MECHANICAL
Not a member yet
215 research outputs found
Sort by
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS
Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis.
Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas
Analisis Kekuatan dan Ekspansi Volume Tangki Toroidal Penampang Eliptik dengan Beban Internal Pressure
In under to reduce the Public Service Obligation (PSO) on oil fuel, the goverment of Indonesia initianted a program of conversion of oil fuel into gas fuel (BBG) for passenger cars. In supporting this program, it is required to develop the component of combustion system. One of the components is strorage tank for BBG that must be carefully designed to avoid burst type failure. Based on previous research, a toroidal tank can withstand higher limit pressure than the PERTAMINA LPG 3kg storage tank used nowadays in Indonesia household. The present study was exstended to toroidal tank of elliptic cross-section. The strength in term of limit pressure was evaluated numerically using the ANSYS 13 finite element software. The ANSYS SHELL 181 element type was used. Limit pressure were obtained via nonlinier analysis using the well-known Newton-Raphson algorithm, and corresponding stress and strain were evaluated. The results show that toroidal tank having elliptic ratio (a/b) of 1.0 (circular) can withstand highest limit pressure, both for in-plane and out-of-plane elliptic, i.e.,1.16 times the pressure to yield (py). Attachment of a nozzle on intrados position results in reducing the limit pressure by 5.21%, becomes 1.1 py. The result of corresponding volume expansion when the limit pressure was reached is 0.337 % of the initial volume. It is interesting to note that limit pressure become lower than the pressure to yield when the ratio of major to minor axis of the ellip higher than 1.4. In conclusion. the value of ellipticity a/b must not be higher than 1.4 for further development of a toroidal tank.
keywords: toroidal, in-plane elliptic, out-of-plane elliptic, limit pressure, volume expansio
Experimental Study on Vortex Tube as Cooling of Machine Panel
Generally, The air conditioning in the panel of CNC machine always uses electric fan to avoid overheating in electrical components. The availability of compressed air on CNC machines infrastructure allows the utilization of inovation through the use of vortex tube as a cold air generator.
Vortex tube is a mechanical device that can separate the flow of pressurized air into hot and cold air. The cold air can be used as a substitute for cooler fan.
The experimental study was conducted to examine the corelation between the value ratio value with generated cold temperatures, as well as its application as cooling panel. Vortex tube testing was conducted at Polman Bandung, it was tested on machine panel of CNC lathe machine (CKE61130) with a volume panel of 0.26m.3
The result of study showed that the vortex tube with a ratio value of 0.44 generates the lowest cold temperature. Furthermore the experiment test showed that vortex tube can function properly and maintain the air temperature between 25 ° C to 35 ° C
Pengaruh Pemesinan Kering Terhadap Kekasaran dan Kekerasan Permukaan Paduan Titanium
Komponen-komponen mesin pesawat terbang yang dibuat daripada bahan paduan titanium memerlukan tingkat kelayakan dan kenyamanan terhadap kondisi permukaan yang dimesin. Integritas permukaan yang dimesin menjadi salah satu indikator penting terhadap kualitas komponen mesin yang diproduksi. Bagaimanapun juga, pada waktu pemesinan, permukaan paduan titanium yang dimesin mudah mengalami kerusakan karena bahan ini bersifat mampu-mesin yang tidak baik. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh model pemesinan kering terhadap integritas permukaan bahan Ti-6%Al-4%V ELI yang dimesin. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kekasaran permukaan yang diperoleh sangat ditentukan oleh kadar pemakanan dan jari-jari ujung pahat. Pada tingkat awal proses pemesinan, nilai kekasaran permukaan yang dihasilkan ada pada level yang tinggi dan kemudian menurun seiring dengan aus yang berlaku pada ujung mata pahat. Pada jara beberapa mikron di bawah permukaan bahan yang dimesin, didapati efek pengerasan sehingga nilai kekerasan yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan pada permukaan paling atas. Bahkan, lapisan putih yang keras dijumpai setebal lebih kurang 2 m pada kondisi operasi pemesinan; kecepatan potong 95 m/min, feed rate of 0.35 mm/rev and depth of cut of 0.10 mm. Kondisi ini diperoleh pada akhir pemotongan atau pada kondisi aus telah mencapai maksimum.
Kata kunci: pemesinan kering, titanium, kekasaran permukaan, kekerasan permukaa
EXPERIMENTAL STUDY IMPROVEMENT OF QUALITY OF HOE ON SMALL METAL INDUSTRY IN THE DISTRIC PRINGSEWU
Considering the extent of agriculturalland Pringsewu District, then surely it takes quality agricultural equipment that can launch the agricultural activities in the region. Hoe is one of agricultural equipment that need to be upgraded. Previously been conducted making a hoe by Small Metal Industries in District Pringsewu cooperation with the Ministry of Industry by adjusting the conditions of the local ordinary farmland gardening, but the result have not been up in terms of both size and hardness values.Research in improving the quality of hoe is done to get the size and hardness values that follow the standard SNI 02-0331-1989. Materials used in this study was AISI 1020 steel. In order to fit a standard hoe, then made modifications to the dimensions of hoe, and to increase its hardness value according to the standard, pack carburizing method is used with a cheap media there are Albizia wood charcoal, palm shell waste, and low rank coal.The result of research have shown that after the modification in size, the hoe has been able to comply SNI standard while maintaining the curvature of the hoe in order to guarantee a splash of water disturbance at the time of digging remained insurmountable. Then the value of hardness standard hoe KW III was achieved at 39 HRC, obtained from the hoe to use the media pack carburizing Albizia wood charcoalKeywords : hoe, quality improvement, AISI 1020, pack carburizing, SN
TAGUCHI OPTIMIZATION METHOD FOR IDENTIFYING SURFACE ROUGHNESS
Disain parameter Taguchi adalah satu perangkat yang sangat penting untuk mendapatkan disain yang bersifat leibh akurat. Disain Taguchi menawarkan satu pendekatan yang sederhana dan sistematik untuk optimisasi prestasi, kualitas dan biaya operasi. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengembangkan kajian tentang metoda optimisasi Taguchi untuk nilai kekasaran permukaan dari parameter pemotongan, pada saat membubut Ti-6Al-4V ELI menggunakan pahat sementit karbida tanpa lapisan dalam keadaan pemesinan kering dan kelajuan tinggi. Parameter pemotongan yang dievaluasi adakah kelajuan potong, suapan, kedalaman potong dan jenis pahat karbida, yang masing-masingnya adalah tiga level. Pemilihan parameter pemotongan ditentukan berdasarkan kepada metoda disain Taguchi. Susunan orthogonal Taguchi dan rasio signal-to-noise (S/N) serta analisis varian (ANOVA) digunakan untuk mendapatkan level yang optimal dan menganalisis pengaruh parameter pemotongan terhadap nilai kekasaran permukaan. Konfirmasi pengujian untuk parameter pemotongan optimal perlu dilakukan agar supaya dapat mengetahui efektifitas metoda optimisasi Taguch. Oleh karena itu dapat ditunjukan bahwa metoda Taguchi adalah sangat sesuai untuk menyelesaikan masalah kekasaran permukaan yang berlaku pada saat pemotongan Ti-6Al-4V ELI.Keywords : metoda optimisasi Taguchi , analisis varian, pemotongan Ti-6Al-4V ELI dan kekasaran permukan
PENGARUH JUMLAH SUDU RODA JALAN TERHADAP EFISIENSI TURBIN ALIRAN SILANG (CROSS FLOW)
Perancangan dan pembuatan roda jalan (runner) turbin aliran silang mempunyai pengaruh yang besar terhadap efisiensinya. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam perancangan dan kontruksi roda jalan ( runner) turbin aliran silang diantaranya adalah jumlah sudu, ketebalan sudu, kelengkungan sudu dan bentuk profil sudu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu roda jalan terhadap efisiensi turbin aliran silang. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan jumlah sudu turbin yang cocok agar kerja turbin menjadi optimal.Penelitian dilakukan dengan studi eksperimental menggunakan roda jalan berdiameter 80 mm, panjang 130 mm, variasi jumlah sudu 18, 20,dan 22 buah dengan ketebalan sudu 2 mm. Pengujian dilakukan pada sistem Pembangkit Tenaga Mikrohidro Model Drum (PTMMD). Ketinggian muka air/head yang digunakan pada pengujian adalah 2,5 m. Putaran roda jalan diukur menggunakan tachometer, daya keluaran diukur menggunakan powermeter dan torsi turbin diukur dengan torsimeter.Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi tertinggi terjadi pada pengujian dengan tinggi muka air/head turbin 2,5 m, ketebalan sudu 2 mm dan jumlah sudu 20 buah sebesar 76 %. Daya yang dibangkitkan generator terbesar pada ketinggian turbin 2,5 m, jumlah sudu 20 buah sebesar 191 watt.Kata kunci : Sudu roda jalan, Putaran, Daya keluaran, Efisiensi
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS
Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis.
Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas
Pengeboran Baja ASTM A1011 Menggunakan Pahat High Speed Steel dalam Kondisi Dilumasi Cairan Minyak
Pahat HSS yang digunakan dalam proses pengeboran memiliki umur dan tidak dapat digunakan secara terus menerus. Banyak faktor yang mempengaruhi umur pahat diataranya keausan pahat. Untuk menentukan keausan pahat pahat bor biasanya operator mesin hanya melakukan secara visual atau meraba pada bagian ujung mata pahat. Cara ini yang sering dilakukan pada dunia industri dikarenakan keterbatasan alat dan efisiensi waktu dalam proses produksi. Dalam penelitian ini pengaruh kecepatan putaran (n), gerak makan (f) terhadap terbentuknya keausan tepi pahat HSS, dianalisis dengan dua metode, yaitu metode kualitatif (grafik) dan metode kuantitatif (statis) dengan metode analisis variasi (ANOVA). Dalam penelitian ini, proses pengeboran menggunakan pahat HSS dan material uji baja ASTM A1011 dengan ketebalan material 10 mm. Dalam proses pengujian, gerak makan (f) yang digunakan adalah 0,1 mm/rev, 0,18 mm/rev,0,24 mm/rev sedangkan kecepatan putaran (n) yang digunakan adalah 443 rpm, 635 rpm, 970 rpm. Dari hasil pengujian secara kualitatif didapat bahwa peningkatan gerak makan (f) akan meningkatkan keausan tepi pahat HSS. Begitu pula peningkatan nilai kecepatan putaran (n) akan meningkatkan keauasan tepi pahat HSS. Dari metode ANOVA ( pengujian kuantitatif) dengan menggunakan program diperoleh hasil bahwa kecepatan putaran (n), dan gerak makan (f) secara bersama-sama mempunyai pengaruh timbulnya keausan pahat, namun secara signifikan hanya gerak makan yang berpengaruh terhadap timbulnya keausan tepi pahat HSS. Pada penelitian ini gerak makan (f) mempunyai pengaruh paling besar terhadap timbulnya keausan tepi yaitu 50,01% sedangkan kecepatan putaran hanya berpengaruh sebesar 37,42% terhadap timbulnya keausan tepi pahat HSS.
Kata kunci : Pengeboran, pahat HSS, ASTM, pelumasa
Pengaruh Ovality terhadap Kekuatan dan Ekspansi Volume pada Tangki Toroidal dengan Beban Tekanan Internal (Internal Pressure)
Persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin berkurang membuat pemerintah berusaha mengkonversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG). Untuk itu, dibutuhkan penelitian-penelitian yang mendukung program pemerintah tersebut. Salah satu bidang penelitiannya yaitu dalam bidang tangki penyimpanan BBG dalam kendaraanya. Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui bahwa bentuk toroidal lebih baik dalam menahan stress dibandingkan bentuk silinder yang ada saat ini. Oleh karena itu, penelitian diperluas dengan memfungsikan bentuk toroidal berpenampang oval kedalam kendaraan roda empat. Secara Teori Membran bahwa semakin besar Rasio R/r, maka semakin tinggi limit tekanannya, tetapi di satu sisi semakin besar Rasio R/r maka semakin kecil volumenya. Dalam menentukan rancangan tangki toroidal terbaik, maka dipilih perbandingan jari-jari dan ovality terbaik yang dapat memberikan limit tekanan tertinggi pada tangki toroidal. Hasil analisis menunjukkan bahwa limit tekanan tertinggi diberikan oleh rasio R/r 3,4. Untuk simulasi penampang ovality baik in-plane maupun out-plane menunjukkan bahwa penampang dengan ovality 0% menghasilkan limit tekanan yang paling tinggi dalam menahan stress maksimum tangki. Berdasarkan simulasi pada ukuran tersebut didapat bahwa tangki ini memiliki limit tekanan mencapai 1,089 kali tekanan yield (py) dan pertambahan volume sebesar 0,238%.
Kata Kunci : tangki toroidal, limit tekanan, ovalit