibn Ḥajar Al-Asqalānī on tajrīḥ and ta dīl of ḥadith transmitters : a study of his Tahdhīb al-tahdhīb
Many works present solid biographical data on h&dotbelow;adith transmitters, offering tajrih&dotbelow; and ta`dil with respect to both personal and social background. These works have different ways of organizing their entries. Some show various classes (t&dotbelow;abaqat) of h&dotbelow;adith transmitters, e.g., T&dotbelow;abaqat of Ibn Sa'd. Others use alphabetical order. The outcome is a difference not only in structure but in contents. Some works are based on transmitters, such as those of the six canonical books of Sunni h&dotbelow;adith ; others are based specifically on the disputable qualities of the transmitters. The purpose of this thesis is to present Ibn H&dotbelow;ajar al-`Asqalani's Tahdhib al-Tahdhib, which comes as a summation of its kind and is to a large degree comprehensive. By focusing on some biographies of h&dotbelow;adith transmitters included in Tahdhib al-Tahdhib which are based on the transmission chains of four selected h&dotbelow;adiths , we hope to show Tahdhib al-Tahdhib as a independent source for assessing the validity of h&dotbelow;adith transmission chains. Moreover, by comparing the assessment of a h&dotbelow;adith transmitter found in Tahdhib al-Tahdhib to that of other works---such as Kitab al-Jarh&dotbelow; wa al-Ta`dil by Ibn Abi H&dotbelow;atim al-Razi and Mizan al-I'tidal by al-Dhahabi---we hope to appraise the position of Ibn H&dotbelow;ajar al-`Asqalani within h&dotbelow;adith criticism
Shamail Tirmidhi dalam Diskursus Literatur Hadis tentang Nabi
Literatur kitab hadis merupakan sumber utama bagai umat Islam untuk mendapatkan informasi yang massif dan akurat terkait keberadaan Nabi Muhammad saw. Tulisan ini mencoba menelusuri kitab Shama>’il al-Tirmidhi sebagai salah satu kitab hadis yang secara khusus memuat gambaran tentang Muhammad, baik dari aspek keberadaanya sebagai Nabi, maupun untuk melihat sifat, hal-ihwal, kepribadian dan kualitas intelektual Muhammad sebagai seorang manusia yang ‘mendapatkan wahyu’ dari Tuhan. Tulisan ini berupaya menunjukkan keberadaan kitab Shama>’il al-Tirmidhi dengan melihat beberapa aspek dari kitab tersebut, menganalisis beberapa hadis yang termuat di dalamnya, yang pada akhirnya dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana spesifikasi kitab Shama>’il al-Tirmidhi dapat dirujuk secara otoritatif sebagai literatur hadis yang representatif untuk mengkaji kepribadian Nabi Muhammad saw. Ditemukan bahwa hadis-hadis yang termuat dalam kitab Shama>’il al-Tirmidhi tidak memiliki keseragaman dari aspek kualitas hadis dan kandungannya. Berdasarkan kajian beberapa hadis dalam kitab Shama>’il al-Tirmidhi, ditemukan bahwa hadis-hadis yang memiliki kualitas yang lebih baik, tampaknya menyajikan keberadaan Muhammad pada posisinya sebagai seorang manusia yang mendapatkan wahyu ilahi. Sementara hadis-hadis yang memiliki kualitas yang lebih rendah cenderung untuk menggambarkan Muhammad sebagai manusia yang luar biasa, dan memiliki kualitas sebagai seorang yang memiliki kesucian yang tak dapat ditanding
- …
