3 research outputs found

    Spatial Analysis of Vegetation Condition in the El Nino Phase of 2023 in Parangloe District, Gowa Regency

    No full text
    The El Nino phenomenon is a climate anomaly that has a significant impact on environmental  conditions,  including  decreased  rainfall  and  vegetation degradation  in  tropical regions  such  as  Indonesia.  This  study  aims  to  analyse vegetation conditions during the El Nino phase in 2023 in Parangloe District, Gowa  Regency  spatially  using  a  remote  sensing  approach.  The  data  used includes  satellite  images  to  calculate  the  Normalised  Difference  Vegetation Index (NDVI). This research shows that the El Nino phenomenon in 2023 has a significant  impact  on  vegetation  conditions  in  Parangloe  District,  Gowa Regency.  There  was  a  decrease  in  the  area  with  high  vegetation  index  from 13,155 hectares in July, to 7,477 hectares in September, which means a decrease of  5,678  hectares  or  about  43%.  In  contrast,  the  area  with  no  vegetation increased drastically from 725 hectares to 3,040 hectares. In addition, the area of low vegetation also increased from 607 hectares to 2,215 hectares, reflecting the  widespread  ecological  stress  caused  by  the  drought.  This  decline  in vegetation not only impacts the ecological function of the area, but also has the potential  to  disrupt  local  food  security  and  increase  vulnerability  to environmental disasters such as erosion and extreme drought

    Analisis Vegetasi Tumbuhan Di Kawasan Resort Bantimurung, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

    No full text
    Kepulauan Sulawesi kaya dengan flora dan fauna, memiliki 5000 spesies tumbuhan berbunga yang tercatat, dan 15% diantaranya adalah endemik. Ciri khas fauna Sulawesi adalah ketergantungannya yang kuat terhadap. Sulawesi Selatan yang merupakan bagian dari Kepulauan Sulawesi memiliki kawasan hutan lindung yang luas. Salah satunya adalah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Luas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah ± 43.750 ha dan merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki potensi sumber daya alam hayati dengan keanekaragaman yang tinggi. Tanaman Nasional Bantimurung Bulusaraung meliputi areal kawasan hutan seluas 43,750 Ha yang terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan ini ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 oktober 2004. Sebelum berubah fungsi menjadi Taman Nasional, kawasan ini berfungsi sebagai cagar alam seluas 10.282,65 Ha, taman wisata alam seluas 1.624,25 Ha, hutan lindung seluas 21.343,10 Ha, hutan produksi tetap seluas 10.355 Ha, serta hutan produksi terbatas seluas 145 Ha. Alih fungsi kawasan ini menjadi taman nasional didasarkan atas pertimbangan bahwa : kawasan tersebut merupakan ekosistem karst yang memiliki keanekarangaman hayati yang tinggi dengan jenis- jenis flora dan fauna endemik, unik dan langka. Keunikan fenomena alam yang khas dan indah serta ditujukan untuk perlindungan sistem tata air
    corecore