1,721,484 research outputs found

    Transformasi Selawat Jawi sebagai Rekonsepsi Identitas Budaya Jawa

    Get PDF
    Selawat jawi sebagai bagian dari seni tradisi di tengah masyarakat Jawa senantiasa menghadapi tantangan di tengah laju dinamika masyarakat yang tumbuh menjadi masyarakat modern. Laju dinamika tersebut membawa perubahan karakteristik masyarakat sehingga berdampak pula pada seni tradisi yang dibawanya. Transformasi budaya menjadi bagian yang tidak terelakkan terjadi di tengah masyarakat. Dengan melihat dan membaca penanda pada waktu yang bertalian dengan pesan, 'waktu' atau zeitgeist menjadi karakter yang dapat digambarkan dan artikulasi spesifik yang ditunjukkan sebagai konsensus opini publik mengenai karakteristik dan artikulasi yang ada sebagaimana dikonsepkan oleh Ward dalam memahami transformasi budaya dan praktik religi. Dengan mendasarkan pada metode discourse analysis dengan pendekatan konstruktivisme sosial melalui selawat jawi yang dilihat sebagai konstruksi dari pengembangan seni tradisi pada budaya yang melingkupi aktivitas masyarakatnya sendiri. Selawat Jawi sebagai syiar agama Islam di Pulau Jawa menjadi bagian media persebarannya. Dengan bentuk akulturasi budaya, selawat jawi yang bernapaskan Islam sering dianggap sebagai tradisi sekuler. Hal tersebut menempatkan pelaku selawat dalam dua kelompok: santri dan abangan. Dalam perkembangannya, selawat jawi selain berisi cerita kenabian, syiar agama Islam oleh Walisongo, dan juga kepahlawanan atau sikap patriotik pemimpin rakyat

    Implementasi Kontekstualisasi Seni Di Tengah Masyarakat Era 5.0

    Get PDF
    Salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas ilmiah berupa penulisan karya ilmiah. Selain sebagai bagian dari tugas pokok tenaga pendidik profesional, kegiatan penelitian juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Di tengah masyarakat era 5.0, seni turut memegang peran dalam perkembangan budaya di tengah masyarakat. Namun, masih banyak temuan data di lapangan yang belum terbidik oleh tenaga pendidik profesional dan belum tertuang dalam tulisan ilmiah sebagai temuan pemikiran atau solusi bagi permasalahan-permasalahan di tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat sebagai celah dan peluang untuk menyampaikan gagasan yang bernilai tepat guna bagi perkembangan budaya masyarakat. Mengacu pada pemikiran tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik profesional menjadi hal yang mutlak diperlukan sehingga setiap tenaga pendidik profesional tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan kualitas akademisnya melalui produksi karya ilmiah. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) menerbitkan bunga rampai bertema “Implementasi Kontekstualisasi Seni di Tengah Masyarakat Era 5.0”. Hal ini juga penting kiranya untuk mendukung pengembangan proses pembelajaran pada mata kuliah umum yang mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum MBKM (Kampus Merdeka). Perubahan kurikulum tersebut menuntut SDM UPT MPK untuk lebih peduli dengan perkembangan situasi sosio-kultural masyarakatnya. Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Dari delapan tulisan yang terkumpul, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian: (1) Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 dan (2) Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 berisi tulisan Umilia Rokhani, Kardi Laksono, Retno Purwandari, dan Adya Arsita. Sementara itu, tulisan Fortunata Tyasrinestu, Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono, Estri Oktarena Ikrarini, dan Megawati Atiyatunnajah mengisi kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi. Fenomena terkait eksistensi teknologi di tengah kehidupan masyarakat yang identik disebut masyarakat modern kemudian menjadi pedang bermata dua. Tulisan Umilia Rokhani berisi kajian modernitas dan konsekuensi penggunaan teknologi pada era modern ini, terutama terkait dengan bidang seni. Dengan paparan ini, diharapkan masyarakat pembaca dapat memahami manfaat dan konsekuensi yang harus dihadapi atas nilai keberadaan teknologi tersebut sehingga dapat dengan bijak dalam mempergunakannya. Kardi Laksono menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat berbagai macam permasalahan yang muncul akibat disrupsi yang merupakan efek kemajuan teknologi di bidang seni. Di samping itu, pendekatan hermeneutik dilakukan untuk memberikan interpretasi atas permasalahan yang muncul akibat terjadinya disrupsi di bidang seni. Banalitas seni yang dihasilkan melalui disrupsi di bidang teknologi pada akhirnya harus mengembalikan posisi ontologis dan epistemologis seni dalam bentuk emasipatoris, dialektis, serta tetap mempunyai otonomisasi seni. Sementara itu, Retno Purwandari memaparkan sepak terjang kriya melampaui era Revolusi Industri 5.0 dengan bermunculannya karya-karya kriya berkelanjutan. Kriya berkelanjutan merupakan kriya yang mampu menghasilkan karya-karya penyelamat bumi dengan mengolaborasikan konsep sustainable, bahan, teknik inovatif, alat, makna, dan fungsi menuju bumi yang ramah lingkungan. Dalam tulisan ini ditunjukkan empat karya tugas akhir, baik pengkajian maupun penciptaan tahun 2022 dan 2023, dengan konsep kriya berkelanjutan untuk bumi ramah lingkungan di era Revolusi Industri 5.0. Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 diakhiri dengan tulisan Adya Arsita. Ia menyoroti perubahan pola pameran karya visual yang umumnya diadakan secara luring kini telah merambah ke platform digital sehingga pameran diadakan secara virtual. Dari keseluruhan pembacaan wacana yang tersaji, ia menemukan suatu pola baru dalam memamerkan karya seni visual. Sekalipun bersinggungan erat dengan teknologi digital, peran kreativitas manusia, khususnya dalam berkesenian, justru makin erat membersamai pesatnya laju teknologi digital. Kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi diawali oleh Fortunata Tyasrinestu, yang membahas peran lagu klasik anak pada masa kini dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Lagu klasik anak menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sebagai perspektif sosiokultural. Selain itu, lagu klasik anak menunjang perkembangan moralitas dan psikososial anak. Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono membahas program Wisata Desa “Dolan Ndeso” di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagai upaya melakukan interpretasi relief Candi Borobudur bagi peningkatan potensi dan promosi wisata seni budaya di Kecamatan Borobudur. Bahasan tentang Project-Based Learning (PjBL) dapat menjawab tantangan perkuliahan yang memerdekakan mahasiswa sesuai dengan karakteristik masing-masing mahasiswa sesuai dengan minat, bakat, potensi, dan kompetensinya dikaji oleh Estri Oktarena Ikrarini. Mahasiswa dalam perkuliahan dengan pendekatan PjBL menunjukkan peningkatan partisipasi dalam perkuliahan, kreativitas yang tampak dalam setiap proyek yang dilaksanakan dan pengembangan self-regulated learning (SRL) dalam proses pembelajarannya. Megawati Atiyatunnajah mengakhiri kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi dengan tulisan tentang kajian hukum dan etika seni dalam menghadapi tantangan hak cipta terhadap karya mural. Seni mural menghadapi tantangan serius terkait dengan hak cipta dan hak-hak kekayaan intelektual lainnya. Kesadaran etika seni mendorong para seniman untuk menghormati hak cipta dan mempertimbangkan dampak sosial serta kreativitas dalam karya mereka. Semoga bunga rampai ini bermanfaat dan diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mental, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa

    Implementasi kontekstualisasi seni di tengah masyarakat era 5.0

    Get PDF
    Salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas ilmiah berupa penulisan karya ilmiah. Selain sebagai bagian dari tugas pokok tenaga pendidik profesional, kegiatan penelitian juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Di tengah masyarakat era 5.0, seni turut memegang peran dalam perkembangan budaya di tengah masyarakat. Namun, masih banyak temuan data di lapangan yang belum terbidik oleh tenaga pendidik profesional dan belum tertuang dalam tulisan ilmiah sebagai temuan pemikiran atau solusi bagi permasalahan-permasalahan di tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat sebagai celah dan peluang untuk menyampaikan gagasan yang bernilai tepat guna bagi perkembangan budaya masyarakat. Mengacu pada pemikiran tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik profesional menjadi hal yang mutlak diperlukan sehingga setiap tenaga pendidik profesional tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan kualitas akademisnya melalui produksi karya ilmiah. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) menerbitkan bunga rampai bertema “Implementasi Kontekstualisasi Seni di Tengah Masyarakat Era 5.0”. Hal ini juga penting kiranya untuk mendukung pengembangan proses pembelajaran pada mata kuliah umum yang mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum MBKM (Kampus Merdeka). Perubahan kurikulum tersebut menuntut SDM UPT MPK untuk lebih peduli dengan perkembangan situasi sosio-kultural masyarakatnya. Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Dari delapan tulisan yang terkumpul, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian: (1) Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 dan (2) Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 berisi tulisan Umilia Rokhani, Kardi Laksono, Retno Purwandari, dan Adya Arsita. Sementara itu, tulisan Fortunata Tyasrinestu, Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono, Estri Oktarena Ikrarini, dan Megawati Atiyatunnajah mengisi kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi. Fenomena terkait eksistensi teknologi di tengah kehidupan masyarakat yang identik disebut masyarakat modern kemudian menjadi pedang bermata dua. Tulisan Umilia Rokhani berisi kajian modernitas dan konsekuensi penggunaan teknologi pada era modern ini, terutama terkait dengan bidang seni. Dengan paparan ini, diharapkan masyarakat pembaca dapat memahami manfaat dan konsekuensi yang harus dihadapi atas nilai keberadaan teknologi tersebut sehingga dapat dengan bijak dalam mempergunakannya. Kardi Laksono menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat berbagai macam permasalahan yang muncul akibat disrupsi yang merupakan efek kemajuan teknologi di bidang seni. Di samping itu, pendekatan hermeneutik dilakukan untuk memberikan interpretasi atas permasalahan yang muncul akibat terjadinya disrupsi di bidang seni. Banalitas seni yang dihasilkan melalui disrupsi di bidang teknologi pada akhirnya harus mengembalikan posisi ontologis dan epistemologis seni dalam bentuk emasipatoris, dialektis, serta tetap mempunyai otonomisasi seni. Sementara itu, Retno Purwandari memaparkan sepak terjang kriya melampaui era Revolusi Industri 5.0 dengan bermunculannya karya-karya kriya berkelanjutan. Kriya berkelanjutan merupakan kriya yang mampu menghasilkan karya-karya penyelamat bumi dengan mengolaborasikan konsep sustainable, bahan, teknik inovatif, alat, makna, dan fungsi menuju bumi yang ramah lingkungan. Dalam tulisan ini ditunjukkan empat karya tugas akhir, baik pengkajian maupun penciptaan tahun 2022 dan 2023, dengan konsep kriya berkelanjutan untuk bumi ramah lingkungan di era Revolusi Industri 5.0. Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 diakhiri dengan tulisan Adya Arsita. Ia menyoroti perubahan pola pameran karya visual yang umumnya diadakan secara luring kini telah merambah ke platform digital sehingga pameran diadakan secara virtual. Dari keseluruhan pembacaan wacana yang tersaji, ia menemukan suatu pola baru dalam memamerkan karya seni visual. Sekalipun bersinggungan erat dengan teknologi digital, peran kreativitas manusia, khususnya dalam berkesenian, justru makin erat membersamai pesatnya laju teknologi digital. Kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi diawali oleh Fortunata Tyasrinestu, yang membahas peran lagu klasik anak pada masa kini dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Lagu klasik anak menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sebagai perspektif sosiokultural. Selain itu, lagu klasik anak menunjang perkembangan moralitas dan psikososial anak. Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono membahas program Wisata Desa “Dolan Ndeso” di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagai upaya melakukan interpretasi relief Candi Borobudur bagi peningkatan potensi dan promosi wisata seni budaya di Kecamatan Borobudur. Bahasan tentang Project-Based Learning (PjBL) dapat menjawab tantangan perkuliahan yang memerdekakan mahasiswa sesuai dengan karakteristik masingmasing mahasiswa sesuai dengan minat, bakat, potensi, dan kompetensinya dikaji oleh Estri Oktarena Ikrarini. Mahasiswa dalam perkuliahan dengan pendekatan PjBL menunjukkan peningkatan partisipasi dalam perkuliahan, kreativitas yang tampak dalam setiap proyek yang dilaksanakan dan pengembangan self-regulated learning (SRL) dalam proses pembelajarannya. Megawati Atiyatunnajah mengakhiri kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi dengan tulisan tentang kajian hukum dan etika seni dalam menghadapi tantangan hak cipta terhadap karya mural. Seni mural menghadapi tantangan serius terkait dengan hak cipta dan hak-hak kekayaan intelektual lainnya. Kesadaran etika seni mendorong para seniman untuk menghormati hak cipta dan mempertimbangkan dampak sosial serta kreativitas dalam karya mereka. Semoga bunga rampai ini bermanfaat dan diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mental, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa

    Masyarakat, Seni, Dan Perkembangan Budaya: Transisi Pandemi Ke Endemi Covid-19

    Get PDF
    ktivitas ilmiah berupa penulisan karya adalah salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu pengetahuan. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pokok sebagai tenaga pendidik profesional untuk luaran penelitian. Selain itu, kegiatan penelitian juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Namun, di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebagian besar temuan data di lapangan yang diperoleh tenaga pendidik profesional tersebut tidak dituangkan dalam konsep tulisan ilmiah yang mampu membangun pemikiran ke depan sebagai solusi bagi permasalahan-permasalahan di lapangan. Publikasi pemikiran atas permasalahan-permasalahan khususnya terkait dengan perkuliahan umum pun menjadi sangat minim. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) ISI Yogyakarta menerbitkan bunga rampai bertema “Masyarakat, Seni, dan Perkembangan Budaya: Transisi Pandemi ke Endemi Covid-19” sebagai bagian dari andil pemikiran terhadap situasi sosio-kultural di masyarakat yang berkembang dalam masa transisi pandemi ke endemi Covid-19. Hal ini penting kiranya dilaksanakan mengingat proses pembelajaran untuk mata kuliah umum mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum MBKM (Kampus Merdeka). Tema bunga rampai UPT MPK ini diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mentalnya, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Agustin Anggraeni mengulas penerjemahan istilah tari klasik gaya Yogyakarta ke dalam bahasa Inggris. Semua istilah gerak tari hanya dapat diterjemahkan menggunakan teknik descriptive karena perbedaan rumpun bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Inggris serta perbedaan kultur penutur kedua bahasa tersebut. Tulisan Bahasa Gado-Gado dalam Bahasa Indonesia (Suatu Tinjauan Psikolingustik) disajikan oleh Fortunata Tyasrinestu. Banyaknya istilah asing dalam bahasa Inggris yang dipakai oleh penutur bahasa Indonesia menyebabkan pencampuradukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang justru menunjukkan bahwa budi bahasa Indonesia belumlah lengkap. Perilaku ini menunjukkan kepercayaan diri yang kurang dalam pemakaian bahasa Indonesia sehingga bisa mengakibatkan kesalahpahaman antarpenutur bahasa karena logat yang kurang jelas, tata bahasa yang digunakan tidak benar, dan tidak semua apisan masyarakat dapat mengerti kosakata bahasa Inggris yang ingin disampaikan penutur. Kecerdasan berbahasa diperlukan untuk mampu bertutur dan menyampaikan informasi dengan baik. Salah satunya adalah dengan mempunyai perilaku berbahasa yang baik, budi bahasa yang baik, artinya mampu berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris dengan baik pula. Tulisan lain disajikan oleh Kardi Laksono tentang meta-politik dalam seni.Seni pada dasarnya membawa keindahan dalam hidup manusia. Namun, di satu sisi, seni juga sebenarnya menjadi arena pergulatan batin, konflik-konflik sosial, dan persoalan-persoalan status di dalam diri manusia itu sendiri. Seni yang berada pada suatu kepentingan ekonomi dan politik menyebabkan kehidupan budaya akan berada dalam arena kehidupan yang berlabel harga. Dengan mempergunakan metode hermeneutika, konstruksi budaya politik santun yang berada dalam ranah filsafat politik menekankan pada etika politik manusia sehingga manusia dapat berpikir secara kritis, dan dapat memposisikan diri untuk orang lain. Kondisi manusiawi, sesuai dengan politik Arendt, mempunyai makna, identitas, serta nilai melalui tindakan mengubah (praxis) dari mencipta (poeisis), menekankan pada relasi kebebasan dan pluralitas, serta menunjukkan hubungan antara wacana dan ingatan sosial. Memasuki masa endemi, dunia seni mulai menampakkan apresiasinya. Salah satunya dengan penyelenggaraan pameran Jogja International Creative Arts Festival (JICAF), yaitu pameran internasional Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Megawati Atiyatunnajah menggali penggabungan karya seni dengan kearifan lokal budaya bangsa Indonesia yang disajikan dalam pameran ini. Prima Dona Hapsari lewat kajiannya mempromosikan gerakan literasi, yaitu membaca kitab suci Hindu yang ditulis sebagai naskah di atas daun palem, yang disebut lontar sebagai bagian dari gerakan sosial budaya. Gerakan tersebut berfokus pada bahasa dan aksara Bali, seperti yang telah diprakarsai dan didukung oleh para filolog dan aktivis lontar Bali yang memiliki kepedulian yang mendalam terhadap kampanye tersebut. Era pandemi Covid-19 telah membawa perubahan besar dalam kegiatan belajar mengajar di tanah air termasuk dalam kehidupan sosial pelajar Indonesia. Tri Septiana Kurniati mengulas keuntungan dan kelebihan pengajaran bahasa Inggris daring terhadap kehidupan sosial mahasiswa di Indonesia tahun 2021. Umilia Rokhani, dengan kajian sosiolinguistik, melihat tren penggunaan bahasa komunitas tertentu di tengah masyarakat luas. Terjadi perluasan bahasa komunitas melalui peran media, atau sebaliknya. Dengan demikian, identitas masyarakat secara potensial dapat terganti karena tidak memahami konteks bahasa yang dipergunakannya. Tulisan terakhir oleh Yudiaryani tentang cara membaca geopolitik dan ketahanan nasional melalui seni pertunjukan. Yudiaryani mengaitkan hal tersebut, terutama dengan seni pertunjukan teater. Dari berbagai cara pandang yang dipergunakan untuk mengkaji berbagai dinamika gerak perkembangan masyarakat dalam berbagai lini kehidupan dapat dijadikan refleksi sekaligus pendorong untuk senantiasa peka dan giat mengkaji secara kritis sehingga pesta akademik melalui karya-karya pemikiran akan dapat selalu dijadikan ritual kehidupan sebagai akademisi. Semoga bunga rampai ini dapat bermanfaat sebagai rujukan referensi yang dapat memperkaya pemikiran akan nilai-nilai kemanusiaan. Selamat membaca

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore