4 research outputs found

    Implikasi hukum pembatalan akta cerai terhadap status perkawinan perspektif teori kepastian hukum: Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 64pk/ag/2020

    Get PDF
    ABSTRAK Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor 64PK/Ag/2020 yang membatalkan status perceraian dalam Putusan Pengadilan Agama Mataram Nomor 138/Pdt.G/2019/PA.Mtr, memunculkan isu hukum baru terkait status perkawinan yang dilakukan selama masa perceraian. Isu ini sangat terkait dengan teori kepastian hukum Nurhasan Ismail yang menetapkan syarat-syarat untuk mencapai kepastian hukum. Penelitian ini hendak melengkapi kekurangan studi-studi sebelumnya dengan berfokus pada permasalahan implikasi hukum pembatalan akta cerai terhadap status perkawinan para pihak yang berperkara pada masa perceraian dengan mengkajinya dari sisi perspektif teori kepastian hukum dengan melakukan studi pada Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Nomor 64PK/Ag/2020. Penelitian ini berfokus pada dua masalah utama. Pertama, pertimbangan hukum yang digunakan majelis hakim dalam memutus pembatalan akta cerai dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 64PK/Ag/2020. Kedua, implikasi hukum putusan status perkawinan berdasarkan akta cerai yang dibatalkan, dilihat dari perspektif teori kepastian hukum. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approac) dan pendekatan kasus (case approach). Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian diperoleh bahwa Pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim dalam mengabulkan permohonan peninjauan kembali dalam Putusan Mahkamah Agung No. 64PK/Ag/2020 didasarkan karena dalam permohonan cerai talak di pengadilan tingkat pertama terdapat cacat formil berupa ketidaksesuaian alamat termohon dengan alamat aslinya. oleh sebab itu majelis hakim menggunakan Pasal 67 UU Mahkamah Agung sebagai dasar pertimbangan hukum dalam mengabulkan permohonan peninjauan kembali. Adapun implikasi hukum dari pembatalan akta cerai A dan R melalui Putusan Mahkamah Agung No. 64PK/Ag/2020 terhadap perkawinan A dengan perempuan lain pada masa perceraian, menjadikan perkawinan tersebut dapat dibatalkan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 22 UU Perkawinan dan Pasal 71 KHI. Dari perspektif teori kepastian hukum Nurhasan Ismail dengan persyaratannya yaitu a. Adanya kejelasan konsep yang digunakan, b. Adanya kejelasan dalam hierarki, c. Adanya konsistensi dalam norma hukum, berbagai peraturan yang berlaku dalam kasus ini telah memenuhi syarat-syarat untuk mencapai kepastian hukum. ABSTRACT Supreme Court Review Decision Number 64PK/Ag/2020 which canceled the divorce status in Mataram Religious Court Decision Number 138/Pdt.G/2019/PA. Mtr, creating new problems related to marital status carried out during the divorce period. This issue is closely related to the principle of legal certainty and Nurhasan Ismail's theory of legal certainty which sets the conditions for achieving legal certainty. This study aims to complement the shortcomings of previous studies by focusing on the issue of the legal implications of divorce certificate cancellation on the marital status of litigants during the divorce period by studying it from the perspective of legal certainty theory by conducting a study on the Supreme Court Review Decision Number 64PK / Ag / 2020. This research focuses on two main problems. First, the legal considerations used by the panel of judges in deciding the cancellation of the divorce certificate in Supreme Court Decision Number 64PK/Ag/2020. Second, the legal implications of the ruling on marital status based on annulled divorce certificates, viewed from the perspective of legal certainty theory. This research is a normative legal research with a statutory approach (statute approac) and a case approach (case approach). The legal materials used are primary legal materials and secondary legal materials collected through literature studies. The results of the study found that the legal considerations used by the Panel of Judges in granting the review application in Supreme Court Decision No. 64PK/Ag/2020 were based on the fact that in the divorce application in the court of first instance there was a formal defect in the form of a discrepancy between the respondent's address and his original address. Therefore, the panel of judges used Article 67 of the Supreme Court Law as a basis for legal consideration in granting the application for judicial review. The legal implications of the cancellation of divorce certificates A and R through Supreme Court Decision No. 64PK / Ag / 2020 on marriage A with another woman during the divorce period, make the marriage can be annulled in accordance with the provisions in Article 22 of the Marriage Law and Article 71 of the KHI. From the perspective of Nurhasan Ismail's legal certainty theory, the requirements are a. There is clarity of the concepts used, b. There is clarity in the hierarchy, c. There is consistency in legal norms, the various regulations that apply in this case have met the requirements to achieve legal certainty. مستخلص البحث قرار مراجعة المحكمة العليا رقم 64PK/Ag/2020 الذي يلغي حالة الطلاق في قرار محكمة ماتارام الدينية رقم138/Pdt.G/2019/PA. Mtr ، يخلق مشاكل جديدة فيما يتعلق بحالة الزواج الذي تم خلال فترة الطلاق. وترتبط هذه المسألة ارتباطاً وثيقاً بمبدأ اليقين القانوني ونظرية نورحسن إسماعيل في اليقين القانوني التي تحدد شروط تحقيق اليقين القانوني. يهدف هذا البحث إلى استكمال قصور الدراسات السابقة من خلال التركيز على مسألة الآثار القانونية المترتبة على إلغاء شهادة الطلاق على الحالة الزواجية للطرفين أثناء الطلاق من خلال دراستها من منظور نظرية اليقين القانوني من خلال إجراء دراسة حول قرار المراجعة القضائية للمحكمة العليا رقم 64PK/Ag/2020. يركز هذا البحث على مشكلتين رئيسيتين. أولاً، الاعتبارات القانونية التي استخدمتها هيئة القضاة في قرار إلغاء سند الطلاق في قرار المحكمة العليا رقم 64PK/Ag/2020. ثانياً، الانعكاسات القانونية لهذا القرار على الحالة الاجتماعية بناءً على شهادة الطلاق الملغاة من منظور نظرية اليقين القانوني. هذا البحث هو بحث قانوني معياري ذو منهج قانوني ومنهج حالة. المواد القانونية المستخدمة هي المواد القانونية الأولية والمواد القانونية الثانوية التي تم جمعها من خلال دراسة الأدبيات. وأظهرت نتائج البحث أن الاعتبارات القانونية التي استخدمتها هيئة القضاة في الموافقة على طلب المراجعة القضائية في قرار المحكمة العليا رقم 64PK/Ag/2020 يستند إلى حقيقة أنه في طلب الطلاق في المحكمة الابتدائية كان هناك عيب شكلي في شكل عدم تطابق بين عنوان المدعى عليه وعنوانه الأصلي. ولذلك، استخدمت هيئة القضاة المادة 67 من قانون المحكمة العليا كأساس للاعتبارات القانونية في الموافقة على طلب إعادة النظر. الآثار القانونية المترتبة على إلغاء عقد طلاق "أ" و "ر" من خلال قرار المحكمة العليا رقم 64PK/Ag/2020 بشأن زواج "أ" من امرأة أخرى أثناء الطلاق، يمكن إبطال الزواج وفقًا لأحكام المادة 22 من قانون الزواج والمادة 71 من KHI. ومن وجهة نظر نظرية اليقين القانوني لنورحسن إسماعيل فإن المتطلبات هي: أ. أن يكون هناك وضوح في المفاهيم المستخدمة، ب. هناك وضوح في التسلسل الهرمي، ج. هناك اتساق في القواعد القانونية، وقد استوفت اللوائح المختلفة المطبقة في هذه الحالة متطلبات تحقيق اليقين القانوني

    Praktek gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun: Perspektif DSN-MUI no.26/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn emas dan surat edaran Bank Indonesia no.14/7/DPbS

    Get PDF
    INDONESIA: Muamalah merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur hubungan antar seseorang dengan orang lain, baik seseorang itu pribadi tertentu maupun berbentuk badan hukum. Keberadaan lembaga perbankan syariah menjadi tantangan tersendiri dalam sendi-sendi perekonomian masyarakat, dalam kegiatan ekonominya, sehingga Lembaga perbankan syariah ini menjadi pilot projek dalam menjawab tantangan zaman. Gadai menjadi fasilitas Bank yang disediakan untuk masyarakat dalam meningkatkan suatu kebutuhan transaksi yang memberikan pinjaman dengan adanya agunan. Berdasarkan ini siatif penulis dalam penelitian ini yaitu mencoba mengintegrasikan dua aspek hukum dalam praktek Gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun. Sehingga dalam penelitian ini terdapat dua rumusan masalah yaitu: Bagaimana Praktek gadai emas di Bank Syariah Mandiri Madiun? Bagaimana praktek gadai emas perspektif DSN MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas dan Surat Edaran Bank Indonesia No.14/7/DPbS. Untuk mengetahui praktek Gadai yang terjadi di Bank Syariah Mandiri Cabang Madiun, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian Yuridis Empiris sebagai pisau analisis dalam menjawab permaalahan di atas. Adapun hasil penelitian ini yaitu Dalam menangani pembiayaan ini dikelola dan dikerjakan khusus oleh officer gadai yang bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang berhubungan dengan produk gadai emas BSM. Dalam prakteknya, akad yang digunakan dalam pembiayaan gadai di BSM ini adalah akad Qardh dalam rangka Rahn. Qardh dalam rangka Rahn adalah akad pemberian pinjaman dari bank untuk nasabah. Perspektif DSN-MUI No.14/7/DPbs Berdasarkan isi dari fatwa yang telah disepakati oleh MUI dan dituangkan oleh Dewan Syari’ah Nasional, bahwa praktik al-rahn diperbolehkan. Dalam mekanismenya, dalam praktik gadai menggunakan akad al-rahn dan dalam penyimpanan barang gadai (marhun) menggunakannya akad ijarah. Akad ijarah disini diartikan bahwa penggadai (rahin) menyewa tempat di bank untuk menyimpan atau menitipkan barang gadainya, kemudian bank menetapkan biaya sewa tempat. Secara umum Bank syaria’ah mandiri telah menyesuaikan sistem dan prosedur gadai emas syari’ah berdasarkan Surat edaran Bank Indonesia No 14/7/DPbs.2012 ENGLISH: Muamalah is part of Islamic law which regulate the relationship of someone with others, whether it is a person or a legal entity. The existence of sharia banking institution has become a specific challenge in the joints of society economy, within its economic activities, so this sharia banking institution has become a pilot project in answering the challenge of time. Pawn has become the bank facility provided for the community in improving a transactional need that provides loan with collateral. Based on the initiative of the author in this research namely to try to integrate the two aspects of law in the practice of gold pawn in Bank Syariah Mandiri Madiun. Thus in this research there were two formulation of problems namely: How the Practice of gold pawn in Bank Syariah Mandiri Madiun? How the practice of gold pawn in the perspective of DSN MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 on Gold Pawn and Circullar Letter of Bank of Indonesia No. 14/7/DPbS. To understand the practice of Pawn occuring in Bank Syariah Mandiri Madiun Branch, then in this research the author used Juridical Empirical research type as the blade analysis in answering the above problems. As for the results of this research it is found that in handling the financing, it has been managed and carried out specially by the pawnshop officer who is in full charge of all matters related with the product of BSM gold pawn. In practice, the agreement (akad) used in financing pawn in this BSM is contract of Qardh in order of Rahn. Qardh in order of Rahn is a contract that gives loan from the bank to customers. Perspective of DSN-MUI No.14/7/DPbs Based on the content of fatwa which have been agreed upon by MUI and poured by the National Sharia Board, practice of al-rahn is allowed. In the mechanism, in practice of pawn uses contract of al-rahn and storing the collateral (marhun) uses the contract of ijarah. Contract of ijarah here is interpreted that the pawner (rahin) hires a place in the bank to save or entrust their collateral, then the bank set cost of renting the place. In general, Bank Syariah Mandiri has adjusted the system and procedure of sharia gold pawn based on the Circular Letter of Bank of Indonesia No. 14/7/DPbs.201

    Problematika keadilan dalam praktik poligami: Telaah aksiologis atas etika dan estetika

    Get PDF
    Poligami merupakan praktik perkawinan yang memicu polemik dan perdebataan, terutama dalam hal keadilan gender dan etika keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara filosofis bagaimana konsep keadilan dalam poligami dapat dinilai melalui kerangka aksiologi, khususnya dari dimensi etika dan estetika. Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis serta dianalisis secara deskriptif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam aspek hukum terdapat ketidak konsistenan antara Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam mengatur poligami, terutama terkait batas maksimal poligami, mekanisme persetujuan istri, dan pengawasan pemenuhan syarat keadilan. Dalam Hukum Islam keadilan poligami lebih menekankan aspek material (nafkah, pembagian waktu), tetapi kesulitan mengukur keadilan immateri (cinta, perhatian). Kemudian perspektif Aristoteles poligami sering bertentangan dengan prinsip keadilan sebagai kemanfaatan bersama, karena cenderung merugikan perempuan dan menimbulkan ketidakseimbangan dalam rumah tangga. Berdasarkan tinjauan aksiologi dari segi teleologi, poligami hanya dapat dibenarkan jika menghasilkan kebahagiaan kolektif, bukan individual. Sedangkan deontologi memandang poligami harus tunduk pada prinsip moral absolut tentang keadilan dan kesetaraan gender. Dari segi pandangan estetika poligami seringkali menimbulkan ketegangan sosial dan emosional dalam rumah tangga, sehingga mengurangi kemungkinan terciptanya harmoni

    Problematika Keadilan dalam Praktik Poligami: Telaah Aksiologis atas Etika dan Estetika

    Get PDF
    ABSTRAK: Poligami merupakan praktik perkawinan yang memicu polemik dan perdebataan, terutama dalam hal keadilan gender dan etika keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara filosofis bagaimana konsep keadilan dalam poligami dapat dinilai melalui kerangka aksiologi, khususnya dari dimensi etika dan estetika. Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis serta dianalisis secara deskriptif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam aspek hukum terdapat ketidak konsistenan antara Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam mengatur poligami, terutama terkait batas maksimal poligami, mekanisme persetujuan istri, dan pengawasan pemenuhan syarat keadilan. Dalam Hukum Islam keadilan poligami lebih menekankan aspek material (nafkah, pembagian waktu), tetapi kesulitan mengukur keadilan immateri (cinta, perhatian). Kemudian perspektif Aristoteles poligami sering bertentangan dengan prinsip keadilan sebagai kemanfaatan bersama, karena cenderung merugikan perempuan dan menimbulkan ketidakseimbangan dalam rumah tangga. Berdasarkan tinjauan aksiologi dari segi teleologi, poligami hanya dapat dibenarkan jika menghasilkan kebahagiaan kolektif, bukan individual. Sedangkan deontologi memandang poligami harus tunduk pada prinsip moral absolut tentang keadilan dan kesetaraan gender. Dari segi pandangan estetika poligami seringkali menimbulkan ketegangan sosial dan emosional dalam rumah tangga, sehingga mengurangi kemungkinan terciptanya harmoni. Kata Kunci: Poligami; Keadilan; Akisologi
    corecore