2 research outputs found
Penggunaan Afiks dalam Karangan Mahasiswa Program In Country BIPA Universitas Negeri Malang 2016
ABSTRAK Afiksmerupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan sistem tempel atau aglutinasi. Penggunaan afiks tidak dapat dihindari karena berpengaruh padamakna sebuah kata, bahkan kalimat. Penggunaan afiks ditemukan pada karangan mahasiswa Program In Country 2016. Program In Country merupakan kerjasama antara jurusan ASEAN Studies Universitas Walailak dengan BIPA Universitas Negeri Malang.Fokuspenelitian ini adalah bentuk afiks yang digunakan serta ketepatan penggunaan afiks dalam karangan mahasiswa Program In Country 2016.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dan merupakan penelitian analisis teks. Data penelitian berupa bentuk dan ketepatan penggunaan afiks yang terdapat pada karangan sepuluh jurnal harian mahasiswa Program InCountry 2016. Instrumen utama adalah peneliti dibantu tabel pengumpul data. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Analisis data yang dilakukan meliputi proses reduksi data yang mencakup identifikasi, klasifikasi, dan pengodean. Selanjutnya dilakukan penyajian data, penarikan simpulan, dan pengecekan keabsahan temuan.Berdasarkan analisis data, diperoleh dua hasil penelitian. Pertama, bentuk afiks yang digunakan pada karangan mahasiswa Program In Country 2016 mencakup prefiks, sufiks, dan konfiks. Afiks yang digunakan meliputi meN-, ter-, di-, ber-, peN-, se-, -an, ke-an, meN-kan, meN-i, di-i, di-kan, ber-an, peN-an, memper-kan, se-nya,dan per-an.Penggunaan afiks tersebut belum merata jumlahnya, bahkan ada beberapa afiks yang muncul atau digunakan hanya satu kali.Afiks yang paling dominan digunakan adalah prefiks, sementara sufiks merupakan afiks yang paling sedikit digunakan. Kedua, pada karangan mahasiswa ditemukan penggunaan afiks yang tepat dan tidak tepat. Penggunaan afiks yang tepat meliputi meN-, peN-, di-, ber-, se-, ter-, -an, di-kan, ber-an, meN-i, meN-kan, ke-an, di-i, per-an, peN-an, dan se-nya. Penggunaan afiks yang tidak tepat meliputi meN-, peN-, di-, ber-, se-, ter-, -an, di-kan, ber-an, meN-i, meN-kan, ke-an, per-an, peN-an, memper-kan, serta dua bukan kategori afiks, yaitu men-an dan pen-kan.Wujud ketepatan penggunaan afiks tersebut adalah (1) tepat berdasarkan kaidah morfofonemik, (2) tepat berdasarkan fungsi afiks, dan (3) tepat berdasarkan konteks kalimat. Wujud ketidaktepatan tersebut berupa (1) kesalahan penerapan kaidah morfofonemik, (2) kesalahan pemilihan afiks sehingga tidak sesuai dengan konteks dan fungsi afiks, dan (3) bentuk yang dilekatkan pada bentuk dasar bukan merupakan kategori afiks.Afiks yang digunakan banyak mengalami kesalahan terjadi pada prefiks meN-.Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa penguasaan mahasiswa Program In Country 2016 terhadap penggunaan afiks baik mengingat jumlah ketidaktepatan lebih sedikit daripada jumlah ketepatan penggunaan afiks. Namun demikian, mahasiswa perlu belajar lebih mendalam lagi mengingat beberapa afiks yang digunakan masih terbatas jumlahnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan empat saran. Pertama, ditujukan kepada pengajar BIPA, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk membuat materi pada silabus bahasa Indonesia untuk penutur asing dan media pembelajaran sebagai upaya untuk memaksimalkan proses belajar pembelajar dalam memahami materi afiks bahasa Indonesia sehingga kesalahan dapat diminimalkan. Kedua, ditujukan kepada tutor BIPA supaya berperan aktif dalam membantu pemerolehan bahasa kedua di luar kelas, baik dalam situasi formal maupun non-formal, serta mengoreksi kesalahan penggunaan afiks yang terjadi pada mahasiswa BIPA Program In Country. Ketiga, ditujukan kepada pembelajar BIPA supaya menguasai materi afiks dengan baik karena afiks merupakan aspek yang sangat penting, mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan sistem tempel atau aglutinasi. Pembelajar harus segera berkonsultasi dengan pengajar maupun tutor apabila menemui kesulitan. Keempat, ditujukan kepada peneliti lain supaya melakukan penelitian sejenis dengan variabel yang berbeda serta kemampuan level yang berbeda
Appraising Environmental Beauty of Northern Areas of Pakistan through Rhetoric Expressions in Uzma Aslam Khan’s Thinner Than Skin: An Ecolinguistic Perspective
Environmental study is rising as a hot topic nowadays and there is a striking awareness of sustaining asymmetry between man and nature. How individuals ponder human relationships with the earth and other living creatures have changed deliberately. Ecolinguistics is a sub-field of sociolinguistics that studies the role of language in connecting human beings and their natural environment. Therefore, this research investigates the use of rhetorical expressions by Anglophone author Uzma Aslam Khan and her characters Nadir, Farhana, and Maryam and their attitudes, graduation, and engagement with the natural environment. For this purpose, the "Appraisal Model" (Martin and White, 2000) has been used as a theoretical framework that sheds light on Arran Stibbe's (2015) ecolinguistic model of Evaluation. It highlights several rhetorical devices through which the narrators expressed their positive attitude towards "the stories they lived by." They rhetorically bespeak the readers to appreciate the environmental beauty of the Northern areas of Pakistan as it is surrounded by beauty and provides a therapeutic potency to build a strong relationship between man and his motherland. The study is limited as it only attempts to praise the beauty of Northern areas by appraisal patterns and does not include the other counterparts of Pakistan. However, the study is significant as it endeavors to appreciate the environmental beauty of Pakistan and provides new avenues for scholars to bridge a gap between ecolinguistics and other areas of linguistics, such as critical discourse analysis, pragmatics, and semantics
