UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
Ontologi Sistem Penilaian E-Learning Berbasis Kompetensi
Automation grading on e-Learning assessment helps educators in assessing the results of
the exam. In a previous research, outomation grading value just in the form of numbers, not
performed a review the achievement of competency standards. In this research we developed
assessment system ontology design for e-Iearning base competence. This propose ontology
design models the relation between matter and competence then made the rule for the
calculation of achievement students against each competency and make recommendations to the
student passing the exam. From the test results with the Protege show that ontology design can
grade the assessment and give recommendations to the student passing the exam, in accordance
with the rules made
PERAWATAN SALURAN AKAR SATU KUNJUNGAN DISERTAI EKSTRUSI DAN MAHKOTAJAKET PORSELIN FUSI METAL DENGAN FRAKTUR ELLIS KELAS IIISUBGINGIVA (Pada Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila)
Latar Belakang dan Tujuan. Laporan kasus ini dibuat dengan tujuan untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar, ekstrusi gigi dan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal dengan penguat inti pasak tuang pada gigi insisivus sentralis kanan maksila yang mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva dengan pulpitis irreversibel. \u27
Kasus dan Penanganannya. Pasien laki-Iaki umur 20 tahun mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva akibat keeelakaan satu minggu sebelum periksa. Cara perawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi insisivus kanan atas maksila. Setelah dilakukan kontrol pasea perawatan saluran akar dan menunjukkan tanda-tanda menuju kesembuhan, dilakukan ekstrusi. Ekstrusi dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil sebagian guta perea disaluran akar untuk meletakkan kawat dengan coi/ di ujungnya. Selanjutnya bracket dan insisal bar dipasang pada 5 gigi anterior dan dihubungkan dengan kawat dengan coil diujungnya yang telah disementasikan dalam saluran akar dengan semen ionomer kaea tipe I. Setelah gigi terekstrusi, dan melewati periode stabilisasi selama 1 bulan dengan tidak terjadi relaps, perawatan dilanjutkan dengan preparasi pembuatan inti pasak tuang dan dilanjutkan dengan pembuatan mahkota jaket porselin fusi metal.
Hasil. Hasil perawatan ini menunjukkan ekstrusi telah tereapai dalam waktu 1 bulan dan perawatan dilanjutkan dengan pembuatan inti pasak tuang dan mahkota jaket porselin fusi metal warna A2 (vitapan) dengan kontur, embrasur dibuat ideal, area kontak proksimal pada bagian sepertiga insisal.
Kesimpulan. Perawatan saluran akar satu kunjungan disertai ekstrusi dan mahkota jaket porselin fusi metal efektif untuk menangani kasus gigi insisivus sentralis kanan maksila dengan fraktur Ellis Kelas III subgingiva. Maj Ked Gt, Juni 201118(1): 122-12
KONSEP HAK SESEORANG ATAS TUBUH DALAM TRANSPLANTASI ORGAN BERDASARKAN NILAI KEMANUSIAAN
The idea of right to body autonomy grows more important as people are able to donate their organs. However, the two conceptions of rights currently applicable, i.e. ownership and possession, are highly inappropriate to be applied to this case because human body is not a property. In this light, humanity purposes constitute stronger concept of body
autonomy.
Pemahaman akan hak atas tubuh menjadi semakin penting ketika seseorang dapat mendonorkan organ tubuhnya. Kedua konsep hak yang selama ini berlaku, yaitu konsep ownership dan possession ternyata jika diterapkan ke hak atas tubuh sangat tidak sesuai karena tubuh manusia bukanlah barang. Dalam kondisi inilah konsep hak dengan tujuan kemanusiaan memberikan dasar yang kuat tentang hak atas tubuh
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERSANGKA DALAM PENYIDIKAN DARI KEKERASAN PENYIDIK DI KEPOLISIAN RESORT BANYUMAS
The state has failed to ensure legal protection for investigated suspects from violence committed by the police. Perpetrators of violence in Banyumas Police Resort were left untouched by law. This human rights violations continue to take place because they enjoy protection from their direct supervisors and police institutions.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara telah gagal memberi perlindungan hukum kepada tersangka dalam penyidikan dari kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Pelaku kekerasan (penyidik) selama ini di Polres Banyumas tidak tersentuh hukum. Pelanggaran HAM ini terus berlangsung karena adanya pemberian perlindungan kepada mereka, baik dari atasan langsung maupun institusi Polri
ASPEK YURIDIS PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DI KALANGAN REMAJA
The law is an effective tool to protect people from committing certain conducts, for instance illegal drugs trade and narcotic abuse. The prevalent drugs distribution among teens is influenced by internal and external factors, not to mention teen unstable behavior that is still easily intervened by the surrounding environment.
Hukum merupakan alat yang efektif untuk melindungi manusia dari tindakan yang membahayakan diri mereka sendiri, seperti misalnya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika. Peredaran narkotika di kalangan remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Secara psikologis, perilaku remaja juga masih belum stabil sehingga mudah terpengaruh lingkungan sekita
EKSISTENSI PEMILUKADA DALAM RANGKA MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN DAERAH YANG DEMOKRATIS
Local direct election is an attempt to realise an integral system of democracy and to encourage concept of popular sovereignty. The numerous obstacles on the way are challenges that eventually will help shaping the prevailing system to a more democratic one.
Pemilihan umum kepala daerah secara langsung adalah merupakan sarana sekaligus upaya mewujudkan sistem demokrasi secara utuh serta sebagai langkah merealisasikan kedaulatan rakyat. Kendati dalam perjalanannya muncul sejumlah persoalan yang mengiringinya, namun hal itu haruslah dipandang sebagai tantangan sekaligus bagian dari proses pematangan dalam rangka mewujudkan pemerintahan daerah yang lebih demokratis
EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Mlisa paradisiilca L.) SEBAGAI FITOESTROGEN PADA PERKEMBANGAN KELENJAR PAYUDARA TIKUS TEROVARIEKTOMI MELALUI PENlNGKATAN EKSPRESI C-Myc
Hormon Estrogen memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan dan perkembangan kelenjar payudara. Hormone Replacement Therapy (HRT) merupakan terapi yang biasa dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat defisiensi estrogen. HRT tergolong terapi yang kurang aman bagi kesehatan dan mahal. Salah satu jenis terapi yang lebih aman dan murah ialah penggunaan fitoestrogen yang dapat mengaktivasi reseptor estrogen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan ekspresi c-Myc dan perkembangan kelenjar payudara pada tikus terovariektomi yang dipejani ekstrak kulit pisang kepok (EKP). Efek estrogenik diuji dengan metode in silico dan in vivo. Pada uji in silico menguji molecular docking antara myricetin dengan reseptor estrogen- a (ER-a). Pada uji in vivo, tiklls betina Sprague Dawley diovariektomi pada IImur 50 hari. Pada umur 70 hari. 10 ekor tikus dipejani EKP dengan dosis 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB, 5 ekor tikus dipejani estradiul 2ig/hari sedangkan /ainnya sebagai kontrol dipejani dengan CMC-Na 0.5%. Pemejanan dilakukan selama dua minggu kemudian tikus dikorbankan untuk diambil kelenjar payudaranya. Pembedahan tikus kelompok base line ovariektomi dan base line non-ovariektomi dilakukan pada umur 70 hari. Pada uji molecular docking menunjukkan adanya interaksi berupa ikatan hidrogen antara myric..etindan ER-a namun relatif lebih lemah dari pada interaksi antara estrogen dan ER-a. Hasil uji secara in vivo menunjukkan bahwa EKP pada dosis 1000 mg/KgBB dapat mengindllksi ekspresi c-Myc dan meningkatkan perkemhangan kelenjar payudara tikus terovariektomi secara signifikan. Secara singkat. EKP dapat berperan sehagai estrogen agonist yang dapat menginduksi ekspresi c-Myc
THE DIFFERENCE OF ZOE BASED SEALER AND RESIN BASED SEALER USED WITH THERMOPLASTIC OBTURATION TECHNIQUE CONTINUOUS WAVE OF CONDENSATION AND CARRIER-BASED GUTTA PERCHA ON APICAL LEAKAGE AFTER THE ROOT CANAL TREATMENT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kebocoran apikal pad a teknik obturasi continuous wave of condensation dan carrier-based gutta percha dengan siler berbahan dasar seng oksida eugenol dan resin.
Subjek penelitian menggunakan 40 gigi premolar mandibula. Subjek penelitian dipreparasi dengan teknik crown dow. Subjek penelitian seeara aeak dibagi menjadi 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 20 gigi, yaitu kelompok I saluran akar dengan siler nernahan dasar seng oksida eugenol dan kelompok II saluran akar dengan siler berbahan dasar resin. Tiap kelompok tersebut dibedakan lagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B yang masing-masing terdiri dari 10 gigi. Kelompok A saluran akar diisi dengan teknik obturasi carrier-based gutta percha sedangkan kelompok B saluran akar dan diisi dengan teknik obturasi continuous
wave of condensation. Semua kelompok disimpan dalam inkubator pada suhu 37"C selama 7 hari dengan kelembaban relatif 100%. Seluruh permukaan akar dilapisi dua lapis eat kuku dan satu lapis malam perekat kecuali 2 mm bagian apikal dan direndam larutan biru metilen 2% selama 1 minggu pad a suhu 37"C. Selanjutnya cat kuku dibersihkan dan digunakan teknik clearing untuk dapat mengamati penetrasi larutan pewarna. Penetrasi warna diamati menggunakan mikroskop stereo dengan perbesaran 60x. Penetrasi warna dari larutan biru metilen merupakan indikator terjadinya kebocoran apikal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa obturasi dengan siler dengan bahan dasar seng oksida eugenol mempunyai kebocoran apikal yang lebih besar dibandingkan obturasi menggunakan siler berbahan dasar resin (pO,05), tidak ada interaksi antara siler dengan teknik obturasi terhadap kebocoran apikal (p>O,05). Obturasi dengan siler dengan bahan dasar seng oksida eugenol mempunyai kebocoran apikal yang lebih
besar dibandingkan obturasi menggunakan siler berbahan dasar resin pad a penelitian dengan menggunakan teknik obturasi thermoplastis yaitu carrier-based gutta percha dan continuous wave of condensation, tidak ada perbedaan pada penggunaan dua jenis teknik obturasi termoplastis, yaitu teknik obturasi termoplastis
menggunakan carrier-based gutta percha dan menggunakan continuous wave of condensation terhadap kebocoran apikal, dan tidak ada interaksi antara siler dengan teknik obturasi terhad.ap keb9coran apical
PENGARUH FASE PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK PEREMPUAN BERUSIA 7 - 10 TAHUN TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA DAN PERTUMBUHAN PLAK (Kajian di RSUD Bontang)
Pengobatan tuberkulosis diberikan melalui dua fase, yaitu fase intensif dan fase lanjutan. Obat
antituberkulosis berpengaruh terhadap sistem saraf kelenjar saliva. Pertumbuhan plak akan meningkat seiring dengan penurunan sekresi saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fase pengobatan TBG terhadap laju aliran saliva dan pertumbuhan plak.
Penelitian observasional klinis dengan pendekatan cross-sectional pada 88 anak perempuan penderita tuberkulosis berusia 7-10 tahun yang diambil secara selective random sampling dari kartu status di RSUD Bontang Kalimantan Timur. Tiap subyek penelitian dilakukan pengambilan saliva tanpa rangsangan selama 5 menit, kemudian ditampung dalam gelas plastik untuk dihitung laju aliran salivanya dengan meriggunakan syringe dan penghitungan skor plak untuk mengetahui pertumbuhan plak.
Hasil analisis ANOVA Dua Jalur menunjukkan adanya perbedaan secara bermakna terhadap laju aliran saliva dan skor plak pada kontrol, fase intensif, lanjutan I dan lanjutan II (p0,05). Korelasi Pearson menunjukkan adanya
hubungan berbanding terbalik antara laju aliran saliva dan skor plak (
STUDI PERBANDINGAN HASIL PENGANGKATAN MEMBRAN SCHNEIDERIAN PADA KEPALADOMBAANTARA TEKNIK HIDRODINAMIK ULTRASONIK DAN TEKNIK OSTEOTOM
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengangkatan membran Schneiderian secara internal tanpa robek antara Teknik Hidrodinamik Ultrasonik dan Teknik Osteotom.
Penelitian dilakukan di RSGM Prof. Soedomo, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan Agustus 2011. Obyek penelitian adalah 13 kepala domba usia 4-5 tahun yang dipotong untuk konsumsi
kurang dari 1 jam. Setiap kepala dibuka atap sinus maksilanya, gigi premolar ketiga dicabut, dan dilakukan alveolektomi soket menjadi sekitar 3 mm dari dasar sinus. Soket kiri untuk percobaan Teknik Osteotom dan soket
kanan untuk Teknik Hidrodinamik Ultrasonik.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pengangkatan membran Schneiderian yang signifikan antara Teknik Hidrodinamik Ultrasonik dibanding Teknik Osteotom. Hasil uji Mann Whitney diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,01). Kesimpulan penelitian ini adalah Teknik Hidrodinamik Ultrasonik mampu mengangkat membran Schneiderian tanpa robek lebih tinggi dari pada Teknik Osteotom