1,721,469 research outputs found
Pendugaan heritabilitas sifat ketahanan terhadap hama Aphid (Aphis craccivora Koch) pada kacang panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) hasil persilangan HS x MLG 15151 dan PS x MLG 15151
Keberhasilan program pemuliaan tanaman dengan seleksi sangat ditentukan oleh adanya beberapa informasi awal sebelum seleksi dilakukan. Informasi tersebut antara lain meliputi tingkat keragaman genetik, heritabilitas, peran gen, nilai daya pewarisan, korelasi antar sifat dan kemajuan genetik harapan pada populasi tanaman yang ditangani (Haryono, 1991).Populasi dengan heritabilitas tinggi memungkinkan dilakukan seleksi secara efektif. Sebalikya populasi dengan heritabilitas yang mendekati nol berarti pekerjaan seleksi tidak akan banyak berarti. Hal itu karena adanya pengaruh lingkungan terhadap ekspresi fenotipe dan pengurangan karakter gen yang sangat besar. Walaupun demikian selama masih ada keragaman genetik maka perkembangan lebih lanjut dari program pemuliaan tanaman masih dapat diharapkan.
Serangan Aphis craccivora terhadap tanaman kacang panjang sering menjadi hama utama pada kacang panjang yang dapat menurunkan produksi sampai 65,87% (Prabaningrum, 1999). Oleh karena itu untuk meningkatkan nilai ekonomi dari varietas kacang panjang yang mempunyai sifat produksi tinggi tetapi tidak tahan terhadap serangan Aphis craccivora menjadi varietas kacang panjang yang mempunyai sifat produksi tinggi sekaligus tahan terhadap serangan Aphis craccivora dapat dilakukan dengan menyilangkan 2 tetua yang satu mempunyai sifat tahan terhadap Aphis craccivora tetapi produksi rendah dan yang lainnya mempunyai sifat rentan terhadap Aphis craccivora tetapi produksinya tinggi. Selajutnya proporsi gen sifat ketahanan terhadap Aphis craccivora yang dapat diwariskan kepada keturunannya dari pasangan persilangan diatas dapat diketahui dengan menghitung nilai heritabilitas baik dalam arti luas maupun dalam arti sempit. Dengan mengetahui nilai heritabilias baik dalam arti luas maupun dalam arti sempit pasangan persilangan tersebut, dapat dijadikan pendukung untuk menentukan langkah selanjutnya dalam perkembangan program pemuliaan tanaman terhadap sifat ketahanan Aphis craccivora.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui heritabilitas sifat ketahanan terhadap hama aphid (Aphis craccivora Koch) pada kacang panjang (Vigna sesquipedalis (L) Fruwirth) hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS X MLG 15151. Diduga sifat ketahanan terhadap hama aphid (Aphis craccivora Koch) pada kacang panjang (Vigna sesquipedalis (L) Fruwirth) hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS X MLG 1515 mempunyai nilai heritabilitas tinggi. Penelitian ini dilasanakan di kebun percobaan Jatikerto Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dengan ketinggian tempat 319 mdpl pada bulan Juli-September 2006. Alat yang digunakan adalah cangkul, ajir, timbangan, plastik, mistar, papan
nama. Bahan yang digunakan meliputi benih kacang panjang yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan pada bulan Februari – Juni yaitu untuk populasi tetua (HS, PS, dan MLG 15151), F1, F2, BC1.1 dan BC 1.2, Furadan, kompos, pupuk urea dan NPK.Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan kacang panjang hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS X MLG 15151 dengan menanam populasi tetua (HS, PS, dan MLG 15151), F1, F2, BC1.1 dan BC 1.2 dalam baris-baris Petak dibuat sebanyak 20 petak.Tiap petak terdiri dari 5 baris, dengan 10 tanaman per baris, populasi HS dan PS masing-masing sebanyak 50 tanaman, MLG 15151 100 tanaman,F1, F2, BC 1.1, dan BC 1.2 hasil HS X MLG 15151 masing-masing 100 tanaman, F1, F2, BC 1.1 dan BC 1.2 hasil PS X MLG 15151 masing-masing 100 tanaman. Masing masing populasi dikelilingi border berupa galur HS yang bersifat rentan terhadap aphid. Tanaman border ditanam 2 minggu sebelum perlakuan dengan tujuan untuk memancing aphid.
Pengamatan pada penelitian ini dilakukan secara non destruktif meliputi ; skala serangan Aphis craccivora, pembungaan, dan panen yaitu: skala serangan hama aphid pada umur 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 mst. Umur berbunga, panjang polong segar pertanaman, bobot polong segar pertanaman, jumlah polong pertanaman dan jumlah biji perpolong. Analisis data dilakukan dengan menghitung heritabilitas dalam arti luas dan dalam arti sempit. Perhitungan nilai heritabilitas dalam arti luas dihitung dengan menggunakan metode pendugaan ragam lingkungan, sedangkan nilai heritabilitas dalam arti sempit dihitung dengan menggunakan metode silang balik. Kriteria nilai duga heritabilitas menurut Stansfield (1991) sebagai berikut: rendah : h2 0,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas skala serangan baik dalam arti luas maupun sempit pasangan PS X MLG 15151 tergolong rendah-sedang (hn:0-0,54;hb:0,02-0,57) dan nilai heritabilitas baik dalam arti luas maupun sempit pasangan HS X MLG 15151 tergolong rendah (hn:0-0,18;hb:0-0,19). Nilai heritabilitas dalam arti sempit komponen kuantitatif pada pasangan PS X MLG 15151 tergolong rendah-sedang (hn:0,06-0,34), sedangkan nilai heritabilitas dalam arti luasnya tergolong sedang (hb:0,3-0,47); umur berbunga (hn:0,07;hb:0,36), panjang polong pertanaman (hn:0,25;hb:0,3), jumlah biji perpolong (hn:0,34;hb:0,36), jumlah polong pertanaman (hn:0,08;hb:0,39) dan berat polong segar pertanaman (hn:0,06;hb:0,47). Nilai heritabilitas dalam arti sempit pasangan HS X MLG 15151 tergolong rendah-sedang (hn:0,04-0,45), sedangkan nilai heritabilitas dalam arti luasnya tergolong rendah-tinggi (hb:0,08-0,67); umur berbunga (hn:0,11;hb:0,12), panjang polong pertanaman (hn:0,04;hb:0,08), jumlah biji perpolong (hn:0,45;hb:0,52), jumlah polong pertanaman (hn:0,19;hb:0,67) dan berat polong segar pertanaman (hn:0,06;hb:0,62).Nilai heritabilitas tinggi diperoleh pada karakter jumlah polong pertanaman (hb:0,67) dan bobot polong segar pertanaman (hb:0,62) pasangan HS X MLG 15151 sehingga seleksi secara tidak langsung sifat ketahanan terhadap aphid dapat dilakukan melalui karakter tersebut
Parameter Genetik Hasil dan Komponen Hasil Kacang Panjang (Vigna unguiculata ssp. sesquipedalis [L.] Verde) Populasi F4 Toleran Terhadap Hama Aphid (Aphis Craccivora Koch) Hasil Persilangan HS X Malang 15151 dan PS X Malang 15151
Kacang panjang merupakan sayuran dataran rendah yang sangat populer bagi hampir seluruh lapisan masyarakat. Aphid dan virus mosaik merupakan hama dan penyakit utama pada kacang panjang yang dapat menurunkan produksi sampai 60%. Kerugian terbesar akibat aphid adalah karena bertindak sebagai vektor CABMV yang dapat mengakibatkan penurunan hasil sampai 44%. Sedangkan kerusakan langsung yang ditimbulkan aphid sebesar 16%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter genetik toleransi kacang panjang populasi F 4 hasil seleksi bulk F3 terhadap hama aphid serta hasil dan komponen hasil pada populasi F4 hasil persilangan HS x MLG 15151 dan PS x MLG 15151 yang tahan terhadap serangan hama aphids.
Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Jatikerto Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dengan ketinggian tempat 303 mdpl pada bulan Maret-Mei 2007. Bahan yang digunakan meliputi benih kacang panjang generasi F4 hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS x MLG 15151, benih varietas HS dan PS serta MLG 15151 sebagai tetua, Furadan, pupuk Urea dan NPK. Alat yang digunakan adalah cangkul, ajir, timbangan, mistar, papan nama.
Pengamatan pada penelitian ini dilakukan secara non destruktif meliputi skala serangan aphid pada umur 3 mst, 4 mst, 5 mst, 6 mst, dan 7 mst. Umur berbunga, jumlah bunga dan fruit set, jumlah polong pertanaman, umur panen, bobot polong pertanaman, panjang polong, jumlah biji perpolong, bobot 100 biji dan skala serangan aphid. Analisis data dilakukan dengan menghitung intensitas serangan, keragaman genetik dan heritabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan hama aphid pada populasi F4 tanaman kacang panjang hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS x MLG 15151 rendah, yang berarti populasi ini memiliki tingkat toleransi terhadap serangan hama aphid yang cukup tinggi. Toleransi ini dipengaruhi kemampuan tanaman untuk mempertahankan diri dari serangan hama aphid.
Kemajuan genetik daya hasil kacang panjang pada populasi F4 hasil persilangan HS X MLG 15151 rendah yaitu pada jumlah biji (0,4%), jumlah polong (0,6%), umur panen segar (0,9%), jumlah bunga (1,6%), umur berbunga (1,8%), panjang polong (3,9%), fruit set (5%), kecuali untuk variabel bobot 100 biji dan bobot polong memiliki nilai kemajuan genetik tinggi yaitu 12,4% dan 15%, sedang pada populasi F4 hasil persilangan PS X MLG 15151 cukup tinggi kecuali pada variabel umur berbunga yang kemajuan genetiknya rendah (4.6%)
Seleksi Ketahanan Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) Terhadap Hama Aphid (Aphis craccivora Koch) dan Daya Hasil Tinggi pada Populasi F5 Hasil Persilangan HS X Malang 15151 dan PS X Mala
Kacang panjang merupakan sayuran dataran rendah yang sangat populer bagi hampir seluruh lapisan masyarakat. Aphid dan virus mosaik merupakan hama dan penyakit utama pada kacang panjang yang dapat menurunkan produksi sampai 60%. Kerugian terbesar akibat aphid adalah karena bertindak sebagai vektor CABMV yang dapat mengakibatkan penurunan hasil sampai 44%. Sedangkan kerusakan langsung yang ditimbulkan aphid sebesar 16%. Seleksi curah (bulk) sebagai bagian dari metode pemuliaan tanaman yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Sehingga akan diperoleh varietas yang memiliki sifat tahan terhadap hama Aphid, selain itu juga diharapkan memiliki hasil produksi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kacang panjang tahan hama aphid dan memiliki daya hasil tinggi pada populasi F 5 hasil persilangan PS x MLG 15151 dan HS x MLG 15151. Diduga terdapat galur-galur kacang panjang tahan hama aphid dan memiliki daya hasil tinggi pada populasi F5 hasil persilangan HS x MLG 15151 dan PS x MLG 15151. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Jatikerto Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dengan ketinggian tempat 303 mdpl pada bulan Juni 2007-September 2007. Alat yang digunakan adalah cangkul, ajir, timbangan, mistar, papan nama. Bahan yang digunakan adalah furadan, pupuk yaitu pupuk NPK dan Urea, benih kacang panjang generasi F5 hasil persilangan HS X MLG 15151, PS X MLG 15151 dan tetua HS, PS serta MLG 15151. Pengolahan media tanam dilakukan dengan cara mengolah lahan, setelah gembur kemudian dibiarkan selama, ± 4 – 7 hari. Selanjutnya dibentuk menjadi guludan dengan lebar 20 cm, panjang 750 cm, dan tinggi 10 cm. Jarak tanam yang digunakan adalah 30x60 cm, sedangkan jarak antar plot adalah 60 cm. Populasi F5 hasil persilangan HS X MLG 15151 ditanam dalam 1 plot. Tiap plot terdiri dari 40 baris dengan 25 lubang tanam pada masing-masing baris, tiap lubang diisi 2 benih kacang panjang dengan populasi 1850 tanaman. Begitu pula dengan Populasi F5 hasil persilangan PS X MLG 15151. Sedangkan untuk tetua HS, PS dan MLG 15151 masing-masing ditanam sebanyak 100 tanaman dicampur dalam plot hasil persilangan populasi F5. Pengamatan pada penelitian ini dilakukan secara non destruktif meliputi skala serangan aphid pada umur 3 mst, 4 mst, 5 mst, 6 mst, dan 7 mst. Umur berbunga, jumlah polong pertanaman, umur panen, bobot polong pertanaman, panjang polong segar pertanaman, jumlah biji perpolong dan skala serangan aphid. Analisis data dilakukan dengan menghitung intensitas serangan, heritabilitas, koefisiensi keragaman genetik, dan batasan seleksi. Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan pada pasangan PS X MLG 15151 berkisar antara 0,20%-1,50%, sedangkan pada pasangan HS X MLG 15151 berkisar antara 0,08%-4,23%. Hampir 100% populasi F5 baik pada persilangan PS X MLG 15151 maupun HS X MLG 15151 memiliki sifat tahan terhadap hama aphid. Nilai heritabilitas pada populasi F5 hasil persilangan PS X MLG 15151 untuk semua karakter yang diamati tergolong rendah. Sedangkan pada populasi F5 hasil persilangan HS X MLG 15151 berkisar antara rendah hingga tinggi (0,05 – 0,81). Berdasarkan hasil seleksi galur tanaman terhadap ketahanan hama aphid dan daya hasil tinggi pada populasi F5 hasil persilangan PS X MLG 15151 dan HS X MLG 15151 yang diuji dengan intensitas seleksi 5% masing-masing sebanyak 27 galur tanaman dan 36 galur tanaman, pada intensitas 3% masing-masing sebanyak 18 galur tanaman dan 28 galur tanaman, sedangkan pada intensitas 1% diperoleh masing-masing sebanyak 9 galur tanaman dan 21 galur tanaman. Galur-galur tanaman yang terseleksi berdasarkan ketahanan hama aphiddan potensi hasil tinggi perlu dilakukan seleksi berdasarkan karakter kualitatif berdasarkan selera masyarakat dan perlu dilakukan uji daya hasil dan uji adaptasi untuk mendapatkan calon varietas baru tanaman yang diinginkan untuk dilepas ke masyarakat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Pendugaan jumlah dan peran gen sifat ketahanan terhadap Hama Aphid (Aphis craccivora Koch) pada kacang panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) populasi F2 hasil persilangan HS X MLG 15151 dan PS X MLG 15151
Berdasarkan Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura produktivitas kacang panjang masih dikategorikan rendah. Rendahnya produktivitas kacang panjang ini dihadapkan pada permasalahan hama dan penyakit. Hama penting yang banyak menyerang tanaman kacang panjang adalah hama aphid (Aphis craccivora Koch). Hama ini biasanya membentuk koloni pada daun, batang maupun polong kacang panjang dan menghisap cairan sel tanaman. Akibatnya tanaman yang diserang tumbuh tidak normal. Kerugian yang ditimbulkan hama ini secara langsung dapat mencapai 16%, sedangkan sebagai vektor CABMV sebesar 44%. Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut adalah dengan perakitan varietas kacang panjang tahan hama aphid. Secara umum karakter tanaman dibagi menjadi dua, yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Sifat Ketahanan merupakan sifat kualitatif yang biasanya dikendalikan oleh satu atau dua gen (gen sederhana), sehingga lingkungan memiliki pengaruh yang kecil dalam ekspresi sifat ketahanan tanaman di lapang. Pendugaan jumlah dan peran gen ketahanan kacang panjang merupakan informasi ilmiah, sebagai dasar untuk menentukan teknologi pemuliaan yang bermanfaat dan bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pemuliaan ketahanan terhadap hama aphid.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah gen yang mengendalikan sifat ketahanan terhadap hama aphid dan mengetahui peran gen pada sifat ketahanan terhadap hama aphid. Hipotesa yang diajukan adalah diduga sifat ketahanan terhadap hama aphid dikendalikan oleh satu/ dua gen dan diduga peran gen sifat ketahanan terhadap hama aphid pada pasangan persilangan PS X MLG 15151 dan HS X MLG 15151 berbeda.
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2006. Alat yang digunakan adalah cangkul, tugal, ajir, penggaris, dan timbangan. Bahan yang digunakan adalah benih kacang panjang F2 hasil persilangan HS x MLG 15151 dan PS x MLG 15151, kompos, insektisida, Urea dan pupuk NPK. Masing-masing populasi ditanam dalam petak yang berbeda. Tiap petak terdiri dari 5 baris, dengan 10 tanaman per baris, sehingga tiap populasi terdiri dari 500 tanaman. Masing masing populasi dikelilingi border berupa varietas HS yang bersifat rentan terhadap aphid. Pengamatan dititikberatkan pada skala serangan yang dilakukan dengan menggunakan skoring pada umur 2 mst sampai 11 mst. Analisis segregasi dilakukan dengan menggunakan uji chi kuadrat (χ2). Analisis segregasi dilakukan dengan menggunakan uji chi kuadrat (χ2) yang dikelompokkan dalam 2 kelas, 3 kelas dan 4 kelas pengamatan
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
