Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
243 research outputs found
Sort by
PENGUJIAN TEKNIK KORELASI UNTUK DETEKSI PENGARUH AKTIVITAS GEMPA BUMI BESAR PADA IONOSFER [EXAMINATION OF CORRELATION TECHNIQUE FOR DETECTING THE INFLUENCE OF GREAT EARTHQUAKE ACTIVITIES ON IONOSPHERE]
Teknik korelasi telah digunakan untuk penelitian deteksi pengaruh aktivitas gempa bumi dari data ionosfer, tetapi penelitian tersebut masih terbatas pada beberapa kasus karena keterbatasan data ionosfer dan kejadian gempa bumi besar. Teknik korelasi belum diuji menggunakan data ionosfer yang lebih luas cakupan spasialnya dan belum menerapkan nilai ambang batas anomali ionosfer. Data ionosfer di atas lokasi terdekat dengan episenter gempa bumi diperoleh dari Global Ionosphere Maps (GIM). Dengan asumsi gempa bumi besar dengan kekuatan ≧ 8 SR dapat menimbulkan anomali di ionosfer, teknik korelasi dengan penerapan nilai ambang batas anomali ionosfer telah diuji untuk deteksi pengaruh gempa bumi pada ionosfer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mayoritas besar gempa bumi besar tersebut dapat diketahui prekursornya, dan sebagian besar efek gempa bumi tidak dapat dideteksi dari anomali ionosfer. Deteksi prekursor dan efek gempa bumi besar pada ionosfer hanya efektif jika sebelum atau sesudah gempa bumi tidak terjadi badai geomagnet moderat atau lebih kuat. Oleh karena itu penerapan teknik korelasi untuk deteksi pengaruh gempa bumi besar pada ionosfer perlu didukung dengan data aktivitas geomagnet, data geofisika dan atmosfer lainnya jika akan digunakan untuk mendukung sistem peringatan dini gempa bumi besar.Kata kunci: Gempa bumi, Ionosfer, Korelasi, Deteksi
PERBANDINGAN foF2 KELUARAN MSILRI DENGAN DATA OBSERVASI DI BIAK, MODEL IRI DAN ASAPS [THE COMPARISON OF foF2 OUTPUT OF MSILRI TO BIAK OBSERVATION DATA, IRI MODEL AND ASAPS]
Model Sederhana Ionosfer Lintang Rendah Indonesia (MSILRI) adalah model ionosfer untukwilayah Indonesia dan sekitarnya. Model ini pertama kali dikembangkan pada 2002, dan sampai saatini terus direvisi dan dikembangkan. Frekuensi kritis lapisan F2 ionosfer (foF2) keluaran modelMSILRI2013 telah dibandingkan dengan hasil observasi di Biak 2005 sampai 2009, keluaran modelASAPS versi 6.2 dan IRI2012. Hasilnya menunjukkan bahwa pola keluaran MSILRI2013 sesuaidengan hasil observasi. Persentase selisih foF2 (model-observasi) terhadap hasil observasi{foF2(model-observasi)/observasi} 2005, 2009, dan 2013 untuk ketiga model menunjukkan bahwauntuk tahun yang sama sebaran nilainya hampir sama. Pada 2009 sebaran persentase terbanyakantara -40% - +20%, 2005 dan 2013 antara -20% - +20%. Model MSILRI2013, ASAPS V6.2, dan IRI2012 mempunyai akurasi cukup tinggi pada kondisi aktivitas matahari sedang. Akurasi terendahuntuk MSILRI2013 dan ASAPS V6.2 terjadi pada saat aktivitas matahari sekitar minimum (2009).Meskipun Model MSILRI menunjukkan karakteristik perbedaan antara model dengan hasil observasi paling konsisten dibandingkan kedua model lainnya, namun korelasi antara foF2 keluaran MSILRI dengan data paling rendah dibandingkan kedua model lainnya. Oleh karena itu model MSILRI masihdiperlukan disempurnakan, baik metode pemodelannya maupun penambahan stasiun dan tahun data hasil pengamatan ionosfer IndonesiaKata kunci: Model ionosfer, foF2, MSILRI2013, ASAPS V6.2, IRI2012
EFEK GAS SO2 DAN KELEMBAPAN UDARA TERHADAP INSOLASI DAN TEMPERATUR DI BANDUNG [EFFECT OF SO2 GAS AND HUMIDITY TO INSOLATION AND TEMPERATURE IN BANDUNG]
Selain gas rumah kaca seperti CO2, N2O, CH4, H2O (uap air), dan O3 yang berpotensi mempengaruhi radiasi matahari yang diterima permukaan bumi (insolasi) dan berakibat terjadi pemanasan, ternyata SO2 mempunyai efek pendinginan dan pemanasan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut mempunyai efek memanaskan troposfer dan permukaan bumi dikarenakan sebagian radiasi yang diemisikan dari permukaan bumi dikembalikan ke bumi dan sebagian lagi diserap. Berdasarkan data monitoring Automatic Weathering Station (AWS) dan SO2 di Bandung (Lapan) dari Oktober 2007 sampai Desember 2012, pada tahun 2010 menunjukkan kelembapan udara rata-rata tinggi yaitu 85% dibandingkan tahun 2009 yaitu 78%, sebaliknya SO2 kecil. Dampaknya menyebabkan penurunan insolasi tahun 2010 menjadi 145 W/m2 dari 166 W/m2 tahun 2009 atau 13%. Terdapat penurunan rata-rata temperatur tahun 2010 menjadi 23,69 ºC dari 23,97 ºC tahun 2009. Hasil analisis dengan metode korelasi Pearson didapati hubungan yang signifikan dan kuat pada musim kering antara SO2 dengan insolasi yaitu 0,514(**) dengan signifikansi p<0,01 dan signifikan tetapi agak lemah antara kelembapan dengan insolasi yaitu-0,489(*) dengan signifikansi p<0,05. Tetapi sebaliknya pengaruh kelembapan udara kuat pada musim basah dibandingkan SO2 terhadap insolasi. Korelasi antara insolasi dengan SO2 dan kelembapan pada musim basah yaitu -0,408(*) dengan signifikansi p<0,05 dan -0,487(**) dengan signifikansi p<0,01.Kata kunci: SO2, Kelembapan udara, Uap air, Gas rumah kaca, Insolasi, Temperatur, Korelasi Pearso
PENGEMBANGAN MODEL PERSAMAAN EMPIRIS DALAMMEMPREDIKSI TERJADINYA LONGSOR DI DAERAHALIRAN SUNGAI (DAS) CITARUM (JAWA BARAT)BERBASIS DATA SATELIT TRMM[DEVELOPMENT OF EMPIRICAL EQUATION MODEL INPREDICTING THE OCCURRENCE OF LANDSLIDE AT WATERSHEDOF CITARUM (WEST JAVA) BASED ON THETRMM SATELLITE DATA]
Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana kebumian termasuk bencana longsor yang umumnya terjadi selama musim basah akibat hujan lebat yang terjadi terus-menerus. Kajian tentang longsor yang telah banyak dilakukan namun umumnya berbasis data observasi (in-situ rain gauge). Salah satu kekurangan dari hasil-hasil penelitian tersebut adalah tidak diketahuinya potensi terjadinya longsor, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS). Dalam penelitian ini dilakukan analisis potensi terjadinya longsor di kawasan DAS Citarum (Jawa Barat) berbasis data satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) periode 2000-2009 dengan resolusi pengamatan harian. Untuk mengetahui potensi terjadinya longsor di DAS tersebut, maka dibangunlah satu persamaan empiris P0 = f (P1, P2) dengan P1 dan P2 adalah jumlah curah hujan (dalam mm) selama 3 hari sebelum longsor dan 15 hari terakhir sebelum P1. Persamaan empiris tersebut digunakan untuk prediksi potensi terjadinya longsor di DAS Citarum akibat curah hujan dan peta kerentanan. Persamaan empiris yang diperoleh telah diuji di beberapa lokasi di DAS Citarum dengan hasil yang baik. Persamaan empiris ini dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini potensi terjadinya longsor DAS Citarum dengan kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi.Kata Kunci: Hujan, Longsor, DAS Citarum, Persamaan empiris, dan TRM
KARAKTERISTIK PARTIKEL BERMUATAN DI WILAYAH ANOMALIATLANTIK SELATAN YANG BERPOTENSI PENYEBAB GANGGUANOPERASIONAL SATELIT ORBIT RENDAH[THE CHARACTERISTIC OF CHARGED PARTICLES IN THE SOUTHATLANTIC ANOMALY REGION AS THE CAUSE OF OPERATIONALDISRUPTION ON LOW ORBITING SATELLITES]
Wilayah Anomali Atlantik Selatan (AAS) mengandung partikel bermuatan yang membahayakan satelit-satelit yang berada di orbit rendah bumi (LEO). Partikel bermuatan yang terdapat di wilayah tersebut bersumber dari sinar kosmik galaksi (GCR) dan matahari yang terperangkap, merambat dan saling berinteraksi yang mengakibatkan fluks dan energi partikel bervariasi. Karakteristik partikel bermuatan di wilayah Anomali Atlantik Selatan dapat diketahui dengan menganalisis data partikel dari satelit NOAA 15. Tinjauan partikel dari GCR dilakukan saat aktivitas matahari minimum sedangkan tinjauan partikel dari matahari dilakukan saat aktivitas matahari maksimum. Analisis data partikel memperlihatkan bahwa saat aktivitas matahari maksimum dan minimum, terjadi badai GCR beberapa kali. Badai GCR tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap aktivitas geomagnet yang dilihat melalui indeks Kp dan Dst. Analisis data partikel di AAS untuk kanal energi E>30 keV (elektron) dan 80 <E< 240 keV (proton) juga memperlihatkan bahwa badai GCR berpengaruh terhadap fluks elektron di AAS, namun tidak terlihat pada fluks proton. Peningkatan fluks partikel di SAA juga dilihat dengan meninjau fenomena semburan proton dari matahari (Solar Proton Event-SPE) dan memperlihatkan korelasi yang rendah. Pada kondisi matahari minimum, fluks rata-rata partikel di AASÂ sekitar 102 partikel/cm2, sedangkan pada kondisi matahari maksimum, fluks minimum sekitar 103 partikel/cm2. Energi dan fluks yang demikian pada umumnya mengakibatkan pemuatan permukaan pada satelit-satelit orbit rendah.Kata kunci: Partikel bermuatan, Anomali Atlantik Selatan, Anomali sateli
POPULASI SAMPAH ANTARIKSA MENJELANG PUNCAK AKTIFITAS MATAHARI SIKLUS 24 [SPACE DEBRIS POPULATION TOWARD THE PEAK OF SOLAR CYCLE 24
Aktifitas Matahari mempengaruhi populasi sampah antariksa melalui dampaknya pada kerapatan atmosfer atas. Peningkatan aktifitas Matahari yang meningkatkan kerapatan atmosfer akan mengakibatkan jatuhnya benda-benda di orbit yang cukup rendah. Namun, dampak yang sama menyebabkan turunnya benda-benda di orbit yang lebih tinggi menggantikan posisi benda-benda yang telah jatuh. Dengan menganalisis data orbit benda-benda buatan dalam katalog USSPACECOM sejak Desember 2008 hingga Oktober 2012, ditemukan bahwa populasi sampah antariksa secara umum meningkat meski jumlah yang jatuh terus menerus bertambah. Rata-rata 2,7 sampah antariksa bertambah setiap hari sedang yang jatuh rata-rata hanya 1,1 setiap hari. Besarnya persentase sampah Fengyun 1C, Cosmos 2251, dan Iridium 33 yang masih mengorbit menjadi faktor utama peningkatan populasi tersebut. Selanjutnya, dengan memakai pendekatan teori gas kinetik dan distribusi Poisson, ditemukan peningkatan jumlah sampah secara kontinu untuk ketinggian antara 600 dan 700 km yakni di sekitar ketinggian satelit LAPAN-TUBSAT. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa probabilitas tabrakan LAPAN-TUBSAT pada Oktober 2012 adalah 33,8% lebih tinggi dibanding probabilitasnya pada Desember 2008.Kata kunci: Aktifitas Matahari, Populasi sampah antariksa, Kerapatan atmosfer, LAPAN-TUBSAT, Probabilitas tabraka
ANALISA KETELITIAN PEMETAAN MULTIQUADRATIC UNTUK FREKUENSI KRITIS IONOSFER REGIONAL [ANALYSIS ACCURACY OF MULTIQUADRATIC METHOD FOR MAPPING OF CRITICAL FREQUENCY OF IONOSPHERIC LAYER REGION]
Dalam makalah ini kami membahas pengujian ketelitian peta frekuensi kritis lapisan ionosfer (foF2) regional Indonesia, yang ditentukan menggunakan metode Multiquadratic. Pengujian telah dilakukan menggunakan data pengamatan di Biak, Pontianak, Kototabang, Sumedang, dan Pameungpeuk selama tahun 2006-2007 dan 2009-2010, serta menggunakan data tambahan yang diturunkan dari model ionosfer. Hasil analisis adalah Pertama, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan menghasilkan peta foF2 yang relatif lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan data asimilasi. Kedua, nilai foF2 hasil pemetaan berkorelasi linier dengan data pengamatan dan akan semakin mendekati nilai sebenarnya jika jarak antar titik rujukan terdekat juga semakin kecil. Ketiga, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan dengan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1600 km menghasilkan galat relatif hingga 0,25 dan simpangan baku 0,24. Sedangkan penerapan dengan data asimilasi menghasilkan galat relatif hampir sama dan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1000 km. Keempat, ketelitian peta foF2 yang dihasilkan dengan metode ini dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan titik rujukan sedemikian sehingga jarak antar titik rujukan terdekat hanya beberapa ratus kilometer saja. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan data asimilasi. Kelima, khususnya daerah-daerah di Indonesia yang belum memiliki stasiun pengamatan ionosfer maka perlu dilakukan pemetaan dengan menggunakan data asimilasi.Kata kunci: Frekuensi kritis, Multiquadratic, Asimilasi, Titik rujukan, Galat realtif, Simpangan baku1 PENDAHULUA
KARAKTERISTIK OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BERDASARKAN EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) DAN KAITANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI WILAYAH INDONESIA [CHARACTERISTICS OF OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) BASED ON EMPIRICAL ORTHOGONAL FUNCTION (EOF) AND TH
Metode Empirical Orthogonal Function (EOF) telah banyak digunakan pada berbagai penelitian untuk berbagai disiplin ilmu, dan salah satu aplikasinya untuk penelitian atmosfer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik yang lebih spesifik dari variabilitas Outgoing Longwave Radiation (OLR) dan kaitannya dengan curah hujan dengan menggunakan metode EOF. EOF merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengkomposisikan ulang data deret waktu pentad (data lima harian) OLR dalam menggambarkan variabilitasnya. Dari hasil analisa EOF didapat bahwa score-1 dan score-2 menunjukkan variasi OLR terhadap waktu, dimana score-1 menggambarkan karakteristik tahunannya, sedangkan score-2 menggambarkan fluktuasi OLR yang berhubungan dengan fluktuasi Southern Oscillation Index (SOI). Analisa korelasi yang dihasilkan dari EOF score-1 dengan curah hujan berkorelasi negatif, dengan nilai koefisien korelasi maksimum yang cukup baik sebesar 0,83. Hasil lain dari analisa EOF yang ditunjukkan dengan nilai proporsi pertama sebesar 19,8% menggambarkan adanya fluktuasi tahunan dari OLR, dimana terjadi nilai yang berlawanan di wilayah Utara dan Selatan ekuator, dan hal ini dimungkinkan berkaitan dengan adanya sirkulasi Hadley. Sedangkan untuk nilai proporsi kedua sebesar 8,7% menggambarkan adanya fenomena El Niño, dan hal ini berkaitan dengan adanya sirkulasi Walker.Kata kunci: Outgoing Longwave Radiation (OLR), Curah hujan, Empirical Orthogonal Function (EOF
PERFORMA WAVEFORM SISTEM ALE 2G PADA PROSES IDENTIFIKASI KETERSEDIAAN KANAL IONOSFER SIRKUIT BANDUNG-WATUKOSEK [PERFORMANCE OF THE 2G ALE WAVEFORMS FOR IDENTIFICATION PROCESS OF IONOSPHERIC CHANNEL AVAILABILITY ON BANDUNG-WATUKOSEK CIRCUITS]
Penelitian ini menganalisis performa waveform sistem Automatic Link Establishment (ALE)generasi kedua (2G) pada proses identifikasi ketersediaan kanal yang dilakukan berdasarkan hasilpenerapan pada sebuah sirkuit komunikasi kanal ionosfer. Analisis dilakukan dari hasilperbandingan antara perhitungan ketersediaan kanal berdasarkan kemampuan pantul oleh lapisanionosfer dan hasil penerapan waveform sistem ALE pada sirkuit komunikasi Bandung(6,53ºLS;107,35ºBT) –Watukosek (7,15ºLS;112,45ºBT) yang menggunakan sebuah frekuensi tunggal,yakni 10,1455 MHz. Hasil analisis performa identifikasi ketersediaan kanal waveform ALE dilakukandengan menyajikan kurva Bit Error Rate (BER) rata-rata sebagai fungsi Signal+Noise+Distorsi/Noise+Distorsi (SINAD), dan distribusi SINAD dari data empiris yang diperoleh. Dari kurva BER rataJurnalrata sebagai fungsi SINAD dan distribusi SINAD untuk tiap periode satu hari pengamatan,perhitungan nilai outage probability (Pout) berdasarkan kriteria nilai SINAD minimum dari BERmaksimum yang diijinkan pada sistem ALE dilakukan untuk memperoleh persentase keberhasilanidentifikasi ketersediaan kanal. Hasil perhitungan Pout dengan kriteria BER maksimum 0,288menunjukkan bahwa waveform ALE 2G tidak dapat digunakan untuk proses identifikasi ketersediaankanal hingga mencapai lebih dari 50% dari nilai ketersediaan kanal maksimum yang telah dibatasioleh nilai Lowest Usable Frequency (LUF) dan Maximum Usable Frequency (MUF). Dari hasilperhitungan Pout tersebut, persentase keberhasilan identifikasi ketersediaan kanal dalam periode satuhari juga menunjukkan bahwa penggunaan waveform sistem ALE 2G hanya mampu mengidentifikasihingga 36% dari ketersediaan kanal yang tersedia dalam satu hari. Kegagalan identifikasiketersediaan kanal tersebut menunjukkan bahwa modulasi 8-Continuous Phase Frequency ShiftKeying (CPFSK) yang digunakan pada waveform ALE 2G belum optimal dalam proses identifikasiketersediaan kanal pada propagasi sistem komunikasi ionosfer.Kata Kunci:Waveform ALE, 8-CPFSK, Identifikasi Channel Availabilit