Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
243 research outputs found
Sort by
PERIODE-LUMINISITAS CEPHEID DAN KOREKSI BOLOMETRIK BINTANG DERET UTAMA : METODOLOGI DAN HASIL
Chepeids variable stars define as istance candle, espicially for local galaxies. In this paper, we derive Luminosity-Period relation. We estimate the model base on distribution pattern of Mv versus log P, Primary data taken from Storm et, al. (2004). Least squares methods being use to estimate regression coefficients. In our work, we find Mv = -2.83 log P-1.3 for Galactic Chepeids and Mv = -6.69 log P + 3.38 for Small Magellan Cloud. We discuss the factors that make the gradient separation with previous results. Bolometric correction we use here are from the main sequence stars (Cox, 2000). We use least squares method to fit while regression correction estimate with Cramer method. Regression equation that we have is : BC = -8.96(log Teff)2 + 70.23 logTeff - 137.8
DAMPAK VARIASI TEMPERATUR SAMUDERA PASIFIK DAN HINDIA EKUATORIAL TERHADAP CURAH HUJAN DI INDONESIA
Monsun menyebabkan variasi iklim musiman, sedangkan fenomena alam lain seperti El Nino, La Nina, Osilasi Selatan dan Dipol Osean Hindia menyebabkan variasi iklim non–musiman. Wilayah Indonesia dipengaruhi oleh rezim sirkulasi ekuatorial dan monsunal dengan karakter yang berbeda. Rasio antara jumlah curah hujan dalam monsun Asia (DJF) dan dalam monsun Australia (JJA) lebih besar untuk tipe hujan monsunal dari pada untuk tipe hujan ekuatorial. Pengaruh fenomena El Nino dan IOD(+) adalah penurunan jumlah curah hujan, sehingga masa tanam lebih pendek. Sebaliknya La Nina dan IOD (–) menyebabkan peningkatan jumlah curah hujan dengan demikian masa tanam lebih lama. Frekuensi kejadian El Nino, La Nina di Samudera Pasifik Ekuatorial dan Dipol Osean Hindia Ekuatorial kurang sering dibandingkan kondisi normalnya. Kata kunci : Curah hujan, SST, El Nino, La Nina, Osilasi Selatan, Dipol Osean Hindia
PENENTUAN INDEKS AKTIVITAS MATAHARI EKSTRIM HARIAN
In this paper we discuss a method to determinated extreme solar activity index (ESAI) which refer to X-ray (SXR) flare. ESAI-index is calculated by using the simple methods with the inputs are intensity and duration of SXR- flare. From the case study of solar storm at middle January 2005, ESAI-index is better for showing the solar activities impact to ionosphere. However, it still need further study by adding more spatial and temporal data
STUDI SENSITIVITAS DARLAM TERHADAP SKEMA KONVEKSI BERDASARKAN JUMLAH BULAN HUJAN
Untuk mendukung kesimpulan tentang kinerja DARLAM, dalam tulisan ini disampaikan kinerja model melalui jumlah bulan hujan di wilayah Indonesia. Berdasarkan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan observasi pertahun, skema Hal mempunyai kinerja paling buruk dibanding skema lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai perbandingan jumlah bulan hujan simulasi dan jumlah bulan hujan observasi yang sangat rendah. Skema Kuo menunjukkan kinerja yang baik untuk Papua, Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Kinerja skema Arakawa dan skema Betts Miller yang baik ditunjukkan untuk lokasi berikut: Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NT dan Bali, dan Jawa. Skema konveksi Ak, Kuo dan BM DARLAM cenderung menghasilkan curah hujan berlebih untuk NT, dan Bali dan juga pada periode ENSO 1982. Kata kunci : Jumlah bulan hujan, Skema konveksi, DARLAM
VARIABILITAS KOEFISIEN PENCUCIAN DARI SULFAT, NITRAT, AMONIUM DAN SODIUM AEROSOL DI KOTOTABANG DAN JAKARTA
Kenaikan SO2 dan NO2 akan berdampak terhadap deposisi basah (wet deposition) melalui proses pembersihan di atmosfer. Koefisien pencucian (scavenging) merupakan angka koefisien yang menunjukkan besaran dalam proses pencucian atau pembersihan oleh laju curah hujan. Metode yang dipergunakan untuk mendapatkan koefisien pencucian adalah metode Bulk. Unsur-unsur yang dominan dalam aerosol dan deposisi basah seperti sulfat, nitrat, amonium dan sodium/natrium dikaji untuk Jakarta (2005-2006) dan Kototabang (2005-2006). Data yang digunakan berasal dari observasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Jurnal Sains Dirgantara Vol. 6 No. 2 Juni 2009 : 95-108 96 Antariksa Nasional). Jakarta sebagai kota pantai dengan polusi yang tinggi dan Kototabang adalah daerah pedesaan yang relatif bersih merupakan lokasi penelitian yang menarik untuk dibandingkan. Besaran koefisien pencucian berada dalam skala 105-107. Nilai korelasi antara laju curah hujan dengan koefisien pencucian sulfat, nitrat, amonium dan sodium sangat berbeda, sedangkan jumlah curah hujan tidak mempengaruhi koefisien pencucian. Nilai rata-rata koefisien pencucian SO42-; NO3-; NH4+ dan Na+ dari 2005 sampai 2006 di Jakarta adalah 8,31x106; 7,31x106; 4,43x106; 7,32x106. Nilai-nilai ini lebih tinggi di Kototabang untuk SO42- dan NH4+ adalah 2,65x106 dan 3,64x106. Sebaliknya NO3- dan Na+ di Jakarta adalah lebih rendah dibandingkan Kototabang yaitu 1,66x107 dan 1,64x107, meskipun besarannya adalah hampir sama yaitu dalam kisaran 106-107. Kata kunci: Jakarta, Kototabang, Laju curah hujan, Koefisien pencucian, Deposisi basah
MODEL KOEFISIEN BALISTIK SATELIT LEO SEBAGAI FUNGSI CUACA ANTARIKSA
The long term 1996-2003, of star or modified ballistic coefficients, B*, of five Low Earth Orbiting satellite, solar flux, F10.7 and geomagnetic planetary index Ap were analyzed to find out the effect of space weather on the ballastic coefficient of space craft. The daily variation and 81 days per moving average of ballistic coefficient and F10.7 were in phase, while both variation and Ap index were often out phase. Eventhough the mechanism of balliastic coefficient generated by space weather is still not known clearly, there is a statistically closed relation between ballistic coefficient and solar flux. The relationship, called model, is a second order polinomial function with different constants. Using before and after 2003 data of both parameter the models were verified. The range errors are less then the ralative error of pradicted ballistic coefficient of Bepposax satellite obtained by NASA/JFC a month before the satellite reentry
RANCANG BANGUN SENSOR SUHU TANAH DAN KELEMBABAN UDARA
Suhu dan kelembaban merupakan aspek penting dalam menentukan kondisi cuaca suatu daerah. Aplikasi penelitian ini berfungsi untuk mendeteksi suhu tanah dan kelembaban udara pada suatu tempat. Komponen utama yang digunakan adalah IC LM35 sebagai sensor suhu tanah dan HIH 3610 sebagai sensor untuk mendeteksi kelembaban udara. Rancang bangun sensor suhu tanah dan kelembaban udara ini dikembangkan untuk Automatic Weather Station (AWS). Kata kunci:Suhu Tanah, LM35, Sensor kelembaban, HIH3610
RESPONS SINTILASI SINYAL GPS SAAT BADAI GEOMAGNET DI LINTANG RENDAH
S4 in dex data of ISM (Ionospheric Scintillation Monitoring) at Pontianak and Pare-pare have been used to analyze the response of ionospheric scintillation during magnetic strom at low latitude. The ionospheric scintillation observed by a GPS receiver of L1 (1.57542 GHz) signals to measure both amplitude and phase variations during the geomagnetic storm of April 6, 2000 and July 15, 2000. Observation of S4 index during geomagnetic storm of April 7, 2000 at Pontianak and July 16, 2000 at Parepare did not show the main phase. This result is in agreement wiyh the hypothesis of the effect of the ring current in the generating or inhibition of F layer irregularities during magnetic storm. Since the minimum excursion of Dst during the magnetic storm on April 6 and July 15, 2000 are near midnight (24.00 UT) or around 07.00 Local Time (LT) on April 7 and July 16, 2000, so that the excursion categorized by excursion Dst takes place during daytime and well before sunset, where shown scintillation are inhibited