Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
    243 research outputs found

    preface

    No full text

    ANALISIS GELOMBANG EIT DAN LONTARAN MASSA KORONA PADA PERISTIWA FLARE 7 MARET 2012 [ANALYSIS OF EIT WAVE AND CORONAL MASS EJECTION OF THE FLARE EVENT ON MARCH 7, 2012]

    Full text link
    Pada tanggal 7 Maret 2012, sebuah flare kelas-X5.4 melepaskan energi yang besar pada daerah aktif NOAA 11429. Sesaat setelah flare dimulai, sebuah gelombang EIT terdeteksi oleh instrumen AIA 193 Ã… wahana Solar Dynamics Observatory (SDO). Gelombang ini tampak jelas menjalar yang kemudian disusul oleh gelombang EIT berikutnya yang dipicu oleh flare kelas X1.3 sekitar satu jam kemudian. Kedua gelombang EIT ini menunjukkan penjalaran gelombang yang memiliki perbedaan arah dan karakteristik satu sama lain. Peristiwa gelombang EIT pertama disertai dengan kemunculan struktur mirip kubah yang berkaitan erat secara spasial dengan peristiwa lontaran massa korona (CME). Hasil analisis menunjukkan adanya gelombang moda cepat dan lambat pada peristiwa pertama yang tidak tampak pada peristiwa kedua. Peristiwa kedua juga tidak disertai dengan CME sebagaimana peristiwa pertama. Hasil ini menyarankan bahwa gelombang EIT dapat dihasilkan oleh mekanisme lain selain gelombang kejut yang diakibatkan oleh CME.Kata kunci: Gelombang EIT - lontaran massa korona (CME) - semburan radio Matahari - flar

    PENENTUAN SUHU THRESHOLD AWAN HUJAN DI WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN DATA SATELIT MTSAT DAN TRMM [DETERMINATION OF THRESHOLD TEMPERATURE OF RAIN CLOUD OVER INDONESIAN BASED ON MTSAT AND TRMM SATELLITE DATA]

    Full text link
    Proses estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan membutuhkan penentuan suhu threshold awan hujan. Makalah ini membahas variasi suhu threshold awan hujan secara spasial untuk Indonesia berdasarkan data satelit Multi-functional Transport Satellite-1Replacement (MTSAT-1R) dan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM). Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 728 set data satelit MTSAT-1R dan satelit TRMM yang merupakan data grid dengan resolusi temporal 3 jam-an dari bulan Desember 2007 sampai Februari 2008 dengan pertimbangan pada umumnya puncak musim hujan di wilayah Indonesia berlangsung pada periode tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umumnya suhu threshold awan hujan di wilayah Indonesia bervariasi sekitar nilai 216K sampai 256K berdasarkan metode Perfect Correct (PC) yang bervariasi pada rentang nilai 0,8 sampai 0,9. Kata kunci: MTSAT-1R, TRMM, Statistik, Suhu Threshold, Awan Hujan 1 PENDAHULUA

    KORELASI OZON DAN BROMIN MONOKSIDA DI INDONESIA BERBASIS OBSERVASI SATELIT AURA-MLS [BROMINE MONOXIDE AND OZONE CORRELATION IN INDONESIA BASED ON AURA-MLS SATELLITE OBSERVATION]

    Full text link
    Microwave Limb Sounder (MLS) merupakan bagian dari Earth Observing System (EOS) ditempatkan pada satelit AURA NASA yang diluncurkan pada tanggal 15 Juli 2004 dan efektif menghasilkan hasil data pengamatan global dari September 2004 hingga saat ini. MLS mengukur profil vertikal ozon dan komponen kimia atmosfer dengan lebih akurat. Penentuan profil vertikal Bromin Monoksida (BrO) dan Ozon di Indonesia telah dilakukan berdasarkan pengamatan atmosfer dengan menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada satelit AURA. Data yang digunakan adalah data profil vertikal BrO dan Ozon di wilayah Indonesia (95ï‚° BT-145ï‚° BT, 6ï‚° LS-11ï‚° LU) selama tahun 2005-2010. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi bulanan profil ozon vertikal di Indonesia tahun 2005-2010 umumnya konstan di bawah 100 hPa dan meningkat pada rentang tekanan 100 hPa hingga 0,1 hPa (dari stratosfer bawah ke stratosfer atas) dan kemudian menurun lagi dengan nilai maksimum terjadi pada stratosfer tengah pada tekanan 10 hPa saat perbandingan campuran ozon maksimum antara 8.000-11.000 ppbv (8 sampai 11 ppmv). Ozon mencapai nilai minimum di troposfer pada ketinggian di atas 0,01 hPa. Konsentrasi BrO tertinggi terjadi pada tekanan 14 hPa dengan rentang konsentrasi 0,005-0,04 ppbv yang terjadi pada bulan Februari 2005-2010 dan puncak terendah terjadi pada bulan Mei 2005-2010 dengan konsentrasi 0,02 ppbv. Korelasi antara ozon dan BrO pada tekanan 14 hPa menunjukkan nilai -0.218. Korelasi negatif menunjukkan peningkatan konsentrasi BrO berhubungan dengan penurunan konsentrasi ozon di lapisan stratosfer di atas Indonesia. Kata kunci: MLS AURA, Bromine monoksida, Ozon, Korelas

    KORELASI OZON DAN BROMIN MONOKSIDA DI INDONESIA BERBASIS OBSERVASI SATELIT AURA-MLS [BROMINE MONOXIDE AND OZONE CORRELATION IN INDONESIA BASED ON AURA-MLS SATELLITE OBSERVATION]

    Full text link
    Microwave Limb Sounder (MLS) merupakan bagian dari Earth Observing System (EOS) ditempatkan pada satelit AURA NASA yang diluncurkan pada tanggal 15 Juli 2004 dan efektif menghasilkan hasil data pengamatan global dari September 2004 hingga saat ini. MLS mengukur profil vertikal ozon dan komponen kimia atmosfer dengan lebih akurat. Penentuan profil vertikal Bromin Monoksida (BrO) dan Ozon di Indonesia telah dilakukan berdasarkan pengamatan atmosfer dengan menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada satelit AURA. Data yang digunakan adalah data profil vertikal BrO dan Ozon di wilayah Indonesia (95ï‚° BT-145ï‚° BT, 6ï‚° LS-11ï‚° LU) selama tahun 2005-2010. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi bulanan profil ozon vertikal di Indonesia tahun 2005-2010 umumnya konstan di bawah 100 hPa dan meningkat pada rentang tekanan 100 hPa hingga 0,1 hPa (dari stratosfer bawah ke stratosfer atas) dan kemudian menurun lagi dengan nilai maksimum terjadi pada stratosfer tengah pada tekanan 10 hPa saat perbandingan campuran ozon maksimum antara 8.000-11.000 ppbv (8 sampai 11 ppmv). Ozon mencapai nilai minimum di troposfer pada ketinggian di atas 0,01 hPa. Konsentrasi BrO tertinggi terjadi pada tekanan 14 hPa dengan rentang konsentrasi 0,005-0,04 ppbv yang terjadi pada bulan Februari 2005-2010 dan puncak terendah terjadi pada bulan Mei 2005-2010 dengan konsentrasi 0,02 ppbv. Korelasi antara ozon dan BrO pada tekanan 14 hPa menunjukkan nilai -0.218. Korelasi negatif menunjukkan peningkatan konsentrasi BrO berhubungan dengan penurunan konsentrasi ozon di lapisan stratosfer di atas Indonesia. Kata kunci: MLS AURA, Bromine monoksida, Ozon, Korelas

    STUDI VARIASI MUSIMAN KEMUNCULAN PLASMA BUBBLE MENGGUNAKAN AIRGLOW IMAGER DAN GPS SINTILASI DI ATAS KOTOTABANG [STUDY ON SEASONAL VARIATION OF PLASMA BUBBLE OCCURRENCES OBSERVED BY GPS SCINTILLATION AND AIRGLOW MEASUREMENTS OVER KOTOTABANG]

    Full text link
    Dengan meningkatnya ketergantungan pada sistem penentuan posisi berbasis satelit, navigasi dan waktu pada GNSS, prediksi kejadian gelembung plasma menjadi lebih dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dampak iregularitas ionosfer yang terkait dengan kejadian gelembung plasma dan sintilasi pada aplikasi GNSS selama aktivitas matahari menurun. Untuk mendapatkan informasi variasi musiman iregularitas ionosfer yang terkait dengan gelembung plasma, kami menggunakan All-sky Airglow Imager (ASI) yang dipasang di Kototabang (0.2ºLS, 100.3ºBT, -10,4º lintang magnetik) Indonesia, untuk mendeteksi penipisan kepadatan plasma skala besar dalam bentuk citra dua dimensi, indeks amplitudo sintilasi (S4) yang diperoleh dari tiga single-frequency GPS receiver yang dipasang di lokasi yang sama dan kejadian badai magnetik (indeks Dst) yang diperoleh dari World Data Center for Geomagnetism, Kyoto. Kami menganalisis kejadian gelembung plasma pada citra ASI dari tahun 2003-2009 dan menemukan bahwa tingkat kejadian tertinggi pada bulan Mei-Juli yang berbeda dari variasi musiman kejadian gelembung plasma yang umumnya diketahui selama ini. Tingkat kejadian yang tinggi pada Mei-Juli bukan disebabkan oleh badai magnetik, karena statistik menunjukkan tidak ada perubahan yang signifikan setelah peristiwa gelembung plasma yang mungkin disebabkan oleh badai magnetik dieliminasi. Kami juga mempelajari hubungan spasial antara sintilasi ionosfer dan struktur gelembung plasma skala besar yang terlihat pada citra ASI. Kami menemukan beberapa peristiwa dimana IPPs dari satelit GPS berada di dalam struktur gelembung plasma skala besar pada citra ASI, tetapi tidak teramati adanya sintilasi.Kata Kunci: Gelembung plasma, Sintilasi, Badai magnetik, GNSS

    Preface

    No full text

    ANALISIS KEMAMPUAN RADAR NAVIGASI LAUT FURUNO 1932 MARK-2 UNTUK PEMANTAUAN INTENSITAS HUJAN [ANALYSIS OF FURUNO MARINE RADAR 1932 MARK-2 CAPABILITY TO OBSERVE RAIN RATE]

    Full text link
    Indonesia mempunyai banyak daerah rawan banjir dan tanah longsor sehingga diperlukan sistem peringatan dini terhadap bencana tersebut. Radar cuaca merupakan salah satu alternatifnya, akan tetapi harganya mahal, sehingga diperlukan radar cuaca alternatif yang biayanya murah. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kemampuan radar navigasi laut Furuno 1932 Mark-2 sebagai solusi radar cuaca biaya murah dengan menganalisis spesifikasinya kemudian membuat eksperimen dan pengujian untuk mencoba solusi kelemahannya melalui pengembangan sistem akuisisi dan pengolah sinyal radar. Menurut spesifikasinya, unit scanner radar memenuhi syarat untuk pendeteksian hujan, hanya membutuhkan koreksi volume untuk lebar berkas vertikal yang lebar. Sedangkan unit display-nya belum memenuhi karena plotter-nya masih satu warna dan penghilang clutter-nya menganggap hujan sebagai clutter. Dari hasil eksperimen dan pengujian dapat diketahui bahwa radar ini mampu digunakan untuk mendeteksi pergerakan hujan dengan nilai reflektivitas yang terpantau antara 15-30 dBZ. Hasil pengukuran rain gauge menunjukkan pada reflektivitas 30 dBZ tersebut terpantau hujan dengan intensitas 5,4 mm/jam. Hubungan antara (Z) dan (R) yang terdeteksi tidak sesuai dengan persamaan Marshall Palmer, karena nilai 30 dBZ menghasilkan intensitas hujan 2,7 mm/jam. Oleh karena itu dalam penelitian selanjutnya perlu dicari hubungan Z dan R yang sesuai untuk radar ini melalui kalibrasi nilai reflektivitas menggunakan data hasil pengukuran rain gauge. Kata kunci: Faktor Reflektivitas Radar, Radar Navigasi Laut, Intensitas Huja

    SELEKSI PARAMETER MASUKAN MODEL TEC IONOSFER DI DAERAH LINTANG RENDAH [INPUT PARAMATERS SELECTION OF IONOSPHERIC TEC MODEL AT LOW LATITUDE REGION]

    Full text link
    Dalam pemodelan Total Electron Content (TEC) ionosfer, pemilihan parameter masukan dapat meningkatkan efektivitas penerapannya pada prediksi ionosfer. Beberapa parameter masukan untuk model ionosfer antara lain adalah fluks radio matahari pada gelombang 10,7 cm (F10.7) indeks aktivitas geomagnetik dari pengamatan di daerah lintang tengah yaitu indeks Ap dan indeks aktivitas geomagnet dari pengamatan di daerah ekuator yaitu indeks Dst. Data TEC dari Global Ionospheric Map (GIM) pada bulan Januari, mulai 1999 sampai 2010 telah digunakan untuk pembelajaran dan pengujian model Jaringan Syaraf Tiruan Regresi Umum (JSTRU) di daerah lintang rendah. Pemilihan parameter masukan untuk model TEC dilakukan dengan cara mengoptimasi konfigurasi masukan yang dapat menghasilkan model dengan kesalahan terkecil. Model TEC JSTRU dibuat dengan empat konfigurasi masukan: 1. F10.7, dan Universal Time (UT), 2. F10.7, Ap, dan UT, 3. F10.7, Dst, dan UT, 4. F10.7, Ap, Dst, dan UT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi model TEC pada meridian 105 ºBT dengan parameter-parameter masukan yaitu F10.7, indeks geomagnet (Dst atau Ap), dan UT bervariasi terhadap lintang geomagnet. Konfigurasi parameter masukan yang menghasilkan model TEC bulanan paling akurat adalah konfigurasi ketiga yang menggunakan indeks Dst. Kata kunci: TEC, Model, Parameter masukan, Pemilihan, Jaringan syaraf tiruan, Regresi umum, Korelas

    ANALISIS PROPAGASI GELOMBANG RADIO PADA SIRKIT KOMUNIKASI DISTRIK PAMEUNGPEUK-BANDUNG DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI LAPISAN IONOSFER [ANALYSIS OF RADIO WAVE PROPAGATION OVER PAMEUNGPEUK-BANDUNG DISTRICT COMMUNICATION CIRCUIT AND ITS RELATIONS WITH CONDIT

    Full text link
    Makalah ini membahas kaitan antara keberhasilan 9 kanal frekuensi untuk sirkit komunikasi distrik Pameungpeuk-Bandung dengan variasi harian lapisan ionosfer. Tujuannya untuk mengetahui ketergantungan keberhasilan kanal frekuensi yang dapat digunakan pada sirkit tersebut terhadap variasi lapisan ionosfer. Keberhasilan kanal frekuensi diamati dengan perangkat Automatic Link Establishment (ALE) dan data ionosfer diamati menggunakan ionosonda IPS51 di Pameungpeuk (7,65°LS, 107,96°BT). Sebagai contoh kasus digunakan data pengamatan bulan Juni 2013. Dari analisis disimpulkan bahwa dari 9 kanal frekuensi hanya 5 kanal yang dapat digunakan yaitu frekuensi 3,596 MHz, 7,0495 MHz, 7,102 MHz, 10,1455 MHz, 14,109 MHz. Kanal frekuensi 3,596 MHz dapat digunakan optimal pada malam hari karena pengaruh peningkatan absorpsi pada siang hari. Frekuensi 7,0495 MHz, 30MHz, dan 10,1455 MHz dapat digunakan dengan baik pada siang hari karena terjadi peningkatan kerapatan elektron lapisan ionosfer. Frekuensi 14,109 MHz dapat digunakan pada siang hingga malam hari karena adanya kemungkinan pemantulan oleh lapisan E-Sporadis. Frekuensi 18,106 MHz, 21,096 MHz, 24,926 MHz, 28,146 MHz tidak bisa digunakan karena lebih tinggi dari frekuensi maksimum lapisan ionosfer. Semua ini menujukkan bahwa keberhasilan komunikasi radio pada sirkit Pameungpeuk-Bandung bergantung kepada perubahan frekuensi lapisan ionosfer.Kata kunci: Propagasi, Distrik, Kanal, Absorpsi, Kerapatan elektron, E-Sporadi

    172

    full texts

    243

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Dirgantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇