1,723,303 research outputs found
Penerjemahan Komunikatif dalam Kitab Miʾah Qiṣṣah Wa Qiṣṣah TahkῙha Liṭiflik Qabl Al-Naum Karya Muhammad Abdullah
Skripsi ini bertujuan untuk menerjemahkan cerita fabel Arab ke dalam bahasa Indonesia dalam kitab Miʾah Qiṣṣah Wa Qiṣṣah TahkῙha Liṭiflik Qabl Al-Naum karya Muhammad Abdullah dengan menggunakan penerjemahan komunikatif. Proses penerjemahannya yaitu menentukan data-data yang diklasifikasi menjadi beberapa kata, frasa dan klausa. Kemudian menerjemahkan secara harfiah dan memadankankan ke dalam penerjemahan komunikatif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: teknik menambahkan (ziyadah), teknik pengurangan (subtraction), teknik deskripsi (description), teknik mengedepankan dan mengakhirkan (taqdim takhir), teknik mengganti (mengganti) dan teknik literal. Hasil penelitian ini menemukan 31 data dengan kategori 7 kata, 16 frasa dan 8 klausa. Penelitian ini dijelaskan melalui sebuah pertanggungjawaban terjemahan yang menghasilkan karya terjemahan cerita fabel bahasa Arab-Indonesia
Etika Taṣawuf Santri: Studi Tentang Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Taṣawuf di Pondok Pesantren Daar El Fikri
Diskursus etika taṣawuf sesungguhnya telah muncul dan mencapai titik
klimak saat al-Ghazali memberikan signifikasi moral dari ajaran taṣawuf dalam
salah satu karyanya yaitu Mizānu al-?Amal. Keberhasilan ini adalah sebagai
bentuk positif karena telah memadukan antara etika dan taṣawuf.
Taṣawuf lebih diutamakan dari sudut pandang akhlaqi dan amali memlalui
studi kritis yaitu ajaran-ajaran taṣawuf yang dapat mendekatkan diri manusia
kepada Allah Swt. Bentuk konkritnya yaitu pengamalan melalui ibadah dan
akhlakul karimah.
Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui sisi teoritis berupa pemikiran dan
pemahaman etika taṣawuf di dalam komunitas masyarakat (santri) dan untuk
mengetahui aspek aksi (praktis) berupa pengamalan ajaran taṣawuf dalam
kehidupan sehari-hari santri. Pesantren menjadi objek penelitian karena memiliki
fungsi sebagai benteng moral bangsa, memiliki sistem pendidikan yang
menekankan aspek moral dan kental dengan nilai-nilai spiritual.
Hal ini didasarkan pada tujuan hidup manusia yaitu untuk mencapai
kebahagiaan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui ilmu dan amal.
Sehingga dalam penelitian ini etika taṣawuf dilihat dari dua sudut pandang yaitu
dimensi ilmu dan sistem nilai. Dilihat dari dimensi ilmu, etika taṣawuf sebagai
studi kritis terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran taṣawuf santri, apakah
sesuai dengan ajaran al-Qur?an dan Hadits atau tidak. Karena dikhawatirkan
pengamalan ajaran taṣawuf oleh santri terkesan dipaksakan dan menyimpang dari
ajaran Islam. Selain itu, etika taṣawuf setelah melalui berbagai penjelasan,
sehingga dapat menjadi sistem nilai yang menyakinkan sebagai solusi terhadap
tantangan zaman.
Penelitian ini dilakukan melalui studi lapangan (pondok pesanren).
Langkah-langkah penelitiannya melalui pengumpulan dan pengolahan data.
Pengumpulan data dilakukan melalui library research (studi kepustakaan),
participatory observation (terlibat dalam pengamatan) dan wawancara.
Pengolahan data melalui deskripsi, interpretasi, dan analisis. Metode ini
digunakan karena dipandang sesuai dengan objek penelitia
Tracing the Tracts of Qaṣaṣ: Towards a Theory of Narrative Pedagogy in Islamic Education
The concept of narrative holds a pivotal position in the Qurʾān, yet it has been subject to inadequate scrutiny and insufficient representation in pedagogical discourse concerning Islamic education. The present work endeavours to rectify this gap in knowledge by employing the technique of constructivist grounded theory to the Qurʾān and major exegeses, with a particular focus on the term qaṣaṣ, which pertains to the notion of narrative. This article delves into the profound tracts and maqāṣid (objectives) that qaṣaṣ hold in the Qurʾān and contemplates their exhortation for education on Islam and modern pedagogy. The analysis reveals that the qaṣaṣ present in the Qurʾān serves as a fundamental framework that directs the essence of the narrative pedagogy model of teaching and learning between the pedagogue and learner. Through typological figuration, the listener’s contemplation leads to a re-evaluation of conventional notions surrounding the dynamics between teacher and student and the dissemination of narrative within a pedagogical setting. The triad of truth, beauty and explication are fundamental pillars within this Islamic framework for narrative pedagogy, representing the essence of the human condition concerning education. Because these domains emerge from the concept of qaṣaṣ, the integration of the framework into Islamic education is a matter of utmost importance, given its centrality in the Qurʾān to foster and perfect the principles of Muslims and their sense of self
Aṣḥab al-Yamin dan Aṣḥab al-Syimal dalam al-Qun: Kajian Tafsir Tematik
Kehidupan adalah proses perjalanan hidup manusia yang sangat panjang. Sebagai ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna, manusia telah dibekali anugerah berupa akal pikiran. Hal ini menjadikan manusia menduduki derajat yang sangat tinggi dibandingkan makhluk hidup lainnya. Seperti, hewan dan tumbuhan. Namun, kehidupan manusia akan berakhir sirna setelah datangnya kematian. Amal perbuatan manusia menjadi kunci sukses atau gagal dalam menghadapi proses kehidupan setelah kematian, yaitu alam akhirat. Pada hari kiamat Allah Swt. akan memposisikan semua manusia ke dalam kelompok tertentu. Kelompok yang pertama, yakni aṣḥâb al-Yamîn adalah golongan kanan. Mereka akan selamat dan mendapatkan ganjaran berupa pintu surga. Sedangkan kelompok yang kedua yakni, aṣḥâb al-Syimâl adalah golongan kiri. Mereka akan mendapatkan akan celaka dan mendapatkan ganjaran berupa siksa api neraka.
ketika melihat realitas kehidupan saat ini, banyak sekali manusia yang seolah tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik. Banyaknya perbuatan buruk yang di lakukan oleh manusia dikarenakan sebagian manusia lainnya tidak saling berpesan dan saling menasihati tentang kebaikan dan kebenaran. Sehingga manusia mudah tergoda dan terjerumus dengan kenikmatan duniawi, seperti harta, jabatan, pergaulan, kedudukan, tata cara berpakaian dan lain-lainnya. Hal ini akan mengakibatkan manusia masuk ke dalam limbah dosa kecil maupun besar. Manusia yang mampu mengendalikan sikap dan perbuatan dalam berbagai hal, niscaya, dia akan selamat serta mendapatkan kebahagiaan saat hari akhir nanti.
Dalam menyusun Skripsi ini, penulis menemukan beberapa hasil penelitian terhadap makna aṣḥâb al-Yamîn dan aṣḥâb al-Syimâl dalam al-Qur?an yang dijelaskan secara mendalam oleh para mufasir. Seperti yang tercantum dalam surah al- i?a a a 8-9, bahwa yang dimaksud dengan aṣḥâb al-Yamîn adalah oarang-orang yang menerima catatan amal mereka dari sebelah kanan, kemudian berjalan menuju arah kanan dan mereka adalah penghuni surga. Sedangkan aṣḥâb al-Syimâl adalah orang-orang yang menerima catatan amal mereka dari sebelah kiri, kemudian berjalan ke arah kiri dan mereka adalah penghuni nereka. Selanjutnya, pada surah al-Balad ayat 17-20 dijelaskan bahwa aṣḥâb al-Yamîn adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan beramal ṣâlih, sedangkan aṣḥâb al-Syimâl adalah orang-orang kafir dan mengingkari ayat-ayat Allah Swt. serta menutupi kebenaran ajaran Rasulny
Hadis-hadis dalam Kitab Durrat al-Nāṣiḥīn
One of the traditions in the Muslim community is reading or studying the Kitab Kuning (classical Islamic texts). There are quite a variety of Kitab Kuning that are read in pesantren (Islamic boarding schools) or study groups, one of which is the book Durrat al-Nāṣiḥīn. This text is a summary of the author?s dissertation at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) titled A Study of Hadith in the Book Durrat al-Nāṣiḥīn
Aplikasi Pemikiran Muḥammad Syahrur dalam Upaya Kontekstualisasi Kisah Qarun Surah al-Qaṣaṣ/28: 76-84
Sebagian para mufassîr, beranjak dari menafsirkan satu ayat dengan ayat
lainnya yang lazim disebut sebagai metode tafsir bi al-ma?tsur, juga menafsirkan
melalui analisis kebahasaan. Pendekatan model semacam ini merupakan
penafsiran tekstual. Dalam hal ini, metode periwayatan mempunyai peran yang
sangat penting dalam proses penarikan makna. Berkenaan dengan penafsiran
tekstual, Umar Shihab berpendapat bahwa model penafsiran tersebut adalah kajian
al-Qur?an yang tidak berjalan secara hitam-putih, yaitu teks berjalan sendiri tanpa
diiringi dengan konteks penerapannya. Menurut Umar Shihab, antara teks suatu
ayat dengan konteks penerapannya dalam suatu lingkungan sosial merupakan dua
hal yang tidak bisa dipisahkan.
Penelitian ini ingin mengetahui pentingnya pendekatan kontekstual dalam
penafsiran ayat-ayat dengan mengamati bagaimana penafsiran kisah Qarun oleh
para mufasir Indonesia dan bagaimana penafsiran kontekstual menurut metode
takwil Syaḥrûr dalam menafsirkan kisah Qarun Surah al-Qaṣaṣ: 76-84. Dari
penafsiran-penafsiran yang sudah ada sebelumnya, melalui penelitian ini penulis
ingin memberikan alternatif penafsiran baru di Indonesia atas penafsiran kisah
Qarun Sûrah al-Qaṣaṣ: 76-84 oleh para mufasir tanah air sebelumnya.
Sedangkan jika dikaji melalui metode takwil Syaḥrûr, penafsiran kisah
Qarun menjadi lebih mudah untuk dipahami karena memindahkan fenomena
perilaku Qarun dan para pengikutnya pada masa itu ke dalam fenomena kekinian
yang dalam kesadaran penulis memiliki keserupaan, sehingga dalam
menyimpulkan kandungan makna ayat-ayat tersebut relatif lebih mudah untuk
dipahami oleh masyarakat. Misalnya tentang peran orang-orang berilmu yang
seharusnya menjadi juru pengingat dan penyeimbang dari pelaku kebatilan
sebagaimana dicontohkan QS. Al-Qaṣaṣ: 80, berbanding terbalik dengan
fenomena di Indonesia yang mana banyak orang-orang berilmu lebih
mementingkan kepentingan pribadi dan juga merugikan banyak orang. Dalam hal
ini, penulis memosisikan ayat-ayat kisah Qarun sebagai teori berbentuk narasi dan
memosisikan fenomena kekinian sebagai contohnya. Penjelasan suatu teori yang
disertai dengan contohnya akan dapat menjadikan pembaca atau pun pendengar
akan lebih mudah dalam memahami teori tersebu
Otoritas hadis palsu: perdebatan metodologis antara ahli hadis dan ahli uṣul (kajian atas hadis-hadis masyhur di dalam kitab uṣul)
Periwayatan dengan makna telah melahirkan polemik tersendiri di kalangan ahli hadis, di mana keotentikan redaksi hadis menjadi perkara yang sangat krusial di kalangan mereka. Selain itu periwayatan dengan makna juga melahirkan distingsi metodologis antara kalangan ahli hadis dan ahli uṣul. Meskipun kedua komunal ini memiliki domain dan segmen kajian yang berbeda, dimana ahli hadis lebih kepada kajian akurasi hadis dan ahli uṣul lebih kepada kajian penggalian hukum dari hadits, akan tetapi kedua komunal ini memiliki perbedaan dalam menimbanng keakuratan hadis. Perbedaan ini dapat dilihat pada hadis-hadis masyhur yang digunakan oleh kalangan ahli uṣul dalam membangun legitimasi keabsahan kaidah-kaidah uṣul di dalam kitab-kitab mereka, di mana hadis-hadis tersebut diduga kuat palsu oleh kalangan ahli hadis. Instrumen kajian yang digunakan dalam rangka membuktikan klain di atas yaitu melalui kajian pustaka dalam rangka mengungkap metodologi keduanya. Ahli hadis lebih menitik beratkan pada kajian sanad dengan kitab-kitab rijāl al-hadiṭh, sebagai perangkat penelitian sehingga dapat ditemukan keotentikan atau tidaknya sebuah hadis. Sedangkan dalam mengungkapkan metodologi kalangan ahli uṣul yaitu dengan melihat sejauh mana keabsahan hadis-hadis masyhur tersebut diterapkan untuk menggali persoalan-persoalan fiqh di dalam kitab-kitab mereka. Pendekatan interpretatif dari makna hadis tersebut memberikan kesimpulan sejauh mana legalitas dan keabsahan hadis tersebut di kalangan ahli uṣul. Temuan yang didapat bahwa terdapat hadis-hadis masyhur dikalangan ahli hadis tidak ditemukan secara literal di dalam kitab-kitab hadits induk. Di antara hadis hadis tersebut dianggap palsu oleh kalangan ahli hadis akan tetapi ternyata memiliki legalitas sebagai dasar kaidah oleh kalangan ahli uṣul. Hal ini dilatarbelakangi karena ahli uṣul lebih menekan aspek substansi dari hadis tersebut bukan pada literal riwayat, di mana secara substansi hadis-hadis yang dianggap palsu tersebut terdapat ayat Al-Quran atau hadis yang otoritatif untuk melegitimasi makna hadis tersebut. Sehingga meskipun hadis yang digunakan dianggap palsu akan tetapi tetap memiliki legalitas di kalangan ahli uṣul
Maṣlaḥa and the Purpose of the Law
Focusing on writings of legal theory by leading jurisprudents from al-Jaṣṣāṣ (d. 370/980) to al-Shāṭibī (d. 790/1388), this study traces the Islamic discourse on legal change. It looks at the concept of maṣlaḥa (people?s well-being) as a method of extending and adapting God?s law, showing how it evolves from an obscure legal principle to being interpreted as the all-encompassing purpose of God?s law
Kausalität in der Mu'tazilitischen Kosmologie : das Kitāb al-Mu'aththirāt wa-miftāḥ al-mu?kilāt des Zayditen al-Ḥasan ar-Raṣṣāṣ (st. 584/1188)
The importance of Zaydī sources for historical research on Muʿtazilī theology is generally acknowledged since the spectacular discoveries of unique manuscripts in Yemen in the 1950s. Yet the knowledge transfer and adoption of Muʿtazilī thought by the Yemeni Zaydiyya still remain an understudied field. Al-Ḥasan ar-Raṣṣāṣ (d. 1188) was one of the main promoters of Muʿtazilism in 6th/12th century Yemen. His works mainly focus on natural philosophy and include a systematic treatise on causality which is comprehensively examined and critically edited in this volume. The present study gives insight into a fascinating chapter of Islamic intellectual history and offers the first analysis of a Muʿtazilī theory of causality
Pleasure and Poetics as Tools for Transformation in Aśvaghoṣa’s mahākāvya
Why does Aśvaghoṣa (c. second century C.E.), the first known author of a Buddhist literary work, choose a literary genre (mahākāvya) with erotic scenes and elaborate poetic language to present the truth that leads to liberation? This question, which has puzzled and fascinated scholars since the first known translations of Buddhacarita and Saundarananda, is often answered by turning to a statement Aśvaghoṣa makes, which suggests that such methods are necessary to reach his worldly audience, who are interested only in pleasure and not liberation. Dismissed as mere sugarcoating for “the bitter truth” of the Buddhist doctrine, the impact of the pleasures and poetics of Aśvaghoṣa’s work upon the reader has rarely been explored. Methods emphasizing a hermeneutic approach to scholarship, focused on interpreting what such works have to say, has meant less attention to what these works do to transform readers (their poetics). However, new attention to the literary aspects of Aśvaghoṣa’s mahākāvya, a genre of long-form narrative literature known for its poetic features, as well as recent scholarship on the Sanskrit courtly culture for which it was produced, suggest pleasure is a central feature. In this article I argue that comparative analysis of the dramatic structure of Buddhacarita and Saundarananda demonstrates that Aśvaghoṣa uses his ability as a dramatist to employ rasa, pleasurable aesthetic experiences, staged to gradually transform the minds of readers. I argue that as the plots of Buddhacarita and Saundarananda unfold, and the Buddha and his brother Nanda go from erotic and ascetic scenes to the sites of liberation, readers are engaged and moved in ways that refine their perceptions, introducing forms of concentration and insight not unlike the Buddhist practices depicted in these works
- …
