28 research outputs found

    Karakteristik dan Angka Kejadian Benign Paroxysmal Positional Vertigo di Poliklinik Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan Periode 2016 – 2018

    No full text
    Latar Belakang. Vertigo merupakan sensasi gerakan dari tubuh seperti rotasi (memutar) tanpa adanya perputaran yang sebenarnya, atau sekelilingnya yang berputar. Vertigo mengenai semua golongan umur, insidensi 25% pada pasien usia lebih dari 25 tahun, dan 40% pada pasien usia lebih dari 40 tahun, dan dilaporkan sekitar 30% pada populasi berusia lebih dari 65 tahun. Vertigo terbagi menjadi 2 yaitu vertigo vestibular dan vertigo nonvestibular. Vertigo vestibular yang paling sering yaitu Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Tujuan. Mengetahui karakteristik dan angka kejadian pasien Benign Paroxysmal Positional Vertigo di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Metode. Penelitian ini berjenis deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan sampel dikumpulkan melalui data rekam medis penderita BPPV yang datang ke poli neurologi RSUP H. Adam Malik Medan periode tahun 2016 – 2018. Penelitian ini menggunakan data Total Sampling dimana data tersebut masuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Total sampel yang diperoleh adalah sebanyak 57 pasien, dan penderita BPPV terbanyak adalah perempuan (61,4%) dan mayoritas kejadian BPPV dijumpai pada kelompok usia > 60 tahun (33,3%). Sampel terbanyak bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (31,6%). Frekuensi suku penderita BPPV terbanyak adalah berasal dari suku Batak (66,7%). Berdasarkan tekanan darah sebagai salah satu faktor risiko terjadinya BPPV, penderita terbanyak adalah termasuk dalam Hipertensi stage 1 (45,6%), dan faktor risiko lainnya seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) terbanyak memiliki IMT Obesitas (54,4%). Dan gejala klinis terbanyak yang dikeluhkan oleh penderita BPPV adalah rasa pusing berputar (42,1%).Background. Vertigo is the moving sensation from the body like spinning without any real movement, or anything moving around. Vertigo is about all ages, the incidences are 25% on patients with age more than 25, and 40% on patients with age more than 40, and reported around 30% on populations with age more than 65. Vertigo is divided into 2, which are vestibular vertigo and non-vestibular vertigo. Vestibular vertigo that mostly happened is perifer vestibular vertigo which is Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Objective. The aim of this research is to study the characteristics and the number of events from BPPV patients that came into RSUP Haji Adam Malik’s neurological clinic on 2016 - 2018. Method. This is a descriptive study with cross-sectional approach, and samples were collected from medical record of BPPV patients that came into RSUP Haji Adam Malik’s neurology clinic between January 2016 – October 2018, using total sampling method. Results. Total samples were 57, and most of the patients are woman (61,4%) with the most age average >60 (33,3%). The samples mostly worked as a housewife (31,6%). From the culture side, most of the patients are Bataknese (66,7%). Blood pressure as one of the risk factors of BPPV showed that most of the patients have been classified as Hypertension Stage 1 (45,6%), and another risk factor is the Body Mass Index mostly are Obese (54,4%). And for the most symptoms felt by the patients are vertigo (spinning), (42,1%).Skripsi Sarjan

    Hubungan antara Usia dengan Kadar Kalsium Darah dan Gambaran Elektroneuromiografi

    No full text
    Background : Aging is a process that is often accompanied by physiological changes. The blood calcium level in human body is known to be effected by age as it commonly found decrease in older people. It is also widely accepted that nerve conduction study parameters change with age. Objective : The aim of this study is to observe the correlation of age and blood calcium level and electroneuromyelography features in adult and elderly population. Method : This is a cross sectional study of 32 healthy subjects aged 18-63 y.o. All of the subjects undergo a blood calcium level test, nerve conduction study and needle electromyography (EMG). Result : There is no significant correlation between age and blood calcium level and EMG features (p~0,05). There is significant correlation between age and distal latency, amplitude and nerve conduction velocity of median, radial and tibial nerve (p<0,05). Conclusion : There is significant correlation between age and nerve conduction study in which older age tend to have longer distal latency, lower amplitude and decrease of nerve conduction velocityLatar belakang: Penuaan merupakan suatu proses yang seringkali diikuti dengan timbulnya perubahan-perubahan fisiologis. Kadar kalsium darah pada tubuh manusia dapat dipengaruhi oleh usia dimana kadar kalsium ini cenderung ditemukan menurun pada usia lanjut. Selain itu juga diketahui bahwa parameter pemeriksaan kecepatan hantar saraf dapat berubah seiring dengan pertambahan usia. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan usia dengan kadar kalsium darah dan gambaran elektroneuromiografi pada populasi usia dewasa dan usia lanjut. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang terhadap 32 orang subyek sehat berusia 18-63 tahun. Semua subyek menjalani pemeriksaan kadar kalsium darah, pemeriksaan kecepatan hantar saraf (KHS) dan elektromiografi (EMG). Hasil: Didapati hubungan yang tidak bermakna antara usia dengan kadar kalsium darah dan gambaran EMG (p;?!0,05). Didapati hubungan yang bermakna antara usia dengan amplitudo, latensi distal dan KHS nervus Medianus, Radialis dan Tibialis (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan pemeriksaan kecepatan hantar saraf dimana didapati latensi distal yang memanjang, amplitudo yang lebih rendah dan KHS yang menurun pada populasi usia lanjut114 HalamanTesis Magiste

    Hubungan Kadar Gula Darah dan Asam Urat dengan Keparahan Penyakit Parkinson

    No full text
    Latar Belakang : Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit neurodegeneratif dengan karakteristik disfungsi motorik yang mengenai sekitar 1-2% populasi berusia lebih dari 60 tahun. Mekanisme patogenesis PP masih belum jelas diketahui, walaupun beberapa dekade terakhir dilaporkan faktor genetik dan lingkungan berkaitan dengan PP. Asam urat adalah salah satu end products dari metabolisme purin yang berperan sebagai antioksidan alami di darah dan jaringan otak, dimana juga memiliki efek neuroprotektif. Faktor komorbiditas DM berhubungan dengan gangguan motorik yang lebih berat dan dapat berkontribusi menyebabkan instabilitas postural pada penderita PP. Metode : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang, pada pasien PP yang berobat di Poliklinik Neurologi RSUP. Haji Adam Malik Medan. Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis sesuai dengan kriteria diagnosis UKPP Society Bank’s Clinical Criteria for Probable Parkinson’s Disease. Kadar gula darah dan asam urat puasa diperiksa pada hari yang sama dengan pemeriksaan severitas PP dengan skala Unified Parkinson’s Disease Rating Scale (UPDRS). Hasil : Studi ini melibatkan 24 orang penderita penyakit Parkinson yang terdiri dari 12 orang laki-laki (50%) dan 50% perempuan. Usia termuda adalah 50 tahun, tertua 78 tahun, dan rerata usia 61,25±7,48 tahun. 13 orang diantara subjek termasuk dalam kelompok kadar gula darah (KGD) rendah dimana KGD lebih rendah dari nilai median≤99 mg/dl dan 11 pasien termasuk kelompok KGD tinggi. Kelompok KGD tinggi memiliki skor UPDRS lebih tinggi (53,36±21,74) daripada KGD rendah (31,31±7,79) dengan nilai p=0,001. KGD tinggi berhubungan signifikan dengan skor yang lebih tinggi untuk semua bagian UPDRS daripada KGD rendah. 14 orang dari subjek termasuk dalam kelompok kadar asam urat tinggi >6.07 mg/dl dan 10 orang termasuk dalam kelompok kadar asam urat rendah. Kelompok Kadar asam urat tinggi memiliki skor UPDRS total (38,80±19,99) lebih rendah daripada kelompok kadar asam urat rendah (43,29±18,89) dengan nilai p= 0,626. Kesimpulan: Kadar gula darah tinggi berhubungan signifikan dengan manifestasi klinis PP yang lebih berat. Kadar asam urat rendah berhubungan dengan manifestasi klinis penyakit yang lebih berat, namun tidak didapatkan hubungan yang signifikan pada penelitian ini.Background: Parkinson disease (PD) is a neurodegenerative disorder, characterized by motor dysfunctions which occurred 1-2% in populations older than 60 years old. Pathogenic mechanisms of PD remained uncertain, however, several genetic and environtment factors associated with PD have been reported in the last decade.Uric acid, one of the end products of purine metabolism is a natural antioxidant in blood and brain tissue, which has neuroprotective effect. Comorbid DM may be associated with more severe motor impairment and may contribute to postural instability in PD. Method: The method is using cross-sectional study, with population PD patient in outpatient Neurology Department General Adam Malik Hospital. The Diagnosis is based on a criteria diagnosis UKPP Society Bank’s Clinical Criteria for Probable Parkinson’s Disease. Fasting blood glucose and uric acid samples are obtained on the day that severity PD scale UPDRS is evaluated. Result: This study involved 24 Parkinson’s disease patients consist of 12 men (50%) and 50% women. The youngest age was 50 years old, oldest age 78 years old and Mean±SD age was 61.25±7.48 years old. 13 patients of the subjects was included low blood glucose level group had less than median blood glucose level ≤99 mg/dl and 11 patient in high blood glucose level group. High blood glucose level group had higher total UPDRS score (53.36±21.74) than the lower group (31.31±7.79) with p value 0.001. Higher blood glucose level group associated significantly with higher score for all of UPDRS section than the lower group. 14 patients of the subjects was included in high uric acid level group because had more than mean uric acid level >6.07 mg/dl and 10 patient in low uric acid level group. High uric acid level group had lower total UPDRS score (38.80±19.99) than the lower group (43.29±18.89) with p value 0.626 Conclusion : Higher blood glucose level associated significantly with severe of Parkinson’s disease clinical manifestation. Lower uric acid level associated with severe of Parkinson’s disease clinical manifestation but we did not find any significant association in this study.109 HalamanTesis Magiste

    Hubungan Antara Tingkat Keparahan Neuropati Diabetik dengan Gangguan Fungsi Kognitif pada Penderita Diabetes Melitus

    No full text
    Latar Belakang: Neuropati diabetik dan gangguan fungsi kognitif merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes mellitus (DM). Kedua komplikasi tersebut memiliki mekanisme patofisiologi yang hampir sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat keparahan neuropati diabetik dengan gangguan fungsi kognitif pada penderita DM. Metode : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien dengan neuropati diabetik di Poliklinik Endokrin dan Poliklinik Neurologi RSUP.Haji Adam Malik Medan, penilaian neuropati diabetik dilakukan dengan anamnesa pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan kecepatan hantaran saraf dan dikategorikan menjadi ringan, sedang, berat. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif dilakukan dengan menggunakan Montreal Cognitive Assessment – INA (MoCA-INA), Verbal fluency test, Trail Making Test A (TMT-A) dan Trail Making Test B (TMT-B). Untuk menganalisa hubungan tingkat keparahan neuropati diabetik dengan fungsi kognitif digunakan uji Fisher's Exact. Hasil : Penelitian ini melibatkan 31 subjek pasien DM yang menderita neuropati diabetik dengan jenis kelamin perempuan 26 subjek (83,9%) dan laki-laki 5 subjek (16,1%), usia seluruh subjek memiliki median sebesar 54(50 – 73) tahun. Riwayat lama menderita DM subjek memiliki nilai median 4 (1-15) tahun, Kadar Hba1c subjek memiliki nilai median 8 (7- 11.20). Dari analisa statistik didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan neuropati diabetik dengan keempat tools pemeriksaan kognitif, MoCA INA dengan nilai p < 0,001, TMT-A dengan nilai p <0,023, TMT-B dengan nilai p < 0,38 dan VFT dengan p < 0,014. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan neuropati diabetik dengan gangguan fungsi kognitif pada penderita DM.Background: Diabetic neuropathy and cognitive function disorder is a complication which frequently occurs on diabetes mellitus (DM) patients, both of these complication have pathophysiology mechanism which is almost the same. The purpose of this research is to find out the correlation between the level of diabetic neuropathy and cognitive function disorder on DM patients. Method: This research used cross section design on DM and diabetic neuropathy at endocrine Polyclinic and Neurology Polyclinic RSUP Haji Adam Malik Medan. Diabetic neuropathy is divided into light, medium, bad. Furthermore, the examination on cognitive function was conducted by using MoCA INA, Verbal fluence, TMT-A, TMT-B. In order to analyze the data of the correlation between the level of diabetic neuropathy and cognitive function disorder, fisher exact test was used. The Result: This research involve 31 subjects. They are DM patients who sufferred diabetic neuropathy. They consist of 26 female patients (83,9%), and 5 male patients (16,1%), the ages of all subjects had median in the amount of 54 (50-73) years old. The history of suffering DM, subjects have median value 4 (1- 15) years, divided into <5 years 16 subjects (51,6%), 5-10 years in the amount of 12 subjects (38,7%), and >10 years in the amount of 3 subjects (9,7%). The level of subjects’ Hba1c has median value 8 (7-11.20). From the statistical analysis, it obtains that there is significant correlation between the level of diabetic neuropathy and four tools of cognitive examination, MoCA INA with p value < 0,001, TMT-A with p value <0,023, TMT-B with p vlaue < 0,38 and VFT with p value < 0,014. Conclusion: There is significant correlation between the level of diabetic neuropathy and cognitive function disorder on DM patients.150 HalamanTesis Magiste

    Hubungan Gambaran Visual Evoked Potential dengan Kecepatan Hantar Saraf pada Penderita Diabetes Melitus

    No full text
    Background The correlation between retinopathy and neuropathy in diabetics has continued to be studied in recent years, with many researchers using ophthalmic markers, such as corneal structures, retinal function and structures such as VEP and clinical signs and symptoms of vision impairment in determining diabetic neuropathy Purpose The aim of this study is to find the correlation between visul evoked potential with nerve conduction velocity in diabetes mellitus patient Methods This is a cross-sectional study. Subject recruited consecutively according to inclusion and exclusion criteria and divided into two groups based on duration of diabetes. Each subject will be examined for VEP and NCV, whereas on examination of NCV, the nerves examined include the median, ulnar, peroneal, posterior tibialis, and suralis Results The number of diabetes mellitus subjects was 30 people, consisting of 14 men (46.7%) and 16 women (53.3%). This study showed a decrease in nerve conductivity velocity and prolongation of P100 latency. There was negative correlation that’s not statistically significant between the mean of P100 latency and the mean of nerve conduction velocities of sensory and motor median nerve, sensory and motor ulnar nerve, posterior tibial nerve, and sural nerve in diabetic melitus patients with r and p values respectively – 0.075; (p = 0.692); -0.286; (p = 0.153); -0.137; (p = 0.471); -0.191; (p = 0.312); -0.242; (p = 0.197); -0.330; (p = 0.075). While on the peroneal nerve obtained a negative correlation that’s statistically significant with the value of r and p is -0.408; (p = 0.025) Conclusion There is a negative correlation between the VEP image and nerve conduction velocity, which indicates a link between retinopathy and neuropathyLatar Belakang Hubungan antara retinopati dan neuropati pada penderita diabetes terus diteliti beberapa tahun terakhir, dimana banyak peneliti yang menggunakan penanda oftalmik, seperti struktur kornea, fungsi dan struktur retina seperti VEP dan gejala serta tanda klinis dari gangguan penglihatan dalam menentukan neuropati diabetika Tujuan Untuk mengetahui hubungan gambaran visual evoked potential dengan kecepatan hantar saraf pada penderita diabetes melitus Metode Studi ini merupakan studi potong lintang. Pengambilan subjek dilakukan secara konsekutif berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan durasi menderita diabetes. Setiap subjek akan diperiksa gambaran VEP dan KHS, dimana pada pemeriksaan KHS, saraf yang diperiksa antara lain saraf medianus, ulnaris, peroneal, tibialis posterior, dan suralis Hasil Jumlah subjek diabetes melitus adalah 30 orang, terdiri dari 14 laki-laki (46,7%) dan 16 perempuan (53,3%). Penelitian ini menunjukkan adanya penurunan kecepatan hantar saraf dan pemanjangan latensi P100. Terdapat korelasi negatif yang tidak signifikan antara rerata nilai latensi P100 dengan rerata nilai KHS sensorik dan motorik saraf medianus, sensorik dan motorik saraf ulnaris, motorik saraf tibialis posterior, dan sensorik saraf suralis pada penderita diabetes melitus dengan nilai r dan p masing – masing adalah -0,075; (p = 0,692); -0,286; (p = 0,153); -0,137; (p = 0,471); -0,191; (p = 0,312); -0,242; (p = 0,197); -0,330; (p = 0,075). Sedangkan pada saraf peroneal didapatkan korelasi negatif yang signifikan dengan nilai r dan p adalah -0,408; (p = 0,025) Kesimpulan Terdapat hubungan negatif yang antara gambaran VEP dengan kecepatana hantar saraf, dimana menujukkan adanya hubungan antara retinopati dengan neuropati.154 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Akurasi Diagnostik Antara Cognitive Performance Scale dan Mini Mental State Examination terhadap General Practioner Assessment Of Cognition Untuk Menilai Fungsi Kognitif pada Usia Lanjut

    No full text
    Background : The Mini-Mental State Exam (MMSE) (Folstein et al., 1975) is probably the most widely used screening measure of cognitive functioning. In the past, the Cognitive Performance Scale (CPS) corresponded closely with scores generated by the MMSE. However, no standard diagnostic accuracy study, comparing both CPS and MMSE with a gold standard, is yet available. Objective : The objective of this study was to compare the diagnostic accuracy of the CPS and the MMSE for the detection of cognitive impairment. The General Practitioner Assessment of Cognition (GPCOG) was used as the reference standard. Methods : This cross sectional study with > 80 subjects more than 60 years old living in UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai-Medan and Panti Jompo Karya Kasih Medan. All subjects examined for CPS, MMSE and GPCOG. Results : The diagnostic values of a CPS score of 2 or more for the detection of cognitive impairment were : sensitivity = 0,84; specificity = 0,88; PPV= 0,90; NPV= 0,82, LR + = 7, LR - = 0,18 and accuracy = 0,86. The diagnostic values of a MMSE score of 23 or less for the detection of cognitive impairment were : sensitivity = 0,91; specificity = 0,72; PPV= 0,80; NPV= 0,86, LR + = 3,21, LR - = 0,13 and accuracy = 0,82. Conclusion : There is insignificant difference between CPS and MMSE accuracy to detect cognitive impairment. (p= 0,32)Latar Belakang : Mini Mental State Examination (MMSE) merupakan penilaian fungsi kognitif yang paling luas dipakai. Pada MMSE berbagai domain yang dinilai meliputi orientasi waktu dan tempat, atensi, memori, bahasa dan konstruksi visual. Dahulu skala Cognitive Performance Scale (CPS) dihubungkan secara erat dengan skor MMSE, meskipun tidak ada studi tentang akurasi standar diagnostik yang membandingkan CPS dan MMSE dengan gold standard yang telah digunakan. Tujuan : Untuk mengetahui perbandingan akurasi diagnostik CPS dan MMSE terhadap General Practioner Assessment of Cognition (GPCOG) dalam menilai gangguan fungsi kognitif pada usia lanjut. Metode : Studi cross sectional dengan 80 subjek yang berusia 60 tahun atau lebih yang tinggal di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai-Medan dan Panti Jompo Karya Kasih Medan. Semua subjek dilakukan pemeriksaan CPS, MMSE dan GPCOG. Hasil : Nilai diagnostik untuk nilai CPS ≥ 2 dalam menilai fungsi kognitif usia lanjut didapatkan sensitifitas = 0,84; spesifisitas = 0,88; NDP= 0,90; NDN= 0,82, RKP = 7, RKN = 0,18 dan akurasi = 0,86. Nilai diagnostik untuk nilai MMSE ≤ 23 dalam menilai fungsi kognitif usia lanjut didapatkan sensitifitas = 0,91; spesifisitas = 0,72; NDP = 0,80; NDN= 0,86, RKP = 3,21, RKN = 0,13 and akurasi = 0,82. Kesimpulan : Terdapat perbedaan akurasi yang tidak bermakna antara CPS dan MMSE dalam menilai fungsi kognitif usia lanjut. (p = 0,32)85 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Kadar Gula Darah dan Kadar Profil Lipid Dengan Penderita Nyeri Muskuloskeletal Kronik dan Penderita Nyeri Non Muskuloskeletal

    No full text
    Background:Musculoskeletal Painis amajor health problemworldwide. The current studyshowsoverweightandobesehave ahigherrisk ofthe occurrence ofmusculoskeletal pain, it is associatedwithmetabolic syndromeandtype 2 diabetes mellitus. Objective: To determine the ratio of blood sugar levels and lipid profile in chronic musculoskeletal pain and non-musculoskeletal pain. Methods: This study is a cross-sectional study with independent T and Mann – Whitney methods using 124 subjects, consisted of a chronic musculoskeletal pain and non-musculoskeletal pain patients. All subjects underwent anamneses, physical and neurological examinations, X- Ray examination, the blood sugar levels and lipid profile examination. Results: From this study 124 samples, there were 82 women (66.13%). There were no significant differences the levels of total cholesterol (p=0.069), triglycerides (p=0.182), High - Density Lipoprotein (p=0.479), Low - Density Lipoprotein (p=0.528), but a significant difference between the levels of adrandom blood sugar (p = 0.001), fasting blood glucose levels (p = 0.001), and postprandial blood glucose levels (p = 0.024) and the incidence of chronic musculoskeletal pain. Conclusion:There was significantly different in blood sugar level between musculoskeletal pain and non musculoskeletal painLatar Belakang:Nyeri Muskuloskeletal merupakan salah satu masalah utama kesehatan di seluruh dunia. Penelitian saat ini menunjukkan kelebihan berat badan dan obesitas memiliki resiko yang tinggi terjadinya nyeri muskuloskeletal, hal ini berhubungan dengan sindroma metabolik dan diabetes melitus tipe 2 Tujuan :Untuk mengetahui perbandingan kadar gula darah dan kadar lipid profile pada nyeri muskuloskeletal kronik dan nyeri non muskuloskeletal. Metode :Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan metode uji T independen dan uji Mann – Whitney, yang terdiri dari 124 subjek yang terdiri dari kelompok nyeri musculoskeletal kronik dan kelompok nyeri non musculoskeletal. Seluruh subjek menjalani anamneses, pemeriksaan fisik dan neurologis, pemeriksaan X – Ray, pemeriksaaan kadar gula darah dan pemeriksaan kadar lipid profile Hasil :Pada studi ini sebanyak 124 pasien, terdiri dari 82 perempuan (66,13%). Didapatkan perbedaan yang tidak bermakna pada kadar total kolesterol (p=0,069), kadar trigliserida (p=0,182), High – Density Lipoprotein (p=0,479), Low – Density Lipoprotein (p=0,528), tapi Didapatkan perbedaan yang bermakna kadar gula darah sewaktu (p=0,001), kadar gula darah puasa (p=0,001), dan kadar gula darah postprandial (p=0,024) dengan kejadian nyeri muskuloskeletal kronik. Kesimpulan :dijumpai adanya perbedaan kadar gula darah yang bermakna antara nyeri muskuloskeletal dan nyeri non musculoskeletal.76 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Sensitivitas dan Spesifisitas Straight Leg Raising Test, Modified Bragard Test dan Modified Sicard Test pada Radikulopati Lumbosakral

    No full text
    Background— Low back pain is the most common musculoskeletal abnormalities in clinical practice. Due to the high incidence and prevalence of low back pain especially lumbosacral radiculopathy and its adverse effect in society such as disability and low quality of life, a good confirmatory and screening test of lumbosacral of radiculopathy is sorely needed. The tests are based on jackknife position, one of major maneuver to increase pressure in discus intervertebralis. Purpose— The research compared 3 types of lumbosacral radiculopathy provocative test to screen the abnormality, so it can be used for better early diagnosis. Materials & Methods— The study was a cross sectional study in Haji Adam Malik Medan General Hospital. The primary data source was taken from Neurology Policlinic of the hospital. 21 patients with low back pain were tested with using Straight Leg Raising Test, modified Bragard test dan modified Sicard test then were confirmed by electrodiagnostic test. The results the processed with 2x2 table and ROC to calculate sensitivity, specificity and AUC value of each tests. Results— Sensitivity of is SLR 64,7% and its specificity is 50,0%. AUC value of SLR is 0,574 (95%CI 0,251-0,896). Sensitivity of modified Bragard Test is 82,4% and its spesicificity is 75,0%. AUC value modified Bragard test is 0,787 (95%CI 0,514-1,000). Sensitivity ofmodified Sicard test is 76,5% and its specificity is 50,0%. AUC value of modified Sicard test is 0,632 (95%CI 0,308-0,956) Conclusion— Modified Bragard test has the highest sensitivity compared to the other 2 tests.Latar Belakang— Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah kelainan muskuloskeletal yang paling sering dijumpai di praktik klinis. Akibat besarnya insidensi dan prevalensi dari NPB di masyarakat dan efek NPB khususnya radikulopati lumbosakral terhadap disabilitas dan kualitas hidup penderitanya, dibutuhkan penegakan diagnosis dan penapisan NPB terutama radikulopati lumbosakral yang baik. Penelitian ini didasarkan pada posisi jackknife, salah satu manuver mayor untuk meningkatkan tekanan di discus intervertebralis. Tujuan— Penelitian ini membandingkan 3 jenis tes provokasi lumbosakral untuk penapisan radikulopati lumbosakral sehingga dapat digunakan untuk penegakan diagnosis awal yang lebih baik Bahan & Metode— Penelitian ini adalah penelitian potong lintang di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan. Sumber data primer diambil dari semua penderita NPB yang di rawat di poliklinik Neurologi rumah sakit. Dua puluh satu pasien nyeri punggung belakang dinilai dengan menggunakan Straight Leg Raising Test, modified Bragard test dan modified Sicard test kemudian dilakukan konfirmasi dengan menggunakan uji elektrodiagnostik. Hasil ketiga tes kemudian dilakukan uji diagnostic dengan tabel 2x2 dan ROC untuk menilai sensitivita, spesifisitas dan nilai AUC dari masing-masing tes. Hasil— Sensitivitas SLR 64,7% sedangkan spesifitasnya 50,0%. Nilai AUC SLR adalah 0,574 (95%CI 0,251-0,896). Sensitivitas modified Bragard Test 82,4% sedangkan spesifitasnya 75,0%. Nilai AUC modified Bragard test adalah 0,787 (95%CI 0,514-1,000). Sensitivitas modified Sicard test 76,5% sedangkan spesifitasnya 50,0%. Nilai AUC modified Sicard test adalah 0,632 (95%CI 0,308- 0,956) Kesimpulan— Modified Bragard test mempunyai nilai sensitivitas yang paling tinggi dibandingkan 2 tes lainnya.110 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Sensitivitas dan Spesifisitas Straight Leg Raising Test, Modified Bragard Test dan Modified Sicard Test pada Radikulopati Lumbosakral

    No full text
    Background— Low back pain is the most common musculoskeletal abnormalities in clinical practice. Due to the high incidence and prevalence of low back pain especially lumbosacral radiculopathy and its adverse effect in society such as disability and low quality of life, a good confirmatory and screening test of lumbosacral of radiculopathy is sorely needed. The tests are based on jackknife position, one of major maneuver to increase pressure in discus intervertebralis. Purpose— The research compared 3 types of lumbosacral radiculopathy provocative test to screen the abnormality, so it can be used for better early diagnosis. Materials & Methods— The study was a cross sectional study in Haji Adam Malik Medan General Hospital. The primary data source was taken from Neurology Policlinic of the hospital. 21 patients with low back pain were tested with using Straight Leg Raising Test, modified Bragard test dan modified Sicard test then were confirmed by electrodiagnostic test. The results the processed with 2x2 table and ROC to calculate sensitivity, specificity and AUC value of each tests. Results— Sensitivity of is SLR 64,7% and its specificity is 50,0%. AUC value of SLR is 0,574 (95%CI 0,251-0,896). Sensitivity of modified Bragard Test is 82,4% and its spesicificity is 75,0%. AUC value modified Bragard test is 0,787 (95%CI 0,514-1,000). Sensitivity ofmodified Sicard test is 76,5% and its specificity is 50,0%. AUC value of modified Sicard test is 0,632 (95%CI 0,308-0,956) Conclusion— Modified Bragard test has the highest sensitivity compared to the other 2 tests.Latar Belakang— Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah kelainan muskuloskeletal yang paling sering dijumpai di praktik klinis. Akibat besarnya insidensi dan prevalensi dari NPB di masyarakat dan efek NPB khususnya radikulopati lumbosakral terhadap disabilitas dan kualitas hidup penderitanya, dibutuhkan penegakan diagnosis dan penapisan NPB terutama radikulopati lumbosakral yang baik. Penelitian ini didasarkan pada posisi jackknife, salah satu manuver mayor untuk meningkatkan tekanan di discus intervertebralis. Tujuan— Penelitian ini membandingkan 3 jenis tes provokasi lumbosakral untuk penapisan radikulopati lumbosakral sehingga dapat digunakan untuk penegakan diagnosis awal yang lebih baik Bahan & Metode— Penelitian ini adalah penelitian potong lintang di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan. Sumber data primer diambil dari semua penderita NPB yang di rawat di poliklinik Neurologi rumah sakit. Dua puluh satu pasien nyeri punggung belakang dinilai dengan menggunakan Straight Leg Raising Test, modified Bragard test dan modified Sicard test kemudian dilakukan konfirmasi dengan menggunakan uji elektrodiagnostik. Hasil ketiga tes kemudian dilakukan uji diagnostic dengan tabel 2x2 dan ROC untuk menilai sensitivita, spesifisitas dan nilai AUC dari masing-masing tes. Hasil— Sensitivitas SLR 64,7% sedangkan spesifitasnya 50,0%. Nilai AUC SLR adalah 0,574 (95%CI 0,251-0,896). Sensitivitas modified Bragard Test 82,4% sedangkan spesifitasnya 75,0%. Nilai AUC modified Bragard test adalah 0,787 (95%CI 0,514-1,000). Sensitivitas modified Sicard test 76,5% sedangkan spesifitasnya 50,0%. Nilai AUC modified Sicard test adalah 0,632 (95%CI 0,308- 0,956) Kesimpulan— Modified Bragard test mempunyai nilai sensitivitas yang paling tinggi dibandingkan 2 tes lainnya.110 HalamanTesis Magiste

    Gambaran Pola Kuman Bakteri dan Sensitivitas Antibiotik pada Pasien Stroke dengan Sepsis di Ruang Rawat Inap Neurologi RSUP Haji Adam Malik Medan

    No full text
    Pendahuluan: Penekanan sistem imun akibat kerusakan serebral menyebabkan pasien stroke berisiko tinggi untuk mengalami sepsis. Sepsis merupakan salah satu penyumbang kematian utama pada pasien stroke. Pemilihan antibiotik spektrum luas empiris harus mencakup semua bakteri dan tergantung pada data epidemiologi dari pola kuman bakteri dan sensitivitas antibiotik. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pola kuman bakteri dan sensitivitas antibiotik pada pasien stroke dengan sepsis di ruang rawat inap Neurologi Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik. Metode: Studi deskriptif pada pasien stroke dengan sepsis selama Februari 2018 - Juni 2018. Diagnosis sepsis didasarkan pada Kriteria American College of Chest Physicians (ACCP) dan Society of Critical Care Medicine ( SCCM). Hasil: Kami mengidentifikasi 43 pasien stroke dengan sepsis yang terdiri dari 20 pasien yang dirawat di stroke corner dan 23 pasien di bangsal neurologi. Rata-rata waktu terjadinya sepsis adalah 4,74±1,90 hari. Organisme gram negatif mendominasi spektrum mikrobiologi (86,0%). Penyebab sepsis paling umum di stroke corner adalah Klebsiella Pneumonia (40,0%) dan di bangsal neurologi adalah Acinetobacter Baumanii (39,1%). Antibiotik yang paling sensitif di stroke corner adalah Amikacin (34,8%), Meropenem (30,2%), Cefoperazone (13,9%), dan Levofloxacin (11,6%). Sedangkan di bangsal neurologi adalah Amikacin (41,8%), Meropenem (39,5%), Gentamycin (23,2%) dan Cefoperazone (16,2%). Kesimpulan: Bakteri penyebab sepsis terbanyak di ruang rawat inap Neurologi di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik adalah Klebsiella Pneumonia dan Acinetobacter Baumanii. Amikacin dan Meropenem sensitif terhadap sebagian besar pasien ini.Introduction: The immune-suppressive effect of cerebral damage could have made stroke patients were at high risk for sepsis. Sepsis is one of the major mortality contributor of stroke patient. The choice of empiric broad-spectrum antibiotics must be enough to cover all bacterials and depends on epidemiology data of the bacterial pattern and antibiotics sensitivity. Aim: To know the bacterial pattern and antibiotics sensitivity of sepsis stroke patients in neurology inpatient rooms of Haji Adam Malik General Hospital. Method : A descriptive study of sepsis stroke patients during February 2018 - June 2018. The diagnosis of sepsis was based on the Criteria of American College of Chest Physicians (ACCP) and Society of Critical Care Medicine (SCCM). Results: We identified 43 stroke patients with sepsis consist of 20 patients who stayed in stroke corner and 23 patients in neurology ward.The average of time to make sepsis was 4,74±1,90 days. Gram negative organisms were dominating the microbiologic spectrum (86,0%). The most common etiology of sepsis in stroke corner is Klebsiella Pneumonia (40,0%) and in neurology ward is Acinetobacter Baumanii (39,1%). Antibiotics showing their sensitivity most frequently in stroke corner were Amikacin (34,8%) , Meropenem (30,2%), Cefoperazone (13,9%), and Levofloxacin (11,6%) and in neurology ward were Amikacin (41,8%) , Meropenem (39,5%), Gentamycin (23,2%) and Cefoperazone (16,2%). Conclusions: The most common bacterial of sepsis stroke patients at Neurology inpatient rooms of Haji Adam Malik General Hospital is Klebsiella Pneumonia and Acinetobacter Baumanii. Amikacin and Meropenem are sensitive to most of these patients.Tesis Magiste
    corecore