Jurnal Ilmu Fisika (JIF)
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Karakteristik Ketinggian Melting Layer di Indoneisa Berdasarkan Radar Hujan Yang Terpasang di Satelit TRMM
Ketinggian melting layer atau freezing level height (FH) di Indonesia telah diteliti melalui data radar hujan yang terpasang di satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM). Data yang digunakan adalah data TRMM 2A25 versi 7 selama 2011-2013. Nilai FH dari TRMM dibandingkan dengan nilai yang direkomendasikan oleh model ITU-R P.839. FH di Indonesia memiliki variasi musiman dan diurnal yang signifikan. Rata-rata bulanan FH menunjukkan pola bimodal dengan dua puncak dan dua lembah, mirip dengan pola curah hujan dan temperatur permukaan air laut di Indonesia. Puncak FH teramati pada bulan-bulan basah (musim hujan) ketika temperatur permukaan air laut tinggi. Nilai FH mencapai puncaknya pada sore hari yaitu sekitar jam 18-19 waktu setempat. Adanya perbedaan pola FH antara darat dan laut yang menandakan adanya pengaruh sirkulasi darat-laut (land-sea breezes). Pada dini dan pagi hari, hujan dengan FH > 5 km tidak teramati di daratan tetapi pada siang dan sore hari jumlahnya meningkat, terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Nilai FH tertinggi yang teramati dalam penelitian ini adalah 5,55 km yang teramati pada 2013, dan nilai terendah adalah 4,40 km, yang teramati pada 2012. Sebagian besar hujan yaitu sekitar 82% dari total data, memiliki FH lebih rendah dari yang direkomendasikan oleh ITU-R P.839 (5 km). Dengan demikian, model ITU-R menakar FH lebih tinggi dari semestinya. Selain itu, asumsi nilai FH yang konstan (5 km) dalam model ITU-R juga tidak tepat karena nilai FH di Indonesia menunjukkan variasi diurnal dan musiman yang signifikan. Kata kunci : melting layer, Indonesia, TRMM-PR, ITU-R P.839, variasi diurnal, variasi musimanÂ
Analisis Pengaruh Asam Laurat Terhadap Struktur Dan Ukuran Kristal Nanopartikel Fe3O4
Penelitian ini adalah sintesis nanopartikel Fe3O4 dari batuan besi menggunakan metode kopresipitasi dengan penambahan asam laurat sebagai zat aditif. Variasi massa asam laurat yang diberikan adalah 0, 10 g, 30 g, 40 g, dan 50 g. Karakterisasi sampel yang dilakukan yaitu menentukan struktur dan ukuran kristal menggunakan XRD (X-Ray Difractometer. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan peningkatan FWHM, yang mengindikasikan terjadinya penurunan ukuran kristal berturut-turut yaitu 54,4 nm;  46,0 nm; 31,9 nm; 29,5; dan 20,2 nm. Sedangakan sistem kristal nanokristal Fe3O4secara umum  adalah cubic. Kata kunci: asam laurat, kopresipitasi, nanokristal Fe3O4
Estimasi Intensitas Gempa Bumi Dan Percepatan Tanah Maksimum Kota Padang Berdasarkan Data Historis Gempa 1976-2016 di Wilayah Mentawai
Telah dilakukan estimasi nilai intensitas gempa bumi dan percepatan tanah maksimum di Kota Padang  berdasarkan data historis gempa 1976-2016 di wilayah Mentawai. Rumusan empiris Si and Midorikawa (1999) digunakan untuk menghitung percepatan tanah maksimum dan rumusan empiris Murphy O’Brein untuk menghitung intensitas gempa. Data yang digunakan diperoleh dari USGS untuk gempa di wilayah Mentawai dengan dengan kekuatan ≥ 5 SR dan kedalaman ≤ 70 km dari tahun 1976 – 2016. Daerah penelitian dibatasi oleh 1.1o LS - 0,4o LU dan 100,05o BT – 100,35o BT yang dibagi dengan jarak grid 0,02o sehingga didapatkan 208 titik penghitungan. Intensitas gempa dan percepatan tanah maksimum dihitung berdasarkan data gempa di wilayah intraplate dan interplate. Dari hasil pengolahan data didapatkan peta percepatan tanah maksimum dan intensitas gempa Kota Padang dari kedua wilayah gempa tersebut.. Nilai percepatan tanah maksimum terbesar di Kota Padang akibat gempa di wilayah interplate segmen Mentawai berkisar antara 57,89 cm/s2 sampai 119,69 cm/s2. Kecamatan dengan percepatan tanah maksimum akibat gempa di wilayah interplate adalah Kecamatan Bungus Teluk Kabung yaitu berkisar antara 106,21 cm/s2 sampai 119,69 cm/s2  dengan intensitas gempa sebesar VI - VII MMI. Nilai percepatan tanah maksimum di Kota Padang akibat gempa di segmen intraplate wilayah Mentawai berkisar antara sebesar 830,38 cm/s2 sampai 956,75 cm/s2 yaitu di Kecamatan Padang Selatan dan Padang Barat dan mengecil ke arah timur Kota Padang. Intensitas gempa Kota Padang akibat gempa intraplate adalah sekitar IX MMI. Dampak gempa dengan intensitas IX menimbulkan kondisi kerusakan yang parah yang ditandai dengan adanya gejala kerusakan pada struktur bangunan, dan muncul gejala likuifaksi di area alluvial atau pasir.  Kata kunci :  Gempa bumi, Intensitas, MMI, Percepatan tanah, interplate, intraplate          Â
Pembuatan Counter Electrode Karbon Untuk Aplikasi Elektroda Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC)
Telah dilakukan pembuatan counter electrode karbon di atas substrat Indium Tin Oxide (ITO) untuk aplikasi DSSC. Counter electrode karbon dibuat dari; goresan pensil 7B, jelaga api lilin, serta kombinasi goresan pensil dangan jelaga api lilin. Komposisi bahan dasar terdiri dari serbuk karbon dari pensil, cetyl trymetil ammonium bromide (CTAB) dan TiO2. Hasil karakterisasi mikroskop optik memperlihatkan sumber karbon yang berasal dari jelaga api lilin menghasilkan morfologi permukaan sangat halus dan homogen serta terdistribusi merata pada substrat ITO. Sementara dari foto mikroskop electron (Scanning Electron Microscope, SEM) sampel tersebut memperlihatkan adanya pori-pori. Dari pengukuran karakteristik I-V dihitung efisiensi sel surya yang menggunakan elektroda karbon tersebut. Efisiensi counter electrode yang diperoleh dari goresan pensil adalah 0,064 %, jelaga api lilin adalah 0,163%, goresan pensil dan jelaga api lilina dalah 0,088%, jelaga api lilin baru digores pensil 0,008%, campuran serbuk karbon dengan 3 mL air serta 0,1 gram CTAB serta 0,1 gram TiO2 0,065%. Kata Kunci: Karbon, ITO, Counter electrode, DSSC, Efisiensi Â
Pengaruh Lama Penumbuhan Titanium Dioksida Didoping Copper Terhadap Energi Gap
Deposisi lapisan TiO2 didoping Cu telah berhasil ditumbuhkan dengan menggunakan metoda Liquid Phase Deposition (LPD). Lapisan TiO2-Cu dibuat dengan menggunakan material Ammonium hexafluorotitanate ((NH4)2TiF6), Copper (II) Nitrate hydrate (Cu(NO3)2·xH2O), dan Hexamethylen tetramine (C6H12N4). Dalam penelitian ini dilakukan variasi lama penumbuhan lapisan yaitu 3 jam, 5 jam, 7 jam dan 10 jam. Lapisan TiO2-Cu dikarakterisasi menggunakan Spektrometri Ultraviolet-Visible (UV-Vis) untuk menentukan energi gap melalui spektra difusi reflektansi. Hasil energi gap yang diperoleh pada lapisan TiO2-Cu dengan variasi lama penumbuhan yaitu antara 3,26-3,30 eV.Kata kunci: Titanium dioksida (TiO2), Liquid Phase Deposition (LPD) dan dopingÂ
Karakterisasi Sensor Gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) Dari Bahan Semikonduktor Heterokontak CUO/CUO(TIO2)
Telah dilakukan karakterisasi sensor Liquefied Petroleum Gas (LPG) berupa pelet heterokontak dengan lapisan pertama pelet adalah 100% mol CuO dan lapisan kedua pelet adalah CuO yang dicampur 10% mol, 20% mol, 30% mol, 40% mol dan 50% mol TiO2. Tahap pembuatan sensor LPG terdiri atas pencampuran bahan, kalsinasi pada temperatur 500oC selama 4 jam, penggerusan, kompaksi, dan sintering pada temperatur 700oC selama 4 jam. Sensor LPG diuji pada temperatur ruang (27oC) dengan melihat karakteristik arus dan tegangan (I-V), nilai sensitivitas, nilai konduktivitas dan karakterisasi XRD. Karakteristik I-V menunjukkan perubahan terbesar terjadi pada sampel CuO/CuO(20% mol TiO2). Nilai sensitivitas tertinggi dimiliki sampel CuO/CuO(20% mol TiO2) sebesar 11,94 pada tegangan 10 volt, dan merupakan sampel yang paling bagus digunakan sebagai sensor gas LPG. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki sampel CuO/CuO(10% mol TiO2) dengan nilai konduktivitas di udara sebesar 6,60557x10-5 Ω-1m-1 dan nilai konduktivitas di LPG 25,80712x10-5 Ω-1m-1. Kata kunci : heterokontak, sensor LPG, CuO/CuO(TiO2), karakterisasi I-V, sensitivitas, konduktivitas
Optimasi Volume Pengenceran Larutan Dye Bunga Mawar (Rosa Hybrida Hort) Dengan Metanol Terhadap Efesiensi DSSC
Telah dilakukan penelitian penggunaan ekstrak  bunga mawar  sebagai dye sensitizer efisiensi DSSC. Artikel ini mencari volume pengenceran larutan dye bunga mawar yang optimum terhadap efisiensi DSSC. Larutan dye diuji puncak absorbansinya menggunakan spectrophotometer UV-Vis lamda 25. Sel DSSC diuji karakteristiknya menggunakan I-V keithley.  Larutan dye bunga mawar sebelum pengenceran memiliki puncak absorbansi pada rentang panjang gelombang 450 nm – 550 nm dan setelah dilakukan pengenceran terjadi pergeseran puncak absorbansi pada rentang panjang gelombang 500 nm – 600 nm. Karakteristik DSSC dengan perbandingan volume pengenceran larutan dye bunga mawar dengan metanol (50% : 50%), Pmax ( daya maksimum) 0,142 mW, FF (fill factor) 4,93, efisiensi 0,095%. Volume dye yang diencerkan pada perbandingan dengan metanol (50% : 50%) menunjukkan efisiensi yang paling optimum. Kata kunci : DSSC, TiO2, dye, rosa hybrida hort, ekstrak bunga mawa
Kajian Pengaruh Nanopartikel Magnetik Fe3O4 Pada Deteksi Biosensor Berbasis Surface Plasmon Resonance (SPR)
Telah dilakukan kajian berkaitan dengan pengaruh nanopartikel Fe3O4 pada deteksi biosensor berbasis surface plasmon resonance (SPR). Penelitian ini bertujuan untuk melihat penyebab munculnya dip baru atau pergeseran dip ke arah kanan pada kurva ATR (AttenuatedTotalReflection) setelah adanya penambahan nanopartikel magnetik Fe3O4.Sifat magnetik nanopartikel berupa permeabilitas magnet disubstitusikan pada kurva ATR dan sudut SPR terbentuk pada sudut 51,8º; 47,3º; 46,0º dan 45,6º untuk ketebalan perak 10 nm, 20 nm, 30 nm dan 40 nm berturut-turut dengan ketebalan nanopartikel 10 nm.Untuk melihat pengaruh permeabilitas magnet, diplot kurva ATR tanpa permeabilitas magnet. Hasilnya menunjukkan bahwa sudut SPR terbentuk pada sudut yang sama. Sehingga kemunculan dip baru pada panjang gelombang sinar laser 632,8 nm bukan dikarenakan sifat magnetnya. Sifat magnet ini akan muncul pada rentang gelombang mikro. Dengan pendekatan Teori Medium Efektif (TME) Landauer dan Bruggeman untuk sistem empat lapisan prisma/perak/komposit (nanopartikel+udara)/udara, diperoleh kurva relasi dispersi surface plasmon pada angka gelombang ; ;;  dan  untuk variasi fraksi volume  0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 berturut-turut mengalami kopling dengan gelombang evanescent. Ini menunjukkan bahwa pergeseran dip muncul dengan pendekatan teori medium efektif Landauer dan Bruggeman. Kata Kunci : Surface Plasmon Resonance (SPR), nanopartikel magnetik Fe3O4,Evanescent, , TME Landauer dan Bruggeman
Karakterisasi Bahan Perisai Radiasi Neutron Ultra High Molecular Weight Polyethyene Dengan Filler Gd2O3 Menggunakan Teknik Radiografi Neutron
Radiasi merupakan pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk energi, panas, partikel atau gelombang yang dapat diserap oleh bahan lain. Beberapa radiasi dapat mengionisasi bahan yang dilaluinya salah satunya radiasi neutron karena memiliki daya tembus yang tinggi sehingga sangat diperlukan perisai radiasi. Adapun kriteria dari perisai radiasi neutron harus memiliki kandungan hidrogen yang tinggi, memiliki nilai tampang lintang yang baik dan tidak bersifat korosi. Bahan UHMWPE (Ultra High Molecular Weight Polyethyene) memiliki kandungan hidrogen yang tinggi dan tidak mudah korosi dan bahan Gadolinium oxide (Gd2O3) sangat baik menyerap neutron karena mempunyai tampang lintang serapan neutron yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut maka dibuat komposit UHMWPE-Gd2O3 dengan tujuan dapat meningkatkan nilai serapan neutron sehingga dalam aplikasinya bisa lebih efektif untuk memperlambat bahkan menahan radiasi neutron. Telah dilakukan karakterisasi bahan perisai radiasi neutron yang dibuat sendiri dengan teknik radiografi neutron. Bahan perisai radiasi dibuat dengan bahan utama UHMWPE dan penambahan filler Gadolinium Oxide (Gd2O3) dengan kompoisisi 70% : 30% massa menggunakan metode blending dan kompaksi. Bahan dibuat dengan ketebalan yang bervariasi dari 0,5 cm hingga 2 cm. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan tidak terbentuk senyawa kimia antara kedua bahan dan karakterisasi menggunakan SEM terlihat hasil distribusi unsur yang terkandung dalam filler Gd2O3 merata pada bahan dasar polimer. Pengujian serapan neutron menggunakan teknik radiografi neutron dengan metode film. Dengan penambahan variasi ketebalan meningkatkan daya serap bahan dari 58,78% menjadi 67,89% dan nilai koefisien atenuasi diperoleh sebesar 1,025.Kata kunci: perisai radiasi, UHMWPE,Gd2O3, radiografi neutron, daya serap dan koefisien  atenuasi
Pengaruh Kontribusi Ketidakpastian Terhadap Pelaporan Nilai Porositas Menggunakan Metode Gravimetri
Metode gravimetri berhasil diterapkan untuk menentukan nilai porositas batu kapur. Metode tersebut dilakukan dengan menggunakan timbangan standar terkalibrasi dan gelas ukur terkalibrasi untuk menentukan volume pori dan volume total dari sampel batu kapur. Porositas ditentukan dari hasil perbandingan antara volume pori dan volume total tersebut. Nilai ketidakpastian tipe A dibandingkan dengan hasil perhitungan ketidakpastian gabungan (Ugab) dengan menambahkan ketidakpastian tipe B yang bersumber dari sertifikat gelas ukur, timbangan dan temperatur. Hasilnya menunjukkan bahwa ketidakpastian tipe B menjadi penyebab utama meningkatnya nilai ketidakpastian pengukuran porositas batu kapur hingga 6%. Namun ketidakpastian tipe B seringkali diabaikan pada pelaporan hasil pengukuran. Kata kunci : Ketidakpastian, Porositas, Gravimetr