305 research outputs found
Morpho-Physiological Response Of Grass Feed Drought Stress On The Inoculated AMF(Arbuscula mycorrhiza fungi).
Rumput merupakan makanan utama ternak ruminansia yang diperlukan untuk keperluan produksi, reproduksi maupun kelangsungan hidup. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas pakan ternak merupakan aspek penting dalam rangka menjaga kesetabilan produktivitas ternak. Ketersediaan pakan ternak pada musim kemarau sering menjadi kendala yang dihadapi oleh petani peternak terutama pada musim kemarau karena keterbatasan jumlah yang tersedia. Pada lahan kering baik yang bersifat masam atau non masam pada musim kemarau akan mengalami penurunan suplai air yang dapat menyebabkan penurunan produksi hijauan pakan yang sangat nyata. Ketersediaan air di tanah merupakan faktor pembatas dan sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Kebutuhan air tanaman berbeda-beda tergantung pada jenis tanamannya. Apabila jumlah air yang tersedia di tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman, maka tanaman akan mengalami gangguan morfologi dan fisiologis sehingga pertumbuhan dan produktifitasnya akan terhambat, hal ini menyebabkan tanaman mengalami cekaman kekeringan. Pemberian FMA (Fungi mioriza arbuskula) diduga dapat mempengaruhi mekanisme ini karena tanaman yang yang terinfeksi FMA memiliki hifa yang dapat mengabsorbsi air lebih efisien. Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan penelitian respon morfo-fisiologi rumput pakan terhadap cekaman kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula) untuk mempelajari pengaruh FMA pada respon Morfo-fisiologi tanaman dalam memperoleh kondisi suboptimal akhibat kekurangan air.The research was aimed to evaluate the morpho-physicology response of grass innoculated with AMF (Arbuscula mychorrhiza fungi). This experiment used factorial completely randomized design. First factor is combination of drought and aplication AMF consisting of W0M0 (watering and without AMF), W0M1 (watering and with AMF), W1M0 (drought and without AMF), W1M1 (drought and with AMF) and the second factor are 10 species of grasses consisting of Chloris gayana, Setaria Splendida, Panicum maximum, Brachiaria humidicola, Digitariadecumben, Paspalum dilatatum, Stenotatum secundatum, Brachiaria decumbens, Melinis minutiflora, Paspalum notatum. Result of analysis of variance showed that. Result of analysis of variance showed there is interaction between drought treatments and application AMF with plant species at all parameters (P<0,01). Treatment application AMF given the best value for all parameters Aplication AMF of drought stress significantly (P<0,01) incresing yield production, decreasing water water potensial, water defisit and leaf relative water content. Determination the best plant tolerance based on sensitivity drought index. Result that paspalum dilatatum have the highest score
Pertumbuhan, Produksi dan Nutrien Beberapa Varietas Sorgum Hybrid Dengan Jarak Tanam Berbeda sebagai Sumber Pakan
Sorgum merupakan jenis tanaman sereal yang berpotensi sebagai makanan ternak. Produksi dan kualitas sorgum lokal masih sangat rendah dibanding produk impor, sehingga diperlukan upaya perbaikan varietas tanaman melalui program pemuliaan tanaman salah satunya introduksi. Introduksi sangat berpotensi terhadap peningkatan hijauan dan menambah keragaman varietas sorgum pakan.
Hijauan sangat diperlukan untuk produksi dan reproduksi ternaknya maupun kebutuhan hidup. Ketersediaan hijauan untuk pakan ternak semakin terbatas dikarenakan terbatasnya lahan untuk pengembangan hijauan. Tanaman sorgum mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan didaerah yang sering mengalami kekeringan atau daerah yang tergenang banjir serta mampu tumbuh pada lahan marjinal. Pembudidayaan tanaman sorgum diperlukan manajemen lahan yang tepat salah satunya pengatur jarak tanam dengan mengatur jarak tanam berkaitan dengan produksi.
Penelitian ini menggunakan tiga varietas sorgum hybrid, dua jarak tanam, empat kelompok berdasarkan kesuburan tanah dan empat ulangan. Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi pertumbuhan, produksi dan nutrien beberapa varietas sorgum hybrid dengan jarak tanam berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok pola faktorial 3x2 dengan 4 ulangan dimana factor pertama adalah varietas sorgum hybrid yaitu varietas 12FS5006, varietas 13FB7001 dan varietas 12S49001 dan faktor kedua jarak tanam yaitu 25 x 25 cm dan 25 x 40 cm.
Hasil penelitian menunjukan varietas sorgum berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, lebar, panjang, jumlah daun, produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi biomassa BK, kadar abu, kadar serat kasar dan protein kasar. Jarak tanam sorgum berpengaruh terhadap produksi biomassa segar, produksi daun segar, produksi batang segar, produksi biomassa BK, BK %, dan kadar serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini pertumbuhan dan produksi varietas 12S49001 lebih tinggi dibandingkan dengan varietas 12FS9006 dan varietas 13FB7001. Varietas 12S49001 memiliki kandungan abu, protein kasar dan serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lain. Jarak tanam 25 x 25 cm menghasilkan proporsi malai, produksi biomassa segar, produksi daun, produksi batang, produksi BK, kandungan BK%, kandungan serat kasar dibandingkan dengan jarak tanam 25 x 40 cm
Evaluasi Produksi Nh3 Dan H2s Feses Dengan Penambahan Palatability Enhancer (Pe) Dan Probiotik Dalam Ransum Sapi Pedaging
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi produksi emisi gas dari kegiatan
peternakan sapi potong, terutama amoniak (NH3) and hidrogen sulfida (H2S) dengan
menggunakan probiotik yang ditambakan ke dalam ransum. Penambahan PE
(palatability enhancer) di dalam ransum dapat mengingkatkan kualitas pakan dan
meningkatkan palatabilatas pakan serta produktivitas ternak. Penelitian ini
menggunakan rancangan percobaan rancangan acak kelompok (RAK) dalam 3
kelompok dengan setiap perlakuan terdapat 4 ekor sapi. Perlakuan terdiri atas P0
(kontrol), P1 (kontrol + PE 3% dari bobot konsentrat), P2 (kontrol + PE 3% dari
bobot konsentrat + Probiotik (Sacharomyces cerevisae dengan dosis 5 x 1010 cfu kg-1
ransum dan MR4 dengan dosis 5 x 107 cfu kg-1 ransum). Data dianalisis
menggunakan analisis ragam. Hasil menunjukan perlakuan P0, P1, dan P2 yang
diberikan ke dalam ransum tidak signifikan (P> 0.05) dalam mengurangi produksi gas
NH3 dan H2S dalam feses; perolehan IOFC yang terendah hingga tertinggi adalah P0,
P1, dan P2
Analisis Potensi Tumbuhan Pakan Domestik pada Padang Penggembalaan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan berada di pesisir pantai hingga pegunungan, salah satu sentra peternakan ruminansia di Nusa Tenggara Timur yang pola penyediaan hijauannya bergantung pada hijauan domestik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi botani, potensi produksi bahan kering rumput dan kapasitas tampung serta potensi produksi nutrisi rumput pada padang penggembalaan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2013 di Kecamatan Mollo Utara, Noebeba dan Amanuban Selatan. Metode yang digunakan adalah survey lapang yaitu pengamatan pada padang penggembalaan. Pengambilan data primer terdiri dari 94 responden. Variabel komposisi botani, potensi produksi bahan kering rumput dan kapasitas tampung pada kondisi riil dianalisis secara deskriptif sedangkan data potensi produksi bahan kering rumput dan kapasitas tampung berdasarkan pengaturan pemotongan dianalisis menggunakan Rancangan Acak Kelompok berpola faktorial 3 x 2 dengan 5 kali ulangan dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis rumput mendominasi padang penggembalaan di Kecamatan Mollo Utara, sedangkan jenis leguminosa mendominasi padang penggembalaan Kecamatan Noebeba dan Amanuban Selatan. Potensi produksi bahan kering rumput pada kondisi riil di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak 150 sampai 390 kg ha-1 thn-1 dapat menampung 0.24 sampai 0.63 ST ha-1 thn-1. Pengaturan pemotongan pada musim hujan maupun musim kemarau dengan interval pemotongan 1 bulan di Kecamatan Mollo Utara dan 2 bulan di Kecamatan Noebeba, Amanuban Selatan dapat meningkatkan (P<0.05) potensi produksi bahan kering rumput dan kapasitas tampung. Potensi produksi nutrisi rumput (bahan organik, protein kasar, dan lemak kasar) yang tertinggi adalah di Kecamatan Mollo Utara, sedangkan potensi produksi bahan kering rumput tertinggi di Kecamatan Noebeba dan Amanuban Selatan. Disimpulkan bahwa jenis rumput mendominasi padang penggembalaan di Kecamatan Mollo Utara, sedangkan leguminosa mendominasi padang penggembalaan di Kecamatan Noebeba dan Amanuban Selatan. Berdasarkan kondisi riil, potensi produksi bahan kering rumput dan kapasitas tampung rendah. Kondisi pengaturan pemotongan dengan interval 1 bulan di Kecamatan Mollo Utara dan dengan interval pemotongan 2 bulan di Kecamatan Noebeba dan Amanuban Selatan potensi produksi bahan kering rumput, kapasitas tampung dan produksi nutrisi serta kualitas meningkat
Evaluasi Produktivitas dan Kualitas Tanaman Ara Sungsang (Asystasia gangetica (L.) T. Anderson) dengan Pemberian Level Sitokinin yang Berbeda
Asystasia gangetica (L.) T. Anderson adalah tanaman herba tegak atau
serong ke atas yang biasa tumbuh didaerah dengan ketinggian 500 meter di atas
permukaan laut. Sitokinin merupakan salah satu Zat Pengatur Tumbuh yang
memiliki fungsi utama berperan dalam proses pembelahan sel. Tujuan Penelitian
ini untuk mengevaluasi pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman A.
gangeticayang diberi perlakuan level sitokinin berbeda. Rancangan percobaan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Level pemberian sitokinin pada
penelitian ini yaitu 0 ppm (P0), 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), 150 ppm (P3), dan
200 ppm (P4). Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini yaitu persiapan media
penyemaian, pengambilan bahan stek, perendaman dalam ZPT, penyemaian bahan
tanam stek, persiapan media tanam, penanaman A. gangetica di polybag,
pengambilan data, dan pemanenan. Penambahan hormon sitokinin tidak
berpengaruh nyata terhadap daya hidup stek tanaman A. gangetica. Hasil
penelitian ini dapat diketahui bahwa pemberian beberapa level sitokinin pada
tanaman A. gangetica tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi, jumlah daun,
jumlah bakal bunga, bunga, dan biji. Bakal bunga pada tanaman ini muncul ketika
tanaman berumur 21 HST. Tanaman pada penelitian ini berbunga ketika berumur
35-40 HST. Polong biji muncul ketika tanaman berumur 42 HST. Kandungan
protein kasar pada bagian daun lebih tinggi dibandingkan dengan bagian batang.
Kandungan protein kasar bagian daun mencapai 24%, sedangkan bagian batang
mencapai 11%
Pemanfaatan Isoflavon dari Pucuk Daun Indigofera zollingeriana sebagai Sumber Fitoesterogen Terhadap Produksi dan Reproduksi Puyuh Petelur
Daun Indigofera zollingeriana memiliki kandungan protein sebesar
28.98%. Kandungan proteinnya yang tinggi dalam Indigofera zollingeriana dapat
memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan protein puyuh. Selain
merupakan hijauan sumber protein, Indigofera zollingeriana juga mengandung
senyawa isoflavon. Isoflavon dalam pucuk daun Indigofera zollingeriana sebesar
43.93 mg100g-1. Dengan adanya kandungan isoflavon dalam tepung pucuk daun
Indigofera zollingeriana, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penggunaan tepung pucuk daun Indigofera zollingeriana dalam ransum
terhadap produksi dan reproduksi pada puyuh petelur.
Penelitian ini menggunakan 160 ekor puyuh petelur (Cortunix-cortunix
japonica) betina berumur 4 minggu dan puyuh jantan (Cortunix-cortunix
japonica) sebanyak 32 ekor. Percobaan dilakukan dengan menggunakan
rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan empat ulangan (10 ekor
puyuh setiap ulangan). Perlakuan yang diberikan sebagai berikut R0 : pakan
kontrol, R1 : pakan yang mengandung tepung pucuk daun Indigofera
zollingeriana 6%, R2 : pakan yang mengandung tepung pucuk daun Indigofera
zollingeriana 12%, R3: pakan yang mengandung tepung pucuk daun Indigofera
zollingeriana 18%. Peubah yang diamati adalah performa (konsumsi ransum,
produksi telur, produksi massa telur, konversi pakan), kualitas fisik telur (bobot
telur, indeks telur, haugh unit, persentase kerabang, kuning telur, putih telur),
reproduksi puyuh (umur dewasa kelamin, fertilitas, daya tetas, bobot folikel,
jumlah folikel).
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan tepung pucuk daun Indigofera
zollingeriana hingga 6% menghasilkan produksi massa telur yang sama dengan
kontrol. Perlakuan tidak nyata terhadap koversi pakan, umur dewasa kelamin,
fertilitas, daya tetas, bobot folikel, jumlah folikel dan daya hidup puyuh selama 7
hari. Pada penggunaan 12% dan 18% Indigofera zollingeriana menurunkan
produksi massa telur. Penggunaan tepung pucuk daun Indigofera zollingeriana
pada level 18% nyata (P<0.05) meningkatkan skor warna yolk. Kesimpulan
penelitian ini adalah pemberiaan tepung pucuk daun Indigofera zollingeriana
dapat digunakan sebesar 6% dalam pakan puyuh petelur umur 6-14 minggu, tanpa
menurunkan performa produksi dan reproduksi
Analisis Fase Generatif Tumbuhanan Ara Sungsang (Asystasia gangetica (L.) T. Anderson).
Asystasia gangetica (L.) T. Anderson merupakan spesies tanaman yang
tumbuh pada lahan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Hijauan ini
memiliki palatabilitas dan kandungan nutrien yang tinggi, sehingga berpotensi
untuk digunakan sebagai tumbuhan pakan ternak. Tujuan penelitian ini adalah
menganalisis fase generatif tumbuhan A. gangetica. Prosedur penelitian yang
dilakukan meliputi pengukuran morfologi polong dan bunga, persiapan benih,
pengukuran performa benih, perendaman benih, perkecambahan benih dan
pertumbuhan bibit. Pengamatan morfologi benih menunjukkan rata-rata panjang
polong 23.8±0.7 mm, lebar 4.0±0.1 mm, lebar 3.6±0.3 mm. Jumlah benih sekitar
8 benih/polong. Terdapat 6-9 polong dalam satu tangkai, dengan panjang total
12.3±2.3 cm. Tanaman ini memiliki 1 putik, 4 benang sari, 5 mahkota bunga dan
1 kelopak bunga. Benih muda berwarna putih dan benih tua berwarna hitam.
Benih hitam memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan benih putih
(P<0.05). Daya kecambah benih hitam (71.06%) lebih besar dibandingkan
dengan benih putih (3.33%). Produksi benih setiap individu tanaman 4.7±1.3
gram. Benih hitam mengandung protein kasar (19.15%) lebih tinggi
dibandingkan benih putih (17.52%). Produksi rata-rata tanaman ini pada 30 hari
setelah tanam 12.1±4.2 dengan kandungan PK 16.50%
Subsitusi Konsentrat Komersil dengan Tepung Indigofera (Indigofera sp.) untuk Konsumsi Pakan, Kecernaan dan Produksi Susu Sapi Friesian Holstein (FH)
South Bandung district is one of the largest milk-producing areas in West Java. Sub-district Pasirjambu is a part of Bandung Selatan regency that have big potential in dairy cattle breeding. The problem in this area is low production of milk produced by farmers and the high price of the commercial feed concentrates, so it influences market value for milk and welfare farmers. Indigofera sp. mesh in this research was used as commercial concentrates substitution. This research using randomized design group (RAK method – ANOVA) on 3 group based on milk production. Nine Friesian Holstein (FH) cows with random treatment. The treatment P0 (100% concentrates : 0% Indigofera sp.), P1 (80% concentrates : 20% Indigofera sp.), and P2 (60% concentrates : 40% Indigofera sp.). The results showed that substitution of Indigofera sp. mesh can substitute concentrate to 40% as a commercial concentrate substitution does not affect milk feed intake, digestibility and milk production
Efisiensi Penggunaan Protein Ransum Komplit yang Mengandung Indigofera zollingeriana dan Limbah Tauge pada Penggemukkan Domba Lokal Jantan
The aim of this study was to investigate the protein utilization efficiency of completed ration that contained 30% of Indigofera or sprout bean waste. Two groups of local rams consisted of 8 heads of Garut rams and 8 heads of UP3-Jonggol rams were involved in this experiment. The rams were 9 months with live weight average at 14,93 ± 1,38 kg. Two different rations, R1 (30% indigofera + 70% concentrate) and R2 (30% limbah tauge + 70% concentrate) were used as treatments. Both of feeds and water were given ad libitum. The parameters measured were feed consumption, protein balance and body weight and the efficiency protein utilization. Factorial Completely Randomized Design was used as experimental design. First factor was ration and the second factor was ram’s breed. The data were analized with analysis of variance, and the means of each treatment were tested with the contrast orthogonal test. The result showed that R2 resulted in higher protein dry matter and protein consumption and protein retention (P<0,01) than those of R1, but there was no significant difference in protein digestibility, the efficiency protein utilisation and average daily gain. There were no interaction between both main factors. It was concluded that 30% of bean sprouts waste in rams ration could increased dry matter and protein intakes and protein retention compared to indigofera ration
Produktivitas dan Kandungan Nutrisi Beberapa Galur Mutan Sorgum Pada Umur Pemanenan yang Berbeda
Sorgum merupakan salah satu hijauan pakan ternak yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Sorgum telah banyak dikembangkan di negara- negara di Afrika, Asia dan Amerika. Melihat potensi sorgum yang cukup besar, beberapa peneliti mulai mengembangkan beberapa varietas sorgum guna meningkatkan produksi serta kualitas dari sorgum itu sendiri. Saat ini di Indonesia telah banyak galur sorgum yang sedang dikembangkan, beberapa diantaranya yaitu sorgum hasil dari pemuliaan yang dilakukan oleh Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dan SEAMEO BIOTROP yang disebut dengan sorgum Brown midrib (BMR). Penelitian ini bertujuan untuk mencari umur pemanenan yang tepat untuk menghasilkan biomassa dan kandungan nutrient yang optimal dari galur sorghum hasil mutasi yang disebut BMR yaitu PATIR 3.5 M7, PATIR 3.6 M7 dan PATIR 3.7 M7. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis sorgum dan faktor kedua adalah umur pemanenan. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah bibit sorgum dari varietas SAMURAI I (M17) sebagai pembanding, dan galur sorgum hasil mutasi yang disebut Brown Midrib (Bmr) yaitu PATIR 3.5 M7, PATIR 3.6 M7 dan Patir 3.7 M7. Peubah yang diamati yaitu produksi dari batang, daun, bulir, produksi biomassa total, kadar abu, lemak kasar, BETN, serat kasar, protein kasar, TDN, KCBK, KCBO, N-amonia, produksi protein kasar/plot dan produksi TDN/plot. Data dianalisis dengan ANOVA, jika terdapat perbedaan yang nyata dilakukan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang sangat nyata antar umur panen dan jenis sorghum terhadap produksi batang, daun, bulir, produksi biomassa total, nilai TDN, KCBK, KCBO dan konsentrasi N-amonia. Umur panen berpengaruh nyata terhadap persentase kandungan abu, protein kasar serta lemak kasar. Jenis sorghum berpengaruh nyata terhadap kandungan lemak kasar. Umur panen yang tepat untuk menghasilkan produksi biomassa dan kandungan nutrisi optimal pada setiap jenis sorghum Brown midrib bervariasi
- …
