Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
injeksi intravitreal triamsinolon pada central retinal vein occlusion
Central Retinal Vein Occlusion (CRVO) adalah suatu gangguan kondisi pembuluh darah retina yang dapat menyebabkan morbiditas okular yang signifikan dengan gambaran klinis oklusi atau trombosis dari vena sentralis retina mengakibatkan statis vena, edem papil, perdarahan pre retina dan perdarahan difus di lapisan serat saraf serta cotton wool spots yang menghasilkan gambaran fundus the blood and thunder. Penatalaksanaan CRVO adalah mengatasi underlying disease dan gejala sisa dari CRVO yaitu edem makula dan neovaskularisasi (NV). Penatalaksanaan edem makula pada CRVO dapat berupa observasi, terapi kortikosteroid, dan intravitreal anti VEGF. Untuk mengatasi NV okular seperti laser fotokoagulasi, dan terapi medikamentosa. Selain itu terdapat beberapa terapi alternatif CRVO yaitu chorioretinal venous anastomosis, tissue plasminogen activator, vitrektomi dan radial optic neurotomy. Dilaporkan seorang wanita usia 59 tahun dengan CRVO OS (tipe iskemik), moderat NPDR OD dan katarak imatur ODS direncanakan injeksi intravitreal triamsinolon OS 4 mg / 0,1 cc di kamar operasi dalam keadaan steril. Tajam penglihatan mata kiri meningkat menjadi 1/60 pada minggu ke-4 dan minggu ke-8 kontrol dan perbaikan pada fundoskopi mata kiri. CRVO biasanya terjadi unilateral, disertai dengan penurunan penglihatan tanpa rasa sakit. Terapi injeksi intravitreal triamsinolon (IVTA) diberikan untuk mengobati edema makula pada CRVO.Kata kunci: central retinal vein ocussion, oklusi vena, IVTA, trombogenesi
Uji Potensi Ekstrak Daun Putri Malu (Mimosa pudica Linn) yang Tumbuh di Padang sebagai Larvasida Nabati terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue melalui vektor penular utama yaitu nyamuk betina Aedes aegypti. Salah satu upaya pemberantasan vektor penular tersebut adalah larvasida sintetik, namun dapat menyebabkan resistensi vektor dan pencemaran lingkungan. Ekstrak daun putri malu dapat dijadikan alternatif sebagai larvasida nabati. Tujuan: Menentukan pengaruh pemberian ekstrak daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) yang tumbuh di Padang terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari delapan perlakuan dan satu kontrol dengan 4x pengulangan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasi dan Laboratorium Parasitologi Universitas Andalas. Sampel terdiri dari 720 ekor larva Aedes aegypti instar III/IV. Setiap kelompok uji berisi 20 ekor larva dalam 200 ml larutan (ekstrak + akuades) dengan serial konsentrasi ekstrak 1, 2, 3, 4, 5, 10, 12,5, dan 15 mg/ml. Jumlah kematian larva dicatat setelah 24 jam pemaparan ekstrak. Hasil: Ekstrak daun putri malu yang dengan konsentrasi ekstrak 1, 2, 3, 4, dan 5 mg/ml tidak efektif sebagai larvasida, sedangkan konsentrasi 10, 12,5 dan 15 mg/ml efektif sebagai larvasida dengan persentase kematian masing-masing adalah 12,5, 30, dan 60%. Nilai LC50 ekstrak daun putri malu adalah 14,568 mg/ml. Simpulan: Ekstrak daun putri malu yang tumbuh di Padang berpotensi sebagai larvasida Aedes aegypti.Kata kunci: Aedes aegypti, larvasida nabati, Mimosa pudica Lin
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Complementary And Alternative Medicine (CAM) pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Poasia Kota Kendari
Pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan penderita DM tak lepas dari saran penggunaan terapi komplemeter obat herbal, yang tidak jarang menjadi alternatif pemecahan masalah ketika ilmu kedokteran tak mampu memberikan solusi serta keinginan penderita maupun keluarga untuk dilibatkan secara langsung dalam proses pemilihan penyembuhan. Â Tujuan: Menentukan hubungan antara penggunaan Complementary and Alternative Medicine (CAM) dengan suku, pendidikan, agama, status ekonomi, status kesehatan dan usia. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan populasi seluruh pasien pasien diabetes melitus yang berada di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebesar 40 responden. Hasil: Penelitian ini menggambarkan bahwa tidak terdapat hubungan antara penggunaan CAM dan suku, pendidikan, agama, status ekonomi, status kesehatan, sedangkan terdapat adanya hubungan antara usia dengan penggunaan CAM. Simpulan: Masyarakat untuk dapat lebih aktif menemukan informasi mengenai perawatan kesehatan berdasarkan penggunaan CAM, serta peneliti dan institusi pendidikan untuk menggunakan terapi CAM sebagai bahan pembelajaran pada konsep terapi komplementer keperawatan.Kata kunci: CAM, diabetes mellitus, komplementer, tradisiona
Gambaran Infeksi Nontuberculous Mycobacteria (NTM) pada Penderita Suspek TB Paru Menggunakan Multiplex PCR (MPCR)-Universal Lateral Flow Assay (ULFA) Kit
Infeksi paru akibat Nontuberculous Mycobacteria (NTM) dan Mycobacterium tuberculosis (MTB) dapat memberikan gambaran klinis yang serupa sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan diagnosis dan terapi. Pemeriksaan Multiplex PCR (MPCR)-Universal Lateral Flow Assay (ULFA) merupakan pemeriksaan berbasis molekuler untuk mendeteksi gen rpoB, IS1660 dan mtp40 yang dapat digunakan untuk membedakan infeksi NTM dari infeksi TB. Tujuan: Â Mendapatkan gambaran infeksi NTM menggunakan MPCR-ULFA pada penderita terduga TB paru. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan sejak April sampai Juli 2019. Sebanyak 39 sampel sputum dari pasien terduga TB paru dari RSUD Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang diperiksakan apusan BTA, GeneXpert dan MPCR-ULFA. Hasil: Sebanyak 5 sampel (12,8%) sputum dari pasien terduga TB paru terdeteksi sebagai NTM positif menggunakan pemeriksaan MPCR-ULFA. Empat dari lima sampel (80%) tersebut memiliki kesesuaian dengan hasil GeneXpert dan apusan BTA, yakni MTB negatif. Â Pemeriksaan molekuler baik GeneXpert maupun MPCR-ULFA keduanya mendeteksi keberadaan gen rpoB dari Mycobacterium. Metode MPCR-ULFA mengamplifikasi 3 gen target sekaligus (IS1660, mtp40 dan rpoB) sehingga dapat mendeteksi infeksi NTM atau MTB. Simpulan: Prevalensi NTM pada pasien terduga TB paru di RSUD Kanjuruhan Kepanjen menggunakan MPCR-ULFA mencapai 12,8%. Sebanyak 80% dari NTM positif memiliki hasil pemeriksaan GeneXpert dan apusan BTA negatif.Kata kunci: GeneXpert, MPCR-ULFA, NTM, suspek TB par
Efek Glycine Soja Terhadap Angiogenesis dan Histologi Aorta Tikus Ovariektomi
Resiko CVD meningkat secara tajam pada menopause yang disebabkan oleh perkembangan aterosklerosis ditandai adanya penebalan intima patologis pada aorta. Tujuan: Membuktikan pemberian ekstrak kedelai hitam (Glycine soja) dapat meningkatkan ekspresi VEGF, diameter aorta dan menurunkan ketebalan media intima aorta tikus ovariektomi. Ovariektomi dilakukan untuk membuat hewan model menopause.  Metode: Tikus dibagi menjadi lima kelompok: Kontrol Negatif, Positif, tiga Perlakuan (dosis 50,100,150 mg/200grBB/hari). Ovariektomi dilakukan pada kelompok kontrol positif dan perlakuan.Tiga puluh hari post ovariektomi, pada kelompok perlakuan diberikan ekstrak kedelai hitam  sesuai dosis selama 30 hari. Terminasi dilakukan untuk pengambilan aorta pada seluruh kelompok. Pemeriksaan ketebalan media intima dan diameter aorta menggunakan HE, sedangkan VEGF menggunakan immunohistokimia. Hasil: Uji One Way Anova terhadap diameter aorta dan VEGF, didapatkan p = 0,000 (p<0,05 ), yang berarti terdapat pengaruh signifikan pemberian ekstrak kedelai hitam terhadap peningkatan diameter dan VEGF aorta tikus ovariektomi. Uji Post Hock Tukey menunjukkan peningkatan diameter aorta dan VEGF signifikan pada seluruh kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif. Uji One Way Anova terhadap ketebalan media intima didapatkan p = 0,410, yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan pemberian ekstrak kedelai hitam terhadap penurunan ketebalan media intima aorta tikus ovariektomi. Rerata ketebalan terendah terdapat pada kelompok Perlakuan 1  dibawah rerata ketebalan media intima kelompok kontrol positif. Simpulan: Pemberian ekstrak kedelai hitam meningkatkan secara signifikan ekspresi VEGF dan diameter aorta, namun tidak berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan ketebalan media intima aorta tikus ovariektomi.Kata kunci: diameter aorta, kedelai hitam, ketebalan media intima aorta, VEG
Identifikasi Bakteri Escherichia coli dalam Air Minum Galon pada Kantin yang ada di Universitas Andalas Padang
The National Food and Drug Agency has controlled the refill drinking water in drinking water depots and also controlled food at school canteens ranging from elementary, junior high, to high school, but the National Food and Drug Agency never do food quality controlling in canteens at universities. Objectives: To identified the contamination by coliform and E. coli bacteria in drinking water at Andalas University canteen. Methods: This research was descriptive to identify coliform bacteria on  15 drinking water at the Andalas University faculty canteens. Samples were taken directly using a sterile bottle, while data analysis using Most Probable Number (MPN)  tables 5-1-1 and the presence of E. coli bacteria colonies from drinking water samples. Results: 9 of 15 water samples were contaminated by coliform bacteria with the highest MPN index of 240/100 ml that was found in 2 samples. From 9 samples containing coliform bacteria, all of them were found to contain E. coli bacteria. Conclusion: Most of the samples were contaminated by coliform and E. coli bacteria. Drinking water served using a kettle was more contaminated than drinking water served using gallons.Keywords: Coliform, Escherichia coli, MP
A Case of Tuberculous Spondylitis in Child with Undernourish
Tuberculous spondylitis accounts for around 2% of all cases of Tuberculosis (TB) and around 15% of extrapulmonary TB cases. It has been reported that a 17 years old boy with a complaint of a bump on the lumbar region and felt low back pain since two years before admission with a history of back trauma. There was a decrease of body weight. There was no paraesthesia nor paralysis. Defecation and micturition were normal. Basic immunization was incomplete. On physical examination found palpable lymph nodes 0,5x0,5x0,5 cm, multiple et regio colli. There was no BCG scar. Impression nutritional status was undernourished. There was fixed palpable mass at back size about 5x4x5 cm, hard, no fluctuations, no rebound tenderness. Lung examination was normal. Tuberculin test showed induration sized 20 mm. Gene Xpert result Micobacterium Tuberculosis (MTB) not detected. On chest X-ray examination found L1-2 corpus destruction. MRI Spine was suggestive of compressive fractures and suggestive of a bilateral psoas abscess. Decompression and lumbar stabilization surgery were performed. The histopathology examination results were consistent to spondylitis TB characteristics. The patient was discharged on 6th hospitalization and given anti-tuberculous drug.Keywords: Â bump, extrapulmonary, fracture, spondylitis, tuberculosi
Delayed Speech Dengan dan Tanpa Gangguan Pendengaran pada Anak Usia 6 Bulan sampai 3 Tahun di Jala Puspa RSPAL Dr. Ramelan Surabaya Periode 2017-2020
Late or untreated delayed speech can be a risk for social, emotional, behavioral and cognitive problems in adulthood. Delayed speech is associated with hearing loss, mental retardation, autism spectrum disorder (OSD), bilingualism, and lack of psychosocial stimuli. Objectives: To determine the prevalence of delayed speech with and without hearing loss in children aged six months until three years. Methods: This study used 872 medical records of delayed speech children aged six months until three years with and without hearing loss in 2017 until 2020 period at Jala Puspa RSPAL Dr. Ramelan, Surabaya. The presence or absence of hearing loss was examined using Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), and the degree of hearing loss was examined using Auditory Steady-State Response (ASSR) test. Results: From a total of 872 medical records data studied, 558 (64.0%) were males and 314 (36.0%) were females. The majority (44.8%) of delayed speech children were from the two-year age group. There were 565 (64.8%) delayed speech children with hearing loss and 307 (35.2%) without hearing loss. Of those with hearing loss, 48.0% showed a profound degree. There was an increase in delayed speech children without hearing loss compared to those with hearing loss, from 1:2.04 in 2017 to 1:1.12 in 2020. Conclusion: There was an increase in delayed speech children without hearing loss compared to those with hearing loss.Keywords: Â ASSR, BERA, delayed speech, hearing los
Perbedaan Tingkat Kecukupan Vitamin A, Zat Besi, dan Zink pada Balita Stunting dan Non Stunting di Kabupaten Banyuasin
Stunting is a chronic nutritional problem in toddlers of a shorter height than children his age. The impact of stunting is not only in terms of health but also affects the level of intelligence of children. Toddlers who lack vitamin A, iron, and zinc can cause cognitive and physical impairment and an increased risk of death. Objectives: To determined the difference in the level of adequacy of vitamin A, the level of adequacy of iron and the level of adequacy of zinc in stunting and non-stunted toddlers. Methods: The research was an observational analytic with a cross-sectional design. The sample of this study was 98 toddlers aged 13-23 months in Banyuasin Regency in 2021, collected by simple random sampling technique. The data were collected by using microtoise and food recall 24h (not in arrow). Results: There was a different level of vitamin A adequacy (p-value = 0.002), the level of iron adequacy (p-value = 0.012), and the level of zinc adequacy (p-value = 0.030) Â between stunted and not stunted toddlers. Conclusion: There are differences in the level of adequacy of vitamin A, iron, and zinc between stunted and non-stunted in toddlers.Keywords: stunting, vitamin A, iron, zin
Pengaruh Pemberian Mesenchymal Stem Cells Wharton’s Jelly terhadap Ekspresi Gen PPAR-γ pada Tikus Alzheimer
The increased production of beta-amyloid marks Alzheimer's disease. PPAR-γ shows involvement in Alzheimer's disease. PPAR-γ Gene is suspected to reduce beta-amyloid plaques and reduce inflammation and oxidative stress in Alzheimer's disease. Mesenchymal Stem Cells Wharton's Jelly (MSC-WJ) is expected to increase the PPAR-γ Gene expression. Objective: To observed the PPAR-γ Gene expression in Alzheimer's Mice. Methods: The mice are induced using AlCl3 and were given MSC-WJ. This study was an experimental study with a post-test-only control group design on 18 samples of RNA from Alzheimer's mice that were divided into 3 groups. Negative control group (K-), positive control group (K+), and experimented group (P). The mean of PPAR-γ gene expression was obtained by comparing the PPAR-γ gene with the GAPDH gene. This study used semiquantitative methods using ImageJ. Data analysis was used with the Kruskal-Wallis test. It is significant if the value is <0,05. Results: The mean ratio of PPAR-γ gene expression that was obtained in K-, K+, and P were 0.12, 0.06, and 0.08, respectively. There were significant differences between each group, with a p-value of 0,023 (p<0,05). Conclusion: Giving MSC-WJ could increase the PPAR-γ gene expression. Further study using real-time PCR is highly needed to increase the MSC-WJ treatment in patients with Alzheimer's disease.Keywords:  Alzheimer disease, MSC-WJ, PPAR- Î