1,720,972 research outputs found

    Asuhan Keperawatan Pada An.Z dan An.H Dengan Diare Dengan Masalah Keperawatan Kekurangan Volume Cairan Di RSUD dr.Haryoto Lumajang Tahun 2018

    No full text
    Pada bayi usia 3 bulan membutuhkan jumlah air terbesar dibandingkan usia bayi yang lain yaitu bayi membutuhkan air sekitar 140-160 per kg BB per hari (ml). Sehingga, jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah cairan yang hilang juga lebih besar dibandingkan orang dewasa. Salah satu kehilangan cairan berasal dari diare. Bila pada diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi defisit cairan tubuh, yang disebut juga dengan dehidrasi. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak menderita diare setiap tahunnya dan 20% dari seluruh kematian pada anak yang hidup di negara berkembang berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gambaran awal diare dimulai dengan bayi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare.Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja semakin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja semakin lama semakin asam sebagai akibat semakin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan gejala dehidrasi mulai tampak; yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Penelitian ini bertujuan untuk Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada Pasien Anak Diare Dengan Masalah Keperawatan Kekurangan Volume Cairan di Ruang Bougenville RSUD Dr. Haryoto Lumajang. Desain penelitian yang dipakai pada karya tulis ini adalah laporan kasus. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada kedua klien diare didapatkan 4 batasan karakteristik yang muncul dari 13 batasan karakteristik yaitu haus, penurunan haluaran urin, kelemahan, dan membran mukosa kering sehingga dapat diangkat masalah keperawatan kekurangan volume cairan. Intervensi keperawatan yang dilakukan pada kedua klien adalah manajemen cairan dan manajemen diare. Implementasi keperawatan yang dilakukan yaitu manajemen cairan meliputi menimbang popok, memonitor status hidrasi, menjaga intake/asupan yang akurat dan mencatat output, memberikan terapi IV. Manajemen diare meliputi menginstruksikan kepada ibu pasien untuk mencatat warna, volume; frekuensi; dan konsistensi tinja, mengukur diare atau output pencernaan. Pada tahap evaluasi keperawatan, terdapat 12 kriteria hasil yang tercapai pada kedua klien adalah membran mukosa lembab, keseimbangan intake dan output dalam 24 jam, kulit lembab, berat badan stabil, hematokrit normal (L 40 – 54 %, P 35 – 47 %), anak tidak tampak haus, frekuensi bab menjadi normal atau berkurang (< 4 kali/hari), konsistensi feses menjadi lunak berbentuk, bising usus normal : 5-35 x/menit, tidak ada nyeri saat BAB, warna feses kuning kecoklatan, tidak ada lendir dalam feses. Untuk mencapai 3 kriteria hasil yang direncanakan pada kedua klien diare pada anak dengan masalah keperawatan kekurangan volume cairan perlu dilakukan perawatan selama minimal 3 hari

    Asuhan Keperawatan Pneumonia Pada An. D Dan An. S Dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas Di Ruang Bougenvile Rsud Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018

    No full text
    Penyakit Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi pada usia dibawah 5 tahun dimana kematian balita akibat pneumonia hampir 20 %. Pada anak dengan pneumonia sering terjadi masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas yang disebabkan akumulasi dahak atau lendir di alveoli. Anak usia dibawah 5 tahun tidak mampu untuk mengeluarkan dahak atau lendir secara mandiri dan anak lebih sering menelan sputum. Jika hal ini tidak segera ditangani akan menimbulkan sesak yang hebat sehingga menyebabkan kesulitan proses difusi antar oksigen dan pembuluh darah mengakibatkan tubuh akan mengalami kekurangan oksigen hingga berujung kematian. Laporan kasus ini disusun untuk mengeksplorasi asuhan keperawatan pneumonia pada An. D dan An. S dengan masalah ketifakefektifan bersihan jalan napas. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah WOD (wawancara, observasi, dan dokumentasi). Partisipan adalah dua anak anak yang mengalami pneumonia yang memenuhi kriteria partisipan. Data yang didapat dari hasil pengkajian pada kedua anak mengalami keluhan panas disertai batuk berdahak dengan kurun waktu lebih dari 3 hari pada hasil pemeriksaan laborarium leukosit di atas 10.000/cmm serta hasil foro rontgen menunjukkan gambaran infiltrat pada paru-paru dan pemengarah, pada anak 1 tidak mendapat imunisasi DPT sedangkan pada anak 2 tidah mendapat imunisasi campak. Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah berikan terapi inhalasi dengan nebulizeer berikan dan ajarkan fisioterapi dada atau clapping kepada anak dan keluarga, dan berikan minum air hangat atau minum ASI, serta memberikan penyuluhan tetang pneumonia dan cara pencegahan dirumah seperti tidak membakar sampah didepan rumah, tidak merokok di dalam rumah, dan pola hidup bersih dan sehat, supaya bisa diterapkan di rumah

    Asuhan Keperawatan Dengue Haemorhagic Fever (Dhf) Pada An. K Dan An. Q Dengan Masalah Keperawatan Hipertermi Di Ruang Bougenvile Rsud Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2018

    No full text
    Penyakit Dengue Haemorhagic Fever merupakan penyakit akibat virus Dengue yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini banyak ditemukan diseluruh dunia terutama di negara-negara tropik dan subtropik baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Kejadian Luar Biasa (KLB) dengue biasanya terjadi di daerah endemik dan berkaitan dengan datangnya musim penghujan. Demam salah satu manifestasi klinik yang selalu ditemukan, kebanyakan peneliti melaporkan 100% penderita DHF didahului oleh demam. Hipertermi merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus.Demam DHF memiliki ciri khusus yang berbeda dengan demam yang lainnya yaitu yang disebut demam pelana kuda yang artinya demam hari ke 2 - 3 suhu tubuh naik hari ke 4-5 suhu tubuh menurun dan hari ke 6-7 suhu tubuh naik kembali. Diwilayah Lumajang sendiri, terdapat peningkatan jumlah penderita hipertermi akibat DHF pada dua bulan terakhir yakni pada bulan januari dan februari 2016, tercatat ada 29 orang orang yang mengalami hipertermi karena dari DHF. Jumlah ini meningkat menjadi 44 pada februari 2016. Dari 73 jumlah penderita positif DHF itu, 4 penderita diantaranya meninggal dunia (Dinkes Kab.Lumajang, 2016). Laporan kasus ini dilaksanakan dengan pengumpulan data berdasarkan metode kualitatif yaitu menanyakan secara langsung kepada klien dan keluarga dengan masalah yang telah dihadapi klien yang disebut anamnesa. Anamnesa dilakukan berdasarkan lembar WOD (wawancara, observasi, dan dokumentasi) Pengkajian dari identitas klien lengkap, keluhan utama masuk rumah sakit adalah klien mengalami demam , keluhan saat pengkajian adalah demam, pola kebiasaan,pemeriksaan fisik, menegakkan diagnosa keperawatan hipertermi. Hipertemi pada an. K dengan suhu 38,6 pada hari ke 8 dan an. Q dengan suhu 38,1 pada hari ke 6, kulit kemerahan akibat demam tinggi, pertambahan RR lebih dari 30-40x/menit, takikardi 80-90x/menit. Pada anak K tidak mengalami trombositopeni dan anak Q mengalami trombositopeni

    Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia pada An.Z Dan An.S dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas di Ruang Bougenville RSUD Dr.Haryoto Lumajang Tahun 2018

    No full text
    Insiden penyakit bronkopneumonia pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada bulan april 2018 di Ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang didapatkan 136 pasien anak yang mengalami bronkopneumonia dari bulan Januari 2018 hingga awal April 2018. Pada klien dengan Bronkopneumonia sering mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas yang disebabkan karena banyaknya lendir di bronkus/paru. Pada bayi dan anak-anak tidak mampu mengeluarkan sekret secara mandiri jadi jika masalah bersihan jalan nafas ini tidak ditangani secara cepat maka bisa menimbulkan masalah yang lebih berat saperti pasien akan mengalami sesak yang hebat bahkan bisa menimbulkan kematian. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengeksplorasi asuhan keperawatan Bronkopneumonia pada An.Z dan An.S dengan masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Desain yang digunakan adalah laporan kasus terhadap pasien Bronkopneumonia dengan menggunakan pengumpulan data berdasarkan lembar WOD (wawancara, observasi dan dokumentasi). Partisipan terdiri dari dua klien anak yang memenuhi criteria partisipan. Intervensi pemantauan pernapasan dilakukan selama perawatan klien diruangan dengan memantau kecepatan, irama, kedalaman, adanya pergerakan dinding dada abnornmal, pola napas dan auskultasi suara napas tambahan sebagai bukti adanya akumulasi cairan atau sekret di saluran napas. Intervensi yang dilakukan untuk mempercepat perbaikan jalan napas kedua klien adalah mengatur posisi kepala klien lebih tinggi dari badan, anjuran minum air hangat ataupun pemberian ASI, pemberian terapi nebulisasi dan fisioterapi dada. Intervensi ini dilakukan tiga hari selama perawatan di ruangan. Implementasi keperawatan yang dilakukan kepada klien 1 dan 2 untuk perbaikan pernapasan adalah dengan mengatur posisi klien dengan posisi kepala lebih tinggi dari badan. Hal ini berguna untuk memaksimalkan ventilasi. Kedua klien diberikan terapi nebulisasi, tujuan utama penggunaan nebulizer adalah untuk menghilangkan obstruksi sekresi dan memperbaiki hygiene bronchus. Setelah diberikan terapi nebulisasi, tindakan selanjutnya adalah dilakukannya terapi fisioterapi dada dengan teknik clapping dada menggunakan dua atau tiga jari. Tujuan dari terapi clapping ini adalah jalan nafas bersih, secara mekanik dapat melepaskan sekret yang melekat pada dinding bronkus dan mempertahankan fungsi otot-otot pernafasan. Kedua klien juga dianjurkan diberi minum air hangat atau pemberian ASI guna mengurangi kekentalan dahak melalui proses induksi yang menyebabkan arteri pada area sekitar leher vasodilatasi dan mempermudah cairan dalam pembuluh darah dapat diikat oleh sekret atau mucus. Hasil yang didapatkan setelah dilaksanakan implementasi keperawatan pada kedua klien adalah pada hari ketiga perawatan diruangan, dari 6 kriteria hasil didapatkan 4 kriteria yang dapat dikatakan mengalami pencapaian dan 2 kriteria dalam perbaikan. Klien 1 maupun klien 2 sama-sama telah mengalami pencapaian kriteria hasil yaitu tidak adanya keluhan sesak dengan dibuktikan frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada otot bantu napas, tidak terjadi penurunan bunyi napas, dan sputum sudah dapat dikeluarkan pada klien 2 dan pada klien 1 sudah keluar namun di telan lagi. Pada klien 1 dan klien 2 juga terjadi perbaikan kondisi dari yang semula memiliki keluhan batuk grok-grok hingga sesak napas, dan adanya suara ronchi di beberapa lobus paru saat auskultasi, kini mengalami perbaikan kondisi meskipun masih adanya keluhan batuk, dan suara napas tambahan ronchi sudah berkurang di beberapa lobus paru. Dari hasil tersebut, bagi peneliti selanjutnya mengenai Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan yang sama diharapkan untuk memperpanjang waktu penelitian guna mengevaluasi kriteria hasil yang masih belum tercapai sepenuhnya atau dikatakan masih dalam perbaikan kondisi. Bagi perawat diharapkan melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan standart asuhan keperawatan dan standart operasional sesuai kondisi pasien dengan menerapkan terapi fisioterapi dada sebagai tindakan mandiri keperawatan. Pada keluarga pasien diharapkan untuk lebih memperhatikan terkait pola pemenuhan kebutuhan nutrisi dan lainnya di rumah baik saat dalam kondisi sehat maupun saki

    Asuhan Keperawatan Pada By.Ny.I Dan By.Ny.D Post Asfiksia Dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas DI Ruang Neonatus RSUD Dr. Haryoto Kabupaten Lumajang Tahun 2019

    Full text link
    Asfiksia neonatorium merupakan kegawat daruratan pada bayi baru lahir berupa depresi pernafasan yang berkelanjutan sehingga menimbulkan berbagai komplikasi bahkan sampai mengakibatkan kematian. Di Indonesia asfiksia pada bayi baru lahir menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta kematian bayi baru lahir setiap tahunnya (Sunarti, 2017). Kondisi bayi dengan asfiksia mengalami ekspansi paru dan peningkatan tekanan oksigen alveoli, keduanya menyebabkan penurunan resistensi vascular paru dan peningkatan aliran darah dari arteri pulmonalis paru setelah lahir dengan demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka akan terjadi kegagalan fungsi miokardium, kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan darah, yang mengakibatkan aliran darah ke seluruh organ yang akan berkurang. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan segera akan menyebabkan post asfiksia dan dapat menimbulkan masalah ketidakefektifan pola nafas dimana pada keadaan bayi dapat ditemukan adanya dyspnea, retraksi dinding dada, pernafasan cuping hidung, pola nafas abnormal dan adanya sianosis yang dapat dinilai menggunakan down skor. Peran perawat dalam penataksanaan manajemen post asfiksia pada bayi baru lahir bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa berupa kelainan neurologi yang mungkin muncul. Melakukan pencegahan aspirasi dengan memonitor tingkat kesadaran, status pernafasan, monitor tanda tanda vital, mempertahankan kepatenan jalan nafas, dan memposisikan miring ke samping untuk mencegah aspirasi (Pratama, 2018). Metode penelitian karya tulis yang digunakan yaitu laporan kasus dimana pada laporan ini bertujuan mengekplorasi asuhan keperawatan pada bayi Ny.I dan bayi Ny.D yang mengalami post asfiksia dengan masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas di ruang neonatus RSUD dr. Haryoto Lumajang tahun 2019. Bayi yang memiliki batasan karakteristik bradipnea, dyspnea, penggunaan otot bantu nafas, pernafasan cuping hidung, pola nafas abnormal, dan takipnea. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara terhadap ibu bayi dan juga perawat ruangan, observasi dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik dan data penunjang seperti hasil lab. Etika penulisan menggunakan lembar informed consent (lembar persetujuan) anatomity (tanpa nama) confidentiality (kerahasiaan). Intervensi disusun berdasarkan buku NANDA dan NIC NOC yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Implementasi keperawatan dilakukan selama 3 x 24 jam masa perawatan diruangan bertujuan membantu mengatasi masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas yaitu monitoring status pernafasan : monitor kecepatan, catat pergerakan dada, penggunaan otot bantu nafas, atur peralatan oksigenasi, monitor saturasi oksigen, posisikan miring untuk mencegah aspirasi

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore