1,721,404 research outputs found
MAKNA SIMBOL RELIGIUS PADA BATIK MOTIF TAMBAL KARYA ABDUL SYUKUR
Batik merupakan salah satu karya seni rupa yang didalamnya terkandung
unsur keindahan serta memiliki makna dari setiap motifnya, khususnya pada batik
tradisional. Pada motif batik tradisonal, setiap motifnya memiliki makna yang
terkandung didalamnya. Seiring dengan perkembangan zaman, batik semakin
kehilangan esensi yang terkandung didalam motifnya. Hal ini menyebabkan
terciptanya perspektif dari seni batik dimana batik hanya dipahami dari segi
fashion saja. Berangkat dari permasalahan tersebut, melalui skripsi dengan judul
Makna Simbol Religius Pada Batik Motif Tambal Karya Abdul Syukur ini,
penulis menguraikan makna dari simbol-simbol yang dihadirkan dalam seni batik
motif Tambal yang diproduksi oleh Abdul Syukur melalui studionya yaitu Taman
Lumbini Batik. Motif Tambal merupakan salah satu motif tradisional yang
kemudian dikembangkan oleh Abdul Syukur. Pemikiran Abdul Syukur dalam
berproses kreatif lebih menekankan esensi dari setiap karyanya. Setiap karyanya
mengandung unsur nilai-nilai yang bermuara pada nilai religiusitas.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan di Taman
Lumbini Batik yang berlokasi di Bantul dengan dengan mengumpulkan data
menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi yang kemudian
dianalisis menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil observasi
penelitian ini dianalisis menggunakan teori Susanne K Langer mengenai simbol
diskursif dan simbol presentasional guna memahami pemaknaan simbol pada
batik motif Tambal.
Hasil akhir pada penelitian ini menunjukkan bahwa : pertama, ragam
motif batik Tambal karya Abdul Syukur adalah Tambal Jejeg Ageng, Tambal
Jejeg Alit, Tambal Jejeg Ratu, Tambal Nitil Wajik, dan Tambal Kanoman. Kedua,
makna simbol religius dari batik motif Tambal karya Abdul Syukur perspektif
Susanne K Langer, menghasilkan dua jenis simbol yaitu diskursif dan
presentasional. Simbol diskursif merupakan bentuk yang digunakan secara literal,
dimana didalamnya terkandung berbagai unit bermakna berdasarkan konvensi.
Dalam hal ini, masing-masing motif batik tambal karya Abdul Syukur terkandung
berbagai unit motif yang memiliki makna. Setiap nama motif batik memiliki
makna yang berbeda-beda. Sedangkan simbol presentasional tidak terdiri dari
berbagai unit yang memiliki arti tetap yang digabung berdasarkan aturan tertentu.
Simbol presentasional juga tidak dapat diuraikan menjadi unit-unit yang dapat
berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bentuk yang tunggal. Makna dari simbol ini
terdapat pada bentuk keseluruhannya. Batik motif tambal harus dipandang sebagai
suatu simbol yang penuh dan utuh serta dalam bentuk keseluruhan, meskipun
unsur-unsur pembentuk motif tambal yaitu berbagai motif tradisonal itu sendiri
terdiri dari berbagai simbol yang sifatnya lebih khusus
Profile Kepemimpinan KH Abdul Syukur Di Pondok Pesantren Darussalam Martapura
Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya.
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci (key position), karena seorang pemimpin berperan sebagai penyelaras dalam proses kerja sama antar manusia dalam organisasinya. Pemimpin akan mampu membedakan karakteristik suatu organisasi dengan organisasi lainnya.Dengan memahami teori kepemimpinan diharapkan atasan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap dirinya sendiri, mengetahui beberapa kelemahan, maupun potensi yang ada dalam dirinya serta akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap bagaimana seharusnya memperlakukan bawahannya serta bagaimana meningkatkan motivasi kerja pada bawahan.
Manusia mengemban amanat mengelola alam lingkungannya, pada diri manusia telah dibekali berbagai nilai keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lain ciptaan Allah Swt. Dalam pelaksanaan kepemimpinannya, manusia diberikan pedoman hidup berupa ajaran-ajaran agama, dimana agama merupakan olak ukur (standar) setiap perbuatan atau tingkah laku manusia untuk dipertanggung jawabkan dihadapkan Allah.
Subjek dari penelitian ini adalah di pondok pesantren Martapura, sedangkan objek penelitian ini mengambil KH. Abdul syukur, beliau seorang ulama Kharismatik, kelahiran Martapura, sekaligus pimpinan umum pondok pesantren Darussalam Martapura.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi. Setelah terkumpul data penelitian ini diolah melalui tahapan yakni koleksi data, data kemudian di analisis secara kualitatif sehingga dapat ditarik kesimpulan dengan teknik induktif.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa KH. Abdul syukur merupakian Profil seorang ulama yang banyak berkiprah di dunia pesantren dan masyarakat sekitar Martapuran, dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Beliau adalah sosok Ulama yang memiliki siat tegas tapi demokratis, cerdas dan luas keilmuannya baik dibidang agama maupau bidang sosial. Masyarakat telah banyak merasakan arti keberadaan seorang KH. Abdul syukur
Profiel Kepemimpinan KH. Abdul Syukur Dipondok Pesantren Darussalam Martapura
Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya.
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci (key position), karena seorang pemimpin berperan sebagai penyelaras dalam proses kerja sama antar manusia dalam organisasinya. Pemimpin akan mampu membedakan karakteristik suatu organisasi dengan organisasi lainnya.Dengan memahami teori kepemimpinan diharapkan atasan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap dirinya sendiri, mengetahui beberapa kelemahan, maupun potensi yang ada dalam dirinya serta akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap bagaimana seharusnya memperlakukan bawahannya serta bagaimana meningkatkan motivasi kerja pada bawahan.
Manusia mengemban amanat mengelola alam lingkungannya, pada diri manusia telah dibekali berbagai nilai keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lain ciptaan Allah Swt. Dalam pelaksanaan kepemimpinannya, manusia diberikan pedoman hidup berupa ajaran-ajaran agama, dimana agama merupakan olak ukur (standar) setiap perbuatan atau tingkah laku manusia untuk dipertanggung jawabkan dihadapkan Allah.
Subjek dari penelitian ini adalah di pondok pesantren Martapura, sedangkan objek penelitian ini mengambil KH. Abdul syukur, beliau seorang ulama Kharismatik, kelahiran Martapura, sekaligus pimpinan umum pondok pesantren Darussalam Martapura.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi. Setelah terkumpul data penelitian ini diolah melalui tahapan yakni koleksi data, data kemudian di analisis secara kualitatif sehingga dapat ditarik kesimpulan dengan teknik induktif.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa KH. Abdul syukur merupakian Profil seorang ulama yang banyak berkiprah di dunia pesantren dan masyarakat sekitar Martapuran, dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Beliau adalah sosok Ulama yang memiliki siat tegas tapi demokratis, cerdas dan luas keilmuannya baik dibidang agama maupau bidang sosial. Masyarakat telah banyak merasakan arti keberadaan seorang KH. Abdul syukur
K.H. ABDUL SYUKUR DAN PERUBAHAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT MUSLIM GU-LAKUDO BUTON TENGAH, 1945-2000.
This research discusses about KH Abdul Syukur and Religious Social Changes in the Gu-Lakudo Muslim Community of Central Buton, 1945-2000. The entry of Islam in Buton in the 16th century had not yet touched too deeply the Gu-Lakudo community. During the time of Haji Abdul Syukur as a reforming kyai, people began to recognize Islam as a belief. How is the social condition of the Gu-Lakudo community and why socio-religious movements play a role in social change in Muslim society.
This research is included in local historical research using a sociological approach, to understand the depiction of the past, it will reveal the social aspects of the background of the events studied, namely the NU movement and the process of change in the Gu-Lakudo community. The discussion is analyzed through concepts and theories: Socio-religious movements and social change. This study uses the historical method with four steps taken, namely: heuristics, criticism, interpretation and historiography.
The results of this study conclude: The condition of the Gu-Lakudo people who still practice animistic cultural beliefs and dynamism. Haji Abdul Syukur as a representation of the thoughts of NU figures taught at Gu-Lakudo has a pattern as NU kyai in spreading his teachings. Religious and cultural syncretism became the initial model for the development of Haji Abdul Syukur's teachings in Gu-Lakudo. Traditional culture is still carried out such as haroa where the haroa is carried out on the 3rd day: 3,7,40,100 people died. Likewise, local culture such as kamomose is used as a culture that is incorporated with Islamic values that the importance of friendship between communities in that moment. The involvement of Haji Abdul Syukur has had a greater influence on the Gu-Lakudo community, including: reviving the traditional religious education model, developing a trading system, and a model of teaching that is tolerant, polite and non-violent to form the basis of the Haji Abdul Syukur movement so that it can be accepted and developed. in the Gu-Lakudo community
- …
