33 research outputs found

    Debe farm pertanian modern dan organik sebagai upaya peningkatan kemandirian daerah di desa ciaruteun ilir

    No full text
    Sektor pertanian adalah sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur perekonomian nasional. Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian kedua terbesar penyumbang kontribusi dalam produk domestik bruto Indonesia. Kini isu konversi lahan pertanian mulai dirasakan petani dalam bertani, selain itu dengan mahalnya biaya operasional pertanian seperti pembelian pupuk dan pestisida untuk perawatan membuat petani kita sulit untuk bertahan. Debe farm memberikan solusi untuk permasalahan ini, melalui pertanian modern dan organik.DIkt

    Analisis Permintaan Kereta Rel Listrik Commuter Line bagi Kalangan Pekerja Tahun 2011-2013 (Studi Kasus: Stasiun Bogor)

    No full text
    Commuter Line Electric Train (Kereta Rel Listrik/KRL Commuter Line) is one of the public mass transportation that operates through DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek). Most passengers of this this transportation are workers. Bogor Station has the largest number of passengers for Commuter Line Electric Train in Jabodetabek. This study aims to identify the characteristic of Commuter Line Electric Train passengers in Bogor Station which are workers and factors influencing their demand for Commuter Line Electric Train. The characteristics are explained by their income, profession, purpose of using Commuter Line Electric Train, age, education degree, and demand number for Commuter Line Electric Train. Through a multiple linear regression process, the result shows that 88.55% variety of demand for Commuter Line Electric Train are explained by income, purpose of using Commuter Line Electric Train, age, and education degree variable. Factors significantly influencing demand for Commuter Line Electric Train are age and purpose of using Commuter Line Electric Train.Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line merupakan salahsatu transportasi masal yang beroperasi di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Pekerja adalah pengguna terbanyak jasa transportasi ini. Stasiun Bogor merupakan stasiun dengan jumlah penumpang KRL Commuter Line terbanyak di Jabodetabek. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik penumpang KRL Commuter Line kalangan pekerja di Stasiun Bogor dan faktor-faktor yang memengaruhi permintaannya. Karakteristik penumpang kalangan pekerja diterangkan dari segi pendapatan, jenis pekerjaan, tujuan penggunaan, usia, tingkat pendidikan terakhir, dan jumlah permintaan KRL Commuter Line. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0.885522 yang berarti 88.55% keragaman dari permintaan KRL Commuter Line Jabodetabek bagi kalangan pekerja di Stasiun Bogor diterangkan oleh variabel pendapatan, tujuan penggunaan, usia, dan tingkat pendidikan terakhir. Faktor yang memengaruhi permintaan KRL Commuter Line secara signifikan yaitu usia dan tujuan penggunaan

    Analisis Dayasaing Telkomsel Dalam Industri Telekomunikasi Indonesia Pascaliberalisasi Industri Telekomunikasi

    No full text
    Telekomunikasi merupakan sebuah kebutuhan pada era teknologi di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Jasa telekomunikasi seluler menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia untuk berhubungan dengan orang lain. Pada tahun 1999 pemerintah meliberalisasi sektor telekomunikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Hal ini berpengaruh besar bagi industri telekomunikasi Indonesia dan perusahaanperusahaan di dalamnya termasuk Tekomsel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dayasaing Telkomsel pascaliberalisasi industri telekomunikasi, struktur, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja industri tersebut. Metode yang digunakan adalah Structure Conduct Performance (SCP) dan Panel Data. Hasil analisis SCP menunjukkan bahwa struktur industri telekomunikasi Indonesia pascaliberalisasi adalah oligopoli ketat dan Telkomsel sebagai penguasa pasar dengan pangsa pasar terbesar. Sedangkan hasil analisis panel data menunjukkan bahwa jumlah BTS, total aset, nilai ARPU, dan jumlah pelanggan berpengaruh positif terhadap kinerja industri telekomunikasi dengan koefisien masing-masing sebesar 0.22, 0.27, 0.51, dan 0.45

    Knowledge-Based Economy (Kbe), Konvergensi, Dan Pertumbuhan Ekonomi: Studi Kasus Di Asean Plus Three (Periode Tahun 2001- 2014).

    No full text
    Pertumbuhan dan konvergensi ekonomi merupakan isu utama dalam dunia ekonomi global. Integrasi ekonomi adalah bentuk kerjasama antar negara sebagai upaya untuk mencapai tingkat kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Pada tahun 1997 telah didirikan ASEAN Plus Three sebagai bentuk dari integrasi ekonomi dalam bidang paten dan ICT. Pada era modern knowledge-based economy merupakan faktor penting pendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi (Karagiannis 2007). Kerjasama di ASEAN Plus Three telah diimplementasikan dalam bentuk kebijakan dibidang hak kekayaan intelektual dan ICT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses konvergensi pertumbuhan ekonomi (konvergensi kondisional (β)) dan kesenjangan pendapatan (konvergensi σ) dengan pendekatan pendapatan perkapita dan knowledge-based economy (KBE) serta melihat peran knowledge-based economy terhadap pertumbuhan ekonomi. Data yang digunakan adalah data tahunan dari tahun 2001 hingga tahun 2014 dengan metode analisis GMM (Generalized Method of Moments). Penelitian ini mengunakan studi kasus di ASEAN Plus Three. Hasil estimasi untuk model konvergensi pertumbuhan ekonomi (konvergensi kondisional (β)) menunjukkan kriteria panel dinamis terbaik, yaitu tidak bias, valid dan konsisten. Nilai koefisien pada lag dependen dengan pendekatan pendapatan perkapita adalah sebesar 0.9639, berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan tingkat konvergensi sebesar 0.72%. Sedangkan hasil estimasi dengan mempertimbangkan indikator KBE memiliki nilai koefisien lag dependen sebesar 0.9917, berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan tingkat konvergensi sebesar 0.8%. Sedangkan konvergensi (σ) menunjukkan bahwa untuk periode tahun 2001 hingga tahun 2014 telah terjadi konvergensi pada variabel GDP riil per kapita, dapat dilihat dari nilai koefisien variasi yang cenderung menurun di negara ASEAN Plus Three. Lain halnya dengan nilai koefisien variasi yang cenderung meningkat pada variabel paten. Hal tersebut berarti bahwa telah terjadi disparitas untuk variabel paten di ASEAN Plus Three. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi dari anggota ASEAN Plus Three dalam pengembangan KBE sehingga dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan

    Analisis faktor penghambat penerapan kebijakan“lahan abadi” pertanian (studi kasus: kecamatan pangalengan)

    No full text
    The scarcity of land and water resourch, the dynamics of development, as well as rapid the increase in population led to the conversion of agricultural land into non-agricultural. The impact of conversion is felt by the whole society. This study aims to identify factors inhibiting agricultural policies “Lahan Abadi” using descriptive analysis with data collection and interview in Pangalengan.Dikt

    The impact of infrastructure development to economic growth in sukabumi

    No full text
    Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.Ketersediaan infrastruktur menjadi tuntutan yang sangat penting dalam menjalankan roda perekonomian suatu wilayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan perkembangan infrastruktur di Kota Sukabumi dan menganalisis pengaruh dari infrastruktur panjang jalan, listrik, air bersih, ranjang rumah sakit dan sekolah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi. Analisis ini menggunakan metode analisis regresi berganda berbasis OLS (Ordinary Least Square) dengan menggunakan data sekunder time series di Kota Sukabumi tahun 1990-2012. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai pengukuran output, panjang jalan (Km), jumlah energi listrik yang terjual (kWh), volume air bersih yang tersalurkan (m 3 ), jumlah ranjang rumah sakit yang tersedia ( unit) dan jumlah sekolah (unit). Hasil menunjukan bahwa berdasarkan model dalam analisis, infrastruktur jalan, listrik dan sekolah memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi.Sedangkan infrastruktur air bersih dan ranjang rumah sakit memberikan pengaruh yang positif dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi.Infrastructure is a driving wheel of economic growth. The availability of infrastructure became an important demand in running the economic w heel of an area. The purpose of this research was to explain the infrastructure developing and analyze the influence of long road, electricity, clean water, hospital bed and school to economic growth in Sukabumi. The analysis was used multiple regression analysis method with OLS (Ordinary Least Square)-based and time series secondary data in Sukabumi from 1990 to 2012. The variable that used in this research was Gross Domestic Regional Product (GDRP) as output measurement, the long road (Km), total of sold-electricity (kWh), the volume of accessed-clean water (m 3 ), total of available-hospital bed (unit) and total of school (unit). The result showed based on model analysis, the long road, electricity and school infrastructure gave a negative influence to economic growth in Sukabumi, whereas clean water and hospital bed infrastructure gave a positive influence and significant contribution to economic growth in Sukabumi

    Profitabilitas dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Energi Listrik Prabayar Sektor Rumah Tangga (Studi Kasus P.T. PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Bogor)

    No full text
    Sistem ketenagalistrikan merupakan salahsatu infrastruktur utama secara nasional yang mutlak dibutuhkan untuk mendukung optimalisasi kinerja sektor ekonomi rill. Oleh karenanya energi listrik merupakan suatu hal penting bagi masyarakat sebagai pelaku sektor ekonomi riil. Tanpa listrik masyarakat sulit beraktifitas. Jika masyarakat sulit beraktivitas maka kegiatan ekonomi akan terganggu. Keadaan ini tentunya memengaruhi pembangunan ekonomi Negara. P.T. PLN sebagai lembaga yang ditunjuk oleh negara sebagai penyedia listrik di Indonesia setiap tahunnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan hulu dan hilir untuk terus memperbaiki produksi dan pelayananan ketenagalistrikan di Indonesia. Salah satu kebijakan sektor hilir yang dikeluarkan oleh P.T. PLN adalah kebijakan program listrik prabayar. Bermula tahun 2002, ketika P.T. PLN dipimpin oleh direktur utama Edi Widiono, berdasarkan surat edaran Direksi P.T. PLN (Persero) No 035.E/012/DIR/2001, tanggal 31 Desember 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Multiguna Listrik Prabayar. Produk ini diperkenalkan ke publik dan diresmikan di tahun 2009 dengan Surat Direksi P.T. PLN (Persero) No.010809/532/DITJB/2009, tanggal 13 Februari 2009 perihal implementasi Listrik Prabayar, Keputusan Direksi P.T. PLN (Persero) No.300.K/DIR/2009, tanggal 23 Desember 2009 perihal Ketentuan Akuntansi Listrik Prabayar, surat Direksi P.T. PLN (Persero) No.001178/532/DITBMR/2010, tanggal 17 Februari 2010 perihal Implementasi Listrik Prabayar. Salah satu tujuan listrik prabayar adalah meminimumkan resiko akan pencurian listrik dan kesalahan catat meter oleh tenaga manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi permintaan, implementasi dan profitabilitas energi listrik prabayar. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dari kuisioner dan data sekunder dalam bentuk bulanan yang diperoleh dari P.T. PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten dalam periode waktu bulan Januari 2012 sampai dengan bulan Desember 2013. Studi kasus dilakukan di Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Observasi penelitian dilakukan di tingkat nasional, Provinsi Jawa Barat dan Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan: 1. analisis regresi linear berganda untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi permintaan listrik prabayar. 2. analisis net profit margin untuk mengetahui efisiensi profitabilitas listrik prabayar dan konvensional. Data bulanan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi penjualan listrik konvensional, penjualan listrik prabayar, biaya beban listrik, biaya pemakaian listrik dan biaya KVARH (Kilo volt ampere reactive hour). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi profitabilitas untuk listrik prabayar lebih rendah dibanding listrik konvensional. Ini berarti bahwa berdasarkan perhitungan profitabilitas net profit margin listrik konvensional lebih baik dari pada listrik prabayar. Dengan tingkat kepercayaan 95 % (α = 5 %) dan df = 94, diketahui variabel luas bangunan rumah dan jumlah alat yang menggunakan listrik adalah variabel yang signifikan memengaruhi permintaan listrik prabayar. Sedangkan variabel pendapatan, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan kepala keluarga dan jenis pekerjaan kepala keluarga tidak signifikan memengaruhi permintaan listrik prabayar

    Dampak Korupsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia (Studi Kasus: Mekanisme Dugaan Korupsi APBD di Pemerintah Provinsi Banten Tahun 2011).

    No full text
    Decentralization is marked with the announcement of Regulation Number 22 in 1999 about the Region Government, and Regulation Number 25 in 1999 about the Financial Proportion between Central and Region Government. But apparently there are lots of problems in the implementations, one of them is a lot of corruption cases are revealed, with lots of corruption suspects are the authorities in that region and the resource of corruption is the local budget. Finally, that may bring a negative impact for the region economic growth. The aims of this study are: (1) To analyze local budget corruption in the mechanism of rent seeking at Banten Province, (2) To analyze the impact of corruption for the regional economic growth in Indonesia. Result showed that there is a local budget corruption assumptions have been done by the executive and legislative persons with the cooperation with the third person in the local budget managing, that behavior is triggered by the high cost political system. Then the result of the data processing showed that the impact of corruption for the regional economic growth is negative and significant, which means the region economic growth should have been more higher than now. In that case, an effort should be done to increase the region economic growth by eliminating the corruption in Region/national level by starting to create a low budget political system

    Analisis Daya Saing dan Faktor yang Memengaruhi Ekspor Komoditi Terpilih Indonesia ke Developing Eight Countries (D-8).

    No full text
    Perdagangan internasional memegang peranan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Aktivitas perdagangan dilakukan oleh berbagai negara didunia dengan kesepakatan bersama dan dengan kegiatan transaksi atau tukar menukar barang dan jasa yang meliputi kegiatan ekspor dan impor. Usaha untuk meningkatkan aktivitas perdagangan menjadi proritas pemerintah terutama dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekspor. Strategi untuk meningkatkan ekspor diperlukan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang terjadi. Sasaran pasar ekspor Indonesia tersebar ke berbagai negara di dunia. Selama ini, pasar tujuan ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh kelompok mitra dagang utama yaitu China, Jepang, Amerika Serikat, India dan Singapura. Ketergantungan terhadap suatu pasar tertentu dapat berdampak negatif ketika terjadi krisis, sehingga perlu dilakukan suatu diversifikasi pasar tujuan ekspor serta pengembangan komoditi yang memiliki daya saing tinggi. Beberapa negara yang dapat menjadi pasar tujuan ekspor adalah negaranegara yang tergabung dalam Organisasi Developing Eight Countries (D-8). Organisasi ini terdiri dari delapan negara anggota yaitu Bangladesh, Iran, Indonesia, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Oleh karena itu dalam rangka diversifikasi pasar dan komoditi ekspor ke D-8, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi dan mengidentifikasi daya saing komoditi terpilih di pasar D-8 serta menganalisis faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari berbagai sumber seperti Trade Map, World Integrated Trade Solution (WITS), World Bank, Centre d’Etudes Prospectives et d’Informations Internationales (CEPII) dan World Trade Organization (WTO). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data panel yang terdiri dari data time series tahunan selama sepuluh tahun (2009-2018) dan data cross section yang terdiri dari negara anggota D-8 (Bangladesh, Malaysia, Mesir, Iran, Nigeria, Pakistan dan Turki). Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), Intra Industry Trade (IIT), Export Product Dynamics (EPD) serta estimasi faktor yang memengaruhi ekspor dengan model gravitasi yang terdiri dari variabel Gross Domestic Bruto (GDP), nilai tukar riil, harga ekspor, dan jarak ekonomi. Hasil analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) komoditi terpilih ekspor Indonesia ke D-8 tergolong tinggi dengan hasil nilai RCA lebih dari satu untuk sebagian besar komoditi, namun pada komoditi dan pasar tertentu menunjukkan nilai RCA yang rendah. Hasil analisis tingkat integrasi komoditikomoditi terpilih ekspor Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar perdagangan intra industri antara Indonesia dengan D-8 secara umum berada pada derajat integrasi satu arah (no integration). Namun pada komoditi dan negara tujuan tertentu menunjukkan hubungan perdagangan dua arah dan berada pada v derajat Integrasi yang lemah, sedang, dan kuat. Apabila dilihat dari hasil analisis EPD, menunjukkan posisi pasar yang bervariasi dengan hasil yang berbeda-beda yang menempati posisi rising star, falling star, lost opportunity dan retreat. Sepuluh komoditi terpilih yang dianalisis menggunakan model gravitasi berdasarkan nilai rata-rata ekspor tertinggi serta adanya kesinambungan dan ketersediaan data tiap negara pada komoditi tersebut selama kurun waktu sepuluh tahun periode penelitian. Kesepuluh komoditi tersebut yaitu Palm oil and its fractions, whether or not refined (excluding chemically modified) (HS 1511), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 3401), Industrial monocarboxylic fatty acids; acid oils from refining; industrial fatty alcohols (HS 3823), new pneumatic tires, of rubber (HS 4011), Uncoated paper and paperboard, of a kind used for writing, printing or other graphic purposes (HS 4802), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 1517), Oxygenfunction amino-compounds (HS 2922), Plates, sheets, film, foil and strip, of noncellular plastics, not reinforced, laminated (HS 3920), Refrigerators, freezers and other refrigerating or freezing equipment, electric or other; heat (HS 8418) dan Furniture and parts thereof, n.e.s. excluding seats and medical, surgical, dental or veterinary (HS 9403). Terdapat perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih Indonesia ke D-8 untuk masing-masing komoditi. Variabel GDP negara tujuan berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 1517, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011, dan HS 4802. Variabel nilai tukar riil berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 3823, HS 3920, HS 4011, HS 4802, HS 8418 dan HS 9403. Variabel harga berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 3401 dan HS 8418. Variabel jarak ekonomi berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011 dan HS 9403

    Export Demand Analysis of Indonesian Tunas in International Market.

    No full text
    Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan dan kelautannya. Laut Indonesia memiliki luas kurang lebih 3,1 juta km2 (perairan laut teritorial 0,3 juta km2 dan perairan nusantara 2,8 juta km2) dan perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas lebih kurang 2,7 juta km2 menyimpan banyak jenis ikan dan hasil perairan laut lainnya yang memiliki nilai ekonomis yang sangat penting. Ikan tuna sebagai komoditas ekspor perikanan kedua telah menyumbangkan devisa pada tahun 2006 sebesar US250.567jutaataunaiksebesar17,95persendarieksporikantunapadatahun2002yangmencapaiUS 250.567 juta atau naik sebesar 17,95 persen dari ekspor ikan tuna pada tahun 2002 yang mencapai US 212.426 juta. Ekspor ikan tuna Indonesia selama 25 tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan rata-rata yang positif dengan laju pertumbuhan rata rata volume sebesar 6.03persen dan 11.79 persen untuk laju pertumbuhan nilainya. Pasar ikan tuna terbesar di dunia saat ini adalah Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ekspor ikan tuna ke Jepang sebesar 27 persen, dan ke Amerika Serikat 17 persen sedangkan ke Uni Eropa juga cukup besar volume dan nilainya yaitu sebesar 12 persen (FAO,2006). Di kawasan ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara produsen ikan tuna setelah Thailand. Hal ini disebabkan perbedaan tingkat eksploitasi baik dari segi jumlah maupun teknologi penggunaan alat tangkap. Mengingat bahwa perairan Indonesia masih luas maka peluang untuk meningkatkan produksi masih besar dan itu berarti juga peluang untuk meningkatkan ekspor sebagai penambah devisa negara juga besar.The purpose of this paper is to empirically analyze the effect of the export demand to total export of Indonesian Tunas in international market and to knowing the characteristic from the three main Importir Countries: United States of America, Europian Union, amd Japan. Indonesia as a maritime nation has a big chance for being a big exportir of tunas to maintain economic stabilitation not only depended by oil and gas sector that tend to be depleted The methods which used in this paper is simultan equation model with three step least square. Result of this study is knowing the characteristics of Indonesian tuna export demand in the international market, which can become very important material for government and business actors in Indonesian tuna to take the best policy in order to increase the export of Indonesian tuna sustainably
    corecore