98 research outputs found

    CHANGE IN CITY CORRIDOR INTO COMMERCIAL AND HOME INDUSTRY DISTRICT

    No full text
    Abstract— The presence of street vendors (vendors) in Jalan Barito for over 20 years proves that the informal sector was able to survive and is one of the most effective way of reducing unemployment in the city of Semarang and surrounding areas. From a survey conducted by the Office of Semarang City Market in collaboration with the University of Semarang, found that the increased status of street vendors used to be a special area (typical) street vendors, will be promoting business in this sector. The presence of more and more traders on the street Barito, giving a negative impact on the environment such as visual degradation environment, clutter, and discomfort for Barito road users. Vehicle circulation and car parking arrangements which disrupt the smooth flow of traffic through the road Barito, a function of path-breaking Barito traffic flow can not function properly. The majority of traders in Barito area has the status of permanent buildings. This is preferred for reasons of practicality in the trade. Function River Flood Canal levee East as a drag stream of water disturbed by the presence of a permanent bengunan erode the dike body. The need for clarity of the status of street vendors in Jalan Barito, one of them by changing its name to Regions Barito. This is because the definition of Barito vendors on the street can not apply again. The influence of this change are felt in the regulations concerning the building for the street vendors. Thus there is need for a new regional regulations to regulate this area in particular. Need for physical rearrangement of existing areas. It takes a broader space for the circulation that took place in this region remained smooth and regular. The desire to keep the majority of traders who occupy permanent buildings should be considered to continue to see its position on the East River Flood Canal Keywords : Change, City Corridor, Barito Street Latar Belakang Permasalahan B. Adji Murtomo, Ir, MSA, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, Jl. Prof Soedarto Tembalang Semarang, Telp. 024-7063999, Fax. 024 7063888, email : [email protected]. Berawal ketika Pemerintah Kota Semarang memindahkan beberapa Pedagang Kaki Lima dari kawasan Stasiun Tawang, jalan Sendowo, dan jalan Kartini pada awal dekade 80-an. Beberapa PKL tersebut dipindahkan ke tempat yang dianggap tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan. Maka dipilihlah Jalan Barito sebagai tempat perpindahan tersebut. Saat itu jalan Barito masih berupa jalan kampung yang belum diaspal dan tidak begitu banyak kendaraan yang lewat di jalan tersebut. Namun seiring dengan perkembangan pembangunan di kota Semarang, maka Pedagang Kaki Lima yang ada semakin bertambah banyak. Apalagi setelah jalan Barito diaspal dan menjadi jalan alternatif (jalan kolektor sekunder) yang menghubungkan jalan Brigjend Katamso dengan jalan Kaligawe. Hingga sampai saat ini perkembangan itu telah menjadikan jalan Barito sebagai ikon bagi kota Semarang sebagai kawasan perdagangan suku cadang otomotif dan barang hasil industri kecil untuk rumah tangga. Menurut data survei dari Dinas pasar Kota Semarang, diperoleh angka transaksi dari tiap pedagang yang cukup besar, pendapatan per hari pedagang di Kawasan ini bisa mencapai lebih dari Rp. 1.000.000,00. dari jumlah tersebut, pedagang mendapatkan keuntungan sebesar 10%. Dengan jumlah pedagang yang tercatat hingga tahun 2007 mencapai 776 pedagang, maka jumlah peredaran uang yang terjadi di kawasan Barito tidak bisa dianggap remeh. Dari perkembangan tersebut, ternyata kawasan Barito ini menyimpan masalah yang cukup pelik, mulai dari perubahan fungsi dan definisi pedagang yang menempatinya, lalu munculnya masalah ketidaknyamanan pengguna jalan Barito, penetapan tarif pajak dan retribusi bagi pedagang, serta masalah keabsahan bangunan yang terletak persis di tepi tanggul sungai Banjir Kanal Timur. Gejala sosial lain yang timbul adalah masalah kesemrawutan yang timbul akibat dari belum dilakukannya penataan kawasan yang terencana dengan matang. Penempatan lahan parkir yang berada tepat di tepi jalan, bahkan sampai memakan badan jalan, menjadi masalah utama bagi kelancaran arus lalu lintas yang ada di jalan tersebut. Pembedaan antara lahan parkir dan tempat perbaikan kendaraan pun tidak begitu jelas. Keduanya diletakkan tepat di tepi jalan utama (jalan Barito). Kendaraan yang parkir bisa juga merupakan kendaraan yang sedang diperbaiki. Hal lain adalah penempatan barang dagangan yang berdimensi cukup besar, seperti gardan mobil, pipa-pipa besi, drum dan ban bekas. Keberadaan barang-barang ini yang hanya ditumpuk didepan kios-kio

    FUNGSI JEMBATAN PENYEBERANGAN DI PASAR BULU DITINJAU DARI PEJALAN KAKI

    No full text
    Berkembangnya kota besar akan mengakibatkan peningkatan aktifitas masyarakat kota, sehingga mobilitas jalan raya yang sangat tinggi akan terjadi. Sejalan dengan hal tersebut, terlihat prilaku pejalan kaki yang bertambah kacau dalam menyeberang jalan yang bisa mengancam keselamatan pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang melintasi jalan. Jembatan penyeberangan banyak disediakan diberbagai lokasi penting yang rawan kecelakaan atau aktivitas padat seperti : pasar, sekolah dll. Tetapi hal itu sama sekali belum di manfaatkan seoptimal mungkin oleh pejalan kaki yang hendak menyeberang. Mereka cenderung melompat atau menerobos pembatas jalan, atau langsung menyeberang. Fenomena lain yang terjadi di lingkungan jalan raya berkaitan dengan jembatan penyeberangan yaitu misalnya: penempatan jembatan penyeberangan yang tidak tepat pada pedestrian, pelanggaran penyeberang jalan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan dan lainnya. Jembatan penyeberangan sebagai sarana penyebrangan memberikan keuntungan, sebab selain memperlancar arus lalu lintas juga berfungsi sebagai hiasan kota. Fungsi lain yaitu bisa berupa tempat di letakkannya papan reklame dan sepanduk sesuai dengan peraturan pemerintah daerah setempat. KAJIAN PEMAHAMAN JEMBATAN PENYEBERANGAN Elemen Kebutuhan Pejalan Kaki Setiap pejalan kaki membutuhkan sarana untuk berjalan pada ruas jalan raya dengan aman, nyaman. Maka diperlukan suatu sarana untuk berjalan kaki disepanjang koridor yaitu berupa pedestrian dan jembatan penyeberangan untuk pencapaian diantara arus lalulintas jalan raya yang padat. Pedestrian Pengertian Pedestrian adalah suatu sarana pergerakan atau perpindahan orang atau sekelompok orang dari suatu titik tolak ke tempat lain sebagai tujuan dengan menggunakan modal jalan kaki. Atau bisa dikatakan sebagai suatu sarana untuk pengguna jalan yaitu pejalan kaki untuk melakukan aktifitas/ pencapaian pada suatu tempat, dan secara fisik terletak pada sisi pinggir jalan raya atau ruang transisi yang menghubungkan bangunan dengan jalan raya. Setiap pejalan kaki akan membutuhkan sarana pedestrian yang aman, nyaman. Untuk itu diperlukan pedestrian yang menunjang kebutuhan pejalan kaki, dengan mempertimbangkan lebar pedestrian dan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pedestrian. Dalam merencanakan desain pedestrian harus dilihat secara menyeluruh dengan urban environment dari sutu kota tanpa meningalkan suatu sifat spesifik dari lokasi yang akan digunakan sebagai ide dalam desain. Beberapa elemen/ material yan sering digunakan antara lain: Batu, Bata, Beton,Paving, dan Aspal. Jalur pedestrian pada pinggir jalan akan terlihat menarik, dengan dilengkapi Street Furniture, seperti : Bangku, Tempat Sampah, Lampu Penerangan Jalan, Telepon Umum, Dll. Jembatan Secara Umum Pengertian Jembatan adalah suatu konstruksi untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain ( jalan air/ lalulintas biasa ). Jembatan merupakan salah satu dari instrument sirkulasi yang berfungsi sebagai penghubung antara tempat terpisah secara Horizontal, yang digunakan jika hubungan sirkulasi langsung/ konvensional sudah tidak memungkinkan lagi. Awal munculnya bentuk-bentuk jembatan di awali sejak jaman primitive dengan system yang sederhana, dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Klasifikasi Jembatan Berdasarkan Sifat - Statis ( tidak bergerak ) - Non Statis ( bergerak/ moveable ) - Angkat, Gantung, Apung, Putar Berdasarkan Pola Jembatan - Linier ( flat/datar ), dimana jembatan ini mempunyai bentang yang datar. - Busur (arces), Jembatan yang mempunyai pola melengkung. Berdasar Struktur jembatan Monoblock, Portal, Apung, Rangka, Kabel, Advance. Berdasarkan material Batu, Berbagai jenis kayu, Beton bertulang, Baja, Komposit. Jembatan Penyeberangan Jembatan penyeberangan adalah suatu sarana/ fasilitas diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk melakuan aktifitas penyeberangan/ pencapaian pada tempat yang berseberangan pada suatu ruas jalan dengan kondisi lalu lintas yang relatif padat dengan mobilitas yang tinggi. Jembatan penyeberangan berfungsi sebagai jalur keselamatan bagi pejalan kaki dan juga sebagai aksesoris jalur suatu jalan/ perkotaan. Jalur pejalan kaki yang nyaman dan aman dapat juga berfungsi sebagai penghidup suatu kota, merupakan tempat untuk berinteraksi baik dengan sesama manusia maupun dengan kota itu sendiri. Terdapat berbagai macam jembatan penyeberangan pada suatu kota, dalam hal ini lingkup pembicaraannya yaitu jembatan penyeberangan yang dibuat sebagai fasilitas/ sarana bagi pejalan kaki dan berada pada ruas jalan/ jalur lalulintas kendaraan bermotor. Terminologi Jembatan Titian besar, suatu jalan dari kayu/ beton/ besi yang direntangkan diatas sungai, tepi pangkalan, jalan,dan sebagainya. Sarana yang digunakan untuk menghubungkan suatu tempat dengan tempat lain karena adanya suatu rintangan. Penyeberangan Suatu proses, cara, atau perbuatan menyeberang untuk mencapai pencapaian dan suatu tempat ketempat lain dengan melintasi suatu aktivitas tertentu. Jenis Fasilitas Penyeberangan pada Jalan Raya Jalur penyeberangan merupakan jalur pejalan kaki yang di gunakan sebagai jalur seberang untuk mengatasi dari konflik dan modal angkutan yang lain Adapun jenis-jenis fasilitas penyeberangan pada jalan raya ; yaitu : a. Jembatan penyeberangan Fasilitas penyeberangan berupa jembatan baja/ beton yang berada diatas jalan raya. b. Zebra cross Fasilitas penyeberangan pada badan Jalan itu sendiri dengan identifikasi khusus/warna khusus yaitu warna Zebra/ hitam putih. c. Penyeberangan bawah tanah Saran / fasilitas penyeberangan bawah tanah yang berada pada bagian bawah jalan dengan konstruksi beton. Fasilitas ini belum terdapat di kota Semarang. Fungsi dan Peranan Jembatan Penyeberangan Jembatan penyeberangan mempunyai fungsi dasar sebagai sarana perpindahan moda transportasi pejalan kaki yang akan menyeberang. Peranan jembatan penyeberangan sangat penting bagi penyeberang disekitar daerah yang rawan kecelakaan lalu-lintas ( fast moving ). Oleh karena itu jika sarana Zebra cross sudah tidak dapat mengatasi, peranan jembatan penyeberangan dapat menggantikannya sebagai alternative keselamatan dalam menghindari kecelakaan lalu-lintas dan kenacetan jalan. Selain fungsi pokok, fungsi dan peranan sekunder dari jembatan penyeberangan yaitu sebagai elemen / bagian dan street furniture dan pelengkap kota. Disamping itu jembatan penyeberangan berperan sebagai sarana komersial, dengan ditempatkannya papan-papan reklame/ iklan yang ditempatkan pada badan jembatan yang menghadap keluar pada kedua sisinya. Oleh Pemerintah keseluruhan itu dibuat dengan tujuan agar tercipta suatu keselarasan dalam kehidupan perkotaan yang nyaman dan aman, serta tercipta keindahan visual jalan raya. Pertimbangan Diadakannya Jembatan Penyeberangan Dibangunnya jembatan penyeberangan harus melalui pertimbangan-pertimbangan yang dibuat oieh pemenintah beserta tim, dalam hal ini adalah konsultan, kontraktor, beserta dinas pekerjaan umum sebagal pelaksana proyek. Beberapa pertimbangan yaitu: - Dilihat dan pengguna pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan dengan frekuensi tingkat kepadatan yang tinggi. Misalnya pada pasar, sekolah, dli. - Kebutuhan pengendara motor akan rencana kecepatan yang akan dicapai tanpa ada halangan dan aman. - Dilihat dan lalu-lintas jalan raya yang sangat padat dan mobilitas tinggi. - Kebutuhan keamanan dan penyeberang jalan untuk anak-anak sekolah, karena belum stabil pengontrolan untuk dirinya. Misalnya untuk SD dan taman kanak-kanak. Syarat-syarat Khusus Jembatan Penyeberangan - Dimensi anak tangga sesuai dengan standart ukuran (untrade dan uptrade). - Lebar jembatan penyeberangan 2—2,5 m. - Perletakan kaki jembatan terhadap pedestrian harus benar dan tidak mengganggu pedestrian maupun pengguna pedestrian. - Batas minimal ketinggian ambang bawah jembatan adalah 5,1 m dihitung dan permukaan jalan raya. - Sudut kemiringan menyesuaikan ketinggian dan kebutuhan mengingat keterbatasan lebar pedestrian dan tidak terlalu curam. Konstruksi dan Material a. Konstruksi baja Berupa struktur baja yang dirangkai menjadi jembatan penyeberangan. Alas pijakan kaki lantai jembatan menggunakan kayu. Konstruksi ini merupakan konstruksi pendahulu/ pertama yang digunakan pada kota-kota besar. Untuk biaya proyek ini berkisar antara 160 -190 juta, tergantung kondisi existing dilapangan. b. Konstruksi beton Berupa rangkaian dan beton bertulang pre stress pra cetak untuk batang pembentangnya. Konstruksi mi merupakan konstruksi yang dipakai pada saat mi, karena relative lebih kuat dan kokoh. Untuk biaya proyek berkisar antara 250 - 300 juta, tergantung kpndisi existing dilapangan. Untuk material jembatan penyeberangan yaitu: - Baja, digunakan konstruksi utama - Beton Bertulang, digunakan sebagai konstruksi utama. - Besi, digunakan pada railing I pembatas dan pada rangka atap. - Poly carbonat, digunakan dalam penutup atap kanopi. - Kayu, digunakan sebagai susunan alas pijakanl lantai dan anak tangga pada konstruksi baja. Lantai beton pada konstruksi beton. Hubungan Jembatan Penyeberangan dengan elemen street furniture. a. Pedestrian Pedestrian merupakan sarana fasilitas pejalan kaki yang merupakan tempat diletakkannya kaki-kaki jembatan yang berfungsi sebagai penghubung dengan pedestrian lain diantara jalan raya, jalur kendaraan bermotor dengan lalu lintas padat. b. Median atau Pulau Jalan dan Pagar Pembatas Selain sebagai pembatas dua arus lalu lintas, pulau jalan mempunyai image agar pejalan kaki tidak menyeberang pada jalan tersebut dan harus melalui jembatan penyeberangan. Untuk pagar pembatas memang khusus dibuat dengan tujuan agar pejalan kaki tidak boleh larangan menyeberang pada jalan tersebut, dan harus melalul jembatan penyeberangan. c. Halte Bus / Pemberhentian Angkot Dimana ada jembatan penyeberangan maka disekitarnya juga terdapat halte bus/ pemberhentian angkutan kota. Karena pada umumnya dan secara mayoritas pejalan kaki adalah pengguna jasa angkutan kota sebagai transportasi dalam aktifitas pekerjaan / pemenuhan kebutuhan sehari-hari. ANALISIS PERILAKU PEJALAN KAKI TERHADAP PEMANFAATAN JEMBATAN PENYEBERANGAN PASAR BULU : ANALISA FENOMENA FISIK JEMBATAN PENYEBERANGAN DAN SEKITARNYA Kondisi fisik jembatan penyeberangan Pasar bulu dapat berdampak positif dan negatif terhadap berfungsinya jembatan itu sendiri. Beberapa analisis fenomena dan kondisi fisik jembatan tersebut dapat dilihat dari beberapa contoh dibawah ini. Struktur Jembatan Struktur Baja Merupakan Sistem Struktur Jembatan yang cukup kuat. Kelebihan memakai Struktur ini adalah Iebih ringan serta dengan biaya anggaran yang relatif lebih murah. Struktur ini cukup kuat dan tahan lama. Kekurangan dari pemakaian bahan besi dan baja ini adalah bahan besi tidak kuat terus untuk menahan korosi akibat terguyur hujan dan terik panas matahari. Dilihat dari kondisi kebersihan Kebersihan pada jembatan itu sendiri merupakan tanggung jawab dari seluruh pengguna jembatan, dalam arti tidak boleh membuang sampah pada area tersebut. Pada jembatan Pasar Bulu kebersihan pada jembatan ini bisa dibilang cukup bersih, ini bisa dilihat dari bersihnya jalur jembatan dari sampah. Pada jembatan ini yang masih perlu dibersihkan adalah adanya tali bekas pengikat papan reklame yang masih bergelantungan di tiang dibelakang papan reklame. Tetapi secara keseluruhan jembatan pada Pasar Bulu ini cukup nyaman dilewati oleh penggunanya karena masih bersih. Faktor kesalahan penempatan Median / pulau jalan dan pagar pembatas Pulau jalan berfungsi sebagai pembatas dua atau lebih arus lalu lintas. Merupakan fungsi estetis bila terdapat taman diatasnya. Median ini mempunyai image agar pejalan kaki tidak menyeberang dengan menerobos kepadatan lalu lintas. Namun pada kenyatannya keberadaan pulau jalan tidak rnenghalangi pejalan kaki untuk menerobos kepadatan lalu lintas. karena ketinggiannya yang hanya maksimal 20 cm, dan masih terdapat celah bila diberi taman diatasnya. Material Jembatan Penyeberangan Material Material jembatan pada Pasar bulu ini menggunakan konstruksi baja. Karena secara keseluruhan badan dan kaki jembatan terbuat dari kontruksi baja, jadi relatif lebih kuat dan relatif lebih murah dalam pembuatannya. Kelayakan Jembatan Penyeberangan Sebagian besar jembatan penyeberangan di Semarang, tidak memakai penutup atap. Walaupun ada beberapa jembatan yang didesain dengan rangka atap yang terbuat dari baja dan besi misalnya yang terdapat pada jembatan pasar bulu. Sehingga di harapkan pengguna jembatan terlindung dari terik matahari dan hujan tetapi pada kenyataannya pengguna masih terkena sinar matahari pada siang hari dan air hujan pada waktu hujan. Pemasangan papan reklame dan spanduk Pemasangan reklame yang teratur Keberadaan reklame di Pasar Bulu ini merupakan fungsi lain dari jembatan penyeberangan dan bersifat komersial. Tidak seluruhnya jembatan terdapat reklame. Kesan indah dapat dilihat bila terdapat penataan reklame yang benar dan sesuai aturan. Hal ini bisa menambah persepsi seseorang terhadap estetika jembatan sebagai street furniture kota.Selain itu dengan keberadaan reklame dapat mengurangi panas matahari atau sebagai peneduh. Pemasangan spanduk yang kurang teratur Pada kenyataannya keberadaan spanduk - spanduk membuat kesan tidak teratur, karena pemasangannya yang terkesan liar dan memang tidak ada tempat yang direncanakan. Dalam waktu tertentu spanduk ini akan rusak karena bahannya dari kain dan tidak ada tanggung jawab dari pihak pemasang jika sudah tidak terpakai. Hal ini akan mengganggu estetika dari jembatan itu sendiri. Keberadaan halte atau pemberhentian angkutan umum Di sekitar jembatan penyeberangan pada umumnya terdapat halte / pemberhentian angkutan. Karena mayoritas dari pejalan kaki adalah pengguna jasa angkutan umum dalam mencapai tujuan dari aktifitas sehari-hari. Harus diperhatikan perletakan halte yang tepat dengan melihat kondisi existing dilapangan, karena bila terjadi kemacetan yang yang disebabkan oleh angutan umum, maka kondisi ini akan mempengaruhi perilaku pejalan kaki dengan memanfaatkan kemacetan tersebut untuk menerobos disela -sela kemacetan tersebut. Halte yang ada pada kawasan pasar bulu perletakannya sudah cukup baik. Ini bisa dilihat dari tidak adanya kemacetan pada kawasan tersebut. Pemandangan dan atas jembatan Dari atas jembatan dapat dilihat pemandangan tersendiri, yaitu sebuah koridor jalan dengan arus lalu lintas yang padat. Tetapi hal ini akan menjadi momok bagi pejalan kaki yang mempunyai ketakutan akan ketinggian. Karena Iantai jembatan kurang Iebih berada pada ketinggian 5 m dan pemukaan jalan raya. Bangunan PKL semi permanent Bangunan PKL semi permanen berada pada area pedestrian yang terletak dibawah jembatan penyeberangan. Pada umumnya area pedestrian habis oleh PKL tersebut. Dengan demikian keberadaan PKL akan mengganggu sirkulasi pejalan kaki pada pedestrian yang akan menuju pada jembatan penyeberangan. ANALISA FENOMENA AKTIVITAS PERILAKU PEJALAN KAKI Perilaku yang benar dalam menyebarang Penyeberang pada zebra cross Sarana penyeberang Zebra Cross dibuat pada lokasi-lokasi yang dinilai tidak atau belum membutuhkan sarana Jembatan Penyeberangan. Penyeberang pada zebra cross memanfaatkan jalur penyeberangan yang tersedia pada badan jalan selain jembatan penyeberangan. Meskipun mempunyai persepsi sama dengan menyeberang tidak menggunakan jembatan penyeberangan, tetapi merupakan sarana yang khusus yang telah dipertimbangkan segi keselamatan. Orang yang menyeberang pada jembatan penyeberangan Sebagian kecil dari pejalan kaki telah memanfaatkan jembatan penyeberangan, karena mereka lebih mementingkan segi keselamatan. Meskipun secara fisik lebih melelahkan dan Iebih lama. Mereka mempunyai pemikiran bahwa untuk menerobos kapadatan lalu lintas sudah tidak mungkin lagi, dan dapat menambah kemacetan sesama pengguna jalan. Perilaku yang salah dalam menyeberang. Penyeberang yang tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan. Aktifitas menyeberang dengan tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan, karena mereka menganggap seolah jembatan penyeberangan sebagai penghambat, asal dapat sampai tujuan dengan cepat dan tidak capek. Tetapi juga perlu kita lihat beberapa faktor yang mungkin membuat para pejalan kaki tersebut tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan, misalnya membawa barang bawaan yang banyak, terburu waktu, kondisi jembatan yang rawan serta kondisi tangga jembatan yang terlalu curam dll. Orang yang berdiri diatas pulau jalan Sambil menunggu arus lalu lintas yang renggang, maka pejalan kaki berdiri pada pulau jalan diantara arus lalu lintas dan kemudian mencari saat yang tepat untuk menyeberang pada sisi jalan lain. Hal ini disebabkan karena tidak terdapatnya pagar pembatas yang dapat menghalangi pejalan kaki antar kedua ruas jalan. Hal ini dapat menyebabkan kemacetan pada area tersebut, karena jumlah orang yang ada pada pulau jalan terlalu banyak. ANALISA FENOMENA AKTIVITAS PERILAKU SELAIN PEJALAN KAKI Gelandangan dan pengemis Para gelandangan dan pengemis yang memanfaatkan jembatan penyeberangan sebagai area untuk beraktifitas dan tinggal. Hal ini cukup mengganggu , karena apabila pada jam — jam tertentu saat tingkat aktifitas pemakaian jembatan penyeberangan tinggi hal seperti ini akan mengganggu para pemakai jembatan penyeberangan karena berkurangnya dimensi untuk berjalan, juga jika dilihat dari segi kebersihan hal ini akan mengakibatkan jembatan penyeberangan tersebut terlihat kumuh dan jika dilihat dan segi keamanan hal tersebut menyebabkan kerawanan yang mengganggu kenyamanan bagi para pemakai jembatan penyeberangan. Aktifitas pedagang kaki lima Pedagang kaki lima yang memanfaatkan area bawah jembatan penyeberangan. Penataannya harus teratur agar tidak mengganggu aktivitas berjalan pada pedestrian. Karena jika penempatannya tidak teratur maka akan menghabiskan area pedestrian sehingga pejalan kaki cenderung turun ke jalan dan jika akan menyeberang jalan cenderung pula menerobos lalu lintas jalan raya dan pada harus kembali ke area pedestrian. Oleh Karena itu juga penempatan PKL yang tidak teratur disekitar Jembatan Penyeberangan akan dapat mengganggu sirkulasi bagi para pengguna jembatan penyeberangan di pasar bulu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Jembatan Penyeberangan di Pasar Bulu di dalam pemanfaatan masih belum digunakan secara optimal oleh para pejalan kaki, hal ini terbukti dari hasil survai ternyata kurang dari 30% pejalan kaki yang hanya melewati jembatan penyeberangan tersebut. Jembatan Penyeberangan di Pasar Bulu sudah memenuhi kelayakan didalam penempatannya akan tetapi masih terdapat kekurangan dari fisik jembatan khususnya mengenai disain dari kecuraman tangga Jembatan Penyeberangan tersebut. Saran Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap berfungsinya jembatan penyeberangan diantaranya yaitu : keamanan, kenyamanan, kesenagan,keselamatan. Dari hasil angket bisa diketahui bahwa sudut ketinggian tangga masih terlalu besar ini bisa diketahui dari pengguna jembatan yang merasa lelah saat menaiki tangga jembatan pada pasar bulu. Agar pengguna jembatan merasa nyaman maka sudut ketinggian tangga jembatan harus diperkecil yaitu dengan cara memperpanjang kaki jembatan sehingga lebih landai. Untuk penerangan pada jembatan penyeberangan masih berkurang ini bisa diketahui dari pejalan kaki yang harus melihat anak tangga yang akan di pijak dengan teliti. Untuk itu agar pengguna jembatan merasa nyaman dan juga terasa aman pada malam hari maka perlu ditingkatkannya penerangan pada jembatan pasar bulu. Untuk menambah kenyamanan pada atap jembatan perlu penambahan teritisan agar siang hari pengguna jembatan terhindar dari terik matahari dan pada waktu hujan pengguna terhindar dari hujan. Agar pengguna jembatan dapat melihat lingkungan sekitar dari atas jembatan maka papan reklame harus ditinggikan sehingga pengguna jembatan merasa aman. Dari saran-saran diatas maka diharapkankeamanan, kenyamanan, dan keselamatan dapat terpenuhi, sehingga jembatan penyeberangan dapat berfungsi dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Anthoni J Catanese, J C Snyder, 1989, Perencanaan Kota, Edisi Kedua. Clovis Heimsath, AlA, 1988, Arsitektur dan Segi Perilaku, Bandung: Intermtra. David O Sears, Jonathan L Freedman, Lawne Peplau, 1985, Psikologi Sosial, Edisi kelima, Jilid 2, Jakarta 13740, Erlangga. Dinas Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga, Teknik Perencanaan Jembatan Penyeberangan, Dirgen Bina Marga, Jakarta Eko Budiharjo, 1983, Arsitekturdan Kota di Indonesia, Bandung. H. J. Struyk, K.H.CW. Van Der Veen, Soemarsono, 1995, Jembatan, Jakarta, PT Pradnya Paramita. Pratiwo, 1991, Kota dalam berbagai dimensi, Semarang. Rudjito, Sarwo Edi, 1996, Tugas Akhir, Perencanaan Jembatan Penyeberangan Bawah Tanah di Jalan Mgr. Soegiyopranoto Semarang, Semarang, LPPU - UNDIP. Sarlito Wirawan Sarwono. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo. Suwardjoko Wardani, 1990, Merencanakan S/stem Perangkutan,

    PENATAAN PAPAN REKLAME PADA PENGGAL JALAN HAYAM WURUK SEMARANG

    No full text
    Seiring dengan adanya pasar bebas, semakin meningkatkan persaingan di dunia perekonomian, salah satunya di bidang perdagangan,. Para pengusaha berusaha semaksimal mungkin untuk menjual produk – produknya agar dapat diterima oleh masyarakat, dengan cara menawarkan-nya baik itu dengan cara promosi langsung maupun dengan memasang iklan di media elektronik maupun di media cetak yang berupa gambar – gambar yang semenarik mungkin dan mudah diingat, hal ini juga banyak kita jumpai di fasilitas - fasilitas umum, salah satunya di jalan – jalan atau yang sering disebut reklame. Para pengusaha melihat fasilitas umum ini cukup efektif untuk menawarkan produk – produknya, karena dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat pemakai fasilitas umum tersebut yang mau tidak mau melihat dan membaca reklame tentang produk mereka. Reklame ini dapat berupa baliho, neon box maupun spanduk kain yang dipasang di tempat – tempat strategis di sepanjang jalan. Pada kenyataan di lapangan masih banyak pemasangan serta penempatannya yang kurang sesuai dengan peraturan pemerintah, dan sering kali mengganggu pengguna jalan yang menimbulkan ketidak-nyamanan. Jalan – jalan umum di Semarang merupakan potensi timbulnya permasalahan tersebut karena kota Semarang merupakan ibukota propinsi dengan tingkat perdagangan yang tinggi. SIGNAGE Pengertian signage Menurut Echols (1975), sign adalah tanda, sedangkan dalam Arsitektur sign diartikan sebagai bentuk – bentuk informasi dan orientasi kota yang dirancang khusus sebagai bagian dari delapan elemen urban design (Shirvani, 1985). Sedangkan Rubenstein (1992) mendefinisikan bahwa signage merupakan tanda tanda fisual di perkotaan yang berfungsi sebagai sarana informasi atau komunikasi secara arsitektural. Senada dengan hal tersebut , Lynch (1962) menyebutkan bahwa sign dapat berfungsi sebagai alat untuk orientasi bagi warga kota. Sama halnya dengan Sanoof (1991) yang menyatakan bahwa signage seperti dalam pengunaan sign, keberadaannya memberikan informasi kepada masyarakat yang sedang melintas, berjalan atau berkendaraan. Signage mengindikasi-kan bahwa signage dapat menciptakan image bagi suatu kota. Sasaran Dan Fungsi Signage Di dalam Arsitektur dikenal moda atau cara berkomunikasi. Seperti dalam komunikasi secara verbal, dikenal istilah “ Bahasa Arsitektur ” sebagai alat komunikasi yang lazim dikenal melalui bentuk. Kata-kata dalam bahasa Arsitektur lebih etnis dan memiliki banyak bentuk dibandingkan bahasa lisan atau tulisan. Bahasa Arsitektur akan menjadi lebih berarti dalam hubungan fisik antara satu dengan yang lainnya yang berada di dalam suatu lingkungan. Signage mempunyai dua sasaran, yaitu langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung, menspesifikasikan identitas usaha, lokasi dan barang-barang bisnis dan pelayanan yang ditawarkan. Signage tersebut mempunyai keterkaitan langsung dengan bangunan dan lingkungan setempat. Sedangkan signage yang tidak mempunyai keterkaitan dengan kegiatan di dalam bangunan atau lingkungan setempat merupakan komunikasi tidak langsung. Sebagai salah satu elemen urban design dan penanda bagi suatu kawasan atau kota, signage memiliki bermacam-macam fungsi. Pentingnya perencanaan signage ini dikemukakan oleh Rubenstein (1992) dalam bukunya Pedestrian Malls, Streetscape and Urban Spaces. Ada empat fungsi utama signage yang menjadikan signage sebagai elemen yang makin penting di dalam kota : 1. Jati diri (identitas) mal (mall identity), dapat berupa symbol atau logo untuk memberikan identitas suatu mal, dan logo tersebut dapat digunakan untuk suatu informasi pada public. 2. Rambu-rambu lalulintas (traffic sign), yang meliputi rambu-rambu pada highway, lampu-lampu lalulintas, rute perjalanan, tanda parkir, tanda berhenti, penyeberangan pejalan kaki dan tanda penunjuk arah. 3. Jatidiri komersial (commercial identity), dimana penempatan sign pada bangunan sebagai jatidiri pertokoan seperti papan nama (name Plate), sign advertising (papan advertensi) disepanjang jalan, atau blok bangunan. 4. Tanda-tanda informasi (informational sign), merupakan tanda-tanda (signs) yang berfungsi untuk memberikan informasi seperti petunjuk arah, peta-peta dan tanda-tanda (signs)khusus yang menunjukkan lokasi parkir, subway atau halte bis. Dengan informasi tersebut akan menuntun orang menuju tujuan tertentu. Menurut Spreiregen (1979), banyaknya signage akan membuat kekacauan visual, yang dapat diatasi dengan membuat signage terpadu dalam satu pole. Misalnya, untuk memberikan informasi pada suatu persimpangan dapat dibuat dengan membuat kombinasi antara papan nama jalan dengan rambu lalulintas pada tempat atau tiang yang sama. Demikian juga street furnishing lain dapat dikombinasikan dalam satu unit. Signage Design untuk downtown Pittsburg, misalnya dalam satu tiang (pole) dibuat suatu system traffic sign terpadu, terdiri dari lampu lalu lintas, penerangan jalan, penunjuk arah dan sebagainya (Barnett, 1982). SIGNAGE DI JL HAYAM WURUK, SEMARANG Potensi Dan Permasalahan Yang Ada Jalan Hayam Wuruk merupakan jalan penghubung ke pusat kota, serta merupakan kawasan pendidikan, sehingga kawasan ini cukup ramai oleh kendaraan maupun mahasiswa, hal ini menarik perhatian bagi para pedagang untuk membuka kios – kios dagangan, yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Banyak para pedagang yang dengan enaknya membangun kios tanpa memperhatikan kondisi sekitarnya, bentuk dan massa bangunan yang berbeda – beda, skala, penggunaan material, tekstur serta warna yang di terapkan pada kios – kios juga mempengaruhi keserasian dan keseelarasan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan sudah tidak jelas, kios – kios sudah sangat dekat dengan jalan. Untuk lebih menarik perhatian konsumen, berbagai cara pun dilakukan oleh para pedagang, salah satunya dengan memasang reklame semenarik dan sejelas mungkin. hal inilah yang menjadi potensi daerah jalan Hayam Wuruk terkesan kurang rapih, semrawut. Pemasangan papan reklame sendiri juga menimbulkan masalah, banyak papan reklame yang terpasang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, misalnya dalam hal proporsi, keselarasan penempatan antara papan reklame yang satu dengan yang lainnya, sehingga timbul suatu kesan tidak harmonis. Padahal pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang penataan papan reklame bahwa setiap perencanaan penempatan reklame harus memperhatikan estetika, keselamatan, keserasian bangunan dan lingkungan sesuai dengan rencana kota. Analisa Papan Reklame Pada Jalan Hayam Wuruk Dari hasil survey, kami dapat mengelompokkan jenis – jenis serta mengetahui jumlah papan reklame yang ada di Jalan Hayam Wuruk Semarang, jenis papan reklame serta jumlahnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : NO. JENIS PAPAN REKLAME UTARA SELATAN 1. Papan Reklame Menempel 20 buah 16 buah 2. Papan Reklame Menggantung 3 buah 8 buah 3. Papan Reklame Tiang Satu Kaki Neon Box Biasa Dua Kaki (biasa) 14 buah 20 buah 5 buah 7 buah 8 buah 3 buah 4. Papan Reklame Spanduk pada kios – kios pada pohon 28 buah 6 buah 15 buah 5 buah jumlah 96 buah 62 buah Baliho 5 buah Jumlah total 163 buah Tabel 1. Tabel Jumlah Papan Reklame Di Jalan Hayam Wuruk ( Sumber : Survey Lapangann Tahun 2006 ) Analisis Jenis Papan Reklame Reklame Papan ( Billboard / Baliho / Neon Box) Baliho atau papan reklame yang berukuran besar, termasuk dalam kategori Freestanding Sign atau tanda – tanda, dalam hal ini papan reklame yang berdiri sendiri yang didukung oleh satu tiang ( pole sign ), adapun sifatnya Permanent Sign yang berfungsi sebagai papan Advertisi ( signboard ), komersial yang maksudnya untuk mempublikasikan kepentingan dagang, memiliki jangka waktu pasang tertentu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau diundangkan ( Kelly dan Raso ), dalam hal ini peraturan pemerintah. Titik – titik penempatannya telah diatur oleh pemerintah serta telah diadakan perjanjian kontrak terlebih dahulu antara pemerintah dengan pemasang iklan, untuk titik – titik penempatan baliho terletak di tempat – tempat yang strategis agar mudah dilihat oleh orang yang lewat, pemasangannya tegak lurus dengan jalan dan kadang sedikit serong, dimaksudkan orang yang lewat dapat melihat sejelas dan selama mungkin papan reklame tersebut, di jalan Hayam Wuruk terdapat 5 buah baliho, dipasang menggunakan tiang dengan satu kaki dengan konstruksi baja. Dimensi Baliho juga merupakan faktor yang harus diperhatikan, hal ini berkaitan dengan luasan dan ketinggian papan reklame, luas ruang, penempatan ( lokasi ), dan kecepatan pergerakan ( ashihara, 1983, lynch, 1988, kelly dan rasso, 1991, smardon, 1992 ). Agar tidak menimbulkan kekacauan visual dan ketidakserasian terhadap lingkungan sekitar. Untuk di daerah jalan Hayam wuruk yang memiliki tingkat kecepatan kendaraan dan dimensi bangunan yang cukup rendah, seharusnya dimensi Baliho juga tidak terlalu besar dan harus memperhatikan estetika lingkungan sekitar. Tetapi karena tuntutan tingkat pendapatan pajak reklame, maka dimensi yang ada pada daerah tersebut tidak terpengaruh dari faktor – faktor diatas. Dimensi Baliho tersebut di lapangan sangat tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, yang menetapkan bahwa ukuran baliho pada titik – titik di jalan Hayam Wuruk yaitu baliho tipe 2 ( dua ) dengan ukuran 2 meter x 2 meter, tetapi pada kenyataanya ada yang berukuran 2,50 meter x 3 meter, sampai dengan ukuran 3 meter x 5 meter. Selain itu penggunaan Baliho tersebut kurang tepat, sesuai yang dikemukakan Richardson bahwa penggunaan tanda harus merefleksikan karakter setempat, yang merupakan kawasan kampus UNDIP Pleburan. Jarak yang satu dengan yang lainnya harus memadai dan menghindari kepadatan dan ketidakteraturan, larangan papan iklan yang besar yang mendominasi visual dan menciptakan pengaruh visual yang negatif, penggunaannya harus harmonis dengan elemen Arsitektur dimana berada, dalam hal ini lingkungan kampus Pleburan sebagai kawasan pendidikan. Selain itu penempatannya ada yang tertutup pohon, sehingga baliho tersebut tidak terlihat seutuhnya, ada sebagian gambar maupun tulisan yang tertutup ranting – ranting pohon. Reklame kain Jenis papan reklame kain / spanduk di jalan Hayam Wuruk juga cukup banyak, dari hasil survey, reklame kain / spanduk banyak digunakan oleh pedagang makanan, pada warung – warung penjual makanan, reklame ini berfungsi juga sebagai penutup atau penghalang pandangan dari arah jalan ke dalam warung, tetapi tidak 100 % terhalang, konsumen masih ada kesan hubungan dengan lingkungan luar, tetapi privasi ketika makan terjaga. Untuk kondisi di jalan Hayam Wuruk masih terkesan semrawut, hal ini sangat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah bahwa pemasangan papan reklame tidak boleh menghilangkan estetika bangunan secara keseluruhan. Pemasangannya ada yang menggunakan tali dan diikatkan ke sembarang tempat. reklame ini juga banyak digunakan oleh penjual jasa fotocopy dan rental computer. Papan reklame dari kain banyak digunakan karena praktis, murah, termasuk dalam kategori Temporary Sign, karena bersifat sementara / temporer serta dapat dilepas dan dipasang setiap saat (tidak permanen), dan memilki batas waktu sesuai dengan kebijakan perijinan setempat. Dari hasil survey kami, reklame jenis ini baik ditempatkan menempel pada bangunan sehingga tidak terlalu mengganggu sirkulasi pejalan kaki, selain itu sebaiknya ada tempat tersendiri untuk meletakkan reklame jenis kain terutama reklame spanduk, seperti yang telah dikeluarkan pemerintah mengenai panggung spanduk, agar terlihat lebih rapi dan tidak terkesan asal pasang. Untuk dilingkungan kampus sebaiknya terbebas dari reklame spanduk, kecuali yang melintang di atas jalan agar view ke arah kampus tidak terhalang oleh spanduk tersebut. Agar terlihat lebih rapi, alangkah baiknya jika papan reklame dipasang pada suatu tempa tersendiri, selain itu dalam pembacaannya tidak menyulitkan. Papan reklame dari kain ada yang berfungsi sebagai informasi, khususnya yang berupa reklame spanduk, untuk menginformasi-kan kegiatan di suatu lokasi, keterangan tentang keadaan suatu lingkungan, selain itu juga berfungsi sebagi identitas kios dan ada yang bersifat komersial yang maksudnya adalah untuk mempublikasikan kepentingan dagang, profesi, komoditi, pelayanan jasa, hiburan dan lain – lain. Reklame spanduk termasuk jenis signage yang berfungsi sebagai informasi, yaitu untuk menginformasikan kegiatan di suatu lokasi, sedangkan klasifikasinya termasuk kedalam jenis snipesing, karena diletakkan / dipasang pada pohon atau tiang, dan bersifat sementara. Reklame Menempel / Stiker / Poster Menempel pada bangunan, kebanyakan digunakan sebagai identitas kios atau warung yang bersangkutan, karena menempel pada bangunan, termasuk dalam kategori wall sign, ditempel pada dinding bangunan, menjadi satu kesatuan dengan dinding bangunannya, meliputi sign dicat pada didnding atau ditempel dengan cara dipakukan ke bangunan tersebut, sehingga pemasangannya sejajar dengan jalan, papan reklame jenis ini tidak mudah dilihat oleh orang, orang cenderung akan sedikit menolehkan penglihatannya agar dapat terbaca. Dimensi papan reklame juga merupakan faktor yang harus diperhatikan, hal ini juga berkaitan dengan luasan dan ketinggian papan reklame, luas ruang, penempatan ( lokasi ), dan kecepatan pergerakan ( ashihara, 1983, lynch, 1988, kelly dan rasso, 1991, smardon, 1992 ). Untuk di daerah jalan Hayam Wuruk yang memiliki tingkat kecepatan kendaraan dan dimensi bangunan yang cukup rendah, maka dimensi papan reklame menempel juga tidak terlalu besar, serta harus memperhatikan estetika lingkungan sekitar. Pemasangan papan reklame jenis ini cukup praktis, serta mudah, hanya ditempel ke dinding maupun pohon dengan menggunakan lem maupun paku. Papan reklame jenis ini banyak di jumpai di jalan Hayam Wuruk yang dipasang di sembarang tempat, sehingga kebersihan dan keindahan jalan menjadi kurang nyaman. selain itu efek setelah reklame tersebut rusak cukup menggangu bila tidak dibersihkan secara total. terutama yang menggunakan bahan dari kertas dan ditempel ke dinding dengan menggunakan lem. Sasaran dan fungsi papan reklame ini yaitu sebagai jatidiri komersial ( commercial identity ) sebagai jatidiri pertokoan, seperti papan nama ( name plate ), sign advertising ( papan reklame ). Agar penerapannya tidak menimbulkan kepadatan, dan ketidakteraturan visual, perlu adanya penataan jarak pemasangan antar reklame, penggunaan papan reklame harus dapat merefleksi-kan karakter kawasan, dalam hal ini kawasan pendidikan, juga harus harmonis dengan bangunan Arsitektur dimana papan reklame tersebut berada (Richardson dalam Shirvani, 1985). Karena situasi dan kondisi jalan Hayam Wuruk yang merupakan kawasan kampus serta memiliki ketinggian bangunan yang tidak terlalu tinggi, maka penempatan reklame diatas bangunan jarang dipakai, hal ini kurang efektif disebabkan pula banyaknya pohon yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Hayam Wuruk. Untuk penempatannya sendiri sangat tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, hal ini terlihat dari penempatan reklame pada kios – kios yang terkesan sembarang, pada ruang – ruang kosong, sehingga tidak ada keselarasan, irama yang ditimbulkan dari papan reklame tersebut. Reklame Menggantung Termasuk dalam kategori Suspended Sign karena dipasang dengan cara menggantungkan papan dari bahan seng maupun yang lainnya enggunakan besi yang di pasang pada fasade bangunan. pemasangan papan reklame jenis ini sebenarnya hampir sama dengan jenis tiang, bedanya jenis menggantung tiang vertikalnya tidak ditanam ke tanah atau trotoar, tetapi di pasang pada bangunan yang bersangkutan. reklame jenis ini jarang diterapkan karena sifatnya yang labil bila terkena angin, cenderung akan bergoyang, karena digantung menggunakan kawat yang diikatkan ke pipa besi. Papan reklame menggantung baik bila di pasang di bawah atap tritisan bagian depan, karena terlindung dari angin dan di pasang atau diikatkan menggunakan pipa besi kecil. Untuk pemasangan papan reklame menggantung di jalan Hayam wuruk, masih jauh dari peraturan pemerintah yang menetapkan bahwa ketinggian ruang bebas minimal 2,50 meter, sedangkan pada kenyataannya kurang dari yang ditetapkan pemerintah, yaitu hanya sekitar 2 meter. Selain itu banyak papan reklame yang menjorok ke badan jalan. Dilihat dari keselarasan dengan bangunan masih banyak yang tidak selaras, karena proporsi telalu besar. Analisis Tempat / lokasi Penempatan papan reklame merupakan faktor yang sangat memepengaruhi penataan papan reklame agar terlihat rapi dan teratur, dari hasil survey lokasi, kami mengambil beberapa titik penempatan papan reklame yang sekiranya cukup bermasalah, dalam konteks peraturan pemerintah, implementasi penempatan pada daerah lingkungan pendidikan yang kurang mencerminkan kawasan pendidikan. Titik – titik tersebut merupakan salah satu sampel dari permasalahan yang umum terjadi di jalan Hayam Wuruk, terutama pada penempatannya. Pada Sarana dan Prasarana Kota Trotoar / bahu jalan di sepanjang jalan Hayam Wuruk. Biasanya berupa reklame tiang, dipasang dengan cara menanam tiang dari pipa besi ke dalam trotoar yang digali dan dicor dengan semen. Penempatannya sendiri cukup mengganggu, baik sirkulasi maupun visual pejalan kaki. Jalur pedestrian yang memiliki lebar kurang lebih 150 cm sudah cukup sempit, diambil lagi untuk lahan parkir, kunci dari perancangan pedestrian agar nyaman adalah adanya keseimbangan antara penggunaan pedestrian area dengan fasilitas bagi kendaraan bermotor, dalam hal ini tempat parkir, selain itu adanya penempatan tiang papan reklame dengan jarak antar tiang papan reklame yang terlalu dekat, banyaknya pepohonan yang ada juga memberikan kesan adanya pembatas jalur pedestrian yaitu antara kios – kios pedagang dengan tiang – tiang papan reklame dan pepohonan, sehingga pejalan kaki terkesan berjalan pada ruang yang cukup sempit. Posisi papan reklame diatas banyak yang dipasang tidak teratur, ada yang kearah jalan maupun kearah jalur pedestrian, selain itu ketinggian yang cukup rendah, jumlahnya yang terlalu banyak, lokasi yang saling berdekatan jarak dan ukuran papan reklame kurang memadai dan kurang diatur sedemikian rupa sehingga jarak penglihatan terlalu dekat, hal ini juga menimbulkan kepadatan dan kekacaubalaun visual. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai pemasangan papan reklame pada trotoar, yaitu dengan ketentuan bahwa ketinggian ruang bebas minimal adalah 2,50 meter untuk reklame kecil, selain itu pemasangan papan reklame tidak boleh melebihi / menjorok ke badan jalan. Penggunaan reklame harus dapat merefleksikan karaktaer suatu tempat, dalam hal ini kawasan kampus UNDIP Pleburan sebagai kawasan pendidikan, tapi pada kenyataannya papan – papan reklame yang ada kurang mencerminkan karakter kawasan tersebut. Sasaran dan fungsi papan reklame ini yaitu sebagai jatidiri komersial ( commercial identity ) sebagai jatidiri pertokoan, seperti papan nama ( name plate ), sign advertising ( papan reklame ). Papan reklame yang berada pada trotoar termasuk dalam klasifikasi Freestanding Sign atau tanda – tanda ( papan reklame ) yang berdiri sendiri yang didukung oleh satu tiang ( pole sign ), adapun sifatnya Permanent Sign yang berfungsi sebagai papan Advertisi ( signboard ), komersial yang maksudnya untuk mempublikasikan kepentingan dagang, memiliki jangka waktu pasang tertentu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau diundangkan ( Kelly dan Raso ). Untuk itu perlu adanya penataan ulang terhadap papan reklame yang ada atau kios – kios pedagang agar terlihat lebih rapi. Diluar Sarana dan Prasarana Kota Di jalan Hayam Wuruk Penempatan Papan Reklame di luar sarana dan prasarana kota yaitu pada bangunan pribadi yang membuka toko maupun jasa, serta kios – kios di sepanjang jalan tersebut. Pemasangannya paling banyak diterapkan oleh pedagang pemilik kios, karena adanya kebebasan pemasangan, di luar sarana dan prasarana kota. Jenis reklame yang dipasang adalah reklame papan, reklame kain, dengan cara menempel, menggantung pada bangunan maupun menggunakan tiang sebagai penyangga. Karena ada kebebasan pemasangan, serta kurangnya aturan yang baku serta kurangnya pengawasan, maka timbul persaingan antar pedagang untuk memasang papan reklame pada daerahnya agar menarik perhatian konsumen, Richardson dalam Shirvani (1985), memberikan landasan bahwa untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu kawasan maka dituntut karakteristik signage : - Penggunaan signage harus dapat merefleksikan karakter suatu tempat. - Jarak sign satu dengan lainya harus memadai dan menghindari kepadatan dan ketidakteraturan visual. - Pengunaan sign harus harmonis dengan bangunan Arsitektur dimana sign tersebut berada. - larangan untuk papan iklan yang besar dan mendominasi visual sehingga menimbulkan pengaruh visual yang negatif. - kualitas rancangan dan ukuran advertasi pribadi harus diatur untuk membentuk kesesuaian, serta mengurangi persaingan antar sesama iklan. Dilihat dari penempatannya, reklame pada kios cukup membantu dalam memeberikan identitas toko tersebut. Secara langsung penempatan reklame pada kios tidak mengganggu sirkulasi maupun visual pejalan kaki. Di jalan Hayam Wuruk penempatan reklame pada kios biasnya ditempatkan di atas atap tritisan maupun pada dinding paling depan sebelah atas, posisi ini cukup baik karena orang lebih yakin terhadap toko yang dikunjunginya. Selain pada kios – kios permanen, penempatan papan reklame sering terlihat pada kios – kios gerobak rokok yang bersifat tidak permanen, biasanya berupa reklame menempel mengenai suatu produk rokok, hal ini cukup efektif, karena kios – kios tersebut rata – rata m

    GBPP Mata Kuliah Bahan Bangunan 1

    No full text
    Pada akhir perkuliahan mahasiswa diharapkan mendapatkan pengetahuan mengenai bahan-bahan yang berkaitan langsung dengan perancangan bangunan ataupun desain interior. Disamping mereka juga mampu untuk membaca dan mengintepretasikan gambar-gambar kerja/gambar teknik yang nantinya akan diberikan Arsitek untuk mereka

    GBPP MATA KULIAH PERANCANGAN ARSITEKTUR 4

    No full text
    Materi pada mata kuliah Perancangan Arsitektur VI ini, merupakan kelanjutan dari mata kuliah Perancangan Arsitektur III, berisikan penjelasan teori-teori dan penerapannya yang berupa penugasan. Tugas yang harus dikerjakan mahasiswa berupa aktivitas studio dengan cara diskusi, sketsa-sketsa, pembimbingan individu, pembimbingan kelompok, kegiatan grafis. Mata kuliah ini didukung oleh mata kuliah semester sebelumnya. Tugas berupa redesain bangunan gedung sebagai fasilitas pelayanan umum yang ada di beberapa kawasan di kota Semarang. Bangunan2 tersebut berupa gedung bertingkat atau bangunan 2 lantai seperti Kantor kelurahan, praktek dokter bersama, restoran keluarga, showroom mobil, dan mini market. Mata kuliah ini menjadi dasar bagi mata kuliah Perancangan Arsitektur

    GBPP DAN SAP MATA KULIAH TUGAS AKHIR

    No full text
    Mata kuliah ini merupakan terminal akhir dan rangkuman dari seluruh mata-kuliah2 pokok dan penunjang yang diberikan pada semester2 sebelumnya. Cakupan rancangan dan masalahnya sudah lebih luas dan lebih kompleks. Tema tugas akhir adalah bangunan 2 (dua) lantai dengan luas + 300 m2 – 400 m. Pada tugas akhir ini mahasiswa mengajukan judul2 proyek nyata, minimal 2 (dua) judul sebagai sinopsis dilengkapi contoh2 RAB serta RKS, yang akan diuji oleh tim dosen dalam sidang ujian sinopsis. Setelah hasil sidang sinopsis dinyatakan layak, tahap berikutnya mahasiswa masuk ke studio untuk mengerjakan proyek akhirnya dibawah bimbingan dosen pembimbing. Produk akhir dari studio tugas akhir adalah gambar kerja lengkap yang terdiri dari gambar2 arsitektur, gambar2 struktur konstruksi, gambar2 detail, RAB serta RKS sebagai materi untuk ujian sidang akhir

    GBPP mata kuliah PERANCANGAN ARSITEKTUR IV, D3 Desain Arsitektur

    No full text
    GBPP mata kuliah PERANCANGAN ARSITEKTUR IV, D3 Desain Arsitektur Deskripsi Singkat : - Mata kuliah ini merupakan rangkaian atau serial dari mata kuliah Perancangan Arsitektur 1 (PA 1) sampai dengan Perancangan Arsitektur 3 (PA 3). Cakupan rancangan dan masalahnya sudah lebih luas dan lebih kompleks dibandingkan PA 1 sampai dengan PA 3. - Tugas PA 4 adalah bangunan pelayanan umum 2 (dua) lantai dengan luas + 300 m2 – 400 m2 - Pada mata kuliah ini mahasiswa diberikan dasar-dasar penyusunan program ruang, sehingga data studi banding dari tugas yang diberikan dapat digunakan sebagai gambaran nyata dalam pemahaman program ruang

    ARSITEKTUR KOLONIAL KOTA LAMA SEMARANG

    No full text
    Kota Semarang adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang perkembangannya sebagian besar dipengaruhi oleh fungsinya sebagai kota pelabuhan sejak jaman kolonial. Hal ini menyebabkan banyaknya akulturasi budaya yang terjadi antara pendatang dengan warga pribumi. Percampuran ini juga mempengaruhi aspek arsitektural di Semarang. Baik itu dalam segi perencanaan dan perancangan kota, sampai dengan style bangunan yang banyak digunakan pada masa tersebut. Dalam hal penataan kota, kedatangan ras-ras pendatang itu juga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dan perkembangan pada perencanaan kota Semarang. Pengaruh bangsa Belanda relatif lebih besar terhadap karya-karya arsitektural yang dihasilkan di Semarang itu. Hal ini dapat dilihat dengan keberadaan daerah-daerah seperti Kawasan Candi dan Kota Lama. Kota Lama, berbeda dengan wilayah Candi, ciri arsitektural Kolonialnya masih terlihat dengan jelas lewat bangunan-bangunan dan pengaturan wilayah di salah satu bagian kota Semarang tersebut. Hal ini menjadikan Kota Lama sebagai salah satu miniatur dari keadaan konkrit kota Semarang pada masa tersebut. TEORI KOLONIAL DI INDONESIA Secara umum semua kota-kota kolonial memiliki persamaan, yakni fakta bahwa mereka terbagi menjadi dua bagian, bagian yang berasal dari penduduk/budaya lokal & bagian yang merupakan hasil dari cipta karya/budaya pendatang/ orang asing, karena proses dari imposisi kota yang mereka hasilkan. Oposisi antara belahan campuran & asing ini berakar pada sifat komunitas kolonial yang menekan dan karena hal ini, kota-kota kolonial sering kali dikarakterisasikan sebagai duality atau kota ganda. Di Indonesia kondisi kota-kota kolonial justru jauh lebih kompleks selain karena bagian lokal yang bergaya barat, terdapat juga bagian asing yang bergaya oriental, terutama Cina. Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia pada era kolonial bisa dikarakterisasikan sebagai kota tiga bagian dengan muatan arsitektur lokal berupa Kraton & Kampung, bagian cina yang terdiri dari ruko-ruko, dan satu bagian yang bergaya Barat yang tersusun atas benteng dan gudang-gudang kolonial. Lehmann telah menjabarkan tiga elemen dari penyusun kota; Kraton, Ruko, & Benteng yang mengatur sebuah konfigurasi yang bisa dianggap umum bagi kota-kota kolonial di Indonesia. Bagaimanapun konfigurasi dari tiga elemen ini tidaklah sama di semua kota. Kadang satu bagian atau bagian yang lainnya dominan. Bahkan kadang ada elemen yang tidak ada seperti hilangnya Kraton, karena dominasi dari Benteng di Batavia dan dominasi elemen Cina seperti di Lasem. Bisa juga hilangnya benteng karena dominasi Kraton, seperti di Palembang. Kadang salah satu dari elemen ini tidaklah terlalu berperan atau menonjol, seperti keraton di Manado. Kondisi dari perseteruan tiga elemen yaiut yang menyebeabkan perbedaan di tiga tipe kota kolonial yang ada di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh orang Indonesia, orang Cina & Bangsa Barat, seperti kota Yogyakarta, kota pasar Lasem, dan kota administratif Batavia. Walaupun ketiga tipe secara fundamental semua sama karena ditentukan oleh situasi kolonialnya, perbedaan dari campuran ketiga bagian ini meningkatkan variasi substansial yang dimana tipologinya dari kota-kota kolonial ini bisa didasarkan. Ruang terbuka publik berada di pusat kota, biasanya dekat dengan dengan gereja atau katedral, balai kota, dan sumur publik; mempunyai konfigurasi tidak menentu; sering tidak ada jalan yang melintasi secara lurus; tempat penduduk berkumpul; kebanyakan menyatu dengan harmoni sebagai elemen estetis kota. Lansekap Belanda sebagian besar adalah dataran rendah yang berada di pesisir pantai. Beriklim sedang dan tanahnya baik untuk agrikultur dan daerah pesisirnya merupakan potensi maritim yang besar. Charles V dari Spanyol mewarisi Negeri Belanda pada tahun 1506 (Jellicol 1996, 192). Kemudian Betanda berkembang menjadi negeri maritim yang kuat dengan kota-kota di tepi laut dengan suatu sistem kanal yang menggunakan teknologi baru pada masa itu untuk memecahkan masalah sempitnya lahan. Sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, peternakan dan perdagangan melalui laut. Kekuatan Maritim menjadikannya salah satu negara kolonial. Pada tahun 1609 negeri Belanda membebaskan diri dari Spanyol dengan tetap mempertahankan sistem monarki. KOTA LAMA PADA AWAL PENATAAN RUANG DI SEMARANG Sejak tahun 1903, sebelum Karsten tiba di Semarang, telah ada aktivitas lokal dalam bidang perencanaan kota. Aktivitas tersebut merupakan pelaksanaan dari politik desentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya. Pada saat itulah Karsten diangkat menjadi penasehat otoritas lokal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum. Sebagai penasehat kota, Karsten juga menyusun paket lengkap kota, yang berisi : - Town-plan ( perencanaan kota) - Detail plan (rencana detail kota) - Building Regulation ; peraturan bangunan untuk sejumlah kota di Jawa, antara lain : Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun, Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara) dua kota kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dan kota Purwokerto. Ia juga menjadi penasehat kota- kota Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin. Tahun 1906-1942 merupakan masa pemerintahan Kota Praja Semarang (Stadsgemeente van Semarang ) yang diresmikan tanggal 1 April 1906 diatur dalam staatsblad no.120 tahun 1906. Semarang sejak itu terlepas dari Kabupaten dan memiliki batas kekuasaan pemerintah Kota Praja. Kota Semarang mulai dibenahi dengan sistem administrasi pembangunan. Kontrol serta pemeliharaan elemen-elemen kota yang di bangun juga di lakukan dengan baik. Arah pembangunannya tertuju untuk membangun permukiman Belanda yang dilengkapi dengan fasilitas dan utilitas kota antara lain Stadion olah raga, lapangan menembak, taman-taman kota, jaringan jalan baru, drainage di Banjarkanal Timur dan Barat,Siranda Kanal dan CBZ Kanal,juga saluran. Pembangunan sarana-sarana pelabuhan, stasiun kereta api, kantor-kantor dagang dan lain-lain juga terus dilaksanakan. Fungsi kota menjadi meluas di samping sektor perdaganga, militer, pemerintahan, juga di sektor pendidikan dan pariwisata. Namun dalam masa stads gemeente ini, pembangunan kota hanya mengutamakan dan menekankan pada penertiban sistem administrasi pemerintahan, dan bukan pada sektor sosial ekonomi, sosial budaya serta perencanaan fisik yang menyeluruh. Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng VIJHOEK.Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : HEEREN STRAAT. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut DE ZUIDER POR. Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan. Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa (Cultur Stelsel) diseluruh kawasan Hindia Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan "LITTLE NETHERLAND". Kota Lama terletak pada bagian utara Semarang, dekat dengan pelabuhan. Daerah ini dahulu merupakan sebuah benteng pertahanan Belanda. Setelah situasi politik & ekonomi Belanda di Indonesia dirasakan aman & mantap, yaitu pada tahun 1824, benteng ini dihancurkan dan menjadi pusat pertahanan serta perdagangan. Dalam wilayah bekas benteng tadi, seperti pada kota-kota besar lainnya berkembang pusat kota dengan bentuk & gaya kota-kota pada awal abad pertengahan. Bangunan-bangunan berdiri mengelompok membentuk “pulau-pulau” dengan bangunan tanpa halaman depan dan dikelilingi oleh jalan, demikian juga gedung SMN tidak mempunyai halaman depan dan terletak langsung di depan jalan raya. Pintu masuk utama terletak di jalan yang lalu lintasnya kurang ramai. Dalam perkembangan kota, ruang terbuka untuk umum & pertamanan, mempunyai peranan penting. Karsten merencanakan sungai yang mengalir melewati kota difungsikan sebagai ruang terbuka untuk masa yang akan datang. Dia juga membangun taman untuk olahraga, maupun rekreasi pada daerah sebelah Timur kota Semarang, di mana banyak terdapat rumah-rumah villa (rumah-rumah mewah). Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Banyak orang yang sudah mengenal Kota Lama Semarang harus berfikir sejenaK apabila mendengar istilah kampung Eropa. Sebenarnya, sudah semenjak abad yang lalu, kedua pengertian ini, yakni OUTSTADT dan Europeschebuurt , dipakai di kalangan masyarakat untuk menyebut kawasan yang sama. Kawasan tersebut mencakup koloni yang semula berbenteng tempat bermukim orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya yang mempunyai kegiatan utama sebagai pedagang. Usia koloni yang sekarang relatif masih utuh tersebut sudah terbilang abad. Titik awal pengembangannya adalah perjanjian antara VOC dengan Sunan Amangkurat II pada bulan Oktober 1677 yang disusul oleh kesepakatan berikutnya pada bulan Januari 1678. Kedua belah pihak menyetujui hak penguasaan VOC atas sebagian wilayah Semarang. Sebagai imbalan atas bantuannya pada kerajaan Mataram untuk menumpas pemberontakkan Trunojoyo karena hasrat VOC terutama untuk menguasia bandar-bandar di speanjang pesisir utara, maka bagian yang dipilihnya adalah pelabuhan dan sekitarnya. Selanjutnya perjanjian Oktober 1705 memperkokoh kedudukan VOC dengan diperbolehkannya seriakt dagang ini mendirikan benteng. Semenjak itulah kawasan koloni tersebut dikelilingi oleh tembok yang dibuat segi lima yang disebut de VIJHOEK. Walaupun tembok keliling tersebut dibongkar pad abad berikutnya, batas koloni dapat dilacak karena tidak ada perubahan struktur kawasan yang berarti. Dinding sebelah barat terletak di tepi Kali Semarang yang semakin membelok ke Timur Laut. Jalan yang menelusurinya bernamaWester-wal straat yang menerus ke Pakhuis straat (sekarang keduanya disebut jalan Mpu Tantular). Dinding sebelah utara sejajar dengan jalan stasiun Tawang dan disebut Norder- Wal Straat. Sedangkan dinding timur dan Selatan masing-masing bersisian dengan Ooster-wal Straat (jalan Cendrawasih Utara) dan Zuder-Wal Straat (jalan Sendowo). Berangkat dari wilayah yang dikuasai VOC yang merupakan serikat dagang Belanda, serikat dagang tersebut memang tidak lalu tumbuh sebagai kampungnya orang Belanda semata. Peta bertahun 1695 menamakan koloni tersebut de Europesche (buurt) , demikian pula yang bertahun1719. untuk memperbedakannya dari de Javanische negara Rijen (perkampungan pribumi), de malaische dan de chineesche kampong (kampung Melayu & Pecinan). Nama-nama unsur lingkuan seperti de Heeren Straat (jalan utama yang membelah koloni menjadi dua bagian) de hersteller, cecylon, amsterdam, de lier, dan de smits ( nama pos keamanan pada tembok keliling ) yang merupakan nama tempat Negeri Belanda, atau nama yang mempunyai kaitan erat dengan negeri tersebut, tidak membentuknya menjadi belanda kecil. Perkmbangan selanjutnya lebih menegaskan kembali kehadiran warna yang berasal dari bagian-bagian eropa lainnya. Arsitektur kota lama Semarang, seperti yang masih terlihat sekarang lebih mengesankan sebagai perpaduan berbagai tradisi dan gaya yang berkembang di eropa yang memperoleh sedikit sentuhan lokal. Baru pada tiga puluhan gaya arsitektur yang berakar dinegeri Belanda masuk ke kota lama. Gaya arsitektur modern ini dikembangkan dari hasil pencarian kelompok pelukis de stijl oleh W.M.Dudok arsitek Liem Bwan Tjie (1930) dan J.E.L Blankenberg (1938) masing-masing menghadirkan rancangan kantor untuk Oei Tiong Ham Concern di Hoogendorp sstraat ( jl. Kepodang ) dan kantor borsumij borneo sumatra maatschappij yang baru, persis di sebelah barat gereja blenduk. Kendati rancangan mereka yang mempunyai ciri dinding polos dan jendela kaca yang menerus membentuk garis-garis horizontal yang sangat kuat, dipadukan dengan menara yang menjulang berhiaskan panel kaca sebagai titik tangkap sangat kontras dengan sekelilingnya, pendekatan yang dilakukan disini terhadap kondisi iklim tidak bergeser jauh dari yang diterapkan oleh kolega yang telah disebut sebelumnya. Bidang dinding yang seperti selubung tersebut sebernarnya merupakan bungkus bangunan yang ada didalamnya. Konsep serambi disini berlaku sebagai isolasi panas. Kantor Borsumij yang sampai sekarang masih kokoh berdiri sekarang ditempati oleh P.T Kerta Niaga, sedangkan Oei Tiong ham concern sekarang berada ditangan Rajawali Nusindo. Satu lagi bangunan yang bergaya serupa ialah Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jl. Mpu tantular KOTA LAMA DAN PERKEMBANGANNYA Kota Lama Kota Semarang dulunya merupakan Kota benteng yang merupakan daerah permukiman khusus bangsa Belanda dan pusat kota lama pada saat ini dikenal sebagai kawasan Kota Lama (Oude Staat) Semarang. Kota Lama didesain dalam suatu pola konsentrik denagn nodes pada paradeplein yang merupakan plaza pusat dengan gereja dan segala aktivitas perdaganagn di sepanjang tepi jalan. Kota ini seolah terbelah dua oleh Heerenstrat yang merupakan bagian dari jaringan de groote postweg yang dibangun pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Daendels. Aksis ke arah utara dan selatan yang dibentuk oleh Jl. Suari telah memunculkan Gereja blenduk sebagai focal point dari arah Pekojan. a. Awal Pertumbuhan Kota Benteng Pertumbuhan Kota Lama dipengaruhi oleh: - Pemberontakkan orang Cina melawan Belanda (1742) - Pindahnya kantor pusat dagang VOC dari Jepara ke Semarang (3 Januari 1778) VOC kemudian memperkuat diri denga membangun benteng-benteng perathanan termasuk pembanguann kota benteng untuk melindunginya dari serangan penduduk asli. b. Pertumbuhan Kota Lama pada pertengahan abad ke-18–Awal abad ke-19 Sampai pertengahan abad ke-18, Semarang mengalami perkembangan yang semakin pesat, demikian pula keadaan dalam benteng Belanda yaitu dnegan tumbuhnya perkantoran pemerintah karena fungsinya sebagai pusat pemerintahan, kantor dagang karena fungsinya sebagai pusat perniagaan, fasilitas sosial dan lain-lain. Kemajuan ini didukung juga oleh peran penting sungai Semarang sebagai jalur transportasi perkonomian utama. Pada waktu itu benteng ini memiliki tiga buah gerbang besar beberapa gerbang kecil, serta enam buah pos keamanan yang terletak menyebar. Tiga buah gerbang besar itu adalah: - De Wester ( Pintu Gerbang Barat) / Gouvernementspoort. Berlokasi di Gouvernements Brug/ Jembatan Gupernemen atau dikenal juga sebagai jembatan Berok. - De Zulder (Pintu Gerbang Selatan). Berlokasi di sekitar jalur lintas trem dekat awal Jalan Pekojan dan Jl. H. Agus Salim. - De Ooster Port. Berlokasi di akhir Heerenstraat (sekarang di persimpangan antara jalan Raden Patah dan Jl. MT Haryono) Sedangakan enam buah pos keamanan tersebut dikenal sebagai: - De Hersteller. Berlokasi di Jl. Ronggowarsito dan Jalan Pengapon - Ceylon. Berlokasi di halaman Gerja Gedongan - Amsterdam. Berlokasi di Jl. H. Agus Salim - De Lier. Berlokasi di kompleks Kantor Pos Lama - De Smits. Berlokasi di Boomlama - De Zee. Berlokasi di Boomlama Tahun 1824 benteng yang mengelilingi Kota Lama dibongkar, berikut gerbang dan pos keamanannya. Hal ini disebabkan oleh karena Belanda ingin mengembangkan Semarang sebagai Kota Modern, yaitu dengan: - Membuka jaringan kereta api - Membuka terusan pelabuah yang diberi nama Kali Baru dan kawasan sekitarnya Revolusi ini dengan cepat mengembangkan kehidupan ekonomi Semarang yang pada masa itu terbagi menjadi 2 morfologi urban denagn dua domain utama, yaitu: Domain Ekonomi. Memiliki inti ganda yaitu Kota Lama dan Pecinan-didukung oleh dua elemen primer transportasi yaitu kanal pelabuhan dan stasiun kereta api. Domain Politik. Memiliki init ganda yaitu sarana pemerintahan Kota Lama dan pusat pemerintahan tradisional di Kanjengan, serta didukung oleh elemn primer berupa benteng. Pertumbuhan Kota Lama pada Pertengahan Abad-19 Awal Perang Dunia II Pada masa ini Kota Lama sudah buka merupakan wilayah Khusus Belanda, aktivitas perekonomian juga sudah tidak didominasi oelh bangsa Belanda. Berdasarkan data yang dibuat pada tahun 1935, maka pada saat itu dalam kawasan Kota Lama telah ditemui gedung-gedung sebagai berikut: Stasiun Kereta Api, stasiun trem, Gereja Katolik, Gereja Kristen, Susteran, kantor notaris, kantor redaksi, konsulat (Muangthai, Belgia, Perancis, Inggris). Bank, perusahaan perkebunan, rumah jompo, klub-klub, kantor penerbit, rumah yatim piatu, pengadilan negeri, kantor pemerintah, kantor usaha dagang, sekolah teknik, staadschouwburg, hotel, kantor polisi. Kota Lama pada Masa Penjajahan Jepang – Setelah Perang Dunia II Pada masa ini hampir tidak ada pembangunan di Semarang. Kota Lama yang merupakan pusat kota menajdi kosong karena sebagian penghuninya yang berkebangsaan Eropa terpaksa menyelamatkan diri dari kejaran tentara Jepang. Bangsa Eropa yang berhasil ditangkap segera dimasukkan ke dalam kamp internir yang berdasarkan peta ”prisonner of War and internment camps” tanggal 15 Juni 1945 terlihat bahwa salah satu kamp internir itu dapat ditemukan di JL. Ronggowarsito yaitu di areal rumah puatu, sedangkan hotel Jansen yang dulunya merupakan hotel Eropa digunakan sebagai markas tentara Jepang. Perang yang terjadi antara Jepang dan Sekutu telah mengakibatkan banyak kerusakan di beberapa bagian kota Lama PENERAPAN GAYA KOLONIAL Mengingat dasar teori kolonial, terutama kolonial yang berasal dari Belanda adalah penerapan dari teori pendesainan kota Renaissance dan juga ada sebagian yang berdasarkan peraturan-peraturan tata kota yang dibuat oleh pemerintah Belanda selama mereka berada di Indonesia, maka berikut ini adalah poin-poin dari teori-teori tersebut yang dapat mencirikan kekolonialan sebuah kota. Poin-poin tersebut antara lain: 4.1.1 Pola Penataan Kota 1. Desain Kota Berbentuk Bintang Radial Penerapan pengaturan kota yang disusun oleh jalan radial dari titik sentral, yang biasanya diusulkan sebagai lokasi untuk sebuah gereja, istana, atau kemungkinan sebuah kastil (dalam kasus kota lama, titik sentralnya adalah gereja Imannuel (Blenduk), juga terlihat pada kota lama 2. Desain dengan Komposisi Poligon Mengingat fungsi pertama wilayah Kota Lama sebagai benteng, desain kota lama yang menggunakan komposisi Poligon sebagai suatu bentuk yang menguntungkan untuk pertahanan. Sudut yang dibentuk oleh dinding menjadi lokasi benteng, yang melindungi dari api dapat diarahkan melawan musuh yang berusaha memanjat dinding. Walaupun sekarang benteng sudah dirubuhkan begitu juga dengan pos-pos penjagaannya, namun, penerapan komposisi poligon ini masih berfungsi di mana dalam penerapannya menyebabkan pertemuan jalan yang adalah suatu manfaat yang berarti pada pemfokusan pada bangunan sentral penting sangatlah sesuai. Hal ini dapat dilihat pada letak gereja Blenduk yang berada di pertemuan 3 jalan. Batas kawasan yang berbentuk poligon tadinya adalah dinding benteng dengan pos-pos penjagaan di tiap-tiap sudutnya 4.1.2. Building Form & Massing 1. Penggunaan detail klasik Roma Penggunaan detail klasik Roma pada bangunan yang terlihat dari jarak yang besar. Aturan klasikal dan ornamen, dengan detail proporsi terbaik mereka. Gbr .5 Contoh Massa Bangunan di Kota Lama,dimana bentuk dari masa bangunannya terlihat sangat megah yang mencerminkan arsitektural kolonial dan masih berdiri hingga sekarang meskipun ada beberapa bangunan yang tidak terawat 2. Landmark Ciri lain yang seharusnya terdapat pada kota-kota kolonial yang mengadaptasi gaya kota renaissance adalah penggunanaan tugu/bangunan yang tinggi sebagai poin kunci kota. Di Kota Lama praktek dari teori ini dapat dilihat pada menara-menara gereja Blenduk yang pada awalnya dirancang lebih tinggi daripada bangunan-bangunan di sekitarnya. Gbr.7 Gereja Blenduk yang dahulu merupakan pusat orientasi masyarakat kota semarang dikawasan kota lama & Situasi Gang di Kota Lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan ciri kota lama 3. Adanya Pengorganisiran konstruksi dan bangunan Hal ini kurang lebih sama dengan teori pengaturan building mass & form di masa sekarang. Dapat dilihat bahwa di kota lama tinggi bangunan pada masing-masing kavling biasanya memiliki ketinggian dan ciri yang sama, sehingga ada kesan tertib yang dihasilkan dari pengaturan tersebut. Gbr. 8 Pengorganisasian massa Bangunan & Situasi Gang-gang Kota Lama 4.1.3 Tata Guna Lahan 1. Adanya Zona Untuk Setiap Kegiatan Pada teori kolonial, teori ini dalam sisi sosial dipersempit maknanya menjadi adanya pembagian zona untuk kraton, ruko dan benteng. Di mana kraton melambangkan zona pribumi, ruko melambangkan zona pendatang dari Cina, dan benteng yang melambangkan zona Belanda/pendatang dari Eropa. Untuk penerapannya pada Kota Lama, dulu hal ini benar-benar diterapkan 100%, tapi mengingat perkembangan zaman, untuk zona pecinannya, sekarang letaknya menjadi agak terpisah walaupun dulunya juga terletak pada bagian yang masih termasuk dalam satu kawasan ini. 2. Adanya kota satelit untuk pekerja

    Morfologi Kawasan Simpang Lima Di Semarang

    No full text
    9hlm,gbr,28c

    Pendekatan Perkembangan Kota Pada Perancangan Semarang City Hall

    No full text
    Keberadaan City hall pada sebuah kota tidak hanya dapat meningkatkan nilai dari lingkungan kota itu sendiri, namun juga dapat bermanfaat secara aktif bagi masyarakat kota sebagai sebuah pusat kegiatan dan hiburan kota, sebuah civic center yang bertalian dekat dengan pemerintah kotanya. Pada kota yang besar seperti Kota Semarang, suatu ruang bersama yang dapat mengakomodasikan kegiatan-kegiatan pelayanan masyarakat kota sangat perlu keberadaannya. Untuk memperkirakan kebutuhan yang berkaitan dengan penentuan program perencanaan sebuah City Hall, tidak hanya dengan selalu meletakkan kebutuhan-kebutuhan yang telah lama ada, seperti kepolisian, pengawasan bangunan tetapi juga dengan kebutuhan-kebutuhan pelayanan kota yang mungkin dinutuhkan pada masa yang akan datang. Karena fungsi utamanya untuk melayani setiap masyarakat secara menyeluruh dan tepat, jika memungkinkan, harus diletakkan berdekatan dengan fasilitas umum transportasi dan fasilitas umum perdagangan. Pada kota-kota yang besar sarana transportasi memegang peranan yang dominan di lingkungan perdagangan. Jalan-jalan besar direncanakan untuk membawa pengguna masuk dan keluar pusat kota. Pada banyak kasus city hall diletakkan berdekatan dengan sarana transportasi umum, dan jika memungkinkan berdekatan dengan jalan utama. City hall seharusnya berdekatan dengan pusat perdagangan. Kata kunci : communal, aksesibilitas, interaksi sosial LATAR BELAKANG Pada kota yang besar seperti Kota Semarang, suatu ruang bersama yang dapat mengakomodasikan kegiatan-kegiatan pelayanan masyarakat kota sangat perlu keberadaannya. Kegiatan-kegiatan pelayanan, interaksi sosial dan kegiatan-kegiatan umum lainnya memerlukan pengakomodasian pada suatu lingkungan tersendiri dan dengan desain tersendiri pula. Keberadaan City hall pada sebuah kota tidak hanya dapat meningkatkan nilai dari lingkungan kota itu sendiri, namun juga dapat bermanfaat secara aktif bagi masyarakat kota sebagai sebuah pusat kegiatan dan hiburan kota, sebuah civic center yang bertalian dekat dengan pemerintah kotanya. TUJUAN Tujuannya adalah untuk mengakomodasikan kegiatan-kegiatan pelayanan umum berskala kota pada suatu lingkungan tertentu yang juga merupakan lingkungan komunitas kota Semarang. Sasarannya ditekankan pada pengantisipasian dari tuntutan jaman yang menciptakan iklim kehidupan bermasyarakat dan kebutuhannya akan suatu lingkungan bersama menciptakan sebuah city hall. METODA PEMBAHASAN Metoda pembahasan menggunakan metoda analisis deskriptif komparasi, penganalisisan data dan menyimpulkan dari hasil analisis yang didapat TINJAUAN KOTA SEMARANG Kedudukan Kota Semarang dalam Hirarki Kota dan Wilayah Pembangunan. Pembagian wilayah Pembangunan Kota Semarang ditetapkan sebagai pusat Wilayah Pembangunan I, yang meliputi; Kotamadya Dati II Semarang, Kotamadya Dati II Salatiga, Kabupaten Dati II Kendal, Kabupaten Dati II Semarang, Kabupaten Dati II Demak, dan Kabupaten Dati II Grobogan. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Sedangkan jumlah penduduk menurut hasil sensus tahun 1998 Kodya Semarang adalah; laki-laki sebanyak 687.468 jiwa, perempuan 713.433 jiwa dengan jumlah total penduduk Kodya Semarang pada tahun 1998 adalah 1.400.911 jiwa. Mobilitas Penduduk Mobilitas penduduk terjadi karena kegiatan penduduk di berbagai sektor bidang sedangkan lokasi tempat tinggalnya berjauhan. Mobilitas penduduk bertambah tinggi dari dan ke pusat kota (sebagai pusat kegiatan perekonomian), menurut adanya penyediaan sarana dan prasarana transportasi. Terlepas dari beban internal, mobilitas penduduk Kota Semarang seperti diuraikan di depan, beban mobilitas eksternal juga cukup besar. Hal ini dapat dilihat bahwa sektor tenaga kerja tidak hanya melayani Kota Semarang saja tetapi juga dari Kabupaten Kendal, Demak, Grobogan, Semarang (Ungaran) sebagai wilayah Hinterland, sehingga mengakibatkan perbedaan jumlah penduduk antara siang (tempat kerja) dan malam hari (tempat tinggal) cukup besar (± 15 %). Dengan kondisi sistem communal yang merupakan perilaku commuter tersebut menuntut adanya penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Kecendrungan dan Arah Pertumbuhan Fisik Kota Hasil pengamatan fisik Kota Semarang memberikan gambaran bahwa pertumbuhan tersebut cenderung menuju ke arah : Selatan, yaitu Kecamatan Banyumanik yang mempunyai potensi pemukiman. Barat Daya, yaitu Kecamatan Mijen dan Gunungpati yang mempunyai potensi agraris dan permukiman, dengan ketersediaan lahan dalam jumlah yang relatif besar. Barat, yaitu Kecamatan Ngaliyan dan Tugu yang mempunyai potensi ekonomi di sektor industri. Timur, yaitu Kecamatan Genuk yang mempunyai potensi industri. Tenggara, yaitu Kecamatan Pedurungan yang mempunyai potensi permukiman. TINJAUAN CITY HALL Berdasarkan buku; De Chiara, Joseph and John Hancock Callender. Time-Saver Standards for Building Types. Hal. 491. Beberapa Langkah yang harus dicapai dalam merencanakan sebuah city hall adalah : (1) menentukan kebutuhan, (2) menentukan permintaan ruang, (3) menaksir luasan site, (4) membuat rencana desain, membangun imajinasi arsitektural, dan (5) membuat perincian biaya. Juga penting untuk diperhatikan bahwa city hall setidaknya harus dapat bertahan selama 60 tahun. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam merencanakan sebuah city hall : 1. Pilih lokasi yang tepat dan jika memungkinkan pemilihan lokasi harus berdasarkan nilai dari lahan itu sendiri. 2. Mengumpulkan data-data mengenai apa saja yang akan dimasukkan dalam city hall tersebut, jumlah pegawai, tipe dari perabot dan peralatan, dan tuntutan-tuntutan khusus seperti ruang besi atau ruang penyimpanan. 3. Sediakan ruang parkir yang cukup luas baik itu bagi pegawai maupun bagi masyarakat umum. 4. Letakkan semua atau sebagaian besar departemen kota dalam city hall. 5. Sediakan layout ruang yang fleksibel. 6. Rencanakan city hall yang menyeluruh dengan memperhatikan arus kerja, tempat untuk publik dan juga tempat untuk pegawai. 7. Buat kenyamanan dan keefisienan bagi pegawai, dan juga memudahkan untuk mengawasi utilitas bangunan. 8. Menyediakan tempat-tempat duduk dan ruang-ruang istirahat bagi pegawai. 9. Gunakan material, konstruksi dan perabot yang mudah dalam perawatannya. 10. Menyediakan ruang yang terbuka dan tidak terhalang untuk transaksi dengan masyarakat. Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam merancang sebuah city hall : 1. Jangan meletakkan pada area yang kurang dalam nilai lahannya. 2. Jangan mencoba untuk merombak bangunan lama seperti kantor pos, sekolahan, convention hall, atau bangunan apapun yang memiliki desain yang spesifik. 3. Jangan lupa city hall juga merupakan bangunan perkantoran, bukan sekedar monumen atau ornamen. 4. Jangan menganggap ringan kebutuhan ruang, rata-rata bangunan perkantoran komersial bertahan hingga 67 tahun. 5. Jangan ikat nilai lebih ruang dnegan ruang-ruang yang tidak bermanfaat. 6. Jangan peruntukan city hall bagi ruang-ruang yang bukan diperuntukan bagi umum. 7. Jangan bangun city hall melebihi dari dua lantai jika itu memungkinkan. 8. Jangan biarkan city hall dapat dimanfaatkan untuk melakukan transaksi/tndakan kriminal. 9. Jangan letakkan fasilitas apapun dalam lobby utama, seperti kios rokok, minuman ringan dan lain-lain. Menentukan Kebutuhan Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan. Menentukan kebutuhan secara luas itu dipengaruhi oleh dua lingkungan : (1) keadaan dari bangunan, dan (2) kebutuhan akan ruang. Untuk memperkirakan kebutuhan yang akan datang tidak hanya dengan selalu meletakkan kebutuhan-kebutuhan yang telah lama ada, seperti kepolisian, pengawasan bangunan tetapi juga dengan kebutuhan-kebutuhan pelayanan kota yang mungkin dibutuhkan pada masa yang akan datang. Bagaimanapun, visi untuk itu harus beralasan dan harus berdasarkan akan proyeksi sebuah kebutuhan pada masa yang akan datang. Pengetahuan akan kemasyarakatan dan interaksi sosialnyua merupakan hal yang pokok dalam merencanakan ruang. Perkantoran kota harus memperhatikan proyeksi untuk 20 hingga 25 tahun ke depan, tingkat ekonomi masyarakat, problem sosial dan karakteristik ekonomi. Memilih Lokasi City Hall Dalam memilih lokasi untuk city hall, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan city hall tersebut diletakkan pada suatu site tertentu atau juga diletakkan pada sebuah kompleks civic center. Civic center memiliki peran yang besar dalam perencanaan kota karena menawarkan keuntungan tertentu dan pada saat yang sama menghadirkan ruang gerak dalam mendesain. Bangunan yang termasuk dalam bagian cuvic center dalam pengelompokkan perkantoran administrasi dan bangunan pelayanan hingga sebuah komplek dari bangunan perkantoran, auditorium, perpustakaan dan lain-lain. Keuntungan yang besar dari civic center adalah bahwa pengelompokan dari bangunan umum dapat terbukti sangat tepat untuk masyarakat umum dalam melakukan transaksi bisnis yang membutuhkan pengunjung lebih dari sebuah agen umum. Ini juga mungkin membutuhkan satu atau lebih unit dari pemerintah untuk dapat menggunakan fasilitas satu dengan lainnya. Akhirnya, seiring keuntungan yang muncul dari fasilitas-fasilitas tertentu yang digabungkan untuk mempercepat transaksi antar jawatan pemerintahan. Pemilihan site untuk sebuah civic center harus memperhatikan beberapa faktor berikut untuk menentukan letak dari city hall. Pada pemanbahan, beberapa titik tertentu penting. Site dari civic center haruslah fleksibel terhadap pengaturan masa bangunan. Sejak kebutuhan akan tanah mulai membumbung, bentuk dari jalan mulai berubah, dan pemanbahan lahan mulai terasa dibutuhkan untuk lahan parkir. Ketika site telah terpilih, berarti harus menyelamatkannya beberapa bagiannya untuk pembangunan yang bertahap dari semua unit. Government buildings – the city hall, fire station, and police station – which were long the nucleus of most civic centers, tend themselves to be dispersed today. The reason is obvious. Fire and office buildings, for example, are best located at a central point in the street network, and with the building expressways, this point rarely intersect with the best location for the mayor’s office or the council chamber. Service agencies (such as the water and park departments) increasingly favour headquarters location adjacent to their operating facilities. In Philadelphia, where two new government office-type buildings will be erected, the city also plans to remodel and expand the old city hall in Penn Centre to house the mayor and the council – thus retaining a symbolic center of government in the heart of the city. Bangunan kota-wilayah memiliki dua tantangan besar. Pertama, fasilitas pemerintahan lokal bersama, hal ini baik sekali untuk masyarakat, kota dan wilayah karena dapat melakukan hubungan dnegan baik. Kedua, penghematan biaya. Tergantung permasalahannya, satu bangunan dapat lebih murah dari pada dua bangunan terpisah jika tetap memperhatikan biaya dari harga tanah, perawatan, operasional dan lain-lain. Penggabungan dapat menghemat biaya. Penggabungan bangunan kota-wilayah harus direncanakan dnegan baik sehingga kedua pemerintahan dapat mengembangkannya. Kota dan wilayah memiliki perbedaan begitu juga memiliki kemiripan kebutuhan, ketika perbedaan itu sangat mencolok, bangunan kota-wilayah dapat menimbulkan masalah. Lokasi, pemilihan lokasi bagi city hall harus memperhatikan beberapa hal. Di bawah ini terdapat 6 prinsip dasar untuk menentukan lokasi sebuah city hall : 1. Pemerintah harus melayani dan mudah diakses masyarakat. Efisien dalam pelayanan berkaitan dengan ketepatan menempatkan fasilitas pemerintah kepada siapa yang paling banyak menggunakan fasilitas tersebut. 2. Sejak Pelayanan masyarakat harus melayani setiap masyarakat secara menyeluruh dan tepat, jika memungkinkan, harus diletakkan berdekatan dengan fasilitas umum transportasi dan fasilitas umum perdagangan. Pada kota-kota yang besar sarana transportasi memegang peranan yang dominan di lingkungan perdagangan. Jalan-jalan besar direncanakan untuk membawa pengguna masuk dan keluar pusat kota. Pada banyak kasus city hall diletakkan berdekatan dengan sarana transportasi umum, dan jika memungkinkan berdekatan dengan jalan utama. City hall seharusnya berdekatan dengan pusat perdagangan karena tempat ini pengguna fasilitas banyakterdapat. Sebagai contoh, kota harus memisahkan grup-grup apa yang sering mengunjungi city hall dan meletakkan fasilitas tersebut sedekat mungkin dengan penggunanya. 3. Kantor-kantor pemerintahan harus tidak terisolasi dengan perkantoran yang lain, untuk pelayanan masyarakat secara efisien dan efektif. Lokasi dari city hall yang berdekatan dengan pusat aktivitas perdagangan memperlancar kerja dari perwakilan-perwakilan yang ditempatkan di city hall. 4. Pengguna pada saat maksimum membutuhkan tempat parkir umum dan akan menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas kota. Kenyataannya, permasalahan ini juga berkembang dengan adanya transit, yang dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat yang melakukan perjalanan, baik itu dengan menggunakan kendaraan pribadi, taksi atau kendaraan angkutan umum. Bagi kota yang tidak memiliki tempat transit, maka desain yang meletakkan city hall pada pusat arena kota akan mengurangi permintaan akan permintaan kebutuhan lahan parkir. 5. Lingkungan pusat perdagangan merupakan sebuah civic center yang nyata dalam abad ke-20. Banyak yang mengatakan mengenai kemunduran akan sebuah pusat lingkungan perdagangan. Hal ini didapat dari kenyataan bahwa pusat kota mulai mati; segala sesuatunya mulai bergerak menjauhi pusat kota. Jadi mengapa tidak dengan city hall. Pada dasarnya ada hal menarik untuk dipahami bahwa yang bergerak ke luar pusat kota sebagian besar merupakan pertokoan dan bangunan perkantoran. Kedua, pada sebuah kota yang besar, konsentrasi yang tinggi dari penduduknya membuat banyaknya macam dari perdagangan, termasuk retail, untuk dapat beroperasi lebih efisien. Sebuah kota tidak akan membiarkan pusat dari lingkungan perdagangannya mati, karena ini akan berakibat buruk pada investasi. Perletakan yang sesuai dari city hall pada pusat sebuah lingkungan perdagangan adalah dengan dapat memberikan kontribusi yang baik untuk menghidupkan lingkungan ini. 6. Lebih dari sekedar harga lahannya harus juga memperhatikan nilai ekonomi dari sitenya. Site tersebut harus memungkinkan untuk dilakukan perluasannya. Biaya pengembangan site harus diperhatikan. Ini juga termasuk biaya penghancuran bangunan yang telah ada. Selain sebagai sarana pelayanan umum bagi masyarakat kota yang mendambakan kemudahan dan kenyamanan, city hall juga harus merupakan public space, rekreasi umum bagi masyarakat kota dan pemerintahannya. Yang terpenting dalam mendesain debuah city hall adalah dengan penekanan pada sebuah desain yang memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup baik sehingga dapat mengakomodasikan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi, dan sebuah city hall pun dapat terus berfungsi dengan baik. ANALISIS PEMILIHAN SITE Sesuai dengan tuntutan dari sebuah site city hall, maka site itu harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti; terletak pada pusat kota, berdekatan dnegan lingkungan pemerintahan, perdagangan dan transportasi, terletak pada civic center atau tempat yang nantinya dapat menjadi sebuah civic cebter, memiliki nilai lahan, memiliki nilai historis, dapat merupakan sebagai nilai ‘kebanggaan kota’. Dari beberapa kriteria tersebut, maka adalah tepat jika kawasan Tugu Muda menjadi site terpilih. Tugu Muda, suatu kawasan yang bermula dari keinginan/ide untuk mendirikan sebuah monumen memperingati peristiwa pertempuran Lima Hari Semarang. Pola Tata Ruang dan Kaitannya dengan Kawasan Sekitar Tugu Muda Lokasi disekitar kawasan perencanaan tersebut berdekatan dengan kawasan Tugu Muda, yaitu kawasan yang mempunyai obyek konservasi bersejarah yang bersifat monumental bagi Kota Semarang. Sehingga keberadaan kawasan perencanaan seoenuhnya tidak lepas dari pengaruh orientasi terhadap keberadaan Tugu Muda itu yang secara perlahan membawa dampak pada tata ruang sekitar kawasan. Mengingat kawasan Tugu Muda adalah kawasan konservasi yang berfungsi sebagai landmark kota, maka pola tata ruang pada kawasan itu dan sekitarnya mengacu pada keberadaan landmark tersebut dalam membentuk citra kota. Bangunan-bangunan yang melingkupi Kawasan Tugu Muda : Gedung Lawang Sewu Integritas langgam berupa gaya Romanesque Revival dengan memperhatikan iklim setempat. Integritas kekriyaan terutama terlihat pada detail corbel maupun detail eksterior-interior lainnya. Integritas settig yang berorientasi pada Wilhelmina Plein di depannya, dan halaman depan yang tidak terlalu luas. Integritas tipe bangunan kantor yang dilengkapi dengan banyak ruang dan dihubungkan dnegan selasar. Integritas kesinambungan kawasan, yang banyak diisi dengan bangunan bersejarah, dengan Lawang Sewu sebagai masterpiece-nya. Lawang Sewu ini merupakan puncak dari bangunan bersejarah yang mengumpul dikawasan ini. Keberadaannya sangat meningkatkan citra Kawasan Tugu Muda sebagai kawasan yang bersejarah dengan nilai arsitektur yang sangat tinggi. Rumah Dinas Gubernur Jateng Integritas langgam dengan Arsitektur klasik. Integritas kekriyaan pada berbagai ornamen pada eksterior maupun interior. Integritas setting masih terlihat garis besarnya. Intregitas tipe bangunan sebagai istana masih nampak. Bangunan ini merupakan satu-satunya istana residen di Semarang, serta memiliki banyak ornamen. Dan menyimpan banyak informasi mengenai kondisi pemerintahan sejak jaman Belanda. Museum Mandala Bhakti Integritas langgam berupa perpaduan arsitektur Indische dengan iklim tropis. Integritas bahan dengan menggunakan rooster pada bagian sayap bangunan. Integritas setting diwujudkan dalam sumbu terhadap Jl. Pemuda didepanya serta orientasi Tugu Muda secara frontal. Gereja Kathedral Integritas kekriyaan diwujudkan dalam detail ornamen terutama pada ruang dalam. Integritas bahan dengan pemakaian batu tempel sebagai elemen dinding. Integritas setting didukung oleh keberadaan ruang luar yang cukup luas dan sebuah SMP pada tapak yang sama. Integritas tipe bangunan, sesuai dengan gereja yang lain yang dibangun sebelum Konsili Vatikan II, maka ditempat duduknya ditata memanjang ke belaKANG. Bangunan ini merupakan satu-satunya Gereja Keuskupan Agung di Semarang. ANALISIS SEMARANG CITY HALL Ditinjau dari Keberadaan Kota Semarang Berbalik lagi pada sejarah Kota Semarang, Balai Kota Semarang yang merupakan bangunan balai kota hasil ciptaan penjajah kolonial Belanda, telah mampu mengakomodasikan beberapa kegiatan, seperti; kantor polisi, kantor pemerintahan, kantor pos dan keuangan, dan juga ruang pengadilan untuk rakyat Eropa. Kantor polisi mungkin selalu dibuthkan hingga saat sekarang, begitu pula dengan kantor pemerintahan, pos dan kantor keuangan, yang pada jaman sekarang ini mungkin lebih tepat dengan kantor perpajakan atau kantor pendapatan daerah. Sedangkan pengadilan bagi rakyat Eropa tentu sudah tidak dibutuhkan lagi. Ditinjau dari Kriteria City Hall City Hall harus memiliki beberapa dari departemen kota yang memiliki kepentingan dalam pelayanan masyarakat kota secara langsung. Ruang-ruang tersebut antara lain; ruang catatan sipil, ruang sospol, dan ruang-ruang lain yang memiliki hubungan langsung dengan masyarakat umum. Perletakan city hall pada lingkungan Tugu Muda merupakan pilihan yang terbaik, kedekatannya dengan pusat pemerintahan, perdagangan dan transportasi merupakan syarat dari sebuah city hall. Tugu Muda merupakan suatu kawasan terbuka dengan akses menuju banyak sisi di Kota Semarang. Ditinjau dari Keberadaan Site City hall telah menempati site yang tepat, site yang telah sejak lama menjadi sebuah civic center kota dan memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Site terpilih ini telah lama akrab dengan masyarakat kota Semarang pada umumnya. Kawasan Tugu Muda ini juga dilingkupi oleh bangunan-bangunan yang memiliki peranan penting bagi Kota Semarang, dan juga merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Kota Semarang. Kesimpulan Terdapat beberapa jenis kegiatan yang dapat atau sesuai diakomodasikan ke dalam suatu city hall, namun patut diingat, bahwa yang terpenting adalah fleksibilitas dari ruang yang akan tercipta, karena city hall ini berkembang mengikuti perkembangan yang terjadi pada masyarakat. Analisis Semarang City Hall terhadap lingkungannya. Titik tolak pendekatan pada studi perencanaan dan perancangan Semarang City Hall adalah sebagi berikut : Pendekatan Aspek Fungsional Kegiatan yang diwadahi dalam Semarang City Hall ini meliputi : 1. Kegiatan Pengunjung Kegiatan pelayanan masyarakat meliputi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat secar umum dan cepat Rekreasi meliputi; bermain, berjalan-jalan menikmati pemandangan, duduk-duduk menikmati lingkungan, menonton pertunjukan/pameran, dll. Berbelanja; membeli benda-benda yang diperlukan atau yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan. Melakukan kegiatan berkaitan denga perkantoran yang ada. 2. Kegiatan pengelolaan Pengelola diperlukan demi kelancaran operasional, meliputi kegiatan; administrasi, kegiatan pelayanan, untuk setiap jenis kegiatan dilakukan terpisah, sedangkan sentral pengelolaan berada di kegiatan pengelolaan pusat. 3. Kegiatan Penunjang Sebagai kelengkapan dan penunjang juga terdapat kegiatan servis/pelayanan seperti untuk ruang mekanikal elektrikal, genset, gudang, KM/WC, dll. Pelaku yang terlibat dalam kegiatan pada obyek perancangan : 1. Pengunjung. 2. Pengelola Diagram Hubungan Antar Ruang Diagram Sirkulasi Pengunjung PENDEKATAN ASPEK KINERJA Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan ruang
    corecore