1,720,999 research outputs found
Bakteri dan cacing parasitik pada insang dan saluran pencernaan ikan patin (Pangasius sp.)
The present study was conducted to isolte, culture and identificatify of bacteria and parasitic worm from gills and digestive tract of catfish. A group of 10 of catfish were used, each gills and digestive tract was collected. The parasitic worms were colored with Semichon’s Acetocarmine for permanent staining. Differentiations and characterizations of variants isolate were based on biochemical reactions and Gram staining technique. Parasitic worms that can be identified from gills were Dactylogyrus sp. and Pseudodactylogyrus sp. The laboratory result shows that the gills and digestive tract of catfish were predominantly contaminated with Aeromonas sp. and Staphylococcus epidermidis, followed by Streptococcus sp., Edwardsiella tarda, Escherichia coli, Basillus sp. dan Vibrio cholerae
Uji Daya Antibakteri Propolis terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Endometritis pada Sapi Perah
Endometritis adalah peradangan pada lapisan mukosa uterus yang
disebabkan oleh infeksi bakteri. Dewasa ini masalah resistensi bakteri penyebab
endometritis terhadap antibiotik telah banyak dilaporkan. Salah satu penyebab
resistensi adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Tujuan penelitian ini
adalah mengetahui daya antibakteri propolis terhadap beberapa bakteri penyebab
endometritis pada sapi perah. Pada penelitian ini digunakan tiga konsentrasi
propolis yaitu 0.7 mg/μl, 0.8 mg/μl, dan 0.9 mg/μl. Pengujian daya antibakteri
propolis menggunakan metode difusi menurut Kirby Bauer. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa isolat Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis,
Bacillus sp., Micrococcus sp. dan E.coli tidak peka terhadap propolis pada
konsentrasi yang dipakai kecuali isolat Pseudomonas aeroginosa yang
memberikan hasil peka pada konsentrasi 0.7mg/μl
Uji Resistensi Escherichia coli dari Peternakan Ayam Ras Petelur di Desa Rumpin Kabupaten Bogor terhadap Antibiotik
Escherichia coli merupakan flora normal yang ada di usus manusia dan
hewan. Sebagian besar strain E. coli tidak berbahaya namun beberapa strain dapat
menjadi patogen. Antibiotik berperan sebagai terapi terhadap infeksi E. coli.
Penggunaan antibiotik secara tidak bijak dapat menimbulkan resistensi. Tujuan
penelitian ini adalah mengukur tingkat resistensi E. coli yang diisolasi dari ayam
ras petelur terhadap sefpodoksim, sefoksitin, seftizoksim, aztreonam, oksasilin,
nitrofurantoin, dan sulfametoksazol−trimetoprim. Sampel uji berasal dari swab
kloaka ayam ras petelur. Pengujian resistensi E. coli terhadap antibiotik dilakukan
dengan metode difusi agar yang didasarkan pada hubungan ukuran zona hambat
dan sensitivitas bakteri. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan
Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 17 isolat E. coli mengalami resistensi terhadap sefpodoksim (100.0%),
sefoksitin (58.82%), seftizoksim (100.0%), aztreonam (94.12%), oksasilin
(100.0%), nitrofurantoin (58.82%), dan sulfametoksazol−trimetoprim (82.35%)
Evaluasi in vitro Ampas Jus Mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Mastitis Subklinis
Penyakit mastitis di Indonesia disebabkan oleh beberapa bakteri. Penyakit
ini menyerang pada sistem ambing. Penggunaan obat antimastitis sintetis secara
terus menerus dapat menyebabkan timbulnya residu pada susu di dalam ambing
sehingga diperlukan obat alternatif yaitu penggunaan tanaman herbal yang tidak
akan menimbulkan residu pada susu. Mengkudu (Morinda citrifolia L.) merupakan
salah satu tanaman herbal yang memiliki senyawa antibakteri. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengevaluasi kemampuan anti bakteri dari ampas mengkudu yang
telah diekstraksi dengan menggunakan kloroform terhadap beberapa bakteri
penyebab mastitis subklinis. Bahan baku yang dilakukan pengujian, yaitu: buah
mengkudu segar, ampas jus mengkudu Sentul, dan ampas jus mengkudu Javanony
yang terbagi menjadi 6 konsentrasi larutan, yaitu: 5, 10, 20, 25, 30, dan 35%.
Bakteri yang diujikan, yaitu: Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis,
dan Streptococcus agalactiae dengan masing-masing 1 perlakuan kontrol, dan 2
ulangan. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dengan total 63
perlakuan. Pengamatan antibakteri dilakukan secara in vitro. Peubah yang diamati
meliputi rendemen, kandungan kualitatif senyawa fitokimia ampas jus mengkudu
dan mengkudu asli, dan luasan clearing zone pada tiap perlakuan. Hasil dari
penelitian ini adalah rendemen tertinggi pada proses ekstraksi diperoleh oleh ampas
mengkudu Sentul dengan rendemen sebesar 15.105%. Ekstrak mengkudu segar
dengan konsentrasi 35% memperoleh hasil terbaik dan termasuk kedalam kategori
antibakteri yang kuat pada bakteri Streptococcus agalactiae dan antibakteri yang
sedang pada bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.
Penggunaan ekstrak ampas jus mengkudu pada penelitian ini bisa berperan sebagai
antimastitis pada ternak ruminansia namun tidak dapat diaplikasikan karena
keterbatasan pemberiannya pada pakan
Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus
This study aims to identified the bacterial and parasitic worms in the liver and gastrointestinal tract of eels. The identification of isolated bacteria was done by using Gram staining, triple sugar iron agar, citrate, indole and fermentation of sugar. Parasitic worms stained with KOH clove oil for semi-permanent coloring and Semichon's Acetocarmine for permanent staining. Pseudomonas maltophilia, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp, and Vibrio cholerae was found in the liver, and Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp., Chromobacterium sp., Enterobacter aerogenes and Vibrio cholerae from the gastrointestinal tract. The results showed that there are two types of parasitic worms in the digestive tract, ie Procamallanus sp., And Acanthocephala sp .
Kajian Strategi Pencegahan dan Pengendalian Bruselosis di Kalimantan
The strategy of prevention and control of brucellosis has been implemented in Kalimantan and this province of Indonesia has been declare free of brucellosis in 2009. Cattle movement from brucellosis infected areas to Kalimantan poses a high risk of entry and spreading of brucellosis in this island. The purpose of this study is to analyse the strategy of prevention and control of brucellosis in Kalimantan. The study used a descriptive analysis including human resources, policy environment (fund and infrastructure) and policy system. The result of this study proves that AQA has been able to implement, monitor and control animal movement in Kalimantan in preventing new cases of brucellosis. Each AQA involved in sending and receiving cattle has adequate qualified human resources with sufficient knowledge and attitude related with brucellosis although the majority they never have additional training about brucellosis. Most of AQA already have enough funds and infrastructure to implement the strategy. Policy system in controlling cattle movement in relation with prevention of brucellosis has been implemented, but is not fully executed according to OIE. A total of 14 District veterinary services in this study that have a function to control brucellosis does not have enough veterinarian and para-veterinarian to implementing the strategy to control brucellosis in their area. In general, the district veterinary officer have sufficient knowledge and good attitude toward brucellosis, although the majority they never have additional training about brucellosis. Most of district veterinary services do not have funds and infrastructure related with strategy control of brucellosis. And also most of district veterinary services do not implemented yet the strategy of control of brucellosis which is based on the ministry of Agriculture and OIE
Eksplorasi Potensi Limbah Imago Ulat Sutera Liar Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae)
Wild Silkworm Attacus atlas is an Indonesian native germplasm from Aceh to Papua. Cultivation of wild silkworm Attacus atlas has started in line with the high market demand on the caterpillar cocoon. The purpose of this study was to determine the potential of imago waste produced by cultivation of wild silkworm Attacus atlas as a source of alternative feed ingredients and the potency as antimicrobial. Proximate analysis was done to find out nutrition in imago of Attacus atlas, antimicrobial testing using the disk method. The results of the proximate analysis test imago silkworm Attacus atlas shows that the imago contains 75.57% protein, 5.94% fat, 3.80% ash, and 14.64% crude fiber from dry matter. Attacus atlas imago extract is brown, gel, fat as a potential source of animal fat. Antimicrobial test from 96% ethanol extract of imago Attacus atlas with the disk method showed no antibacterial activity against Escherichia coli, Pseudomonas, Streptococcus, and Staphylococcus
Efek farmakologis ekstrak daun torbangun (Coleus amboinicus L.) sebagai antibakteri dalam pengobatan bovine mastitis secara in vitro
Mastitis merupakan penyakit peradanganpada ambing sapi perah (bovine mastitis) yang berdampak buruk pada kualitas susu dan kerugian ekonomi. Hal ini diakibatkan cemaran bakteripatogenpadasusu. Daun torbangun (Coleus amboinicus L.) saat ini dikenal sebagai daun yang sangat baik dikonsumsi bagi wanita yang sedang menyusui di Sumatera Utara. Tanaman ini diyakini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas air susu karena efeknya secara fisiologis mampu merangsang pertumbuhan kelenjar ambing wanita dan kemampuannya sebagai antibakteri. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa flavonoid di dalam dauntorbangun.Dalam penelitian ini akan diuji potensi daun torbangun sebagai antibakteri untuk pengobatan bovine mastitis. Sampel susu diambil dari berbagai peternakan sapi perah di Jawa Barat. Sampel tersebut diuji menggunakan metode Breed (1910) dan IPB mastitis test (Sudarwanto 19993) untuk memastikan adanya infeksi bakteri yang menyebabkan mastitis subklinis. Susu yang telah diduga positif dilakukan pembiakan murni untuk mengetahui spesies bakteri yang terkandung di dalamnya menurut metode Carter and Cole (1984). Dilakukan uji resistensi antimikroba dengan metode agar difusi menurut Kirby-Bauer (1966) terhadap ekstrak daun torbangun dan tiga jenis antibakteri lain, yaitu penisilin, tetrasiklin, dan streptomysin.Dikt
Salep herbal antimikroba dari ekstrak gulma sembung rambat (mikania micranthah.b.k.) untuk menangani luka yang terinfeksi bakteri resisten penisilin
Pemakaian antibiotik yang tidak terkontrol dewasa ini telah memicu munculnya bakteri yang resisten, salah satunya adalah bakteri yang resisten terhadap penisilin. Hal ini membuat pengobatan dengan antibiotik terhadap infeksi bakteri menjadi tidak relevan lagi dan sampai sekarang belum ada obat yang bisa menggantikan fungsi penisilin dan turunannya. Oleh karena itu perlu dilakukan banyak penelitian dalam mencari obat antiinfeksi baru.Salah satu yang berpotensi adalah Sambung Rambat (Mikania micrantha) yang merupakan tanaman invasive alien species dan gulma yang sangat merugikan tanaman produksi. Dalam perkembangannya, penelitian terhadap Mikania menunjukan adanya potensi antibakteri dalam tumbuhan ini, terutama dalam menghambat pertumbuhan bakteri gram positif. Pada penelitian ini ekstrak daun Mikania diuji antimikroba terhadap bakteri gram positif yang telah resisten terhadap penisilin G dan kecepatan ekstrak daun tersebut dalam membantu persembuhan luka. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujian efektifitas antibakteri secara in vitro dengan metode difusion dalam berbagai dosis dan efektifitas farmakologis secara in vivo berdasarkan racangan acak lengkap dan dianalisa menggunkan analisis varian. Hasil yang didapat ekstrak kasar daun Mikania efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri gram positif yang resisten terhdapa penisilin G dengan dosis konsentrasi efektif 80% (gram/ml) dan mampu mempercepat persembuhan luka pada kulit.Dikt
Antibacterial Activity of Neem (Azadirachta indica) Leaf Extract Using Agar Disc Diffusion Method
SETIYANINGSIH and USAMAH AFIFF
Neem (Azadirachta indica) has traditionally been considered one of the most versatile medicinal plants that possesses a wide spectrum of biological properties including anti–inflammatory, anti–arthritic, anti–pyretic, anti–gastric ulcer, antibacterial, antifungal, antiviral, antioxidant, antimalarial, antidiabetic and antitumor activities. In this study, the agar disc diffusion method was used to determine the antibacterial activity of ethanolic neem leaf extract against three Staphylococcus aureus isolates from different sources which are human skin, snake mouth and cow milk, Staphylococcus epidermidis, Micrococcus sp., Bacillus sp., and Serratia sp. Neem leaf extract at concentrations of 40%, 60% and 80% were used with negative controls of water and ethanol as well as a positive control of Penicillin-G antibiotics. Inhibition zones were observed after 24-hour incubation, of the neem leaf extract at all concentrations to all Gram–positive bacteria which are S. aureus, S. epidermidis, Micrococcus sp. and Bacillus sp. Bacillus sp. was shown to have the highest sensitivity to the neem leaf extract. The largest zones of inhibition were observed at the 80% concentration of neem leaf extract in all bacteria excluding Serratia sp. Gram–negative bacteria Serratia sp. was resistant to the antibacterial effects of the neem leaf extract
- …
