1,720,995 research outputs found
Penuntun Belajar PPKN 2 (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan)rnBerdasarkan Kurikulum Baru GBPP 1994
Penuntun Belajar PPKN 3 (Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan) rnBerdasarkan Kurikulum SMU 1994 : Untuk SMU Kelas III Caturwulan 1, 2, dan 3
ANALISIS ISI BUKU TEKS PPkn DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR YANG DAPAT MEMBERDAYAKAN KETERAMPILAN BERPIKIR SISWA SMA
Disertasi ini melaporkan penelitian yang bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis unsur materi, pedagogis dan menguji tingkat keterbacaan buku teks PPKn SMA serta mengkaji kesesuaian buku teks dengan visi dan misi PPKn dalam meningkatkan keterampilan berpikir siswa.Obyek kajian berupa buku teks Penerbit Yudhistira, Epsilon Grup, Erlangga dan Grafindo Media Pratama. Untuk memperoleh data yang akurat dilakukan studi dokumen, dan penyebaran kuesioner penilaian kualitas buku teks kepada para siswa dan guru SMA di Kota Bandung, selain itu digunakan wawancara dan tes keterbacaan buku teks.Kesimpulan akhir penelitian ini Pertama, isi buku teks PPKn SMA belum mengandung unsur-unsur yang secara mendasar memenuhi kriteria buku teks untuk dijadikan bahan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Kedua, model buku teks yang dapat memberdayakan keterampilan berpikir secara umum terdiri dari tiga unsur yaitu unsur materi, unsur pembelajaran, dan unsur keterbacaan. Ketiga, tingkat kedalaman dan keluasan materi yang bersifat pengembangan pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) yang terdapat dalam buku teks PPKn belum cukup. Begitu pula kedalaman pengembangan nilai dan sikap kewarganegaraan (civic dispositions) dan keterampilan kewarganegaraan (civic skills) belum cukup memadai. Keempat, bahan ajar, dan evaluasi dalam buku teks PPKn belum memberikan stimulus dan kemudahan pada siswa ke arah pemahaman dan peningkatan keterampilan berpikir yang serasi dengan tujuan pembelajaran PPKn di persekolahan. Faktor penyebabnya adalah penyusun masih terjebak pada tataran data, fakta, dan konsep yang sifatnya umum. Penyajiannya belum sampai pada fakta, konsep, yang sifatnya khusus, aktual, dan kontekstual dengan kadar kompetensi taksonomi yang tinggi. Demikian pula kandungan buku teks tidak banyak memiliki muatan pola pembelajaran kontekstual seperti model pemecahan masalah, inquiry sosial, tugas observasi lapangan, studi dokumen, dan penugasan pembuatan kliping dari media massa jarang ditemukan. Kelima, tingkat keterbacaan buku teks PPKn SMA kelas 2 berdasarkan hasil uji rumpang kepada 439 siswa menggambarkan bahwa sebagian besar siswa yaitu 325 (74,2%) tergolong pembaca frustasi atau pembaca gagal, sebagian kecil siswa 89 (20,2%) tergolong sedang atau instruksional, dan hanya 25 (5,6%) tergolong mudah atau independen. Dengan demikian buku teks PPKn SMA tergolong bacaan yang sukar dipahami. Hai tersebut dapat diasumsikan baik dari sajian materi maupun bahasa mengandung berbagai kekurangan.Rekomendasi: 1) Guru: a) Mampu menghidupkan buku teks dalam transaksi pembelajaran; b) Memiliki pemahaman standar untuk menilai buku teks yang baik; 2) Siswa: Siswa dituntut bersifat proaktif atau kritis tertiadap buku teks yang digunakan. Apabila terdapat kekurangan, kekurangpahaman, ketidakjelasan dalam buku tersebut harus segera direspons; 3) Pengambil Kebijakan (Pemerintah): a) Sangat disarankan dengan tersusunnya panduan penulisan buku teks ini, pengembang kurikulum bisa memberikan gambaran atau rambu-rambu bagi guru dan para pakar kurikulum PPKn untuk dijadikan pegangan dalam pemilihan atau penggunaan buku teks yang tayak digunakan dalam pembelajaran di persekolahan. Demikian pula perlu untuk memberlakukan model panduan penulisan, yang memiliki standar penilaian kelayakan, sistem pengawasan, pola pembinaan bagi penulis dan penerbit serta memiliki konsistensi dan sanksi yang tegas, b) Hendaknya, buku teks PPKn diuji unsur kedalaman dan keluasan materi, unsur pedagogis dan keterbacaannya sebelum disebarluaskan; 4) Penulis: Unsur bahan materi yang baik dalam buku teks PPKn harus terdiri dari kandungan taksonomik yang tersebar dan berkadar tinggi serta memiliki hierarki pengetahuan dan proses berpikir yang tinggi pula. Begitu pula harus mampu mengembangkan materi yang berbasis pada nilai-moral dan budi pekerti, karena PPKn mengemban visi nation and character building, yakni sebagai sarana untuk membentuk kepribadian bangs
STUDI KASUS TENTANG KEGIATAN BELAJAR MAHASISWA UNIVERSITAS TERBUKA MELALUI BELAJAR KELOMPOK
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Understanding Role of Rehabilitation Institutions in Developing Characters of Drug Users with Therapeutic Community Methods of Character
- …
