Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture
Not a member yet
437 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Usahatani Sayuran Organik Kelompok Tani Cepoko Mulyo Kabupaten Boyolali
This research aims to: 1) analyze internal and external factors into strengths, weaknesses and threats and opportunities of farmers group Cepoko Mulyo in the development of organic vegetable farming, 2) Analyze and establish the main strategies that can be applied in the development of organic vegetable farming. The research was conducted on February to April 2018 in farmer group Cepoko Mulyo in Pandansari, Wonodoyo Village, Cepogo district, Boyolali regency of Central Java Province. The type of research used is descriptive research and the method used the survey method. Analysis of qualitative and quantitative descriptive data with IFE, EFE, IE, SWOT, and QSPM matrices. The result of the analysis shows that based on the IFE matrix the main strengths are vegetables with varying sizes of 0.287. The main weakness is the management of information systems that have not been good with a score of 0.172, while based on the EFE matrix the main opportunity is the association of organic farming with a score of 0.239 and the main threat is high competition level with other farms with a score of 0.234. Based on the QSPM analysis the suggested strategy is to cooperate with both central and local government in product marketing
The Competitiveness of Red Onion Production In Brebes, Central Java
Tujuan dari penelitian inin adalah untuk mengetahui dampak penggunaan bibit bawang merah impor terhadap produktivitas, keuntungan dan daya saing bawang merah di Kabupaten Brebes. Metode analisis yang digunakan adalah Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix/PAM). Metode ini dapat untuk mengetahui efisiensi ekonomi, daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap sistem usahatani bawang merah. Data yang digunakan adalah data primer (hasil wawancara dengan petani) dan sekunder dari instansi terkait (BPS, Deperindag, Deptan, FAO, Bank Indonesia dan World Bank). Dari hasil analisis diketahui usahatani bawang merah pada dasarnya masih menguntungkan Petani yang menggunakan bibit bawang merah impor menghasilkan produksi dan keuntungan (privat dan social) lebih tinggi dibanding yang menggunakan varietas lokasl. Disamping itu juga diketahui adanya kebijakan pemerintah di pasar input telah menyebabkan petani membeli input dengan harga yang lebih tinggi disbanding harga sesungguhnya
Kajian Macam dan Tebal Musa Organik terhadap Iklim Mikro pada Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L. Merr.) di Tanah Alfisol
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam mulsa organik dan tebal mulsa terhadap iklim mikro pada tanah alfisol dengan indikator tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L. Merr.), dilaksanakan di Jumantono Karanganyar, dengan tinggi tempat 180 m di atas permukaan laut, pada bulan Februari-April 2002. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan dasar kelompok lengkap (RAKL) yang terdiri atas 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor I adalah perlakuan macam mulsa organik (M), terdiri dari 2 taraf yaitu pemberian mulsa organik: (M1) Jerami padi, (M2) Jerami kacang tanah. Faktor II adalah perlakuan tebal mulsa organik (T), terdiri dari 3 taraf yaitu pemberian tebal mulsa organik: (T1) 4-4,5 cm atau 4 ton/ha (0,4 kg/petak), (T2) 5 cm atau 6 ton/ha (0,6 kg/petak), 5,5-6 cm atau 8 ton/ha (0,8 kg/petak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan macam mulsa organik berpengaruh terhadap penurunan suhu tanah tetapi tidak berpengaruh pada penurunan suhu udara, serta tidak berpengaruh terhadap peningkatan kelembaban tanah, kelembaban udara, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Perlakuan pemberian tebal mulsa tidak berpengaruh terhadap penurunan suhu tanah dan suhu udara serta tidak berpengaruh terhadap penurunan suhu tanah dan suhu udara serta tidak berpengaruh terhadap peningkatan kelembaban tanah, kelembaban udara, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Interaksi perlakuan macam mulsa organik dan pemberian tebal mulsa tidak berpengaruh terhadap penurunan suhu tanah dan suhu udara, serta tidak berpengaruh terhadap peningkatan kelembaban tanah, kelembaban udara, tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun
Keragaman Morfologi Benih dan Bibit Generatif Salak Bali (Salacca zalacca Var. amboinensis), Hubungannya dengan Jumlah Biji per Buah
Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus 2002 sampai Januari 2003 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UNS, Surakarta. Bahan utama penelitian berupa 100 buah salak bali berbiji satu, 20 buah salak bali berbiji dua. Data dianalisis dengan analisis kontingensi. Rerata jumlah buah salak bali tiap tandannya adalah 15 buah, dengan jumlah biji per buah antara 1-2. Salak bali tidak ada yang berbiji 3. Berat biji dan bentuk permukaan biji dari buah salak bali berkorelasi dengan jumlah biji perbuah, biji dari buah berbiji satu lebih berat dengan bentuk permukaan biji bulat. Sedangkan untuk biji salak bali dari buah berbiji dua lebih ringan dengan bentuk permukaan biji adalah pipih. Variabel pengamatan morfologi daun yang penyebarannya berkorelasi dengan jumlah biji perbuah yaitu bibit dari buah berbiji satu mempunyai daun pertama dan kedua hijau tua dan hijau, dan sudut daun yang pertama lebih besar. Ciri morfologi yang seragam meliputi warna permukaan bawah daun, warna permukaan atas daun ketiga, sudut ujung daun pertama dan kedua, dan panjang helaian daun pertama dan kedua, lebar daun ketiga, dan bentuk ibu tulang daun, serta tidak adanya cincin pada permukaan biji
EXPLORATION OF BACTRIOPHAGE VIRULENT TO XANTHOMONAS CAMPESTRIS PV CAMPETRIS TOWARD DEVELOPMENT AS BIOCONTROL AGENT FOR CABBAGE BLACK ROT DISEASE
Black rot disease which is caused by Xanthomonas campestris pv campetris is animportant disease on cabbage and so far could not be controlled satisfactory yet.Recently, people getting conscious the negative effect of applicating synthetic pesticidesand the importance of using biocontrol agents fo controlling pests because they arerelatively save and environmentally friendly. Bacteriophage is viruse that infectsbacteria. The use of phages for disease control is a fast expanding area of plantprotection with great potential to replace the chemical control and now prevalent.Phages can be used effectively as part of integrated disease management strategies.The relative ease of preparing phage treatments and low cost of production of theseagents make them good candidates for widespread use in developing countries as well.So far, in Indonesia bacteriophage exploration for development as biocontrol agents hasnot been conducted yet. On the other hand, Indonesia is one of view countries having alot of biodiversity resourches in the world. So it can be predicted that it is a lot ofbacteriophages strains naturally, which could be developed for biocontrol agents ofblack rot disease in cabbage. This research was aimed to isolate some bacteriophagevirulent to Xanthomonas campestris pv campetris from field. X. campestris pv campetris has been isolated from diseased cabbage in Blumbang, Tawangmangu.Biological characterization assay of 10 diseased cabbage leaf samples showed that allsample were indicated innfected by X. campestris pv campetris. Whereas plaque assayof 10 samples taken from fields showed indication of plague formation. This researchstill be continued to explore more samples form Tawangmangu, and also from othercabbage field in Central Java
IDENTIFIKASI SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BOYOLALI DENGAN PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor pertanian termasuk sektor perekonomian lainnya di Kabupaten Boyolali menjadi 4 kelompok: sektor Prima, sektor Berkembang, sektor Potensial dan sektor Terbelakang sebagai dasar untuk mengembangkan sektor pertanian di Kabupaten Boyolali. Metode dasar yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dengan menggunakan data sekunder berupa data Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Boyolali dan Propinsi Jawa Tengah Tahun 2004-8. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Tipologi Klassen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Boyolali terdapat dua sektor Prima yaitu sektor Konstruksi dan Bangunan serta sektor Jasa-Jasa. Sektor Berkembang meliputi sektor Pertambangan dan Penggalian serta sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Sektor potensial meliputi sektor Pertanian, Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Sektor pertanian belum merupakan sektor prima sehingga diperlukan berbagai upaya dan strategi pengembangan untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian
PROFIL USAHA TANI LAHAN KERING BERBASIS TEMBAKAU DI SUB-DAS PROGO HULU (KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH)
This research was located at Progo Hulu sub watershed dry land areas, which are used for tobacco farming. The results show that the characteristics of farmers at tobacco-based farming system at Progo Hulu sub watershed generally were (a) age ranges 21-77 years old (mean 44.54 years old); (b) land ownership area ranges 0.17-2.5 ha (mean 0.66 ha); (c) total persons in a family ranges 2-8 people (mean 4-5 people); (d) the experience as farmer ranges 4-52 years (mean 22.69 years); (e) education level is low (primary school), as much of 68.8%. Based on the commodity, the highest income achieved by tobacco (IDR 16,791,522 – IDR 48,593,167 per ha), with R/C ratio 2.21-4.11; followed with red chilli (IDR 8,115,125 – IDR 33,702,750 per ha) with R/C ratio 1.31-2.37; tomato (IDR 18,081,333 per ha) with R/C ratio 1.83; onion (IDR 6,712,080 per ha) with R/C ratio 1.45; leek (IDR 6,145,000 – IDR 6,357,000 per ha) with R/C ratio 1.79; cabbage (IDR 2,608,833 – IDR 4,467,833 per ha) with R/C ratio 1.31-1.78; maize (IDR 30,333 – IDR 2,682,333 per ha) with R/C ratio 1.02-2.64; and garlic causes financially loss (-) IDR 2,200,000 – (-) IDR 2,872,000 per ha with R/C ratio 0.73-0.79
PEMBENTUKAN VARIETAS SIRSAK UNGGUL MELALUI PEMULIAAN POLIPLOIDI: INDUKSI POLIPLOIDI TANAMAN SIRSAK DENGAN KOLKISIN
Penelitian ini bertujuan membentuk sirsak unggul melalui serangkaian penelitian pemuliaan poliploidi secara bertahap; tahap pertama bertujuan mempelajari pengaruh perlakukan kolkisin terhadap fenotipe dan jumlah kromosom bibit sirsak sekaligus membentuk tanaman sirsak poliploid. Penelitian dilakukan melalui percobaan berulangan untuk menguji pengaruh perlakukan kolkisin (0,10%, 0,15%, dan kontrol/tanpa kolkisin) terhadap fenotipe bibit dan jumlah kromosom sirsak. Variabel-variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, dan kromosom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perlakukan kolkisin 0,1 % dan 0,15 % tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada pertumbuhan awal (vegetatif), belum terindentifikasi tanaman poliploid berdasar pengamatan fenotipe; (2) tanaman srikaya diploid mempunyai susunan kromosom (rumus kariotipe) 2n = 14 = 12 m + 2 sm atau n = 7 = 6 m + 1 m (terdiri atas 6 pasang kromosom metasentris, 1 pasang kromosom submetasentris)
MANIPULASI HABITAT SEBAGAI SOLUSI TERJADINYA OUTBREAK WERENG COKLAT
Brown plant hopper outbreaks occurred again in the growing season of 2009 and continues to the present (2011). As a result of brown pant hopper, rice plants be comepuso. It is estimated more than 70% areal the rice in the ‘Golden Triangle’, name Klaten, Boyolali, and Sukoharjo crop failure. The main factors causing a population explosion is not the proper functioning of natural enemies. Natural enemies of brown pant hopper of dying from unwise use of pesticides. Actual mortality could be reduced if the natural enemies, natural enemies have a place of refuge from exposure topesticides by increasing habitat diversity in agricultural land. Research carried outaiming to see the effect of habitat manipulation in the presence of natural enemies and maintain the stability of the rice field ecosystem. The study was conducted at two locations namely rice land in the area and in Klaten Ceper Karanganom, Klaten. The results showed that the brown plant hopper populations relatively low throughout the study so it is not showing signs of damage. Natural enemy population is quite high in both locations experiments. Index of species diversity in Ceper experimental result show a high relative value. Results while the second experiment (in Karanganom) showed that land with habitat manipulation has a population of natural enemies and other insects is higher than the land without habitat manipulation