Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Abstrak  Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 g. BBLRmerupakan prediktor utama angka kesakitan dan kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan faktorrisiko ibu, plasenta, janin dan lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR. Penelitian ini bersifat analitikdengan desain cross-sectional dengan mengumpulkan data retrospektif rekam medis ibu yang melahirkan bayi BBLRdi RSUP Dr. M. Djamil Padang dari Januari sampai Desember 2012. Pada 72 sampel yang didapatkan, faktor risikojanin dengan jenis kelamin laki-laki (61,1%) dan status sosioekonomi rendah (52,8%) memiliki proporsi yang lebihbesar pada kejadian BBLR. Analisis bivariat chi-square menunjukkan faktor risiko anemia (p=0,001) dan kelainanplasenta (p=0,049) memiliki hubungan statistik yang signifikan terhadap kejadian BBLR prematur dan dismatur.Pengaruh terbesar secara statistik terdapat pada faktor risiko anemia (p=0,001) dan paritas (p=0,022) pada analisismultivariat regresi logistik. Anemia, kelainan plasenta dan paritas merupakan faktor risiko yang berpengaruh terhadapkejadian BBLR prematur dan dismatur di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: BBLR, prematur, dismatur, faktor risikoAbstract Low birthweight (LBW) is a birth weight under 2500 g. LBW is a major predictor of infant morbidity and mortality.The objective of this study was to determine maternal, placental, fetal and environmental risk factors that influencingLBW. This was a cross-sectional study by obtaining retrospective datas from medical records of mother who deliveredLBW babies at RSUP Dr. M. Djamil Padang from January until December 2012 period. Male fetal sex (61.1%) and lowsocioeconomic status (52.8%) were found in high rates on total 72 cases of LBW. Chi-square test showed anemia(p=0.001) and placental abnormalities (p=0.049) were statistically significant in LBW with premature and dysmature.Logistic regression test indicates anemia (p=0.001) and parity (p=0.022) are statistically influence LBW. Anemia,placental abnormalities and parity are significant risk factors resulting low birth weight babies with premature anddismature in RSUP Dr. M. Djamil Padang.Keywords: LBW, premature, dysmature, risk factor
Uji Bakteriologis pada Minuman Air Tebu yang Dijual di Pinggiran Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang
Abstrak Higinitas penjual dan sanitasi lingkungan yang kurang bersih memungkinkan minuman tebu terkontaminasi oleh bakteri patogen. Lokasi penjualan minuman tebu pinggiran jalan yang terbanyak terletak di jalan Khatib Sulaiman kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas minuman tebu apakah sesuai dengan persyaratanmikrobiologi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode indeks Most Probable Number (MPN) di bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh penjual minuman tebu yang ada, yaitu sepuluh minuman tebu yang berasal dari lima pedagang. Sepuluh sampel terdiridari lima minuman tebu yang dicampur es dan lima minuman tebu yang tidak dicampur es. Pemeriksaan MPN yang telah dilakukan terdiri dari dua tes, yaitu: tes presumtif dan tes konfirmatif. Hasilnya adalah seluruh sampel positif mengandung bakteri Coliform dan E. coli. Kesimpulan dari penelitian ini adalah air tebu yang dijual di pinggiran jalan Khatib Sulaiman Padang belum memenuhi standar kelayakan konsumsi secara bakteriologis dan terdapat perbedaan indeks MPN antara minuman tebu yang dicampur es dengan yang tidak dicampur es.Kata kunci: tes MPN, air tebu, hygiene Abstract Pathogenic bacteria can contaminate the sugar cane juice by the less hygiene and environmental sanitation of the sellers. There are a lot of people selling sugar cane juice in Padang, mostly in Khatib Sulaiman. The objective of this study was to determine the quality of the sugar cane juice accordance to microbiological requirements. This descriptive study was using the most probable number (MPN) index method and conducted in Microbiology Laboratory of Medical Faculty, Andalas University Padang.The sample in this study is all of sellers, which is ten cane juices fromfive sellers. Ten samples consists of five sugar cane water with ice and sugar cane water without ice MPN test was done by two tests, the presumptive test and the confirmative test. The result showed that all samples contained coliform bacteria and E.coli. The conclusion of this study is sugarca ne juice which is sold on roadside of Khatib Sulaiman is not worthy to microbiological standards for consumption and there is a difference between the MPN index sugar cane water with ice and sugar cane without ice.Keywords: MPN test, cane juice, hygien
Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang
Abstrak Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan dunia terutama di negara yang dikelompokkan dalam high burden countries termasuk Indonesia. Pada tahun 2012, Indonesia berada di posisi empat dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2010, kesembuhan di Puskesmas Andalas sebesar 75,9%. Angka ini masih dibawah target pencapaian nasional sebesar 85%. Pada tahun 2011, angka kesembuhan di Puskesmas Andalas naik cukup signifikan yaitu mencapai 88,24% yang melebihi target nasional. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara pengetahuan pasien TB paru dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis di puskesmas Andalas Kota Padang. Desain penelitian yang digunakan cross sectional study dengan jumlah subjek sebanyak 26 orang penderita TB paru yang melakukanpengobatan di Puskesmas Andalas. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden menggunakan kuisioner yang kemudian di analisis melalui uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95%. Pada penelitian didapatkan hubungan antara pengetahuan pasien TB paru (p=0,000) dan dukungan keluarga (p=0,04) dengan kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang.Kata kunci: tuberkulosis paru, kepatuhan, pengetahuan, dukungan keluarga Abstract Tuberculosis is a global health problem, especially in countries that are grouped in high-burden countries,including Indonesia. In 2012, Indonesia was in fourth position with the highest number of TB patients in the world.Based on the annual report of Padang City Health Department in 2010, succeed rate in Andalas Health Centre inPadang was 75.9% and this was below natonal target (85%). In 2011, succeed rate in Andalas Health Centre inPadang increased significantly, 88.24% which exceed national target. The objective of this study was to determine the relationship between knowledge of pulmonary TB patients and family support to adherence of anti-tuberculosis drugs at the health center patients Andalas Padang. The design of this study was cross sectional study. There were 26 subjects of pulmonary TB patient on treatment in Andalas Health Centre which were taken by total sampling. Data were collected through interview using questionnaire and analyzed by chi square test with 95% confidence interval.The results showed an association between patients knowledge (p-value: 0.000) and family support (p-value: 0.04) with medication adherence in Andalas Health Center, Padang City.Keywords: pulmonary tuberculosis, adherence, knowledge, family suppor
Perbandingan Konsumsi Lemak Berdasarkan Tingkat Keparahan Akne Vulgaris pada Siswa SMK Negeri 1 Kota Jambi
Abstrak Salah satu faktor pencetus akne vulgaris adalah diet tinggi lemak, terutama lemak jenuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan konsumsi lemak berdasarkan tingkat keparahan akne vulgaris menurut kriteria Lehmann. Penelitian ini berupa studi analitik observasional dengan desain cross sectional melalui pemeriksaan statusdermatologikus menurut kriteria Lehmann dan pengambilan data konsumsi menggunakan FFQ (Food Frequency Questionnaire) pada 138 siswa kelas X dan XI SMK Negeri 1 Kota Jambi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat akne vulgaris derajat ringan (49%), akne vulgaris derajat sedang (42%), dan akne vulgaris derajat berat (9%). Reratakonsumsi lemak total 89,35 ± 17,63 gram. Rerata konsumsi SFA (Saturated Fatty Acid) 37,07 ± 9,97 gram. Rerata konsumsi MUFA (Monounsaturated Fatty Acid) 15,30 ± 11,79 gram. Rerata konsumsi PUFA (Polyunsaturated Fatty Acid) 12,03 ± 9,25 gram.Uji oneway Anova menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna rerata konsumsi lemak total (p > 0,05) dan SFA (p > 0,05) berdasarkan tingkat keparahan akne vulgaris. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna MUFA (p > 0,05), dan PUFA (p > 0,05) berdasarkan tingkat keparahan akne vulgaris. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan konsumsi lemak berdasarkan tingkat keparahan akne vulgaris pada siswa SMKNegeri 1 Kota Jambi.Kata kunci: akne vulgaris, FFQ, lemak total, SFA, MUFA, PUFA Abstract One of the precipited factors is high fat diet, especially saturated fats. The objective of this study was to determine the comparison of fat consumption which is based on the severity of acne vulgaris.This research wasanalytic observational study using cross sectional design, by examining dermatologic status according to Lehmann criteria and taking consumption record with FFQ (Food Frequency Questionnaire) of 138 tenth and eleventh grade student in SMKN 1 Jambi. The result showed that mild acne vulgaris (49%), moderate acne vulgaris (42%), and severe acne vulgaris (9%). The average of total fat consumption was 89.35 ± 17.63 gram. The average of SFA (Saturated Fatty Acid) consumption was 37.07 ± 9.97 gram. The average of MUFA (Monounsaturated Fatty Acid) was 15.30 ± 11.79 gram. The average of PUFA (Polyunsaturated Fatty Acid) is 12.03 ± 9.25 gram. Oneway Anova test showed no significant difference of average total fat consumption (p > 0,05) and, average SFA consumption (p > 0,05) which was based on the severity of acne vulgaris. Kruskal-Wallis test showed no significant difference of average MUFA consumption (p>0,05), and average PUFA consumption (p>0,05) which is based on the severity of acne vulgaris. This research shows no significant difference of fat consumption which is based on the severity of acne vulgaris in studentsof SMKN 1 Jambi.Keywords: acne vulgaris, FFQ, total fat, SFA, MUFA, PUF
Identifikasi Bakteri Coliform yang Terdapat pada Minuman Es Teh di Rumah Makan Tepi Laut Purus Padang Barat
Abstrak Minuman es teh merupakan minuman yang paling digemari konsumen rumah makan. Sampel penelitian ini adalah minuman es teh dirumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas minuman es teh di rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat secara mikrobiologis. Sampel diambil dari 14 rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat. Penelitian dilaksanakan dua tahap; 1. pengambilan sampel minuman es teh disertai observasi dan wawancara, 2. pemeriksaan mikrobiologis dengan metode Most Propable Number (MPN) terhadap sampel yang terdiri dari tes presumtif, tes konfirmatif dan tes pelengkap. Hasil penelitian mendapatkan seluruh sampel minuman es teh mengandung bakteri Coliform. Tiga belas dari empat belas sampel positif mengandung E. coli, sedangkan satu sampel lain mengandung bakteri Klebsiella. Dari penelitian ini dapat disimpulkan minuman es teh di rumah makan Tepi Laut Purus Padang Barat tidak memenuhi syarat mikrobiologis yang telah ditetapkan pemerintah.Kata kunci: minuman es teh, bakteri coliform, most propable number (MPN)Â Abstract Ice tea is the common consumer favorite beverage at restaurant. Samples of this research is ice tea beverages at Purus Beach restaurant West Padang. The objective of this study was to identify the quality of ice tea sold at Purus Beach Restaurant in Purus West Padang microbiological. Samples were taken from restaurant of Purus Beach in West Padang. This research implemented in two steps; First, taking the ice tea sample and observing also interviewing. Second, microbiological inspection using Most Propable Number (MPN) methods to the sample consist of presumptivetest, confirmation test and complementary test. All of the sample of the ice tea beverage containing Coliform bacteria. Thirteen of fourteen positive contained E.Coli and the other contain Clebsiella. This result showed that ice tea from Purus Beach West Padang restaurant is unqualified as government has set required microbiological.Keywords: ice tea beverage, coliform bacteria, most propable number (MPN
Peranan Kadar Feritin Serum terhadap Kejadian Preeklampsia
Abstrak Preeklampsia merupakan penyebab utama kematian maternal dan perinatal diseluruh dunia. Peningkatan kadar serum besi dan feritin memiliki potensi untuk digunakan secara diagnostik untuk memperingatkan preeklampsia tahap awal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan peranan kadar serum feritin terhadap kejadianpreeklampsia. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case-control. Penelitian dilakukan dari Agustus 2013 hingga Juli 2014, bertempat di RS dr. M. Djamil, RS dr. Reksodiwiryo dan Laboratorium Biomedik UNAND Padang. Jumlah sampel yang diteliti adalah 40 responden dimana sampel terdiri dari 2 kelompok,masing-masing terdiri dari 20 sampel. Pemeriksaan serum feritin dilakukan dengan metode ELISA. Perbedaan rerata kadar feritin serum antara kelompok preeklampsia dan kehamilan normal dianalisa dengan mengunakan independen ttest. Hasil penelitian diperoleh rerata kadar serum feritin pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah50,46+4,37 ng/ml dan 17,64+1,6 ng/ml, dengan nilai p=0,004. Kadar feritin pada kedua kelompok masih dalam batas normal dan tidak ditemukan indikasi adanya kelebihan besi sebagai faktor resiko preeklampsia. Kesimpulan penelitian ini yaitu kadar serum feritin tidak memiliki peranan terhadap kejadian preeklampsia. Kata kunci: preeklampsia, hipertensi dalam kehamilan, serum feritin Abstract Preeclampsia is a major cause of worldwide maternal and prenatal mortality. The increase in iron serum and ferritin can be used as a diagnosis to warn of the early stage of preeclampsia. The objective of this study was to determine the impact of ferritin serum levels on preeclampsia. This study was an observational analytic study withcase-control design. It has been done from August 2013 to Juli 2014, in RS dr. M. Djamil, RS dr. Reksodiwiryo and Biomedical Laboratory of Andalas University Padang. Total sample evaluated was 40 samples. The sample consist of two groups, each group consist of 20 respondents. Ferritin serum level was examined by using ELISA method. The difference of ferritin serum level between preeclampsia and normal pregnancy analyzed by using independen t test.The result of this study shows that the avarage of ferritin serum levels in preeclampsia group and normalpregnancy is 50,46+4,37 ng/ml and 17,64+1,6 ng /ml, with a p-value 0,004. The ferritin serum level in both groups is normal and didn’t find that excess iron as a risk factor for preeclampsia. It can be concluded that ferritin serum level has no role on preeclampsia. Keywords: preeclampsia, hypertension in pregnancy, ferritin seru
Pengaruh Upright Position Terhadap Lama Kala I Fase Aktif pada Primigravida
Abstrak  Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia dan 2,4 kali lebih tinggi dibanding dengan Thailand. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) mencatat bahwa partus lama merupakan penyebab kesakitan dan kematian maternal dan perinatal utama disusul oleh perdarahan, panas tinggi dan eklampsia.Sebagai bentuk penerapan asuhan sayang ibu disarankan melakukan mobilisasi saat persalinan. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh uprigh position terhadap lama persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida (hamil pertama). Telah dilakukan penelitian observasional dengan desain cross sectional terhadap 38orang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 19 orang dengan kelompok upright dan 19 orang dengan kelompok berbaring, dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling kemudian diamati dan dihitung rerata lama persalinan kala I fase aktif. Data dianalisis dengan uji statistik menggunakan uji t independent dan hasilnya terdapatperbedaan yang signifikan dengan nilai p< 0,05. Hasil penelitian didapatkan rerata lama persalinan kala I fase aktif dengan upright position adalah 161,05 ± 40,26 menit dan untuk posisi berbaring adalah 263,68 ± 39,47 menit. Hasil uji statistik didapatkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p< 0,05. Kesimpulan studi ini ialah upright position dapat mempercepat proses persalinan kala I fase aktif pada primigravida.Kata kunci: posisi berdiri, posisi berbaring, fase aktif, lama persalinan, primigravidaAbstract Maternal mortality rate (MMR) in Indonesia is 5.2 times higher than that of Malaysia, and 2.4 times higher than Thailand. Indonesian Health Demographic Survey (IHDS) recorded that neglected labor is the main cause of maternal and perinatal morbidity and mortality, followed by bleeding, high fever and eclampsia. As a form of implementing maternal loving care, prospective mothers were encouraged to perform activities such as walking, standing, moving, and changing position during parturition. The objective of this study was to prove the effect of upright position on length of active stage I of parturition of primigravidas. An observational study with cross sectional design has been performedon 38 mothers that divided into two groups consisted of 19 mother with upright and 19 with supine positions. Subjects were collected consecutive sampling, the length of active stage I was recorded. Data analysis was performed statistically using t independent test, with p <0.05 considered as significant.This study found that average length of active stage I with upright position was 161.05 +/- 40.26 minutes and with supine position 263.68 +/- 39.47 minutes, and this difference is statistically significant. It is concluded that upright position could reduce the length of time neededduring active stage I of primigravidas.Keywords: upright position, supine position, active phase I, during parturien, primigravid
Hubungan Konsumsi Antioksidan dari Makanan dengan Beta-Amyloid Plasma sebagai Penanda Gangguan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi vitamin A, vitamin C, vitamin E, zink dan selenium dari makanan dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Metoda penelitian adalah cross sectional study terhadap 145 lansia umur ≥ 60 tahun, pada dua kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatra Barat. Wawancara konsumsi antioksidan menggunakan Food Frequency Questionnaires (FFQ), fungsi kognitif diperiksa dengan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), Aβ40 dan Aβ42 plasma diperiksa dengan metode ELISA. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Chi-square. Pada hasil penelitian ditemukan 83 orang (57,2%) lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi vitamin C (p<0,049) dan vitamin E (p<0,037) tetapi tidak terdapat hubungan signifikan antara vitamin A, zink dan selenium dengan fungsi kognitif. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi antioksidan dengan tingkat Aβ40 dan Aβ42 serta antara tingkat Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif masing-masing (p<0,058 dan p<0,350). Kesimpulan hasil penelitian ini didapatkan hubungan antara konsumsi vitamin C dan vitamin E dari makanan dengan fungsi kognitif. Tetapi tidak terdapat hubungan antara konsumsi antioksidan dengan Aβ40 dan Aβ42 plasma dan Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif.Kata kunci: antioksidan, beta-amyloid, fungsi kognitif, lanjut usiaAbstractThe objective of this study was to determine the relationship between consumption of vitamin A, vitamin C, vitamin E, zinc and selenium from foods with cognitive function in elderly. This was a cross-sectional study that was conducted to 145 elderly with age ≥ 60 years, in two districts in West Sumatra, in Lima Puluh Kota city. Interview antioxidant intake using a Food Frequency Questionnaires (FFQ), cognitive function was checked by Montreal Cognitive Assessment Indonesian version (MoCA-Ina), plasma Aβ40 dan Aβ42 were examined by ELISA while the data were analyzed by using the Mann-Whitney and Chi-square test. Results : Eighty three elderly people (57.2%) were found with impaired cognitive function. There was a significant association between the consumption of vitamin C (p < 0.049) and vitamin E (p < 0.037) but there was no signifikan association between vitamin A, zinc and selenium with cognitive function. There was no significant association between consumption of the antioxidant and both plasma Aβ40 and Aβ42 levels. There was no significant between levels of Aβ40 and Aβ42 and cognitive function (p < 0.058 and p < 0.350, respectively).Conclusion : There is a association between the consumption of vitamin C and vitamin E from food and cognitive function, but there is no association between the consumption of the antioxidant and levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and between levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and cognitive function.Keywords: antioxidants, amyloid-beta, cognitive function, elderl
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Waktu Tanggap pada Pelayanan Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013
AbstrakPenanganan kasus kecelakaan lalu lintas membutuhkan pelayanan yang cepat, tanggap, dan tepat. Salah satu indikator pelayanan tersebut adalah waktu tanggap pada pelayanan pasien di IGD. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tanggap pada pelayanan kasus kecelakaan lalu lintas di IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei hingga Desember 2013 di IGD RSUP Dr. M. Djamil dengan desain penelitian studi cross-sectional. Pengambilan data menggunakan lembaran observasi dan diberikan kepada 60 orang pasien kecelakaan lalu lintas yang dipilih secara acak. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji silang dengan tingkat kemaknaan p = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan 70% memiliki waktu tanggap yang tepat, dimana rata-rata waktu tanggap adalah 6 menit 15 detik. Sebagian besar pasien kecelakaan lalu lintas berada dalam keadaan gawat tidak darurat atau triase kuning (80%). Pada sebagian besar kasus petugas berada di meja triase saat pasien datang (86,67%). Sebagian besar pasien dibawa ke triase dari pintu masuk IGD dengan brankar (86,67%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kegawatan pasien, keberadaan petugas yang bersiaga di triase, dan ketersediaan brankar dengan ketepatan waktu tanggap.Kata kunci: waktu tanggap, faktor-faktor yang berhubungan, kecelakaan lalu lintas, IGDAbstractTraffic accident cases management requires prompt, responsive, and precise service. Time response is one of several indicators of ER patient service. The aim of this study is to observe the factors that related to time response of traffic accident case management in Emergency Department of Dr. M. Djamil Hospital, Padang. This cross-sectional study was conducted between May and December 2013 by using observational sheet which is distributed to 60 randomly chosen from traffic accident patients in Dr. M. Djamil General Hospital. Crosstab analysis was used to determine the difference among variables. Chi-square test was used to determine the significance of categorical variables. Data were analyzed using univariate and bivariate cross test with a significance level of p = 0.05. Result showed that out of 60 cases, 70% cases had accurate response time. The average response time is 6 minutes 15 seconds. Most of traffic accident patients are in a yellow triage (80%). In most cases, 86,67% officers are at the triage desk. Most of the patients brought to the triage from the emergency department entrance by stretchers (86.67%). There was no significant relationship between the level of patient severity, payment method, the availability of stretchers when patients come and response time (p> 0,05). Analysis of the relationship between the presence of officers and response time cannot be performed. The presence of officers in triage when patient arrived tended to speed up the response time.Keywords: response time, related factors, traffic accident, emergency roo
Efek Pemberian Vitamin C Terhadap Aktifitas Katalase Hati Tikus Galur Wistar yang Terpapar Ion Pb
AbstrakAkumulasi logam berat dapat meningkatkan senyawa oksigen reaktif dan menekan kadar antioksidan esensial dalam tubuh. Vitamin C merupakan antioksidan non enzimatis, senyawa alami yang bersifat antioksidan kuat dan pengikat radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efek Pemberian Vitamin C Terhadap Aktifitas Katalase Hati Tikus Galur Wistar Yang Terpapar Ion Pb, dilakukan di laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi dan Biokimia Fakultas Kedokteran Unand Penelitian dilakukan terhadap tikus galur wistar, berumur tiga bulan, berat badan + 200 gram, yang berjumlah 28 ekor. Didapatkan bahwa pemaparan ion Pb 0,05 mg/g BB/hari selama empat minggu dapat menurunkan aktifitas katalase hati tikus galur wistar. Penambahan vitamin C 0,05mg/g BB/hari dan 0,075 mg/g BB/hari pada tikus yang terpapar ion Pb menunjukan peningkatan aktifitas katalase hati tikus galur wistar. Berdasarkan uji T berpasangan terdapat perbedaan yang signifikan antara aktifitas katalase hati tikus galur wistar yang tidak terpapar ion Pb dengan terpapar ion Pb (p = 0,005 atau p < 0,05). Pemberian vitamin C pada tikus galur wistar yang terpapar ion Pb secara statistik dengan uji one way Anova tidak terdapat pengaruh yang signifikansi (p = 0,143 atau p > 0,05). Namun pada post hocx test terdapat pengaruh pemberian vitamin C 0,075 mg/g BB/hari pada tikus yang terpapar ion Pb, dengan p = 0,053 atau p = 0,05.Kata kunci: Aktifitas Katalase, Vitamin C, Ion PbAbstractThe presence of heavy metals such as Pb can produce a free radical, it will also be able to decrease the availability of the body's antioxidants. Vitamin C is a non-enzymatic antioxidants, natural compounds that are strong antioxidants and free radical binding. This study to determine the Effect of Vitamin C to catalase activity of rat-wistar strain-liver. The purpose of which Exposed Pb ions, carried out in the laboratory of Pharmacology of the Faculty of Pharmacy and Biochemistry Faculty of Medicine Unand. Research conducted on wistar strain rats, three months old, weight + 200 grams, which totaling 28 tails. The result was exposure of Pb ions 0.05 mg / g BW / day for four weeks decreases catalase activity rat’s-wistar-strain liver. The addition of vitamin C 0,05mg / g BW / day and 0.075 mg / g bw / day in exposed rats to Pb ions showed increased levels of catalase activity rat’s-wistar-strain liver. The result of the paired t test there was difference significantly between liver catalase activity rat’s-wistar-strain liver were not exposed to Pb ions (p = 0.005 or p < 0.05). Administration of vitamin C were exposed to Pb ion statistically by one-way ANOVA test there was no significant effect ( p = 0.143 or p > 0.05 ) . But in the post hocx test the effect of vitamin C contained 0.075 mg / g bw / day in rats exposed to Pb ions, with p = 0.053 or p = 0.05Keywords: Catalase Activity, Vitamin C, Pb ions