4 research outputs found
GENDER PERSPEKTIF AGAMA
Diantara wacana yang selalu hangat untuk diperbincangkan bahkan selalu dikaitakan dengan Agama Islam adalah masalah Gender, sering kali memancing tanggapan yang beragam bahkan terjadi pro dan kontra. Islam sebagai agama rahamatan lilal-‘alamin harus mampu menjawab problema social yang selalu dihadapi oleh pemeluknya, akan tetapi harus disadari bahwa kondisi social akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu mengalami perubahan, karena ummat memilki logikanya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui; hakikat kemanusiaan, gender memilki kesamaan dihadapan Tuhan dan bagaimana hak-hak dalam keluarga termasuk pendidikan.
Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan kajian literatur. Membaca berbagai buku, jurnal, artikel, yang berkaitan dengan topik pembahasan, yang tujuanya untuk memberikan gambaran secara sistematis tentang Gender perspektif agama.
Gender tentu memilki perbedaan dari segi dimensi. Gender hakikatnya adalah untuk membedakan peran. dalam women’s studies Encyclopedia disebutkan Gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan(distinction) dalam hal peran, prilaku, mentalitas dan karakteristik emosional laki-laki dan perempuan yang terjadi dalam masyarakat. oleh sebab itu kajian tentang Gender adalah berbicara soal sebuah konsepsi yang menunjuk pada suatu system peranan dan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang tidak ditentukan oleh perbedaan biologis semata-mata akan tetapi oleh lingkungan social, politik, ekonomi, dan budaya. Agama yang dibawa oleh Muhammad SAW berhasil memperjuangkan dan meningkatkan derajat perempuan, yang sebelumnya tertindas menjadi makhluk yang sederajat dengan laki-laki. Keberhasilan Muhammad SAW memabngun pilar-pilar dasar peradaban Islam didasarkan atas kekokohan pribadi muslim dan solidnya Lembaga keluarga termasuk organisasi perempuan seperti BKMT yang dibangun dengan prinsip kemitraan.
Kesamaan antara perempuan dan laki-laki bisa dilihat dari tiga dimensi. Pertama, hakikat kemanusiaan, Islam memberikan kepada perempuan sejumlah hak untuk meningkatkan kualitas kemanusiaannya, seperti mendapatkan Pendidikan, hak berpolitik dan hak yang berkenaan dengan public. Kedua, pelaksanaan ajarana Islam, Islam mengajarkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama mendapatkan pahala atas amal shaleh yang diperbuatnya, dan sama-sama mendapat siksa jika melakukan pelanggaran atau perbuatan dosa. Ketiga, hak-hak dalam keluarga, seperti hak waris, Islam memberikan hak waris kepada perempuan, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang diberikan kepada laki-laki. Bahkan al-Qur’an tidak menganut paham the second sex yang memberi keutamaan pada jenis kelamin tertentu dan tidak menganut paham the first etnik yang mengistimewakan suku tertentu
PENGARUH AUDIO VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
Pada masa 4.0 ini teknologi sudah tidak dapat dihindari lagi, berbagai sektor sudah dapat memanfaatkannya termasuk sektor Pendidikan. Jika sekolah dapat memfasilitasi sarana dan prasarana yang menunjang dengan memanfaatkan teknologi maka akan mempermudah proses kegiatan pembelajaran. Cara yang dapat dimanfaatkannya yaitu dengan menggunakan media pembelajaran ketika proses pembelajaran berlangsung karena akan menciptakan suasana yang kondusif, menyenangkan, menarik untuk dapat output yang yang maksimal. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan maka digunakannya pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis eksperimen serta desain penelitian Quasi Experimental. Data pengumpulannya dengan cara observasi serta penyebaran isntrumen dan data akan dihitung menggunakan perhitungan statistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penerapan audio visual terhadap hasil belajar memperoleh hasil Ha yang dikatakan dapat diterima dengan uji Wilcoxon yang dilakukan dengan Asymp.Sig (2-tailed) < 0,005. Pada hasil uji Wilcoxon nilai Z yaitu -5.028 dan Asymp.Sig (2-tailed) yaitu 0,000. Maka dapat disimpulkan nilai signifikansi terdapat pengaruh audio visual terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Fiqh di MTs Umdatur Rasikhien Jakarta. 2) Hasil belajar yang didapat ketika sebelum dan sesudah melakukan treatment yaitu pretest dan posttest pada masing-masing kelas yang dituju, pada kelas 81 yaitu eksperimen terdapat 51% dan kelas 82 yaitu kontrol terdapat 34%. Dengan dilihat hasil kedua kelas tersebut selisihnya yaitu 17% maka dapat dikatakan kelas eksperimen memperoleh output yang optimal dibandingkan kelas kontrol
Mood System in the Tourism Brochure of “Friendly Lombok”
Mood system can be found in every clause. This research was conducted to investigate the types of mood and their speech functions in the tourism brochure of “Friendly Lombok”. Qualitative descriptive research design was employed in conducting this research. The findings show that the mood system found in the tourism brochure of “Friendly Lombok” are declarative mood, interrogative mood, and imperative mood. In the brochure, the information and encouragement given by the author is delivered to the readers through the declarative mood. The interrogative mood functions to demand questions and attract the readers’ attention. The author’s authority to command and persuade the readers to take an action are expressed through the imperative mood. Based on the analysis, the declarative mood is the most common mood in the tourism brochure of “Friendly Lombok”. It shows that the author of the brochure tends to state information and encouragement of tourism aspects in Lombok to the readers
Training of Operating Video Conference for Online Learning During Covid-19
Lecturers required to have more capabilities in using technology as a facilitate in doing instructional process. In Covid-19 era, Indonesian Government enforced all level of education to use online learning method to prevent the spread of the disease. This policy also applies to university level education. Online learning is the only possible chosen method to keep continue the learning process as a substitute of offline learning. Facing this situation, lecturers need to upgrade their skill in using some software application to support online learning method, especially skill in operating video conference software application. Need assessment result showed that only 40% lecturers have capability in operating video conference software application. This article aims to describe the utilization of technology as a supporting system in online learning especially using vide conference to facilitate instructional process. The author uses a qualitative approach with a descriptive model in which the data and exposure presented in this paper sourced from the training. Data collection is taken by interviewing and distributing questionnaires. A training of operating video conference application and using LMS for online learning was held for lecturers in Baturaja University. The result shows that participants feel satisfied and get benefit from the implementation of this training
