Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Tuberculous Addison’s Disease
Tuberculous addison’s disease merupakan insufisiensi adrenal primer akibat infeksi tuberkulosis pada kelenjar adrenal. Manifestasi klinisnya meliputi kelemahan, kelelahan, anoreksia, penurunan berat badan, hipotensi ortostatik, dan hiperpigmentasi kulit. Tuberkulosis adalah penyebab yang paling utama di negara berkembang. Dilaporkan seorang wanita dua puluh delapan tahun dengan keluhan kulit seluruh tubuh semakin menghitam disertai bercak-bercak kehitaman pada lidah, dan seringkali merasa lemah, letih, lesu. Riwayat penyakit dahulu: TB paru satu setengah tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik: nadi enam puluh tujuh kali per menit, tekanan darah 100/60 mmmHg, hiperpigmentasi pada kulit, bibir, kuku, dan lidah. Laboratorium disimpulkan hiperadrenokortitropin dan hipokortisolisme. CT Scan adrenal: pembesaran kelenjar adrenal bilateral disertai kalsifikasi multipel, sugestif tuberkulosis. Pasien didiagnosis insufisiensi adrenal primer akibat tuberkulosis. Terapi yang diberikan metilprednisolon 1x6 mg. Pada pasien terjadi perbaikan klinis dan parameter laboratoris. Hiperpigmentasi, lemah, letih, lesu, dan anoreksia ditemukan pada sebagian besar pasien addison’s disease. Untuk penelusuran penyebab insufisiensi adrenal primer, dilakukan CT Scan adrenal. Gambaran khas TB adrenal pada CT Scan adalah berupa pembesaran kelenjar adrenal, kalsifikasi dengan central low attenuation, dan peripheral enhancement. Terapi adalah terapi substitusi yang merupakan lifelong hormone therapy
HUBUNGAN EKSPRESI TOPO2A DAN HER-2 DENGAN FAKTOR PROGNOSTIK HISTOPATOLOGIK KARSINOMA PAYUDARA INVASIF TIDAK SPESIFIK
Resistensi pengobatan yang ditandai dengan kekambuhan lokal-regional serta timbulnya efek samping sistemik yang hebat terhadap terapi non-bedah salah satu penyebab tingginya angka kematian pada penderita karsinoma payudara. Kemoterapi berbasis anthracycline diketahui lebih efektif mencegah kekambuhan lokal-regional namun berisiko terhadap kegagalan jantung sehingga dibutuhkan penanda spesifik untuk pemberian kemoterapi ini. TOPO2A merupakan molekul target direk anthracycline. Ekspresi protein dan kelainan gen TOPO2A diduga dapat dijadikan indikator pemberian anthracycline akan tetapi hasil penelitian saat ini masih ditemukan kontroversi. Kelainan gen TOPO2A selalu dikaitkan dengan amplifikasi gen HER-2 karena keduanya terletak pada kromosom yang sama dan diduga berhubungan dengan sensitifitas terhadap kemoterapi berbasis anthracycline. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 50 kasus karsinoma payudara invasif tidak spesifik yang dilakukan re-evaluasi terhadap jumlah mitosis dan derajat histopatologik. Ekspresi TOPO2A dan HER-2 dinilai secara imunohistokimia masing-masing pada inti dan membran sel, kemudian dinilai hubungannya dengan jumlah mitosis dan derajat histopatologik dengan menggunakan T-test, Oneway Anova dan Chi square test. Uji statistik bermakna jika nilai p<0,05. Overekspresi TOPO2A dan HER-2 masing-masing ditemukan pada 18 kasus (36%) dan 10 kasus (20%). Analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara ekspresi TOPO2A dengan jumlah mitosis (p=0.004) dan derajat histopatologik (p=0.006), tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi HER-2 dengan jumlah mitosis (p=0.72) dan derajat histopatologik (p=1,000). Ekspresi protein TOPO2A secara konsisten berhubungan dengan karsinoma payudara yang agresif dibandingkan dengan ekspresi HER-2 dan dapat digunakan sebagai penanda prognostik terhadap pemberian kemoterapi berbasis anthracycline
ANGIOMATOUS TYPE MENINGIOMA IN A MALE PATIENT
Meningioma merupakan tumor otak primer yang paling sering dijumpai,1 namun meningioma angiomatosa merupakan subgrup meningioma yang sangat jarang (2,1%).2 Meningioma umumnya terjadi pada perempuan, namun khusus tipe angiomatosa lebih sering pada laki-laki. Dilaporkan kasus meningioma angiomatosa pada laki-laki berusia 56 tahun, yang didiagnosis berdasarkan gejela klinis, pencitraan, dan gambaran histopatologi yang khas. Pasien dilakukan operasi kraniektomi reseksi tumor total dilanjutkan pemasangan tulang kranium kembali 6 bulan kemudian yang mengalami perbaikan klinis
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Miastenia Gravis Di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Miastenia Gravis (MG) merupakan kelainan autoimun yang menyerang reseptor neurotransmitter di tautan neuromuskular dan menghambat terjadinya kontraksi otot. Kelemahan otot yang terjadi menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik serta mempengaruhi setiap aspek dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pada pasien miastenia gravis di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross sectional melibatkan 38 pasien yang telah menyetujui informed consent dan berusia 20-79 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner WHOQOL-BREF. Kualitas hidup baik jika didapatkan skor akhir 51-100 dan kualitas hidup kurang jika didapatkan skor akhir 0-50. Analisis data menggunakan analisis univariat. Pengumpulan data dilakukan pada data rekam medis.Hasil penelitian menunjukkan responden paling banyak berusia 20-49 tahun (76,3%), berjenis kelamin perempuan (84,2%), MGFA kelas II (63,2%), dan lama menderita rata-rata 56,87 bulan dengan median 45 bulan. Kualitas hidup 89,5% baik, rata-rata skor 63,7. Kesimpulan penelitian ini adalah secara umum kualitas hidup pasien MG adalah baik, terdapat kecenderungan penurunan skor akhir kualitas hidup seiring dengan lamanya mederita dan meningkatnya kelas MGFA
Perbedaan Rerata Indeks Cephalic dan Indeks Frontoparietal antara Suku Minangkabau dan Suku Jawa
Indeks Kefalometris merupakan nilai yang menggambarkan morfologi bentuk kepala manusia. Indeks cephalic dan indeks frontoparietal termasuk dalam indeks kefalometris dan dapat menunjukkan perbedaan suku dan jenis kelamin. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan indeks cephalic dan indeks frontoparietal pada laki-laki dan perempuan antara suku Minangkabau dan suku Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional pada 18 laki-laki dan perempuan dari suku Minangkabau dan suku Jawa yang tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Indeks cephalic dan indeks frontoparietal ditentukan dari perhitungan hasil pengukuran panjang kepala, lebar kepala dan lebar dahi responden. Pada data dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji t tidak berpasangan untuk melihat perbedaan rerata pada kedua kelompok. Rerata indeks cephalic pada suku Minangkabau adalah 75,98 ± 0,77 untuk perempuan dan 77,41 ± 1,42 untuk laki-laki. Rerata indeks cephalic pada suku jawa adalah 86,10 ± 1,05 untuk perempuan dan 87,58 ± 1,52 untuk laki-laki. Rerata indeks frontoparietal pada suku Minangkabau adalah 91,30 ± 4,25 untuk perempuan dan 91,54 ± 4,38 untuk laki-laki. Rerata indeks frontoparietal pada suku jawa adalah 92,02 ± 3,23 untuk perempuan dan 92,04 ± 2,22 untuk laki-laki. Simpulan studi ini adalah terdapat perbedaan rerata indeks cephalic yang signifikan antara suku Minang dan Suku Jawa, juga terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dengan perempuan Minangkabau dan laki-laki dan perempuan Jawa, tetapi tidak terdapat perbedaan rerata indeks frontoparietal yang bermakna pada laki-laki dan perempuan suku Minangkabau dan Jawa
Peran Vitamin D pada Penyakit Respiratori Anak
Fungsi utama vitamin D yang telah lama dikenal adalah pada pengaturan metabolisme kalsium yang berefek pada tulang. Pengetahuan tentang fungsi ini berkembang karena banyak penemuan keadaan defisiensi vitamin D yang dihubungkan dengan berbagai penyakit. Penyakit pada organ respiratori merupakan salah satu kelompok penyakit yang mengalami keterkaitan dengan defisiensi dan insufisiensi vitamin D. Vitamin D dapat berperan sebagai imunomodulator pada sistem imun ilmiah maupun adaptif, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif untuk suplemen terapi baik pada pencegahan maupun pengobatan penyakit yang berhubungan dengan respiratori, seperti tuberkulosis, infeksi respiratori akut, dan asma. Suplementasi vitamin D yang diberikan berupa dosis harian atau dosis tunggal. Vitamin D yang direkomendasikan adalah vitamin D3 tidak aktif yaitu kolekalsiferol
Pemeriksaan Diastolic Stress Test Dalam Menilai Gangguan Diastolik Dan Peningkatan Tekanan Pengisian Ventrikel Kiri
Peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri merupakan salah satu penyebab sesak napas saat aktifitas. Kondisi klinis ini sering ditemukan pada pasien dengan ganguan miokardium tahap awal seperti pasien penyakit jantung hipertensi maupun diabetes dan bersifat independen dari iskemia. Fraksi ejeksi ventrikel kiri umumnya normal dan meskipun sekelompok pasien ini disebut memiliki gagal jantung diastolik, gambaran fungsi diastolik saat istirahat dapat ditemukan normal. Uji latih secara invasif untuk menilai gambaran hemodinamik pada pasien tersebut merupakan baku emas untuk diagnosis gagal jantung diastolik, namun membutuhkan biaya, risiko dan persiapan yang besar sehingga dapat menghambat penggunaan pemeriksaan ini secara luas pada praktek klinis sehari-hari. Berdasarkan rekomendasi American Society of Echocardiography/European Association of Cardiovascular Imaging, pemeriksaan invasif ini dapat digantikan dengan pemeriksaan non invasif menggunakan uji stres ekokardiografi dengan supine bycycle atau treadmill. Diastolic Stress Test (DST) menggunakan ekokardiografi dapat menilai tekanan pengisian ventrikel kiri saat latihan dan berguna untuk menentukan diagnosis dan memberikan informasi prognostik. Tinjauan pustaka ini akan membahas tentang pemeriksaan Diastolic Stress Test pada praktek klinis sehari-hari
Pengaruh Faktor Risiko Hormonal pada Pasien Kanker Payudara di RSUP.Dr.M.Djamil Padang
Kanker Payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita di Indonesia. Kanker payudara ini berkaitan dengan banyak faktor risiko (multi faktor), salah satunya akibat paparan hormon estrogen. Tujuan penelitian ini adalah menentukan sejauh mana pengaruh faktor risiko hormonal terhadap kanker payudara. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain case control terhadap 294 responden yang terbagi atas 2 kelompok, yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dengan responden menggunakan lembar kuesioner di Poliklinik Bedah RSUP.Dr.M.Djamil Padang pada bulan Januari - Maret tahun 2019 dengan teknik consecutive sampling menggunakan Uji Chi-Square.Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada faktor risiko usia menstruasi pertama (menarche) (p=<0,001; OR=2,84) dan lama penggunaan kontrasepsi pil (p=0,05; OR=3,16), namun tidak ada pengaruh yang signifikan pada usia (p=1), usia pertama melahirkan (p=0,821), paritas (p=0,107), riwayat menyusui (p=1), dan usia menopause (p=0,150). Faktor risiko yang paling dominan adalah lama penggunaan kontrasepsi pil p=0,035. Simpulan penelitian ini adalah faktor risiko hormonal yang memiliki pengaruh terhadap kanker payudara yaitu usia menstruasi pertama (menarche) dan lama penggunaan kontrasepsi pil
Analisis Sistem Rujukan Kelainan Refraksi dari Puskesmas ke Rumah Sakit di Kota Pariaman Tahun 2018
Salah satu upaya pelayanan kesehatan mata adalah pelayanan kelainan refraksi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014, kelainan refraksi masuk dalam 144 diagnosis yang harus diselesaikan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Data Dinas Kesehatan Kota Pariaman Tahun 2015–2017 menunjukkan bahwa semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit yang jumlahnya setiap tahun menunjukan peningkatan yang berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan bagaimana penanganan kelainan refraksi dan faktor penyebab dirujuknya kelainan refraksi ke rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data karakteristik responden didapatkan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi tentang pelayanan kelainan refraksi pada Puskesmas-Puskesmas di Kota Pariaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa SDM untuk pelayanan refraksi di puskesmas Kota Pariaman sudah memadai dari segi kompetensi. Sarana prasarana untuk pemeriksaan refraksi sudah lengkap pada semua puskesmas. SOP untuk pemeriksaan refraksi hanya dimiliki oleh puskesmas yang memiliki tenaga refraksionis. Pelayanan sudah dimulai dari anamnesa, pemeriksaan mata dasar dan pemeriksaan refraksi. Semua kelainan refraksi dirujuk ke rumah sakit karena adanya panduan pelayanan alat kesehatan dari BPJS Kesehatan bahwa untuk mendapatkan kacamata bagi peserta JKN harus dengan rekomendasi dokter spesialis mata. Hasil penelitian dapat disimpulkan merujuk semua kelainan refraksi ke rumah sakit adalah karena panduan pelayanan alat kesehatan dari BPJS Kesehatan yang berakibat pada tingginya angka rujukan dari puskesmas ke rumah sakit serta terjadinya in-efisiensi anggaran
Analisis Pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Pasaman Barat (Standar Akreditasi Versi 2012)
Program pencegahan dan pengendalian infeksi {PPI} sangat penting untuk rumah sakitkarena menjadi syarat untuk akreditasi. Resiko terjadinya infeksi nosokomial dapat diminimalkan dengan melaksanakan PPI. Kejadian infeksi di RSUD Pasaman Barat besar dari 1,5%, pelaksanaan program sudah berjalan tapi belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan program PPI melalui studi kebijakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, FGD, telaah dokumen dan observasi. Komponen input yang diteliti adalah (kebijakan, pedoman, metode, tenaga, dana, sarana dan monitoring evaluasi), proses pelaksanaan program PPI dan output adalah penerapan program sesuai standar akreditasi versi 2012. Hasil penelitian menunjukkan beberapa komponen input tidak sesuai standar, pelaksanaan PPI belum optimal dan konsisten dan hasilnya penerapan program PPI belum tercapai sesuai standar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah masih ada kendala pelaksanaan PPI di RSUD Pasaman Barat setelah dianalisa dengan pendekatan sistem. Kendala pada input adalah SDM, dana dan sarana sedangkan pada proses adalah pelaksanaan yang tidak optimal karena masih ada petugas belum menjalankan sesuai SOP. Capain program PPI sudah sesuai standarakreditasi versi 2012 hanya perlu penguatan komitmen oleh seluruh staf RS