74 research outputs found

    SARI. The Influence of Sauropus androgynus Leaf Extract and Fraction Administration on Rat’s Uterine Involution.

    No full text
    This study was aimed to analyses the efficacy leaft extract and fractions of katuk (Sauropus androgynus) on the rat’s uterine involution. Fifteen pregnant female rats divided in to 5 treatment groups; control (K), ethanol extract (EEtOH), hexane fraction (F-H), ethyl acetate fraction (F-EtAc), and water fraction (F-H2O). The effect of treatment on uterine involution seen by measuring the weight of uterus at 5 days postpartum and 10 days postpartum. Data obtained from measurements were analyzed using analysis of variance test (ANOVA) and continued by advance tests (Duncan Test). The results were indicated that uterine involution of the group hexane fraction and ethanol extract at 5 days postpartum going slow down, but at 10 days postpartum the uterus of both groups had reached normal size. Uterine involution in ethyl acetate fraction and water fraction groups, run faster than the other groups. Uterine’s weight of both groups have reached normal weight at 5 days postpartum, but the weight of the uterus was decreased at 10 days postpartum. Conclusion of this study was by giving extract and fraction of katuk leaves is able to influence uterine involution in rats.Penelitian ini dilakukan untuk menguji khasiat ekstrak dan fraksi daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap involusi uterus dengan menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Sebanyak 15 ekor tikus betina bunting di bagi menjadi 5 kelompok perlakuan: kontrol (K), ekstrak etanol (E-EtOH), fraksi heksan (F-H), fraksi air (F-H2O), dan fraksi etil asetat (F-EtAc). Pengaruh perlakuan terhadap involusi uterus dilihat dengan mengukur berat uterus pada 5 hari postpartus dan 10 hari postpartus. Data yang diperoleh dari pengukuran dianalisis dengan menggunakan Uji Sidik Ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji lanjut (Duncan Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok fraksi heksan dan ekstrak etanol pada 5 hari postpartus mengalami perlambatan involusi uterus, namun bobot uterus kedua kelompok ini sudah mencapai ukuran normal pada 10 hari postpartus. Involusi uterus pada kelompok fraksi etil asetat dan fraksi air terjadi lebih cepat dibanding kelompok lain. Bobot uterus kedua kelompok ini sudah mencapai bobot normal pada 5 hari postpartus, namun berat uterus semakin mengecil pada 10 hari postpartus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak dan fraksi daun katuk dapat mempengaruhi involusi uterus tiku

    The Effects of the Administration of Sauropus androgynus (L) Merr Leaf Extract and Fraction on the Hematological Views in Lactating Rats

    No full text
    The separation of the active compound Sauropus androgynus leaf (SA leaf) based on their solubility of organic solvents (ethanol, hexan, ethyl acetate, and water). This research was conducted to elucidate the effects of the administration of SA leaf extract and fraction on the hematological views in lactating rats. The extract and fraction was mixed in the pelleted feeds by ratio of 0,87%, 4,53%, 0,45%, and 3,22% for hexan fraction (FH), extracts of ethanol (E-Eto), ethyl acetate fraction (F-EtOAc), and water fraction (F-H2O) respectively. Fifteen lactating rats were divided into 5 groups, such as control (K), FH , E-Eto, F-EtOAc, and F-H2O. The administration of SA leaf extract and fraction to each groups was conducted on the first pregnancy up to the 10 days lactation. After 10 days lactation period the measurement of the total erythrocytes and leucocytes, hemoglobin (Hb), hematocrit values (PCV), and the differential leucocytes was executed. The research revealed that the SA leaf extract and fraction administration showed no significant influence for all hematological parameters. But there was an indication the decreasing of the total leucocytes on F-EtOAc administration and also Hb values on FEtOAc and F-H administration. On the other hand, the F-H and E-Eto administration showed the increasing of the percentage of lymphocytes in leucocytes. The changes of hematological views, might be caused by the roles of active compounds in the extract and fraction of SA leaf.Pemisahan kandungan senyawa aktif daun Sauropus androgynus (daun SA) dilakukan berdasarkan sifat kelarutannya pada pelarut organik (etanol, hexan, etil asetat, dan air). Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan pengaruh pemberian ekstrak dan fraksi daun SA terhadap gambaran hematologi pada tikus putih laktasi. Ekstrak dan fraksi daun SA dicampurkan ke dalam pelet dengan rasio 0,87%, 4,53%, 0,45%, dan 3,22% masing-masing untuk fraksi hexan (F-H), ekstrak etanol (E-Eto), fraksi etil asetat (F-EtOAc), dan fraksi air (F-H2O). Sebanyak 15 ekor tikus laktasi dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok perlakuan kontrol (K), F-H, E-Eto, F-EtOAc, dan F-H2O. Pemberian ekstrak dan fraksi daun SA masing-masing kelompok perlakuan diberikan pada hari kebuntingan pertama sampai dengan laktasi hari ke-10. Setelah 10 hari masa laktasi dilakukan pengukuran terhadap jumlah eritrosit dan leukosit, kadar hemoglobin (Hb), nilai hematokrit (PCV), dan diferensial leukosit. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian ekstrak dan fraksi daun SA secara umum tidak mempengaruhi keseluruhan parameter hematologi. Namun ada tanda-tanda penurunan jumlah leukosit pada pemberian F-EtOAc dan juga penurunan kadar Hb pada pemberian F-EtOAc dan F-H. Selain itu, pemberian F-H dan E-Eto juga menunjukkan adanya peningkatan limfosit. Perubahan-perubahan yang terjadi pada gambaran hematologi tersebut kemungkinan disebabkan oleh peran senyawa aktif pada ekstrak dan fraksi daun SA

    Kualitas Spermatozoa Kauda Epididimis Domba Masa Tumbuh yang Diberi Ekstrak Etanol Daun Katuk pada Penyimpanan 4ºC

    No full text
    Katuk is one of plant that has active compounds which can stimulate reproductive hormone. The purpose of this research was to know the effect of extract katuk leaves in ethanol feed to growth ram on cauda epididymal sperm characteristic. This research is done on six growth local rams around five months old which was divided into two groups, EtOH group and control group. Ram were feed 1500 mg/day of extract katuk leaves in ethanol for two months, where in control group were feed only by placebo. The epididymis were collected after slaughter and the sperm were collected. Collected sperm were analyzed for several sperm characteristic such as concentration, motility, viability, membrane integrity, and abnormality during stored for five days in refrigerator. Sperm concentration and epididymal weight were checked on first day. The result of this research showed there were no significant difference in the sperm concentration in both treatment. Sperm motility, viability, membrane integrity, and abnormality was decreased day by day. However, no significance difference in sperm characteristic in both treatment during storage for five days. The sperm motility was no detected on the day four. Interestingly, the viabilitywere still high and detected until the end of research

    Studi aktivitas antidiabetes ekstrak daun namnam (Cynometra cauliflora) secara in vitro dan in vivo pada tikus Sprague Dawley

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 adalah DM yang disebabkan oleh kurangnya produksi hormon insulin oleh organ pankreas. Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) adalah suatu penyakit metabolisme yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi, resistensi insulin dan beberapa komplikasi sistemik. DMT2 ini menyumbang sebagian besar data penderita Diabetes Melitus (DM) yaitu mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes yang terkait dengan pola makan/gaya hidup. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk menanggulanginya. Upaya tersebut dilakukan diantaranya melalui pencarian berbagai alternatif pengobatan dengan bahan alam. Pada penelitian ini diajukan Ekstrak Daun Namnam (EMDN) (Cynometra cauliflora) merupakan tanaman yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia dan potensial sebagai antidiabetes karena memiliki senyawa bioaktif diantaranya flavonoid dan turunannya. Namun eksplorasi kemampuan bioaktif tanaman ini masih sangat minim ditemukan. Sebagai langkah awal untuk mengetahui senyawa bioaktif dalam EMDN difraksinasi dan diidentifikasi mengunakan Fourier Transform Infrared/FTIR dan Liquid Chromatography Mass Spectrometry/LCMS ESI. Hasil pengujian terhadap fraksi n-butanol EMDN menunjukkan adanya kandungan flavonoid diantaranya fraxetin dan oenin (pada ekstrak n-butanol) dan narigenin, malvidin, cyanidin, epigallocathecin gallate dan apigenin pada ekstrak Fraksi I kromatografi kolom yang diduga berperan sebagai antidiabetes. Kemampuan EMDN sebagai antidiabetes diuji baik secara in vitro maupun in vivo. Pengujian secara in vitro dilakukan melalui evaluasi kemampuan EMDN sebagai penghambat α-glukosidase, dan sebagai pemacu asupan penyerapan glukosa ke dalam sel diafragma tikus. Pengujian in vivo menggunakan tikus Sprague Dawley yang diinduksi oleh diet tinggi lemak dan sukrosa 30% untuk mendapatkan kondisi DMT2 dengan mengukur parameter kadar glukosa darah, trigliserida, glikogen dan insulin. Hasil analisis menunjukkan bahwa EMDN memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah sebesar 23 – 34%, menurunkan kadar trigliserida sebesar 13 – 30%, menaikkan kandungan glikogen hati sebesar 68 – 96%. Selain itu EMDN mampu meningkatkan penyerapan glukosa secara in vitro sebesar 92,19 ± 9,74 mg/dL/30 menit pada konsentrasi EMDN 450 mg/dL serta menghambat α-glukosidase untuk EMDN dengan IC50 sebesar sebesar 5,59 μg/mL dan aktivitasnya meningkat pada fraksinasi cair-cair pada pelarut n-butanol IC50 sebesar 1,84 μg/mL. Dengan demikian daun tanaman namnam (Cynometra cauliflora) memiliki kemampuan sebagai antidiabetes secara umum dan khususnya untuk Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2)

    RINGKASAN KURNIASARI. Karakteristik Spermatozoa Kauda Epididimis Domba Masa Tumbuh setelah Pemberian Fraksi Lipid (FL) dan Fraksi Delipidasi (FdL) Ekstrak Daun Katuk.

    No full text
    This research was conducted to determine the relationship of FL and FDL on growth ram cauda epididymal sperm characteristic. This research was performed in 9 growth Priangan rams (5 years old) divided into 3 groups wich consist of 3 rams each group. The control group was given placebo and the treatment group was given FL in the dosage 270 mg/day or FdL in the dosage of 1230 mg/day for 2 months, then after treatment rams were killed. The epididimys was collected and sperm was observed by piercing and sucking by spoid for five days respectively. Epididimal weight and concentration were observed in H0, then in H0 until H4 the characteristic of sperm were observed on motility, live sperm, membrane integrity, and abnormality. The result of the experiment revealed that there was decreasing in motility, live sperm, and membrane integrity day by day. However, concentration on FL and FdL group lower than control and the life percentage in the treatment is still high until the end of observation in FL and FdL group. In general, there was no significant influence on cauda epididymal sperm characteristic after treatment with FL and FdL.Hewan selalu menunjukkan kemampuannya untuk bereproduksi, hal tersebut sangat penting untuk mempertahankan kelestarian jenisnya di alam agar tidak punah. Terjadinya reproduksi membutuhkan dua komponen penting yaitu sel telur dari betina dan sel spermatozoa dari pejantan. Namun, ada kalanya pejantan tidak dapat melakukan aktivitas reproduksinya secara normal. Gangguan aktivitas reproduksi tersebut akan sangat merugikan bagi pengembangan populasi hewan terutama hewan dengan nilai genetik (plasma nutfah) yang unggul. Kegagalan pengembangan populasi tersebut dapat mengakibatkan penurunan populasi hewan jika tidak cepat ditanggulangi. Semakin besar penurunan populasi semakin besar kemungkinan timbulnya ancaman terhadap keberlangsungan hewan bahkan dapat berujung kepada kepunahan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menjaga plasma nutfah dari kepunahan adalah melalui aplikasi teknologi reproduksi dimana keberhasilan teknologi reproduksi tidak dapat lepas dari kualitas spermatozoa yang baik. Dengan demikian, upaya untuk penyelamatan plasma nutfah hewan melalui aplikasi teknologi reproduksi juga harus mendorong upaya perbaikan fungsi fisiologis pada hewan. Daun katuk mampu meningkatkan fungsi fisiologis hewan termasuk fungsi reproduksi. Khasiat daun katuk diketahui dapat meningkatkan produksi air susu ataupun produksi telur pada hewan betina. Diyakini bahwa terdapat respon yang serupa pada hewan jantan yaitu dapat memacu peningkatan fungsi reproduksi yang diakibatkan peningkatan hormon steroid terutama testosteron. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana efek pemberian fraksi ekstrak daun katuk terhadap fungsi reproduksi hewan jantan. Oleh karena itu langkah-langkah penelitian awal untuk mengetahui pengaruh dari pemberian fraksi ekstrak daun katuk terhadap fungsi reproduksi jantan melalui karakteristik spermatozoa di kauda epididimis domba sebagai hewan coba perlu dilakukan. Penelitian ini menggunakan 9 ekor domba Priangan jantan berumur ± 5 bulan yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing 3 domba per kelompok perlakuan. Tiga perlakuan tersebut adalah kontrol yang diberi plasebo, FL diberi dosis 270 mg/hari/ekor dalam 3 kapsul, dan FdL diberi dosis 1230 mg/hari/ekor dalam 3 kapsul. Kapsul diberikan secara oral pada pagi hari (2 kapsul) dan sore hari (1 kapsul) selama 2 bulan, kemudian pada akhir perlakuan domba dikorbankan untuk selanjutnya epididimis dipreparir. Pengamatan dilakukan terhadap bobot epididimis dan konsentrasi spermatozoa epididimis serta selama 5 hari berturut-turut diamati motilitas, persentase hidup, keutuhan membran, dan abnormalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian fraksi ekstrak daun katuk tidak menunjukkan pengaruh nyata (P>0.05) terhadap bobot epididimis dan karakteristik spermatozoa (konsentrasi, motilitas, persentase hidup, keutuhan membran, dan abnormalitas). Namun demikin, diduga respon FL dan FdL iv kemungkinan besar dapat teramati pada pengamatan kurang dari satu hari setelah domba dikorbankan. Pemberian FL dan FdL menyebabkan penurunan konsentrasi spermatozoa kauda epididimis dibandingkan kontrol. Motilitas spermatozoa pada pemberian FdL menunjukkan kecenderungan penurunan yang lebih cepat dibandingkan kelompok FL dan kontrol. Persentase hidup dan keutuhan membran spermatozoa kauda epididimis pada perlakuan FL dan FdL memperlihatkan kecenderungan nilai yang lebih besar dari H-2 hingga H-4 dibandingkan kontrol. Persentase cytoplasmic droplet dan abnormalitas lain tidak menunjukkan perbedaan nilai yang signifikan dari H-0 hingga H-4. Pemberian fraksi ekstrak daun katuk dengan berbagai dosis tidak mempengarui bobot epididimis dan karakteristik spermatozoa kauda epididimis. Terdapat kecenderungan penurunan konsentrasi spermatozoa dan peningkatan kekuatan membran pada domba masa tumbuh

    Blood Chemistry Profiles on the Long-tailed Monkeys (Macaca fascicularis) in Acclimation Condition.

    No full text
    This study was aimed to evaluate a blood chemistry profiles especially glucose, cholesterol, triglycerides, SGPT, SGOT, serum urea, and creatinin of long-tailed monkey (Macaca fascicularis) in acclimation condition. Four years old of ten Macaca fascicularis was used in this study. Macaca fascicularis were placed in two rooms which were contained five monkeys with individual cage. This research divided into three stages: adaptation stage for seven days (without temperature and humidity setting), acclimation stage for 14 days (with temperature setting at 25°C temperature and 78% rel. humidity), and postacclimation stage for 14 days (without temperature and humidity setting). Blood collection was done at the 7th day (adaptation stage); 8th, 11th, 14th, and 21st day (acclimation stage); and 35th day (post-acclimation stage). The results showed that adaptation and post-acclimation stage, the animal model showed signs of stress. Stress in the adaptation stage was indicated by the decreasing in blood glucose, while the stress in the post-acclimation stage was indicated by decreased levels of triglycerides. It could be supposed that temperatur conditions of acclimation stage (25.79 ± 1.16)°C dan (80.19 ± 9.05)% relative humidity is more comfortable for Macaca fascicularis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan profil kimia darah terutama glukosa, kolesterol, trigliserida, SGPT, SGOT, ureum dan kreatinin dalam serum darah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada kondisi aklimasi. Pada penelitian ini digunakan sepuluh ekor Macaca fascicularis berjenis kelamin jantan yang berumur kurang lebih empat tahun. Macaca fascicularis kemudian ditempatkan pada dua buah ruangan masing-masing berisi lima ekor dengan masing-masing kandang individu. Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap adaptasi selama tujuh hari (tanpa pengaturan suhu dan kelembaban), tahap aklimasi selama 14 hari (dengan pengaturan suhu dan kelembaban) dan tahap postaklimasi selama 14 hari (tanpa pengaturan suhu dan kelembaban). Pengambilan darah dilakukan pada hari ke-7 (tahap adaptasi), hari ke-8, 11, 14, dan 21 (tahap aklimasi), dan hari ke-35 (tahap postaklimasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi adaptasi dan postaklimasi hewan model menunjukkan tanda-tanda stress. Stress pada kondisi adaptasi diindikasikan dengan penurunan glukosa darah, sedangkan stress pada kondisi postaklimasi diindikasikan dengan penurunan kadar trigliserida. Dapat diperkirakan kondisi aklimasi yaitu pada suhu (25,79 ± 1,16)ºC dan kelembaban (80,19 ± 9,05)% rel. humidity merupakan kondisi yang nyaman bagi Macaca fascicularis

    IPB (Bogor Agricultural University)

    No full text
    Parasetamol merupakan salah satu di antara obat-obatan yang paling banyak menyebabkan overdosis dan keracunan di masyarakat. Mudah diperolehnya parasetamol menyebabkan konsumsi parasetamol dapat dilakukan secara bebas, di sisi lain pengetahuan masyarakat mengenai obat ini masih sangat kurang, terutama tentang toksisitasnya bila digunakan dalam dosis berlebihan. Parasetamol, yang berfungsi sebagai analgetik dan antipiretik, bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan akan menguras kandungan glutathion (GSH) dan membentuk suatu metabolit elektrofil sebagai radikal bebas, yaitu N-asetyl-p-benzoquinonimina (NAPQI). Radikal bebas NAPQI akan berikatan secara kovalen dengan makromolekul protein sel hati, yang mengakibatkan terjadinya kerusakan sel hati akibat induksi parasetamol. Pada keadaan nekrosis, sel-sel hati pecah sehingga enzim amino transferase, yaitu AST (Aspartate transaminase) dan ALT (Alanine transaminase) yang terdapat dalam sel hati akan keluar dan masuk ke dalam aliran darah sehingga terjadi kenaikan kadar AST dan ALT melebihi normal. Hati yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh tentunya juga memiliki sistem antioksidan yang cukup baik. Namun, bila sel hati telah rusak karena bahan toksik maka perlu diberi tambahan antioksidan dari luar. Sumber antioksidan terdapat pada tanaman yang mempunyai fungsi hepatoprotektif terhadap kerusakan oleh bahan toksik. Beberapa tanaman telah digunakan untuk mengobati gangguan pada liver, antara lain kunyit (Curcuma longa) yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Kunyit juga memiliki potensi bahan aktif kurkumin yang telah dilaporkan dapat memperbaiki kerusakan hati yang diinduksi dengan karbontetraklorida (CCl4), galaktosamin, dan parasetamol dosis tinggi. Tanaman pegagan (Centella asiatica) memiliki potensi sebagai alternatif antioksidan alami yang berasal dari tumbuhan. Potensi dari pegagan tersebut akan sangat bermanfaat untuk menekan pengaruh radikal bebas yang cenderung semakin meningkat. Pegagan diketahui mengandung beberapa senyawa aktif di antaranya adalah terpenoid, flavonoid, dan glikosida. Senyawa flavonoid dalam tanaman ini diketahui merupakan senyawa antioksidan dan berpotensi mencegah kerusakan sel-sel tubuh, di antaranya sel hepar. Baik ekstrak pegagan maupun kunyit berpotensi sebagai hepatoprotektor dengan mekanisme yang sama, yaitu melibatkan enzim GSH. Penelitian ini dilakukan secara invitro dan invivo untuk mengetahui potensi dari kedua esktrak pegagan dan kunyit dalam upaya pencegahan maupun pengobatan sel hati yang rusak, dengan melakukan pengukurankadar enzim glutation peroksidase, kadar AST dan ALTserta mempelajari kelainan jaringan (histopatologi) sel hati tikus yang diinduksi dengan parasetamol. Penelitian invitro dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan ukuran 4 x 4 dengan 3 ulangan, yaitu faktor pertama adalah ekstrak pegagan dengan 4 level konsentrasi, yaitu 0;7,35 mg/mL;14,70mg/mL dan 22,05 mg/mL. Faktor kedua adalah ekstrak kunyit dengan 4 level konsentrasi, yaitu 0, 61,36mg/mL, 122,7 mg/mL, dan 184,1 mg/mL. Aktivitas enzim glutation peroksidase (GSH-Px) diukur menggunakan metode Flohe and Gunzler (1984). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas GSH-Px meningkat dengan pemberian ekstrak pegagan dan kunyit pada hati normal, terutama pada pemberian ekstrak tunggal baik pegagan maupun kunyit. Namun, pada pemberian kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit tidak sebaik jika diberikan tunggal. Pengaruh kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit pada GSH-Px masih tetap tinggi dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Pada pengukuran aktivitas GSH-Px, hati tikus yang sebelumnya diberikan ekstrak pegagan dan kunyit kemudian diinduksi parasetamolatauuntuktujuansebagaipreventif, dosis pegagan 18,75mg/200g BB tunggal mampumeningkatkanaktivitas GSH-Pxdari (258,31±8,09)mU/mg proteinmenjadi (279,74±26,32)mU/mgproteinatausekitar5,8%. Sedangkan pada dosis kunyit tunggal,yaitu 336mg/200g BB tikusjuga meningkatdari (277,60±75,57) mU/mgproteinmenjadi(333,33±39,95)mU/mgproteinatausekitar 27 % . Sedangkan kombinasi pegagan dan kunyit hanyapadakonsentrasi tinggi saja,yaitu(22,05mg/mL:184,1mg/mL)meningkatdari (139,34±13,39)mU/mgprotein menjadi(232,60±21,40)mU/mgproteinatausekitar 16% (p<0,05). Jika dibandingkan dengan kombinasi lainnya,tidaksignifikanmeningkatkanaktivitasenzim GSH-Px (p>0,05). Pada hati tikus untuktujuansebagaikuratif, ekstrak tunggalpegagan mampu meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px, terutama pada konsentrasi pegagan 22,05 mg/mLyaitu sebesar (171,45±37,66) mU/mgprotein darikonsentrasikontrolyaitu (102,89±11,26)mU/mgproteinatausekitar 15,9% (p<0,05). Pada pemberian ekstrak kunyit tunggal juga mampu meningkatkan aktivitas enzim GSH-Px yaitu pada (184,1 mg/mL) sebesar 160,77±39,42 mU/mgproteindarikonsentrasikontrolyaitu102,89±11,26mU/mgproteinatausekitar 12,9% (p<0,05). Artinya, bahwapada konsentrasi yang tinggidariekstrak pegagan atau kunyit tunggalsaja,berpotensisecara signifikan pengaruh pada peningkatan aktivitas enzim GSHPxjikadibandingkandengankonsentrasikontrol (p<0,05). Pada kombinasi kedua ekstrak, ekstrak pegagan(22,05 mg/mL:184,1 mg/mL ) terjadi interaksisinergisdarikedua ekstrak tersebut dalammeningkatkanaktivitas enzim GSH-Px,yaitu 239,01±47,4 mU/mg protein, lebih tinggi dibandingkan dengan kombinasi ekstrakpegagandan kunyit (14,70mg/mL:22,05 mg/mL) yaitu 98,61±8,55 mU/mgproteinatausekitar 34%.menunjukkan potensi kombinasi ekstrak pegagan dan kunyit pada konsentrasi tinggi (22,05mg/mL:184,1mg/mL) sangat baikdanmampumeningkatkan aktivitas GSH-Pxdari(98,61±7,52) mU/mgproteinmenjadi (239,01±47,40)mU/mgproteinatausekitar 56,9% dibandingkan dengan kombinasi lainnya(p<0,05). Pada penelitian invivodilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan pemberian ekstrak pegagan (18,75mg/200gBB:); ekstrak kunyit (336mg/200gBB); kombinasi ekstrak pegagan:kunyit (3:1)(18,75mg:112mg); (3:2)(18,75mg:224mg) dan kombinasi ekstrak pegagan:kunyit(1:3)(6,25mg:336mg); (2:3)(12,50mg:336 mg); sertadosis(18,75 mg: 336mg).Dosis parasetamol yang digunakanuntukinduksidengantujuanmerusakanhatitikusadalah180 mg/200g BB tikus. Parameter yang diukur yaitukadar enzim AST dan ALT, aktivitas enzim GSH-Px, dan pemeriksaan jaringan (histopatologi). Hasil menunjukkanbahwapadapemberian ekstrak pegagan dan kunyit baik tunggal maupun kombinasi pada perlakuan untuktujuansebagaipreventif maupun kuratif mampu menghambat kenaikan kadar AST dan ALT(p<0,05).Hal ini juga diperlihatkan pada hasil pengukuran aktivitas GSH-Px pada kelompok perlakuan untuktujuansebagaipreventif pada dosis kunyit (336mg/200 gBB) lebih mampu meningkatkan aktivitas GSH-Px dibandingkan dosis pegagan (18,75mg/200 gBB). Juga pada kelompokdosiskombinasi ekstrak pegagan :kunyit (18,75mg/200 gBB: 336mg/200 gBB) sangat baik pengaruhnya pada peningkatan aktivitas GSH-Px(p<0,05). Padakelompokperlakuan untuktujuansebagaikuratif, ekstrak kunyit (336mg/200 gBB) lebih mampu meningkatkan aktivitas GSH-Px dibandingkan kelompok ekstrak pegagan (18,75mg/200 gBB). Begitu pula pada kombinasi pegagan:kunyit(18,75mg/200 gBB:336mg/200 gBB); lebih mampu meningkatkan (p<0,05). Pada pemeriksaan jaringan, kemampuan (potensi) ekstrak pegagan dan kunyit terhadap perlakuanuntuktujuansebagaikuratif menunjukkan adanya regenerasi sel hati lebih banyak dibandingkankelompok perlakuan untuktujuansebagaipreventif, terutama pada kombinasi pegagan :kunyit:(18,75mg/200 gBB:336mg/200 gBB). Kesimpulan bahwa keduaekstrak pegagan dan kunyit berpotensimampu menurunkan kadar AST dan ALT, juga mampu mempengaruhi terhadappeningkatan aktvitas enzim GSHPxsertamenunjukkankemampuan meregenerasi sel-sel hati yang rusak akibat parasetamol. Dengan demikian dapatdisimpulkan bahwa ekstrak pegagan dan kunyit merupakanbahanalami yang berkhasiatsebagaiobatuntuk melindungi atauuntuktujuansebagaipreventifmaupunmengobatiatauuntuktujuansebagaikuratifuntuk memperbaiki jaringan hati yang rusak akibat metabolisme parasetamol dosis toksik

    Acta Veterinaria

    No full text

    Katuk Depolarisasi PRODUKSI DAN KUALITAS SUSU SAPI FH SATU BULAN SETELAH BERANAK YANG DISUPLEMENTASI KATUK DEPOLARISASI: Produksi dan Kualitas susu sapi

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian pakan tambahan berupa katuk depolarisasi terhadap produksi dan kualitas susu pada sapi perah Friesian Holstein (FH) satu bulan setelah beranak. Sebanyak 21 ekor induk sapi Friesian Holstein yang baru beranak digunakan dalam penelitian ini, dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan, yaitu Kontrol (P0), BKD (Bubuk Katuk Depolarisasi) (P1), dan PKD (Pellet Katuk Depolarisasi) (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering pakan pada perlakuan P0 adalah 15.59 ± 0.91 kg, P1 sebesar 15.14 ± 1.38 kg, dan P2 mencapai 16.27 ± 1.28 kg. Produksi susu pada perlakuan P0 adalah 25.57 ± 1.92 liter, P1 sebanyak 30.50 ± 3.09 liter, dan P2 mencapai 31.04 ± 2.68 liter. Persentase bahan kering susu pada P0 adalah 21.75±11.67%, P1 sekitar 21.7±0.99%, dan P2 mencapai 31.0±10.75%. Katuk depolarisasi, terutama dalam bentuk pellet&nbsp; memberikan peningkatan produksi susu secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian katuk depolarisasi sebagai pakan tambahan pada sapi perah FH dapat meningkatkan produksi susu dan kualitas susu pada bulan pertama masa laktasi. Penambahan katuk depolarisasi, terutama dalam bentuk pellet, dapat dianggap sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak sapi perah. Kata kunci: Friesian Holstein, katuk depolarisasi, kualitas susu, 1 bulan laktasi, produksi sus

    Acta Veterinaria

    No full text
    corecore