Jurnal Mahasiswa Sosiologi
Not a member yet
76 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN TINGKAT MODAL SOSIAL TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PELAKU UKM
Keripik tempe merupakan icon oleh-oleh khas kota Malang. Sanan sebagai salah satu wilayah di Kota Malang, merupakan pusat dari home industry yang memproduksi keripik tempe. Dalam kegiatan usaha, pelaku usaha membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya. Modal yang sering diperhatikan seringkali hanya tertuju pada modal finansial, sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan kemampuan memanfaatkan teknologi. Kenyataannya, terdapat modal lain, yakni modal sosial, akan tetapi modal sosial ini sering kali diabaikan oleh para pelaku usaha. Faktual, untuk mengingkatkan produktifitas usaha dibutuhkan semua modal yang ada, termasuk modal sosial. Menjadi menarik apabila ada penelitian yang menganalisa tentang seberapa kuat hubungan modal sosial terhadap tingkat pendapatan pelaku UKM. Hal ini bertujuan, untuk mengukur, dan menguji serta mengetahui hasil perhitungan dari hubungan tingkat modal sosial terhadap tingkat pendapatan pelaku UKM. Berdasarkan hasil pengujian, menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif dan signifikan antara variabel modal sosial dan variabel tingkat pendapatan dimana nilai koefisien korelasi (r hitung) Pearson Product Moment (0,475) dan nilai r tabel diketahui (0,316), sehingga nilai r hitung > r tabel yang artinya H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara tingkat modal sosial terhadap tingkat pendapatan pelaku UKM
PERILAKU KONSUMTIF DAN BENTUK GAYA HIDUP (Studi Fenomenologi pada Anggota Komunitas Motor Bike of Kawasaki Riders Club (BKRC) Chapter Malang)
Penelitian ini mengkaji tentang pandangan dan pendapat informan mengenai aktivitas dan hobinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perilaku konsumtif yang dilakukan oleh anggota komunitas motor BKRC Chapter Malang yang menunjukkan suatu gaya hidup. Penelitian ini menggunakan salah satu teori postmodern, yaitu teori masyarakat konsumsi Jean Paul Baudrillard untuk menganalisis perilaku konsumtif yang dilakukan oleh anggota komunitas motor BKRC Chapter Malang yang menunjukkan suatu gaya hidup. Baudrillard mengembangkan konsep mengenai masyarakat konsumsi menjadi tiga yaitu, nilai guna, nilai tanda, dan simulakra. Nilai guna merupakan fungsi dari suatu komoditas yang dikonsumsi. Nilai tanda merupakan suatu simbol yang melekat pada suatu komoditas tertentu. Simulakra merupakan ruang yang dihasilkan dari simulasi yang berisikan realitas-realitas semu. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam lagi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh informan dalam menunjang hobinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi partisipan, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bergesernya dari nilai guna ke nilai tanda menghasilakan suatu simulasi. Nilai guna dalam penelitian ini meliputi fungsi dari komoditas-komoditas yang digunakan oleh informan dalam menunjang hobi. Nilai tanda merupakan penanda yang melekat pada suatu komoditas yang digunakan oleh informan. Simulasi merupakan percobaan pergeseran makna dari nilai guna ke nilai tanda yang menghasilkan simulakra yang berisikan realitas semu. Sehingga kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh informan dalam menunjang hobi sebagai riders dari motor keluaran Kawasaki tidak terlepas dari kegiatan konsumsi. Kata Kunci: BKRC Chapter Malang, Hobi, Konsumsi, dan Simulas
MAHASISWA CLUBBERS DAN DUNIA MALAM DALAM PERSPEKTIF DRAMATURGI ERVING GOFFMAN (Studi Kasus Terhadap Pola Perilaku Mahasiswa Pada Tempat Hiburan Night Club Di Kota Malang)
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan akan hiburan (physiological) yang juga harus dipenuhi. Salah satu hiburan yang ditawarkan adalah tempat hiburan night club yang hingga saat ini masih banyak yang tertarik untuk mengunjunginya. Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang melakukan clubbing secara berulang-ulang telah membentuk pola perilaku. Penelitian ini menggunakan teori Erving Goffman tentang Dramaturgi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pola perilaku mahasiswa clubbers yang terbagi menjadi dua wilayah yaitu panggung depan dan panggung belakang. Pada panggung depan mahasiswa clubbers mempresentasikan dirinya sesuai dengan status sosial yang dimilikinya yaitu sebagai mahasiswa dan sesuai dengan nilai pada umumnya di masyarakat. Selain itu terdapat tim yang dibentuk untuk menjaga pertunjukan di panggung depan. Sedangkan pada panggung belakang terdapat aktivitas yang disembunyikan yaitu aktivitas mengunjungi night club (clubbing) yang rata-rata dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Beberapa aktivitas yang dilakukan di night club antara lain seperti merokok, menikmati lagu, minum alkohol, menari dan mengkonsumsi inex. Masyarakat menganggap aktivitas clubbing merupakan aktivitas negatif. Sehingga menurut masyarakat, mahasiswa tidak pantas melakukan aktivitas tersebut, karena menurut pandangan masyarakat bahwa mahasiswa adalah calon intelektual yang dapat memecahkan permasalahan kehidupan dalam masyarakat. Jadi, diperlukan perubahan penampilan dan gaya dari panggung belakang ke panggung depan atau sebaliknya, dalam Goffman hal tersebut disebut sebagai manajemen kesan. Kata Kunci: Dramaturgi, Perilaku, Night club, Clubber
Kemiskinan Masyarakat Petani (Studi Tentang Perubahan Kelembagaan Kepemilikan dan Penguasaan Lahan serta Hubungan Kerja Pada Masyarakat Dataran Tinggi Dusun Arjosari Desa Andonosari Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan)
Penelitian ini membahas mengenai kemiskinan yang terjadi pada masyarakat petani di dataran tinggi, utamanya masyarakat petani apel dusun Arjosari. Kemiskinan dilihat dari terjadinya perubahan kepemilikan dan penguasaan lahan masyarakat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan kondisi kelembagaan kepemilikan dan penguasaan lahan pada petani apel.Penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh James C Scott untuk menganalisis serangkaian tindakan ekonomi yang dilakukan masyarakat petani. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan secara purposive, yaitu informan kunci, informan utama, dan informan tambahan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada perkembangannya terjadi perubahan kepemilikan lahan melalui waris, penjualan lahan, serta penyewaan. Perubahan tersebut turut berdampak pada posisi tawar petani setempat yang beralih menjadi buruh tani. Dari kondisi yang demikian itu, kemiskinan tidak dapat dihindari lagi oleh sebagian besar masyarakat petani apel.Kata kunci : Kemiskinan, kelembagaan kepemilikan lahan, waris
HUBUNGAN ANTARA FANATISME DAN SOLIDARITAS SOSIAL DI KOMUNITAS ICI MORATTI REGIONAL MALANG
Penelitian ini mengkaji hubungan antara fanatisme dan solidaritas pada komunitas Inter Club Indonesia (ICI) Moratti regional Malang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan fanatisme dan solidaritas di dalam komunitas supporter Inter klub Indonesia (ICI) Moratti regional Malang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori lima hierarki kehidupan milik Abraham Maslow dan teori Emilie Durkheim tentang solidaritas sosial. Fanatisme muncul dari kebutuhan cinta, sayang, dan kepemilikan, kebutuhan esteem dan kebutuhan aktualisasi diri. Studi tentang pengaruh fanatisme dalam pembentukan solidaritas sosial di dalam anggota Inter Klub Indonesia (ICI) Moratti regional Malang telah dilakukan pada bulan Februari hingga April 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampling acakan yang sederhana (simple random sampling). Sebagai responden, sebanyak 146 dari anggota fans klub Inter Klub Indonesia (ICI) regional Malang telah dipilih. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah fanatisme meliputi tiga indikator yaitu simbolik, perasaan pembelaan dan membentuk komunitas, sedangkan variabel tergantung yang ingin diketahui adalah tingkat pembentukan solidaritas sosial meliputi tiga indikator yaitu membantu, perasaan senang dan persatuan/persaudaraan dan sharing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara fanatisme dan solidaritas dianalisis berdasarkan uji korelasi Spearman melalui perhitungan dengan rumus korelasi Spearman dengan bantuan SPSS 17.0 for windows sebesar 0,770. Sesuai dengan pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi yang menyatakan bahwa interval koefisien >0.75 - 0,99 sangat kuat, jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variabel signifikan dan H1 sehingga ada hubungan antara pengaruh fanatisme dengan pembentukan solidaritas sosial di komunitas ICI Moratti regional Malang. Berdasarkan teori Abraham Maslow dan Emilie Durkheim bahwa pengaruh fanatisme sangat kuat dalam mempengaruhi solidaritas sosial di Komunitas Klub Indonesia (ICI) Moratti regional Malang sesuai dengan hasil uji korelasi Spearman. Â Kata Kunci: fanatisme, solidaritas, Inter Klub Indonesia (ICI) Moratti, Malan
ETIKA LINGKUNGAN MASYARAKAT HINDU-DHARMA (Studi Fenomenologi Tentang Pandangan Etika Lingkungan Alam Di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu)
Peristiwa kerusakan hutan di Dusun Junggo, Kota Batu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor pada tahun 2005 sehingga menjadi perhatian umat Hindu-Dharma. Kesadaran mereka pada alam terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pada umat Hindu-Dharma ini dilihat dari teori agama sebagai realitas sosial karya Berger. Menurutnya, agama merupakan salah satu peranan penting dalam proses pembangunan dan pemeliharaan dunia. Seperti halnya yang terjadi pada umat Hindu-Dharma dalam memelihara, dan menyelamatkan alam dirinya berpedoman pada nilai-nilai ajaran agama. Penelitian ini menyimpulkan umat Hindu-Dharma mendapatkan pengetahuan nilai-nilai ajaran agama melalui proses pembelajaran di dalam hidupnya baik dari pendidikan sekolah hingga tokoh agama. Nilai kosmologi Hindu mampu membimbing tingkah laku umat Hindu untuk melestarikan alam. Ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda, mengajarkan mereka bahwa terjadi perubahan lingkungan fisik karena campur tangan manusia. Dengan pengalaman yang sama, umat Hindu kemudian melahirkan pula kesadaran yang sama tentang bagaimana memperlakukan alam yaitu dengan mengamalkan nilai ajaran Agama Hindu berupa kegiatan penghijauan hutan (Wana Kartika) dan menjalankan upacara keagamaan yang berhubungan dengan alam, serta menerapkan prinsip etika lingkungan dalam kehidupan yang berguna untuk menjaga dan melestarikan alam. Permasalahan yang terjadi adalah kurang terjalinnya kerjasama umat Hindu di Dusun Junggo dengan lembaga pemerintahan yang terkait. Hal tersebut karena minimnya komunikasi antar keduanya. Jika diadakan kerja sama tiap tahunnya dalam hal pelestarian lingkungan dapat memudahkan umat Hindu dan umat lainnya untuk mengatasi kerusakan hutan dan mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Kata Kunci : Kerusakan Hutan, Kosmologi Hindu, Pelestarian Lingkungan Alam
Pertunjukan Seni Sandur (Studi Tentang Perubahan Tradisi Pertunjukan Seni Sandur Sebagai Bagian Dari Ritual Setelah Panen di Kabupaten Tuban)
Penelitian ini mengkaji permasalahan perubahan tradisi pertunjukan seni sandur sebagai bagian dari ritual setelah panen yang awalnya diwariskan secara turun temurun kemudian ditinggalkan dan tidak dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan berubahnya tradisi tersebut, pertunjukan seni sandur sebagai bentuk pelaksanaan tradisi juga ikut mengalami perubahan. Teori perubahan tradisi yang dikemukakan oleh Sztompka digunakan sebagai pisau analisis untuk mengetahui bagaimana bentuk perubahan dan penyebab perubahan tradisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meggunakan metode kualitatif deskriptif agar dapat menggambarkan berbagai macam kondisi realitas sosial dalam perubahan tradisi pada pertunjukan seni sandur. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa perubahan terjadi ketika masyarakat mengalami perkembangan pola pikir yang menganggap bahwa tradisi bukan satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan setelah panen. Bentuk perubahannya terjadi pada segi kualitatif yaitu perubahan secara tidak sadar telah mengabaikan gagasan, simbol, makna dan ajaran hidup dalam tradisi tersebut. Dari segi kuantitatif merujuk pada jumlah masyarakat pendukungnya yang semakin berkurang. Sedangkan penyebab perubahan berasal dari faktor internal yaitu munculnya kreativitas baru pemain sandur, serta dari faktor eksternal yang  disebabkan oleh munculnya kesenian atau hiburan baru yang beraneka ragam. Meskipun tradisi tersebut sudah ditinggalkan, akan tetapi sebagai pertunjukan seni masih tetap dipertahankan sampai saat ini. Sejalan dengan berubahnya tradisi, pertunjukan seni sandur juga mengalami perubahan dalam pelaksanaannya. Sandur berubah menjadi kesenian hiburan yang dapat ditukarkan dengan uang. Hal ini merupakan daya adaptif yang dilakukan para seniman untuk tetap mempertahankan keberadaan pertunjukan seni sandur.  Kata kunci: Tradisi, Perubahan Tradisi, Kesenian, Pertunjukan Seni Sandur
GERAKAN SOSIAL TANGGAP BENCANA (Studi Kasus Pola Gerakan Sosial Kelompok SIBAT, MTB dan Tanggul Bencana GKJW di Desa Sitiarjo)
Gerakan sosial kelompok masyarakat terbentuk dari kesadaran dan kepedulian terhadap bencana menjadi kajian penulis. Dalam kerangka teori, penulis menggunakan teori struktur mobilisasi sumberdaya dan proses framing pada gerakan sosial oleh John D McCarthy dan Mayer N. Zald. Struktur mobilisasi sumberdaya terdiri dari adanya tindakan kolektif dan peran kelompok dalam gerakan sosial. Proses framing melalui tiga tipe yaitu adanya kontradiksi budaya, aktivitas strategi dan pengkontesan. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksplanasi dengan pendekatan studi kasus, serta teknik analisis data yang penulis gunakan adalah penjodohan pola. Hasil penelitian menunjukkan adanya sumberdaya kelompok masyarakat yang berkonsolidasi dengan saling membangun relasi kerjasama dan kesamaan idiologi yaitu sosial kemanusiaan. Gerakan sosial tanggap bencana di Desa Sitiarjo terbentuk dari adanya faktor pendukung berupa kesamaan keyakinan yang dilihat dari struktur masyarakat pada kesadaran masyarakat yang peduli terhadap bencana, dan dari aspek pengalaman. Dengan terbentuknya kelompok tanggap bencana tersebut dimobilisasi sebagai gerakan sosial tanggap bencana yang berkonsolidasi dalam penanggulangan bencana. Gerakan sosial tersebut yaitu SIBAT, MTB, dan Tanggul Bencana GKJW yang pada saat dan pasca bencana melakukan tindakan kolektif penanganan bencana banjir bandang. Temuan lainadanya kontradiksi budaya kebencanaan menjadi keluhan masyarakat dan hutan gundul menjadikan kelompok-kelompok tanggap bencana prihatin dan dengan adanya masalah tersebut kelompok-kelompok tanggap bencana terbingkai dalam satu-kesatuan gerakan sosial tanggap bencana melalui aktivitas strategi penanggulangan bencana dan media ruang sebagai alat untuk pengkontesan gerakan sosial tanggap bencana. Kata kunci : bencana, gerakan sosial, mobilisasi sumberdaya, strategi framin
TAFSIR SOSIAL ATAS NYABIS (Kebiasaan Berkunjung ke Ulama Atau Dukun oleh Nelayan Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi)
Penelitian ini membahas tentang fenomena nyabis, yakni kegiatan mengunjungi ulama maupun dukun yang dilakukan oleh nelayan tangkap di Desa Kedungrejo. Nelayan tangkap melakukan nyabis untuk keperluan-keperluan yang berkaitan dengan aktivitas kenelayanannya seperti keselamatan dan perolehan rejeki. Penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Peter Ludwig Berger dan Thomas Luckman mengenai konstruksi sosial untuk menganalisis fenomena nyabis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-interpretatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, wawancara terbuka, dan dokumentasi, dengan enam informan utama dan empat informan pendukung. Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa nyabis yang ada di kalangan nelayan Desa Kedungrejo adalah hasil konstruksi sosial melalui proses obyektivasi, dimana terjadi pelembagaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan nyabis. Munculnya kesadaran mengenai sosok ulama, perahu, dan laut yang kemudian memunculkan tindakan nyabis yang termanifestasi ke dalam berbagai kegiatan slametan, mengawinkan perahu, nudus, dan memasangi jimat yang dapat ditipifikasikan oleh nelayan lainnya. Proses internalisasi yang dialami oleh nelayan terjadi di wilayah tempat tinggal dimana orang tua, kyai, dan tetangga menjadi agennya. Sedangkan di wilayah tempat kerja, elit nelayan seperti pemilik perahu dan juraghan menjadi agennya. Selanjutnya terjadi proses eksternalisasi sebagai hasil dari internalisasi yang dialami oleh masing-masing nelayan. Bentuk eksternalisasi yang dilakukan oleh nelayan adalah melakukan nyabis dengan mendatangi ulama dengan tujuan mencari barokah atau dengan mendatangi dukun atau paranormal dengan tujuan mendapatkan rejeki. Â Kata Kunci: Nelayan, Nyabis, Konstruksi sosial, Obyektivasi, Internalisasi, Eksternalisas
PERSEPSI PEREMPUAN TERHADAP ALAT KONTRASEPSI (Studi Fenomenologi pada Akseptor Perempuan atas Tubuh yang Dipasang Alat Kontrasepsi di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Negara program Keluarga Berencana yang diselenggarakan oleh negara yang bertujuan untuk menurunkan jumlah penduduk dengan mensosialisasikan pemakaian alkon sehingga tercipta keluarga sejahtera. Namun, pada praktiknya, pemakaian alkon lebih banyak ditujukkan pada perempuan walaupun memiliki efek samping diantaranya perdarahan, tidak menstruasi, kegemukan maupun efek secara psikologis. Penelitian ini berupaya menjelaskan persepsi akseptor perempuan terhadap tubuh yang dipasangi alkon. Teori Fenomenologi Persepsi oleh Maurice Marleau-Ponty menjadi alat analisis untuk menjelaskan persepsi perempuan terhadap alkon dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan pengalaman prarefleksi mengenai alkon diperkenalkan pihak medis dibantu oleh keluarga, lingkungan sekitar, dan media. Ketika perempuan mengalami kegagalan alkon, perempuan hanya bisa pasrah sedangkan ketika mengalami efek samping ada dua persepsi yaitu alkon menjadi pembebas perempuan dari efek samping yang ditimbulkan alkon sebelumnya, kedua, perempuan tidak apa-apa dengan efek samping yang dirasakan. Persepsi yang kedua merupakan upaya medis mengubah efek samping alkon menjadi “tidak apa-apa†agar perempuan tetap memakai alkon dan tujuan program KB dapat berhasil. Wacana jumlah anak dan alkon menjadi norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Perempuan tidak terlalu terbuka dalam menceritakan pengalaman ketertubuhan pada orang lain termasuk pada suami. Laki-laki tidak memiliki pengetahuan mengenai alkon sehingga acuh dalam setiap tahap pengalaman perempuan karena negara dan medis tidak melibatkan laki-laki dalam sosialisasi alkon secara sistemis sehingga menunjukkan program KB bias gender.  Kata kunci : perempuan, kontrasepsi, efek samping, persepsi. Â