1,723,312 research outputs found

    Memahami Pengamalan Hadis Ṣaḥīḥ tentang Ilzāq

    No full text
    Skripsi ini bersifat deskiptif, yaitu mendeskripsikan hukum wajib yang dimaksudkan dalam mengamalkan hadis ṣaḥīḥ, hal ini dilakukan untuk memberikan penjelasan bahwa tidak semua hadis ṣaḥīḥ berhukum wajib untuk diamalkan. Ada beberapa hadis ṣaḥīḥ yang tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam suatu ibadah dengan beberapa alasan, yaitu hadis ṣaḥīḥ yang tidak mengandung nilai syariat. Hadis ṣaḥīḥ yang mempunyai kandungan hukum sunnah, juga tidak wajib pula untuk diamalkan. Selain itu, hadis ṣaḥīḥ tidak wajib diamalkan jika hukumnya telah dihapus dengan hukum yang lain, dan atau hadis tersebut merupakan hadis yang ikhtilāf. Adapun maksud dari wajibnya mengamalkan hadis ṣaḥīḥ adalah wajib menggunakannya sebagai dalil atau landasan suatu ibadah. Untuk membuktikan hal tersebut, saya menjelaskan tentang praktek menempelkan pundak, lutut dan kaki dalam salat jamaah untuk upaya merapatkan barisan salat jamaah. Meskipun hal tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhārī yang sudah dapat dipastikan hukum ṣaḥīḥ nya, tetapi hadis ini tidak diamalkan oleh sebagian orang. Penelitian tentang ketidak diamalkannya hadis tersebut didasarkan pada beberapa penjelasan ulama pensyarah hadis seperti Imam al-Bukhārī, al-Qasṭalānī, Ibn Baṭāl dan yang lainnya tentang hadis ini bahwa praktek tersebut tidak dilakukan oleh umat Islam, bahkan jika ada yang melakukannya akan menjadikan orang lain menjauhinya. Penelitian ini juga dilengkapi dengan pembacaan ulang atas isi kandungan hadis tersebut dengan melakukan pendekatan kebahasaan, yaitu dengan memahami bentuk kata yang digunakan dalam matan hadis tersebut dan juga dengan metode pengumpulan hadis-hadis setema dengan tujuan agar mendapat pemahaman yang menyeluruh. Dengan metode tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa meski hukum mengamalkan hadis ṣaḥīḥ adalah wajib sesuai ijmā? ulama tetapi kewajiban tersebut bukanlah kewajiban yang kaku, artinya tidak semua hadis ṣaḥīḥ wajib untuk diamalkan, tetapi ada beberapa hadis ṣaḥīḥ yang hukum pengamalannya menjadi tidak wajib, salah satunya adalah menempelkan pundak, lutut dan kaki pada saat salat jamaah. Meski hal tersebut dijelaskan dalam hadis ṣaḥīḥ dan merupakan suatu syariat dari Nabi saw. namun hal tersebut tidak wajib untuk dilakukan karena pada dasarnya hukum melakukannya adalah sunnah, hal itu tidak akan berubah menjadi berhukum wajib untuk diamalkan hanya karena praktek tersebut dijelaskan dalam hadis ṣaḥīḥ. Kewajiban untuk mengamalkan hadis ṣaḥīḥ ini adalah kewajiban menggunakannya sebagai dalil atau landasan suatu perbuatan atau ibadah

    Doktrin kenabian dalam Aḥmadiyyah

    No full text
    Aḥmadiyyah yang mengaku sebagai gerakan Islam yakni sebuah perkumpulan atau organisasi Islam memunyai doktrin yang cukup berbeda dengan Islam mainstream. Aḥmadiyyah Qadian, gerakan agama ini dirintis oleh Mirzā Ghulām Aḥmad di India, didirikan pada tahun 1889 M. Sedangkan menurut Aḥmadiyyah Lahore pada tahun 1888 M. Kemunculannya adalah sebagai reaksi terhadap kemunduran Islam di pelbagai bidang (sosial, politik, ekonomi dan keagamaan) di India. Dalam perkembangannya Aḥmadiyyah terbagi menjadi dua aliran yakni aliran Qadian dan Lahore. Aḥmadiyyah memunyai perkembangan yang cukup pesat di dunia, mereka cukup aktif dalam menyebarkan dakwah Islam dan pembangunan sosial. Aḥmadiyyah yang dipimpin oleh Mirzā Ghulām Aḥmad memunyai paradigma tersendiri tentang doktrin-doktrin yang ada dalam Islam. Kenabian misalnya, dalam pandangan Aḥmadiyyah masih berlangsung. Paham Aḥmadiyyah tentang kenabian ini adalah konsekuensi dari konsep al-Mahdī dan al-Masīḥ yang dimilikinya. Menurut Aḥmadiyyah al-Mahdī yang dijanjikan Tuhan kedatangannya di akhir zaman adalah Mirzā Ghulām Aḥmad, pemberitaan ini didapati dari wahyu yang diperoleh Mirzā Ghulām Aḥmad. Selain itu Aḥmadiyyah memiliki keyakinan bahwa ?Īsā Ibnu Maryam itu sudah wafat dan Mirzā Ghulām Aḥmad ditunjuk Tuhan menyandang namanya (datang dalam spiritnya). Jadi, Mirzā Ghulām Aḥmad menurut orang-orang Aḥmadiyyah adalah al-Mahdī yang dinantikan dan al-Masīḥ yang dijanjikan. Al-Mahdī dan al-Masīḥ adalah satu personal dan itu terwujud pada diri Mirzā Ghulām Aḥmad. Keyakinan Aḥmadiyyah tentang wafatnya Nabi ?Īsā ini berimplikasi pada pengklaiman Mirzā Ghulām Aḥmad sebagai nabi. Dari sinilah kemudian Mirzā Ghulām Aḥmad yang sebelumnya mengaku dirinya sebagai mujaddid, lalu al- Mahdī yang dinantikan kedatangannya, merasa menerima wahyu dari Tuhan bahwa dirinya adalah ?Īsā al-Masīḥ yang dijanjikan. Dan akhirnya Mirzā Ghulām Aḥmad mengaku dirinya diangkat Allah sebagai nabi dan rasul berdasarkan wahyu yang diperolehnya itu. Menurut Aḥmadiyyah pintu kenabian masih terbuka dan akan tetap terbuka sampai hari kiamat. Jadi, nabi-nabi akan terus diturunkan Allah ke dunia. Namun nabi yang akan diturunkan adalah nabi yang tidak membawa syariat baru, dan untuk nabi pembawa syariat baru hal itu sudah tertutup dengan ditugaskannya Nabi Muḥammad saw ke dunia. Mirzā Ghulām Aḥmad selain menyandang gelar al-Mahdī dan al-Masīḥ, nabi dan rasul juga merupakan bayangan (ẓilli) kenabian dari Nabi Muḥammad saw. Konsep kenabian yang berbeda ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur?ān dan Ḥadīts. Konsekuensi dari doktrin ini adalah setiap orang yang tidak mengakui Mirzā Ghulām Aḥmad sebagai nabi, menurut Aḥmadiyyah bukan Muslim. Karena kepercayaan kepada Mirzā Ghulām Aḥmad sebagai nabi dalam pandangan Aḥmadiyyah adalah prasyarat menjadi Muslim

    Pendekatan al-Maṣlaḥaḥ al-Mursalah dalam Fatwa MUI tentang Pernikahan Beda Agama

    No full text
    Pendekatan al-Maṣlaḥaḥ al-Mursalah dalam Fatwa MUI tentang Pernikahan Beda Agama. Artikel ini engkaji konsep al-maṣlaḥaḥ al-mursalah dan kaitannya argumen lahirnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai pelarangan bagi Muslim menikah dengan non Muslim. Khusus terhadap Ahl al-Kitāb, tidak ditemukan teks Alquran secara eksplisit yang melarang pernikahan pria Muslim dengan wanita Ahl al-Kitāb. Fatwa MUI tersebut mendapat penilaian oleh sebagian pihak sebagai fatwa yang sarat dengan pertimbangan politis

    Penafsiran Modern Ayat-Ayat Waris: Studi Perbandingan Muḥammad Shaḥrūr Dan Munawir Sjadzali

    No full text
    Penelitian ini mendiskusikan wacana waris yang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur?an menurut penafsir modern, Muḥammad Shaḥrūr dengan Munawir Sjadzali. Kedua penafsir ini diangkat karena keduanya dapat dianggap telah berusaha dalam konteksnya masing-masing untuk menjawab munculnya sikap ambigu dalam mengimplimentasikan hukum waris dari kalangan masyarakat muslim. Pokok masalah yang menjadi bahasan dalam skripsi ini adalah: pertama, bagaimana penafsiran Muḥammad Shaḥrūr dan Munawir Sjadzali terhadap ayatayat waris dalam al-Qur?an? Kedua, bagaimana relevansi penafsiran Muḥammad Shaḥrūr dan Munawir Sjadzali pada konteks waris di Indonesia?. Teknik penggalian data pada penelitian ini menggunakan motode analisiskomparatif (analytical-comparative method), yaitu memaparkan penafsiran ayatayat waris, pertama, menurut Muḥammad Shaḥrūr dalam karyanya Metodologi Fiqih Islam Kontemporer dan Prinsip dan Dasar Hermeneutika al-Qur?an Kontemporer. Kedua, Munawir Sjadzali dalam karyanya Reaktualisasi Ajaran Islam dan Ijtihad Kemanusiaan. Kajian komparatif terhadap keduanya diharapkan menemukan interpretasi baru terhadap ayat-ayat waris. Dari hasil penelitian diketahui Muḥammad Shaḥrūr memahami dan mengaplikasikannya dengan cara yang berbeda dengan pendapat dan konsep, seperti terlihat pada ?empat pola perhitungan klasik? (al-amalīyāt al-arba? fī al- ḥisāb) maupun pada aspek sosial, seperti konsep patrilinialisme dalam masyarakat dan semangat kekeluargaan dan kesukuan yang menjadi patokan pembagian harta warisan pada abad lalu ataupun pada aspek politik, seperti tumpangtindihnya konsep hukum waris yang mencampuradukkan antara kepemilikan, hukum dan otoritas kenabian. Dari sini ada relevansi yang cukup jelas antara teori batas yang digagas oleh Shaḥrūr dan upaya pembaharuan hukum Islam yang diharapkan tumbuh berkembang berkeadilan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Sedangkan Sjadzali mengembangkan konsep waris yang terdapat dalam al- Qur?an, untuk mencari relevansi ajaran Islam dengan perkembangan zaman, khususnya dalam konteks Indonesia Modern. Mengingat al-Qur?an bersifat multidimensional, sebagai hudan li al-nas,konsep hukum waris Sjadzali, memiliki nilai tersendiri yaitu dengan mengajarkan prinsip persamaan sebagaima pembagian laki-laki dua kali lipat lebih besar dari perempuan tidak lagi relevan. Ia juga tidak menjelaskan pembagian waris yang memiliki garis ke atas secara memadai. Hal ini karena Sjadzali hanya melihat dari sisi historisitas kedaearahan sebagai wujud kelahiran konsep pembagian waris 1:1 miliknya, tanpa memperhatikan aspek lainnya seperti Ahli Waris dan Pewaris

    Melacak keterpengaruhan madzhab fiqih Ibn Rajab dalam Kitab Fatḥ Al-Bārī

    No full text
    Skripsi ini, hendak membuktikan keterpengaruhan madzhab fiqih dalam Sharḥ hadis. Hal ini, dilandasi dari sejarah hubungan antara sharḥ hadis dan fiqih pada abad ketiga sampai abad ketujuh dan Ibn Rajab merupakan pen-sharḥ hadis periode itu. Penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan atau library research dengan menggunakan metode diskriptif-analisis. Menggunakan sumber-sumber yang ada, kemudian menjelaskan bagaimana Ibn Rajab memahami hadis-hadis hukum. Kemudian, melakukan analisa terhadap konten pemahaman hadisnya dan pelacakan terhadap pendapat-pendapat yang dikutipnya. Penelitian ini, difokuskan terhadap kitab Fatḥ al-Bārī yang merupakan kitab sharḥ kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī untuk membuktikan adanya pengaruh madzhab fiqih atau tidak dalam pen-sharḥ-annya. Penulis membatasi penelitian ini dengan mengambil tiga sample hadis, yaitu: hadis tentang adzan sebelum fajar, hadis tentang posisi tangan saat takbir dan hadis tentang menangis ketika shalat. Dengan melihat sharḥ hadisnya, penulis melakukan analisa konten sharḥnya dan menelusuri madzhab ulama yang dikutip di dalamnya. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa latar belakang madzhab mempunyai pengaruh terhadap pemahaman hadis seorang pen-sharḥ. Dalam hal ini, diketahui bahwa Ibn Rajab terpengaruh terhadap madzhab Ḥanbali. Hal ini, bisa dilihat dari konten hadisnya yang lebih fokus terhadap pendapat-pendapat Imam Aḥmad dibanding pendapat Imam-imam madzhab yang lain. Selain itu, ulama-ulama yang dikutip dalam kitabnya mayoritas merupakan ulama madzhab Ḥanbali. Walaupun Ibn Rajab terpengaruh dengan madzhabnya, tapi tidak menunjukan bahwa dia fanatik yang berlebihan

    Hadis-hadis dalam Kitab Durrat al-Nāṣiḥīn

    No full text
    One of the traditions in the Muslim community is reading or studying the Kitab Kuning (classical Islamic texts). There are quite a variety of Kitab Kuning that are read in pesantren (Islamic boarding schools) or study groups, one of which is the book Durrat al-Nāṣiḥīn. This text is a summary of the author?s dissertation at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) titled A Study of Hadith in the Book Durrat al-Nāṣiḥīn

    Aṣḥab al-Yamin dan Aṣḥab al-Syimal dalam al-Qun: Kajian Tafsir Tematik

    No full text
    Kehidupan adalah proses perjalanan hidup manusia yang sangat panjang. Sebagai ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna, manusia telah dibekali anugerah berupa akal pikiran. Hal ini menjadikan manusia menduduki derajat yang sangat tinggi dibandingkan makhluk hidup lainnya. Seperti, hewan dan tumbuhan. Namun, kehidupan manusia akan berakhir sirna setelah datangnya kematian. Amal perbuatan manusia menjadi kunci sukses atau gagal dalam menghadapi proses kehidupan setelah kematian, yaitu alam akhirat. Pada hari kiamat Allah Swt. akan memposisikan semua manusia ke dalam kelompok tertentu. Kelompok yang pertama, yakni aṣḥâb al-Yamîn adalah golongan kanan. Mereka akan selamat dan mendapatkan ganjaran berupa pintu surga. Sedangkan kelompok yang kedua yakni, aṣḥâb al-Syimâl adalah golongan kiri. Mereka akan mendapatkan akan celaka dan mendapatkan ganjaran berupa siksa api neraka. ketika melihat realitas kehidupan saat ini, banyak sekali manusia yang seolah tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik. Banyaknya perbuatan buruk yang di lakukan oleh manusia dikarenakan sebagian manusia lainnya tidak saling berpesan dan saling menasihati tentang kebaikan dan kebenaran. Sehingga manusia mudah tergoda dan terjerumus dengan kenikmatan duniawi, seperti harta, jabatan, pergaulan, kedudukan, tata cara berpakaian dan lain-lainnya. Hal ini akan mengakibatkan manusia masuk ke dalam limbah dosa kecil maupun besar. Manusia yang mampu mengendalikan sikap dan perbuatan dalam berbagai hal, niscaya, dia akan selamat serta mendapatkan kebahagiaan saat hari akhir nanti. Dalam menyusun Skripsi ini, penulis menemukan beberapa hasil penelitian terhadap makna aṣḥâb al-Yamîn dan aṣḥâb al-Syimâl dalam al-Qur?an yang dijelaskan secara mendalam oleh para mufasir. Seperti yang tercantum dalam surah al- i?a a a 8-9, bahwa yang dimaksud dengan aṣḥâb al-Yamîn adalah oarang-orang yang menerima catatan amal mereka dari sebelah kanan, kemudian berjalan menuju arah kanan dan mereka adalah penghuni surga. Sedangkan aṣḥâb al-Syimâl adalah orang-orang yang menerima catatan amal mereka dari sebelah kiri, kemudian berjalan ke arah kiri dan mereka adalah penghuni nereka. Selanjutnya, pada surah al-Balad ayat 17-20 dijelaskan bahwa aṣḥâb al-Yamîn adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan beramal ṣâlih, sedangkan aṣḥâb al-Syimâl adalah orang-orang kafir dan mengingkari ayat-ayat Allah Swt. serta menutupi kebenaran ajaran Rasulny

    Menilai Keadilan Perawi Pro Mu'awiyyāh Dalam Perang Siffin Kajian Kitab Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī

    No full text
    Skripsi ini bersifat Peninjauan ulang dan pembuktian sejarah yang berkaitan dengan keadilan para perawi dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Penelitian terdahulu, yang memperdebatkan dugaan tentang keberpihakan para perawi sebagai penyebab pemalsuan hadits, dan menurut tuduhan itu Ṣaḥīḥ al-Bukhārī termasuk dalam yang diperdebatkan karena melakukan hal yang sama. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa selektifitas yang dilakukan oleh al-Bukhārī bisa dipertanggungjawabkan dalam hal ini, akan ditempuh melalui dua hal: pertama, penelitian tentang keadaan para perawi, yang bisa disebut dengan penelitian rijal. Dan kedua penelitian sejarah yang berguna mengungkapkan bagaimana rekam jejek yang bisa dilihat dari semua aspek. Dengan menggunakan dua jalan diatas, telah mengantarkan penelitian bahwa Ṣaḥīḥ al-Bukhārī telah melakukan hal yang maksimal dalam memasukan semua periwayat yang ada di jalan sanad. Penelitian ini tergolong kategori penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan kaidah-kaidah Jarh wa Ta?dīl melalui, Ma?rifah ast-Stiqāt, Mizān al-I?tidāl fī Naqd ar-Rijāl, dan Tahdīb at-Tahdīb. Penelusuran ini dapat membantu mengetahui tentang penailain para ulama terdahulu terhadap para perawi. Dan bagian yang terpenting adalah kitab yang akan diteliti yaitu kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Selain itu, ada data sejarah yang bisa membantu tentang dominasi para prawi yang melakukan dukungan data dari Sahabat Nabi Saw, Siapa Kemana dan Bagaimana, Akhbār ad- Dual wa Ātsār al-Uāl fī at-Tarīkh, Tarikh al-khulāfah, Al-Kāmil fi al-Tārīkh, al- Bidāyah wa al-Nihāyah yang bisa melacak tentang keterlibatan para perawi dalam melakukan reaksi mereka terhadap perkembangan yang terjadi. Sebagian sumber yang disebutkan ini adalah sebagai metode menilai kembali tentang ketelitian yang dilakukan oleh kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, sebagai pembuktian bahwa kitab ini adalah kitab terbaik setelah al-Quran

    Konsep Maḥabbah dan Zuhd Abd al-Qadir al-Jilani dalam Kitab al-Fatḥ al-Rabbani

    No full text
    Tasawuf merupakan jalan yang ditempuh seseorang hamba untuk mencapai kepada Tuhannya. Dimana ia akan menuju kepada kehidupan yang lebih baik yang sesuai dengan kehendak dan pilihan-Nya. Manusia yang mencintai Tuhannya akan berusaha mendekatkan diri dan berharap akan kembali serta bertemu dengan-Nya di akhirat nanti. Manusia yang mencintai Tuhannya dan menginginkan selalu dekat dengan-Nya tidak akan bisa apabila dalam hatinya masih ada makhluk dan syahwat terhadap dunia yang dapat mengahalanginya untuk selalu dekat dengan Tuhannya. ia harus terbebas dari makhluk dan gemerlapnya dunia. Zuhud adalah jalan manusia untuk bisa membebaskan diri dari makhluk dan hasrat dunia. Manusia harus sekuat tenaga untuk mengeluarkan dari hatinya segala sesuatu yang menjadi bagian dunia yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Serta memerintahkan jiwanya untuk menghilangkan semua itu. Dalam skripsi ini akan membahas Konsep Maḥabbah dan Zuhd ?Abd al-Qādir al-Jilānī dalam Kitab al-Fatḥ al-Rabbānī. ?Abd al-Qādir al-Jilānī memberikan penjelasan bahwa Maḥabbah atau cinta kepada Allah adalah cinta yang tulus tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan serta Ridha terhadap semua kehendak Allah dan berlapang dada menerima Qadha dan Qadhar-Nya yang sudah ditetapkan kepada seorang hamba dengan meyerahkan seluruh jiwa, harta, dan kesudahannya hanya kepada Allah. Serta mengikuti ajaran Rasulullah dan para wali. Kemudian konsep Zuhd yang didasarkan atas rasa cinta atau Maḥabbah. Zuhd menurut ?Abd al-Qādir al- Jilānī adalah anugrah yang baik. Dari ber-zuhd manusia bisa mengendalikan dirinya dari dunia dan menjadikan dunia tetap berada di belakangnya dan tidak membiarkan menguasai dirinya dengan cara menghilangkan apapun yang selain Allah dari hatinya seperti hasrat dunia dan makhluk. Kemudian mensyukuri nikmat, serta menghindari makanan yang haram demi tetap menjaga kebersihan hatinya agar mudah dalam mengingat-Nya. Dengan penjelasan di atas diharapkan manusia mampu membebaskan dirinya dari hal-hal yang dapat menghalanginya untuk menuju kepada Tuhanny

    " Muḥīṭ al-Tavārīkh (The Sea of Chronicles) " 13-Feb-14

    No full text
    This study provides a critical edition of chapters nine and ten of Muḥīṭ al-tavārīkh (The Sea of Chronicles) by Muḥammad Amīn b. Mīrzā Muḥammad Zamān Bukhārī (Ṣūfīyānī). Muḥīṭ al-tavārīkh is a valuable source for the study of late seventeenth-century Central Asian history, historiography, and language
    corecore