1,721,024 research outputs found
Pembentukan Formaldehid Alami Ikan Beloso (Saurida tumbil) pada Penyimpanan Suhu Freezing
Formaldehid alami pada ikan umumnya terbentuk akibat dari penurunan
mutu kesegaran ikan. Tingkat kesegaran ikan tidak dapat ditingkatkan melainkan
dipertahankan. Penurunan mutu kesegaran ikan tersebut dapat dipertahankan
dengan melakukan proses penanganan yang tepat, salah satunya adalah
penanganan dengan suhu rendah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan proses
pembentukan formaldehid (FA) secara alami ikan beloso (Saurida tumbil) pada
penyimpanan suhu freezing. Perlakuan yang digunakan yaitu penyiangan dan
tanpa penyiangan. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu selama 6 bulan.
Parameter yang diamati adalah organoleptik, pH, total volatile base (TVB),
trimetilamin (TMA), formaldehid (FA) dan dimetilamin (DMA). Hasil yang
diperoleh menunjukkan formaldehid alami terbentuk pada minggu ke-2. Kadar
formaldehid yang terbentuk pada ikan beloso dengan penyiangan 12,96 ppm dan
tanpa penyiangan 17,77 ppm. Pembentukan formaldehid terjadi saat kondisi ikan
masih segar dengan kandungan TVB di bawah 20 mg N/100 g. Kadar DMA
ketika formaldehid terbentuk sebesar 7,99 ppm untuk ikan beloso dengan
penyiangan dan 5,50 ppm untuk tanpa penyiangan. Pembentukan formaldehid
juga disertai dengan meningkatnya indikator pembusukan yang lain
Karakterisasi Gen hdc Pengkode Histidin Dekarboksilase Isolat Bakteri Ikan Tongkol dan Tenggiri dengan Metode Berbasis PCR
Ikan tongkol (Euthynnus sp.) dan tenggiri (Scomberomorus commersonii) merupakan jenis ikan yang berasal dari famili Scombridae sehingga berpotensi menimbulkan Scombrotoxin. Informasi genetika dari sejumlah bakteri yang diduga memiliki histidin enzim dekarboksilase untuk pendeteksian histamin sejak dini diperlukan sebagai langkah awal untuk mewujudkan marka molekuler serta alat pendeteksi histamin sejak dini dalam bentuk kit. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh isolat bakteri yang berpotensi menghasilkan enzim histidin dekarboksilase pada ikan tongkol dan tenggiri; memperoleh ekstrak genom DNA bakteri dari isolat ikan tongkol dan tenggiri; karakterisasi molekuler isolat bakteri dari ikan tongkol dan tenggiri; serta karakterisasi gen pengkode histidin dekarboksilase pada isolat DNA bakteri. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu isolasi dan karakterisasi bakteri dengan menggunakan metode cawan gores dan pewarnaan Gram, ekstraksi DNA bakteri dengan metode CTAB 10%, pengukuran konsentrasi DNA menggunakan spektrofotometer, amplifikasi DNA dengan teknik PCR, elektroforesis, dan uji formalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri yang berasal dari bahan baku merupakan kelompok bakteri Gram negatif dengan bentuk umum batang, hanya satu sampel yang berbentuk bulat (TL 6B). Konsentrasi DNA bakteri yang diperoleh berkisar antara 48-1488 μg/ml dengan rasio 1,67-2,34. Hasil visualisasi produk PCR dengan primer 106 dan 107 menunjukkan hasil negatif, sehingga memperkuat dugaan bahwa bahan baku (ikan) yang digunakan mengandung formalin
Autentikasi Ikan tuna (Thunnus sp) dengan metode berbasis PCR-sequencing
Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang rawan pemalsuan berupa substitusi dengan daging ikan dari spesies yang mirip namun memiliki harga yang lebih rendah. Konsumen sebagai pembeli akan mengalami kerugian (economical fraud) dari pemalsuan sehingga diperlukan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Autentikasi dengan metode berbasis DNA dapat menjadi salah satu cara mengatasi permasalahan pemalsuan bahan baku daging ikan tuna. Metode berbasis DNA memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode berbasis protein diantaranya dapat mendeteksi keaslian suatu produk walaupun telah mengalami proses pengolahan berupa panas dan spesifik untuk setiap organisme. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Ekstraksi DNA ikan tuna yang diperoleh dari perusahaan eksportir tuna dan pasar modern (2) Identifikasi spesies berbasis DNA dengan primer spesifik dengan gen target cyt b (3) Karakterisasi DNA ikan tuna hasil autentikasi. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang diawali dengan karakterisasi ikan tuna, ekstraksi DNA menggunakan metode CTAB dan kit vivantis, Proses amplifikasi dengan PCR, elektroforesis, dan penentuan urutan nukleotida. Sampel yang diuji berhasil diekstraksi dan teramplifikasi dengan ukuran yang sesuai yaitu 750 pasang basa. Hasil PCR sequencing menggunakan gen target cyt b berhasil mengidentifikasi bahan baku ikan tuna. Urutan nukleotida hasil PCR sequencing yang telah dicocokkan ke bank data menunjukkan tidak ada pemalsuan berupa subsitusi dengan speises lain. Tingkat homologi merupakan persentase kesamaan spesies yang diuji dengan data yang tersedia di bank data. Spesies yellow fin (Thunnus albacores), albacore (Thunnus alalunga), big eye (Thunnus obesus), dan blue fin (Thunnus macoyyi) memiliki tingkat homologi berturut-turut adalah 99%, 99%, 99%, 100%
Karakteristik Kombinasi Rumput Laut (Halimeda macroloba dan Padina australis) sebagai Sediaan Bahan Baku Garam Rumput Laut
Pemanfaatan rumput laut sebagai olahan pangan di Indonesia sudah banyak dikembangkan, namun pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku sediaan pembuatan garam kurang dikembangkan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan garam rumput laut yang memiliki karakteristik rendah natrium dan tinggi kalium, mendapatkan garam rumput laut yang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, serta mendapatkan %NaCl garam yang rendah. Pembuatan garam rumput laut adalah dengan ekstraksi menggunakan air laut dan dilakukan pengeringan dengan oven selama 30 jam pada suhu 60ºC. Rasio Na:K terendah terdapat pada kombinasi 1:2 sebesar 11.68, %NaCl terendah pada kombinasi 1:2 sebesar 48.88%. Total fenol tertinggi pada garam kombinasi 2:1 sebesar 380.57 mg GAE/ekstrak, aktivitas antioksidan tertinggi metode DPPH dan ABTS terdapat pada kombinasi 1:2 sebesar 161.57 mg/L dan 112.35 mg/L, kapasitas antioksidan tertinggi menggunakan metode CUPRAC dan FRAP pada kombinasi 1:2 berturut-turut sebesar 164.40 μmol/asam askorbat g-1 ekstrak dan 315.54 μmol/asam askorbat g-1 ekstrak. Hasil terbaik adalah kombinasi Halimeda macroloba dan Padina asutralis 1:2
Aktivitas Antioksidan Garam Rumput Laut Ulva lactuca pada Tikus Putih Sprague-Dawley.
Aktivitas antioksidan garam rumput laut Ulva lactuca secara in vitro sudah
diketahui sebelumnya dan tergolong memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.
Informasi mengenai data aktivitas antioksidan garam rumput laut secara in vivo
belum diketahui sehingga dosis yang efektif belum dapat ditentukan. Tujuan
penelitian adalah menentukan aktivitas antioksidan garam rumput laut secara in
vivo dan jumlah dosis yang sesuai pada tikus putih Sprague-Dawley. Garam
rumput laut Ulva lactuca diberikan pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley
selama 14 hari secara oral untuk dilihat pengaruh aktivitas antioksidan superoxida
dismutase (SOD) dan katalase (CAT) pada organ hati tikus. Aktivitas antioksidan
SOD hati tikus perlakuan garam rumput laut Ulva lactuca sebesar 60.98±6.45
hingga 83.27±3.71 U/mL dan aktivitas antioksidan katalase hati tikus perlakuan
garam rumput laut Ulva lactuca sebesar 0.65±0.06 hingga 0.77±0.07 U/mL dosis
78 mg/350 BB (Berat Badan), 157 mg/350 BB, dan 315 mg/350 BB. Total fenol
dan flavonoid garam rumput laut Ulva lactuca dalam penelitian sebesar
139.09±7.51 mg GAE/g ekstrak dan 125.93±4.66 mg QE/g ekstrak yang
berhubungan dengan aktivitas antioksidan in vitro sehingga potensi kerusakan sel
hati akibat radikal bebas dapat dikurangi
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dengan Cara Pengeringan yang Berbeda
Ekstrak buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza) memiliki potensi sebagai sumber
antioksidan alami. Kandungan antioksidan memiliki keterkaitan erat dengan
kandungan senyawa fenolik pada tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan pengaruh cara pengeringan terhadap kadar fenol total dan aktivitas
antioksidan buah lindur dengan berbagai metode analisis in-vitro. Cara pengeringan
yang digunakan yaitu pengeringan oven suhu 40oC dan matahari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa cara pengeringan mempengaruhi rendemen ekstrak,
komponen bioaktif, fenol total, dan aktivitas antioksidan ekstrak buah lindur. Cara
pengeringan terbaik yang menghasilkan kadar fenol total dan aktivitas antioksidan
tertinggi terdapat pada ekstrak buah lindur kering oven suhu 40oC
Karakteristik Bubur Rumput Laut Eucheuma cottonii dan Sargassum sp. sebagai Bahan Baku Masker Peel Off
Bubur rumput laut E.cottonii dan Sargassum sp. mengandung metabolit
primer dan sekunder yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan masker peel off.
Tujuan penelitian ini yaitu menghasilkan masker peel off yang berkhasiat
mengangkat kotoran dengan menentukan karakteristik dari rasio kombinasi bubur
rumput laut terbaik serta menentukan karakteristik masker peel off dari kombinasi
bubur rumput laut terbaik. Rasio bubur rumput laut terbaik diformulasikan pada
sediaan masker peel off dan dievaluasi. Hasil menunjukkan rasio kombinasi bubur
rumput laut terbaik pada 1 : 1 dengan nilai IC50 antioksidan sebesar 117,945±3,00;
pH 6,60±0,21; viskositas 9.505±7,07; kadar air bubur 96,99±0,00 dan
mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan fenol hidrokuinon. Hasil evaluasi
sediaan masker peel off dengan kombinasi terbaik memiliki nilai pH 6,73; waktu
mengering 25 menit; daya sebar 6,8±0,56; viskositas sebesar 8990±14,14;
antioksidan metode DPPH sebesar 673,297±0,63 dan antioksidan metode FRAP
sebesar 561,61±1,96
Deteksi Bakteri Penghasil Histamin melalui Gen Histidine Decarboxylase (hdc) pada Ikan Tuna, Tongkol, dan Cakalang
Bakteri penghasil histamin dapat diidentifikasi dengan mendeteksi gen
histidin dekarboksilase (hdc). Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kadar
histamin pada daging ikan tuna, tongkol, dan cakalang, mengidentifikasi jenis
bakteri pembentuk histamin dan menganalisis bioinformatika melalui konstruksi
pohon filogeni. Kadar histamin diuji menggunakan spektrofluorometer, sedangkan
analisis DNA bakteri penghasil enzim hdc menggunakan PCR. Kadar histamin
yang terdeteksi dari ikan tuna, tongkol, dan cakalang yaitu sebesar 2.96±0.22 ppm,
2.14±0.23 ppm, dan 1.02±0.97 ppm. Jenis bakteri pembentuk histamin yang
berhasil diidentififikasi baik menggunakan primer spesifik hdc maupun primer
universal 16S rRNA yaitu Morganella morganii, Enterobacter hormaechei,
Klebsiella aerogenes dan Enterobacter bugandensis. Konstruksi pohon filogeni
menunjukkan bahwa bakteri M. morganii dan E. hormaechei berkerabat dekat pada
satu cabang, serta bakteri Klebsiella aerogenes, Enterobacter bugandensis, dan
Escherichia fergusonii juga berkerabat dekat, namun ketiganya tidak berkerabat
dengan bakteri Peptoniphilus stercorisuis dan Vagococcus carniphilus
Identifikasi Kuda Laut Berdasarkan Marka Molekuler serta Potensinya sebagai Antioksidan, Antiglikasi, dan Imunomodulator
Kuda laut merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang memiliki nilai komersial dan telah banyak diperdagangkan sebagai ikan hias, bahan baku obat tradisional dan juga untuk cindera mata atau hiasan. Kuda laut juga mempunyai banyak manfaat dalam bidang farmasi dan pengobatan di antaranya dapat digunakan sebagai penghambat aktivitas oksidasi, antibakteri, antijamur, dan lain sebagainya. Pemanfaatan kuda laut sampai saat ini masih belum dapat diidentifikasi spesiesnya secara pasti dan akurat, terutama yang sudah dalam bentuk tepung. Identifikasi speseis kuda laut menjadi penting untuk tambahan informasi dan bahan pembuat kebijakan terkait status spesies yang paling sering dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sampel kuda laut dari alam secara molekuler menggunakan marka gen COI, menentukan karakteristik kimia (proksimat, senyawa bioaktif, dan asam amino), menentukan potensi kuda laut sebagai antioksidan, antiglikasi, dan menentukan aktivitas proliferasi sel limfosit sebagai indikator sifat imunomodulator dari beberapa bentuk kuda laut (ekstrak, tepung, dan hidrolisat).
Hasil identifikasi molekuler menggunakan DNA barcoding menunjukkan sampel kuda laut dari Sibolga, Pulau Bintan, dan Pulau Pramuka merupakan spesies Hippocampus comes dan Hippocampus kuda dengan tingkat homologi sebesar 98-99%. Kandungan proksimat kuda laut segar yaitu kadar abu 28.21±0.17%, kadar lemak 3.470±0.66%, kadar protein 67.17±0.14%, dan karbohidrat 1.16±0.68%. Kandungan proksimat tepung kuda laut yaitu kadar abu 10.76±0.19%, kadar lemak 5.45±0.31%, kadar protein 77.88±0.85%, dan karbohidrat 6.17±0.37%. Senyawa bioaktif ekstrak etanol kuda laut yaitu flavonoid, triterpenoid, steroid, saponin, dan fenol hidrokuinon. Kandungan asam amino kuda laut terdiri dari lisina, leusina, isoleusina, fenilalalina, valina, metionina, histidina, dan treonina, sedangkan asam amino non esensial terdiri dari tirosina, alanina, glisina, serina, asam glutamat, arginina, dan asam aspartat. Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH memperlihatkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode ABTS. Aktivitas antiglikasi kuda laut bentuk ekstrak memiliki potensi lebih besar dalam menghambat proses glikasi. Hasil uji aktivitas proliferasi sel limfosit secara in vitro pada limfa mencit menunjukkan aktivitas tertinggi adalah kelompok tepung kuda laut pada konsentrasi 250 ppm dengan nilai Indeks Stimulan (IS) 120.74%
Autentikasi dan Ketertelusuran Puffer Fish (Lagocephalus lunaris) pada Produk Olahan Ikan Berbasis Surimi
Produk olahan ikan berbasis surimi berpotensi tinggi dalam kesalahan pelabelan bahan baku, dan berpotensi menggunakan bahan tidak sesuai dan toksisitas tinggi. Penelitian bertujuan melakukan autentikasi untuk menentukan bahan baku digunakan pada produk olahan surimi menggunakan DNA barcode. Amplifikasi DNA dilakukan dengan primer target fish universal F1R1/F2R2, mini-barcode, serta primer spesies spesifik Lagocephalus lunaris. Amplifikasi optimum primer F1R1/F2R2 berada pada suhu 54 °C, sedangkan primer mini barcode pada suhu 62 °C dengan 35 siklus. Produk PCR di sekuensing, dan diketahui urutan basa nukleotida DNA sampel. Analisis menunjukkan sampel S1 adalah Coryphaena hippurus atau ikan mahi-mahi dengan homologi 96.32%, S2 dan S3 Nemipterus bathybius atau ikan kurisi dengan homologi 93.54% dan 94.77% dan CS adalah spesies Evynnis cardinalis atau Ikan kuro dengan homologi 97.80%. Amplifikasi sampel dengan primer spesies spesifik ikan buntal Lagocephalus lunaris dengan suhu 54 °C, 57 °C, dan 60 °C menunjukkan tidak terdapatnya pita DNA pada enam sampel yang dianalisis
- …
